Showing posts with label horor. Show all posts
Showing posts with label horor. Show all posts

Thursday, 17 December 2015

[Cerpen] The Stalking

[Dimuat di Majalah Online Panchake. Edisi ke-2, 10 Oktober 2015]


Oleh Ratna Hana Matsura [Kazuhana El Ratna Mida]

Jantungku berdegup keras. Kakiku menegang. Aku menggigit bibir bawahku. Kuremas jemari yang basah oleh keringat. Sementara teriak dalam hati tidak aku pedulikan. Aku menarik napas panjang, lalu membuka mata perlahan. Ketika aku sadar bisikan itu lenyap. Kemudian berganti tepukan pelan di pundakku, yang membuatku sedikit terkejut.

“Kau baik-baik saja?”

Tatapanku tertuju pada sosok Mira yang melihatku bingung. Lantas aku mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

“Kalau begitu sebaiknya kita pulang sekarang.” Dia meraih tangan kananku. Menariknya agar aku berjalan dengan cepat.

Aku tersenyum tipis. Menuruti Mira. Namun dalam waktu singkat sesuatu yang luar biasa terjadi. Senyumku pudar dan sebuah perasaan aneh membuatku begidik ngeri. Hidungku mencium bau anyir, sementara tanganku terasa lengket oleh sesuatu yang begitu kental. Aku menatap Mira. Seketika aku membekap mulut menggunakan tangan kiriku. Aku melihat sesosok hitam besar menatapku dan semuanya mendadak gelap dengan cepat.

~*~

Aku terbangun dengan napas tersengal-sengal. Keringat dingin mengalir di tiap lekuk tubuhku. Mataku mengerjap beberapa kali.

“Dia tidak mungkin mengikutiku,” ucapku lirih. “Bagaimana ini?” Aku memegang kepala yang tiba-tiba terasa pening.

Aku mencoba mengontrol napas untuk berpikir jernih. Dia tidak mungkin mengejarku lagi. Dia sudah mati. Bahkan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Penguntit itu ... dia sudah mati. Aku meyakinkan diri sendiri.

Tap ... tap ... tap!

Aku menelan ludah. Ini sudah tengah malam. Langkah siapa itu? Aku tinggal sendirian di apartemen ini. Aku memegang unjung seprei dengan wajah pias. Bayangan penguntit kembali berkelebat di kepala.

“Tenang .... Aku harus tenang.” Aku berbicara dengan diriku sendiri. Aku tidak boleh panik.

“Penguntit itu sudah mati sehari yang lalu.”

Aku mengingat dengan jelas kejadian itu. Saat itu tanpa sengaja aku yang sedang jalan-jalan dengan Mira dan kecelakaan itu terjadi. Dia terpental saat menyeberang jalan.

Tap ... tap ...tap!

Suara langkah itu kembali terdengar. Aku menelan ludah. Menyentuh tengkuk yang semakin merinding. Aku menatap sekeliling ruangan. Kosong, tak ada apa pun. Lalu kenapa aku merasa ada yang tengah mengintaiku?

Tenang, ini pasti hanya imajinasiku saja, aku membuat persepsi sendiri dalam membatin. Mataku kembali mengerjap ketika sosok tinggi besar membuatku terkejut. Jantungku serasa mau copot.

“Kya ...!” aku berteriak. Memundurkan langkah secara spontanitas. Napasku naik turun tidak beraturan.

“Apa itu barusan? Si penguntit, ‘kah? Tapi—” Aku menggigit bibir. Ketakutanku semakin membesar.

“Kenapa kau menguntitku? Apa salahku?” Aku ingin menangis. Aku mengeratkan tangan pada baju yang kukenakan. Terus memundurkan langkah karena kusadari pasti sosok itu tengah semakin mendekat bahkan aku bisa merasakan napasnya. Napasku tercekat. Aku menutup mata. Aku baru membuka mata secara perlahan ketika kurasakan langkahnya tak lagi terdengar.

~*~

Aku menarik napas panjang. Menetralkan perasaan yang sedang berkecamuk dalam dada. Sampai sekarang, yang masih tidak aku pahami adalah alasan orang itu menerorku. Orang atu ... ah entahlah! Siapa dia? Dan apa maunya? Lagi pula setahuku dia mengalami kecelakaan kemarin.

Aku mendesah. Pikiranku kusut tidak mampu mencerna apa-apa. Aku bersandar di kursi, namun jantungku sontak kembali jumpalitan ketika melihat bayangannya muncul dari balik kaca jendela. Aku menjerit keras dan langsung bangkit. Aku harus pergi dari sini. Segera! Itulah yang ada dipikiranku. Tidak memedulikan jam berapa saat ini. Aku mengambil kunci mobil.

Dalam perjalanan ingatanku terbang pada pertemuanku dengan seorang teman kantor beberapa hari lalu. Kami bertengkar karena beda pendapat. Tapi tidak mungkin bila temanku adalah si penerorku. Aku menggelengkan kepala. Lalu menggigit bibir sendiri. Mungkinkah karena kesalahan itu? Aku menerka mengingat satu rahasia yang sampai saat ini menjadi rahasiaku sendiri. Aib yang pernah aku buat. Tentang aku yang pernah membunuh seseorang.

Mobil kupacu dengan kecepatan tinggi. Ketika menyadari sosok itu telah duduk di bangku belakang dengan tatapan tajamnya yang kudapati dari kaca spion tengah, tiba-tiba saja tubuhku serasa mati. Kaku.

Oh, God, makhluk apa ini? Napasku naik turun. Perlahan aku menghentikan mobil dan buru-buru ke luar meninggalkan sosok itu. Aku berlari sekencang mungkin. Tapi lagi-lagi sosok itu bisa mengejarku.

Aku terjerembab. Dia semakin dekat. Aku menelan ludah yang terasa kering.

“A-apa mau-mu?” tanyaku terbata.

Dia tak menjawab pertanyaanku, tapi dia terus menatapku lekat. Membuatku bergidik ngeri dan ingin segera melarikan diri. Tapi ... entah kenapa tubuh ini beku tak bisa diajak kompromi.

“Ya, kata-kan se-su-at-u!” Aku sungguh ketakutan ketika sosok itu semakin mendekat. “A-pa alasanmu ... mem-per-la-ku-kan ... a-ku seper-ti in-i?”

Grap!

Dia tetap tak menjawab, malah kini dia mencekal kuat pergelangan tanganku. Aku mengeliat berusaha menjauh. Tapi semakin aku bergerak entah kenapa pegangan itu makin kuat membuatku tak bisa banyak bergerak. Aku memohon untuk dilepaskan. Tapi dia tak mendengarkan aku. Dia malah menyeretku, membawaku pada tempat yang membuatku ternganga.

Tempat dengan bau anyir yang membuatku ingin muntah. Lalu pemandangan yang kulihat membuatku ingin memejamkan mata. Sungguh buruk dan menyesakkan dada. Aku tidak ingin melihat ini.

“Kumohon ... biarkan aku pergi pada keluargaku.” Aku menarik napas. “Jangan menggangguku.” Aku berlari menjauh ketika dia mengendurkan cekalanku. Menyusuri jalan yang kuyakini itu menuju rumah orang tuaku. Aku harus minta tolong agar mereka membantuku.

Aku tersenyum senang ketika melihat Mira keluar dari rumah. Aku memanggilnya, tapi dia tak menyahut dan pergi berlalu begitu saja. Kulihat matanya sembap. Aku jadi khawatir padanya. Ingin aku mengejarnya tapi kuurungkan karena kulihat Ibu yang juga tengah menangis sesegukkan.

Bukan hanya Ibu tapi ternyata semua keluarga besarku. Mereka nampak berduka karena sesuatu. Tapi karena apa? Kenapa hanya aku yang tak tahu? Kulangkahkan kaki pada kerumunan orang yang ada di ruang tengah. Dan aku hampir tak bisa bernapas ketika melihat siapa yang tengah terbaring di sana.

Aku menatap sosok yang berdiri tak jauh dariku. Aku ingin kabur tapi dia segera mencekalku. Mengantarkan pada satu tempat yang sungguh kusesali. Seharusnya aku tidak bunuh diri, menabrakkan diri pada mobil di jalan itu.

Monday, 8 June 2015

[Re-Post] [Cerpen] Nightmare; Teror Hantu di Ujung Lorong


Kazuhana El Ratna Mida

Dini terkesiap. Matanya membelalak melihat pemandangan yang membuat jantungnya berdetak tak karuan. Gelisah, ngeri dan ingin lari. Tapi kaki itu tak mau diajak kompromi, membuat dia masih berdiri tegak tak bisa berlari.

Sekujur tubuh Dini dialiri keringat. Tubuhnya menengang, ketika makhluk cantik itu berjalan mendekat. Makhluk itu melayang-layang dengan senyumnya mencekam. Dini memejamkan mata. Entah apa yang akan menerpanya.

“Din! Ngapain kamu menutup mata begitu? Katanya mau ke kamar mandi, trus kembali siaran, kok lama sekali,” gerutu Mona.

Dini membuka mata. Makhluk tadi yang dilihatnya sudah hilang tinggal sosok Mona yang membuatnya lega.
“Sejak kapan kamu ke sini?” tanya Dini bingung.

“Aku kali yang harus tanya, katanya ke kamar mandi kok malah berdiri di lorong ini. Tuh ditunggu buat nerusin siaran,”  Mona menarik tangan Dini tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.

Sesampai di tempat siaran dia langsung mendapat teguran. Dini hanya diam. Mungkinkah mereka akan percaya ketika dia menjelaskan apa yang dilihatnya? Sudahlah!

Dini pun mulai meneruskan siaranya. Meski sebenarnya masih ada ketakutan yang menyelimuti. Semoga tadi itu hanya halusinasi. Namun betapa Dini kaget, ketika dia menatap keluar jendela, wajah itu mucul mendadak. Sontak Dini berdiri dan memundurkan langakah membuat, Mona yang juga ada di sana kaget.

“Kenapa, Din?” 

“Tidak ada, aku cuma kaget,” bohong Dini.

Dia kembali pada posisinya dan menyelesaikan tugasnya. Mungkin dia terlalu lelah dan butuh istirahat segera.
Tepat jam dua belas dini hari, siaran baru selesai. Dini bergegas meraih tas dan berpamitan pulang.  Sedari tadi tengguknya terus merinding tak karuan. Kenapa suasana kantor yang biasanya aman mendadak horor?

“Kamu kenapa sih, Din? Hari ini aneh banget,” celetuk Mona.

“Memang kamu percaya kalau aku bilang di sini ada hantu,” ucap Dini Menatap Mona. Mona langsung terbahak. 

“Jangan aneh kamu, Din. Di zaman modern seperti ini. Masak takut dengan hantu.”

Dini memang tahu Mona, dia tipe seorang yang tidak percaya akan hal mistis seperti ini. Dia lebih suka melihat realita yang ada. Segala film horror yang ada dikiranya hanya fiktif belaka. Karena apa? Ya, karena dia belum sekali pun melihatnya. Dia baru bisa percaya hantu itu ada jika mereka menampakkan diri dihadapnnya.

“Terserah kamu, Mon, kalau tidak percaya. Aku duluan.” Dini meninggalkan Mona  yang masih mematung melihat dia sudah memacu sepeda motor.

Jalan sepi cukup membuat aman Dini untuk memaju motornya dengan kecepatan tinggi. Inilah kenapa. Dia paling malas kalau mendapat jatah siaran malam.

Untunglah sekarang dia sudah sampai di rumah. Paling tidak ini tempat aman yang jauh dari jangkauan hantu. Setelah membersihkan diri, Dini pun merebahkan tubuh lelahnya.

***

“Kenalkan, aku Mutia. Produser baru yang akan menggantikan Surya.” Wanita cantik itu mengulurkan tangan pada Dini. Meski bingung Dini tetap membalas uluran tangan itu dan menyebutkan namanya.
Gadis itu mirip seseorang yang pernah dia lihat tapi di mana? Dini berpikir keras. Tapi usahnya gagal dia tidak ingat. Mungkin hanya dejavu yang dia rasa.

Dini tidak tahu kalau ada produser baru. Apalagi dipasangakan dengan dirinya. Selama ini dia sudah cocok dengan Surya. 

Kenapa harus Mutia yang menggantikan Surya? Wanita ini sungguh aneh dengan segala tingkah lakunya. Dini juga merasa tidak nyaman. Seolah ada bahaya yang mengintainya.

“Ikutlah denganku!” tiba-tiba Mutia menarik tangan Dini dengan kasar.

“Hei! Apa yang kalau lakuakan?” protes Dini.

“Sudah tidak usah banyak bicara. Ikut saja!” bentaknya. Dini akhirnya menurut saja. Seperti dugaannya wanita ini sangat aneh. Sudah begitu sangat kasar, kontras dengan perawakan cantik dan anggun yang dimilikinya.

Dia membawa Dini ke atap gedung kantor Soraya Radio, 91.07 FM.

“Kenapa kita ke sini?” tanya Dini tidak mengerti.

Bukannya menjawab Mutia malah semakin mempererat gengaman tangannya pada Dini.

“Lepaskan! Kau sudah keterlaluan,” marah Dini.

Dia sudah tidah tahan.

Mutia kini menatap Dini. Sorot mata benci terjelas di sana. Dia memposisikan Dini di pinggir gedung bertingkat lima. Tangan itu siap mendorong Dini dengan segera.

“Jangan harap kamu bisa lepas dariku,” ucap Mutia dengan senyum bringasnya. Dia mendorong tubuh Dina agar jatuh.

“Hai, apa salahku padamu? Bukankah kita baru bertemu, kenapa kau ingin membunuhku?” Dini sungguh bingung.

Mutia mencengkeram lengan Dini kuat. Matanya menyala merah. Seketika Dini ingat siapa cewek itu di depannya. Dia makhluk yang sama yang pernah dia lihat sebelumnya.

“Tidak!” teriak Dini.

****

Jantung Dini berpacu cepat. Keringat dingin menjalar keseluruh tubuh. Mimpi buruk yang baru saja menyapa, membuatnya lemas tak berdaya. Dini menarik napas, mencoba mengatur detak jantung yang masih kembang-kempis. 

“Ya, Allah. Semoga ini bukan pertanda buruk,” doanya.

Dini melangah menuju kamar mandi, membasuh muka. Semoga kesegaran yang tercipta mampu membantunya membuang gelisah yang mendera.

Dini menatap kaca besar di kamar mandi. Sekelebat bayang berbaju merah melintas di belakangnya, yang terpantul dari kaca besar itu. Dia terkesiap. Mungkinkah dia masih di alam mimpi?

Dini mundur beberapa langkah. Mencari sosok dia yang tadi mencoba menampakkan diri. Namun hasilnya nihil. Dia hanya menakut-nakuti ternyata. Dini meninggalkan kamar mandi dengan banyak tanya.

Dia duduk lemas di kasurnya. Siapa wanita itu? Kenapa dia datang dan ingin membuhnya. Wanita yang dia lihat beberapa kali di radio tempat dia bekerja. Di lorong menuju kamar mandi.

Dan sejak itu Dini selalu bermimpi buruk di kejar-kejar hantu, atau dikutuk. Dini merasa tersiksa karena tidak bisa tidur nyeyak. 

Pasalnya baru memejamkan mata, wanita itu mucul menyeringai dan ingin mencbik-cabik dirinya. Belum lagi, ketika dia terdampar di lorong menuju toilet kantor yang membuatnya ingin muntah. Beberapa kali, Dini terbangun dan berada di sana. Aneh. Padahal dia yakin, semalam tidur pulas di rumah.
Ada kejadian apa di sana?

****

Lagi-lagi  dia selalu dapat jatah siaran malam. Ingin menolak tapi, itu tidak professional. Dengan masih menyimpan takut karena mimpi buruk. Dia sebisa mungkin menghindari pergi ke kamar mandi.
Karena di sanalah tempat paling sering dia melihat wanita bergaun merah dengan sorot benci ingin menerkam dirinya. Kenapa hanya dia yang diteror di sini? 

Dini memasuki ruang siaran dan tak menemukan siapa pun di sana. Apa maksud dari semua ini coba? Ke mana para crew dan produdernya. Kalau tahu begini mending dia tidak masuk kerja.

Dini duduk di ruanganya cukup lama. Menimbang-nimbang antara pulang dan tetap bertahan.
“Pulang saja, deh,” putusnya akhirnya.

Namun baru beberapa langkah, kembali dia dikejutkan dengan senyum khas milik wanita berbaju merah. Dini reflex mundur seketika.

Dini berlari menjauh dari sosok itu yang mengaku bernama Mutia. Wanita yang dulu ada dimimpinya yang katanya produser baru pengganti Surya. Kini mimpi itu seolah menjadi nyata. 

Dengan sigap Dini harus segera lari dan menjauh dari hantu  gila itu. Dia tak mau mati konyol gara-gara kesalahan yang tidak dia tahu.

“Kau tidak bisa lari, Dini,” ucapnya sudah berada di hadapan Dini.

Jantung Dini berdetak tak menentu bagaimana dia bisa mengalahkan hantu  ini? Apalagi tenaganya juga sudah letih sedari tadi, berlari tak juga dia temukan pintu keluar. Ah, bagaimana ini? 

Lelah dan resah menggelayuti Dini sekarang ini. Dia terjebak di sini. mata Dini terbelalak ketika membaca pesan singkat bahwa kantor hari ini libur. 

Lalu siapa yang tadi menelepon dia untuk segera ke kantor segera. 

Wanita berbaju merah itu tersenyum penuh kemenangan dia bisa menjebak Dini ke mari. Pantas saja kantor sangat sepi sedari tadi.

Dini menelan ludah. Dia telah terjebak di sini. Rasa letih karena sedari tadi beralari ke sana-ke mari telah menguras semua energi. Dia pasrah ketika kuku panjang miliki wanita berbaju mereh menancapkanya di kaki Dini. Darah mengalir deras dari kakinya. Setelah itu semua gelap.

****

Masih Mona ingat dengan jelas kala dia melihat Dini yang nampak  senang sekali, setelah sekian lama mencari pekerjaan sambilan untuk memenuhi kebutuhan kuliah yang makin meninggi, akhirnya kini dia diterima bekarja di salah satu radio ternama—radio Soraya 91.07 FM yang dulu sering dia dengarkan.
Siapa sangka Dini bisa diterima di sana, kini dia tak lagi menjadi pendengar seperti biasa. Tapi menjadi penyiar seperti mimpinya dulu di sekolah. Dini bekerja dengan semangat tinggi, menikmati setiap esensi rasanya menjadi penyiar. Di sanalah, dia hidup sekarang, dengan segala rasa berbaur hingga merubah dirinya menjadi sesuatu yang luar biasa.

*****

“91.07 FM, soraya radio. Oke guys bareng aku lagi Dini, di acara nightmare seasion. Kalian bisa reguest lagu kesukaan kalian dan menceritaka tentang pengalaman mimpi buruk yang membuat kalian bergidik ngeri. Sebagai lagu pembuka, aku putarkan lagu My Chemical Romance ‘Welcome to the Black Parade’,” Dini mulai siaranya malam itu Dini menikmati lagu, sambil membaca novel yang tadi dia bawa.

Lumayan sambil menunggu iklan juga. Jadi tidak bosan. Kerja di sini sangat menyenangkan. Teman-temannya baik dan ramah. Dini jadi sangat betah. Dia yang minim pengalaman banyak belajar dari para senior.

“Baca Novel, apaan Din? Sepertinya keren,” Mona yang baru datang langsung nyamperin Dini.  Mereka lumayan dekat di sini. maklum sama-sama anak baru juga.

“Iya, keren banget. Ntar kalau dah kelar aku pinjamin.”

Hari-hari pertama kerja semua berjalan lancar. Dini sangat bersuyukur. Meski baru pertama kali terjun dalam dunia kepenyiaran, hasilnya tidak terlalu buruk untuk pemula. Ratting untuk acarnya pun lumayan tinggi. Ini, mah namanya prestasi.

Namun sejak dia menjadi penyiar nightmare, hidupnya berubah menjadi gelap. Selalu dibayangi kematian dan mimpi buruk hingga membuat dia ambruk. 

Teror silih berganti menghantui. Membuat Dini menjadi berbeda. Dia yang dulu ceria menjadi sosok pendiam dan suka menghilang. Suka berteriak sendirian lalu tertawa kembali. Kataya ada makhluk jahat yang selalu membuntuti.

“Jangan ngacoh deh, Din. Di sini tidak ada hantu,” ucap Mona meyakinkan.

“Percayalah Mon, dia ada dan ingin membunuhku,” terangnya ingin meminta pertolongan pada Mona.
Karena kasihan Mona  pun mengizinkan dia menginap di rumah. Dan  Mona sungguh kaget, ketika melihat Dini dalam sosok lainya. Dua jiwa dalam raga yang sama. 

Sahabatnya telah dimasuki makhluk lain yang mengaku bernama Mutia—penunggu kantor tempat kami bekerja. Mitos tentang hantu di lorong menuju kamar mandi  ternyata benar adanya. Hantu itu mati karena dia di bunuh di sana oleh pacarnya yang berselingkuh dengan kawanya, hingga dia bergentayangan ingin balas dendam. Jadilah mereka—Mutia dan Dini saling membunuh untuk mempertahankan raga secara utuh. Saling tarik menarik ingin menguasai.

Entah kenapa Dini yang dia pilih ternyata setelah Mona selidiki, Dini memiliki wajah yang mirip dengan selingkuhan pacarnya. Karena itu Mutia ingin membunuhnya, atau menguasai jiwa Dini  sekalian.
Mona menatap Dini yang duduk menunduk di kamar tempat dia di rawat sekarang. Wajahnya pias, terlihat sedih. 

“Pergi! Pergi!” ucap Dini selalu tatkala berkaca melihat satu lagi jiwa yang bersemanyam di sana, yang suka bergentayangan ketika malam tiba. Berubah menjadi sosok Dini yang bersiaran tengah malam.
Mona bergidik ngeri. Ternyata ada makhluk lain yang tak kasat mata. Mungkin adia  harus mengundurkan diri dari radio itu setelah kejadian ini.

Tapi mendadak tubuhku limbung, entah Dini atau Mutia yang telah ada di depannya. Menyeringai menghujamkan pisau ke perut Mona.

Srobyong, 16 April 2015.

Atau bisa simak langsung di

Friday, 24 April 2015

[Cerpen Horor] Tari

Judul : Tari
Oleh : Ratna Hana Matsura feat Adnando Syafiq

Wajah Lina menegang. Matanya melotot seolah tak percaya dengan pandangannya sendiri.

“Tidak mungkin!” pekiknya sendiri.

Berkali-kali dia mengucek mata. Memastikan bahwa pandangannya salah. Tapi Tari masih di sana tersenyum menatapnya.

“B-b-ag-ai-ma-na ... bi-sa—,” Lina terbata-bata.

“Apa kabar, Lin?” sapa Tari ramah.

Lina memundurkan langkah, menyandarkan tubunya di tembok kamar dengan perasaan campur aduk tak karuan. Takut, cemas, serta marah bercampur menguasai raga. Napasnya naik turun, mencoba mengontrol jiwa.

“Pergi! Pergi!” usir Lina sambil menutup mata.

Setelah menunggu beberapa menit, Lina membuka mata secara perlahan. Tidak ada. Lina sungguh lega. Tari sudah tak nampak lagi. Semua pasti hanya ilusinya. Atau halusinasi yang mulai menggila.

Ketakutannya pun sedikit berkurang. Kini dia duduk di meja belajarnya. Membolak-balik buku pelajaran matematika karena esok akan ada ulangan harian.

“Lin, makan malam dulu, yuk!” panggilan sang ibu membuat Lina segera beranjak dari tempat duduknya. Dia segera melesat menemui ibunya.

Namun ..., jantung Lina langsung berdetak tak karuan melihat siapa yang ikut duduk manis di meja makan.
Lina menelan ludah. Pandanganya nanar, kakinya lemas seketika.

“Kenapa melamun, Sayang. Ayuk duduk,” ucap ibunya lembut. Namun Lina segera menepisnya dengan kasar.

“Pergi ..., kenapa kau masih di sini?” tanya Lina menatap langsung Tari yang asyik menekuni makanannya.
“Lina, tenangkan dirimu,” ucap ibunya hati-hati. Tak tahu kenapa anaknya tiba-tiba berteriak histeris.

“Tari, Bu ..., Tari—,”

Lina kini menangis sesenggukan. Sang ibu memeluknya erat.

“Ibu tahu perasaanmu, Sayang. Kamu kangen padanya, ya?” sang ibu menepuk-nepuk punggungnya.
Tari mentapnya tersenyum menang. Seolah berkata “ Aku akan mengganggu hidupmu.”

“Aku mau kembali ke kamar, Bu.”

Lina langsung menutup pintu. Mendekam di kamar mengingat kejadian waktu lalu. tumpang tindih kejadian yang hanya diketahuinya sendiri.

~*~
“Aku kembali, Lin. Bukankah kau merindukanku?” tiba-tiba Tari sudah ada di depannya. Muka Lina langsung pias dan ketakutan.

“Kau sudah mati, Tar. pergilah ke alammu sendiri.”

“Jangan mengada-ada. Aku masih hidup, Lin. Di sini—.” Tari menunjuk dada Lina.

Lina mengingat kejadian lalu. Ketika dia menyaksikan sendiri, Tari yang tertabrak mobil. Dia tidak mungkin salah. Lagi pula dia bahkan ingat betul pemakaman pun sudah dilakukan. Bahkan dia sempat sakit berbulan-bulan setelahnya.

Tari mendekat berusaha berkontak fisik. Dengan cepat Lina menepis tangan Tari. Namun terlambat, Lina kini sudah mencekeram lengannya dengan kuat.

“Apa yang mau kau lakukan?” Lina berontak tapi Tari makin beringas. Mereka jungkir balik di lantai saling adu kekuatan.

Duar ... duar ...!

Tiba-tiba pentir menyambar-nyambar. Sosok Tari sudah hilang dari pandangan. Meski Lina sudah mengedarkan pandangan Tari sudah tak ditemukan. Kenapa ini terjadi padanya?

Kau sudah mati kenapa masih menggangguku? Tanya Lina sendiri. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri. Konsenstarsinya telah buyar hingga tak lagi bisa meneruskan belajar. Apalagi sambil menahan lapar karena tak jadi makan malam.

“Semua karenamu, Tar. Kau jahat.” Lina sesenggukan. Dia memeluk erat kaki yang tengah ditekuknya. Pandangannya tertuju pada rintik hujan yang semakin membuatnya ingat kejadian lalu yang buatnya gila.
Teriakan. Kemarahan hingga tabrakan. Kepedihan juga luka yang tak terhapuskan.

~*~
Sejak kemunculan Tari, sosok Lina berubah. Tatapan yang dulu terlihat ceria kini berubah muram. Kalau dulu selalu murah senyum dia menjadi pemarah. Tiba-tiba suka berteriak sendiri sambil menyebut nama Tari.
Teman-temannya pun perlahan menjauhi Lina. Dia kembali ke habit awal. Menjadi gadis aneh yang menakutkan. Suka sekali menyerang teman-temannya secara tiba-tiba.

“Bagaimana? Bukankah hanya aku yang peduli padamu?” Tari sudah muncul di hadapan Lina. “Mereka mulai menjauhimu, kan?” Tari tertawa.

“Kau jahat, itu karenamu, Tar. Kau jangan menggangguku.” Lina murung. Dia duduk menunduk di bangkunya.

Cemoohan pun kembali menerpa. Kenapa dia selalu diperlakukan seperti itu? Lina sungguh tak mengerti.
Ah, semua memang gara-gara Tari. Semua kebahagiaan selalu dia rebut acap kali Lina akan mendapati. Kemarahan Lina memuncak.

“Aku harus melakukan sesuatu.” Tekadnya sendiri.

Matanya menyala-nyala. Siap melakukan sesuatu yang dianggap benar. Dia harus memperjuangkan kebahagiaannya. Dia tak mau harus selalu dibawah ketiak Tari yang suka seenaknya.

Sejak kecil Tari selalu mendominasi. Menguasai semua hidup Lina. Siapa yang tak muak? Apa-apa diatur tak boleh ini itu.

Aku akan mengambil kebebasanku, ucap Lina dalam hati. Bagaimanapun caranya bahkan untuk melenyapkanmu.

~*~
Lina memicingkan mata, tangannya memegang erat pisau dapur yang biasa digunakan ibunya untuk memotong ikan. Di hadapannya Tari, terikat tangan juga kakinya. Meski dalam keadaan seperti itu, Tari masih juga memasang senyum menakutkan seperti sebelumnya.

"Kau takkan berhasil membunuhku!" seru Tari lalu tertawa.

Lina berteriak geram, "Diam!" Ujung suaranya bergetar. Digenggamnya semakin kuat pisau di tangan. Dia dan Tari kini berhadapan.

~*~

Usai memperkenalkan diri, Tari diminta untuk duduk di bangku paling belakang sebelah kanan, karena cuma itu satu-satunya tempat duduk yang masih kosong.

Tari melangkah cepat, nyaris berlari hingga tas punggungnya berulang kali menumbuk belakang dan menghasilkan bunyi-bunyian yang berasal dari tumbukan antara barang-barang bawaan Tari ke sekolah.
Di meja paling belakang sebelah kanan Tari berhenti. Segera dia memasukkan tas ke dalam laci, menggeser kursi ke belakang, menghempaskan pantat, dan menariknya ke posisi semula. Setelah merasa duduknya sudah cukup nyaman, Tari lalu memalingkan pandangan pada gadis berambut hitam tergerai yang duduk di sebelahnya.

"Tari!" seru Tari sambil mengulurkan tangan. Tak lupa memasang senyum semanis mungkin.

Gadis yang diuluri tangan itu hanya diam. Matanya menatap lurus ke arah Tari, namun terlihat tanpa ekspresi. Tiga detik kemudian gadis itu berpaling. Kembali menatap tulisan-tulisan pada buku LKS di tangannya.

Tari tersenyum kecut, menarik tangannya yang masih melambai di depan dada.

Kali ini sepertinya agak sulit. Gadis itu amat pendiam, tidak seperti gadis sebelumnya. Pikir Tari.
Akhirnya sepanjang jam pelajaran itu Tari habiskan hanya dengan diam. Tidak dengan mengobrol seperti yang selama ini dia lakukan dengan teman sebangkunya di sekolah lama. Apalagi teman sebangkunya seperti benci akan kehadirannya.

~*~

"Kau takkan berhasil ...," ucap Tari sambil menyeringai. Tatapannya tajam ke arah Lina.

"Hentikan!" Lina memekik kencang lantas mengayunkan pisaunya ke dada Tari.

Darah segar mengaliri tangan Lina. Di hadapannya sudah tak ada Tari, melainkan gambaran dirinya sendiri dengan dada yang bersimbah darah.

Lina kini terbaring di depan cermin dengan menggenggam pisau dapur yang menancap di dadanya.

Srobyong, Maros 19 April 2015

Saturday, 31 January 2015

[Cerpen Horor] Hikiko



Judul : Hikiko

Oleh :Kazuhana El Ratna Mida

Nika memasuki kamar dengan segera. Dia ingin merebahkan diri sebentar karena rasa lelah yang menjalar diseluruh tubuhnya. Seharian ini terlalu banyak aktivitas yang dia jalani. Biarlah untuk hari ini dia tidak ikut makan malam dengan keluarga. Nika langsung tertidur setelah membersihkan diri, terlelap dalam mimpi.

Nika tidak tahu, entah karena terlalu lelah atau terlalu banyak mengkhayal dia merasa kasurnya ini bergerak-gerak seperti digoyang-goyang. Didorong seperti sedang ditimang-timang. Nika membuka mata mencoba mengembalikan kesadaran sepenuhnya. Ini nyata, dia tidak bermimpi. Nika menelan ludah, dengan masih duduk di atas kasur mencoba menetralisir alam pikirannya. Tapi gerak itu masih dia rasakan dan malah bertambah cepat. Nika menengok ke sekeliling kamar.

Mendadak dia merasa takut, bulukudunya merinding. Dia ingin keluar untuk ke kamar kakaknya, tapi kaki itu seolah tidak bisa bergerak. Nika kemudian mencoba merebahkan diri lagi, berharap dia tidak merasakan kasur ini ditimang-timang. Dia memejamkan mata, menutupnya dengan bantal mencoba mengusir rasa takut. Tapi tetap saja dia merasakan kasur itu bergoyang-goyang.

Semakin lama semakin cepat. Ada penasaran yang menyelimuti jiwanya. Dengan sedikit mengintip Nika mencoba mengedarkan pandangan. Lalu pandanyannya bertaut dengan sosok pucat tidak jauh dari kasurnya, yang sedang mendorong dengan tawanya yang membuat bergidik.

Nika terkesiap, detak jantungnya tak beraturan. Kini tatapannya nanar.

“Hikiko!” pekik Nika panik.

Dia menjauh tapi hantu kecil yang hampir menyerupai kuntilanak itu malah mendekat, membuat Nika ketakutan.

“Pergi!” teriak Nika.

Bukannya pergi Hikiko seolah ingin meraih Niki dengan segera. Kini Hikiko makin keras mengoyang-goyangkan kasur membuat Niki berteriak keras.

Menjambak rambut Nika dengan kasar, menarik tangan dan hampir mencekiknya.

~*~

Nika menghela napas. Mungkin semua hanya imaji atau mimpi. Ah, sudahlah itu tidak penting. Pagi sudah menyapa, kini Nika memulai aktivitas seperti biasa. Dia menyiapkan segala kebutuhan sekolahnya dengan suka cita.

Entah beberapa minggu ini dia merasa selalu memimpikan hal yang sama. Bertemu Hikiko dan dihantuinya.

~*~

“Itte Mairimasu—aku berangkat!” Nika bergegas, meninggalkan rumah besar yang baru saja dibeli keluarganya beberapa minggu lalu.

“Ohaiyou, Nika-chan—selamat pagi, Nika-chan,” sapa Mari—teman Nika yang kebetulan berada di kompleks perumahan barunya.

“Ohaiyou.” Nika tersenyum. Mereka pun kini berangkat bersama ke sekolah.

Namun, baru beberapa langkah menuju sekolah ....

Glek!

Niki menelan ludah, menatap sosok Mika yang tengah berubah menjadi Hikiko. Teror baru dimulai, menghantui Nika dan rumah baru yang ditempati tanpa akhir.

Tawa menyeringai di bibir Hikiko. Meraih Nika, menarik tangan dan rambut ingin mencincang. Dia ingin membalas kejahatan orang-orang yang dilakukan padanya sewaktu tinggal di rumah yang dihuni Nika.

Srobyong, 22 Desember 2015.

Nb : tidak seram.