Showing posts with label Koran Singgalang. Show all posts
Showing posts with label Koran Singgalang. Show all posts

Saturday, 22 June 2019

[Resensi] Perjuangan dan Pemikiran Sosrokartono, Kakak Kartini


Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 13 Januari 2019


Judul               : Sosrokartono
Penulis             : Aguk Irawan M.N
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, September 2018
Tebal               : 370 halaman
ISBN               : 978-602-7926-42-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Dalam sejarah kita lebih sering mendengar nama besar R.A Kartini, pejuang emansipasi wanita. Kita tidak tahu, bahwa di balik semangat juang Kartini, ada  Sosrokartono, kakak Kartini, yang ternyata merupakan inspirator dan  guru  bagi Kartini. Pria kelahiran Jepara, 10 April 1877, merupakan sosok jenius. Sosrokartono adalah seorang poliglot yang menguasai 26 bahasa asing dan 10 bahasa Nusantara.

Buku ini dengan pembahasan yang lugas dan mudah dicerna, mengajak kita untuk  mengenal lebih dalam tentang sosok Sostokartono, seorang tokoh yang juga memiliki sumbangsih terhadap tanah air Indonesia. Dia memiliki jiwa patriotisme yang tinggi, yang memiliki kepedulian terhadapan pendidikan rakyat Hindia. Hal itu terbutki nyata dari usahanya yang mencoba melobi salah satu petinggi Hindia Belanda, Tuan Rooseboom yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda.

Tanpa rasa gentar Sosrokartono mengungkapkan tentang ketidakadilan pemerintah Hindia Belanda yang membatasi pendidikan kaum pribumi dan meminta kelonggaran agar kaum pribumi bisa mengenyam pendidikan. “Dengan sepenuh jiwa, dari seorang pemuda Hindia yang selalu rindu dan haus akan pengetahuan, saya, sekali lagi memohon Tuan yang bijaksana, untuk memerhatikan pendidikan rakyat Jawa.” (hal 180).

Dia juga memanfaaatkan momen di Kongres Bahasa dan Sastra Belanda, untuk mengemukakan ide dan gagasan tentang pentingnya mempelajari bahasa Belanda bagi kaum pribumi, agar bisa memahami sistem-sistem yang dilakukan para penjajah.  Sehingga tidak ada salah paham antara pemerintah Hindia Belanda dengan rakyat pribumi. Di mana kerap sekali karena kesalahpahaman berbahasa banyak pribumi yang mendapat hukuman tanpa tahu kesalahan mereka.  Tidak hanya itu Sosrokartono juga menggemborkan tentang sikap perdamaian dan kasih sayang bangsa penjajah  dan tidak bertindak semena-mena (hal 200).

Bagi sebagian kaum cendekiawan Belanda sangat salut dengan gagasan Sosrokartono. Akan tetapi bagi para elit cendekiawan yang memiliki mental penjajah sangat marah dengan keberanian pidato yang disampaikan Sosrokartono.  “Untuk mencapai kemajuan, diperlukan usaha yang lebih keras, Tuan. Untuk mencapai kemajuan pula, selalu ada pihak-pihak yang menentang.” (hal 241).

Di antaranya adalah Prof. Dr. Snouck Hurgronje. Di mana menurut pendapatnya jika, sampai pemerintah Hindia Belanda memenuhi harapan Sosrokartono, maka dikhawarikan rakyat pribumi akan menjadi pribadi yang lebih cerdas dan bisa merongrong kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.
Mereka ingin kaum pribumi tetap bodoh. Karena dengan begitu, mereka akan mudah mengendalikannya. Oleh sebab itu, melihat kepintaran dan luasnya pergaulan Sosrokartono, Dr. Snouck sangat khawatir dan mulai mencari kelemahan Sosrokartono untuk dipermalukan dan tidak berani melawan pemerintah Hindia Belanda.

Sosrokartono juga bersumbangsih dalam berdirinya, sebuah organisasi yang bernama Indische Vereegining atau Perhimpunan Hindia, yang awalnya membahas tentang kehidupan para pelajar mahasiswa Hindia di Belanda namun kemudian berubah menjadi organisasi politik yang bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Meskipun  puluhan tahun Sosrokartono bersekolah di Belanda dan mengembara ke Eropa, dia tetap mencitai bangsanya dan tidak mau menghempaskan nilai-nilai pribumi. Di mana dia tegaskan pada saat berpidato di Kongres Bahasa dan Sastra Belandan ke-25 di Gent, Belgia, pada September 1899, “Dengan  tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selamat matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang.”

Buku ini sangat menarik untuk dibaca. Apalagi memang jarang sekali buku yang membahasa tentang biografi Sosrokartono. Pria jenius dengan segudang prestasinya ini adalah sosok yang patut kita teladani. Karena dia merupakan sosok yang luar biasa. Selain sangat mencintai tanah airnya, dia adalah pemuda yang selalu taat kepada ibu dan ayahnya. Tidak hanya itu dia merupakan sosok yang memiliki spritual tinggi. Di mana karena kemampuannya itu dia bisa mengetahui sesuatu yang belum diketahui orang lain dan bisa menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dunia medis. Meskipun sedikit banyak masih ada beberapa kekurangan dalam buku ini, hal itu tidak mengurangi esensi yang ditawarkan penulis.

Srobyong, 1 November 2018

Saturday, 30 March 2019

[Resensi] Pesan Tersirat dari Kisah Pembunuhan Berantai

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 31 Maret 2019 


Judul               : Katarsis
Penulis             : Anastasia Aemilia
Penerbit           : Gramedia
Tahun Terbit    : 2019
Tebal               : 261  halaman
ISBN               : 978-979-22-9466-8
Peresensi         : Ratnani Latifah.  Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Namun dalam masa pertumbuhan mereka, faktor lingkungan, keluarga dan berbagai faktor lainnya, akan memengaruhi sikap dan pola pikir anak.  Oleh sebab itu, pada perkembangannya nanti, anak memiliki  potensi menjadi orang baik atau buruk. Maka tidak salah jika kita harus berhati-hati dalam mendidik anak. 

“Manusia pada dasarnya, memiliki dua sisi. Tak ada yang dilahirkan bak malaikat suci. Seperti DNA, kedua sisi itu mengalir dalam darahmu, dan tak bisa kaupisahkan apalagi kauhilangkan dengan ramuan obat atau jampi-jampi apa pun.” (hal 75).

Mengambil tema keluarga dan kriminalitas, novel bergenre thriller psikologi ini sangat menarik untuk dibaca. Dengan gaya penyajian cerita yang lugas dan mudah dipahami, penulis berhasil menghidupkan kisah ini dengan apik dan menarik. Kita akan dibuat penasaran bagaimana dengan akhir kisah ini, sejak pertama kali kita membuka dan membaca  lembar novel ini. 

Katarsis—judul novel yang terkesan pendek dan sederhana—namun juga menjadi pemicu menarik rasa penasaran pembaca.  Dalam kbbi online, katarsis sendiri memiliki arti  (Psi) cara pengobatan orang yang berpenyakit saraf  dengan membiarkannya menuangkan segala isi hatinya dengan bebas; (Sas) kelelahan emosional setelah mengalami ketegangan dan pertikaian batin akibat suatu lakuan dramatis. Di mana judul ini mengacu pada tokoh cerita yang memiliki cara dalam mengobati jiwa mereka agar suci, baik dengan cara yang benar bahkan dengan cara yang ekstrim.

Menceritakan tentang Tara Johandi yang ditemukan dalam keadaan mengenaskan berada di kotak perkakas kayu, sedangkan semua keluarganya tewas; sepupunya—Moses, Bibinya—Sasi, dan ayahnya—Bara. Arif, pamannya ditemukan dalam keadaan tidak sadar. Tara menjadi saksi kunci dalam tragedi perampokan dan pembunuhan yang dilakukan  Martin Silado dan  Andita Pramani. Namun ternyata kasus tersebut,  tidak sesederhana yang dipikirkan polisi dan masyarakat.

Setelah dilakukan penyelidikan yang lebih mendalam, satu per satu petunjuk ditemukan. Akan tetapi dari petunjuk itu, banyak hal-hal yang terlihat ganjil dan membingungkan. Dari jarak kematian Moses dengan Sasi dan Bara, serta Arif yang tiba-tiba menghilang. Masalahnya selama proses penyelidikan, Tara belum bisa diminta keterangan. Pengalaman tragis itu  meninggalkan jejak trauma bagi Tara. Gadis itu seperti dikejar-kejar monster dan dihantui wewangian aroma mint  yang dia cium ketika dikurung di kotak perkakas kayu.

Oleh sebab itu dia mendapat perawatan intensif dari dokter Alfons, untuk menangai rasa traumanya juga untuk mengenal lebih dalam rahasia kelam apa yang disimpan gadis cantik berusia delapan belas tahun tersebut. Apakah dia memang hanya seorang korban atau dia menyimpan kebenaran yang tidak terduga.  Akan tetapi usahanya dokter Alfons tidak berjalan mulus. Kedatangan Ello, seorang teman di masa lalu Tara  mengacaukan segalanya.

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba muncul pembunuhan berantai yang menggunakan kotak perkakas kayu  sebagai tempat menyimpan korban sebagaimana yang pernah dialami Tara.  Pembunuhan itu dilakukan dengan sangat rapi dan uniknya tidak ada tanda perlawanan atau pemaksaan.

Novel ini sangat menarik dan mendebarkan. Banyak kejutan yang disiapkan penulis dari awal sampai akhir. Membaca kisah ini kita akan dibuat bergidik ngeri dengan kekejaman pelaku yang sangat  bengis dan tidak berperasaan.  Secara keseluruhan dari gaya bercerita, konflik, penokohan dan alur cerita, semua dieksekusi oleh penulis dengan apik dan menarik.

Hanya saja untuk pemilihan sudut pandang Tara dan Ello yang sama-sama menggunakan sudut pandang orang pertama—aku—dan tidak ada ciri-ciri khusus, membuat saya agak kebingungan, ketika membaca bagian mereka—suka kebolak-balik.  Sedikit kekurangan yang saya rasakan ketika membaca novel  ini adalah perihal setting lokasi cerita yang digarap kurang detail, sehingga  masih terasa tempelan. Kemudian ada pula bagian yang terasa kurang,  yaitu perihal dari mana munculnya sikap psikopat Tara, yang tidak ada penjelasan  latar masalah yang  memengaruhinya.  Atau sikap dokter Alfons yang terlalu perhatian terhadap Tara.

Namun lepas dari kekurangan novel ini cukup menarik untuk dibaca. Maka pantas jika novel ini yang diterbitkan pertama kali tahun 2013, kini telah diterbitkan ulang dan juga sudah diterjemahkan dalam versi bahasa Inggris.  Novel ini mengajarkan bahwa pola asuh orangtua memiliki pengaruh yang cukup besar dalam sikap dan tingkah laku anak ketika dewasa.

Srobyong, 21 Maret 2019

Tuesday, 5 March 2019

[Resensi] Melacak Bantuan Kesejahteraan dari Situs Misterius

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 6 Januari 2019



Judul               : Dokumen Delapan
Penulis             : Probo Nella
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Agustus  2018
Tebal               : 320 halaman
ISBN               : 978-602-039-858-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Novel ini merupakan  salah satu jebolan dari “Gramedia Writing Project”. Dan sebagai debut penulis, novel ini sudah menarik dan sukses membuat pembaca penasaran dengan rangkaian cerita yang disusun dengan sedemikian rupa. Penulis berhasil menghidupkan cerita yang dia bangun, sehingga pembaca seolah memasuki labirin panjang untuk mengetahui di balik keberadaan situs misterius yang tiba-tiba hadir dan membantu berbagai permasalahan para tokoh cerita.

Buku ini sendiri menceritakan tentang delapan dokumen dari masing-masing tokoh yang membahas tentang masa lalu dan masa sekarang.  Kisah itu sendiri diposkan di situs misterius yang mengharuskan anggota untuk mendaftarkan diri dengan nama akun tertentu. Di mana mereka harus menceritakan kisahnya dengan jujur.  Dokumen pertama kita dihadapkan dengan pengakuan dari tokoh bernama Alex. Meski terlahir dari keluarga kaya rasa dan sukses, hal itu tidak selamanya membuat Alex hidup bahagia. Sebaliknya dia malah merasa tersiksa. Puncaknya adalah ketika Alex ditempatkan di rumah sakit jiwa. Hingga situs misterius tiba-tiba muncul dan menawarkan bantuan yang tidak terduga.

Dokumen kedua, berkisah tentang permasalahan hidup Riara. Hidup sederhana yang selama ini dia miliki, tiba-tiba berbalik menjadi kehidupan yang penuh perjuangan. Kematian kedua orangtuanya yang begitu mendadak, dan harus merawat sang nenek yang mengalamai pikun serta sang kakak yang menderita keterbelakangan mental, membuat Riara kadang merasa putus asa. Dan keputusaasannya semakin menggunung ketika sebuah penyakit kronis bersemayam di tubuhnya. Di sanalah keberadaan situs miterius yang mendadak hadir memberi penawaran menarik bagi Riara.

Selain dua tokoh ini, tentu saja masih ada tokoh lain dengan cerita-cerita yang tidak kalah menarik dan akan membuat kita merinding, bergidik ngeri dan simpati.  Seperti kisah Orlando, Fellen, Surya, Yuna dan Yusrin.  Kisah mereka tak kalah kelam dari kisah Alex dan Riara. Bahkan di antara mereka ada yang merupakan buronan polisi atau  hampir ditangkap polisi. Kemudian ada pula yang harus hidup dengan identitas lain karena tuntutan keadaan.  Uniknya situs misterius ini selalu berhasil mencegah  dan memberikan jalan keluar yang apik dan pas bagi para tokoh.  Sehingga tokoh-tokoh tersebut bisa terlepas dari masalah yang mereka hadapi. Namun pertanyaannya adalah, siapakah di balik situs misterius tersebut?  Dan apakah ada imbalan yang harus dibayar dari bantuan itu?

Menarik, seru, menggelitik dan bikin penasaran. Itulah kata  yang pas untuk menggambarkan novel ini.  Dengan tampilan cover yang  sudah menunjukkan sisi misterus, saya rasa itu menjadi daya tarik tersendiri dalam menyedot perhatian publik. Begitupun saya, yang memang menyukai kisah-kisah berlatar misteri dan thriller.  Memang pada awalnya saya agak bingung dengan cerita yang ingin disampaikan penulis. Namun lambat  laun, semakin saya mendalami kisah ini, saya menyadari bahwa novel ini sangat menarik. Penulis berhasil menggiring pembaca agar menyelesaikan kisah ini sampai akhir. 

Dan di tengah cerita, saya akhirnya menyadari kenapa ada bagian-bagian selipan yang ditaruh penulis ketika menceritakan setiap dokumen. Di mana ternyata, hal itu merupakan klue dari misteri tentang situs misterius itu sendiri. Tidak hanya itu kita juga akan dikejutkan dengan benang merah yang tidak pernah kita sangka dari kehidupan para masing-masing tokoh.

Hanya saja ada bagian yang menurut saya kurang dijelaskan lebih detail. Misalnya tentang bagaimana situs itu bisa mengetahui keadaan para tokoh yang sedang terjepit dan muncul untuk mengulurkan bantuan. Namun lepas dari kekurangannya, novel ini menarik untuk dibaca. terlebih dari kisah ini setidaknya kita bisa memetika beberapa hikmah.

Di antaranya, melalui kisah ini kita diajak untuk membantu orang lain yang membutuhkan. kita diajak menjadi pribadi yang kuat, tidak mudah putus asa dan siap berjuang untuk meraih impian. Di sisi lain, kita juga disadarkan, bahwa dalam hidup ini kita akan selalu mendapat ujian. Tinggal bagaimana kita menghadapinya. Apakah kita memilih menyerah atau berusaha untuk menghadapinya. “Ujian yang menentukan apakah seseorang  akan menjadi sebongkah berlian atau segumpal kotoran.” (hal 276).

Srobyong, 22 Desember 2018

Monday, 24 December 2018

[Resensi] Kehidupan Tiga Wanita Berbeda Zaman dan Tragedi 1965

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 9 Desember 2018



Judul               :  Sunyi di Dada Sumirah
Penulis             : Artie Ahmad
Penerbit           : Mojok
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : viii + 298 halaman
ISBN               : 978-602-1318-72-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

“Tak ada  manusia yang bisa melarang manusia lain untuk memiliki Tuhan dan agama. Lagi pula, tolak ukur manusia yang beragama dan ber-Tuhan siapa yang tahu? Yang tahu, ya hanya diri kita sendiri. Hubungan spiritual itu tak bisa ditebak dan dinilai orang lain dari penampilannya saja.” (hal 262).

Buku ini menceritakan tentang kehidupan tiga wanita dalam rentan masa yang berbeda.  Diceritakan dengan sudut padang pertama dari masing-masing tokoh, akan membuat kita merasa kisah itu terasa dekat sekali dengan kita. Seolah kita bisa melihat kilasan cerita di depan mata. Belum lagi cerita yang dipaparkan sangat kompleks. Kita akan dihadapkan pada sebuah kisah yang entah bagaimana, akan membuat kita merasa sedih, marah dan tidak berdaya.

Apalagi dalam kisah ini meski tidak  diungkapkan secara jelas dan terperinci, penulis mencoba mengungkapkan tragedi 1965 yang menjadi latar sejarah kejamnya hidup yang dialami tokoh cerita ini.  Penanggkapan tanpa surat perintah, perintah mengakui kejahatan yang tidak dilakukan serta menjadi korban tahanan di Plantungan, telah membuat kehidupan tokoh dalam kisah ini harus memeluk luka serta rindu.

Sunyi, merupakan wanita pertama yang dibahas penulis dalam buku ini. “Andai Tuhan memberikan kesempatan kedua, aku ingin memilih agar dilahirkan dari seorang ibu yang lain. Tapi sungguh sial, Tuhan menciptakan hatiku demikian terbatasnya. Benci dan sayang dilebur menjadi satu, dan itu semua hanya untuk ibuku. Meski demi menjadi anaknya, aku harus menjadi seorang pendusta.” (hal 1).

Terlahir sebagai anak  dari kupu-kupu malam, membuat Sunyi harus mengalami berbagai pesakitan. Dikucilkan dalam pergaulan, dicemooh dan bahkan hampir mengalami pelecehan seksual.  Sunyi marah dengan keadaan. Namun apa yang bisa dia lakukan? Ketika ibunya sendiri tidak juga mau keluar dari dunia malam itu. Ibunya tetap keukuh bekerja kepada Bonet, mucikari yang telah mengambil untung banyak dari  pekerjaan ibunya. Hingga suatu hari dia mengetahui alasan di balik piliha ibunya, hingga Sunyi bertekad untuk mengeluarkan ibunya dari dunia kelam itu.

Sumira, wanita lain  serta ibu dari Sunyi yang juga mengalami kepahitan dan kesedihan hidup yang tak terkira. Di usianya yang masih belia, dia harus menerima takdir, bahwa ibunya tiba-tiba ditangkap aparat dan menjadi penghuni jeruji. Dan sejak itu Sumira harus menerima cibiran dari para tetangganya. Dicap sebagai anak orang jahat, dan bahkan kemudian dia menjadi korban jual beli manusia.  Sumira tidak pernah menyangka bahwa sosok yang dulu mengaku mencintai dan berjanji menikahinya, malah menjualnya kepada mucikari, sehingga dia terperosok pada jalan hidup yang laknat.

“Aku tak ingin menghardik Tuhan, ataupun menuntutunya, meski apa yang dituliskan untukku terlalu pahit. Karena aku sadar, Tuhan Maha Pemberi. Hidupku adalah kanvas yang terbentang, terserah mau apa yang dituliskan di sana. Aku hanya ingin menikmatinya dan berterima kasih, meski aku sangat benci dengan hidupku sendiri.” (hal 85).

Dan wanita ketiga adalah Suntini, ibu dari Sumirah, yang berarti nenek dari Sunyi. Kehidupannya pun tidak kalah menyedihkan dari keturunannya. Kebagiaan yang dia terima baru sejengkal, ketika tiba-tiba suaminya meninggal dunia. Dengan kegigihannya dia bertahan demi putri semata wayangnya. Namun di sebuah waktu yang tidak terduga, pertemuannya dengan Dyah, sahabat lamanya, pada akhirnya mengangantarkan Suntini menjadi penghuni jeruji. Dia ditangkap tanpa mengetahui kesalahannya dan di penjara di  Plantungan.

Dengan benang merah yang cuku rapi, penulis berhasil merajut kisah ini dengan menarik.  Membaca jejak masing-masing tokoh wanita dalam kisah ini, akan membuat kita belajar banyak hal dari kisah ini.  Hanya saja ada beberapa bagian yang terasa bolong dan tidak dijelaskan secara gamblang. Khususnya pada bagian Suntini. Di mana saya belum merasa sesuatu yang lebih greget dan menggetarkan. Padahal jika penulis menjabarkan lebih dalam, kisah ini akan lebih menarik dan apik.
Namun lepas dari kekurangangnya, buku ini cukup memberi banyak pembelajaran hidup. Seperti ajakan untuk selalu mengingat Tuhan, rasa syukur dan belajar memaafkan. “Membenci  akan membuat nilai derajat diri kita turun, akan lebih menjadi rendah lagi. memaafkan siapa saja yang menyakiti adalah satu cara yang ampuh untuk mengobati hati yang merasa tersakiti.” (hal 120).

Srobyong, 11 November 2018

Thursday, 6 December 2018

[Resensi] Nilai Pembelajaran dari Cerita Mitos dan Legenda

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 2 Desember 2018 



Judul               : Di Surga, Kita Dilarang Bersedih
Penulis             : Umar Affiq
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 312 halaman
ISBN               : 978-602-5783-21-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Mitos merupakan sebuah kisah tentang masa lalu yang berhubungan dengan kehidupan dewa serta kisah tentang pahlawan pada zaman dahulu. Di mana kisah tersebut memiliki hubungan erat dengan sebuah asal usul sebuah tempat dan biasanya bersifat gaib.  Legenda adalah cerita-cerita yang dipercayai penduduk di suatu tempat sebagai kisah nyata. Sedangkan mimpi adalah pengalaman dibawah sadar yang membuat kita bisa melihat, mendengarkan atau merasakan hal-hal  lain secara cepat dan singkat. 

Memadukan tiga unsur tersebut dalam sebuah cerita,  buku kumpulan cerpen ini cukup menarik untuk kita baca. Terdiri dari 28 cerita, kita akan diajak berpetualang dengan berbagai mitos, legenda serta mimpi-mimpi, yang mungkin sangat dekat dalam keseharian kita. Tidak hanya itu, melalui kisah-kisah ini kita juga bisa mengambil nilai-nilai pembelajaran yang bisa kita jadikan bahan renungan.

Sebut saja kisah berjudul “Orang-Orang Karang Maling”. Kisah ini menceritakan tentang sebuah desa, yang dihuni oleh para maling.  Dalam tradisi desa tersebut, mereka tidak mempercayai bahwa manusia tertua yang pernah ada di jawa adalah Meganthropus Palaejojavanicus.  Karena di pojok Desa Karang Maling terdapat kompleks pemakaman yang amat luas yang di tengah-tengahnya ada cungkup panjang yang mengayomi makan yang dipercaya sebagai orang Karang Maling pertama bernama Mada Maling (hal 13).

Cerita ini pun diteruskan dari satu generasi ke generasi lain. Anak-anak selalu diajarkan untuk tidak mudah percaya dengan berita-berita yang ada. Karena bisa jadi kisah itu adalah kisah bohongan. Hingga cerita ini sampai pada Kunthari Kampret yang memiliki pemikiran kritis.

Mengambil latar kisah tentang kedatangan Nabi Adam ke bumi, kisah ini cukup menggelitik.  Belum lagi pilihan ending yang ternyata sangat menjebak.  Melalui kisah ini kita diingatkan tentang pentingnya berpikir kritis dan haus akan pengetahuan baru (hal 11).

Ada pula kisah berjudul “Sungai Darah” yang menceritakan tentang kekagetan tokoh aku, ketika tiba-tiba dia melihat sebuah sungai berdarah. Di mana air dari sungai itu benar-benar anyir, asin dan amis. Di sana tokoh aku bertemu dengan seorang perempuan, yang mengungkapkan tentang alasan kenapa sungai itu bisa tercipta.

“Sungai ini akan terus mengalir selama lelaki itu dan orang-orang sepertinya terus mengorbankan orang-orang di sekitarnya demi menambah kekayaan. Lalu orang-orang  yang dikorbankan akan terlarung dari liang roh sampai ke sini, sedang raganya telah dikuburkan atau barangkali dikremasi  oleh keluarga yang ditinggalkan.” (hal 39-40).

Si tokoh aku itu pun antara percaya dan tidak percaya. Namun ketika sosok perempuan menyebut sebuah nama, tiba-tiba dia merasakan sensasi aneh yang tidak pernah dia duga.  Kali ini memadukan antara mimpi, desas-desus pesugihan dan mitos sungai merah dari mesir kuno—yang berhubungan dengan masa Nabi Musa, penulis menghadirkan kisah yang menarik. Meski bagian akhir cukup mudah ditebak, saya suka dengan pesan tersirat yang terdapat dalam kisah ini.

Melalui kisah ini kita diingatkan tentang betapa berbahaya sikap rakus dan tamak.  Karena sikap itu akan membuat  kita menjadi pribadi yang berani menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan dan tidak segan untuk mengorbankan nyawa orang lain.

Selain dua kisah tersebut, kisah lainnya pun tidak kalah seru dan memikat. Dari semua cerita yang ada, saya paling terkesan dengan cerita  Mayat Tergeletek di Tengah Jalan, Seekor Ular yang Menggigit Ekornya Sendiri dan Bocah Rebo Wekasan. Kisahnya sederhana tapi sangat menarik dan menggelitik.

Diceritakan dengan gaya bahasa yang lugas dan mudah dipahami, buku ini menarik untuk dibaca. Hanya saja ada beberapa bagian cerita yang menurut saya kurang terasa hidup dan datar. Namun lepas dari kekurangan yang ada, penulis telah berhasil menghadirkan sebuah buku yang menghibur juga memberi banyak nilai pembelajaran. Di antaranya kita diingatkan untuk tidak saling mengunjing atau berbuat ghibah, jangan diperbudah hawa nafsu dan banyak lagi.

Srobyong, 20 September 2018

Saturday, 1 December 2018

[Resensi] Berdamai dengan Rasa Takut

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 18 November 2018 


Judul               : Turtles All The Way Down
Penulis             :  John Green
Penerjemah      : Prisca Primasari
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : 344 halaman
ISBN               : 978-602-402-115-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Buku ini ditulis oleh John Green, penulis yang sebelumnya telah melahirkan buku best seller “The Fault in Our Stars” dan “Looking for Alasaka”. Sebagaimana buku sebelumnya, karya John Green ini pun telah mendapat banyak perhatian dan telah dinanti-nantikan oleh pembaca. Maka tidak salah jika kemudian buku terbarunya kembali mendulang sukses. Bahkan buku ini telah menyabet beberapa penghargaan bergengsi. John Green telah berhasil mengharu birukan para pembacanya lewat kisah yang romantis, humanis dan filosifis.  Lewat buku ini secara tidak langsung juga telah menunjukkan, bahwa John Green identik suka menulis kisah dengan latar tokoh yang berpenyakit.

Menceritakan tentang kehidupan Aza Holmes, gadis yang jika terlihat dari luar nampak biasa dan tidak memiliki masalah. Akan tetapi ketika kita mengenalnya lebih dekat, maka kita akan tahu, bahwa dia memiliki kecenderungan  suka gugup dan khawatir. Dia memiliki penyakit OCD—obsessive compulsive disorder. Mengutip dari  artikel karya Novita Josep, di web hello sehat, OCD adalah sebuah gangguan psikologi yang dapat mempengaruhi pikiran (obsesif) dan perilaku (kompulsif) manusia.  Kelainan ini akan menaganggu pikiran penderitanya dengan menghasilkan rasa gelisah, cemas, khawatir, takut dan menuntut hal yang sama berulang kali.

Aza selalu memiliki kekhawatiran berlebih, sehingga sering kali memunculkan berbagai pikiran di kelapa seperti, berbahayanya tentang gejala infeksi bakteri Clostridium difficile,  yang bisa berakibat fatal pada dirinya, mikroba manusia dan banyak lagi. Sehingga dia perlu membersihkan diri lagi dan lagi.  Meski berbeda, Aza tetaplah remaja biasa yang tetap bersekolah dan bergaul, meski harus berperang dengan pikirannya sendiri.  Aza memiliki sahabat terdekat bernama Daisy, yang telah mengenal berbagai tindakan aneh yang kerap terjadi pada Aza.

Kehidupan dua remaja itu awalnya berjalan normal, hingga suatau hari Daisy mengajak Aza untuk menyelidiki hilangnya seorang miliarder—Russell Pickett—yang berhadiah seratus ribu dolar. Untuk itulah mereka perlu mendekati putra sang miliarder untuk mengorek keterangan. Namun siapa sangka, putra miliarder tersebut, ternyata teman lama Daisy di masa kecilnya dulu, Davis  Pickett.

Dan di sinilah masalahnya, dalam upaya menyelidiki keberadaan Russell Pickett, Aza malah terjebak dalam zona cinta dengan  Davis. Keadaan yang kemudian membuat Aza kembali mengamali dilema berat terhadap pikirannya sendiri. Aza sangat menyadari bagaimana takutnya dirinya jika harus berdekatan dengan orang lain, saling bergesekan, jika di dalam pikirannya sering tumbuh ketakutan dan kekhawatiran tentang bakteri yang  tiba-tiba bisa menyerang dirinya.  Meskipun Aza melakukan pengobatan dengan sesi konseling, hal itu tidak mengurangi kekhawatiran dan ketakutan yang sering bersarang di kepalanya.

Belum lagi masalah lain yang muncul, yang membuat Aza harus berpikir ulang dalam menetukan keputusan  terbaik. Karena hal itu bisa memengaruhi kehidupan orang lain. Fakta menarik yang tidak sengaja dia temukan, ternyata bisa jadi akan menimbulkan kesengsaraan bagi Davis dan adiknya.

Membaca kisah ini, kita akan dihadapkan pada petualangan gadis remaja yang cukup menarik. kecerdasan menganalisa situasi patut untuk diacungi jempol. Dan lagi, meski Aza memiliki ketakutan tersendiri dalam hidupnya, dia tetap berusaha menjalaninya dengan baik. Novel ini menggagas tentang keuletan hidup yang dipadukan dengan kisah kekuatan persahabatan serta ketulusan cinta. Membuat kita seperti melihat langsung kisah tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Hanya saja bagi saya sendiri, novel ini belum sepenuhnya membuat saya jatuh cinta. Pada beberapa bagian, saya merasa ada  alur cerita,  yang cukup membosankan. Saya juga kurang suka dengan gaya bahasa penulis yang menurut hemat saya kurang lugas dan cukup sulit untuk dicerna. Memang benar kesuksesan sebuah buku tidak menjamin sebuah buku bisa dibaca dan disukai semua orang. Karena pada dasarnya semua kembali pada selera masing-masing pembaca.

Namun lepas dari kekurangannya novel ini banyak mengajarkan untuk berdamai dengan rasa takut. Bahwa kita harus berani menghadapi hidup. Tidak apa-apa kadang kita jatuh dan sedih, namun kita harus kuat dna terus melangkah. 

Srobyong, 11 November 2018

Thursday, 29 November 2018

[Resensi] Bahasa Sikap Iri dan Dengki

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 4 November 2018


Judul               : Senandung Bisu
Penulis             : Aguk Irawan MN
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, Februari 2018
Tebal               : viii +388 halaman
ISBN               : 978-602-0822-99-0
Peresensi         : Ratnani Latifah.  Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

“Di dunia ini, kita tidak bisa mengharap semua orang akan selalu baik pada kita.  Tetapi tidak berarti semua orang itu jahat kepada kita. Ada orang baik. Pun ada orang jahat. Ada orang yang pura-pura baik, tetapi sesungguhnya jahat. Ada pula orang yang tampak jahat walau hakikatnya baik. Engkau jangan terpengaruh omongan para tetangga yang tidak baik tentang kita.” (hal 64).

Hidup dalam masyarakat kita tidak bisa terhindari dari gunjing menggunjing. Karena hal itu sudah menjadi kebiasaan di setiap tempat. Meski kita memahami bahaya lisan atau menggujing, tetap saja kita selalu melakukannya. Kita seolah menutup mata dan menganggap bahwa hal itu biasa. 

Selain itu, kebiasaan lain yang sering terjadi dalam hidup bermasyarakat dan bertengga adalah rasa iri, cemburu, dengki dan sombong.  Sikap-sikap tersebut  selalu ada dan tidak bisa luntur begitu saja. Padalah sikap-sikap itu merupakan penyakit hati yang harus kita hilangkan dan jauhi. Allah tidak pernah menyukai orang-orang yang mengagungkan sikap sombong, iri dan dengki. Mengambil tema tentang  hidup bermasyarakat, novel ini mengungkapkan tentang potret kehidupan yang sering kita lihat di dunia nyata.

Mengisahkan tentang keluarga pasangan suami-istri—Dlori dan Zulfin dengan berbagai intrik menarik, mengharukan dan menggemaskan. Kehidupan mereka awalnya berjalan diliputi dengan rasa bahagia dan harmonis. Mereka mempercayai filsafat bahwa “banyak anak banyak rezeki”.   Akan tetapi sebuah kejadian merubah mereka sikap mereka. Hingga putra bungsu mereka—Rahim, menjadi korban keegoisan orangtuanya.

Dlori dan Zulfin memili lima anak yang rentan usianya cukup dekat. Harus, Aisyah, Umi, Musa dan Rahim.  Empat anak pertama  adalah pelita yang sangat dibanggakan Dlori dan Zulfin, mereka dirawat dengan baik dan disekolah hingga tinggi.  Namun tidak dengan Rahim. Bagi mereka Rahim adalah bencana. Sehingga, mereka tidak pernah memperlakukan Rahim dengan baik. Bahkan nama itu pun bukan pemberian mereka, tapi diberikan oleh Kyai Na’im.

Kejadian itu ternyata bermula dari sejarah panjang dari sikap orang-orang yang egois dan sombong. Dulu Dlori selalu rajin bekerja demi memenuhi kebutuhan pangan dan tabungan untuk sekolah. Akan tetapi ternyata kebahagiaan yang mereka miliki telah mengundang rasa iri, dengki dan kecemburuan di mata tetangganya.

Adalah Wurnayi, salah satu tetangga Zulfin yang diam-diam memiliki rasa iri dan dengki dengan kehidupan pasangan Dlori dan Zulfin. Dia menebar bara api dengan menggunjingkan dan menjelek-jelekknya Zulfin. Khususnya tentang  Zulfin yang mudah sekali hamil dan memiliki banyak anak. Gunjingan itu tentu sangat meresahkan Zulfin.

“Di dalam masyarakat, mau kita suka atau tidak, pasti akan selalu ada orang yang suka menggunjing, pasti akan selalu ada orang yang bersikap buruk, walau kita tak pernah menyalahinya, walau kita tak pernah membuat persoalan dengannya.” (hal 66).

Pada awalnya Dlori dan Zulfin berusaha bersabar dan tidak memedulikan gunjingan tersebut. Akan tetapi lambat laun, mereka ternyata tidak tahan juga dan mulai terprovokasi. Zulfin melabrak Wuryani hingga desa geger.

Membaca kisah ini, kita seperti berada di tengah-tengah tokoh cerita dengan melihat dan menyaksikan langsung kisah yang dipaparkan penulis. Menarik dan menggetarkan hati. Apalagi ketika membaca bagian Rahim yang selalu dilakukan tidak adil.  Diceritakan dengan bahasa yang mudah dipahami, membuat cerita ini asyik untuk dibaca.

Dan khas tulisan Aguk, buku ini kaya akan wacana ilmu. Beberapa bagian penulis menjabarkan dengan dalil-dalil yang mendukung sikap  tidak terpuji yang kerap menggerogoti hati. Hanya saja ada beberapa bagian yang menurut saya kurang memuaskan dan masih ada beberapa kesalahan.

Namun lepas dari kekurangan yang ada, novel ini cukup menarik untuk dibaca. Melalui kisah ini kita diingatkan tentang pentingnya menjaga lisan. Karena lisan itu lebih tajam daripada pedang. Sakit karena terkena pisau bisa cepat sembuh, namun luka karena ucapan, sulit disembuhkan. Selain itu kita juga diingatkan untuk tidak memilahara sikap iri, dengki dan sombong. Lalu sesama tetangga harus saling menghormati, seorang anak harus berbakti kepada orangtua dan bagaimana cara mendidik anak yang baik.

Srobyong, 26 Oktober 2018 

Wednesday, 28 November 2018

[Resensi] Tentang Tempat Tinggal, Kerja Keras dan Kebahagiaan

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 28 Oktober 2018


Judul               : Chiken Soup for the Soul : Rumahku Istanaku
Penulis             : Jack Confield, Mark Victor Hansen, Amy Newmark
Penerjemah      : Lina Jusuf
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, 2018
Tebal               : 436 halaman
ISBN               : 978-602-03-8766-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Manusia paling bahagia, raja ataupun petani, adalah yang menemukan kedamaian di dalam rumahnya.” (hal 98).

Adakah tempat yang paling menyenangkan dan nyaman selain rumah? Rasanya tidak ada. Karena “rumahku adalah surgaku” itulah tagline yang sering kita dengar. Sejelek apa pun rumah kita, atau bagaimana bentuknya, kita akan selalu merindukan suasananya.  Ketika kita pergi sejenak rasanya kita sudah merindukan suasana di rumah. Karena di sanalah segala memori suka duka terbangun di sana. Dan di sanalah, ketanangan bisa kita dapatkan.  Rumah adalah tempat pulang, rumah adalah tempat mencari ketenangan dan rumah adalah muara kasih sayang yang tidak pernah habis.

Mengusung tema keluarga—khususnya tentang masalah rumah—buku ini cukup menarik untuk kita baca dan nikmati. Melalui cerita yang dipaparkan oleh para kontributor, kita akan dikenalkan dengan berbagai kejadian yang menarik, menginspirasi dan memotivasi. Kita jadi semakin paham tentang betapa berharganya rumah dan hal-hal yang termaktub di dalamnya.  Membaca  kisah-kisah inspiratif yang berhubungan dengan  tempat tinggal, kerja keras dan kebahagiaan, pastinya akan membuka cakrawala kita.  Banyak pelajaran hidup yang bisa kita petik dan kita renungkan untuk memperbaiki diri.

Misalnya saja kisah berjudul “Memulai Kembali” menceritakan tentang  Paula Bicknell yang harus pindah ke tempat baru yang menurutnya asing. Padahal sebelumnya dia sudah sangat nyaman dengan rumah mereka dulu. Meski di sana dia  harus sabar karena pekerjaan suaminya, yang merupakan seorang pilot militer, di mana hal itu menuntut suaminya jarang di rumah. Dia hanya tinggal dengan ketiga anaknya. Namun pada posisi ini, dia tidak bisa menolak kepindahan itu, karena melihat betapa bahagianya anak-anaknya ketika akhirnya akan memiliki ayah yang tidak lagi bepergian. Kepindahan mereka memang berhubungan dengan keputusan suaminya yang mencoba memperbaiki hubungan di antara mereka yang mulai renggang.

Meski tidak terlalu bersemangat, Paula tetap membersihkan rumah baru itu dengan  rapi.  Bahkan walau kadang dia merasa lelah dengan pernikahannya Paula mencoba tetap bertahan demi anak-anaknya. Hinga suatu hari, dia menyadari bahwa rumah itu jauh lebih baik dari rumah lama mereka. Karena rumah itu telah menghadirkan kembali kenangan-kenangan manis bahkan berhasil menyatukan dua hati yang hubungannya sempat retak. Rumah itu memberinya kedamaian dan memberinya kekuatan.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa betapa pentingnya komunikasi antara pasangan. Kita disadarkan betapa pentingnya keluarga dan indahnya saling memaafkan. “Bagi kami, keluarga artinya saling merangkul dan mendampingi.” (hal  68).

Ada pula kisah berjudul “Yang Dibawa Serta”. Kisah ini dituturkan oleh Logan Eliasen.  Logan tidak pernah menyangka akan meninggalkan rumah yang semasa kecilnya sudah menjadi surga baginya. Namun apa mau dikata, keluarganya telah mengambil keputusan. Mereka harus segera pindah ke rumah yang lebih besar agar bisa  mereka tinggali bersama.  Mereka pun mulai mencari-cari rumah baru   dan rumah lama mereka juga sudah mendapatkan calon pembeli. Kala itu perasaan Logan benar-benar kacau. Dia masih merasa enggan dan tidak rela.

“Mam tahu berat meninggalkan hal-hal indah, Logan. Mom juga merasa berat. Tapi Tuhan akan memberikan berkat yang baru. Ketika suatu pintu tertutup, Dia selalu membukakan pintu yang baru.” Nasihat ibunya, sedikit banyak akhirnya membuat Logan berusaha ikhlas (hal 91). 

Kisah ini menyadarkan betapa lekatnya sebuah kenangan dari rumah yang pernah kita tinggali. Bahwa tidak mudah bagi siapa saja untuk melepas kenangan dan memri idan yang meneduhkan. Namun dari kisah kita kita diajarkan untuk ikhlas dalam menghadapi sebuah pilihan. Kadang memang kita sangat menyukai sesuatu, namun tidak selamanya kita bisa memilikinya.

Terdiri dari 10 bab yang kesemuanya jalin menjalin tentang tempat tinggal, masih banyak kisah lain dari dua kisah yang terpapar di atas. Menarik, lucu, mengharukan dan banyak emosi lain yang bisa kita rasakan di sini. Saya suka dengan pilihan cover buku yang bersih dan cantik. Kekurangan yang ada dalam buku ini tidak mengurangi esensi cerita. Apik dan menghibur.

Srobyong, 20 Oktober 2018