Showing posts with label horor komedi. Show all posts
Showing posts with label horor komedi. Show all posts

Saturday, 10 January 2015

[Horkom] Baru Sadar

Judul : Baru Sadar

Oleh :  Kazuhana El Ratna Mida

Kunci alias Kunti cilik sedang asyik menikmati makan malam yang baru saja disajikan. Dia makan dengan lahap sambil nonton konser penghargaan Mama Award yang lagi ditayangkan di Indosiar.

Matanya tak berkedip melihat artis-artsi Korea super kece yang membuat mulutnya mengaga. Cih, mereka kok pada cakep-cakep ya? Apalagi oppa Kyuhyun. Wah maulah dia jadi ceweknya.

Dia harus les kecantikan sama Yoona dulu kali ya? Kunci tertawa ngakak.

“Kun? Kamu ikut nggak?” suara panggilan dari Kuntilanak—sang ibu(Nyak-nya) mengangetkan.

“Ah, ogah Nyak. Kun mau nonton ajang Mama Award aja.”

Kunci cuek banget. Dia melanjutkan tontonannya.

“Lho katanya mau ikut? Kemarin sampe ngerek-rengek guling-guling dan salto.”

“Nggak jadi, Nyak!” teriak Kunci masih asyik menatap artis-artis idolanya. Pokoknya mumpung besok libur jadi bisa nonton sepuasnya.

“Yo weslah. Karepmu Kunci. Hati-hati di rumah.”

“Siap, Nyak!” Kunci kembali berteriak.

Sedang Nyak Poci—Pocong kecil dan Pocong sudah bersiap naik di mobil xenia dan segera berangkat. Mumpung libur sekolah mereka mau ke puncak menikmati suasana pegunungan. Biar fresh tak banyak pikiran. Melepaskan beban sebentar dari rutinitas menakuti orang-orang.

Kunci menguap. Saatnya untuk tidur. Ya, acara sudah selesai juga, dan dia puas mantengin coowok-cowok kece. Sebelum tidur dia ke dapur mau mencuci piring yang habis digunakan untuk makan. Maklum kalau tidak dicuci bisa kena semprot nyaknya.

Tapi dia bingung rumahnya kok sepi amat. Orang-orang pada ke mana?

“Nyak! Be! Poci!” teriak Kunci.

“Tadi katanya pergi sebentar kok lama amat,” Kunci menggerutu.

Dia memeriksa kamar nyak, dan babenya. Siapa tahu sudah tertidur pulas. Tapi hasilnya nihil. Ditengoknya kamar untuk menampung dia dan Poci. Sama Poci tak ada. Kya, pada ke mana orang-orang? Kunci bertanya dalam hati.

Eh, tiba-tiba Kuci memukul keningnya.

“Ya, Gue lupa. Pan malam ini rencana liburan ke puncak. Kok gue ditinggal?”

Kunci langsung telepon nyaknya.

“La, kan salahmu Kun. Tadi dan Nyak ajak, kamu bilang mau nonton Tv aja.”

Kunci menelan ludah. Ah iya, tadi saking seriusnya nonton Mama Award dia lupa. Dan hanya mengiyakan ucapannya nyaknya.

Kunci memasang wajah melas, ngenes amat.

Ah, sekarang dia di rumah sendirian tak bisa menikmati liburan. Kya? Kenapa baru sadar sekarang?

Hiks, Kunci menangis gulung-gulung di kamar.


Srobyong, 10/1/15

[Horkom] Galau Tingkat Dewa

Galau Tingkat Dewa

Kazuhana El Ratna Mida

            Aku merapalkan jaket yang sedari tadi melekat. Dingin sungguh menusuk tulang. Desember sudah menjelang buat hujan semakin menghujam. Datang, basahi bumi yang dulu kering kerontang. Apalagi di malam seperti ini, malam jumat yang terkesan horor dan mencekap. Aku jadi was-was.

            Aku berjalan melewati jembatan yang mengantarkanku sampai keperistirahatan.  Aku harus bisa segera sampai di rumah dan bisa terlelap.

            Tapi baru beberapa langkah berjalan, aku dikejutkan dengan kedatangan penghuni jembatan yang tiba-tiba menghadangku. Dia terlihat lesu dan tak bersemangat. Tapi, tetap saja aku bergidik ngeri. Kami, kan bukan dari dunia yang sama.

            “Nya, curhat dong,” ucapnya langsung.

            Aku tatap sosok tinggi dengan gaun putih di depanku. Tidak salah?

            “Duh, gue mau istirahat, Kun. Capek,” tolakku. Aku mempercepat langkah.

            “Ayolah, gue lagi galau tingkat dewa,” dia masih membujuk.

            “Kalau elo dengerin curhat gue, janji deh, kalau lewat sini nggak bakal gue ganggu, kayak malam-malam kemarin.”

            Aku mengalah. Kudengarkan cerita dia yang menggebu. Meski setengah takut juga. Mendengarkan curhatan Kunti si penunggu jembatan. Hadeh. Dia ini sungguh tidak sopan. Malam sudah semakin larut tapi, tetap saja ngotot ingin curhat. Aku kan butuh istirahat. Besok harus kerja juga. Ini, malam juga makin mencekam. Tak solidaritas banget, pake acara barter keamanan pula.

            Mentang-mentang dia hebat. Tepi, perjanjian yang dia ajukan cukup menarik. Daripada aku diteror terus tiap pulang sendirian.

            “Jahat, kan si Poc, itu. gue diselingkuhin, kemarin gue ngak sengaja lihat,” si Kun bercerita dengan tangis yang berderai-derai. Aku samapi merinding dibuatnya.

            Tak tahu ya, suaranya bisa merusak  gendang telinga.

            “Sabar, ya. Kun. La terus rencana, loe apa?” tanyaku penasaran.

            “Gue mau ngelabrak si Poc. Elo ikut ya.”

            “Apa? Gue ikut? Malam-malam gini?”

            “Gue takut kalau ngelabrak sendirian,” ucapnya nyegir kuda.
“hihihihii.”

            Suara itu lho bikin orang merinding gila. Dan pasti banyak orang ketakutan karena ulahnya. Yai yalah itu suara kuntilanak dengan suara khasnya.

            “Dah, deh jangan ketawa, biki gue merinding aja,” marahku padanya.

            Kuantar dia sampi di tempat si Poc—Pocong maksudku. Pacar Kunti yang selingkuh dengan Sundel.

            Mereka bertengkar hebat, sampai mau saling adu jotos. Aku hanya memerhatikan dari jauh. Nggak mau, ah. Ikut-ikutan, la tidak ada hubungannya denganku juga. Rasanya aku sudah sangat mengantuk.

            Aku duduk menunggu di bawah pohon, memerhatikan dua pasangan hantu saling bertengkar hebat.

            “Jadi, gitu, ya. Elo selingkuh di belakang gue sama Sundel, hah!” marah Kunti.

            “Ngaco, loe, Kun. Gue masih sayang elo, kok,” si Pocong ngeles.

            “Alah, gue lihat, kalian kemarin kencan,” tuding si Kun.

            Akhirnya si pocong ngaku. Dan itu cukup membuat si Kun sakit hati.

            “Elo, tuh jahat banget sih, tega, tega, hiks,” si Kun mulai menangis.

            “Sorry, Kun. Bukan maksud gue nyakitin elo. Tapi …,” ucap si Poc ngambang.

            Aku mendengarkan dua setan ini saling meminta maaf jadi geli.

            Namun, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan datangnya si sundel. Si Pocong tergagap. Melihat Sundel yang datang mendadak.

            “Kebetulan, kalian ada di sini, gue mau ngenalin gebetan baru gue,” ucap si Sundel  santai.

            Sosok berperawakan tinggi, namun hitam pekat muncul. Dia mengaku pacar si Sundel sekarang.

            Ya, dia si Genderuwo. Mereka tersenyum bahagia. Beda dengan si Pocong yang terlihat nelangsa.

            “Elo, tega, Sun. padahal kemarin elo bilang suka sama gue, kita, kan baru jadian,” giliran si Pococng sedih banget.  Sakitnya tuh di sini. si Pocong memegang dadanya.

            “Sorry, ya, Poc.” Si Sundel melenggang bebas bareng si Genderuwo.

            “hihihihi” rasain. Si Kunti tertwa senang.

            Biar dia tahu, rasanya sakit hati.

            “Kata penyanyi  Cita Citata ‘sakitanya tuh di sini’,” Si kunti menunjuk dadanya.

            Aku tertawa geli. Hantu ini kece badai. Gaul amat. Aku aja nggak tahu lagu itu.

            “Kalau gitu, kita baikan, aja Kun. Gue janji kali ini bakal setia, nggak bakal deh melirik punya tetangga,” janji si Pocong.

            “Seperti lagu, siapa, ya?” si Pocong nampak berpikir.

            “Maksud loe, Republik ‘selimut tetangga’?” si Kun membetulkan.

            Si Pocong tertawa terbahak. Tapi kemudian mereka benar- benar baikan. Mereka melenggang dengan pasangan masing-masing.
            Dan aku sendirian di sini.

            “Duh, sakitnya tuh di sini, mereka para hantu aja berpasangan. La, gue, merana sendirian. Nasib, nasib,”

            “Eh, makasih ya, Nya. Yuk gue antar pulang,” ucapnya si Kunti dengan santai, tanpa rasa dosa.

            Tahu nggak sih, sekarang aku yang jadi galau tingkat dewa. Pengen punya pacar segera tak mau kalah sama hantu jembatan dekat rumah.


---The End---

Srobyong, 3 Desember 2014.

coretan lama , dari pada numpuk di lepi aja :)

Saturday, 27 December 2014

[Horkom] Model Baru Ala Kunti




Judul : Model Baru Ala Kunti
Oleh : Kazuhana El Ratna Mida/ Ratna Hana Matsura

Kunti sudah membeli semua perlengkapan mandi. Ada sampo, lulur dan sikat gigi. Tak lupa dia juga membeli bedak, handbody dan minyak wangi. Pokoknya sudah lengkap.

Hari ini itu, istimewa. Dia mau tampil cantik dan memesona. Dia tak ingin mengecewakan semua orang.

Karena itu, sejak pagi ini dia sudah berendam dengan air kembang tujuh rupa. Di mana kata orang-orang bisa membuat para wanita terlihat cantil luar binasa—biasanya maksudnya (hhehh).

“Kun! Sampaikapan Loe mandi, gantian napa? Gue juga mau mandi keles.” Gombel teriak-teriak.

“Yaelah sabar napa, Mbel. Bentar lagi gue kelar kok.” Sahut Kunti dari dalam.

Padahal dia baru saja berendam meluluri tubuhnya dengan shinzui biar kulitanya mulus makin dicintai.

Sejam lebih Gombel menunggu hinga kantuk menghinggapi, tapi Kunti tak juga ke luar.

Pintu diketuk dengan keras, membuat Kunti akhirnya memilih menyudahi mandi.

“Nggak sabar banget sih, Loe.” Omel Kunti.

“Ya, habis Loe dah mandi tiga jam Kunti? Gila Loe. Bisa mengelupas kulit itu.”

“Siapa bilang. Ntar mah gue jadi cantik, super seksi.” Kunti meninggalkan Gombel yang sudah masuk kamar mandi.

Sekarang Kunti bersemedi, dia mengoleskan Handbody ke seluruh tubuh. Biar halus gitu, tak bersisik. Lalu mulai memoles wajahnya dengan bedak pixy. Tambah cantikkan dia. Pasti calonnya makin suka. Hihihi.

Ya, hari ini kan malam pernikahannya dengan Mr. Drakula. Jadi dia mau tampil cantik tak mengecewakan. Lipstick merah kini telah menghiasi bibirnya.
Rambut panjangnya yang biasa kumel sudah disisir rapi. Pokoknya tampilan Kunti malam ini kece banget.

Merasa sudah siap dia segera membuka almari, mencari gaun putih kesayangannya yang sudah dilaundry. Kunti meneliti dengan seksama, dan yakin bahwa sudah menggantungnya di sana. Tapi gaun itu kok tidak ada. Bagaimana ini?

Kunti jadi cemas setengah mati. Bagaimana gaun itu bisa hilang di saat sepenting ini?

“Mbel. Loe tahu gaun putih gue, nggak?!” tanya Kunti dengan berteriak.

“Mana gue tahu. Loe sendiri, bukan yang menyimpan kemarin.”

“Tapi, di lemari nggak ada Mbel. Ini gimana? Tamunya dah pada datang ya?”

Gombel menganguk, dia juga memberitahu keluarga Mr. Dracula juga sudah datang dan menunggu dia keluar.

Kunti menghela napas. Masak iya dia mau keluar dengan cuma pinjungan kayak gini? Dia mengobrak-abrik lemarinya. Gaun putih sudah tak lagi ada. Haduh! Masak iya dia ganti kostum merah, itu kan bukan gayanya selama ini.

Kunti itu hantu berbaju putih yang super seksi.

“Sudah sana pakai, dari pada Loe nggak pake baju tuh.”

Kunti mengalah dan akhirnya memakain gaun merah, yang sudah lama ditanggalkannya, gaun itu dipakai ketika masih menjadi manusia.

Siapa sangka semua tamu dan relasi malah memuji gaunya yang sekarang. Dan berharap dia tak perlu lagi pakai gaun putih. Model terbaru Kunti di tahun 2015 nanti. Hihihi.

Di lain tempat, Gombel sebal setengah mati. Niat awal mau mempermalukan Kunti, malah dia makin populer disayangi, sedang dia hanya gigit jari.

Srobyong, 27 Desember 2014.

Sunday, 21 December 2014

[Horkom] Hantu Gaul


Judul : Hantu Gaul
Oleh :Kazuhuhana El Ratna Mida  

 Siapa yang tak senang punya gebetan baru. Apalagi berasal dari negeri seberang yang oke punya. Dia tinggi dan mempesona.

    Mereka bertemu secara tak sengaja saat hantu luar itu tengah liburan di Indonesia.

    “Cie cie yang dapat gebetan baru.” Olok Pocong pada si Kunti.

    “Kenapa, elo sirik ya?” cibir Kunti sambil memilin rambutnya.

    Ya, maklumlah malam ini dia ada recana kencan dengan gebetannya. Hem siapa tahu habis ini langsung ditembak dan jadian.

    Dan benar saja, beberapa menit kemudian Dracula datang dengan mobil sedan. Gayanya elegan dengan tuxedo super keren. Si Kunti dipersilahkan masuk mobil dengan digelarkan karpet merah sebagai penyambutan.

    Wow, gaya hantu itu benar-benar meniru artis papan atas.

    Mereka lalu dinner di restoran mewah dengan hidangan special yang asyik gila. Dan sesuai perkiraan si Kunti Dracula benar-benar menembaknya malam itu juga. Jadi, mereka benar-benar resmi pacaran. Kerennya.

    Mereka juga sempat menikmati musik dan berdansa sebelum pulang. Pokonya full romatis. Si Kunti sampai klepek-klepek dengan perlakuan Dracula.

    Kemudian, dia juga diajak shoping untuk membeli baju-baju bermerek, agar si Kunti makin keren. Ikut perawatan di salon hingga dia makin kinclong. Terus sebagai hadiah terakhir si Kunti dibelikan android untuk komunikasi.

    “Makasih ya, Sayang. kamu pinter dan  baik banget sih. Ich jadi makin suka.” Ucap si Kunti kemayu. Dia mengandengan Drakula dengan mesrah.

    “Apa sih yang enggka buat kamu.” Ucap Drakula dengan gentlenya.

    ****

    Kini sudah seminggu sejak Drakula pamit ke negaranya. Si Kunti jadi kesepian dan hanya bisa berkomunikasi dengan android hadih dari Drakula. Ya, bagaimana lagi jarak pemisah yang begitu jauh membuat mereka harus melanjutkan hubungan mereka dengan LDR.


    “Kun, yok tugas jaga, malam jumat,” ajak Pocong.

    “Padahal gue rindu berat sama dia, Cong.”

    “Yowes, di bbm lagi lah, atau di WA, kali aja bales,” saran Pocong.

     Si Kunti menganguk setuju. Dengan semangatnya dia menghubungi sang pacar. Namun tanpa sebab yang jelas dia malah menangis keras. 

 “Haduh, ada apa lagi si Kun?” 

   “Ini lihat status Fbnya, ternyata dia sudah menikah, hiks, gue ditipu, katanya masih perjaka,” Kunti menangis keras.  

 “Yowes putus ae, trus jadian sama gue biar tak usah LDR bikin makan hati.” Pocong menawarkan diri.  

 “Ogah, gue dah dapat gantinya kok, teman chatting dari Fb lebi keren dari Dracula namanya Vampire, hihihihih,” si Kunti tertawa penuh kegirangan.  

 Pocong hanya bengong. Okelah gue juga bisa cari gebetan di dunia maya. Apalagi tablet gue juga baru beli tadi siang. Ucap Pocong dalam hati dan kemudian berlalu pergi, meninggalkan si Kunti jaga malam sendiri.

Srobyong, 20 Desember 2014.

[Horkom] Dangdutan di Desa



Judul Dangdutan di Desa


Oleh :Kazuhana El Ratna Mida

Malam semakin larut, namun musik hingar bingar yang saat ini terdengar di desa Mlayu, masih terus dimainkan. Ya. maklumlah malam ini ada acara pernikahan si Mila dan Wawan. Mereka sengaja menyelenggarakan tontonan dangdut yang banyak disukai warga. Sekaligus merayakan akan rencana pembuatan pertokoan di desa.

Lagu 'sakitnya di sini' masih mendominasai di sana. Para penonton asyik menikmati pertunjukkan gratis tak setiap hari.

“Wah, ini sudah saatnya kita beraksi, Kun,” ucap Genderuwo pada Kunti yang masih asyik bertenger di atas pohon beringin.

“”Iya, kita harus menganggu manusia yang telah berani merusak rumah kita,” ucap Kunti berapi-api.

Dia menatap rumah tua yang harusnya akan dia tempati bersama teman-temannya. Tapi, Wawan dengan santainya merobohkan rumah itu, katanya akan dibuat pertokoan.

“Ayo, Kun! Cepat turun!” teriak pocong yang juga sudah datang.

Para hantu memang sengaja berkumpul untuk membalas dendam pada ulah manusia yang tak bertanggung jawab.

“Engko sek,[1] ya, Wo. Engko sek, Cong. Aku lagi dandan nih,” Kunti tertawa dengan suara khasnya.

“Hihihihi,”

“Ngapain, pake dandan segala, kelamaan atuh, Kun,” protes Pocong.

“Ye, gue ini, kan hantu gaul. Gue harus selalu modis dan terlihat cantik. Biar terlihat berwibawa gitu,” Kunti menjelaskan sambil menyisir rambutnya.
“Lho, katanya mau ke kampung buat balas dendam? Kok masih pada di sini?” si Lampir muncul mendadak.

“Tuh, lagi nunggu di Kunti dandan,” jelas Genderuwo.

Lampir manggut-manggut, dia juga sudah nampak cantik dengan stylenya. Pocong sampai terpesona.

“Oke, ayo berangkat! Kita tegakkan hak hantu yang kita punya. Ini, kan sudah lama jadi milik kita, kok tiba-tiba dirobohkan seenak jiadatnya,” ucap Kunti.

“Sip, ayo berangkat!” ucap semua dengan semangat.

Betapa mereka kaget ketika, rumah Wawan malah begitu ramai. Kunti berdesak-desakan ingin melihat Wawan yang katanya ada di depan. Dia mau mencekik orang itu dengan tanggannya sendiri.

Pocong, Genderuwo, dan Lampir juga ikut ke sana.

“Lho, ini, kan lagu kesukaan, gue,” ucap Kunti yang mendengar lagu Ayu Ting-Ting yang sedang dinyayikan para biduan, dia lupa dengan rencana yang telah disepakati bersama. Dengan semangat dia bukannya mencekik Wawan, malah beralih ke panggung penyanyi dan ikut menyanyi.

Sik asik sik asik kenal dirimu
Sik asik sik asik dekat denganmu
Terasa dihati berbunga-bunga setiap bertemu

Kunti menyanyi dengan lancar, matanya menatap genit ke arah Genderuwo yang diam-diam dia sukai.

Lalu dengan gaya centilnya dia mengajak Genderuwo ikut berjoget juga.

Lampir dan Pocong melongo. Bagaimana dengan rencana mereka untuk mengancam dan mencekik Wawan?
Walah, gegara ulah Kunti yang emang fans berat Ayu Ting ting, malah membuat rencana mereka terbengkalai.
Tak bisa balas dendam, rumah mereka pun akhirnya dirobohkan juga.

Kunti, kini menangis sambil gulung-gulung di depan rumah. Ah, menyebalkan. Kunti uring-uringan.


Srobyong, 13 Desember 2014.
Ket : Engko sek,[1]= Tunggu dulu

Tuesday, 2 December 2014

[Horkom] Kunti Bodoh


HOROR KOMEDI

Judul : Kunti Bodoh
Oleh : Kazuhana El Ratna Mida/ Ratna Hana Matsura

Gegara Bayu, Dona penasaran dengan rumah tua yang terletak di sebelah rumah. Katanya di sana banyak hantu berkeliaran. Mumpung katanya malam ini para hantu berkumpul merayakan ulang tahun Ratu Kunti, Dona mau diajak Bayu untuk ke sana.

Mereka janjian di depan rumah tua. Mereka juga sudah menyiapkaan diri meniru gaya para hantu agar di kira temannya.

“Sudah siap semuanya?” tanya Dona pada Bayu.

Bayu mengangguk mereka langsung melesat masuk dan mulai investigasi hantu.

Ternyata rumah itu benar-benar seram banyak hantu yang berkumpul di sana. Pesta ulang tahun Ratu Kunti, sangat meriah. Dia mengundang banyak hantu untuk hadir merayakan ulang tahunnya. Baik hantu lama atau hantu baru.

Dona dan Bayu ikut berdesakan mengikuti irama musik yang diputar di sana. Mereka ternyata gaul juga. Party ulang tahun kuntil anak menggunakan lagu barat Jennife Lopez yang berjudul 'On the Floor'.

Musik menghentak keras. Para hantu macam Pocong, Genderuwo, Tuyul dan lain-lainnya bergoyang mengikuti irama. Pun dengan Ratu Kunti dan Wewegombel mereka menari dengan luesnya.

Dona mendekati Ratu Kunti, mecoba mengobrol dengan Ratu hantu itu.

“Hai, gue Dona, dan itu teman gue Bayu.”

“Kalian sepertinya hantu baru. Aku tidak pernah melihat kalian,” ucap Ratu Kuntil menatap Dona.

“Iya, kami hantu baru, baru juga meninggal kemarin,” jelas Dona bohong.

“Tapi, baumu tidak seperti hantu.”

Ratu Kuntil mengendus layaknya anjing lacak.

“Yaelah, elo ngak percaya gue? Masak iya, manusia bisa masuk ke sini? emang pada berani?” Dona adu argumentasi.

“Manusia itu penakut, lihat kita aja pada lari-lari,” Dona mengompori.

“Benar juga, lo,” Ratu Kunti manggut-mangut. Mereka langsung akrab.

Tapi, sepertinya banyak yang tak percaya dengan Dona dan Bayu. Mereka kini sudah dikelilingi banyak hantu yang ingin melenyapkan mereka.

Dari Bayu, Dona tahu komunitas ini paling tidak suka jika ada manusia yang ikut campur dalam alamnya. Bisa-bisa mereka akan membunuhnya. Serem juga.

“Kenapa ngak bilang dari kemarin? Sekarang gimana?” bisik Dona.

Untung Ratu kunti segera membantu mereka. Dia percaya dengan bualan Dona tadi.

“Kun, mereka ini bukan hantu macam kita. Gue pernah ketemu mereka di rumah sebelah,” ucap Genderuwo.

“Ngak mungkin, Wo. Dia bilang dah mati kemarin. Elo salah lihat kali,” kunti ngak percaya dan terus ngeyel.

“Dibilangin juga. Dia manusia. Kalau dia bisa menipu kita, maka rusak sudah reputasi kita sebagai hantu,” Genderuwo tak kalah ngeyel.

“Sudah, Wo. Percayalah. Gue tahu dia bukan seperti itu. dia ini teman kita,” Kunti masih ngeyel dan membela Dona.

Mereka terus berdebat masalah tentang Dona yang sebenarnya hantu atau tidak.

Kesempatan itu tidak mereka sia-siakan segere mereka kabur ketika gederuwo dan Ratu Kunti sedang eyel-eyelan.

“Dasar Kunti bodoh,” ucapnya cukup keras.

Semua menatap padannya. Tapi terlambat, dia sudah keluar dari rumah tua yang bukan kekuasaan mereka. Dona meleletkan lidah, membuat Ratu Kunti marah.

“Hahha, bodoh.”

--The End---

#Entah lucuc atau tidak, belajar buat komedi#

Titi mangsa : Srobyong, 29 November 2014

Thursday, 27 November 2014

[Horkom] Sakitnya Tuh Di sini






Judul :Sakitnya Tuh Di sini

Oleh :Kazuhana El Ratna Mida/ Ratna Hana Matsura.

Aku duduk di ruang keluarga, dengan menikmati tayangan Televisi, yang hanya ditemani deru angin yang menerpa diri. Ya, malam ini aku terjebak sendirian di sini. Salahku juga sih, menolak ikut ayah dan ibu ke Bandung.

Mau bagaimana lagi, tadi ada kegiatan di sekolah yang menuntutku pulang lebih sore dari biasa. Aku tidak bisa meninggalkan amanah yang aku miliki. Sudahlah, sekali-sekali di rumah sendiri juga tidak apa-apa. Aku malah bebas sesuka hati.

Tapi baru aku ingat malam ini bertepatan dengan jumat kliwon, yang identik dengan keluarnya para demit yang sering berkeliaran di sekitar rumah ini. Maklumlah rumahku kan dekat pemakaman. Jadi rumahku kadang dijadikan persinggahan.

Masih di depan TV, sambil menikmati kopi kutatap layar melihat aksi Lee Min Hoo yang tengah memerankan perannya dengan apik . Aku jadi semakin terbius akan pesonanya. Aku tertawa terbahak melihat kelakuan konyolnya dalam menjaga Kim Nana.

“Lucu sekali,” ucapku sambil memegang perut.

“Iya, aku jadi tidak bisa menahan tawa,” ucap seseorang di sampingku dia tertawa khas legenda yang dimiliki.

Deg!

Jantungku berirama tak menentu. Aku kan di rumah sendirian lalu siapa yang berada di sampingku sekarang? Kutatap secara perlahan saat  memalingkan muka.

“Hi-hi-hi-hi,” dia tertawa menatapku.

“Maaf ya, aku masuh tidak permisi. Siapa suruh kau tidak mengunci rumahmu sendiri,” dia kembali tersenyum ngeri.

“Hi-hi-hi-hi,”

“Sudah-sudah kau jangan ketawa Mbak Kunti, bikin merinding saja,” aku memukul pundaknya. Seenaknya saja dia masuk ke rumah. Dia nyengir kuda.

Kami pun melanjutkan acara nonton drama Korea. Namun suara loncat-loncat mengusik keasyikan kami—ternyata Kang Pocong datang dengan marah-marah.

“Jadi, karena ini kamu mutusin aku Kunti? Jahat kamu. Tega!” runtuk Kang Pocong. Dia menatap acara yang kami lihat ini.

Segera Kang Pocong membanting TV yang sejatinya baru dibeli.

“Kurang ajar, kau membuat aku patah hati,” marahnya.

Plak! Pukulan manis medarat di wajah Kang Pocong yang terlihat separuh.

“Bodoh siapa juga yang mau mutusin kamu, aku itu cuma menemani Naila yang sendirian di rumah, kasihan,’kan? Nonton bareng gitu,” Mbak Kunti menjelaskan. Kini dia menggelayuti Kang Pocong dengan manja.

“Jadi, aku salah ya?” Kang Pocong-garuk-garuk kepalanya yang sudah terbungkus kain kafan.

"Iya, atuh, Kang," mbak Kunti terseyum genit.

“Yuk sekarang kita kencan saja, TVnya sudah hancur tak ada tontonan,” ajak Mbak Kunti.

Aku menatap melongo. Dua hantu bertengkar hebat, gegara salah paham, lalu berbaikan bermesraan manja di depanku. Menyebalkan sekali, aku aja yang manusia, tak punya pasangan, dan TV yang kujadikan teman pun dihancurkan. Sakitnya tuh di dini. Nunjuk hati.


---The End---
Srobyong, 22 November 2014.