Showing posts with label Republika Penerbit. Show all posts
Showing posts with label Republika Penerbit. Show all posts

Monday, 4 October 2021

Review Buku - Mengenal Dua Ratu dari Dinasti Abbasiyah

 




Judul               : Two Queens of Baghdad

Penulis             : Nabia Abbott

Penerjemah      : Juslich Hanafi

Penerbit           : Buku Republika

Cetakan           : Pertama, Juli 2021

Tebal               : vii + 301 halaman

ISBN               : 978-623-791-084

Peresensi         : Ratnanmi Latifah




Selama ini mungkin kita hanya mengenal nama-nama besar dari khalifah pada Dinasti Abbasiyah. Misalnya Khalifah Al-Saffah, Al-Mansur, Al-Mahdi,  Al-Hadi, Harun ar-Rasyid, Al-Amin atau Al-Makmun. Nama-nama mereka telah terukir dengan sangat gamblang dalam sejarah Islam. Kisah dan keteneran mereka banyak menarik pada sejarawan, penulis biografi atau pihal lain yang memang menggemari literatur.  Namun seringakali kita lupa, bahwa di balik kesuksesan seorang pria, selalu ada wanita yang memiliki peran penting dalam pencapaian tersebut.

Hal itu juga berlaku bagi tokoh-tokoh besar di masa kepemimpinan Dinasti Abbasiyah.  Sayangnya kisah yang berhubungan dengan peran wanita tersebut, tidak banyak dibahasa dalam literatur sejarah Islam. Dan hemat saya, ketika mempelajari pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, selain para Khalifah yang dibahas secara luar, tokoh dan peran wanita tidak disebutkan secara spesifik.

Maka beruntung sekali jika kita membaca buku karya Nabia Abbott, yang akan membahas tentang sejarah dua  ratu yang memiliki peran penting  selama Dinasti Abbasiyah tengah berjaya. Karena tanpa adanya campur tangan mereka, bisa jadi para Khalifah yang selama ini kita kenal mungkin tidak ada dalam catatan sejarah.  Dua ratu yang dimaksud penulis adalah Ratu Khaizuran dan Ratu Zubaidah. Dengan cukup detail penulis mecoba mengungkapkan  tentang fakta-fakta menarik yang belum banyak kita ketahui.

Sebagaimana kita ketahui, di masa lampau perbudakan masih marak terjadi negeri Arab. Tak terkecuali pada masa Dinasti Abbasiyah. Namun siapa yang menyangka dari rahim seorang budak itulah terlahir tokoh-tokoh fenomenal yang akhirnya memberikan banyak kontribusi pada perkembangan Islam.  Ratu Khaizuran merupakan gadis budak dari seorang Arab dari Bani Thagafi. Memiliki pesona yang memikat, gadis itu akhirnya dapat meluluhkan  hati Khalifah Mansur yang kemudian membuatnya menjadi menantunya. Di mana pernikahannya dengan Al-Mahdi maka lahirlah dua calon khalifah besar yaitu Al-Hadi juga Harun Ar-Rasyid. Namun pencapaian itu tidaklah diperoleh Khaizuran dengan mudah. Ia harus bersusah payah dan tentu harus memiliki kecerdasan dalam dunia politik, juga memiliki tekad kuat untuk mewujudkan impiannya. Termasuk upaya besarnya menjadikan Harun ar-Rasyid sebagai seorang Khalifah.


“Matahari yang menakutkan telah melarikan diri, Dan menyembunyikan wajahnya yang bercahaya di malam hari; Dunia yang suram tidak ceria. Tapi Harun datang dan semua baik-baik saja. Kembali matahari memancarkan sinarnya; Alam dihiasi jubah kecantikan: Karena goyangan tongkat harun yang perkasa, Dan tangan Yahya menopang dunia.” (hal 129)


Berbeda dengan Khaizuran yang merupakan budak, Zubaidah isri Harun ar-Rasyid merupakan wanita terhormat dari keluarga Dinasti Ustmaniyah dari Juras. Hanya saja ketika menjadi ratu bagi sang Khalifah, Zubaidah tak kunjung memiliki keturunan. Karena sebelum ia memiliki anak, lahirlah Abdullah—yang kemudian dikenal sebagai Al-Makmun—yang lahir dari seorang budak.


Sebagai seorang pasangan sah dari Khalifah, Ratu Zubaidah adalah sosok yang luar biasa. Karena jika tidak, sudah pasti ia tidak akan bertahan dengan posisi tersebut. Karena seorang Ratu harus memiliki hati seluas samudera juga harus selalu bijak dalam bertindak. Dan itulah yang ia lakukan. Sampai kemudian ia memiliki putra bernama Al-Amin yang akan membuatnya harus berpikir berkali-kali antara membantu putranya sendiri atau putra tiri yang sejak awal ia asuh, karena sang ibu telah mangkat.

Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik. Jika biasanya saat membaca buku-buku sejarah kita merasa malas dan mengantuk, tetapi tidak untuk buku ini. Semakin kita menyelami isinya, maka kita akan dibuat semakin penasaran untuk membalik lembar berikutnya.  Tak hanya tentang dua ratu tersebut, melalui buku ini pula kita dapat menemukan syair-syair apik juga nasihat-nasihat bijak yang patut untuk direnungkan.

Misalnya quote tentang anjuran untuk tidak menunda pekerjaan dan selalu sigap, 


“Jangan menunda pekerjaan hari ini, hingga esok; hadirilah urusan negara secara langsung; dan jangan tidur (di posisi yang dijabat) karena ayahmu belum tidur sejak dia memasuki masa kekhalifahan, karena ketika dia tidur menutup mata, jiwanya tetap terjaga.” (hal 5)


Ada pula quote tentang  bagaimana cara mencintai dan menghormati wanita; 


“Wanita itu seperti tulang rusuk (dari mana dia diciptakan). Jika kau meluruskannya, kau justru menghancurkannya; jika kau menyukainya, kau harus menerima sifatnya yang ‘bengkon’.” (hal 50-51)


Kemudian, quote cara yang benar dalam menuntut ilmu.


“Sudah sepatunya pengetahuan harus dicari dengan rendah hati.” (hal 65)


Dan perlunya bersikap keras jika selama menuntut ilmu ia suka bermalas-malasa dan tidak bisa dinasihati, 


“Jangan terlalu lunak dalam memaafkannya sehingga membuat dia mengganggap kemalasan itu manis dan karena itu berusaha melakukannya. (hal 204).


Tidak ketinggalan sebuah puisi menarik yang pernah disyairkan oleh Khalifah Harun ar-Rasyid,


“Biarkan dia sendiri menguasai negara, Yang pikirannya kokoh, yang hatinya murni; Hindari orang bodoh yang bimbang, Yang pikiran dan ucapannya tidak pernah pasti.” (hal 206-207)


Dan melalui buku ini pula kita akan mengetahui sepak terjang dua ratu yang sangat menginspirasi. Karena meskipun mereka harus terjun dalam dunia politik—mereka adalah tokoh yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi pada sesama, dan tidak segan untuk membantu untuk kemaslahatan umat, juga menjadi pelopor dalam beberapa bidang. Ada catatan  Ratu Khaizuran membangun berbagai fasilitas yang berkaitan dengan air—seperti air mancur, kolam renang, sumur, kanal dan saluran air. Di mana perjuangannya tersebut kemudian diteruskan oleh Ratu Zubaidah. Selamat membaca.

Srobyong, 4 Oktober 2021


Wednesday, 2 October 2019

[Resensi] Keberanian dan Kegigihan Anak Kampung Melindungi Tanah Kelahiran


Doc. pribadi 

Judul               : Si Anak Badai
Penulis             : Tere Liye
Co-author        : Sarippudin
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, Agustus 2019
Tebal               :  322 halaman
ISBN               : 978-602-5734-93-9

Sumber : Republika
Si Anak Badai merupakan seri terbaru dari “Serial Anak Nusantara”. Di mana sebelumnya penulis kawakan asal Sumatra Selatan ini, telah lebih dulu menerbitkan Si Anak Cahaya—yang mengisahkan tentang Petualangan Nurmas—ibu dari Amelia, Pukat, Eliana dan Burlian. Kemudian ada pula Si Anak Spesial (Republish dari Burlian), Si Anak Kuat (Republish dari Amelia), Si Anak Pintar (Republish Pukat) dan Si Anak Pemberani (Republish dari Eliana).

Akan tetapi, meskipun kita belum membaca seri sebelumnya,  kita tetap bisa menikmati novel “Si Anak Badai” secara mandiri.  Karena pada seri terbaru ini, Tere Liye menghadirkan kisah dengan tokoh baru yang tidak memiliki benang merah sebagaimana kisah sebelumnya. Namun jangan khawatir meskipun berbeda, kisah Si Anak Badai ini, tidak kalah menarik dari kisah-kisah sebelumnya. Bahkan bisa jadi, setelah membaca novel ini kita malah akan ketagihan dan penasaran dengan seri-seri yang sudah lebih dahulu terbit.  Sebagaimana saya sendiri,  setelah khatam novel ini,  saya langsung mengkhatamkan Si Anak Cahaya dan bersiap untuk membaca dua seri lainnya.

Kali ini Tere Liye, mengajak pembaca bertualang bersama empat sahabat; Zaenal—atau kerap dipanggil Za,  Ode, Malim dan Awang dalam suasana kehidupan di Kampung Muara Manowa. Sebuah daerah yang berada di muara sungai yang menjadi perlintasan kapal-kapal berhaluan menuju desa atau kota-kota berikutnya. Dengan berbagai problematika khas anak-anak yang juga diselingi masalah keluarga, politik dan sosial budaya yang ada, kisah menjadi sangat seru dan menarik.

Kehidupan empat sekawan ini tentu saja awalnya sangat menyenangkan. Setiap hari Minggu sore atau ketika setiap tanggal merah tiba, sambil bermain-main mereka akan menunggu kapal-kapal—baik dari laut ke hulu atau dari hulu yang berlayar menuju lautan.  Di sana mereka memiliki kebiasaan unik—ketika kapal tiba, mereka akan berlomba-lomba menyelam untuk memperebutkan uang logam yang dilempar oleh para penumpang. Siapa cepat dia dapat. Kebiasaan unik lainnya adalah kebiasaan anak-anak yang selalu mengiringi kedatangan para tamu ke Muara Manowa, serta kebiasaan warga yang suka saling membalas pantun. Pagi hari mereka bersekolah meski dengan segala keterbatasan yang ada dan malam harinya, selepas salat Magrib mereka akan akan mengaji di rumah Guru Rudi, yang rumahnya tidak jauh dari  jembatan menuju masjid.

Namun kebahagiaan itu berubah menjadi mimpi buruk, ketika tiba-tiba Pak Alex datang mengunjungi Muara Manowa. Pria yang menurut Za mirip bajak laut itu dengan dalih menawarkan kemajuan di tempat tinggal mereka, tetapi pada kenyatannya Pak Alex datang untuk mengancurkan tanah kelahiran mereka—kampung Muara Manowa.

“Sudah saatnya tempat ini dibuat maju, mengejar ketertinggalan dari daerah lain. Sudah saatnya  bapak-bapak menjadi lebih kaya, lebih sejahtera. Karena itu kami ingin membangun pelabuhan di Kampung Manowa.” (hal 84-85).

Visi dan misi yang ia lontarkan hanyalah basa-basi. Karena ketika pelabuhan dibangun, maka sudah pasti warga akan kehilangan tempat tinggal juga kehilangan mata pencaharian.  Karena itulah Sakai bin Manaf atau yang dikenal dengan sebutan Pak Kapten, langsung menolak rencana yang dipaparkan Pak Alex.

“Kami tidak mau dipindah-pindah. Lebih bagus kalau pelabuhan yang dipindah. Terserah di mana asal tidak di tempat kami.” (hal 86).

Akan tetapi siapa yang bisa mengalahkan uang dan kekuasaan? Pak Alex dengan kekuasaannya, dengan keji memfitnah Pak Kapten terlibat dalam meledaknya kapal Maju Sejatera. Selain itu, Pak Kapten juga dianggap sebagai penghasut warga—karena Pak Kapten-lah orang pertama yang menolak rencana itu dan kemudian memengaruhi pikiran warga dengan memutar film di layar tancap. Karena alasan itulah akhirnya Pak Kapten ditangkap.

Kejadian itu tentu saja membuat semua warga sangat sedih, termasuk Za, Ode, Manaf dan Awang. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Pak Kapten. Satu-satunya harapan mereka adalah  bantuan dari Adnan Buyung, seorang pengacara di ibu kota,  yang kebetulan merupakan Kakak Wak Sidik—salah satu warga.  Dan kesedihan itu semakin menumpuk ketika Pak Alex dan orang-orang dari ibu kota itu benar-benar datang membawa berbagai alat berat untuk mulai pembuatan pelabuhan.

Diceritakan dengan gaya bahasa yang lugas, renyah dan tidak bertele-tele, novel ini sangat menarik untuk dibaca. Kita akan dihibur melihat keseharian Za, Ode, Malim dan Awang, yang lugu, pemberani, setia kawan dan memiliki tekad kuat. Banyak kejadian seru yang menghibur, membangun dan bahkan memotivasi dari berbagai petualangan yang dialami empat sekawan tersebut.

Misalnya ketika Za dan dua adiknya, Fatah dan Thiyah mendapat tugas dari ibunya untuk mengukur beberapa warga Muara Manowa yang ingin dijahitkan baju.  Atau ketika Malim merasa tidak lagi memiliki motivasi untuk melanjutkan sekolah. Za dengan sikap teguh, berusaha semaksimal mungkin untuk membujuk sahabatnya agar tidak putus sekolah. Padahal berkali-kali Malim menolak dan bahkan bersikap kasar, tetapi Za tetap seteguh karang. “Mau jadi apa pun, sekolah tetap penting. Jadi pedagang juga butuh sekolah.” (hal 189).

Ada pula kejadian mendebarkan, ketika mereka harus menghadapi badai besar, saat empat sekawan itu ikut memancing cangkalan bersama Paman Deham. Di mana kejadian itu merupakan cikal bakal lahirnya nama “Si Anak Badai”. Tidak hanya itu, ada pula kejadian mendebarkan yang berhubungan tentang bagaimana usaha keras empat sekawan dalam upaya menggagalkan pembangunan pelabuhan. Berbagai kejadian dan petualangan yang dialami Za, Ode, Malim dan Awang sedikit banyak selalu memberi pencerahan dan akan menggugah pembaca. Mereka adalah anak-anak pemberani yang siap berjuang demi mempertahankan hak yang mereka miliki.

Dari segi tema, Tere Liye sudah sudah menunjukkan keunikan cerita, yang memang jarang dieksekusi oleh penulis Indonesia lainnya. Di sini ia kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam memunculkan ide-ide segar yang tidak pasaran. Sebagaimana novel “Pulang” dan “Pergi” yang mengangkat tema shadow Economy,  atau seri “Serial Bumi” yang mengangkat  tema fantasi yang dipadukan dengan science fiction—di mana kita sadari tema semacam itu cukup jarang dieksekusi.  Inilah daya tarik tersendiri yang membuat buku-buku Tere Liye selalu digemari dari semua kalangan usia. Karena dia selalu menyajikan kisah-kisah yang segar dan memikat.

Begitu pula dengan setting lokasi cerita yang ia pilih. Ketika banyak penulis mengambil kota besar sebagai setting cerita, maka tidak dengan Tere Liye.  Di sini ia berani mengambil langkah maju dengan mengambil setting di daerah terpencil, yang  jarang diangkat oleh penulis lain—ia memilih Kampung Muara Manowa, sebuah desa yang terletak di sekitar muara sungai  yang kemudian dipadukan dengan kisah petualangan yang mendebarkan.  Dan yang menarik kualitas bagaimana mengambarkan setting lokasi benar-benar hidup dan tidak terasa tempelen. Karena ketika membaca novel ini saya langsung membayangkan bagaimana tata letak rumah warga juga bagaimana kegiatan pasar apung atau kegiatan sehari-hari yang membuat anak-anak terbiasana menggunakan perahu untuk melakukan aktivitasnya.

Bayangan saya soal setting lokasi cerita. Sumber:  google 

Pasar apung. Sumber : google 

Tidak kalah menarik adalah bagaimana penulis menyisipkan kritik politik dan atau  sosial budaya dalam kisah ini. Baik secara tersirat atau tersurat, Tere Liye mencoba menyuarakan bagaimana kegelisahan orang-orang yang tinggal di daerah pedalaman, yang harus rela meninggalkan tanah kelahiran demi proyek pembangunan pelabuhan—yang sebenarnya sangat merugikan warga.  Bagaimana tidak,  karena adanya  proyek tersebut, mereka harus rela meninggalkan kampung halaman, kehilangan pekerjaan, kehilangan tempat menuntut ilmu dan banyak lagi.

“Sekarang orang-orang pintar itu akan membuat pelabuhan di sini. Mereka tidak tahu apa dampaknya bagi kita. Lebih celakanya lagi, mereka tidak peduli apa akibatnya bagi kita. Yang penting pelabuhan itu jadi, yang penting mereka mendapat uang banyak dari pembangunan pelabuhan.” (hal 98).

Dan yang lebih miris, pembangunan pelabuhan itu hanya sebuah akal-akalan para pembesar untuk merengkuh keuntungan lebih besar  dengan praktik korupsi.

“Sepanjang kau bisa diandalkan, proyek pelabuhan selesai, dana cair, kau akan liburan ke luar negeri. Kariermu juga akan menanjak cepat.” (hal 308).

Sedangkan untuk penokohan cerita, satu kata untuk penulis buku ini “keren” tokoh-tokoh dalam novel ini, benar-benar hidup—baik melaui gambaran fisik,  sikap juga percakapan-percakapan  dalam cerita. Kemudian soal alur dan plot cerita secara keseluruhan sudah sangat rapi dan menarik.  Sejak awal penulis berhasil menyihir  pembaca untuk menyelesaikan kisah ini hingga akhir.  Hanya saja ada beberapa konflik cerita dalam novel ini,  yang jujur ada beberapa bagian yang terasa datar dan kurang menegangkan. Hal ini sangat berbalik dari novel Si Anak Cahaya, yang sejak awal kisah sudah menunjukkan berlapis-lapis masalah yang membuat saya penasaran. 

Kemudian soal porsi Pak Kapten dalam novel ini. Sebagai salah satu tokoh yang memiliki peran cukup penting,  porsi kisah hidup Pak Kapten kurang dijelaskan lebih detail dan gamblang.  Padahal jika ada penelusuran lebih lanjut sudah pasti kisah ini akan terasa lebih seru dan semakin menarik. Saya penasaran kenapa nama asli Pak Kapten baru diketahui di bagian-bagian akhir. Kemudian tidak ada penjelasan kenapa hampir semua warga segan dan anak-anak selalu takut pada sosok tersebut, serta kenapa ia dipanggil Pak Kapten.   Sebenarnya apa kedudukun Pak Kapten ini di Kampung Muara Manowa?  

Namun secara keseluruhan, saya benar-benar kagum dengan bank ide Tere Liye, yang bisa menghadirkan kisah-kisah menarik dan  selalu memberi inspirasi dan renungan.  Dan untuk masalah kesalahan menulis, novel ini cukup bersih,  saya hanya menemukan satu kata, yang sebenarnya itu sama sekali tidak mengganggu.

Kali ini  mereka tidak sibuk mengolokku, melalinkan ikut ...,” ==  Kali ini  mereka tidak sibuk mengolokki, melainkan ikut ...,” (hal 229).

Lepas dari kekurangannya,   novel ini tetap menarik untuk dibaca. Banyak nilai-nilai pembelajaran yang diikutsertakan penulis dalam kisahnya. Dan seperti biasanya Tere Liye hadir dengan ilmu-ilmu baru yang akan menambah wawasan kita.  Di sini penulis menunjukkan tentang manfaat kayu ulin yang kokoh dan awet. Karena itu dermaga di sana juga jembatan masjid, dibangun dengan memanfaatkan kayu ulin.

Gambar 1 Pohon Ulin || Gambar 2 :  Kayu Ulin || Gambar 3 : Dermaga yang dibuat dari kayu ulin. || Sumber : Google 

“Tidak usah khawatir. Dermaga ini terbuat dari  kayu ulin yang kokoh. Jangankan ambruk, bergeser sedikit pun tidak.” (hal 259).

Kemudian ada disinggung sedikit perilah masalah struktur tanah di Kampung Muara Manowa—yang berhubungan dengan cocok tidaknya struktur tanah itu digunakan untuk membangun proyek pelabuhan.

Sumber : Frisco



Dan meskipun kali ini tere liye kembali mengagandeng co-author, sebagaimana dalam novel “Pergi” hal itu tidak mengurangi rasa khas tulisan Tere Liye dan keseruan cerita yang ada.  Membaca novel ini kita akan menemukan banyak sekali pembelajaran-pembejalaran positif.  Ada pelajaran agar kita belajar dari kesalahan yang pernah lalu. “Setiap orang melakukan kesalahan. Yang membedakan antara orang yang melakukan kesalahan itu adalah ada yang belajar  dari kesalahannya, ada yang juga tidak mengambil pelajaran apa-apa.” (hal 72).

Di sini kita juga bisa melihat sikap setia kawan yang ditunjukkan oleh Za, Ode, Awang dan Malim. 

“Seorang teman tidak akan meninggalkan temannya sendiri.” (hal 191).

Kemudian kita pun diajarkan untuk menjadi pribadi yang sabar ketika ada masalah atau ujian. 

“Manusia mendapat ujian bukan karena dia  telah berbuat kesalahan, Rahma. Ujian itu kadang untuk lebih menguatkan.” (hal 221).

Dan tidak kalah menarik saya juga suka selipan-selipan nilai-nilai religi yang kerap dilakukan penulis kondang ini. 

“Ilmu milik Allah itu sangat luas. Bayangkan kalian mencelupkan telunjuk di laut, kalian angkat telunjuk itu, maka air yang menempel di telunjuk kalian itulah ilmu lautan yang tak terhingga banyaknya, itulah ilmu Allah. Ada yang kita tahu, ada juga yang tidak tahu.” (hal 58).

Selain itu masih banyak nilai-nilai pembelajaran yang bisa kita petik. Misalnya  tentang kebiasaan gotong royong, pentingnya bersikap hormat serta berbakti kepada orangtua, pentingnya belajar tanggung jawab,  pentingnya bersekolah, taat dan rajin beribadah kepada Allah, bersikap jujur, sabar dan tidak melakukan tindak korupsi.

Srobyong, 2 Oktober 2019


Alhamdulilallah resensi ini menjadi salah satu dari 10 resensi pilihan Republika
(Tere Liye, Si Anak Badai)



Friday, 18 January 2019

[Resensi] Transplantasi Jantung dan Kisah Tentang Kemanusiaan

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 16 Desember 2018 


Judul               : The Boy Who Gave His Heart Away
Penulis             : Cole  Moreton
Penerjemah      : Indriani Gratika
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : x + 307 halaman
ISBN               : 978-602-947-414-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Diambil dari kisah nyata, novel ini benar-benar syarat akan makna.  Kasih sayang orangtua, kesabaran, keikhlasan dan kemanusiaan, merupakan beberapa bagian yang bisa kita petik melalui kisah ini. Selain itu novel ini merupakan  pemenang “New York Festival Wordl’s Best Radion Award” kategori Penulisan, Medis dan Isu sosial. 

Orang tua mana yang tidak sedih, ketika mendapati kenyataan bahwa putranya tengah berada diambang kematian? Inilah kisah Marc dan Martin serta Linda dan Sue. Mereka tidak tinggal berada pada muara yang sama. Tempat tinggal mereka terpisah jarak beberapa ratus mil. Dari Scotlandia hingga Inggris. Namun ternyata takdir telah mendekatkan mereka dengan salah satu organ tubuh mereka.

Marc awalnya adalah pemuda berusia 15 tahun yang sangat sehat dan bugar. Dia sangat mecintai sepak bola, serta salah satu pemain bintang dalam tim sepakbola di setempat. Namun suatu hari mendadak dia ditemukan dalam keadaan tidak sehat dan divonis mengalami gagal hati. Tidak hanya itu organ-organ tubuh yang lain juga mengalami gangguan. Oleh karena itu, Marc harus dirujuk ke Royal Infirmary of Edinburgh (hal 8). Kenyataan itu tentu saja membuat Linda limbung.

Dijelaskan bahwa, Jantung Marc tidak sehat dan bengkak, serta hanya bisa bersenyut lemah hingga darahnya tidak bersirkulasi secara normal. Organ-organ tubuhnya kekurangan oksigen yang dibutuhkan sehingga mengalami kondisi gagal organ—hatinya mengering, kedua paru-parunya kondisi banyak darah. Marc benar-benar kritis (hal 17-18).  Dan salah satu cara agar bisa menyelematkan Marc adalah dengan transaplantasi jantung. Hanya saja kadang sangat sulit menemukan donor yang cocok.

Di sisi lain, tiga ratus mil ke selatan, Martin yang juga sama-sama penikmat sepak bola,  terlihat bugar dan  menikmati masa rejamanya dengan wajar. Akan tetapi pada suatu malam dia ditemukan tidak sadarkan diri, dan membuat ibunya, Sue kalang kabur.  Di mana disinyalir Martin mengalami pendarahan di otaknya, hingga  harus dibawa ke Nottingham, untuk menemui dokter spesialis (hal 35).

Di mana setelah pemeriksaan lebih lanjut, dokter yang menangani Martin—Harish Vyas menjelaskan, “Hasil  dari semua tes yang digabungkan bersamaan menunjukkan bawa batang otaknya telah berhenti berfungsi secara efektif. Dengan kata lain, Martin sudah mati otak.” (hal 73).  Dalam hukum Amerika jika semua fungsi otak sudah berhenti, maka seseorang dianggap sudah meninggal. Begitu juga di Inggris.  Lalu keluar korban memiliki dua pilihan, mendonorkan organ tubuh  untuk menolong orang lain atau tidak.

Hal itu juga yang berlaku bagi Sue. Di saat dia harus mengalami kesedihan karena harus menerima kematian anaknya yang sangat mendadak, dia harus berpikir jernih demi kemanusian—dalam artian peduli dengan  pasien lain yang mungkin membutuhkan donor tubuh dari anaknya.  Dan ternyata Marc adalah satu dari sekian orang yang menunggu donor dari Martin.

Kisah ini sangat menggetarkan hati. Penulis berhasil menghidupkan  kisah ini hingga seperti melihat secara nyata bagaimana kehidupan yang dialami Marc dan Linda, serta Martin dan Sue.  Pilihan sudut pandang yang diambil penulis juga menjadi nilai tambah tersendiri dalam kisah ini.  Sudut pandang orang ketiga bergantian masing-masing tokoh  di sini, membuat kita mengenal masing-masing tokoh lebih dekat.

Dalam novel ini saya dapat merasakan kesedihan, kebingungan, keputusasaan seorang ibu. di sisi lain saya juga dapat merasakan kesabaran dan keikhlasan yang harus mereka terima ketika melihat keadaan putra masing-masing.  Ini benar-benar kisah yang penuh haru. Belum lagi ketika takdir ternyata membuka peluang untuk saling bertemu dan berkenalan. Ini adalah momen yang sangat jarang terjadi  antara pendonor dan penerima donor.

Sedikit kesalahan tulis dalam novel ini tidak mengurangi keseruan cerita. Membaca kisah ini saya belajar tentang pentingnya usaha dan doa dalam setiap situasi. Selain itu kita diajak menjadi pribadi yang selalu ikhlas, sabar dan syukur.  Tidak ketinggalan adalah sikap saling tolong menolong dan peduli pada sesama.

Srobyong, 7 September 2018

Monday, 24 December 2018

[Review Buku] Belajar Arti Keikhlasan dan Kesabaran dari Novel

Judul               : Rumah Tanpa Jendela
Penulis             : Asma Nadia
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal               : vi + 215 halaman
ISBN               : 978-602-0822-8-53


“Allah pasti mengabulkan setiap doa. Tapi kadang ada doa-doa lebih penting yang harus didahulukan.” (hal 40).

Setiap orang berhak memiliki harapan. Karena dengan adanya harapan kita akan memiliki semangat untuk berjuang. Novel ini menceritakan tentang mimpi seorang gadis kecil, bernama Rara. Dia tinggal di kompleks kumuh, di pinggiran Jakarta bersama keluargnya.  Meski hidup sederhana, Rara merasa bahagia. Dia merasa tidak kekurangan apa pun. Bapak, ibu dan neneknya pun sangat menyayangi Rara. Mereka jarang memarahi Rara seperti  bapak-ibu teman-temannya.

Rara memiliki hobi menggambar seperti anak-anak lainnya. Di mana dia sering menggambar  bangunan segi empat dari tripleks tipis berwarna cokelat. Rumah dengan satu pintu, tanpa jendela (hal 16).  Hingga suatu hari, dia bersama teman-temannya—Rafi, Akbar dan Yati, tanpa sengaja melawati serbuah rumah besar yang indah. Di sana Rara melihat jajaran pot-pot cantik yang ditaruh di depan jendela-jendela.

Maka sejak itu, dia  sangat ingin memiliki jendela yang nantinya bisa dia pasang di rumah tripleknya.  Di mana dengan memiliki jendela, dia bisa melihat bentang alam ciptaan Allah  yang indah.  Sejak bermimpi memiliki jendela, kebiasan Rara jadi berubah. Ketika bersama bapak-ibu dia akan selalu bercerita tentang keuntungan memiliki jendela, begitu pula ketika  berkumpul dengan teman-temannya. Bahkan kebiasaan menggambarnya juga berubah.  Dia tidak lagi menggambar bangunan reyot segi empat berwana cokelat dengan satu pintu, melainkan dilengkapi dua jendela besar dengan pot bunga yang cantik.

Dan untuk meraih harapannya itu, Rara rela mengumpulkan sedikit demi sedikit uang hasil mengamen, mengojek payung, mengelap mobil atau dari Bude-nya. Namun ketika harapannya sudah tinggal sedikit lagi bisa dia dapat, Rara tidak tega melihat teman-temannya yang ingin menikmati makanan di restoran pandang. Hingga akhirnya dia memilih mentraktir teman-temannya, dan nanti akan mulai menabung lagi.

Meski begitu, Rara tidak pernah menyerah dalam usahanya meraih harapannya. Dengan terperinci Rara mencatat kira-kira berapa biaya yang dia butuhkan untuk membeli jendela. Kegigihan Rara ternyata ditangkap oleh bapak-nya, membuat pria tersebut bisa membantu mewujudkan harapan putri tunggalnya.

Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, ketika bapaknya hampir berhasil mewujudkan impian Rara, sebuah kecelakan tidak terduga terjadi.  Kebakaran terjadi di kompleks perumahan kumuh tersebut.  Karena berusaha menyelamatkan Simbok—nenek Rara, bapak tidak terselamatkan dan simbok terluka. Rara sangat sedih dan  terpukul. Dia merasa bersalah pada bapaknya, karena demi dirinya bapaknya bekerja keras untuk membuatkannya jendela. Namun begitu, gadis kecil itu tetap tegar dan sabar. Dia mencoba mengikhlaskan segalanya.

 “Manusia lemah, tapi Allah Maha Kuat, Kita tak mampu, tetapi ada yang mustahil bagi Allah. Selain ikhtiar, manusia hanya tinggal meminta.” (hal 185).

Diceritakan dengan alur maju menudur, novel ini  cukup membuat kita penasaran dengan akhir ceritanya. Asma Nadia punya ciri khas gaya bahasa dan  gaya bercerita yang bisa membuat pembaca penasaran.  Meski pada beberapa bagian kisah ini masih terasa datar dan biasa. Namun lepas dari kekurangannya, novel ini sangat menginspirasi. Novel ini  penuh  dengann nilai-nilai spiritual dan nilai agama yang patut kita renungkan.

Novel  bertema keluarga dan persahabatan ini, menghadirkan keluguan anak dalam bermimpi. Selain itu,  kita diajarkan arti penting tentang kesabaran, keikhlasan dan rasa syukur. Bahwa meski berkali-kali diberi cobaan, kita harus sabar dan kuat. Kita tidak boleh mengeluh. Kita harus mensyukuri apa yang diberikan Allah.  Kita harus yakin bahwa Allah akan memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan seorang hamba.  

Srobyong, 21 April 2018

Saturday, 22 December 2018

[Resensi] Perjuangan Ahmad Dahlan dalam Pembaharuan

Dimuat di Duta Masyarakat, Sabtu 8 Desember 2018


Judul               : Jejak Sang Pencerah
Penulis             : Didik L Hariri
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, 1 Juni 2018
Tebal               : iv + 187 halaman
ISBN               : 978-602-573-429-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Selain dikenal sebagai tokoh pendiri ormas Islam di Indonesia,  Ahmad Dahlan juga dikenal sebagai pahlawan nasional.  Dia lahir pada tanggal 1 Agustus 1868 dengan nama aslinyanya Muhammad Darwis. Namun dalam perkembangannya, dia lebih dikenal dengan nama Ahmad Dahlan. Selama masa perjuangan dan pembaharuan, banyak sumbangsih yang telah diberikan Ahmad Dahlan untuk kemajuan bangsa Indonesia.  Dengan sikap teguh, luwes dan tidak mudah menyerah, dia  berjuang demi kemaslahatan umat.

Ahmad Dahlan mencoba meluruskan pehamanan yang kurang benar, yang banyak dianut oleh masyarakat Kauman. Misalnya tentang kebiasaan melakukan sesajen di kuburan atau di pohon-pohon besar dan laku umat yang masih meniru unsur kebiasaan lama adat Jawa. Karena takutnya, kebiasaan itu bisa menyerat masyarakat kembali kepada kesyirikan. Semestinya umat Islam harus selalu berpegang teguh pada Al-Quran dan hadis.

“Inti sari Al-Quran adalah dorongan kepada umat manusia agar mempergunakan akalnya untuk memenuhi tuntutan hidupnya di dunia dan akhirat. Iman harus didasari ilmu yang benar, karena  kebodohan terhadap selubung keimanan sangat membahayakan. Dan ditegaskan kembali bahwa iman yang taklid tidak saha menurut beberapa ulama muhaqiqin.” (hal 37).

Selain itu, Ahmad Dahlan juga mencoba memperkenalkan ilmu falak sebagai cara untuk mentapkan hari dimulainya puasa atau hari raya dan juga tentang penetapan tata letak kiblat yang semestinya. Karena dari beberapa mushala, langgar atau Masjid yang berada di Kauman, Dahlan melihat penetapan kiblat belum tepat. Akan tetapi pemikiran Ahmad Dahlan ini banyak ditentang oleh banyak tokoh-tokoh ulama di Kauman dan keraton, apalagi dari Kanjeng Penghulu Muhammad Khalil Kamaludiningrat.

Ahmad Dahlan dianggap sudah sesat dan keluar dari Islam. Bahkan Kanjeng Penghulu menghancurkan masjid yang dibangun Ahmad Dahlan, agar tidak menyalahi adat yang sudah berlaku di Kauman sejak lama. Keadaan itu sempat membuat Ahmad Dahlan marah dan meninggalkan tempat kelahirannya dan berjuang di dearah lain. Namun setelah dibujuk istri dan sudara-saudaranya, Ahmad Dahlan mencoba untuk lebih sabar dan berdakwah.

Bersamaan dengan itu, Ahmad Dahlan mulai tertarik untuk ikut bergabung dengan organisasi “Boedi Oetomo” yang berpikiran moderen, yang sekaligus membuka matanya  dalam melihat kondisi memprihatinkan masyarakat Jawa di tangan kolinial (hal 127).

Setelah bergabung dengan Boedi Oetomo, kemudian Ahmad Dahlan mendirikan perserikatan Muhammadiyah  yang bergerak dalam ranah agama dan pendidikan. Dia  menyuarakan tentang pentingnya kembali pada Islam yang kaffah dan  mendapat pendidikan. Hal itu pula yang kemudian membuat Ahmad Dahlan membuat sebuah sekolah.

Namun tentu saja perjuangan Ahmad Dahlan tidak berhenti di sana. Dalam jalan perjuangannya, masih banyak aral melintang yang kerap menyapanya. Dia dicibir dan dihujat. Akan tetapi hal itu tidak membuat Ahmad Dahlan menyerah. Dia tetap berjuang dengan  jiwa yang kuat, hingga ajal menyemputnya.

Melalui kisah ini kita bisa melihat tentang keteladan sosok Ahmad Dahlan yang sangat menginspirasi. Perjuangannya dalam perbaharuan Islam dan mencerdaskan bangsa patut kita lanjutkan. Buku ini sangat menarik dan banyak menambah wawasan sejarah bagi pembaca. Hanya saja buku ini kurang lues dalam menceritakan kisah “Sang Pencerah”. Namun lepas dari kekurangnnya buku ini sangat rekomended untuk dikenalkan pada khalayal ramai.  Perjalanan kisah hidup Ahmad Dahlan, mengajarkan kepada kita tentang usaha keras dan tidak mudah menyerah dalam berjuang, baik untuk memperbaiki tatatan Islam serta mencerdaskan bangsa.

 “Problem hidup baginya adalah pembelajaran diri.  Semakin tahun, popularitasnya semakin diuji, begitu pula dengan kesabaran dan sikap tawakal terhadap hal-hal yang dia rencanakan, ia harap semua menjadi amal sosial yang diridhai Allah swt.” (hal 99).

Srobyong, 4 November 2018