Showing posts with label Jateng Pos. Show all posts
Showing posts with label Jateng Pos. Show all posts

Saturday, 22 June 2019

[Resensi] Meredakan Islamofobia di Dunia Barat

Dimuat di Jateng Pos, Minggu  13 Januari 2019 

Judul               : Islamofobia
Penulis             : Karen Armstrong, dkk
Penerjemah      : Pilar Muhammad P
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 352 halaman
ISBN               : 978-602-441-055-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Sejak serangan-serangan  terorisme yang mengerikan, seperti kejadian di Amerika (11 September 2001) serta serangan di Paris (13 November 2015) oleh para ekstremis yang mengatasnamakan Islam, sejak itu timbul-lah prasangka, permusuhan,  ketakutan  dan kebencian terhadap sebagian besar umat Islam.  Gejala inilah yang kemudian lazim disebut dengan Islamofobia.

Dan karena sikap para oknum yang mengatasnamakan Islam dalam perbuatan kejinya, kini Islam dianggap sebagai agama yang monolitik (tunggal-kaku tanpa variasi) dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan realitas-realitas baru. Islam dianggap tidak memiliki nilai-nilai yang sama dengan yang diajarkan agama-agama besar lainnya. Islam adalah agama inferior dalam pandangan Barat, yaitu agama yang kuno, biadab dan tidak rasional. Islam merupakan agama kekerasan dan mendukung terorisme. Dan Islam adalah ideoligi politik yang buas (hal 13).

Dari sebagian kecil umat Islam yang bertindak telah bertindak jahat, kini semua muslim disamaratakan sebagai sosok terorisme dan esktrimisme. Padahal jika boleh jujur, dari sekian banyak korban terorisme  adalah umat Islam itu sendiri.  Kenyataan itu tentu saja cukup membingungkan.  Buku ini hadir dalam upaya untuk menemukan alasan dari mana akar kemunculan Islamofobia di Dunia Barat. Namun lebih dari itu, buku ini juga mengajak kita untuk mencoba meredakan islamofobia agar mengembalikan sikap welas asih antar agama dan antar sesama.

Dibuka dengan artikel karya Karen Amstong, di sini kita akan mendapati fakta bahwa sebenarnya islamofobia sudah muncul  cukup lama di dunia Barat. Pada 2013, Uni Eropa menyatakan bahwa Wahabisme adalah sumber utama terorisme global. Namun, mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa semptinya visi Wahabi merupakan lahan subur bagi berkembangnya ekstremisme. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, para kepala suku beraliran Wahabi memang benar-benar melakukan serentetan ekspedisi militer penuh kekerasan terhadap kaum Syi’ah (hal 19-20).

John L. Espposito, dalam artikelnya memaparkan bahwa dari berbagai penelitian yang ada  islamfobia meningkat secara siginifikan tidak hanya dengan terjadinya insiden terorisme domestik, tetapi juga pada saat pemilu, seperti yang terlihat pada pemilu presiden tahun 2008 dan 2012 dan pemilu kongres tahun 2010. Selama kampanye, Newt Gingrich, Rick Santorum, Herman Cain dan lainnnya berusaha untuk mendapatkan perhatian dengan membuat pernyataan sembrono tentang orang Islam (hal 87).

Sedangkan sejak awal Islam merupakan agama yang mencintai kedamaian. Hal ini bisa kita lihat dari padangan Nabi Muhammad selama mengajarkan Islam. Nabi Muhammad  mengajarkan umatnya untuk selalu mengasihi manusia agar Allah pun mengasihi mereka. Islam melarang membunuh tawanan, membunuh masyarakar sipil. Islam harus menegakkan hukum dan ketertiban, memerdekan budak, melarang pemerkosaan, mewujudkan perdamaian, melarang membakar hidup-hidup makhluk hidup, dan melarang menyebut orang Muslim sebagai orang kafir.
Dan semua sikap itu berbanding terbalik dengan ajaran para terorisme yang tidak memiliki belas kasih terhadap sesama manusia, tega membunuh masyarakat sipil dan melegalkan perbudakan dan menyukai aksi-aksi kekerasan.

Oleh sebab itu penting sekali bagi kita untuk mulai meredakan islamofobia di dunia Barat. Sehingga dalam hubungan keagamaan dan antar sesama, akan tercipta sikap welas asih juga saling menghormati.  Di antaranya kita bisa memulainya dengan menghormati instrumen-instrumen semua agama, baik itu berupa bangunan yang menaungi penganut agam, ayat-ayat suci atau kitab suci yang dianggap merupakan wahyu Tuhan dan sifat kenabian, meluangkan waktu dengan orang-orang Islam di komunitas, berpikiran terbuka dan banyak lagi.

Imam Abdul Malik Mujahid dalam artikelnya memaparkan 14 cara dalam melawan islamofobia.  Di antaranya kita harus mengingat Nabi. Nabi didera penghinaan mengerikan dan kejahatan kebencian dalam masa hidupnya. Dia tetap teguh, sabar dan toleran menghadapi islamofobia ini.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan anatara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia.” (hal 133).

Buku ini sangat patut dibaca sebagai wacana dalam mengenal sejarah tumbuh kembangnya islamofobia dan di Barat dan bagaimana cara kita melawan dan atau merdakan Islamofobia.

Srobyong, 8 Desember 2018

Saturday, 19 January 2019

[Resensi] Kisah Tentang Kehilangan dan Kesabaran

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 23 Desember 2018



Judul               : The Motion of Puppets
Penulis             : Keith Donuhue
Penerjemah      : Linda Boentaram
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Juni 2018
Tebal               : 408 halaman
ISBN               : 978-602-402-119-1
Peresensi         : Ratnani Latifah.  Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Mengambil tema horor psikologi, novel ini cukup menarik dan mencekam. Sejak awal kita akan digiring penulis untuk memecahkan sebuah kasus misteri yang penuh teka-teki. Kita akan dibuat penasaran tentang kebenaran apa yang ada di balik kasus misteri tersebut.  Tidak ada pertanda, tidak ada jejak, seolah sosok yang hilang itu, tidak pernah ada sebelumnya.  Selain harus berjibaku dengan rasa kehilangan, novel ini juga mengungkap tentang kesabaran, saat menerima ujian. 

Novel ini menceritan tentang pasangan suami-istri—Theo  dan Kay Harper yang datang ke Quebeck untuk bekerja.  Di mana Theo sedang menyelesaikan projek menerjemahkan biografi seorang fotografer. Dan Kay Harper menjadi pemain akrobat di pertunjukan sirkus.  Pada awalnya mereka sangat menikmati perjalanan tersebut. Mereka menyempatkan  mengelilingi kota tua Quebeck yang  indah. Di antara tempat yang paling Kay sukai adalah ketika mereka melihat toko mainan—Quatre Mains. Di sana Kay akan berlama-lama menandangi sebuah boneka rupawan yang berdiri di tudung kaca (hal 11).

Namun dalam sekejap mata, kebahagiaan pasangan pengantin baru itu, berubah menjadi tragedi. Kay Harper yang kala itu berpamitan untuk melakukan pertunjukan akrobat bersama teman-teman sirkusnya, tidak pernah kembali. Theo hanya mengetahui bahwa, kala itu Kay Herpen terakhir pergi bersama teman-temannya untuk pesta dan pulang sendirian, karena tidak mau diantar salah satu temannya, Reance yang terkenal mata keranjang.  Dan ketika Theo melaporkan kejadian itu,  dia malah dianggap telah membunuh istrinya sendiri (hal 77).

Di sisi lain, kita akan dihadapkan pada kehidupan Kay yang baru yang tidak terduga dan menegangkan. Karena tiba-tiba kita akan dihadapkan dengan kehidupan sekumpulan boneka yang hidup. Mereka berbicara laiknya manusia biasa. Hanya saja waktu kehidupan mereka yang berbeba. Mereka hanya bisa bergerak bebas di malam hari, agar tak ada seorang pun yang terlihat. Dan di salah Kay Harper berada. Dia menjadi sosok baru yang tidak pernah dia bayangkan.

Jika Kay mencoba beradaptasi dengan kehidupan barunya, Theo masih berusaha mencari keberadaan istrinya.  Dia merasa tidak bisa berdiam diri tanpa mengetahui bagaimana nasib istrinya. Hingga suatu hari, Egon, salah satu kenalan di Qubeck hadir membawa sebuah informasi yang janggal tentang Quatre Mains, namun menarik untuk diselidiki. Dibantu oleh  Mitchel—salah satu teman dosen Theo di kampus, mereka mencoba menyelidiki tentang boneka-boneka yang bergerak. 

Apalagi ketika tanpa sengaja mereka melihat sebuah pertunjukan yang memperlihatkan sebuah boneka yang sangat mirip dengan Kay. Namun yang jadi pertanyaan berhasilkah Theo menemukan boneka itu? Dan mungkinkah  Kay bisa berubah kembali menjadi manusia?

Sebuah kisah yang tidak terduga sampai akhir dan akan membuat kita sesak napas, karena rasa penasaran yang menggebu. Dengan gaya penulisan yang apik dan menarik, penulis berhasil mengeksekusi kisahnya dengan baik. Di mana penulis berhasil membuat pembaca, gregetan dan terkagum-kagum. Baik tentang kesetiaan Theo juga mitos boneka yang berbicara dan bergerak.  Ini tentang kisah cinta juga mitos kuno.

Hanya saja untuk ending kisah, saya merasa kurang puas. Bagaimana pun setelah perjuangan yang sangat panjang kita akan dihadapkan dengan sebuah kenyataan yang tidak pernah kita bayangkan. Namun lepas dari kekurangannya, buku ini tetap menarik dibaca. Apalagi bari para penikmat kisah misteri. Saya suka dengan tampilan cover yang bikin merinding. Sedih tapi juga menakutkan.

Selain itu, banyak kejutan yang akan kita temukan dari novel ini.  Misalnya berbagai kejutan yang tidak pernah kita duga dengan para tokoh pendamping di sini. Lalu sebuah kejadian yang sama, yang terjadi dialami seorang petugas polisi, tentang kasus kehilangan.  Dari novel ini kita bisa belajar tentang sikap tidak mudah menyerah, serta perlunya menghadapi ujian dengan penuh kesabaran.  Di sisi lain, kisah ini  juga menuntut kita untuk selalu waspada dan hati-hati dalam segala situasi.

Srobyong, 17 Agustus 2018

Friday, 7 December 2018

[Resensi] Kisah Dokter Ahli Ginjal Meluruskan Takdir

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 3 Desember 2018

Judul               : Change Your Destiny
Penulis             : Rully Roesli
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-402-124-5
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Dalam melawan setiap tantangan, kita harus memiliki mental baja dan saraf besi! Artinya, kita benar-benar harus sangat yakin bisa menang dan siap berjuang luar biasa kerasnya. Pikiran dan keyakinan harus terus positif dan optimis. Dengan  sikap tersebut, badan kita secara alami akan menyesuaikan sehingga kemungkinan berhasil kita semakin tinggi.” (hal 14-15).

Takdir manusia memang sudah ditetapkan oleh Allah. Akan tetapi, takdir itu bisa kita rubah, jika kita mau berusaha. Sebagaimana kita ketahui takdir manusia dibagi dua. Pertama takdir mubram dan mualaq. Takdir mubram  adalah takdir yang tidak bisa dirubah, karena sudah ditentukan dan ditulis di Lauhul Mahfud. Seperti kematian dan kapan kita lahir. Sedangkan takdir muallaq adalah takdir yang bisa dirubah, jika kita berusaha. Seperti rezeki, sembuh dari sakit dan banyak lagi.

Buku ini dengan paparan yang lugas dan mudah dipahami, menjelaskan tentang bagaimana kita bisa meluruskan takdir. Di mana kisah ini merupakan kisah nyata dari seorang dokter ahli ginjal dalam menyikapi berbagai permasalahan hidupnya dengan bijak untuk meluruskan tadir.

Siapa yang menyangka bahwa  Roesli kecil yang sebelumnya tumbuh dengan sehat tiba-tiba, pada usianya yang kelima tahun,  kaki kirinya mengalami polio, sehingga tidak bisa digerakkan.  Keadaan itu tentu cukup mengejutkan. Berbagai alternatif pengobatan sudah dilakukan orangtua Roesli untuk menyembuhkan kakinya. Akan tetapi, ternyata Allah berkehendak lain.

Melihat keadaan itu, akhirnya orangtua Roesli memilih berupaya untuk menyelamatkan mental putranya. Dalam artian, mereka berusaha bersikap wajar dan tidak memperlakukan Roesli selayaknya orang cacat. Dan cara ini sepertinya sangat berhasil. Karena pada kenyataannya, meski terlahir dengan kekurangan, Roesli mampu bersaing dengan teman-temannya lainnya dan berhasil menjadi seorang dokter ahli ginjal. Bahkan dia berhasil mendirikan sebuah rumah sakit khusus ginjal.

Namun ternyata cobaan yang dialami Roesli tidak berhenti di sana saja.  Ketika dia tengah mengisi acara ilmiah di Bali, dia mengalami serangan stroke. Dari hasil CT Scan, para dokter berkesimpulan telah terjadi pendarahan otak pada dokter Roesli akibat hipertensi. Di mana menurut paparan istrinya, tekanan darahnya saat itu mencapai 198/125 mmHg (hal 176).

Berbagai upaya kembali dilakukan untuk memulihkan keadaan Roesli. Berbagai terapi rehabilitasi secara intensif telah dia lakukan. Dari Fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara ditambah tusuk jarum secara rutin. Bahkan dia juga menjalani terapi di kolam renang (hidroterapi) di Ciater Spa Resort, serta menjalani cara rehabilitasi stroke mutakhir yaitu TSM (Transcephalic Magnetic Stimulation) dan DSA  (Digital Subtraction Angiography). Semua ini dijalini Roeli dengan tekun, karena dia ingin sembuh (hal 180).

Hingga akhirnya kelumpuhan di lengan dan tungkainya lambat laun sudah membaik, meski memang tidak seratus persen.  Namun kesembuhan itu sangat disyukuri Roesli. Bahkan dia kembali membuka praktek, karena menurutnya dengan kembali beraktifitas dan bisa berguna bagi orang lain, juga merupakan cara pengobatan tersendiri bagi Roesli.  Tidak hanya itu, dia juga mendapat tawaran dari sahabatnya, dr. Augusta untuk menjadi pembicara ilmiah, meski dalam keadaan tidak sempurna dengan duduk di kursi roda.

Kisah yang dialami Roesli benar-benar sangat menginspirasi. Dengan segala keterbatasannya dia tetap berjuang untuk bangkit dan bisa berguna bagi orang lain. Menurut Roesli dalam menyikapi hidup dan agar bisa meluruskan takdir maka pertama-tama adalah  selalu berpikir positif. Kita harus mau berusaha dengan gigih dalam upaya meraih kesuksesan atau mimpi yang kita miliki. Tidak lupa kita harus berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah setelahnya kita harus bertawakal.  Kemudian ketika kita mengalami sebuah ujian, jangan jadikan hal itu menjadi alasan untuk menyerah. Namun jadikan kegagalan sebagai epifani untuk bangkit dan terus berusaha.

“Kadang kehidupan dapat   menumbangkan kita. Kitalah yang memutuskan untuk tetap jatuh atau kembali bangkit.” (hal 61).

Buku ini sangat patut kita baca dan renungkan. Dilengkapi dengan kisah-kisah ketaladan yang lain, serta pembasahan yang menggabungkan  pendekatakn ilmian dan kajian keagamaan, buku ini akan sangat membantu kita untuk membangunkan motivasi dan semangat untuk berjuang.

Srobyong, 16 November 2018

Friday, 30 November 2018

[Resensi] Kiat Meraih Kesuksesan dalam Membangun Bisnis

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 18 November 2018 


Judul               : Madesu : Masa Depan Sukses!
Penulis             : Danu Sofwan
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : Pertama, Februari 2018
Tebal               : 216 halaman
ISBN               : 978-602-6716-20-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Fall in love  with the process and the result will come. Bukan hasil akhir, tapi dengan menyabari proses, akhirnya akan berhasil.” (hal 9).

Menjadi orang sukses itu mimpi setiap orang. Kesuksesan akan membuat kita mudah dalam memenuhi berbagai kebutuhan dalam hidup. Akan tetapi, perlu kita cacat meraih kesuksesan  itu mudah. Perlu perjuangan keras, ketekunan, keulutan yang tangguh  serta tidak mudah putus asa.

Buku ini dengan gaya bahasa yang ringan, persuasif, lugas dan menarik, akan mengajak kita belajar tentang kiat sukses dalam berbisnis. Di sini kita akan belajar langsung dari  seorang  Founder dan CEO Randol—bisnis cendol yang sudah melebarkan sayapnya di berbagai kota di Indonesia. Ketekunan dan keuletan yang dilakukan Danu, telah menempatkannya menjadi salah satu pengusaha muda yang sukses di Indonesia.

“Keberhasilan sering datang bukan karena selalu melakukan hal benar, tapi dari rasa berani melakukan kesalahan untuk belajar! Jangan pernah berpikir untuk berhenti melakukan apa yang kita yakini. Karena di saat kita mampu mengendalikan pikiran, kita sedang diarahkan menuju keberhasilan.” (hal 21).

Langkah awal yang perlu kita miliki adalah dengan menemukan motivasi. Kalau dalam rumus Danu disebut rumus  MLM (multiple –Level Motivation). Di mana perlu kita sadari bahwa motivasi itu sesungguhnya memiliki kekuatan yang tersembunyi. Motivasi memiliki kekuatan untuk mendorong, membangkitkan, mengarahkan dan merangsang gairah seseorang untuk melakukan sebuah tindakan untuk mencapai sebuah tujuan. 

Motivasi Danu ketika ingin meriah kesuksesan adalah bisa membahagiaan ibu dan saudara-saudaranya. Sebagai anak laki-laki dia merasa bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, setelah bisnis ayahnya bangkrut dan sang ayah meninggal dunia. Tentu saja saat itu Danu hanyalah seorang anak ingusan yang belum berpengalaman. Dalam upayanya memulai bisnis, tidak sekali dua kali Danu gagal dan bahkan menjadi korban penipuan. Namun karena semangat juang dan motivasinya yang tinggi, dia berhasil meraih tujuan yang ingin dia capai.

Selanjutnya adalah percaya dengan kemampuan diri sendiri dan berani mengambil resiko. Membangun bisnis memang tidak mudah. Oleh sebab itu kita harus berani menciptakan peluang agar ide yang kita miliki bisa dikenal dan diminati banyak orang. Kita harus berani melangkah, untuk mengenalkan ide bisnis atau produk yang ingin kita pasarkan.  Ini pula yang pernah dilakukan Danu. Ketika dia berinisiatif membuka usaha cendol, dia sempat ditertawakan teman-temannya. Karena bisnis cendol sudah banyak dilakukan orang lain dan dianggap biasa saja.

Ketiga adalah tidak mudah putus asa. Kita pasti paham, bahwa dalam upaya membangun sebuah bisnis, tidak mungkin kita langsung meraih kesuksesan dalam sekali jalan.  Pasti ada masa jatuh bangun yang harus kita rasakan terlebih dahulu, hingga akhirnya kita bisa mencecap keberhasilan.  Begitu pula yang dihadapi Danu dan para pengusaha lainnya. Di sinilah sikap tidak mudah putus asa, sangatlah kita butuhkan.  Meski gagal, kita tetap bangkit dan tidak menyerah.

Tidak kalah penting adalah kita harus berani membuka mindset.  Sadar tidak sadar cara berpikir kita ini memiliki peran penting dalam meraih kesuskesan. Ketika kita memiliki pikiran yang positif, yakin bahwa kita mampu maka  itulah yang kita raih. Sebaliknya jika kita berpikir negatif, merasa tidak berhasil, maka kegagalan itulah yang akan kita raih. Oleh sebab itu dalam membangun sebuah bisnis, Danu memaparkan ada empat fase yang harus kita lalui.

Pertama fase memulai; artinya kita berani mengeluarkan ide kita kepada khalayak dan memulai bisnis itu sendiri. Kedua fase membangun; di sini kita dituntut untuk memiliki menjadi pribadi yang tidak mudah menyerag dan tidak kapok mencoba, meski pernah gagal. Selanjutnya fase sabar; saat menghadapi berbagai rintangan dalam membangun bisnis, maka kita harus sabar dan berjiwa besar. Dan terakhir fase bangkit; di sini kita berani mencipatakan sesuatu yang baru yang bisa bermanfaat untuk orang lain juga diri sendiri.

Dilengkapi dengan kisah-kisah inspriatif dari penulis juga pengusaha lainnya, buku ini sangat menarik dan menginspirasi.  Buku ini sangat patut dibaca bagi siapa saja yang ingin memulai berbisnis, agar bisa mengambil pengalaman dari Danu. Apalagi dengan qoute-quote positif yang akan membakar semngat kita. Salah satunya,  “Seorang pesimis selalu melihat banyak kesulitan di setiap kesempatan. Tapi sebaliknya, seorang optimis selalu melihat banyak kesempatan dalam kesulitan.” (hal 46).

Srobyong, 20 Oktober 2018

Tuesday, 20 November 2018

[Resensi] Pengaruh Kesehatan Gigi Terhadap Kesehatan Tubuh

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 14 Oktober 2018


Judul               : Tubuh Sehat, Giginya?
Penulis             : drg. Pramono Rendro Pangarso, M. Kes
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Okotober 2017
Tebal               : xii + 148 halaman
ISBN               : 978-602-402-088-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Selama ini doktrin yang kita terima, menganggap bahwa pergi ke dokter gigi itu menyeramkan—gigi kita akan dicabut dan sederet mitos lainnya.  Hal inilah yang membuat kita kerap kali menghindari pergi ke dokter gigi. Kita selalu ketakutan sebelum kita membuktikan tentang keseraman yang sering kita dengar. Padahal menjaga kesehatan gigi itu sangat penting. Karena kesehatan gigi  memiliki pengaruh terhadap kesehatan tubuh.

Buku ini dengan paparan yang lugas dan mudah dicerna, mencoba mematahkan mitos yang sering kita dengar dalam masyarakat, juga memaparkan dengan jelas tentang pengaruh kesehatan gigi terhadap kesehatan tubuh.

Pada bagian pertama penulis menegaskan tentang pentingnya menjaga rongga mulut. Mengingat bahwa kesehatan rongga mulut itu cerminan dari kesehatan diri secara utuh. Artinya, gambaran penyakit pada tubuh bisa terlihat dari rongga mulut seseorang. Misalnya saja ketika orang yang memiliki penyakti diabetes melitus atau kencing manis biasanya akan memiliki aroma napas  seperti bau aseton—seperti bau tiner penghilang kuteks.

Perlu kita ketahui pada penderita diabetes, fungsi beberapa sel yang berperan dalam respons peradangan mengalami perubahan. Sel-sel tersebut merupakan lini awal pertahanan tubuh sehingga menghambat fungsinya dalam melawan bakteri pada saku gusi dan meningkatkan kerusakan jaringan pendukung gigi (hal 7). Selain diabetes beberapa penyakit yang sering kita temui pada rongga mulut adalah bau mulut, sariawan, dan herpes simpleks pada mulut.

Saat kita memiliki bau mulut tidak sedap pasti hal itu secara psikologi akan membuat kita merasa minder dan tidak percaya diri.  Bau mulut biasanya disebabkan oleh bakteru mati dalam rongga mulut yang menghasilakn sulfur, bakteri sisa makanan yang berkumpul pada lidah yang kasar, akumulasi plak yang menempel pada gigi, gigi berlubang, sisa akar dan karang gigi (hal 17).

Namun yang lebih mengejutkan ternyata masalah  pada gigi juga memiliki dampak terhadap munculnya penyatik kanker mulut. Oleh karena itu kita harus secara runtin ke dokter gigi untuk memeriksa seluruh bagian rongga mulut dan melihat apakah terdapat tanda-tanda penyakit tertentu atau tidak (hal 33). Lebih jelasnya bisa membaca langsung buku ini.

Pada bab lain kita dijelaskan tentang cara menjaga gigi yang baik dan benar. Karena yang terjadi di masyarakat, kita sering menjaga kesehatan gigi dengan cara yang salah. Misalnya dalam cara menggosok gigi—di mana kebanyakan orang suka menyikat gigi dengan keras agar gigi bersih, padahal yang benar adalah menyikat gigi secara lembut dengan teknik BASF—dari merah ke putih (artinya dari arah gusi ke gigi). Saat menyikat gigi, kondisikan sikat gigi dalam keadaan kering, karena bakteri sangat menyukai lingkungan lembab.

Gigi manusia sangatlah sensitif. Gangguang sedikit saja pada gigi dan mulut dapat membawa dampak yang besar bagi kesehatan tubu. Berikut beberapa penyakit yang kemungkinan berhubungan dengan kesehatan gigi. Mata tegang, penyakit sendiri temporomandibular, sakit kepala kronis, leher kaku, sakit pinggang, demam, insomnia dan depresi (hal 68).

Selain beberapa hal yang sudah dipaparkan, masih banyak lagi berbagai info mengenai cara menjaga kesehatan gigi. Di sini kita diingatkan tentang pentingnya menjaga kondisi gigi agar selalu sehat dan kuat. Memang benar tidak sepenuhnya kesehatan manusia tergantung pada kesehatan gigi. Namun dengan memiliki gigi sehat, secara tidak langsung membuat kita menghindari berbagai penyakit yang merugikan diri sendiri.  Sebuah buku yang mencerahkan membuka cakrawala khususya tentang kesehatan gigi.

Srobyong, 4 Februari 2018 

Tuesday, 13 November 2018

[Resensi] Hidup Jangan Memelihara Dendam

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 7 Oktober 2018 


Judul               : Memories In The Eyes
Penulis             : Naiva Urfi
Penerbit           : Dar Mizan
Terbit               : Juli 2017
Tebal               : 176 halaman
ISBN               : 978-602-420-300-9
Penerbit           : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Nahdlatul Ulama, Jepara

Dendam merupakan sikap yang harus kita hindari. Karena dendam hanya akan membuat hati kita tidak pernah tenang. Kita akan diliputi kemarahan yang tidak berkesudahan dan kita akan selalu menyimpan kebencian.  Daripada memelihara dendam, kita dianjurkan untuk memaafkan. Karena dengan memaafkan, hati kita jadi lapang dan hidup pun menjadi lebih tenang.

Mengambil tema sederhana tentang kehidupan di dunia remaja dan masalah keluarga, novel ini cukup menarik untuk dibaca. Apalagi dalam kisah ini ada  tambahan unsur misteri dan magic yang unik dan tidak biasa. Di mana hal itu berhubungan dengan kemampuan bisa membaca pikiran orang lain.

Shaina adalah  tokoh sentral dalam kisah ini. Sampai detik ini Shaina masih merasa sedih dan kadang  marah dengan takdir yang telah terjadi dalam hidupnya. Kepergian ibunya ternyata telah meninggalkan kesedihan yang sangat dalam. Apalagi setiap dia ingat dengan kecelakan yang merenggut ibunya. Dan kenyataan bahwa sosok yang menyebabkan kecelakan itu tidak mendapat hukuman yang setimpal (hal 21). Belum lagi mimpi buruk yang akhir-akhir ini selalu menghantuinya. Membuat Shaina bingung bahkan kerap hilang ingatan.  Shaina kerap lupa hari hingga sering salah dalam membuat jadwal bahkan jadi langganan dihukum para guru.

Lebih aneh lagi adalah kemampuan Shaina yang bisa membaca  pikiran orang lain, tiba-tiba tidak berfungsi ketika berhadapan dengan Fahrez. Shaina tidak paham kenapa dia tidak bisa membaca pikiran teman barunya di sekolah itu. Keadaan itu sungguh membuat Shaina kalut. Dia bingung dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya.  

Kemudian Shaina menyadari bahwa bisa jadi hal-hal yang kerap terjadi pada dirinya adalah karena ulah seseorang yang tidak menyukainya. Ada orang yang sedang mengendalikan pikirannya. Hanya saja Shaina bingung, siapa orang yang tega melakukan hal itu padanya?  Mungkinkah itu ulah Fahrez? Tapi apa salah Shaina pada teman barunya itu? Berbagai pertanyaan pun mulai menghantui Shaina. Membuat dia berpikir ulang dan mencoba mengingat kembali kilasan memorinya yang mungkin telah dia lupakan.

Ide dari novel semi fantasi ini sebenarnya cukup menarik. Hanya saja penulis mengadirkan terlalu banyak tokoh, sehingga membuat kisahnya kurang fokus. Selain itu eksekusi cerita juga kurang menarik, sehingga membuat kisah ini terasa datar dan biasa.  

Namun lepas dari kekurangan yang ada, novel ini cukup bersih dari kesalahan tulis. Dan kisah ini memiliki banyak pembelajaran yang bisa kita renungkan. Kisah ini mengingatkan kita untuk tidak hidup dalam kubangan dendam. Kita harus saling memaafkan dan ikhlas dengan apa yang sudah terjadi. Karena di balik sebuah cobaan pasti ada hikmah yang bisa kita dapatkan.   Masih dari novel ini kita juga bisa belajar untuk menerima setiap takdir yang ditentukan Tuhan. Karena bisa jadi apa yang ditetapkan Tuhan itu adalah yang terbaik.

“Aku memaafkan masa laluku. Aku menerimanya. Semua adalah takdir. Sekeras apa pun kita berusaha mencegah, kuasa Allah jauh lebih besar. Tak ada yang bisa menghalangi. Penyesalan, cuma ujian untuk mengukur keimanan kita. Seberapa kuat kita bisa bangkit kembali. Seberapa ingat kita kepada-Nya.” (hal 142-143).

Kita juga diingatkan untuk menjadi pribadi yang  selalu berpikir positif dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai masalah.  Semangat dan hadapi semua dengan pikiran terbuka. “Berpikir positif saja. Kalau takdirmu begitu, enggak ada yang bisa menghalangi. Sekarang pikirkan yang sekarang. Jangan patah semangat hanya karena ketidakpastian itu.” (hal 116). Karena dengan begitu kita bisa lepas dari masalah. Tidak ketinggalan, novel ini membahas tentang suka duka sebuah persahabatan yang apik dan menarik.

Srobyong, 25 Agustus 2018

Tuesday, 2 October 2018

[Resensi] Menghadapi Berbagai Masalah dengan Bijak

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 26 Agustus 2018 



Judul               : Arjuna & Kirana
Penulis             : Pricilia Chang
Penerbit           : Pastel Boosk
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 352 halaman
ISBN               : 978-602-6716-19-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Hidup tidak mungkin tanpa masalah, karena hidup memang tempatnya masalah. tinggal bagaimana kita menyikapinya, “Bukan hidup namanya jika tidak ada cobaan.” (hal 80).  Dan masalah itu hadir tidak pandang bulu. Bagi bagi orang yang sudah berkeluarga atau single. Baik itu dialami orang  dewasa, anak-anak juga remaja yang masih mengenakan seragam abu-abu. 

Dan konon masa putih abu-abu  itu masa yang paling  seru dan menarik. Masa di mana gejolak jiwa muda kita tengah bergelora. Masa di mana kita butuh pengakuan juga ajang pencarian jati diri. Mengambil sudut pandang dunia remaja, Pricilia Chang berhasil menghidupkan tokohnya dengan apik dalam kisah ini. 

Memang dunia remaja dan cinta itu tidak akan ada habisnya untuk dibahas. Selalu ada kisah dan cerita yang menarik dan unik. Meski pun sedikit banyak kita sering menemukan tema serupa, nyatanya setiap penulis memiliki khas sendiri dalam eksekusi cerita, sehingga cerita-cerita yang ada tidak pernah sama.   Begitu pula dalam kisah ini.  Tidak jauh dari masalah cinta dan persahabatan yang menjadi bumbunya.

Mengisahkan tentang Arjuna dan Kirana. Mereka memang satu kelas dan bahkan tinggal di kompleks perumahan yang sama. Namun nyatanya mereka tidak terlalu kenal bahkan tidak pernah saling sapa. Hingga di hari yang konon menurut para remaja, paling romantis—valentine—sebuah kisah bermula, hingga berbagai masalah mulai timbul. Dan mereka harus menyelesaikannya agar tidak ada yang seorangpun terluka.

“Ada tiga hal penting yang tak dapat dilihat, tetapi dapat dirasakan. Udara, sinyal Wi-Fi dan cinta.” (hal 24).

Kirana adalah tipe cewek cuek dan tidak terlalu memikirkan hubungan bernama pacaran.  Lalu suatu hari karena sahabatnya Jelita, meminta tolong sesuatu yang membuat dunia Kirana jungkir balik dalam seketika. Jelita meminta bantuan Kirana untuk memberikan sebuah cokelat pada Arjuna, agar diberikan pada Harris—sahabat Juna. Di sinilah akar masalahnya, karena jarang berbicara pada cowok, Kirana jadi grogi dan berahkhir sebuah kesalafahaman. Demi meluruskan kesalahfahaman itu, Kirana menghubungi Arjuna untuk menjelaskan pokok masalah, yang berakhir dengan jalan-jalan romantis dengan cowok itu.

Pada titik tersebut, siapa sangka setitik rasa tiba-tiba sudah merebak begitu saja. Percakapan awal yang bermula dari tidak disengaja, kini berlanjut begitu saja. Meskipun percakapan itu hanya menjadi rahasia di antara mereka. Mereka membangun dunia sendiri yang tidak pernah diketahui orang lain.

Namun bisakah seseorang menyimpan rapat sebuah rahasia? Karena sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.  Akhirnya baik Arjuna dan Kirana mulai berani menampakkan kedekatan mereka di depan umum.  Di mana akibat dari keterbukaan itu,  seseorang langsung berang.
Semua orang di sekolah tahu, Rasita sejak awal sudah membidik Arjuna. Dia ingin Arjuna hanya menjadi miliknya. Apalagi mereka memang sudah dekat dan bersahabat sejak SMP. Lalu melihat kenyataan Arjuna lebih memilih Kirana  yang baru dikenal. Belum selesai dengan kemarahan Kirana, Nevan sahabat Arjuna, ternyata juga memiliki rasa terhadap Kirana. Bagaimana Kirana dan Arjuna menyelesaikan masalah, agar tidak ada kesedihan juga pertengkaran di antara mereka. Karena  seharusnya cinta  tidak harus membuat persahabatan hancur.

Secara keseluruhan novel yang merupakan “The Wattys Winner for Visual Storytelling” ini menarik untuk diikuti. Penulis bisa membuat pembaca penasaran dengan kisah ini dari awal hingga akhir. Penulis mampu menggiring pembaca agar menyelesaiakn novel ini hingga khatam. Meski untuk beberapa bagian ada yang belum terasa konsisten. Tapi lepas dari kekurangannya novel ini bisa jadi teman baca yang seru.

Dari novel ini saya belajar tentang arti pentingnya menjaga lisan, “Ujung lidah lebih tajam daripada  ujung pisau.” (hal 289). Selain itu kita diajari untuk jujur baik pada orang lain juga diri sendiri. Karena ketidakjujuran hanya akan membuat orang lain terluka.
Srobyong, 11 Maret 2018

Monday, 27 August 2018

[Resensi] Menyucikan Hati dengan Mengkaji Al-Quran

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 12 Agustus 2018


Judul               : Revive Your Heart
Penulis             : Nouman Ali Khan
Penerjemah      : Rini Nurul Badariah
Penerbit           : Mizania
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : 176 halaman
ISBN               : 978-602-418-175-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Hati memiliki pengaruh besar dalam kehidupan kita. Rasulullah pernah berkata bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika dia baik, maka seluruh tubuh pun baik. Namun jika dia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh.  Dan perlu kita ketahui, segumpal daging itu maksudnya adalah hati.

Bisa dibilang hati adalah pangkal segala perbuatan kita. Misalnya saja ketika terjadi berbagai tindakan amoral; seperti meneror, pencurian, pemerkosaan, pembunuhan, korupsi dan lain sebagaianya. Jika kita melihat lebih dalam, terjadinya tindakan tersebut adalah karena hati yang kotor. Ketika hati kotor, kita cenderung melakukan perbuatan tercela atau jahat. Sebaliknya jika hati kita bersih, maka kita cenderung untuk melakukan kebaikan. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga hati dan mengobatinya agar tetap bersih dan sehat.  Di antara cara mengobati hati agar tetap sehat dan bersih adalah dengan mengkaji Al-Quran.

Buku ini dengan paparan yang cerdas, lugas  dan kritis, akan mengajak kita untuk mengkaji Al-Quran secara mendalam. Diambil dari kumpulan ceramah yang pernah dilakukan oleh Nouman Ali Khan, kita bisa memetik hikmah dan inspirasi tentang bagaimana cara memurnikan hati melalui terapi Al-Quran agar selalu sehat dan bersih.

Agar hati tenteram, bersih, sehat dan tidak mudah berkarat, maka kita harus selalu berpikir positif. Artinya jangan berburuk sangka kepada orang lain. Karena memiliki pikiran negatif hanya akan membuat kita sakit hati dan benci kepada orang lain. Padahal membenci orang lain adalah perbuatan tercela.  Dalam surat Al-Hujurat ayat 12 dijelaskan, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain  (hal 43).

Dalam ayat ini kita ditekankan untuk tidak memiliki prasangka buruk  baik kepada Allah atau manusia biasa. Kita juga tidak boleh  suka mencela, mencari kesalahan, mematai-matai, mengintai serta membicarakan keburukan orang lain. Sikap-sikap tersebut adalah tanda penyakit hati. Oleh karena itu penting bagi kita untuk  mengubah cara berpikir kita.  Yaitu dengan berpikir positif kepada siapa saja. Hal itu lebih aman dan bermanfaat.

Kemudian, jangan bersikap takabur. Yaitu sikap merasa lebih besar daripada orang lain. Apa pun kapasitas kita, kita semua dianugerahi posisi pemimpin.  Baik ketika menjadi pemimpin keluarga, manajer kantor,   menjadi pemimpin suatu daerah atau negara dan lain sebagainya.  Akan tetapi ketika menjadi pemimpin kita tidak boleh bersikap takabur. Kita harus bersikap lemah lembut dalam bersikap, baik dalam ekpresi wajah dan emosi. Kita tidak boleh merasa lebih hebat karena memiliki posisi yang lebih tinggi.  Anjuran bersikap lemah lembut sesuai dengan firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 159, “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (hal 59).

Selanjutnya adalah jangan bersikap batil. Yaitu mencurangi orang lain dalam mengumpulkan harta. Hal ini sesuai dengan penjelasan dari surat Al-Baqarah ayat  188. “Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan batil dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”  (hal 70-7).

Kita hidup memerlukan uang. Namun perlu kita catat, dalam mengumpulkan uang atau harta kita tidak boleh melakukannya dengan cara yang batil atau salah. Seperti dengan mempraktikkan riba,  melakukan penipuan, korupsi atau menyogok pemerintah untuk kepentingan diri sendiri, agar harta yang kita peroleh bisa bertambah.  Kita harus mengetahui bahwa harta yang baik itu disertai berkah, sedangkan harta yang kotor itu disertai laknat.  Oleh karean itu, agar harta yang kita peroleh itu berkah, maka kita harus memcarinya dengan cara yang baik.

Selain sikap-sikap tersebut, masih banyak sikap lain yang dipaparkan dalam buku ini.  Seperti putus asa, lalai, cinta dunia dan banyak lagi.  Buku ini sangat patut dibaca dan diamalkan.

Srobyong, 13 Juli 2018