Showing posts with label Arumi E. Show all posts
Showing posts with label Arumi E. Show all posts

Sunday, 8 April 2018

[Resensi] Cobaan Pasangan Suami-Istri

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 8 April 2018


Judul               : Sepertiga Malam di Manhattan
Penulis             : Arumi E
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Februari 2018
Tebal               : 276 halaman
ISBN               : 978-602-03-8042-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara


“Memiliki  anak, artinya mendapat tanggung jawab lebih berat. Membesarkan manusia bukan cuma soal memberi makan cukup dan memenuhi kebutuhan raganya. Tapi, juga mengerjakan mereka tentang kehidupan.” (hal 28).

Kenyataan hidup yang sering kita alami, ketika kita  belum memiliki pasangan,  maka pertanyaan yang sering ditanyakan adalah “Kapan menikah?” namun ketika kita sudah membangun mahligai rumah tangga, maka pertanyaan berubah menjadi “Kapan punya momongan?”  Dalam hidup ini, kita memang akan selalu menghadapi berbagai masalah dan berbagai pertanyaan yang akan mengikuti ke mana pun kita berjalan.  Tinggal bagaimana kita menyikapi semua pertanyaan tersebut.

Sepertiga Malam di Manhattan merupakan skuel dari novel berjudul “Hatiku Memilihmu”—yang menceritakan tentang perjuangan Brad dan Dara menunju hubungan hahal. Tapi jangan khawatir meski belum membaca novel sebelumnya, kita tetap bisa mengikuti kisah ini. 

Mengambil tema cinta—khusunya masalah rumah tangga, novel ini menghadirkan kisah tentang cobaan yang akan kerap dialami para pasangan pasutri.  Di sinilah tantangan baru Dara Paramitha dan Brad Smith, setelah empat tahun perkawinan mereka. Bagaimana mereka menyikapi berbagai cobaan yang menerpa mereka? Sanggupkah mereka bertahan sebagaimana perjuangan yang mereka lakukan sebelum akhirnya bisa bersatu melalui ijab qabul yang sah?

Bagi pasangan yang sudah menikah, memiliki anak adalah salah satu harapan yang selalu didamba. Begitu pula impian Dara dan Brad. Namun ternyata Allah belum memberi tanggungjawab itu kepadanya, bahkan setelah empat tahun pernikahan. Hal itulah yang diam-diam membuat Dara suka bersedih dan merasa bersalah.  Apalagi dari pihak orangtua Brad—khususnya sang ayah, seolah menuntut Dara untuk segera memiliki momongan (hal 58).

Diam-diam Dara jadi merasa iri kepada Lea dan Richard, sahabatnya yang meski menikah setelah dirinya, pasangan itu kini sudah memilih anak kembar. Begitu pula dengan kakaknya—Rana yang juga sudah memiliki momongan. Padahal menurut dokter, tidak ada masalah apa pun baik dari kondisi Brad dan Dara.

“Hendaklah bersyukur atas apa yang kita miliki, jangan merisaukan apa yang tidak kita miliki.” (hal 51).

Selain harus bersabar soal momongan, Dara kembali diuji dengan apa arti kesetiaan. Dia memang paham, memiliki suami seperti Brad—yang tampan dan pemain piano yang memiliki banyak penggemar—haruslah memilih hati yang lapang. Namun masalahnya muncul ketika tanpa sengaja Brad bertemu dengan Vienna van Arkel—pemain harpa asal Belanda, keturunan Jawa dalam salah satu konser.

Apalagi tanpa sengaja Dara yang awalnya ingin memberikan kejutan pada sang suami, malah melihat Brad duduk berdua dengan Vienna dengan posisi yang cukup mencurigakan di matanya.  Dan gadis cantik itu dengan terang-terangan menyatakan rasa suka terhadap Brad. 

“Kamu tahu, sejak bertemu Brad, aku pelajari lagi tentang Islam. Kemudian aku tahu, laki-laki Muslim boleh memiliki istri lebih dari satu. Karena itu, aku merasa bukan kesalahan kalau aku mengejar suamimu. Kamu sebagai Muslim, pasti tahu tentang itu, kan?” (hal 205-206).

Siapa yang tidak marah mendengar pengakuan itu? Bersamaan dengan itu,  Dara mendapati sebuah kabar tentang keadaan dirinya yang membuat Dara kaget dan sedih. Yang menjadi pertanyaan langkah apa yang akan dilakukan Dara? Dan Sanggupkan Brad menerima keadaan Dara apa adanya atau malah memilih pilihan yang lain?

“Hidup pastinya nggak akan mulus. Ini dunia, bukan surga, jangan harap kita bisa bahagia setiap saat. Lagi pula, pernikahan lo belum tamat. Ini cuma kerikil kecil, bisa terjadi dalam hubungan suami-istri mana saja.” (hal 154).

Dengan tema sederhana, penulis berhasil membuat pembaca penasaran dengan akhirnya cerita, juga dibuat gregetan dengan sosok Vienna—apalagi saat ini tengah marak isu banyaknya  pelakor.  Khas dari penulis, setiap bukunya selalu terselip nilai-nilai Islam yang kuat. Inilah yang saya suka, meski mengusung tema cinta, kita juga akan selalu mendapat tambahan ilmu tentang masalah agama, juga kultur-kultur budaya—mengingat penulis juga kerap menggagas kisah beda negara.

Dari kisah ini saya belajar arti pentingnya kepercayaan serta pentingnya kesabaran dan rasa syukur terhadap berbagai cobaan yang diberikan Allah. Bahwa di balik cobaan selalu ada hikmah dan akan ada penyelesaian yang pas.

Srobyong, 17 Maret 2018 

Saturday, 4 November 2017

[Review Buku] Tentang Traveling, Cinta, Keyakinan hingga Masalah Keluarga



Judul               : Road to Your Heart ; Love in Ho Chi Minh
Penulis             : Arumi E
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, 2017
Tebal               : 252 halaman
ISBN               : 978-602-03-7180-1

“Yang membuatnya  senang melakukan perjalanan keluarga negeri itu, bukan untuk sok keren, tapi untuk membuka pikiran, menambah wawasan, bertemu orang baru dari berbagai  belahan dunia.” (hal 17).

Perjalanan selalu menyimpan kejutan. Kita tidak pernah tahu apa yang tengah menanti kita di tengah jalan. Apakah perjalanan itu akan lurus dan lancar saja, atau batu kerikil sebagai sandungan yang membuat kita menghadapi hal-hal tidak terduga.

Mengambil latar Ho Chi Minh, Vietnam, novel karya Arumi ini menceritakan tentang  kisah cinta yang menarik dan menggelitik. Karena di sana tidak hanya suguhan cinta yang akan menyapa kita, namun ada juga masalah keyakinan yang akan menjadi taruhan juga masalah keluarga yang cukup pelik, bagi masing-masing tokoh.  Di sisi lain traveling yang dipaparkan dalam cerita, menjadi oase yang akan membuat kita selayaknya ikut menikmati liburan nan indah ini.

Kevin Charles Wyler merupakan pria asal Los Angele yang memilih meninggalkan kota kelahirannya, karena suatu hal untuk melakukan penjelajahan di Asia Tenggara. Dan Vietnam menjadi tempat pertama yang dia datangi. Sedang Tatiana Rawnie adalah muslimah asa Lombok, Indonesia. Karena sebuah misi dia ingin mengunjungi Ho Chi Minh.  Selain untuk traveling, ada seseorang yang selama ini dia rindukan yang ingin dia tememui.

Dua anak manusia ini dengan masalah masing-masing  ini akhirnya tanpa sengaja bertemu di Ho Chi Minh dalam keadaan yang tidak terduga. Kala itu Tatiana yang awalnya pergi traveling dengan Nela dan Jenar—teman seperjalanan sebelum nantinya mereka akan pisah karena beda tujuan—tengah bersiap untuk melakukan penjelajahan ke Cu Chi Tunnel—terowongan peninggalan Vietkong—bersama para wisatawan lainnya. Nah, di sanalah sosok itu—Kevin tiba-tiba muncul dengan kaki dibebat perbang dan membawa kruk duduk di samping Tatiana.

Siapa sangka, kejadian itu kemudian malah membuat Kevin dan Tatiana menjadi dekat. Kevin yang senang dengan pembawaan Tatiana yang unik namun selalu ramah. Dan Tatiana sedang sebangku dengan pria asal Los Angeles, yang ternyata lulusan UCLA—tempat yang sangat ingin Tatiani datangi untuk belajar. Dia bisa banyak belajar dari Kevin.

Dan entah bagaimana, mereka kemudian memutuskan melakukan perjalanan bersama setelah Tatiana berpisah dari Nela dan Jenar.  “Kita sama-sama sendirian. Lebih baik  kalau jalan bersama, kan? Kita bisa saling membantu, saling menjaga, selama perjalanan.” (hal 33). Begitulah yang ditawarkan Kevin. Meski sempat bimbang, Tatiana akhirnya mengiyakan.  Maka perjalanan itu pun dimulai.

Mereka kemudian mengunjungi Mui Ne—sebuah padang pasir yang mirip padang pasir di Gurun Sahara. Lalu menuju  Dalat. Mereka mengunjungi Stasiun Kereta Api Dalat, lalu ke Pagoda Linh Phuoc kemudian ke Crazy House—yang konon katanya bangunan itu terinspirasi dari Hundertwasser House di Vienna (hal 69)

Selain itu, tentu saja masih banyak tempat-tempat menarik yang akan mereka kunjungi.  Seperti Hoi An, Hanoi, dan lain-lain.  Namun siapa sangka, sebuah kejadian yang tidak terduga membuat Tatiana sangat marah besar.   Dia langsung memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri. Tak ada traveling bersama. “Mulai detik ini, jangan ikuti aku lagi. Kita berpisah.” (hal 112).

Tatiana menyadari mungkin perjalanan bersama yang mereka lakukan adalah kesalahan. Seharusnya dia menolak ajakan itu. Bukankah kejadian yang sempat membuatnya syok kala di Cu Chi Tunnel adalah tanda berbahaya jika pergi dengan laki-laki asing? Tatiana merutuki dirinya sendiri yang tidak tegas sejak awal. Mungkina dia memang tertarik dengan Kevin. Tapi apakah rasa itu boleh? Dia sangat sadar, ada jurang dalam di antara mereka. Kevin yang nyaris tak percaya Tuhan dan dia yang selalu memegang teguh iman.

Dan  keadaan semakin runyam., ketika  Luce—mantan kekasih Kevin datang. Dia mengatakan sesuatu yang membuat perut Tatiana bergolak. Haruskan dia percaya dengan cerita Luce atau memercayai Kevin, meski pria itu sempat membuatnya kecewa? Selain harus mengurusi masalah hati yang membuat dilema, Tatiana juga harus berhadapan dengan masalah keluarga yang tidak kalah rumit. 

Lalu bagaimana akhir cerita ini? Siapa yang akan Tatiana percayai? Dan berhasilkah dia bertemu sosok yang tengah dicarinya di Ho Chi Minh? Selain itu kejadian apasih yang sampai membuat Tatiana marah dan alasan apa yang sampai membuat Kevin kabur dari Los Angeles?  Temukan semua jawabannya di sini.

Diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah dan empuk, membuat kita tidak bosan menikmati cerita ini. Apalagi dengan suguhan traveling yang memikat. Setting benar-benar teras hidup dan tidak sekadar tempelan. Begitu pula dengan tokoh Kevin dan Tatiana.  Inilah yang menjadikan roh cerita jadi semakin menarik. Saya merasa semua  tokoh sudah mendapat porsi yang pas dalam cerita. Selain itu dengan banyaknya kejutan-kejutan yang dihadirkan Mbak Arumi, membuat cerita ini semakin menarik dan membuat penasaran.

Secara keseluruhan novel ini patut dibaca. Sangat menghibur dan juga memberi wawasan. Karena di sana pun kita jadi mengetahui beberapa sejarah Vietnam. Selain itu kita juga bisa belajar bagaimana menjadi diri sendiri di mana pun berada. Inilah yang saya tangkap dari sifat Tatiana. Dia tidak pernah malu untuk menjalankan ibadah, dan berani menegur jika ada  yang salah. 

“Apapun yang kamu makan dan minum, ingatlah jangan sampai berdampak buruk untuk orang lain dan dirimu sendiri.” (hal 131) 


Hanya saja, pada bagian-bagian akhir ada rasa kisah terlalu tergesa-gesa untuk diakhiri. Padahal menurutku itu adalah awal romansa yang lebih menggelitik. Mungkin saking sayangnya mau mengakhiri perjalanan baca novel ini. J Namun lepas dari kekurangan aku sangat menikmati kisah ini. Dan sayang banget buat dilewatkan.

Di antara quote yang aku suka adalah “Cobalah terus. Keberhasilan itu sering kali datang di usaha yang sudah lebih dari dua kali.”  (hal 150).  Di sini kita dingatkan untuk tidak mudah menyerah.




Srobyong, 4 November 2017 

Friday, 14 July 2017

[Resensi] Menjaga Cinta Sampai Halal

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 2 Juli 2017


Judul               : Hatiku Memilihmu
Penulis             : Arumi E
Penerbit           : Gramedia
Cetekan           : Kedua, Desember 2016
Tebal               : 245 hal
ISBN               : 978-602-03-3692-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Bisakah disebut cinta, jika tak ada rasa percaya? Bisakah disebut yakin, tanpa ada keikhlasan? (hal 89).

Masih bertema cinta, novel ini mengajak membaca untuk memaknAi cinta dengan lebih baik dan elegan. Di mana penulis mengingatkan bahwa yang terbaik dari cinta itu bukan dengan saling mengumbar sayang atau kemesraan. Namun jaga hati dengan erat, hingga pintu halal sudah berada dalam genggaman. 

Berkisah tentang Dara yang baru menyelesaikan studinya di New York.  Yang mana itu berarti, dia harus segera kembali ke Indonesia, untuk mengamalkan ilmunya. Dara ingin membanggakan kedua orangtuanya dengan bekerja di perusahaan ayahnya, sesuai dengan ilmu yang dia pelajari.

Namun, di sinilah masalahnya. Perjuangan hidup di New York telah mempertemukan Dara dengan berbagai teman yang luar biasa. Salah satunya Brad Smith. Lelaki yang entah kenapa memiliki tempat teristimewa di haritanya. Meski Dara tahu ... dia tidak boleh mengumbar rasa itu. Seberapa pun mereka dekat, mereka hanya sebatas  teman, karena  memang belum ada ikatan. 

Bagi Brad sendiri, kepergian Dara adalah pukulan. Karena berkat Dara, Brad memilih jalan yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Oleh karena itu ... dia sangat percaya, bahwa Dara memang ditakdirkan untuk dirinya. Sayang .... berkali-kali Brad mengajukan proposal untuk melamar Dara, agar gadis itu tetap berada di sisinya, nyatanya Dara belum siap.  Dia tidak bisa meninggalkan orangtuanya begitu saja.

“Aku sudah berkali-kali bilang, kalau ditakdirkan berjodoh, kita pasti akan bertemu lagi.” (hal 15).  Dara selalu meyakinkan itu kepada Brad, jika dia sungguh-sungguh mencintai Dara. Karena bagi Dara berbakti kepada orangtua adalah poin utama yang harus didahulukan. Dan jika memang Brad tidak bisa, maka dia akan berusaha ikhlas.

Selain Brad adanya Richard yang diam-diam juga menaruh hati pada Dara. Kepergian Dara juga menjadi kesedihan yang harus dia terima.  Jika Brad pasrah dengan kepergian Dara, maka tidak dengan Richard. Laki-laki itu nekat membuat lamaran pekerjaan di perusahaan yang sama di tempat Dara bekerja. Dia  masih ingin berjuang untuk mendapatkan hati Dara.

“Allah maha membolak-balik hati. Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Kalau  Allah sudah berkehendak, apa pun bisa terjadi.” (hal 26).

Kepergian Richard inilah yang kemudian mengusik Brad.  Ada perasaan tidak rela jika Dara berpaling mencintai Richard. Maka di sela-sela kesibukannya dalam tour musik, Brad memilih untuk ke Indonesia juga.  Namun ternyata semua tidak berjalan lancar sesuai rencana mereka.  Baik Richard dan Brad harus menerima bahwa saat itu ... Dara masih lebih mengedepankan karir daripada cinta.

Richard pun akhirnya menghormati keputusan Dara dan kemudian memilih menyibukkan diri dengan bekerja sebaik mungkin. Boleh saja dia patah hati, namun pekerjaan tetap harus dikerjakan dengan sepenuh hati.   Begitu pula dengan Brad, dia harus tetap menghormati keputusan Dara. “Jangan mencemaskan kelak kita akan bersatu atau nggak. Kalau saling mencinta karena Allah, kita harus yakin dengan ketetapan Allah.” (hal 43-44). 

Sebuah kisah yang apik dan menarik. Penulis memaparkan kisahnya dengan gaya bahasa yang memikat, sehingga dalam membaca pembaca akan ikut larut dalam cerita.  Dalam kisah ini, kita dituntut untuk belajar mengendalikan diri dan juga berusaha menjaga hati dengan baik.  Jangan sampai kita memilih jalan yang salah karena mengikuti hawa nafsu.

Hanya saja dalam kisah ini  konlifk terasa datar. Andaikata ada ada tokoh antagonis yang memiliki peran lebih besar—tidak hanya seperti tokoh yang menumpang lewat,  bumbu kisah ini, pasti akan lebih menarik.  Sayangnya Kathy sebagai tokoh antagonis di sini, tidak dieksplore dengan lebih detail dan hidup. Sedangkan keberadaan tokoh Lea, malah mendapat jatah porsi yang lebih banyak.


Namun lepas dari kekurangannya, membaca novel ini kita akan diajak mengenal tentang nilai-nilai religi yang inspiratif dan bisa dijadikan renungan.  Kita juga diajarkan tentang berusaha melepas masa lalu dengan sabar dan kuat demi meraih masa depan yang lebih baik.

Srobyong, 23 April 2017 

Wednesday, 5 April 2017

[Resensi] Usaha Bangkit dari Kisah Kelam di Masa lalu

Dimuat di Koran Pantura, Selasa, 21 Februari 2017 

Judul               : Love in Sydney
Penulis             : Arumi E
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, Mei 2016
Halaman          : vi + 234 hlm
ISBN               :  978-602-03-2857-7
Peresensi           :  Ratnani Latifah, Penikmat buku dan penyuka literasi Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulam Jepara.

Hidup nggak bisa diulang. Yang sudah terlanjur terjadi nggak bisa kita batalkan. Kita yang harus memutuskan, mau bangkit atau diam saja membiarkan diri tenggelam. (hlm. 101)

Hidup itu memang tidak  mudah. Setiap orang sudah pasti akan mengalami pasang surut. Ada suka ada duka. Kadang berada di atas kadang juga dibawa. Hanya saja kuat atau tidak dalam menghadapi ujian semua kembali pada pribadi masing-masing. Novel Love in Sydney menceritakan tentang dua sosok—Zach Mayers dan Maura Tafana yang mencoba lari dari masalah hidup yang tengah menerpa hingga takdir mempertemukan mereka di Sydney.

Zach sebelumnya tinggal di Adelaide bersama keluarga barunya. Namun kemudian dia memilih Sydney sebagai pelarian setelah dia menerima kenyataan bahwa sosok yang entah sejak kapan sangat disukainya-Aleska—adik tirinya, ternyata lebih memilih lelaki lain. Zach kecewa dan dia butuh ketenangan untuk mencoba move on, sekaligus membuktikan pada ayahnya bahwa dia bisa mandiri.  Sedang Maura memilih meninggalkan nama besar dan kehidupan yang mapan di Indonesia untuk bersembunyi dari  ketakutan masa lalu dan trauma.

Siapa sangka persamaan nasib mempertemukan mereka. Mereka bertemu dalam sebuah perjalanan setelah hujan. Zach  menuju kantornya sedang Maura mengantar sepupunya Shanon untuk ke sekolah (hal. 5).  Di sanalah kisah keduanya dimulai. Setelah pertemuan yang tidak sengaja itu, Zach mulai dekat Maura. Apalagi sejak Maura diusir tantenya karena dianggap lalai dalam menjaga Shanon.
“Kamu sudah melanggar kepercayaan yang aku berikan padamu. Kamu  harus belajar bertanggung jawab, Maura. Menanggung akibat kesalahanmu.” (hal. 37)

Dan entah sejak kapan keberadaan Maura bisa membuat Zach tidak lagi mengingat Aleska. Gadis itu memiliki sesuatu yang membuat Zach tertarik. Meski Zach sadar ada sesuatu yang disembunyikan Maura dengan segala tingkahnya yang kadang-kadang suka aneh jika bertemu dengan orang Indonesia.   Namun Zach bertekad untuk bersabar agar bisa merengkuh gadis itu.

Sampai kemudian Zach melihat sosok Maura dalam tampilan yang berbeda. Zach tidak menyangka kalau Maura memiliki seorang kembaran. Mereka sungguh mirip hanya saja kembaran Maura—Maghali itu berjilbab dengan sifat yang berbeda dari Maura (107).   Entah siapa yang nantinya akan diperjuangkan Zach dan rahasia apa yang disimpan Maura.

Membaca novel ini, selain diajak menyelami kisah manis antara Maura, Zach dan Maghali, pembaca juga diajak menyelami kepingan-kepingan misteri hidup Maura. Apa alasan dia lari ke Sydney dan takut untuk kembali jatuh cinta. Semua dipaparkan dengan gaya bahasa yang apik oleh penulis.  Selain menyuguhkan kisah cinta yang manis, penulis juga mendukungnya dengan setting tempat yang indah. Jadi seperti diajak jalan-jalan ke Sydney. 

Keunikan lain dari novel ini adalah penulis membubuhkan sisi religi yang cukup kental.  Banyak hal yang bisa dipelajari setelah membaca kisah ini. Misalnya tentang masalah shalat. Bahwa di manapun berada baik di tempat mayoritas atau minoritas kita harus melakukan shalat. (hal. 74) Atau tentang masalah pilihan berhijab dan  etika pacaran.  Semua dikemas dengan gaya bahasa yang renyah sehingga tidak terkesan menggurui. Meski tidak ada sesuatu yang sempurna, beberapa kesalahan dalam kepenulisan tidak mengurangi kenikmatan dalam membaca.

Dari buku ini dapat dipetik pelajaran  untuk selalu bersyukur. “Bersyukurlah kepada Tuhan. Dan tetaplah penuh harapan. Jangan lagi khawatir  dengan masa depanmu.” (hal. 75)  Serta mengajarkan agar jangan menjadi pribadi yang mudah menyerah. Kita harus menjadi seorang yang penuh semangat dan selalu berjuang keras dengan memiliki pikiran yang positif.  Masa lalu itu bukan akhir dari segalanya. Namun awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik.  “Kamu nggak akan maju kalau tetap berkubang dalam masa lalu.” (hal. 161) 

Srobyong, 27 September 2016 

Tuesday, 4 April 2017

[Resensi] Belajar Menghargai Perbedaan dari Novel

Dimuat di Koran Jakarta, Selasa 21 Maret 2017

Judul : Love in Montreal
Penulis : Arumi E 
Penerbit : Gramedia 
Tebal : 240 hlm 
Cetakan : Pertama, November 2016 
ISBN : 978-602-03-3460-8



Perbedaan agama tidak harus membuat kita rasis. Merasa paling benar dan memandang orang lain dengan pikiran pendek. Padahal seharusnya perbedaan itu harus kita rangkul, saling beriringan melengkapi agar tercipta sebuah kebahagiaan. “Hidup ini sesungguhnya indah, andaikan semua orang sebahagia ini, bebas dari rasa benci dan saling curiga, meluapkan rasa ingin berbagi kasih” (hal 103).
Novel ini meski berbau cinta, namun juga menanamkan banyak pembelajaran yang baik tentang bagaimana bersikap dalam menghadapi perbedaan agama dan budaya. Berkisah tentang perjalanan Maghali Tifani Safitri yang melanjutkan studi di Montreal dengan segala liku yang membuat hidupnya penuh warna—sedih, cemas, bahagia bahkan lelah.
Di Montreal, Maghali belajar di La Mode Collage, salah satu universitas bergengsi di sana. Ini adalah kesempatan emas yang tidak mungkin dia lewatkan. Karena dengan belajar di sana, dia bisa semakin matang dalam menekuni dunia perancangan busana. Khususnya merancang busana muslimah, cita-cita yang sudah sejak dulu ingin dia wujudkan. 
Maghali tahu Montreal tidak sebagaimana Indonesia yang mayoritas Islam. Di sana Islam adalah agama minoritas. Apalagi sejak adanya pengeboman di beberapa kota Eropa dan aksi-aksi teror yang mengatasnamakan Islam, membuat beberapa warga gelisah—terkena sindrom Islamphobia. Mereka takut dengan orang-orang pendatang baru khususnya yang berjilbab, karena dianggap sebagai ancaman. Yang pada akhirnya mereka membuat masalah dan melecehkan. 
Dan Maghali juga sempat merasakan itu. Dia pernah hampir tenggelam di salju karena diganggu oleh orang-orang yang tidak suka dengan Islam. “Agama kalian memerintahkan memusuhi kami, lalu sekarang kalian minta bantuan? No way! Pergi kalian dari sini.” Itu adalah cacian yang dilontarkan padanya. Atau saat akan memamerkan baju rancangannya, ada sekelompok orang yang tidak suka dengannya merampas dan membakar baju tersebut. 
Tapi Maghali memilih menghadapi semua dengan damai. Karena dia yakin tidak semua orang anti dengan Islam. “Seringnya orang pendatang—apalagi yang berjilbab suka disalahkan dan dilecehkan. Tapi aku percaya dengan tetap bersikap baik. Suatu saat mereka sadar, Islam yang sebenarnya membawa damai dan kebaikan. Teroris itu kriminal, nggak ada hubungannya dengan agama” (hal 19).
Dan benar saja meski ada beberapa oknum yang tidak suka dengan dirinya, masih banyak yang menyambut kedatangannya dan siap membantu dirinya jika kesulitan beradaptasi. Bahkan Maghali sudah diberi kesempatan ikut dalam fashion show mini khusus modest wear yang dia rancang.

Di acara itu akhirnya Maghali mengenal model cantik bernama Isabelle. Seorang model yang cuek namun baik hati, yang kemudian menjadi teman sekamar Maghali. Lalu ada juga Kai, seorang model juga dokter yang sangat peduli dengan sosial. Dan siapa yang sangka Kai ternyata juga memiliki darah campuran Indonesia, yang kemudian membuat Maghali dan Kai menjadi dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama dalam kegiatan sosial dan pernah juga dikenalkan dengan nenek Kai.
Kedekatan yang tidak sengaja itu pada nyatanya membuat hati Maghali berdebar-debar. Padahal dia tahu ada lubang besar yang tidak mungkin bisa dia dapat dari Kai yang Atheis. Novel ini dipaparkan dengan gaya bahasa yang ringan dan renyah. Kisah yang dipaparkan pun tidak hanya tentang cinta, namun disatupadukan dengan isu Islamphobia yang tengah marak di Eropa. 
Peresensi, Ratnani Latifah. Alumnus Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Thursday, 8 December 2016

[Tanya Penulis] Wawancara With Mbak Arumi E—penulis Love in Montreal


Alhamdulillah pengalaman tidak terduga itu ketika tiba-tiba dapat tawaran dari Mbak Arumi untuk ikut kegiatan promosi dari seri Around The World With Love batch 3. Wah, ini sesuatu banget. Jadilah aku ikut bergabung dengan para bloogger kece yang sudah malang melintang lebih dulu dalam kerjasama dengan penulis-penulis keren ini. J

Yah, aku berkesempatan dalam  Baca Bareng Around The World With Love batch 3. Yang biasanya disingkat ATWWL3.  Salah satu penulisnya ini Mbak Arumi. Dan senang lagi ketika dapat kesempatan bertanya-tanya soal kreatifitas selama menulis novel ini. 

Dan dari wawancara singkat ini, insya Allah banyak motivasi yang nantinya bisa kita petik. J Sebelum memasuki sesi tanya penulis, simak dulu, yuk biodata singkat sang penulis.

Biodata singkat penulis :

Arumi E. Lahir di Jakarta tanggal 6 Mei. Lulusan Arsitektur dari Universitas Trisakti Jakarta ini hobi melukis sepatu dan menulis cerita fiksi. Kurang lebih 50 cerpen karyanya telah dimuat di berbagai majalah nasional.

Tahun 2005 pertama kali cerpen remajanya dimuat di majalah remaja Aneka Yes!, berjudul “Kucing Misterius”. Setelahnya berturut-turut cerpen-cerpen remajanya yang lain dimuat di berbagai majalah remaja seperti Kawanku, Hai, Wonder Teen.

Tahun 2009 mulai menulis cerita anak dan dimuat pertama kali di majalah anak Kreatif, berjudul "Menculik Putri Matahari". Setelah itu berturut-turut cerita anak karyanya dimuat di Majalah Bobo, Majalah Irfan, Majalah Girls, Kompas Anak Minggu dan kumpulan dongeng Bobo serta kumpulan cerita Bobo. Sampai akhirnya kumpulan cerita anak karyanya terbit tahun 2012 berjudul “Zara Sang Detektif Cilik”.

Tahun 2011 mulai menulis novel. Novel pertamanya yang terbit berjudul "Saranghaeyo", merupakan novel cerita Korea, yang disusul judul lainnya yaitu : Symphony of Love, Four Seasons of Love, dan Sweet Sonata. Novel-novel tersebut terbit dengan nama pena Karumi Iyagi. Lalu menulis novel cerita Jepang berjudul "Sakura Wish" dengan nama pena Harumi Kawaii.

Baru pada tahun 2013 terbit novelnya dengan nama asli Arumi E. Di  antaranya : Cinta Bersemi di Putih Abu-Abu (Zettu), Tahajud Cinta di Kota New York (Zettu), Amsterdam Ik Hou Van Je (Grasindo), Jojoba (deTeens), Longest Love Letter (Grasindo)

Heart Latte adalah kumpulan cerpen karyanya yang disajikan unik. Terdiri dari 12 cerpen, satu di antaranya adalah cerpennya yang pernah terbit di Majalah Sekar.

Tahun 2014 ini terbit 5 novelnya : Hatiku Memilihmu (Gramedia Pustaka Utama), Cinta Valenia (Elex Media) dan Monte Carlo (Gagas Media), Unforgotten Dream (Elex Media), Pertemuan Jingga (Gramedia Pustaka Utama)

Tahun 2015 terbit dua novelnya : Eleanor (GPU), Merindu Cahaya de Amstel (GPU)

Tahun 2016 terbit Love in Adelaide (GPU), Love in Sydney (GPU)

Novelnya yang berjudul “Tahajud Cinta di Kota New York” akan difilmkan oleh MD Pictures.

Di waktu senggang senang menonton film romantis dan mendengarkan musik The Beatles.

Facts about Arumi :

·         Artis film favorit : Keira Knightley, Christian Bale, Benedict Cumberbatch, Tom Hanks, Robert de Niro karena aktingnya yang piawai dan Keanu Reeves, si tampan sejak lahir yang sampai sekarang tetap terlihat cute dan super ganteng, aktor yang satu ini membuatku kagum dengan kesederhanaan dan ketangguhannya menghadapi segala cobaan hidup.

·         Aktor Indonesia favorit :

- Nicholas Saputra. Suka dengan akting dan idealisme-nya, yang selalu bermain di film yang berkualitas dan bisa menggali karakternya walau nggak selalu film komersil. Paling suka melihatnya sebagai Rangga di film "Ada Apa Dengan Cinta?" dan menyimak aktingnya sebagai Soe Hok Gie dalam film "Gie". Selain itu karena Nicho lulusan arsitektur dan seorang petualang alam juga hobi fotografi. Pas banget dengan gambaran cowok dalam novel-novelku ^_^

- Reza Rahadian, aktor Indonesia yang sudah diakui kepiawaiannya berakting. Selalu sukses memerankan karakter apa pun dalam film-filmnya.

·         Komik favorit : Detektif Conan, Tintin, Asterix, Lucky Luke

·         Film serial favorit saat ini CSI Las Vegas. Ngefans berat dengan CSI Gill Grissom. Suka juga dengan Law And Order Criminal Intent

·         Novel favorit : Semua karya Agatha Christie dan semua seri Lima Sekawan karya Enid Blyton, juga kisah-kisah Sherlock Holme

·     Musik favorit : The Beatles dan karya-karya Iwan Fals terutama yang berjudul “Buku Ini Aku Pinjam”
·        Senang juga mendengarkan musik klasik dari gesekan biola dan ketukan piano.

Quotes favorit :
Paling suka bagian : "I am wise because i learn from my mistakes".
Yup, aku pernah salah. Dari kesalahanku itu, aku belajar bagaimana yang benar.
Semoga ke depan, aku bisa lebih baik dalam segala hal.
Let's move on.



Sumber info Blog Mbak Arumi.

Wah banyak sekali prestsi Mbak Arumi. Dan karya-karyanya juga banyak.  Sudah sedikit mengenal penulis kece ini, yuk langsung simak hasil tanya penulis.

https://www.facebook.com/rsrc.php/v3/y4/r/-PAXP-deijE.gifRatna : Pertanyaan umum nih, Mbak Arumi. Bagaimana proses kreatif penulisan Love in Montreal. Sejak ditulis, riset sampai terbit memakan waktu berapa lama? Dan adakah kesulitan tertentu ketika menggarap novel ini?

Arumi : Ide sudah dipikirkan sejak selesai menulis naskah Love in Sydney. Karena seri ini bukan naskah regular, bahkan kami sudah rencanakan akan menulis apa sejak awal tahun 2016 untuk seri Around The World With Love ini. Masing-masing penulis termasuk saya sudah punya rencana bahwa akan menulis cerita Love in Adelaide, Love in Sydney, kemudian ditutup dengan Love in Montreal.
Jadi sejak jauh-jauh hari semua bahan sudah disiapkan. Sinopsis, outline, draft, karakter-karakter, plot. Apalagi aku sengaja membuat trilogi. Jadi sejak awal menulis Love in Adelaide, aku sudah merencanakan secara garis besar akan menulis cerita seperti apa untuk trilogi ini. Sementara untuk proses mengetik dan merangkai kata-kata hingga menjadi naskah novel utuh memakan waktu satu bulan.

Ratna : Wow keren, jadi semua sudah disiapkan dan langsung menulis setelah novel sebelumnya terbit. Inspiring. Dan hanya makan waktu satu bulan. Empat jempol buat Mbak Arumi. Salut. J Pertanyaan kedua, nih. Adakah alasan khusus kenapa memilih Montreal sebagai setting cerita?

Arumi :  Sejak awal saya tertarik ingin menulis cerita dengan setting salah satu kota di Kanada. Karena ini belum disentuh oleh yang lain. Selain ada faktor sentementil juga kenapa saya tertarik dengan Kanada. Karena aktor favorit saya asalnya dari Kanada. Setelah itu saya mencari kota yang paling menarik di Kanada. Saya menemukan Montreal yang selain namanya eye ctaching, kota ini juga unik. Satu-satunya kota di Kanada yang memiliki dua bahasa resmi, Inggris dan Prancis. Juga sebagai kota yang memiliki penutur bahasa Prancis terbanyak di luar Prancis. Selain kotanya juga cantik. Masih banyak bangunan-bangunan ala Eropa peninggalan masa lalu. Modernitas berbaur dengan Eropa klasik, tepatnya, Prancis klasik. Selain itu berhubungan juga dengan ceritanya. Tokoh utama Maghali yang digambarkan sebagai desainer pakaian, lulusan sekolah mode. Dalam salah satu riset, saya menemukan ada sekolah mode di Jakarta yang punya hubungan dengan sekolah mode di Montreal. Sekolah mode itu bernama La Salle. Sekolah mode ini memiliki cabang di Jakarta yang bernama La Salle juga. Tapi karena ini cerita fiksi, maka sekolah mode La Salle itu saya ganti menjadi sekolah mode rekaan bernama La Mode.

Ratna : Oalah ternyata ada hubungannya dengan aktor favorit. J Tapi setuju sih, Mbak, nama Montreal memang eye ctaching dan unik. Trus,  kalau boleh tahu apa alasan Mbak Arumi menulis? Bagaimana cara membagi waktu antara menulis dan keperluan keluarga?

Arumi : Menulis awalnya karena hobi. Tapi sekarang menulis bagi saya adalah pekerjaan yang saya lakukan dengan professional, bukan lagi sekadar hobi. Saya harus bisa menyelesaikan tugas-tugas yang saya terima sesuai janji saya, karena ini adalah pekerjaan. Saya bekerja berdasarkan deadline yang sudah ditetapkan. Karena itu saya harus disiplin. Tidak ada masalah dengan keluarga. Toh saya masih sendiri, hanya perlu bertanggungjawab pada diri saya sendiri.

Ratna : Sip semangat Mbak terus menulis dan hasilkan karya yang luar biasa J. Sekalian buat promosi, Kenapa kita harus membaca Love In Montreal? Apa keunikannya?

Arumi :  Harus membaca Montreal karena cerita ini bukan hanya tentang kisah cinta. Tapi saya juga menyelipkan banyak makna kehidupan, Tentu dengan cara yang tidak menggurui. Tokoh-tokohnya saya buat tidak sempurna. Karena pada kenyataannya tidak ada manusia yang sempurna. Masing-masing punya permasalahan hidup. Bahkan seorang Maghali pun digambarkan dengan manusiawi. Bagaimana dia harus melawan perasaan menyukai seseorang, walau seseorang itu jauh dari kriteria calon suami yang baik menurut agamanya. Tapi dengan keyakinan bahwa seorang yang baik, pasti akan baik di tempatkan dalam keadaan apa pun, Maghali tetap memilih meyakini itu.

Ratna : Setuju kesempurnaan hanya milik Allah. Semoga bukunya laris manis Mbak ^^. Lanjut pertanyaan berikutnya. Apa sih yang ingin disampaikan dari novel ini kepada pembaca?

Arumi : Saya ingin menyampaikan pesan tentang hidup damai berdampingan dengan semua kalangan di tengah segala perbedaan. Saling menghargai, tetap setia saling membantu dan mendukung walau berbeda bangsa dan agama. Saling memahami keyakinan masing-masing, maka Insya Allah hidup menjadi damai. Karena sesungguhnya Allah menciptakan manusia berbeda-beda agar kita saling mengenal. Menolong dan peduli kepada orang lain bukan hanya karena sebangsa dan seagama, tapi karena sebagai sesama manusia. Pesan ini saya sampaikan melalui sikap tokoh Kai, yang memilih tidak beragama, tapi mau membantu pengungsi Suriah yang muslim. Dia tak peduli dengan segala perbedaan, dia bergerak hanya karena alasan kemanusiaan. Saya juga ingin menyelipkan pesan, walau tinggal di luar negeri seolah nyaman dan menyenangkan, negeri sendiri tetap yang terbaik. Saya selipkan juga sedikit tentang kepedulian saya pada orangutan Kalimantan. Jadi, selain memaparkan keindahan Montreal, melalui kisah ini, saya juga mengajak rekan pembaca untuk mengenal negeri kita sendiri. Satu per satu. Dalam kisah ini saya memilih Kota Sangatta.

Ratna : Wah banyak pesan yang disampaikan. Semoga pesan itu bisa diterima dengan baik oleh pembaca Mbak. Terakhir, dari kacamata Mbak Arumi, apa yang perlu dimiliki ketika ingin menjadi penulis? Dan bagaimana tips biar jadi penulis yang konsisten dan selalu produktif?

Arumi : Kemauan untuk belajar sampai kapan pun. Rajin membaca dan kemauan untuk melatih terus tulisannya. Saya sudah berlatih menulis sejak lama. Karya saya pertama kali dimuat di media berupa cerpen remaja di tahun 2005. Sudah sekitar 60 cerpen karya saya yang dimuat di berbagai media. Beberapa karya saya juga diterbitkan dalam bentuk antologi. Sekarang ini saya sudah menerbitkan 21 novel dan 2 kumcer serta 1 comic book. Tapi semua itu tidak membuat saya berhenti belajar. Minggu lalu saya masih mengikuti pelatihan penulisan, Karena buat saya, ilmu harus selalu dicari. Saya tidak puas dengan hasil tulisan saya. Karena saya sadar, tulisannya saya tidak akan pernah sempurna. Pelan-pelan saya selalu berusaha menulis lebih baik dari sebelumnya.

Tips untuk konsisten, kita bisa konsisten saat kita sudah merasa bertanggungjawab dengan apa yang kita kerjakan. Karena menulis bukan lagi sekadar hobi untuk saya, saya punya jadwal deadline yang harus dipenuhi. Itu adalah tanggungjawab saya. Untuk menunjukkan integritas saya, bahwa saya selalu mampu menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu. Agar kemudian yang memberikan pekerjaan menulis kepada saya, merasa puas dengan hasil kerja saya, lalu saya akan diberikan tugas lainnya.

Wah, benar-benar inspiratif sekali.  Bagaimana? Banyak sekali bukan yang bisa kita ambil dari perjuangan menulis Mbak Arumi. Yah, dalam menulis memang harus ada kemauan keras, mau belajar dan action.  Dan pastinya tidak mudah menyerah. Terima kasih atas waktunya ya, Mbak.  Salam sukses selalu buat Mbak Arumi. ^_^  

Mau berkenalan dengan Mbak Arumi , teman-teman bisa menyapanya di beberapa akun media sosial yang dimiliki.  Silakan add facebook-nya Arumi E./ facebook , follow Twitter @rumieko, dan instagram arumi_e/ instagram , google+ Arumi E./ google+ Subscribe youtube-nya Arumi E. youtube channel

Mau tahu lebih lanjut tentang karyanya bisa cap cus ke Goodreads.  Atau bisa kepoin Blog Mbak Arumi

Mau baca ulasan Love in Montrela bisa di sini
Srobyong, 8 Desember 2016