Showing posts with label Pastel Books. Show all posts
Showing posts with label Pastel Books. Show all posts

Friday, 30 November 2018

[Resensi] Kiat Meraih Kesuksesan dalam Membangun Bisnis

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 18 November 2018 


Judul               : Madesu : Masa Depan Sukses!
Penulis             : Danu Sofwan
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : Pertama, Februari 2018
Tebal               : 216 halaman
ISBN               : 978-602-6716-20-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Fall in love  with the process and the result will come. Bukan hasil akhir, tapi dengan menyabari proses, akhirnya akan berhasil.” (hal 9).

Menjadi orang sukses itu mimpi setiap orang. Kesuksesan akan membuat kita mudah dalam memenuhi berbagai kebutuhan dalam hidup. Akan tetapi, perlu kita cacat meraih kesuksesan  itu mudah. Perlu perjuangan keras, ketekunan, keulutan yang tangguh  serta tidak mudah putus asa.

Buku ini dengan gaya bahasa yang ringan, persuasif, lugas dan menarik, akan mengajak kita belajar tentang kiat sukses dalam berbisnis. Di sini kita akan belajar langsung dari  seorang  Founder dan CEO Randol—bisnis cendol yang sudah melebarkan sayapnya di berbagai kota di Indonesia. Ketekunan dan keuletan yang dilakukan Danu, telah menempatkannya menjadi salah satu pengusaha muda yang sukses di Indonesia.

“Keberhasilan sering datang bukan karena selalu melakukan hal benar, tapi dari rasa berani melakukan kesalahan untuk belajar! Jangan pernah berpikir untuk berhenti melakukan apa yang kita yakini. Karena di saat kita mampu mengendalikan pikiran, kita sedang diarahkan menuju keberhasilan.” (hal 21).

Langkah awal yang perlu kita miliki adalah dengan menemukan motivasi. Kalau dalam rumus Danu disebut rumus  MLM (multiple –Level Motivation). Di mana perlu kita sadari bahwa motivasi itu sesungguhnya memiliki kekuatan yang tersembunyi. Motivasi memiliki kekuatan untuk mendorong, membangkitkan, mengarahkan dan merangsang gairah seseorang untuk melakukan sebuah tindakan untuk mencapai sebuah tujuan. 

Motivasi Danu ketika ingin meriah kesuksesan adalah bisa membahagiaan ibu dan saudara-saudaranya. Sebagai anak laki-laki dia merasa bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, setelah bisnis ayahnya bangkrut dan sang ayah meninggal dunia. Tentu saja saat itu Danu hanyalah seorang anak ingusan yang belum berpengalaman. Dalam upayanya memulai bisnis, tidak sekali dua kali Danu gagal dan bahkan menjadi korban penipuan. Namun karena semangat juang dan motivasinya yang tinggi, dia berhasil meraih tujuan yang ingin dia capai.

Selanjutnya adalah percaya dengan kemampuan diri sendiri dan berani mengambil resiko. Membangun bisnis memang tidak mudah. Oleh sebab itu kita harus berani menciptakan peluang agar ide yang kita miliki bisa dikenal dan diminati banyak orang. Kita harus berani melangkah, untuk mengenalkan ide bisnis atau produk yang ingin kita pasarkan.  Ini pula yang pernah dilakukan Danu. Ketika dia berinisiatif membuka usaha cendol, dia sempat ditertawakan teman-temannya. Karena bisnis cendol sudah banyak dilakukan orang lain dan dianggap biasa saja.

Ketiga adalah tidak mudah putus asa. Kita pasti paham, bahwa dalam upaya membangun sebuah bisnis, tidak mungkin kita langsung meraih kesuksesan dalam sekali jalan.  Pasti ada masa jatuh bangun yang harus kita rasakan terlebih dahulu, hingga akhirnya kita bisa mencecap keberhasilan.  Begitu pula yang dihadapi Danu dan para pengusaha lainnya. Di sinilah sikap tidak mudah putus asa, sangatlah kita butuhkan.  Meski gagal, kita tetap bangkit dan tidak menyerah.

Tidak kalah penting adalah kita harus berani membuka mindset.  Sadar tidak sadar cara berpikir kita ini memiliki peran penting dalam meraih kesuskesan. Ketika kita memiliki pikiran yang positif, yakin bahwa kita mampu maka  itulah yang kita raih. Sebaliknya jika kita berpikir negatif, merasa tidak berhasil, maka kegagalan itulah yang akan kita raih. Oleh sebab itu dalam membangun sebuah bisnis, Danu memaparkan ada empat fase yang harus kita lalui.

Pertama fase memulai; artinya kita berani mengeluarkan ide kita kepada khalayak dan memulai bisnis itu sendiri. Kedua fase membangun; di sini kita dituntut untuk memiliki menjadi pribadi yang tidak mudah menyerag dan tidak kapok mencoba, meski pernah gagal. Selanjutnya fase sabar; saat menghadapi berbagai rintangan dalam membangun bisnis, maka kita harus sabar dan berjiwa besar. Dan terakhir fase bangkit; di sini kita berani mencipatakan sesuatu yang baru yang bisa bermanfaat untuk orang lain juga diri sendiri.

Dilengkapi dengan kisah-kisah inspriatif dari penulis juga pengusaha lainnya, buku ini sangat menarik dan menginspirasi.  Buku ini sangat patut dibaca bagi siapa saja yang ingin memulai berbisnis, agar bisa mengambil pengalaman dari Danu. Apalagi dengan qoute-quote positif yang akan membakar semngat kita. Salah satunya,  “Seorang pesimis selalu melihat banyak kesulitan di setiap kesempatan. Tapi sebaliknya, seorang optimis selalu melihat banyak kesempatan dalam kesulitan.” (hal 46).

Srobyong, 20 Oktober 2018

Tuesday, 20 November 2018

[Resensi] Sukses Membangun "Kerajaan" Bisnis Cendol

Dimuat di Koran Jakarta , Rabu 17 Oktober 2018


Judul               : Madesu : Masa Depan Sukses!
Penulis             : Danu Sofwan
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : Pertama, Februari 2018
Tebal               : 216 halaman
ISBN               : 978-602-6716-20-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Dulu Danu Sofwan bukan siapa-siapa. Namun dengan kemauan keras dan tidak pantang menyerah, sekarang dia terdaftar sebagai salah satu pengusaha muda sukses di Indonesia.  Dialah pendiri Randol—bisnis minuman cendol yang banyak meraup keuntungan.  Lebih dari 700 outlet tersebar di seluru Indonesia. Buku ini dengan bahasa yang lugas, persuasif dan mudah dipahami, akan mengajak kita untuk mengetahui lebih jelas tentang tips dan trik yang dilakukan Danu hingga dia, bisa sukses menjadi seorang pebisnis.

Pertama adalah dengan mempraktikkan  rumus MLM (Multi- Level Motivation).  Sebagaimana kita ketahui motivasi adalah kekuatan tersembunyi.  Motivasi memiliki dorongan yang bisa membangkitkan, mengarahkan, merangsang, dan mendongkrak gairah seseorang melakukan berbagai tindakan untuk mencapai tujuan. Sebagaimana yang dipaparkan Danu bahwa, “The best motivation is yourself.” (hal 25).

Sebelum Danu meraih kesuksesan, dia pernah berada pada titik yang paling rendah. Setelah usahanya ayahnya bangkrut, Danu harus menjadi kepala keluarga dan mengumpulkan uang untuk bertahan hidup.  Sepuluh kali dia berusaha membangun bisnis meski dengan modal sedikit, atau bahkan tanpa modal. Tetapi berkali-kali itu juga, dia  gagal dan bahkan sempat menjadi korban penipuan. Akan tetapi Danu tidak menyerah. Dia terus merangkak dan memotivasi dirinya sendiri untuk bangkit.  Tagline  madesu—masa depan suram, yang kerap menghantui pikirannya, dia jadikan motivasi tertinggi untuk mengalahkannya. Di mana dia mengganti kata suram menjadi sukses.

Kedua, jangan pernah takut gagal. Dalam membangun sebuah bisnis, kegagalan itu akan selalu adan sangat dekat. Tidak mungkin sebuah usaha dimulai dan langsung melejit sukses. Bahkan Thomas Alva Edison gagal berkali-kali sebelum akhirnya dia sukses menciptakan lampu bohlam pertama di dunia.  Hal itu pula yang pernah dialami Danu.  Dia gagal berkali-kali dalam membangun bisnis. Namun kegagalan itu tidak pernah membuat semangatnya surut. Dia mempraktikkan tiga hal, agar dia terus melangkah maju.  Dia menyingkatkanya  POC, yaitu : Passion (hasrat), Oppurtunity (peluang) dan Chance (kesempatan).

Di sini Danu sangat menyadari bahwa dia memiliki passion yang kuat untuk membangun sebuah bisnis cendol. Dia ingin menjadi seorang entrepreneur. Oleh sebab itu dia selalu semangat. Karena dia menyukai dan menikmati apa yang tengah dia kerjakan. Sebagaimana yang sering Steve Jobs katakan, “Satu-satunya jalan untuk menghasilkan karya yang hebat adalah dengan mencintai apa yang kamu kerjakan.” (hal 41).

Selain passion, Danu juga memanfaatkan peluang yang ada. Danu selalu meyakini bahwa selalu ada kesempatan bagi siapa saja untuk meraih kesuksesan. Untuk itulah dia terus berusaha  melakukan yang terbaik dalam membangun bisnis.  Dia tidak peduli ketika ide berbisnis cendol yang sempat dipandang sebelah mata dan ditertawakan teman-temannya. Danu lebih memiliki tetap bergerak untuk mewujudkan impiannya itu. Tentu saja Danu melakukan berbagai riset data sebelum akhirnya benar-benar memulai usahanya. Dan hasilnya bisa kita lihat sekarang. Bisnisnya maju dan mengantarkannya menjadi pengusaha muda yang sukses.

Terakhir adalah peluang.  Banyak yang punya kemampuan, tapi banyak juga yang tidak punya kesempatan.  Yang pasti orang-orang berhasil adalah mereka yang tidak pernah sekali pun menunggu kesempatan datang, tapi mencoba mencari bahkan menciptakannya. Seperti quote klasik, “Seorang pesimis selalu melihat banyak kesulitan di setiap kesempatan. Tapi sebaliknya, seorang optimis selalu melihat banyak kesempatan dalam kesulitan.” (hal 46).

Inilah yang dilakukan Danu. Dia menyadari bisnis jualan cendol sudah banyak di mana-mana.  Bahkan mirisnya cendol kerap hanya dikenal sebagai minuman pinggiran. Oleh karena itu Danu perlu membuat sesuatu yang unik dan berbeda dari minuman cendol sudah pernah ada. Setidaknya dia harus mengangkat minuman cendol  ke pasar modern Indonesia.  Dia pun mulai melakukan konsep, mulai dari membuat nama brand yang ear catchy, membuat packaging yang fresh, membuat logo yang menarik, fleksibel dan futuristik (hal 110).

Selain yang sudah dipaparkan, dalam buku ini dijelaskan juga agar kita membuka mindset dan membangun aset. Di mana pada fase ini kita akan dihadapkan pada empat tahap yaitu, fase memulai, fase membangun, fase  sabaran dan fase  bangkit. Inilah di antara tips dan trik yang pernah dilakukan Danu dalam meraih kesuksesan. Buku ini akan sangat membantu dan memotivasi bagi siapa saja yang ingin meraih kesuksesan.

Srobyong, 10 Oktober 2018 

Tuesday, 2 October 2018

[Resensi] Menghadapi Berbagai Masalah dengan Bijak

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 26 Agustus 2018 



Judul               : Arjuna & Kirana
Penulis             : Pricilia Chang
Penerbit           : Pastel Boosk
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 352 halaman
ISBN               : 978-602-6716-19-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Hidup tidak mungkin tanpa masalah, karena hidup memang tempatnya masalah. tinggal bagaimana kita menyikapinya, “Bukan hidup namanya jika tidak ada cobaan.” (hal 80).  Dan masalah itu hadir tidak pandang bulu. Bagi bagi orang yang sudah berkeluarga atau single. Baik itu dialami orang  dewasa, anak-anak juga remaja yang masih mengenakan seragam abu-abu. 

Dan konon masa putih abu-abu  itu masa yang paling  seru dan menarik. Masa di mana gejolak jiwa muda kita tengah bergelora. Masa di mana kita butuh pengakuan juga ajang pencarian jati diri. Mengambil sudut pandang dunia remaja, Pricilia Chang berhasil menghidupkan tokohnya dengan apik dalam kisah ini. 

Memang dunia remaja dan cinta itu tidak akan ada habisnya untuk dibahas. Selalu ada kisah dan cerita yang menarik dan unik. Meski pun sedikit banyak kita sering menemukan tema serupa, nyatanya setiap penulis memiliki khas sendiri dalam eksekusi cerita, sehingga cerita-cerita yang ada tidak pernah sama.   Begitu pula dalam kisah ini.  Tidak jauh dari masalah cinta dan persahabatan yang menjadi bumbunya.

Mengisahkan tentang Arjuna dan Kirana. Mereka memang satu kelas dan bahkan tinggal di kompleks perumahan yang sama. Namun nyatanya mereka tidak terlalu kenal bahkan tidak pernah saling sapa. Hingga di hari yang konon menurut para remaja, paling romantis—valentine—sebuah kisah bermula, hingga berbagai masalah mulai timbul. Dan mereka harus menyelesaikannya agar tidak ada yang seorangpun terluka.

“Ada tiga hal penting yang tak dapat dilihat, tetapi dapat dirasakan. Udara, sinyal Wi-Fi dan cinta.” (hal 24).

Kirana adalah tipe cewek cuek dan tidak terlalu memikirkan hubungan bernama pacaran.  Lalu suatu hari karena sahabatnya Jelita, meminta tolong sesuatu yang membuat dunia Kirana jungkir balik dalam seketika. Jelita meminta bantuan Kirana untuk memberikan sebuah cokelat pada Arjuna, agar diberikan pada Harris—sahabat Juna. Di sinilah akar masalahnya, karena jarang berbicara pada cowok, Kirana jadi grogi dan berahkhir sebuah kesalafahaman. Demi meluruskan kesalahfahaman itu, Kirana menghubungi Arjuna untuk menjelaskan pokok masalah, yang berakhir dengan jalan-jalan romantis dengan cowok itu.

Pada titik tersebut, siapa sangka setitik rasa tiba-tiba sudah merebak begitu saja. Percakapan awal yang bermula dari tidak disengaja, kini berlanjut begitu saja. Meskipun percakapan itu hanya menjadi rahasia di antara mereka. Mereka membangun dunia sendiri yang tidak pernah diketahui orang lain.

Namun bisakah seseorang menyimpan rapat sebuah rahasia? Karena sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.  Akhirnya baik Arjuna dan Kirana mulai berani menampakkan kedekatan mereka di depan umum.  Di mana akibat dari keterbukaan itu,  seseorang langsung berang.
Semua orang di sekolah tahu, Rasita sejak awal sudah membidik Arjuna. Dia ingin Arjuna hanya menjadi miliknya. Apalagi mereka memang sudah dekat dan bersahabat sejak SMP. Lalu melihat kenyataan Arjuna lebih memilih Kirana  yang baru dikenal. Belum selesai dengan kemarahan Kirana, Nevan sahabat Arjuna, ternyata juga memiliki rasa terhadap Kirana. Bagaimana Kirana dan Arjuna menyelesaikan masalah, agar tidak ada kesedihan juga pertengkaran di antara mereka. Karena  seharusnya cinta  tidak harus membuat persahabatan hancur.

Secara keseluruhan novel yang merupakan “The Wattys Winner for Visual Storytelling” ini menarik untuk diikuti. Penulis bisa membuat pembaca penasaran dengan kisah ini dari awal hingga akhir. Penulis mampu menggiring pembaca agar menyelesaiakn novel ini hingga khatam. Meski untuk beberapa bagian ada yang belum terasa konsisten. Tapi lepas dari kekurangannya novel ini bisa jadi teman baca yang seru.

Dari novel ini saya belajar tentang arti pentingnya menjaga lisan, “Ujung lidah lebih tajam daripada  ujung pisau.” (hal 289). Selain itu kita diajari untuk jujur baik pada orang lain juga diri sendiri. Karena ketidakjujuran hanya akan membuat orang lain terluka.
Srobyong, 11 Maret 2018

Wednesday, 22 August 2018

[Resensi] Memahami Konsep Rezeki Halal dan Berkah

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 3 Agustus 2018


Judul               : Aplikasi Pencari Rezeki
Penulis             : Wusda Hesta & Achi TM
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 208 halaman
ISBN               : 978-602-6716-13-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Manusia hidup di dunia tentu saja membutuhkan rezeki. Dan sudah pasti setiap orang ingin memperoleh rezeki yang berlimpah, agar bisa menikmati hidup yang berkucukupan. Hanya saja bagaimana caranya agar kita bisa memperolehnya—rezeki berlimpah, lagi halal dan berkah? Buku ini dengan paparan yang renyah dan aktual, mengajak kita memahami tentang konsep rezeki berdasarkan nilai dalam Islam.

Pertama kita harus yakin bahwa Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Jangan sampai kita merasa ragu dengan karunia-Nya. Contoh nyata kebiasaan yang sering kita lakukan adalah, kita memang percaya dengan kuasa Allah, namun di sisi lain kita juga sering ragu akan kekuasan tersebut. Kita selalu diliputi rasa takut tidak akan memperoleh rezeki—kehabisa uang, kita takut berbagi karena beranggapan jika berbagi akan membuat hati berkurang dan ketakutan yang lainnya.

Padahal  ketakutan itulah yang malah membuat rezeki kita terbatas,  sulit untuk bertambah.  “Gaji itu diatur manajemen manusia, sedangkan rezeki diatur Yang Mahakuasa.” (hal 11). Oleh karena itu, kepercayaan pada Allah itu sangat penting kita miliki. Dengan berserah dan mempercayakan semua hasil kerja kita pada Allah, rezeki tidak terduga malah bisa datang sewaktu-waktu—misalnya ketika kita benar-benar membutuhkan.

Menanamkan sikap syukur juga menjadi salah satu hal yang harus kita lakukan. Berapa pun rezeki yang kita dapat—besar atau kecil—ketika mau bersyukur, maka hati kita akan lapang dan hidup akan tenteram. Sebaliknya jika sering mengeluh, meski kita memiliki rezeki melimpah, yang ada kita masih terus merasa kurang.

Tidak kalah penting yang harus kita perhatikan dalam mencari rezeki adalah ilmu—yang artinya kita harus mengetahui tentang tatacara mencari rezeki yang baik sesuai dengan jalan yang diridai Allah.  Dengan begitu rezeki yang kita dapat akan menjadi berkah. Jangan sampai kita mencari rezeki lewat jalan haram, yang pada akhirnya akan membuat kita rugi.

“Kalau kita mencari rezeki dengan ilmu yang baik, pasti kita akan menemukan rezeki sesuai dengan pilihan kita.  Ketika kita mencari rezeki dengan cara halal, kita akan mendapatkan hasil yang halal, lebih berkah, dan lebih mengenyangkan ketika dimakan. Harga diri terjaga dan jauh dari hinaan. Sebaliknya, ketika kita mencari rezeki dengan cara haram, sudahlah besar resikonya.” (hal 27).

Perlu kita ketahui, anak yang dibesarkan dengan uang halal, belum tentu mempunyai kepribadian yang baik. Apalagi jika anak yang dibesarkan dengan uang haram. Itulah kenapa dalam mencari rezeki kita harus berhati-hati.

Selanjutnya meski kita memahami konsep bahwa rezeki setiap orang sudah diatur oleh Allah, kita tetap tidak boleh berdiam diri saja. Kita harus bekerja dengan giat sesuai dengan kemampuan kita. Karena tentu saja tidak mungkin rezeki akan datang sendiri tanpa adanya usaha dari kita, melalui bekerja. “Rezeki itu ada di tangan Allah dan sudah disiapkan di setiap persimpangan yang akan kita lewati. Kalau kira tidak jalan-jalan dan hanya di rumah, mana pernah kita akan bertemu persimpangan untuk mengambil rezeki?” (hal 66).

Dan yang tidak boleh kita lupakan dan sepelakan adalah mau bersedekah. Memang benar jika kita telaah sesuai logika, saat kita memberikan sebagian harta pada orang lain, maka harta kita akan berkurang. Namun dalam konsep di mata Allah tentu berbeda. Semakin banyak kita bersedekah, maka semakin berlimpah potensi rezeki kita. Karena Allah sudah menjanjikan melipat gandakan pahala bagi siapa saja yang mau bersedekah dengan ikhlas kepada Allah. Selain itu dengan memperbanyak berbagi, rezeki pun menjadi berkah.

Selain apa yang sudah dipaparkan di sini, tentu saja masih banyak pembahasan menarik lainnya di buku ini. Seperti kenyataan bahwa rezeki itu bukan hanya berupa uang atau harta, namun kesehatan juga keluarga utuh dan banyak lagi. Buku ini sangat patut dibaca, sebagai bahan pelajaran tentang bagaimana cara memperoleh rezeki melalui konsep nilai dalam Islam. 

“Taburkanlah suatu pikiran, maka kamu akan menuai perbuatan. Taburkanlah suatu perbuatan, maka kamu akan menuai kebiasaan. Taburkanlah  suatu kebiasaan, maka kamu akan menuai karakter. Taburkanlah karakter, maka kamu akan menuai takdir.” (hal 176).

Srobyong, 17 Februari 2018

Saturday, 28 July 2018

[Resensi] Mengajarkan Makna Cinta dan Kemanusiaan

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 15 Juli 2018


Judul               : Lafaz Cinta
Penulis             : Sinta Yudisia
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : Pertama, Februari 2018
Tebal               : 340 halaman
ISBN               : 978-602-6716-26-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Buah yang baik tumbuh di cabang yang baik, cabang yang baik tumbuh di pohon yang baik, pohon yang baik tumbuh dari akar yang baik. Baik awalnya, baik pula akhirnya.” (hal 329).

Apa yang kita tanam itulah nanti yang akan kita petik.Karena Allah membalas sesuai dengan apa yang dilakukan hamba-Nya. Oleh karena itu, ada baiknya kita selalu menanam kebaikan. Semoga dengan begitu, kebaikan pula yang akan kita petik di kemudian hari. Tidak jauh dari masalah cinta, persahabatan, kemanusiaan, moral dan juga peperangan, novel dengan setting Netherland ini, akan membuat kisah jatuh cinta dengan kisahnya.

Menceritakan tentang Seyla—gadis Indonesia yang memilih melanjutkan pendidikan ke kota Groningen, karena terluka.  Seyla terlalu sedih jika harus mengingat pengkhianatan yang telah dilakukan Zen, kekasihnya. Dia sungguh tidak menyangka, laki-laki yang selama ini menjadi kekasihnya, tega menikamnya dari belakang. Dengan alasan demi berbakti kepada orangtua, Zen memutuskan Seyla dan menikah dengan Lila.

Di kota cantik itu-lah, Seyla berusaha menghapus lukanya. Dia ingin melupakan semua dan memulainya dengan hal-hal yang baru. Dia menyibukkan diri dengan perkuliahannya di Rijksuniversiteit Groningen atau lebih terkenal sebagai Academie Gebouw (hal 17), serta menyibukkan diri dengan kerja paruh waktu dan seni. Bersama dua sahabat barunya—Judith dan Barbara, Seyla merasa sedikit terhibur.

Namun pertahanan yang sudah susah payah dia bangun itu, tiba-tiba luruh ketika Pangeran Karl van Veldhuizen—putra makhota kerajaan Belanda muncul. Laki-laki itu berhasil membuat gejolak aneh di hati Seyla. Pangeran seolah memberi perhatian lebih pada Seyla. Mereka pernah menikmati perjalanan manis berdua, juga sering berkirim e-mail untuk saling berdiskusi. Di sinilah masalahnya, Pangeran Karl sudah memiliki tunangan, putri dari Belgia—Putri Constante Martina du Barry (hal 43). Seyla merasa dilema. Di satu sisi dia menikmati kedekatannya dengan pangeran, di sisi lain dia merasa bersalah pada Putri Constante. 

Selain membahas tentang masalah cinta Seyla yang rumit, ada pula pertemuan Seyla dengan muslimah asal Chechnya bernama Saule.  Pertemuannya dengan Saule, membawanya pada pengalaman tidak terduga. Dari Saule dia belajar tentang arti persahabatan, dia belajar bagaimana memaknai cinta, serta bagaimana menjalani hidup dengan tegar. “Jangan sampai membuang-buang waktu dengan menyesali segala yang terjadi di belakang punggungmu.” (hal 111).

Bersama Saule pula, Seyla ikut berperan aktif dalam masalah sosial dan kemanusian. Mereka bahu membahu mengelola lembaga yang memberikan bantuan kepada negara-negara korban peperangan, seperti Chechnya dan Bosnia (hal 269). Di sini dia menyadari bahwa peperangan pada akhirnya hanya akan menimbulkan luka dan kepedihan bagi banyak pihak.

Novel ini sangat membius. Kita akan dibuat penasaran bagaimana akhir kisah cinta Seyla. Apa yang dia lakukan dengan perasaannya? Membiarkannya tumbuh atau menghapusnya. Di sini kita akan dikejutkan dengan ending yang tidak terduga. Menarik dan memikat. Penulis unggul dalam mengeksekusi setting cerita, hingga terasa sangat hidup. Gaya bahasanya pun tidak membosankan dan renyah.

Selama membaca novel ini kita akan menemukan banyak sekali pembelajaran hidup. Misalnya saja tentang saling menghargai perbedaan. Hal ini nyata terjadi melihat hubungan Seyla yang bertemu banyak orang-orang dengan adat dan budaya yang berbeda. Kemudian kita bisa belajar arti cinta yang sesungguhnya.  “Cinta bukan sekadar bicara rasa. Tapi juga bicara tanggung jawab, dan norma.”(hal 226). Tidak ketinggalan, melalui kisah ini, kita belajar hal-hal mendasar soal kemanusiaan—yang terlihat dari sikap Seyla dan teman-temannya aktif membantu korban peperangan, serta menjadi pribadi yang selalu cinta tanah air, selalu sabar dan ikhlas ketika mendapat cobaan.

Ini adalah novel religi apik yang bahasanya tidak menggurui. Beberapa kekurangan yang ada dalam novel ini, tidak mengurangi keseruan cerita juga esensi yang ingin disampaikan penulis.  Dengan cover yang manis, novel ini recomended untuk dibaca.

Srobyong, 5 Mei 2018

Wednesday, 13 June 2018

[Resensi] Batas Antara Benci dan Cinta

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 3 Juni 2018 



Judul               : Amor Est  Poena (Love is Punishment)
Penulis             : Stephanie Budiarta
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 340 halaman
ISBN               : 978-602-6716-17-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Cinta  yang sesungguhnya itu ikhlas memberi tanpa pernah meminta balasan. Bukan memikirkan bagaimana cara memiliki seseorang, melainkan bagaimana cara untuk membahagiakan orang yang berarti bagi kita.” (hal 228).

Persahabatan dan cinta, selalu menarik untuk dikupas. Meski banyak tema serupa yang ada di pasaran, kedua tema tersebut, selalu laris dan ditunggu para pembaca. Eksekusi berbeda yang ditawarkan setiap penulis, membuat para pembaca tetap setiap menunggu kisah yang ditawarkan. Begitu pula dalam novel ini, dengan keunikan tersendiri novel ini hadir dengan kisah segar yang menarik untuk diikuti.

Fara bersahabat dengan Willy di masa SMA. Namun masalahnya, Fara jatuh cinta setengah mati pada Willy, hingga Fara nekat untuk mengutarakan perasaan. Tapi siapa sangka dengan tega dan bengis, Willy menolak Fara mentah-mentah.  Tidak hanya itu, Willy juga membuat Fara terluka dengan kata-kata dan sikapnya yang kasar. Hingga akhirnya persahabatan mereka pun berakhir juga.

Hingga beberapa tahun kemudian, mereka dipertemukan lagi dalam lingkungan kerja. Meski sempat terkejut, baik Fara atau Willy tetap berusaha profesional. Mereka mengesampingkan masa lalu dan berusaha bekerja dengan baik. Lagipula  Fara sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak terjebak kembali pada masa lalunya.

Bersamaan dengan itu, kehidupan Fara semakin berwarna dengan kehadarian Nando. Laki-laki itu tiba-tiba masuk dalam kehidupan Fara dengan sejuta usaha untuk menaklukkan hati Fara. Baik dengan cara biasanya, hingga cara-cara aneh yang bikin lucu, sebal juga deg-deg-an. “Kita jatuh tanpa alasan, bahkan tanpa rencana. Datang cinta tak pernah ditebak itulah cinta.” (hal 55).

Di sisi lain, siapa sangka, ketika melihat kedekatan antara Fara dan Nando, mendadak Willy merasa tidak terima. Dia sebal dan marah.  mendadak Willy ingin memiliki Fara. Dia bertekad akan mengungkap sebuah rahasia yang membuat dirinya memilih menyingkirkan Fara di masa lalu.  Tapi bagaimana pendapat Fara sendiri? Siapa yang akhirnya dia pilih? Apakah sosok di masa lalu yang pernah menyakitinya, atau sosok baru selalu ada untuknya?

“Hidup selalu dihadapkan pada pilihan. Begitu pun dengan cinta, kelak kau harus memilih dengan siapa hatimu akan berlabuh.” (hal 122).

Menggunakana gaya bahasa segar dan pop, membuat kisah ini segar dan mudah dipahami. Lucu dan seru. Kita akan dibuat sebal dengan sikap Fara yang kadang plin-plan, juga sebal dengan sikap Willy yang sok menguasai dan egois, serta sikap Nando yang selalu mengalah. Tapi di sinilah keseruannya. Ada tarik ulur yang membuat kita tidak mau berhenti membaca, sampai tahu siapa yang akhirnya dipilih Fara.

Meski ada beberapa kesalahan tulis  dan salah dalam pemakaian sudut pandang (hal 241), hal itu tidak mengurangi keseruan cerita yang ditawarkan penulis. Secara keseluruhan novel ini menarik. Saya juga suka cover yang terlihat artistik dan mengundang rasa penasaran.  Dari novel ini saya belajar  untuk tidak lari dari masalah, jangan terjebak pada masa lalu.

Srobyong, 10 Mei 2018 

Friday, 8 June 2018

[Resensi] Potret Remaja yang Tidak Mudah Menyerah Meraih Mimpi

Dimuat di Kabar Madura, Rabu 30 Mei 2018



Judul               : 17 Tahun Itu Bikin Pusing!
Penulis             : Maya Lestari GF
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 220 halaman
ISBN               : 978-602-6716-08-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Mengambil tema remaja, novel ini termasuk kategori ringan. Gaya bahasanya sederhana, sehingga asyik dibaca tanpa perlu berpikir keras. Eksekusi cerita pun tidak diragukan lagi. Manis dan menghentak. Penulis asal Padang yang memang sudah memiliki jam terbang tinggi dalam karir menulisnya, menghadirkan kisah yang sederhana, namun sangat menyentuh dari berbagai sisi. Dalam buku ini kita akan dihibur dengan kisah perjuangan para remaja yang ingin diakui kemampuannya. Tentang mimpi, persaingan, jurnalistik, persahabatan, dan tidak ketinggalan bumbu cinta yang semakin membuat kisah ini seru.

Bagi Andriana Tasanee—atau kerap dipanggil Nana—menjadi pemred Majalah Finia di sekolahnya, Visi Andalas adalah mimpinya sejak SMP. Karena dengan menduduki jabatan itu berbagai kesempatan emas akan dia dapat. Dari acara bergengsi  seperti festival film, sastra, sampai aneka kegiatan remaja berprestasi. Bisa mengikuti forum editor di Sumbar. Serta tidak ketinggalan adalah jabatan itu bisa membuka pintu masuk Perguruan Tinggi terkemuka di negeri ini (hal 11).

Untuk mendapat jabatan itu, dia harus bersaing dengan Amanda Rusli. Sosok yang sejak awal tidak pernah dia sukai, karena gadis itu selalu menempel pada Sani, sahabatnya—yang diam-diam Nana sukai. Nana yang awalnya sudah sangat yakin bahwa dirinya akan menjadi pemenang, ternyata kenyataan yang ada malah sebaliknya.  Dia kalah. Amanda-lah yang terpilih sebagai pemred Majalah Finia.

Kenyataan itu tentu saja membuat Nana kecewa. Apalagi dia tahu bahwa sahabatnya, Sani ternyata lebih memilih memberikan hak suaranya pada Amanda dibanding dirinya. Di sini Nana merasa dikhianati. Tapi tetap saja dia tidak bisa mengubah keputusan yang ada.

Tidak hanya gagal menjadi pemred, karena kejadian yang tidak terduga, Nana harus menerima detensi membersihkan toilet, dan bahkan masuk di Finia sebagai siswi paling malang dan berakhir dimusuhi seantero sekolah.  Dia dinggap sebagai orang yang tidak bisa menerima kekalahan dan iri dengan prestasi Amanada.

Beruntung dia memiliki sahabat seperti Sonia, yang selalu setia dan terus memberi dukungan pada Nana. “Orang-orang hebat selalu menemui masa-masa gelap dalam hidupnya. Dikalahkan. Ditinggalkan. Tapi, yang bikin mereka beda adalah enggak berhenti. Mereka tetap berjuang mencapai cita-cita. Semakin kuat dijatuhkan ke lantai, semakin tinggi pantulannya. Enggak usah pikiran kata orang. Fokus saja ke impianmu.” (hal 60).

Selain itu ada pula kakaknya, Rifat yang tidak segan memberi nasihat pada adiknya agar mau intropeksi diri. Belajar dari berbagai kejadian yang telah menimpanya dan  mulai memperbaiki diri.

“Satu-satunya cara untuk berhasil adalah dengan menaklukkan diri sendiri. Buatlah prestasi setinggi mungkin, tapi tetaplah rendah hati! Jangan harap kamu bisa sukses suatu hari nanti, jika kamu selalu keras kepala. Bagaimanapun, orang-orang berhasil selalu punya ciri khusus : rendah hati dan enggak kenal kata menyerah.” (hal 87-88).

Pada titik itu, akhirnya Nana mulai membuka pikirannya. Dia mulai berdamai dengan diri sendiri dan siap berjuang lagi demi meriah impiannya—tetap menulis dan bergelut dalam dunia jurnalistik. Meski tanpa Finia dia masih bisa menunjukkan kemampuanya. Meski pada jalan itu, Nana masih harus berhadapan dengan Amanda. Karena entah kenapa gadis itu selalu berusaha menghalang-halangi jalan Nana.  

Apik, menarik dan menginspirasi. Diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, membuat saya ikut merasakan bagaimana posisi dan perasaan Nana. Settingnya pun apik dengan latar sekolah Visi Andalan yang luar biasa. Dan bisa saya bilang novel ini sangat manusiawi. Karena dalam kisah ini penulis tidak membuat tokoh utama sebagai sosok yang sempurna.  Dan untuk bumbu cinta di sini, meski sangat  standar tapi tetap  bikin gregetan.

Membaca novel ini saya banyak belajar tentang dunia jurnalistik. Selain itu saya belajar untuk menjadi pribadi yang sabar dan bisa menahan diri. “Orang hebat  adalah orang yang bisa menahan amarah. Orang yang tetap bisa berpikir jernih saat keadaan tidak berjalan seperti yang diharapkan.” (hal 129).  Selain itu dari kisah ini, kita diajari untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dalam meraih cita-cita. Kita harus yakin selalu ada jalan untuk meraihnya, jika kita mau berjuang.

Srobyong, 20 Februari 2018 

Monday, 16 April 2018

[Resensi] Agar Rezeki Halal dan Berkah

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu April 2018 


Judul               : Aplikasi Pencari Rezeki
Penulis             : Wusda Hesta & Achi TM
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 208 halaman
ISBN               : 978-602-6716-13-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Setiap orang sudah pasti ingin memperoleh rezeki yang banyak. Karena dengan begitu, kehidupan mereka bisa dijamin enak dan hidup bahagia karena semua tercukupkan. Oleh sebab itu banyak orang yang bekerja keras demi kelancaran rezeki. Bahkan ada pula yang sampai melalukan pekerjaan yang dilarang dan diharamkan agama. Padahal rezeki lancar saja tidak cukup menjadi jaminan hidup seseorang. Jika ingin memperoleh rezeki yang lancar maka kita juga harus memerhatikan cara memperolehnya—dalam artian harus halal, sehingga rezeki itu bisa menjadi berkah.

“Kalau kita mencari rezeki dengan ilmu yang baik, pasti kita akan menemukan rezeki sesuai dengan pilihan kita.  Ketika mencari rezeki dengan cara halal, kita akan mendapatkan hasil yang halal, lebih berkah dan lebih mengenyangkan ketika dimakan. Sebaliknya, ketika kita mencari rezeki dengan cara haram, sudahlah besar resikonya.” (hal 27).

Perlu kita sadari keberhakan rezeki itulah yang akhirnya akan membuat kita merasa cukup dan selalu bersyukur kepada Allah. Dan ketika kita selalu bersyukur maka kita pun akan selalu merasa bahagia. “Syukuri, jalani dan nikmati setiap proses hidup ini. Itulah kunci kebahagiaan.” (hal 39).

Agar rezeki kita halal dan berkah, maka yang perlu kita lakukan adalah bersikap selektif dalam memilih pekerjaan terlebih dahulu.  Meski gaji yang akan kita terima sedikit, yang terpenting pekerjaan itu halal. Jangan karena diburu ingin memperoleh banyak uang, kita menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Kita harus ingat, “gaji itu diatur manajemen manusia, sedangkan rezeki  diatur yang Mahakuasa.” (hal 41).

Perlu kita sadari  juga, hasil yang kita peroleh itu sesuai dengan apa yang sudah kita usahakan. Dalam usaha memperoleh rezeki, kita tidak boleh berpangku tangan karena alasan takdir.  Memang benar takdir manusia sudah diatur oleh Tuhan—baik rezeki, jodoh juga mati. Namun Kita juga harus tetap berusaha, dengan bekerja dan membuka jaring pertemanan.  Rezeki atau jodoh tidak mungkin datang sendiri, jika kita tidak mau berusaha menjemput. Dalam salah satu firman Allah dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 pun telah dijelaskan, “Sesunggunya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (hal 63).

Sebagaimana analogi dari laba-laba dalam mencari makan, dia mengecoh mangsanya dengan jaring-jaringnya yang terlihat seperti nektar bunga.  Jika laba-laba saja dalam mencari makan selalu berusaha lalu kenapa manusia tidak?

Buku ini sangat menarik dari segi pemaparan. Selain lugas dan aktual ditambah dengan berbagai analogi sebagai pendalaman materi dan pencerahan, buku  patut dibaca untuk memahami lebuh dalam cara memperoleh rezeki halal dan berkah.

Srobyong, 23 Maret 2018