Showing posts with label Ika Natassa. Show all posts
Showing posts with label Ika Natassa. Show all posts

Thursday, 29 December 2016

[Resensi] Pernikahan dan Sekelumit Masalah yang Menyelimuti


Judul               : Critical Eleven
Penulis             : Ika Natassa
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Ketiga, September 2015
Tebal               :  344 hlm
ISBN               : 978-602-03-1892-9

“Hidup itu jangan biasa menikmati yang instan-instan. Jangan mau gampangnya saja. Hal-hal  terbaik terbaik dalam hidup justru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu.” (halaman 21).

Tema pernikahan sudah sering kali dibingkai dalam kisah-kisah novel saat ini.  Namun tetap saja pernikahan dan sekelumit masalah yang sering terjadi, selalu asyik untuk dikulik dan dijadikan cerita. Lagi pula setiap penulis memiliki keunikan tersendiri dalam menuangkan kisah. Serta memiliki gaya bahasa yang berbeda sehingga keberadaan novel-novel itu tetap bisa menambah bacaan yang menghibur dan menginspirasi bagi pembaca. Sebagaimana Critical Eleven—novel yang juga mengusung tema pernikahan namun dengan latar belakang berbeda, serta dikemas dengan gaya bahasa yang asyik. Sehingga novel ini tetap diterima dan bisa membuat pembaca menikmati kisah yang dipaparkan.

Kisah dibuka dengan pertemuan antara Ale—yang seorang petroleum engineer di teluk Meksiko  dan Anya—management consultant, ketika mereka sama-sama melakukan perjalanan ke Sydney.  Ale tengah asyik membaca buku ketika Anya tiba di sisi tempat duduknya (halaman 7). Pada awalnya Anya  berpikir akan kembali terjebak duduk bersama om-om atau anak kecil yang menangis. Tapi perjalanan  kali ini ternyata berbeda. Di sanalah, mereka menghabiskan sedikit waktu dengan obrolan yang cukup menyenangkan, hingga akhirnya mereka saling berbagi nomor kontak.

Pertemuan yang konon disebut critical elevensebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger (halaman 16).

Sebuah pertemuan yang aneh tapi cukup manis. Dan siapa sangka dari pertemuan tidak terduga itu, Ale dan Anya kemudian memutuskan menikah.   Padahal setelah pertemuan itu mereka tidak saling kontak. Baru sekembalinya Ale dari Teluk Meksiko, tujuh hari mereka bertemu secara intens dan akhirnya memutuskan pacaran (halaman 23).

Pada awalnya pernikahan mereka berjalan lancar. Mereka menjadi sepasang suami istri yang saling memahami dan melengkapi. Namun lima tahun setelah perkenalan itu ... Ale dan Anya dihadapkan pada  sebuah tragedi yang tidak terduga. Tragedi yang membuat mereka harus memikirkan ulang pernikahan mereka.


“Mungkin begini sewajarnya nasib sebuah pernikahan yang dimulai dengan jatuh cinta dalam tujuh hari. Sewajar hujan yang membasahi tanah. Sewajar api yang berasa panas. Dan mungkin, sewajar membenci seseorang yang dulu pernah jadi alasan kita percaya cinta.” (halaman 27).



~*~

Cerita dipaparkan dengan gaya bahasa yang asyik dan memikat. Bahasanya mudah dicerna dan tidak kaku. Pembaca diajak mengenal Ale dan Anya  dari sudut pandang masing-masing tokoh—dengan memakai sudut pandang aku. Jadi kita bebas untuk menyukai, simpati pada tokoh tersebut atau malah membencinya.

Dan kelebihan lain dari novel ini adalah, pemilihan alurnya. Dengan memakai alur  maju mundur penulis berhasil menyimpan puzzle-puzzle yang bisa membuat pembaca penasaran.  Penulis dengan lihai menuntut pembaca untuk terus melanjutkan kisah hingga selesai. Banyak kejutan yang cukup membuat saya terkaget-kaget ketika membaca novel ini secara perlahan-lahan. Hanya bisa berguma “Ohw ... ternyata ....” Memikat.

Dan cara  mengolah tokoh pun  terasa sangat hidup. Baik itu dalam masalah emosi tokoh—ketika membaca novel ini saya bisa ikut merasakan emosi para tokoh dalam menghadapi permasalahan yang dihadapi. Serta percakapan yang terjadi antara Ale dan Anya. Seperti sedang menonton drama yang membuat gregetan dengan dua tokoh tersebut.

Begitu pula perihal pengolahan setting-nya. Mengingat hal ini juga merupakan salah satu unsur yang penting dalam sebuah cerita. Jika setting dipaparkan dengan baik bisa membuat pembaca nyaman bahkan merasa ikut berada pada suanasa tersebut bahkan melihat gambarannya karena sangat hidup. Berbeda jika setting-nya hanya berusaha tempelan, bahkan seperti membaca artikel. Sedikit banyak hal itu akan mengurangi kenyamanan dalam membaca. Dan pada novel ini saya pikir, penulis bisa mengatasi masalah itu dengan baik. Saya suka cara penulis menggambarkan setiap tempat yang benar-benar terasa nyata.

Tidak kalah menarik adalah perihal konflik yang dihadirkan penulis. Bisa dibilang konfliknya cukup sederhana. Tapi karena dikemas dengan cara berbeda, membuat cerita terasa unik. Saya pikir  nanti akan ada kejutan sebagaimana kisah orang-orang yang bertengkar dalam pernikahannya. Adanya orang ketiga mungkin. Atau perihal sebuah masa lalu yang menyapa. Namun saya salah. Sejak membaca novel ini pembaca diajak menerka-nerka konflik apa yang sampai membuat Ale dan Anya bertengkar hebat dan ingin berpisah? Apa yang membuat Anya sebegitu marahnya pada Ale? Dan kenapa Ale tidak melakukan sesutu dan hanya menuruti kemauan Anya? Rasanya banyak sekali pertanyaan saya ketika membaca novel ini. Dan saya harus sabar agar bisa mengurai benang kusut tersebut.

Meski ini kali pertama membaca karya Ika Natassa, saya cukup terhibur dengan kisah yang dipaparkan.   

Namun tidak ada gading yang tidak retak. Kisah ini memang menarik. Hanya pada pada beberapa bagian dalam novel ini masih terasa hal-hal yang kurang dalam logika saya. Sebagai pembaca saya merasa agak menganggu.

Awalnya saya pikir tokoh novel ini bukan beragama Islam. Karena di sini ada satu bagian menunjukkan Anya menikmati meminum wine (halaman 27).  Tapi saya salah, karena pada bagian lain saya menemukan para tokoh melakukan shalat.  Namun pada bagian lain akhirnya saya menemukan Anya melakukan hal itu karena merasa marah pada Tuhan. Tapi tetap saja saya kurang nyaman pada bagian ini.

Lalu permasalahan Ale yang memelihara anjing. Padahal Anjing adalah binatang yang cukup dihindari, karena air liurnya adalah najis—bahkan harus dicuci sebanyak tujuh kali dengan air dan salah satunya memakai tanah.

Memang sih, ada yang mengatakan boleh memelihara Anjing jika dimaksudkan sebagai penjaga di rumah. Namun di sini saya melihat baik Anya dan Ale terlihat sangat akrab. Sehingga pada kedekatan itu pastinya akan membuat mereka  bisa terkenal air liur anjing.   Mungkin kalau memelihara kucing lebih baik.  (just saran).

Atau mungkin karena ini mengangkat kehidupan masyarakat urban hingga kadang kala beberapa aturan agama sering disepelekan? Siapa yang tahu? Apalagi di era sekarang ini. 

Hal lain yang terasa agak kurang sreg adalah perihal judul Critical Eleven. Pada awalnya saya berpikir kisah kehidupan mereka akan ada hubungannya dengan pesawat—mungkin tokoh perempuan adalah seorang pramugari. Namun lagi-lagi saya salah.  Jadi kejadian yang berhubungan perihal pesawat hanya karena perjumpaan awal saja.  Jauh dari bayangan saya. 

Serta perihal banyaknya membahas berbagai masalah kekayaan atau hal-hal lain yang bagi saya itu agak membosankan.  Lalu kadang pada beberapa bagian saya dibuat bingung peralihan masa lalu dan masa sekarang karena di sana, tidak ada jeda yang memisahkan.

Namun lepas dari kekurangannya, novel ini tetap asyik untuk dinikmati. Novel yang bisa saya bilang minim kesalahan tulis ini memiliki keunikan tersendiri. Covernya sangat menarik dan memikat. Saya tidak kecewa setelah membaca novel ini.

Dan perihal katanya novel ini akan difilm-kan. Bagi saya penikmat buku juga film sudah tidak sabar menanti filmnya. Saya selalu penasaran dengan novel-novel yang bisa difilmkan. Pasti ceritanya bagus. Rasanya tidak sabar membayangkan melihat kehidupan Anya dan Ale.   Meski dalam gambaran saya bukan sosok Reza Rahadian  dan Adinia Wirasti yang akan mendapat peran tersebut.  Entah kenapa saya membayangkan sosok Ale itu sebagai Christian Sugiono dan Anya diperankan Raline Shah (Imajinasi bebas).

Namun segala keputusan perihal nama-nama yang akan hadir mengidupkan kisah Critcal Eleven, tetap saya serahkan pada pihak produksi dan penulis itu sendiri. Saya hanya  berharap semoga  film-nya akan sebagus novel dan pastinya bisa memuaskan para penggemar novel ini.  Sukses selalu untuk tim sukses film Critical Eleven.

Kembali pada soal resensi. Yang membuat saya suka dengan novel ini adalah, di sini saya bisa belajar tentang banyak hal. Yah, novel ini bisa dibilang sarat makna.  Di antaranya adalah bahwa dalam sebuah pernikahan komunikasi itu sangat penting dijaga bagi pasangan suami istri.  Karena memang dalam hubungan rumah tangga itu, kita menyatukan dua kutub yang berbeda. Jadi perlu proses  dan kesabaran untuk saling memahami.  Karena hidup memang tidak ada yang instan. Semua butuh perjuangan. Sebagaimana dalam membangun rumah tangga yang harmonis—perlu usaha yang gigih.

Selain itu kita juga diingatkan untuk menjaga lisan. Karena kadang perkataan itu lebih menyakitkan daripada  tergores pisau. Luka karena tergores bisa segera sembuh, namun luka di hati, bisa dibawa sampai mati. “Mungkin kalau dulu kamu nggak sibuk, Aidan masih hidup.” (halaman 81).  

Dan kita juga diajarkan untuk sabar dan ikhlas ketika mendapat cobaan dari-Nya. Jangan jadikan cobaan sebagai alasan untuk melakukan hal-hal yang dilarang agama.  Berdamai-lah dengan diri sendiri. Selalu berpikir positif. 



Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu dari pada yang sekarang (permulaan) (halaman 121).

Recomended.


Srobyong, 29 Desember 2016