Showing posts with label Aguk Irawan MN. Show all posts
Showing posts with label Aguk Irawan MN. Show all posts

Saturday, 22 June 2019

[Resensi] Perjuangan dan Pemikiran Sosrokartono, Kakak Kartini


Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 13 Januari 2019


Judul               : Sosrokartono
Penulis             : Aguk Irawan M.N
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, September 2018
Tebal               : 370 halaman
ISBN               : 978-602-7926-42-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Dalam sejarah kita lebih sering mendengar nama besar R.A Kartini, pejuang emansipasi wanita. Kita tidak tahu, bahwa di balik semangat juang Kartini, ada  Sosrokartono, kakak Kartini, yang ternyata merupakan inspirator dan  guru  bagi Kartini. Pria kelahiran Jepara, 10 April 1877, merupakan sosok jenius. Sosrokartono adalah seorang poliglot yang menguasai 26 bahasa asing dan 10 bahasa Nusantara.

Buku ini dengan pembahasan yang lugas dan mudah dicerna, mengajak kita untuk  mengenal lebih dalam tentang sosok Sostokartono, seorang tokoh yang juga memiliki sumbangsih terhadap tanah air Indonesia. Dia memiliki jiwa patriotisme yang tinggi, yang memiliki kepedulian terhadapan pendidikan rakyat Hindia. Hal itu terbutki nyata dari usahanya yang mencoba melobi salah satu petinggi Hindia Belanda, Tuan Rooseboom yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda.

Tanpa rasa gentar Sosrokartono mengungkapkan tentang ketidakadilan pemerintah Hindia Belanda yang membatasi pendidikan kaum pribumi dan meminta kelonggaran agar kaum pribumi bisa mengenyam pendidikan. “Dengan sepenuh jiwa, dari seorang pemuda Hindia yang selalu rindu dan haus akan pengetahuan, saya, sekali lagi memohon Tuan yang bijaksana, untuk memerhatikan pendidikan rakyat Jawa.” (hal 180).

Dia juga memanfaaatkan momen di Kongres Bahasa dan Sastra Belanda, untuk mengemukakan ide dan gagasan tentang pentingnya mempelajari bahasa Belanda bagi kaum pribumi, agar bisa memahami sistem-sistem yang dilakukan para penjajah.  Sehingga tidak ada salah paham antara pemerintah Hindia Belanda dengan rakyat pribumi. Di mana kerap sekali karena kesalahpahaman berbahasa banyak pribumi yang mendapat hukuman tanpa tahu kesalahan mereka.  Tidak hanya itu Sosrokartono juga menggemborkan tentang sikap perdamaian dan kasih sayang bangsa penjajah  dan tidak bertindak semena-mena (hal 200).

Bagi sebagian kaum cendekiawan Belanda sangat salut dengan gagasan Sosrokartono. Akan tetapi bagi para elit cendekiawan yang memiliki mental penjajah sangat marah dengan keberanian pidato yang disampaikan Sosrokartono.  “Untuk mencapai kemajuan, diperlukan usaha yang lebih keras, Tuan. Untuk mencapai kemajuan pula, selalu ada pihak-pihak yang menentang.” (hal 241).

Di antaranya adalah Prof. Dr. Snouck Hurgronje. Di mana menurut pendapatnya jika, sampai pemerintah Hindia Belanda memenuhi harapan Sosrokartono, maka dikhawarikan rakyat pribumi akan menjadi pribadi yang lebih cerdas dan bisa merongrong kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.
Mereka ingin kaum pribumi tetap bodoh. Karena dengan begitu, mereka akan mudah mengendalikannya. Oleh sebab itu, melihat kepintaran dan luasnya pergaulan Sosrokartono, Dr. Snouck sangat khawatir dan mulai mencari kelemahan Sosrokartono untuk dipermalukan dan tidak berani melawan pemerintah Hindia Belanda.

Sosrokartono juga bersumbangsih dalam berdirinya, sebuah organisasi yang bernama Indische Vereegining atau Perhimpunan Hindia, yang awalnya membahas tentang kehidupan para pelajar mahasiswa Hindia di Belanda namun kemudian berubah menjadi organisasi politik yang bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Meskipun  puluhan tahun Sosrokartono bersekolah di Belanda dan mengembara ke Eropa, dia tetap mencitai bangsanya dan tidak mau menghempaskan nilai-nilai pribumi. Di mana dia tegaskan pada saat berpidato di Kongres Bahasa dan Sastra Belandan ke-25 di Gent, Belgia, pada September 1899, “Dengan  tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selamat matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang.”

Buku ini sangat menarik untuk dibaca. Apalagi memang jarang sekali buku yang membahasa tentang biografi Sosrokartono. Pria jenius dengan segudang prestasinya ini adalah sosok yang patut kita teladani. Karena dia merupakan sosok yang luar biasa. Selain sangat mencintai tanah airnya, dia adalah pemuda yang selalu taat kepada ibu dan ayahnya. Tidak hanya itu dia merupakan sosok yang memiliki spritual tinggi. Di mana karena kemampuannya itu dia bisa mengetahui sesuatu yang belum diketahui orang lain dan bisa menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dunia medis. Meskipun sedikit banyak masih ada beberapa kekurangan dalam buku ini, hal itu tidak mengurangi esensi yang ditawarkan penulis.

Srobyong, 1 November 2018

Thursday, 29 November 2018

[Resensi] Bahasa Sikap Iri dan Dengki

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 4 November 2018


Judul               : Senandung Bisu
Penulis             : Aguk Irawan MN
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, Februari 2018
Tebal               : viii +388 halaman
ISBN               : 978-602-0822-99-0
Peresensi         : Ratnani Latifah.  Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

“Di dunia ini, kita tidak bisa mengharap semua orang akan selalu baik pada kita.  Tetapi tidak berarti semua orang itu jahat kepada kita. Ada orang baik. Pun ada orang jahat. Ada orang yang pura-pura baik, tetapi sesungguhnya jahat. Ada pula orang yang tampak jahat walau hakikatnya baik. Engkau jangan terpengaruh omongan para tetangga yang tidak baik tentang kita.” (hal 64).

Hidup dalam masyarakat kita tidak bisa terhindari dari gunjing menggunjing. Karena hal itu sudah menjadi kebiasaan di setiap tempat. Meski kita memahami bahaya lisan atau menggujing, tetap saja kita selalu melakukannya. Kita seolah menutup mata dan menganggap bahwa hal itu biasa. 

Selain itu, kebiasaan lain yang sering terjadi dalam hidup bermasyarakat dan bertengga adalah rasa iri, cemburu, dengki dan sombong.  Sikap-sikap tersebut  selalu ada dan tidak bisa luntur begitu saja. Padalah sikap-sikap itu merupakan penyakit hati yang harus kita hilangkan dan jauhi. Allah tidak pernah menyukai orang-orang yang mengagungkan sikap sombong, iri dan dengki. Mengambil tema tentang  hidup bermasyarakat, novel ini mengungkapkan tentang potret kehidupan yang sering kita lihat di dunia nyata.

Mengisahkan tentang keluarga pasangan suami-istri—Dlori dan Zulfin dengan berbagai intrik menarik, mengharukan dan menggemaskan. Kehidupan mereka awalnya berjalan diliputi dengan rasa bahagia dan harmonis. Mereka mempercayai filsafat bahwa “banyak anak banyak rezeki”.   Akan tetapi sebuah kejadian merubah mereka sikap mereka. Hingga putra bungsu mereka—Rahim, menjadi korban keegoisan orangtuanya.

Dlori dan Zulfin memili lima anak yang rentan usianya cukup dekat. Harus, Aisyah, Umi, Musa dan Rahim.  Empat anak pertama  adalah pelita yang sangat dibanggakan Dlori dan Zulfin, mereka dirawat dengan baik dan disekolah hingga tinggi.  Namun tidak dengan Rahim. Bagi mereka Rahim adalah bencana. Sehingga, mereka tidak pernah memperlakukan Rahim dengan baik. Bahkan nama itu pun bukan pemberian mereka, tapi diberikan oleh Kyai Na’im.

Kejadian itu ternyata bermula dari sejarah panjang dari sikap orang-orang yang egois dan sombong. Dulu Dlori selalu rajin bekerja demi memenuhi kebutuhan pangan dan tabungan untuk sekolah. Akan tetapi ternyata kebahagiaan yang mereka miliki telah mengundang rasa iri, dengki dan kecemburuan di mata tetangganya.

Adalah Wurnayi, salah satu tetangga Zulfin yang diam-diam memiliki rasa iri dan dengki dengan kehidupan pasangan Dlori dan Zulfin. Dia menebar bara api dengan menggunjingkan dan menjelek-jelekknya Zulfin. Khususnya tentang  Zulfin yang mudah sekali hamil dan memiliki banyak anak. Gunjingan itu tentu sangat meresahkan Zulfin.

“Di dalam masyarakat, mau kita suka atau tidak, pasti akan selalu ada orang yang suka menggunjing, pasti akan selalu ada orang yang bersikap buruk, walau kita tak pernah menyalahinya, walau kita tak pernah membuat persoalan dengannya.” (hal 66).

Pada awalnya Dlori dan Zulfin berusaha bersabar dan tidak memedulikan gunjingan tersebut. Akan tetapi lambat laun, mereka ternyata tidak tahan juga dan mulai terprovokasi. Zulfin melabrak Wuryani hingga desa geger.

Membaca kisah ini, kita seperti berada di tengah-tengah tokoh cerita dengan melihat dan menyaksikan langsung kisah yang dipaparkan penulis. Menarik dan menggetarkan hati. Apalagi ketika membaca bagian Rahim yang selalu dilakukan tidak adil.  Diceritakan dengan bahasa yang mudah dipahami, membuat cerita ini asyik untuk dibaca.

Dan khas tulisan Aguk, buku ini kaya akan wacana ilmu. Beberapa bagian penulis menjabarkan dengan dalil-dalil yang mendukung sikap  tidak terpuji yang kerap menggerogoti hati. Hanya saja ada beberapa bagian yang menurut saya kurang memuaskan dan masih ada beberapa kesalahan.

Namun lepas dari kekurangan yang ada, novel ini cukup menarik untuk dibaca. Melalui kisah ini kita diingatkan tentang pentingnya menjaga lisan. Karena lisan itu lebih tajam daripada pedang. Sakit karena terkena pisau bisa cepat sembuh, namun luka karena ucapan, sulit disembuhkan. Selain itu kita juga diingatkan untuk tidak memilahara sikap iri, dengki dan sombong. Lalu sesama tetangga harus saling menghormati, seorang anak harus berbakti kepada orangtua dan bagaimana cara mendidik anak yang baik.

Srobyong, 26 Oktober 2018 

Saturday, 25 August 2018

[Resensi] Kiprah Kepahlawanan Hasyim Asy’ari

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 12 Agustus 2018


Judul               : Penakluk Badai :Novel Biografi Hasyim Asy’ari
Penulis             : Aguk Irawan MN
Penerbit           : Republika
Terbit               :  2018
Tebal               : xxx + 562 halaman
ISBN               : 978-602-573-417-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Kiai Hasyim Asy’ari merupakan figur yang sangat mengagumkan.  Selain bergelar Hadratusyeikh (seorang guru besar di kalangan pesantren), dalam keputusan Presiden No.29/1964, dia juga diakui sebagai pahlawan kemerdekaan nasional. Ketokohannya tidak sekadar dalam bidang sosial  keagamaan, melainkan juga dalam bidang kenegaraan.

Dalam bidang keagamaan dapat dilihat dari kiprahnya mendirikan lembaga pendidikan Islam berbasis pesantren moderen di tanah Jawa. Sistem pengajaran yang diterapkan di pesantren yang didirikannya berbeda dengan sistem belajar-mengajar di pesantren kebanyakan. Misalnya sistem bandongan—metode guru membacakan kitab dan murid menyimak sambil memberi makna pada kitab—diganti dengan sistem tutorial yang lebih sistematis dan terstruktur dengan baik.  Dia juga membuka sistem pendidikan berjenjang, memasukkan mata pelajaran umum dan mengajarkan bahasa asing, yaitu bahasa Belanda dan Inggris (hal xxi).

Kiai Hasyim adalah sosok yang  sangat revolusioner, pembela wong cilik dan berpikir out of the box.  Hal ini terlihat  ketika dia memilih membuka pesantren di tempat sepi,  dengan membabat hutan dan hidup di lingkungan orang-orang yang jauh dari cahaya agama. Dia berpendapat bahwa, pendidikan harus banyak diberikan kepada orang yang masih jauh dari peradaban dan kebudayaan adiluhung. Tekadnya yang kuat, membuat dia tidak mudah menyerah ketika harus menghadapi berbagai penolakan dari masyarakat. Kiai Hasyim tetap berusaha semaksimal mungkin, hingga akhirnya banyak masyarakat yang ingin mengenal dan belajar Islam lebih dalam.

Kiai Hasyim berkata, “Dakwah Islam tidak saja sekadar menanamkan iman di hati orang munafiq kafirun, agar mereka mencicipi nikmatnya hidayah. Tapi dakwah Islam mencakup pula kesejahteraan dan kedamaian hajat orang banyak yang hidup di muka bumi Allah. Jihad akbar kita sekarang adalah bagaimana para penzalim, kompeni kolonial  itu, hengkang dari bumi pertiwi. Sebab kiranya hanya dengan itulah, tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera setapak demi tapak akan terwujud.” (hal 144).

Selain  memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan, untuk mengeluarkan masyarakat dari lubang kebodohan,  Kiai Hasyim   juga aktif dalam memberdayakan potensi  perekonomian. Dengan adanya koperasi, dia ingin menganjurkan agar umat Islam menabung, meski hanya satu sen tiap  minggu atau bulan. (hal 247).

Tidak hanya itu, Kiai Hasyim merupakan seorang nasionalisme sejati. Dia  memiliki peran penting dalam tercapainya kemerdekaan Indonesia. Dari menyusun strategi-strategi di pos-pos yang ada, hingga mengangkat senjata langsung di tengah-tengah perjuang lainnya.  Kiai Hasyim menolak berpatisipasi dalam milisi buatan Belanda untuk mempertahankan Nusantara dari ancaman Jepang. Dia juga menolak sumbangan dari Belanda yang hendak diberikan ke pesantren-pesantren (hal 326).

Ketika Indonesia dikuasai Jepang, Kiai Hasyim  menolak segala aksi Niponisasi (serba Jepang). Seperti menyanyikan lagi “Kimigayo”, mengibarkan bendera Hinomaru dan melakukan aksi seikeirei. Akibatnya, tahun 1942 Kiai Hasyim ditangkap oleh tentara Jepang yang awalnya berada di penjara Jombang, lalu dipindah ke Mojokerto dan terakhir dibawa ke Surabaya. Di sana dia  mendapat banyak siksasaan. Namun begitu Kiai Hasyim tetap menjalaninya dengan sabar dan tabah.  Dia tetap teguh dengan prinsipnya yang tidak mau tunduk pada penjajah. (hal 341).

Tidak berhenti sampai di situ, Kiai Hasyim juga menyiapkan kader-kader Islam militan, dari para santri untuk ikut terjun ke milisi Laksar Hizbullah dan Barisan Sabilillah yang diketuai oleh putranya bernama Abdul Kholik.  Kiai Hasyim juga meminta dengan sangat kepada setiap kaum muslimin bangsa ini untuk bergabung bersama tentara Pembela Tanah Air (PETA) atau masuk gerakan Pandu Hisbul Wathan milik Muhamadiyah.

Kiai Hasyim memaparkan bahwa, “Mempertahankan kemerdekaan negeri ini adalah kewajiban kita bersama, kewajiban sebagai muslim, dan di sinilah keimanan kita diuji untuk mencintai negeri sendiri atau diam-diam kita menikung, lalu berkompromi dengan pihak sekutu (hal 406).

Dengan gaya bahasa yang lugas, novel biografi dari  tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini,  akan mengajak kita mengenal lebih dalam tentang sosok Kiai Hasyim Asy’ari. Baik dari sikap, perjalanan hidup, pemikiran juga kiprah kepahlawanannya yang inspiratif dan patut kita teladani. Melalui buku ini kita bisa belajar untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dalam berjuang,  cinta tanah air, serta selalu teguh dalam memegang prinsip hidup.

Srobyong, 6 Juli 2018

Alhamdulillah kembali terpilih sebagai salah satu pemenang 
dalam lomba resensi buku "Aguk Irawan MN"

Tuesday, 12 April 2016

[Review] Meneladani Kecintaan Membaca dan Menuntut Ilmu Sang Guru Bangsa


Judul               : Peci Miring
Penulis             : Aguk Irawan MN
Penerbit           : Javanica (PT. Kaurama Buana Antara)
cetakan            : 1, September 2015
Halaman          : 404 halaman
ISBN               : 978-602-77293-1-5

Peci Miring merupakan novel biografi Gus Dur karya Aguk Irawan MN yang memang sangat berbeda dari kebanyakan buku senada yang lain. Dalam buku ini, dipaparkan secara lengkap dan runtut  tentang masa kecil yang sudah memiliki hobi membaca dan perjalannya dalam menuntut ilmu dengan menggunakan bahasa yang mengalir.  

Sebagai warga Indonesia pasti tidak asing dengan tokoh fenomenal ini. Gus Dur atau yang bernama asli Abdurrahman Ad-Dakhil, dan juga dikenal dengan nama Abdurrahman Wahid. Cucu dari Hadratusy Syaikh  K.H. Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan putra dari K.H. Wahid Hasyim. Serta tokoh  yang pernah menjadi bapak negeri—Presiden Republik Indonesia yang keempat.

Gus Dur, begitulah sapaan yang melekat padanya hingga sekarang. Tokoh yang sejak kemunculannya dibilang kontroversi. Karena menurut kebanyakan orang, Gus Dur itu sulit dipahami. Memiliki sisi nyeleneh—unik dalam setiap pandangan hidup. Sangat kritis, namun tetaplah seorang yang humoris dan sangat sederhana. Lepas dari itu  Gus Dur adalah sosok yang selalu dicintai dan selalu dirindukan.  (hal.16)

Gus Dur lahir di Jombang, 7 Semptember 1940. Sejak kecil Gus Dur sudah memiliki kecintaan pada buku. Karena itu kisah semasa kecil hingga remaja Gus Dur banyak dihabiskan dengan membaca dan menuntut ilmu, dari satu pesantren ke pesantren lain bahkan ke luar negeri.

Hobi membaca sepertinya menurun dari hobi sang ayah. Di manapun dan kapan pun Gus Dur selalu meluangkan lebih banyak waktu untuk membaca. Bisa dibilang perpustakaan adalah rumah yang nyaman baginya. Pada jam istirahat dia lebih suka meluangkan waktu untuk membaca di perpustakaan. Selain di perpusatakaan  sekolah, perpustakaan pribadi sang ayah juga menjadi sasaran untuk memuaskan hasrat membacanya. Namun ternyata semua itu seakan tidak cukup, sehingga Gus Dur pergi juga ke perpustakaan nasional. Gus Dur berkata, “Aku suka membaca. Dengan membaca akan aku kuasai dunia!”  (hal. 97) Itulah motivasinya membaca.

Dari hobi membaca, Gus Dur pun memiliki kemampuan menulis yang baik. Dulu dia pernah disuruh gurunya untuk menulis dan Gus Dur mengikuti anjuran itu. Ternyata karangan yang dia ikutkan dalam sebuah lomba menulis tingkat sekolah dasar dimenangkan oleh dirinya. (hal. 102)

Setelah  menyelesaikan sekolah dasar, Gus Dur melanjutkan pendidikan di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) lalu mondok di Krapyak. Di sana Gus Dur mengenal Haji Junaidi dan teman-teman aktivis PKI yang bisa diajak diskusi. Baik itu tentang buku, pengetahuan tentang komunis juga tentang film. (hal. 140) Kemudian Gus Dur mondok lagi ke Tegalrejo. Selama dua tahun nyantri di sana, menurut Kia Chudlori, pencapaian ilmu yang diperoleh Gus Dur sangat luar biasa. Lalu Gus Dur diminta Kiai Bisri Syansuri—kakeknya untuk ikut mengajar di Tambakberas.

Namun setelah  satu tahun mengajar, Gus Dur mulai  merasa gelisah tentang kemana lagi harus belajar. Selama ini memang sudah banyak sekali buku yang dibacanya. Tapi entah kenapa terasa masih kurang. Dia merasa masih bodoh dan harus terus berjuang untuk menuntut ilmu.

Karena itu Gus Dur memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke Mesir—pusat peradaban ilmu pengetahuan. (hal.290) Tidak puas belajar di Mesir, Gus Dur melanjutkan perjalanan menaklukkan buku dan mentut ilmu di Baghdah dan Eropa.


Novel biografi yang inspiratif, sarat makna dan patut dibaca. Kita bisa meneladi semangat Gus Dur dalam menuntut ilmu, dan kecintaan nya pada membaca buku dan menuntut ilmu. Beberapa bagian buku yang terasa lambat, tidak mengurangi kenikmatan membaca buku ini. Karena cerita dipaparkan dengan baik dan lugas.  Gaya bahasa ringan dan mudah dimengerti. Ada banyak quote bagus dan bisa diresapi. Antara lain, “Jika aku tidak membaca, aku takkan tahu apa-apa.” (hal. 288)

Tuesday, 2 February 2016

[Resensi] Patah Hati yang Membawa Berkah




Judul Buku                   : Patah Hati Terindah
Penulis                          : Aguk Irawan MN
Penerbit                        : Exchange
Cetakaan                      : 1, Juli, 2015
Halaman                       : 364 halaman
ISBN                           : 978-602-72024-9-8
Harga                           : 68.000
Peresensi                      : Ratnani Latifah [Penikmat buku dan pecinta literasi, tinggal di Jepara]

Setiap orang pasti pernah merasakan patah hati. Merasakan pahitnya hidup, terbuang dan tidak berguna. Sakit memang tapi pernahkah terpikir bahwa patah hati itu memiliki sisi indah? Patah hati yang ketika merasakannya bukan sedih yang didapat tapi kebahagiaan dan rasa syukur.
Sebuah novel yang menceritakan tentang perjuangan seorang anak untuk diakui keberadaannya. “Hamdalah,” ucap Mbah Suhar suatu petang. “Itu jika kau perempuan. Siti Hamdalah. Nyatanya kau lahir laki-laki. Namamu jadi Hamdan.”(hal 19)

Hamdan merasakan sang ibu lebih memanjakan Irsyad, kakaknya daripada dia. Irsyad tidak pernah dimarahi. Apalagi dipukul.9 hal 20-21)  Karena selalu mendapat perlakuan yang berbeda, Hamdan pun tumbuh menjadi anak yang nakal, suka membangkang. Tapi karena suatu kejadian, Hamdan mulai berubah. Dia selalu ingat nasihat kakaknya. Lebih baik menuruti keinginan ibu yang juga merupakan keinginan ayah. Aku boleh bermain sepuas-puasnya, tetapi tidak boleh lupa membantu orangtuaku. Dan terutama, tidak boleh lupa belajar. (hal 55) Waktu pun membuatnya dekat dan menyadari bahwa sang ayah tidak membenci dirinya Tapi di saat dia mulai menyadari itu ..., Hamdan harus rela ditinggal pergi ayahnya untuk merantau ke Jakarta.  (hal 81)

Sepeninggalnya sang ayah, Hamdan berusaha yang terbaik di sekolah. Tapi dia kembali mengalami patah hati karena seseorang yang disukainya lebih memilih bersama teman sekelasnya. Hamdan tentu saja sedih, tapi dengan bantuan sang kakak, Hamdan mulai berubah. Nasihat kakaknya selalu dia ingat. Buku pinjaman dari kakaknya juga dia baca dengan teliti.

Lalu sejak kejadian itu, Hamdan pun mulai lebih rajin belajar. Dia menenggelamkan diri pada buku-buku. Sehingga pada ujian berikutnya Hamdan yang biasanya juara dari belakang, kini  bisa meraih ranking dua di kelasnya. “Tidak ada yang mustahil di dunia ini, Bu. Kupikir, nila-nilai luhur para pahlawan telah dia praktikkan. Ia belajar keras. Anak itu patut diberi pujian.” Komentar Bu Sutini. “Man jadda wajadda!” ucap guru agama Hamdan. (hal 186)

Semua orang salut pada Hamdan, tapi semua luntur begitu saja ketika Irsyad, kakaknya mendapat beasiswa untuk melanjutkan ke  MAN Suruh sambil mondok.  Itu adalah hadiah karena NEM kakaknya sangat sempurna. Hamdan kembali dibanding-bandingkan dengan kakaknya. Hamdan yang nakal dan bodoh sedang kakaknya pintar, pandai mengaji dan anak berbakti. Hamdan kembali patah hati. Kakakku adalah langit, bahkan mungkin langit ketujuh. Sedang aku adalah bumi, bahkan mungkin bagian keraknya. (hal 208)

Patah hati Hamdan ternyata tidak sampai disitu saja. Ketika waktu terus berjalan, dan  dia tengah bersungguh-sungguh untuk mewujudkan mimpi yang ingin dia capai. Kecurangan yang dilakukaan gurunya kembali membuat Hamdan sedih. Tapi patah hati kali ini berbuah manis. Karena akibat patah hati ini, Hamdan mendapatkan kejutan yang lain. Sesuatu yang sudah sejak lama dirindukannya.

Novel yang sarat makna, antara lain; mengajarkan arti patah hati dilihat dari sisi berbeda, mengingatkan orangtua untuk bertindak adil, tidak pilih kasih terhadap anak, dan mengajarkan untuk berusaha keras untuk mencapai impian. Bahwa sebuah mimpi bisa dicapai jika mau berusaha dan sabar.  Selain itu,  ada pula pesan moral melalui kajian ilmu agama, yang ada disampaikan tanpa menggurui. Diceritakan dengan bahasa yang mudah dicerna. Ada banyak quoate sejuk dalam novel ini. Seperti “Berikan cintamu pada ilmu, niscaya ilmu akan membalasnya.” (hal 361)