Showing posts with label Radar Madura. Show all posts
Showing posts with label Radar Madura. Show all posts

Thursday, 13 February 2020

[Resensi] Pentingnya Menjaga Kelestarian Ekosistem Laut


Tiga  picture book ini merupakan dua seri karya Mbak Ruri Irawati, salah satunya adalah “Seri Dongeng Plus Aktivitas” sedangkan dua buku lainnya termasuk “Seri Lindungi Lautku” ketiga buku ini diterbitkan di Penerbit Ananda, Tiga Serangkai.

Pertama mari kita berkenalan dengan “Seri Dongeng Plus Aktivitas” bertajuk “Rahasia Harta Terpendam."

Menanamkan Sikap Rajin dan Kerja Keras
Judul               : Rahasia Harta Terpendam
Penulis             : Ruri Irawati
Ilustrator         : Gage Studio
Penerbit           : Tiga Ananda
Cetakan           : Pertama, Mei 2019
Tebal               : 32 halaman
ISBN               : 978-623-206-160-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Menanamkan pendidikan karakter kepada anak harus dilakukan sedini mungkin.  Karena pendidikan karakter merupakan salah satu dasar penting dalam membangun sikap tanggung jawab anak. Selain guru, orangtua juga memiliki peran penting dalam membangun karakter  baik kepada anak. Apalagi orangtua sebagai madrasah pertama juga role mode bagi anak.

Salah satu metode yang bisa dipilih dalam menanamkan pendidikan karakter adalah melalui media membaca dan mendengarkan.  Di sini orangtua bisa memulainya dengan  mengajak anak untuk menyukai buku dengan membacakan  dongeng-dongeng seru di sekitar kita. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia kaya akan dongeng-dongeng seru yang memiliki banyak contoh keteladanan. Misalnya dongeng Malin Kundang, Timun Emas, Tangkuban Perahu,  Sangkurian, Batu Menangis dan banyak lagi.

Ketika orangtua membacakan sebuah cerita kepada anak, maka anak akan merekam dan mengingat-ingat setiap kisah yang dipaparkan. Membacakan kisah dongeng bisa membantu daya ingat anak lebih tajam, juga mengasah rasa ingin tahu anak.  Lalu bagaimana cara memilih kisah dongeng yang pas bagi kebutuhan anak?  Mengingat banyak sekali buku-buku bertemakan dongeng nusantara di toko buku.

Hampir semua penerbit besar, pernah menerbitkan buku-buku dongeng yang menarik. Bisa dibilang tema dongeng sudah sangat pasaran. Namun pada fakta di lapangan, tema dongeng tetap selalu diminati dan tetap laris manis dipasaran. Hal itu terjadi karena  masing-masing penulis pasti memiliki keunikan tersendiri dalam menghadirkan dongeng tersebut. Sebagaimana buku bertajuk “Rahasia Harta Terpendam” karya terbaru dari Ruri Irawati.

Secara umum, buku ini menceritakan kembali dongeng  dari Bali. Namun dengan tambahan aktivitas seru yang dihadirkan penulis, buku ini  menjadi berbeda dari dongeng kebanyakan. Apalagi buku ini juga disertai fakta unik tentang budaya Bali yang akan menambah pengetahuan anak.

Menceritakan tentang kisah hidup seorang  bapak yang tinggal bersama lima anaknya.  Bapak itu memiliki ladang yang amat luas. Namun sayang sekali, kelima anaknya itu tidak memiliki sikap rajin dan kerja keras sebagaiamana ayahnya. Kelima anaknya sangat malas. Mereka tidak pernah mau membantu bapakanya.

Padahal kelima anaknya mau menikmati hasil dari kerja keras bapaknya. Bahkan ketika bapaknya sudah mulai sakit-sakitan, mereka tetap tidak peduli dan tetap hidup boros. Hingga lambat laun, harta mereka  mulai berkurang.    Dan sakit bapak mereka semakin marah. Di sana sang bapak memberi wasiat agar kelima anak itu menggali harta yang konon katanya dia pendam dalam ladang. 
“Anak-anakku, galilah harta yang kupendam di ladang. Bagilah rata untuk kemakmuran kelak” (hal 11).

Setelah bapak mereka meninggal, mereka tidak sabar untuk menggali harta terpendam itu. Namun setiap kali mereka berusaha menunaikan wasiat bapaknya, yang mereka temukan bukanlah harta karun.  Misalnya si sulung, I  Wayan setelah menggali, ia menemukan salura air terseumbat, anak ketiga, I Nyoman  menemukan sisa-sisa benih tanaman, anak keempat, I Ketut hanya menemukan cacing yang menempel di cangkul dan anak kelima,  I Putu hanya menemukan pupuk yang belum terpakai. Namun dari semua penemuan itu mereka menyadari sesuatu yang sangat penting di balik wasiat bapaknya.

Buku yang  diperuntukkan untuk anak tingkat TK dan SD ini akan sangat mudah dipahami anak. Bahasanya sederhana dan disertai gambar, pastinya akan membuat anak betah saat membacanya.  Membaca buku ini kita bisa belajar tentang arti penting sikap rajin. Yaitu sikap  suka bekerja dan selalu sungguh-sungguh. Sikap ini kebalikan dari sikap malas yang lebih sering membuang waktu.  Selain itu melalui kisah ini kita bisa belajar tentang sikap kerja keras. 

Srobyong, 4 Agustus 2019

Dimuat di Radar Madura 24 Agustus 2019 



Kedua  ada  “Seri Lindungi Lautku” yang bertajuk “Rumah Baru Mola”

Pentingnya Menjaga Kelestarian Ekosistem Laut

Judul               : Rumah Baru Mola
Penulis             : Ruri Irawati
Ilustrator         : Chatarina Hayu P.
Penerbit           : Tiga Ananda
Cetakan           : Pertama, Juni 2019
Tebal               : 32 halaman
ISBN               : 978-623-206-177-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Indonesia terletak di antara dua samudera besar, yaitu Samudera Hindia dan  Samudera Pasifik. Maka tidak heran jika wilayah Indonesia terdiri dari banyak perairan laut  daripada daerah daratan. Karena alasan itulah  Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Laut di Indonesia memiliki banyak sekali manfaat bagi kehidupan manusia. Misalnya sebagai pembangkit listrik tenaga air,  tempat budidaya serta membantu membersihkan polusi udara. Karena tanpa kita sadari laut bisa menyerap karbon dioksida kurang lebih 43,6 persen kadar karbon dunia. 

Tidak hanya itu laut juga bermanfaat sebagai  wahana wisata. Karena di dalam kedalaman laut kita bisa menemukan keindahan alam yang luar biasa. Di sana terdapat kecantikan terumbu karang yang memukai, ada pula barisan kehidupan ikan-ikan yang tidak kalah menawan. Namun sangat disayangkan, saat ini laut sudah semakin rusak karena ulah manusia sendiri.

Kebiasaan manusia yang suka membuang sampah sembarangan, berdampak pada kerusakan laut. Tidak hanya itu kebiasaan menangkap ikan dengan cantrang, bom atau pukat laut, telah menghancurkan populasi ikan dan merusak ekosistem laut dan terumbu karang. Begitu pula dengan wisatawan bahwa laut yang suka bertindak sesuka hati dan mengganngu tanaman dan hewan laut.   Padahal sebagaimana kita ketahui ekosistem laut memiliki banyak sekali manfaatnya terhadat manusia. Oleh sebab itu, kita harus melindungi dan  melestarikan  ekosistem laut. 

Kesadaran akan kepedulian terhadap laut ini harus kita tanamkan kepada anak sejak kecil. Dengan begitu anak akan terbiasa untuk mencintai dan peduli dengan kelestarian ekosistem laut. Salah satunya adalah dengan mengenalkan buku “Seri Lindungi Lautku, Rumah  Baru Mola” karya Ruri Irawati. Dengan gaya bahasa sederhana dan pendek-pendek, buku ini sangat pas untuk dikenalkan kepada anak. Apalagi dengan tambahan ilustrasi yang menarik, pastinya akan membuat anak tidak bosan selama membaca. 

Buku ini sendiri mengisahkan tentang Mola, si ikan mola-mola yang kehilangan rumah karena menjadi jalur lalu lintas kapal. Karena itu, Mola pun mencari tempat tinggal baru untuk berlindungan. Setelah mencari-cari tempat yang paling nyaman, akhirya Mola menemukan semua rumah baru yang di sekelilingnya terdapat banyak pemandangan yang cantik.

Setelah membersihkan rumahnya, Mola berniat berjalan-jalan di permukaan laut. Namun betapa kagetnya Mola, ketika dia tengah asyik berenang, dia melihat ada dua wisatwan yang terus mengikutinya. Awalnya Mola senang, karena mengira bahwa manusia itu menyukai keelokan dirinya. Namun, lama-lama Mola terganggu, karena wisatawan itu mulai ingin menyentuh tubuh Mola.

Saat berusaha menghindari kejaran dari wisatawan, Mola tersesat di sebuah tempat yang asing. Di mana di tempat itu banyak sekali terumbu karang yang telah mati. Di sana Mola diingatkan ikan buntal untuk hati-hati, karena tempat itu adalah tempat yang sering didatangai para wisatawan laut dan  merekalah yang merusakan tempat itu. Lalu bagaimana dengan nasib Mola yang sedang dikejar para wisatawan? Selengkapnya bisa dibaca di buku ini.

Mengambil tema yang masih jarang ditulis penulis lain, buku ini sangat menarik untuk dibaca. Selain mengajarkan rasa cinta dan peduli pada kelestarian ekosistem laut, buku ini juga akan menambah banyak pengetahuan kepada anak tentang  hewan langka di laut. Misalnya tentang ikan mola-mola, salah satu ikan raksasa yang tinggal di perairan hangat termasuk di Indonesia, memiliki nama lain sunfish, karena ikan ini suka berjemur,  makanan kesukaan mola-mola adalah ubur-ubur, kepiting, zooplankton, dan alga. Serta masih banyak lagi pengetahuan yang dirangkum penulis dalam buku ini.Kemudian tidak kalah penting buku ini juga mengingatkan kepada kita tentang selalu bersikap baik dan peduli, saat melakukan wisata laut.

Srobyong, 9 Agustus 2019 

Dimuat di Padang Ekspres , Minggu 15 September 2019 



Dan terakhir masih dari “Seri Lindungi Lautku” ada kisah bertajuk “Mencari Si Monster Cantrang” 

Melindungi Biota Laut dari Cantrang

Judul               : Mencari Si Monster Cantrang
Penulis             : Ruwi Irawati                                                      
 Ilustrator        : Chatarina Hayu P
Penerbit           : Tiga Ananda
Cetakan           : Pertama, Juni 2019
Tebal               : 32 halaman
ISBN               : 978-623-206-176-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Indonesia dikenal sebagai negara  maritim. Alasannya karena Indonesia adalah negara yang berada atau  dikelilingi oleh samudra yang sangat luas. Dari sebagian besar wilayah yang ada, wilayah perairan di Indonesia itu lebih luas daripada daratan. Maka tidak heran jika kemudian kita ketahui, bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman biota laut yang sangat banyak. Dari 6000 spesies ikan yang ada di dunia, setidaknya 2500  yang di antaranya berada di wilayah Indonesia.

Oleh sebab itu perlu dilakukan pelestarian biota laut untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut.  Apalagi saat ini berbagai biota laut mulai terancam punah,  karena ulah manusia sendiri, yang suka bertindak semena-mena dan tidak memedulikan kelestarian lingkungan dan kehidupan di laut.  Salah satu caranya adalah dengan mengajak anak membaca buku ini. Melalui buku ini, anak akan diajak untuk peduli dan siap menjaga ekosistem laut.

Di sadari atau tidak semakin banyak perburuan liar yang dilakukan manusia guna menangkap hewan-hewan laut, seperti penyu, terumbu karang, ikan-ikan langkah dan banyak lagi.  Di mana dalam perburuan ikan banyak yang  memanfaatkan bom, pukat harimau juga  cantrang—alat menangkap ikan yang berukuran besar dan dioperasikan hingga menyentuh dasar laut. Selain terumbu karang yang ikut rusak terseret cantrang, banyak pula ikan-ikan yang tertangkap namun hanya sekitar yang bisa dikonsumsi. Akibatnya berdampak pada rusaknya  populasi ikan di lautan.

Karena itu penting bagi kita untuk mulai peduli dan menjaga laut agar terhindar dari berbagai kejahatan tersebut. Salah satu caranya adalah dengan melindungi laut dari sampah juga tidak melakukan lagi perburuan liar atau menangkap ikan dengan pukat haraimau atau cantrang.  Kita harus menyadari sebagaimana manusia, ikan juga ingin hidup damai dan sejahtera.

Buku ini  menceritakan tentang rasa penasaran Ole,  si ikan coecalanth kecil, tentang keganasakan Monster Cantrang,  yang pernah diceritakan neneknya.  Sang nenek meminta Ole agar bersembunyi di gua, agar tidak ditangkap oleh Cantrang. Namun Ole bandel. Diam-diam dia mencoba mencari tahu tentang Monster Cantrang. Dia tidak tahu bahwa bahaya besar telah mengintainya. Kira-kira apa yang akan terjadi?

Mengambil tema tentang kepedulian ekosistem laut. Melalui buku ini, kita akan mengajak anak untuk mengenal ikan purbakala yang hampir punah, serta menumbuhkan rasa cinta  dan sikap siap untuk  melindungi biota laut.  Dilengkapi dengan fakta-fakta seru tentang binatang laut, buku ini sangat pas untuk dibaca anak.  Tidak hanya itu melalui kisah yang dikisahkan, anak belajar untuk menjadi anak yang mau mendengar nasihat dari orangtua.

Srobyong, 3 Agustus 2019 

Tuesday, 29 October 2019

[Resensi] Pendidikan Budaya Lewat Cerita





Tiga Picture Book ini merupakan seri "Cerita Rakyat Asal-Usul" yang  diterbitkan di Penerbit Tiga Ananda dan dikemas dengan apik oleh Mbak Erlita Pratiwi. 

Nah buku pertama kita diajak berkenalan dengan kisah yang bertajuk :  Byur! Cacing Warna-warni Datang  




Pendidikan Budaya  Lewat Cerita

Indonesia adalah negara yang kaya akan adat dan budaya. Terdiri dari berbagai suku, yang memiliki masing-masing kebudayaan, membuat Indonesia memiliki beragama festival yang menarik dan unik. Seperti festival Erau Kartanegara yang berasal dari Kutai, Kartanegara, Kalimantan Selatan, Festival Lompat Batu dari Pulau Nias, Festival Tabuik dari Sumatra Barat dan banyak lagi.

Memilah-milah dari banyak festival yang ada di  Indonesia, Erlita Pratiwi memilih Festival Bau Nyale, yang berasal dari Lombok, untuk dikenalkan kepada anak-anak. Dengan paparan yang mudah dipahami, penulis berhasil mengadirkan kisah menarik. Di mana penulis memadukan kisah sehari-hari dengan dongeng klasik nusantara.

Sebagaimana kita ketahui, selain kaya akan adat budaya, Indonesia juga memiliki banyak sekali dongeng-dongeng nusantara yang menarik dan patut dikenalkan kepada anak.  Baik dongeng berupa fabel, legenda, mitos atau asal-usul sebuah tempat dan banyak lagi. Di mana masing-masing dongeng selain bermanfaat untuk hiburan, dongeng tersebut juga memiliki nilai-nilai budi pekerti luhur.  Dengan begitu, anak bisa belajar berbagai hal dari kisah dongeng.

Festival Bau Nyale sendiri merupakan tradisi yang diselenggaralan setahun sekali, yang dilakukan antara bulan Februari – Maret.  Dalam bahasa Sasak “bau” artinya menangkan, dan “nyale” artinya cacing. Jadi Festival Bau Nyale, berarti perburuan cacing, yang dilakukan oleh masyarakat Lombok.   Festival ini sangat penting bagi suku Sasak, suku asli  Pulau Lombok. Adanya festival ini berkaitan erat dengan kisah Putri Mandalika. Festival ini diadakan di Pantai Seger, Lombok.  

Membayangkan tentang perburuan cacing, mungkin bagi sebagian orang  akan merasa geli. Namun di sini, perlu kita ketahui, nyale atau cacing yang diburu di Pulau Lombok ini memiliki banyak sekali manfaat bagi kesehatan tubuh. Dari berbagai menu lauk pauk yang ada, nyale memiliki kandungan protein yang paling tinggi.  Dijelaskan bahwa kandungan protein nyale adalag 43,845, sedang kerang hijau 18,5%, Telur  ayam, 12,2%, telur penyu 10,9% dan susu sapi 3,5%. Nyale juga bermanfaat sebagai penyedap makanan dan bisa menambah daya tahan tubuh (hal 7).

Dalam buku ini sendiri, penulis mengisahkan tentang pengalaman seru Kak Ayu dan Nara, yang ikut memeriahkan Festifah Bau Nyale, di desanya. Mereka dengan semangat ikut berburu cacing warna-warni yang hanya keluar satu tahun sekali. Ketika Kak Ayu mengatakan bahwa nyale memiliki banyak manfaat, Nara tidak langsung percaya. Namun dia sangat terkejut ketika Kak Ayu menjelaskan tentang kandungan protein pada nyale. Hal itu akhirnya membuat Nara semangat untuk menangkap nyale, agar bisa menghadiahkan kepada ibunya, yang tidak bisa ikut berpartisipasi dalam festival. Dari Kak Ayu juga, Nara mengetahui tentang asal usul adanya Festival Bau Nyale. Apakah Nara berhasil memperoleh nyale? Dan bagaimana pula kisah Putri Mandalika dan hubungannya dengan kehadiran para nyale? Temukan jawabannya dalam buku ini.

Kisah pendek ini, cukup menarik untuk diikuti. Dan pastinya akan menjadi bacaan yang sehat buat anak-anak.  Melalui buku ini anak bisa belajar banyak  hal. Dari mengenal salah satu festival budaya di Indonesia, anak juga bisa mengenal manfaat nyale yang ternyata memiliki banyak khasiat untuk obat-obatan. Selain itu, melalui buku ini anak bisa belajar tentang pentingnya sikap tidak mudah putus asa untuk mewujudkan keinginan, indahnya bersikap baik hati dan banyak lagi. Tambahan ilustrasi yang digambar dengan apik, akan semakin menambah kelebihan buku ini.


Pernah dimuat di Radar Madura, 5 Februari 2019 


Untuk  buku kedua kita diajak berkenalan dengan kisah yang bertajuk : Sssh, Air Panas Mengalir dari Batu


 Mengajarkan Pendidikan Moral pada Anak


Mendidik anak agar memahami tentang nilai-nilai moral merupakan kewajiban orang tua. Karena orang tua adalah madrasah pertama bagi anak. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk memahami berbagai metode pendidikan, yang bisa diterapkan dalam mendidik anak sedini mungkin.  Dengan pendidikan etika dan karakter sedini mungkin, hal itu akan berdampak besar pada tumbuh kembang anak.  Jika sejak dini akan dibekali dengan pendidikan yang baik, pasti anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dan bertanggung jawab. Sebaliknya dengan pendidikan yang salah, maka anak akan tumbuh menjadi anak yang kurang bertanggung jawab.

Untuk mengetahui metode terbaik yang bisa diterapkan pada anak, maka sebagai orang tua kita harus mengenali  dulu potensi anak. Karena setiap anak memiliki kelebihan dan kecenderungan tersendiri.  Ada sebagian anak yang nyaman dengan belajar secara audio—atau mendengarkan penjelasan. Ada pula anak yang nyaman belajar dengan menggunakan metode visual—pembelajaran dengan menggunakan peraga gambar, diagram, tabel  sebagai pembantu.  Selain itu ada juga anak yang lebih semangat dengan metode kinetis—yaitu belajar dengan aktif melakukan gerakan.  Tidak ketinggalan ada juga anak yang senang belajar dengan metode kombinasi.

Dan di antara pembelajaran  yang bisa kita terapkan pada anak, adalah metode kombinasi—baik kombinasi audio visual atau audio, visual dan kinetis.  Di mana salah satunya kita bisa menerapkannya dengan membacakan kisah kepada anak. Tentu saja dalam memilihkan bacaan, orangtua harus menyesuaikan usia anak.  Memanfaatkan metode membaca atau bercerita, selain bisa menumbuhkan minat baca pada anak sejak dini, manfaat lainnya adalah merangsang pemikiran anak dan bisa menambah kosa kata baru bagi anak.

Salah satu buku yang patut dikenalkan kepada anak adalah buku terbaru Erlita Pratiwi berjudul “Sssh, Air Panas Mengalir dari Batu”. Buku ini selain memuat nilai-nilai pendidikan, penulis juga mengenalkan nilai-nilai budaya pada anak. Karena dari  pictorial book ini, selain bisa mengenal kisah seru yang biasa terjadi dalam kehidupan sehar-hari, penulis juga menyelipkan legenda  atau cerita rakyat yang ada di Indonesia.

Sebagai negara yang kaya akan budaya, Indonesia juga kaya akan cerita-cerita rakyat yang menarik untuk dikenalkan kepada anak. Dengan begitu, selain mereka mendapat pengetahuan baru, mereka juga semakin mengenal  keunikan dan keberagaman Indonesia.

Suatu hari Killa menginap di rumah sepupunya, Billa yang tinggal di Padarincang, Serang. Di sana Killa ditawari Billa untuk mengunjungi Pemandian Batu Kuwung. Pada awalnya Killa menolak ajakan Billa dengan berbagai alasan. Dari tidak suka berenang, takut kedinginan dan banyak lagi alasannya. Namun, pada akhirnya Killa setuju untuk mengunjungi pemandian itu. apalagi setelah mendengar cerita tentang Legenda Batu Kuwung (hal 18).

Legenda yang berasal dari daerah Padarincang, Serang, Banten, ini menceritakan tentang saudagar kaya yang mengalami penyakit aneh dan langka. Tidak ada satu pun tabib yang berhasil menyembuhkannya. Hingga suatu hari sang raja melakukan tapa brata selama satu minggu, untuk berdoa kepada Tuhan.  Dari tapa brata itu-lah, akhirnya keluar air panas  dari batu  cekung, yang awalnya dijadikan tempat duduk sang raja.

Membaca kisah ini, selain kita menjadi tahu tentang asal usus Pemandian Batu Kuwung, yang saat ini sudah menjadi destinasi wisata di Banten,  kita juga belajar tentang nilai-nilai moral. Yaitu keutamaan sabar saat menghadapi masalah, tidak menilai sesuatu dari luarnya saja dan selalu haus dengan pengetahuan baru. Kemudian tidak kalah menarik, dari kisah ini kita juga bisa mengetahui tentang manfaat air  dari batu cekung tersebut. Di mana air kolam itu mengandung kalsium dan yodium, bisa menyembuhkan pegal linu dan kesemutan (hal 32).


Sedangkan untuk  buku ketiga  kita diajak berkenalan dengan kisah yang bertajuk : Bunga Ajaib Taman Kinkin

Mengenalkan Tanaman Herbal pada Anak

Saat ini,  selain memanfaat obat medis—obat berasal dari bahan kimia, yang diresepkan dari dokter dengan kadar dan ukuran tertentu—obat herbal  juga menjadi salah satu alternatif untuk dikonsumsi. Apalagi Indonesia dengan kekayaan hayati, maka sangat mudah bagi kita untuk menemukan obat herbal.  Sebagaimana kita ketahui obat herbal berasal dari tanaman yang diolah secara tradisional.  Dengan kata lain, tananam herbal merupakan jenis-jenis tanaman yang bermanfaat untuk pengobatan.
Buku ini dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak, akan mengenal salah satu tanaman herbal, yang sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Di antara tanaman herbal yang ada seperti kunyit, jahet atau lengkuas, penulis memilih tanaman kemuning, untuk dikenalkan kepada anak. Di mana dijelaskan, selain memiliki warna putih yang cantik dan wangi, ternyata kemuning memiliki banyak khasiat. Di antaranya adalah daunnya bermanfaat untuk mengopres memar, sebagai bahan lulur dan menghaluskan kulit.  Buahnya bisa dijadikan pengharum dan banyak lagi.

Selain itu, melalui buku ini kita juga diajak mengenal salah satu dongeng nusantara  di Inonesia. Sebagaiman kita ketahui, sebagai negara yang kaya akan budaya, Indonesia memiliki banyak sekali dongeng maupun legenda yang sarat makna. Keberadaan dongeng –dongeng nusantara, selain sebagai kisah hiburan, pengantar tidur,  juga sekaligus mengajarkan nilai-nilai moral anak bangsa, agar menjadi sosok yang bermoral juga mencintai tanah air.

Tidak hanya menghadirkan sebuah cerita rakyat, penulis juga menghadirkan kisah keseharian yang kerap dialami anak dengan muatan nilai-nilai moral. Adalah Kinkin, yang ingin memiliki taman bungan berwarna-warni seperti milik Nonin. Di mana dalam tanam bunga tersebut ada bunga matahari, anggrek, mawar dan banyak lagi. Sedangkan di taman miliki keluarga Kinkin, hanya ada bunga kemuning yang berwarna putih. Hal itulah yang membuat Kinkin marah dan ingin menggantik bunga tersebut (hal 10). Kira-kira apakah harapan Kinkin bisa terwujud? Dan bagaimana pula kisah asal-usul bungan kemuning?

Membaca buku ini kita bisa belajar tentang arti pentingnya berpikir positif, jangan suka iri dengan miliki orang lain,  selalu hidup rukun dengan saudara dan tidak menilai sesuatu dari luarnya saja. Meski memuat kisah remake dongeng nusantara, kisah ini tetap menarik untuk dibaca. Apalagi dengan sentuhan ilustrasi yang apik, serta tambahan kisah menarik yang telah disiapkan penulis. Sangat pas untuk dibaca anak-anak.

Ketiga buku ini sangat menarik dan recomended untuk dibacakan kepada anak,  sebagai salah satu cara, dalam mengenalkan dongeng asal-usul,  juga pemahaman tentang nilai-nilai akhlak, yang diselipkan penulis juga berbagai pengetahuan unik di beberapa daerah di Indonesia. Selamat membaca dan berburu buku keren ini. 

Monday, 21 August 2017

[Resensi] Kisah Poliandri Drupadi dengan Pandawa

Dimuat di Radar Madura, Minggu 20 Agustus 2017


Judul               : Drupadi
Penulis             : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Januari 2017
Tebal               : vi + 150 halaman
ISBN               : 978-602-03-3687-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Siapa yang tidak mengenal kisah pewayangan Mahabarata? Sebuah kisah monumental yang selalu di kenang di sepanjang zaman. Bahkan hingga kini. Dan membicarakan Mahabarata, pasti kita langsung teringat dengan sosok pandawa yang merupakan tokoh sentral dalam kisah ini. Namun pernahkah  terpikir bahwa di balik kegagahan para satria itu, ada sosok Drupadi yang memiliki peran besar hingga membuat para pandawa memiliki kekuatan dan tekad yang kuat?

Menilik dari betapa kisah pewayangan ini masih selalu digemari, Seno Gumira Ajidarma, salah satu penulis besar di Indonesia ini, menceritakan kembali kisah yang selalu diminati pasar ini. Seno sendiri memang memiliki keterarikan tersendiri dalam kisah wayang. Di mana dia pernah menulis cerita wayang Rama-Sinta, yang dimuat bersambung di Koran Tempo tahun 2001, yang kemudian terbit sebagai Kitab Omong Kosong (2004) dan mendapat Khatulistiwa Award 2005. 

Dikisahkan Drupadi adalah putri Prabu Drupada dari kerajaan Panchala. Dia terlahir dengan kecerdasan dan kecantikan seperti bidadari. Hanya saja untuk masalah hati, entah kenapa dia harus menerima beban berat yang memilukan. Ayahnya membuat sayembara untuk mencari ksatria  yang bisa dinikahkan dengan dirinya. Padahal bagi Drupadi sendiri, dia sudah memiliki sosok yang selalu diharapkannya untuk memperistrinya.

Dan Drupadi semakin merasa sedih, ketika melihat para ksatria yang ikut sayembara adalah para raja yang terkenal jahat dan kejam. Mungkinkah tidak ada raja-raja termasyhur kebaikannya yang tertarik padanya? (hal 8). Hanya saja, Drupadi tahu bahwa kabar yang tersiar, para pandawa telah tewas dalam peristiwa Bale Sigala-gala.

Betapa sedihnya Drupadi jika akhirnya dia jatuh pada kasatria yang jahat. Sampai kemudian ada seorang brahmana muda yang mengikuti sayembara. Di mana Drupadi meyakini wajah brahmana itu mengingaatkan pada sosok yang selama ini dia cintai.  Dia pun langsung setuju menikah dengan brahmana yang sejatinya memang sudah memenangkan sayembara. Meski masih banyak ksatria lain yang tidak terima dengan kemenangan itu.  Sampai sang brahmana itu membuka jubahnya. Maka gemparlah keadaan di sana.

Berbeda dengan Drupadi yang sangat yakin brahmana atau Arjuna memang ditakdirkan untuk dirinya. Hanya saja betapa kagetnya Drupadi ketika Arjuna malah menyerakan dirinya kepada Yudistira, dengan alasan dia tidak bisa menikah terlebih dahulu dari sang kakak (hal 25).  Lebih mengejutkan Bima memberi saran untuk menikahi Drupadi bersama-sama.

Di sinilah pergolakan batin Drupadi terjadi. “Apakah perempuan diandaikan tidak punya kemauan? Tapi Drupadi sadar dia sama sekali tidak memiliki pilihan—karena dia tengah berada di tempat orang yang memiliki hak sepenuhnya atas dirinya. Maka Drupadi pun tidak bisa mengindari takdirnya untuk berpoliandri. Dia menikahi para pandawa (hal 30).

Tentu saja menjadi seorang wanita yang beristri lima, itu tidak mudah. Apalagi pada lubuk hatinya yang paling dalam, hanya ada nama Arjuna yang sangat dicintainya. Betapa Drupadi harus siap dengan segala konsekuensi pilihannya. Tapi yang lebih menyakitkan adalah ketika dijadikan taruhan dari perjudian anatara Yudistira dan Sengkuni. Di mana Yudistira memang terkenal sangat bodoh dalam masalah perjudian. Sehingga Drupadi harus menerima perlakuan buruk dari  Duryadhana, Dursasana dan para Kurawa.

“Suami-suamiku, apakah memang menjadi keutamaan ksatria untuk membiarkan istrinya terhina?” (hal 61).  Maka sejak saat itu Drupadi pun bersumpah dia tidak akan menyanggul rambutnya sampai bisa memandikan rambutnya dengan darah Dursasana.  Dendam itu membawa Drupadi pada jalan tidak terduga. Karena sebagai seorang pelaku poliandri masih bannyak jalan terjal yang menantinya. Tapi pada satu sisi, dendamnya itu juga membawa pengaruh dalam sikap para pandawa.

Membaca novel ini, membuka banyak gerbang tentang kisah yang memikat juga pembelajaran yang berharga, bahwa dendam itu sungguh mengerikan.  “Maka hidup di dunia  ini bukan hanya soal kita menjadi baik atau buruk, tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu.” (hal 107).

Di sisi lain kisah Drupadi ini juga mengingatkan tentang kenyataan bahwa sering kali keberadaan wanita itu sering disepelekan dan tidak dihargai. Perempuan harus selalu menurut dan tidak memiliki hak suara untuk memilih. Tapi juga menunjukkan perempuan  adalah sosok yang kuat,  memiliki daya juang dan pengabdian yang tinggi kepada para pasangan.

Srobyong, 2 April 2017

Friday, 12 May 2017

[Resensi] Kolonial Pengaruhi Kuliner Indonesia

Dimuat di Radar Madura, Minggu 30 April 2017 

Judul               : Jejak Rasa Nusantara; Sejarah Makanan Indonesia
Penulis             : Fadly Rahman
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, November 2016
Tebal               : xxii + 360 hlm
ISBN               : 978-602-03-3521-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama. Jepara

Sebagaimana kita ketahui, makanan adalah kebutuhan pokok yang harus terpenuhi guna memperoleh sumber energi. Namun dalam buku Jejak Rasa Nusantara, makanan ternyata tidak hanya terfokus pada kebutuhan perut. Tapi memuat sejarah yang jarang  diketahui. Di mana ternyata sejarah makanan Indonesia ini tidak lepas dari pengaruh kolonial para pendatang yang berkunjung ke Indonesia di masa silam. Bukan hanya tentang cita rasa, serta pengolahan tapi juga tentang tatacara penyajiannya.

Fadly Rahman memaparkan dalam aspek kuliner atau hasil masakan  Indonesia ini, banyak didapati akulturasi budaya antara pendatang dari berbagai bangsa dengan penduduk setempat. Pada abad ke-10 M masakan Indonesia sudah dipengaruhi oleh Tionghoa, India dan Arab.  Baru memasuki abad ke- 16 sampai 18 M Eropa—Benua Amerika dan Eropa nenanamkan pengaruhnya di Indonesia yang dalam sejarah global disebut Columbian exchange (hal 6).

Dari India kita dikenalkan dengan berbagai jenis bumbu masak. Seperti Bawang atau bakung (Crinium asiaticum), ketumbar (Coriandrum sativum), jintan (Cuminum cyminum) dan jahe (Zingiber officinale). Bahan-bahan ini berkembang di Asia Tenggara, khusunya Sumatra (hal 19). 

Sedangkan dari Tionghoa kita dikenalkan dengan dasun atau bawang putih (Allium Sativum) dan kedelai (Glycine soja). Tidak ketinggalan adalah teknik dalam memasak dengan wajan untuk membuat mie hingga masalah pertanian. Seperti pembudiyaan beras, kedelai, kacang tanah, tebu, hingga  jenis pembuatan minuman fermentasi getah manis sadapan pohon palma, pembuatan gula aren.  Masih dari Tionghoa juga, disinyalir tahu pada mulanya juga salah satu bentuk akulturasi dengan negeri bambu itu. Sebagaimana dalam Prasasti Watukura dari Jawa Timur kata tahu dalam prasasti itu diserap dari bahasa Hokkian atau dialek Selatan (Hainan), tau-hu (hal 20).

Tidak hanya dalam masalah bumbu, pengaruh budaya yang dibawa para pendatang khususnya kolonial, juga merubah masalah selera makanan. Sebagaiman yang dipaparkan Raffles, bahwa Jawa adalah “vegetable kingdom”. Berbagai jenis tanaman dikonsumsi untuk kebutuhan  pangan dan makaanan penduduk seperti padi, jagung, kacang tebu, merica, cabai jawa, kumukus, kelapa, petai, jengkol, pucang, kemiri, sukun, akar umbi-umbian, sagu, gandum dan kentang (hal 59). 

Tapi pada perkembangannya, Indonesia yang awalnya fokus pada pembudidayaan tanaman, saat itu mulai melirik pembudidayaan ternak. Di sinilah selera memakan daging dimulai.  Pada masa awal para pribumi lebih mempercayai bahwa makan daging kerbau itu lebih baik dan mewah, karena kerbau biasanya disajikan untuk para raja, namun setelah ada pengaruh dari barat, mereka akhirnya mengenal tentang sapi juga unggas.

Perkembangan selanjutnya, selain memberi pengaruh pada citarasa makanan, kolonial juga memberi pengaruh pada masalah pemberian nama makanan yang sedikit banyak diambil dari serapan bahasa barat. Seperti frikadel menjadi perkedel, smoor menjadi semur, biefstuk menjadi bistik, soep menjadi sup.

Tidak ketinggalan ada pula bentuk akulturasi  dalam pola penyajian makanan. Di mana jika dulu di Indonesia ketika makan hanya berlaskan daun dan memakai tangan untuk menyuapkan nasi, kebiasaan itu berubah dengan memakai sendok dan piring. Serta makanan mulai disiapkan di meja.
Suka atau pun tidak suka masa kolonial memberikan banyak pengaruh dalam pengembangan berbagai jenis makanan dan kebiasaan makan baru di Hindia-Belanda. Perkembangan itu berlangsung melalui berbagai praktik budidaya pangan, ilmu makanan, dan gastronomi (hal 185).

Membaca buku ini kita akan diajak mengenang kembali masa pemerintah kolonial dalam sudut pandang yang berbeda. Karena di sini kita bukan diajak mengenal tentang ragam kejahatan yang pernah ditorehkan pada bangsa Indonesia, tapi bagaimana berjalannya waktu yang sedikit banyak menjadi penghubung tentang perkembangan makanan di Indonesia.  Sebuah buku yang menarik dan menyenangkan. Penulis melengkapinya dengan lampian dan bukti autentik tentang akulturasi yang terjadi antara budaya kilonial dan Indonesia. Sebuah buku patut diapresiakan untuk semua kalangan.

Srobyong, 28 Maret 2017 

Thursday, 27 April 2017

[Resensi] Mitologi dan Dongeng dalam Cerita

Dimuat di Radar Madura, Minggu 9 April 2017 

Judul               : Mata Bara
Penulis             : Diani Savitri
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Oktober 2016
Tebal               : 216 hlm
ISBN               : 978-602-3387-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama. Jepara.


Mitologi adalah sekumpulan mitos dan legenda yang berkisah tentang para dewa dan pahlawan. Sedangkan dongeng adalah kisah-kisah berbentuk khayalan yang menarik dan luar biasa.  Sebagaimana diketahui baik mitologi atau dongeng itu sama-sama memiliki sifat mistis dan ketidakpastian. Hanya saja keberadaan mereka tetap menjadi sajian yang asyik untuk dikulik dan dinikmati.

Dalam kumpulan cerpen  yang dipaparkan dengan gaya bahasa renyah dan memikat ini,  penulis mencoba memadukan unsur mitologi dan dongeng dengan kisah cinta, kehidupan sehari-hari, kepahitan dalam satu kesatuan yang asyik untuk dinikmati. Terdiri dari  16 cerita, kita akan diperkanalkan dengan kisah-kisah yang penuh intrik, dan penuh kejutan.

Sebut saja cerpen yang berjudul “Cerpen yang Menerbangkan Kupu-Kupu dari Untaian Rambuatnya”.  Dalam kisah ini kita dikenalkan dengan sosok Socha gadis cantik yang konon katanya bisa menerbangkan kupu-kupu dari rambutnya (hal 11). Pada awalnya penduduk tidak mempercayai berita itu. Sampai kemudian mereka melihat secara langsung.  Dengan munculnya gadis yang bisa menerbangkan kupu-kupu, maka kehidupan penduduk pun berubah lebih baik. Sebagaimana yang diberitakan, keberadaan gadis itu adalah anugerah dan menjadi ketergantungan bagi penduduk.

Namun siapa sangka, di kala kehidupan peduduk tengah dalam masa kesuksesan, Socha tiba-tiba menghilang. Hal ini tentu saja membuat penduduk kecewa dan marah.  Bahkan sampai ketika keberadaan Socha sudah bisa ditemukan, penduduk tetap tidak berdaya. Cerpen ini memiliki judul panjang dengan ending yang tidak terduga. Penulis memadukan kisah mitos. dongeng dan kehidupan sehari-hari yang kerap dilakukan masyarakat umum.

Kisah lain yang tidak kalah seru adalah “Ros Menemukan Suaminya”.  Dalam kisah ini kita diajak memecahkan misteri keberadaan suami Ros. Setelah kepergiannya yang tanpa kabar, Ros akhirnya berhasil menemukannya. Namun pada titik itu, ditemukannya Satar—nama suami Ros—malah menjadi masalah.  Membuka sesuatu yang tidak pernah diguga Ros, kenapa Satar bisa menghilang tanpa jejak (hal 27).

Pada cerpen ini kita kembali dihadapakan realita kehidupan yang sering dilakukan oleh orang-orang yang rakus dan tidak sabaran. Di mana, tanpa berpikir dua kali berbagai cara dilakukan agar bisa memenuhi nafsu untuk mencapai kepuasan.

Lalu ada pula cerpen yang berjudul “Betina” judulnya sangat padat, tapi juga sangat kuat karena bisa langsung mengundang rasa penasaran.  Belum lagi endingnya yang benar-benar tidak terduga, jika dipikirkan secara logika. Penulis memiliki ide-ide yang suka bertabrakan. Namun disitulah keunikannya.

Di sini cerita berfokus pada toko aku yang memiliki anjing  bernama Izsla—anjing betina. Tokoh aku memiliki kegemaran melakukan lomba pacu hewan dan Izslah adalah lakon utama yang selalu dia banggakan. Karena Izsla sangat pintar dan selalu bisa menyenangkannya. Izalah selalu menang jika ikut lomab pacu hewan. Apalagi karena Izsla juga kekayaan si tokoh aku semakin melimpah ruah. 
Namun pada suatu waktu, Izsla memperlihatkan sikap yang membuat tokoh aku marah. Hingga pada puncaknya mereka bertengkar dan diakhiri dengan kenyataan yang tidak terbayangkan (hal 44).

Membaca buku ini, kita akan diajak berpetualang dengan kisah-kisah yang tidak terduga.  Yang menarik lagi dari kumpulan cerpen ini adalah perihal ide-ide yang dimiliki penulis. Idenya tidak biasa dan akan membuat pembaca terkaget-kaget. Hanya saja ada beberapa cerpen yang menurut saya agak lamban.  Dan perihal cover back yang terasa kurang menarik. Tapi lepas dari itu, secara keseluruhan buku ini sangat asyik untuk dinikmati.

Membaca buku ini kita bisa mengambil sedikit gambaran realita kehidupan yang sering terjadi saat ini dan memetik hikmahnya untuk perbaikan diri. Dari cerpennya penulis mencoba mengingatkan bahwa dalam hidup kita janganlah suka mengandalkan sebuah mitos atau dongeng masa lalu. Yang terpenting adalah kita harus mau berusaha dan tidak mudah menyerah. Pesan lainnya adalah janganlah menjadi pribadi rakus yang rela menjual diri demi kekayaaan. Karena penyesalan selalu berada di akhir.

Srobyong, 1 Januari 2017