Showing posts with label Radar Madura. Show all posts
Showing posts with label Radar Madura. Show all posts
Thursday, 13 February 2020
[Resensi] Pentingnya Menjaga Kelestarian Ekosistem Laut
Label:
Imprint of Tiga Serangkai,
Padang Ekspres,
Radar Madura,
Review buku,
Ruri Irawati,
Tiga Adanda
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Tuesday, 29 October 2019
[Resensi] Pendidikan Budaya Lewat Cerita
Tiga Picture Book ini merupakan seri "Cerita Rakyat Asal-Usul" yang diterbitkan di Penerbit Tiga Ananda dan dikemas dengan apik oleh Mbak Erlita Pratiwi.
Nah buku pertama kita diajak berkenalan dengan kisah yang bertajuk : Byur! Cacing Warna-warni Datang
Pendidikan Budaya Lewat Cerita
Indonesia adalah negara yang kaya akan adat dan
budaya. Terdiri dari berbagai suku, yang memiliki masing-masing kebudayaan,
membuat Indonesia memiliki beragama festival yang menarik dan unik. Seperti
festival Erau Kartanegara yang berasal dari Kutai, Kartanegara, Kalimantan
Selatan, Festival Lompat Batu dari Pulau Nias, Festival Tabuik dari Sumatra
Barat dan banyak lagi.
Memilah-milah dari banyak festival yang ada di Indonesia, Erlita Pratiwi memilih Festival
Bau Nyale, yang berasal dari Lombok, untuk dikenalkan kepada anak-anak. Dengan
paparan yang mudah dipahami, penulis berhasil mengadirkan kisah menarik. Di
mana penulis memadukan kisah sehari-hari dengan dongeng klasik nusantara.
Sebagaimana kita ketahui, selain kaya akan adat
budaya, Indonesia juga memiliki banyak sekali dongeng-dongeng nusantara yang
menarik dan patut dikenalkan kepada anak.
Baik dongeng berupa fabel, legenda, mitos atau asal-usul sebuah tempat
dan banyak lagi. Di mana masing-masing dongeng selain bermanfaat untuk hiburan,
dongeng tersebut juga memiliki nilai-nilai budi pekerti luhur. Dengan begitu, anak bisa belajar berbagai hal
dari kisah dongeng.
Festival Bau Nyale sendiri merupakan tradisi yang
diselenggaralan setahun sekali, yang dilakukan antara bulan Februari –
Maret. Dalam bahasa Sasak “bau” artinya
menangkan, dan “nyale” artinya cacing. Jadi Festival Bau Nyale, berarti
perburuan cacing, yang dilakukan oleh masyarakat Lombok. Festival ini sangat penting bagi suku Sasak,
suku asli Pulau Lombok. Adanya festival
ini berkaitan erat dengan kisah Putri Mandalika. Festival ini diadakan di
Pantai Seger, Lombok.
Membayangkan tentang perburuan cacing, mungkin bagi
sebagian orang akan merasa geli. Namun
di sini, perlu kita ketahui, nyale atau cacing yang diburu di Pulau Lombok ini
memiliki banyak sekali manfaat bagi kesehatan tubuh. Dari berbagai menu lauk
pauk yang ada, nyale memiliki kandungan protein yang paling tinggi. Dijelaskan bahwa kandungan protein nyale
adalag 43,845, sedang kerang hijau 18,5%, Telur
ayam, 12,2%, telur penyu 10,9% dan susu sapi 3,5%. Nyale juga bermanfaat
sebagai penyedap makanan dan bisa menambah daya tahan tubuh (hal 7).
Dalam buku ini sendiri, penulis mengisahkan tentang
pengalaman seru Kak Ayu dan Nara, yang ikut memeriahkan Festifah Bau Nyale, di
desanya. Mereka dengan semangat ikut berburu cacing warna-warni yang hanya
keluar satu tahun sekali. Ketika Kak Ayu mengatakan bahwa nyale memiliki banyak
manfaat, Nara tidak langsung percaya. Namun dia sangat terkejut ketika Kak Ayu
menjelaskan tentang kandungan protein pada nyale. Hal itu akhirnya membuat Nara
semangat untuk menangkap nyale, agar bisa menghadiahkan kepada ibunya, yang
tidak bisa ikut berpartisipasi dalam festival. Dari Kak Ayu juga, Nara
mengetahui tentang asal usul adanya Festival Bau Nyale. Apakah Nara berhasil
memperoleh nyale? Dan bagaimana pula kisah Putri Mandalika dan hubungannya
dengan kehadiran para nyale? Temukan jawabannya dalam buku ini.
Kisah pendek ini, cukup menarik untuk diikuti. Dan
pastinya akan menjadi bacaan yang sehat buat anak-anak. Melalui buku ini anak bisa belajar
banyak hal. Dari mengenal salah satu
festival budaya di Indonesia, anak juga bisa mengenal manfaat nyale yang
ternyata memiliki banyak khasiat untuk obat-obatan. Selain itu, melalui buku
ini anak bisa belajar tentang pentingnya sikap tidak mudah putus asa untuk
mewujudkan keinginan, indahnya bersikap baik hati dan banyak lagi. Tambahan
ilustrasi yang digambar dengan apik, akan semakin menambah kelebihan buku ini.
Untuk buku kedua kita diajak berkenalan dengan kisah yang bertajuk : Sssh, Air Panas Mengalir dari Batu
Mengajarkan
Pendidikan Moral pada Anak
Mendidik anak agar memahami tentang nilai-nilai
moral merupakan kewajiban orang tua. Karena orang tua adalah madrasah pertama
bagi anak. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk memahami berbagai
metode pendidikan, yang bisa diterapkan dalam mendidik anak sedini
mungkin. Dengan pendidikan etika dan
karakter sedini mungkin, hal itu akan berdampak besar pada tumbuh kembang
anak. Jika sejak dini akan dibekali
dengan pendidikan yang baik, pasti anak akan tumbuh menjadi pribadi yang
berkarakter dan bertanggung jawab. Sebaliknya dengan pendidikan yang salah,
maka anak akan tumbuh menjadi anak yang kurang bertanggung jawab.
Untuk mengetahui metode terbaik yang bisa diterapkan
pada anak, maka sebagai orang tua kita harus mengenali dulu potensi anak. Karena setiap anak
memiliki kelebihan dan kecenderungan tersendiri. Ada sebagian anak yang nyaman dengan belajar
secara audio—atau mendengarkan penjelasan. Ada pula anak yang nyaman belajar
dengan menggunakan metode visual—pembelajaran dengan menggunakan peraga gambar,
diagram, tabel sebagai pembantu. Selain itu ada juga anak yang lebih semangat
dengan metode kinetis—yaitu belajar dengan aktif melakukan gerakan. Tidak ketinggalan ada juga anak yang senang
belajar dengan metode kombinasi.
Dan di antara pembelajaran yang bisa kita terapkan pada anak, adalah
metode kombinasi—baik kombinasi audio visual atau audio, visual dan
kinetis. Di mana salah satunya kita bisa
menerapkannya dengan membacakan kisah kepada anak. Tentu saja dalam memilihkan
bacaan, orangtua harus menyesuaikan usia anak.
Memanfaatkan metode membaca atau bercerita, selain bisa menumbuhkan
minat baca pada anak sejak dini, manfaat lainnya adalah merangsang pemikiran
anak dan bisa menambah kosa kata baru bagi anak.
Salah satu buku yang patut dikenalkan kepada anak
adalah buku terbaru Erlita Pratiwi berjudul “Sssh, Air Panas Mengalir dari
Batu”. Buku ini selain memuat nilai-nilai pendidikan, penulis juga mengenalkan
nilai-nilai budaya pada anak. Karena dari
pictorial book ini, selain bisa mengenal kisah seru yang biasa
terjadi dalam kehidupan sehar-hari, penulis juga menyelipkan legenda atau cerita rakyat yang ada di Indonesia.
Sebagai negara yang kaya akan budaya, Indonesia juga
kaya akan cerita-cerita rakyat yang menarik untuk dikenalkan kepada anak.
Dengan begitu, selain mereka mendapat pengetahuan baru, mereka juga semakin
mengenal keunikan dan keberagaman
Indonesia.
Suatu hari Killa menginap di rumah sepupunya, Billa
yang tinggal di Padarincang, Serang. Di sana Killa ditawari Billa untuk mengunjungi
Pemandian Batu Kuwung. Pada awalnya Killa menolak ajakan Billa dengan berbagai
alasan. Dari tidak suka berenang, takut kedinginan dan banyak lagi alasannya.
Namun, pada akhirnya Killa setuju untuk mengunjungi pemandian itu. apalagi
setelah mendengar cerita tentang Legenda Batu Kuwung (hal 18).
Legenda yang berasal dari daerah Padarincang,
Serang, Banten, ini menceritakan tentang saudagar kaya yang mengalami penyakit
aneh dan langka. Tidak ada satu pun tabib yang berhasil menyembuhkannya. Hingga
suatu hari sang raja melakukan tapa brata selama satu minggu, untuk berdoa
kepada Tuhan. Dari tapa brata itu-lah,
akhirnya keluar air panas dari batu cekung, yang awalnya dijadikan tempat duduk
sang raja.
Membaca kisah ini, selain kita menjadi tahu tentang
asal usus Pemandian Batu Kuwung, yang saat ini sudah menjadi destinasi wisata
di Banten, kita juga belajar tentang
nilai-nilai moral. Yaitu keutamaan sabar saat menghadapi masalah, tidak menilai
sesuatu dari luarnya saja dan selalu haus dengan pengetahuan baru. Kemudian
tidak kalah menarik, dari kisah ini kita juga bisa mengetahui tentang manfaat
air dari batu cekung tersebut. Di mana
air kolam itu mengandung kalsium dan yodium, bisa menyembuhkan pegal linu dan
kesemutan (hal 32).
Sedangkan untuk buku ketiga kita diajak berkenalan dengan kisah yang bertajuk : Bunga Ajaib Taman Kinkin
Mengenalkan
Tanaman Herbal pada Anak
Saat ini, selain memanfaat obat medis—obat berasal dari
bahan kimia, yang diresepkan dari dokter dengan kadar dan ukuran tertentu—obat
herbal juga menjadi salah satu
alternatif untuk dikonsumsi. Apalagi Indonesia dengan kekayaan hayati, maka
sangat mudah bagi kita untuk menemukan obat herbal. Sebagaimana kita ketahui obat herbal berasal
dari tanaman yang diolah secara tradisional.
Dengan kata lain, tananam herbal merupakan jenis-jenis tanaman yang
bermanfaat untuk pengobatan.
Buku ini dengan bahasa yang sederhana dan mudah
dipahami anak, akan mengenal salah satu tanaman herbal, yang sangat bermanfaat
bagi kehidupan sehari-hari. Di antara tanaman herbal yang ada seperti kunyit,
jahet atau lengkuas, penulis memilih tanaman kemuning, untuk dikenalkan kepada
anak. Di mana dijelaskan, selain memiliki warna putih yang cantik dan wangi,
ternyata kemuning memiliki banyak khasiat. Di antaranya adalah daunnya
bermanfaat untuk mengopres memar, sebagai bahan lulur dan menghaluskan
kulit. Buahnya bisa dijadikan pengharum
dan banyak lagi.
Selain itu, melalui buku ini kita juga diajak
mengenal salah satu dongeng nusantara di
Inonesia. Sebagaiman kita ketahui, sebagai negara yang kaya akan budaya,
Indonesia memiliki banyak sekali dongeng maupun legenda yang sarat makna.
Keberadaan dongeng –dongeng nusantara, selain sebagai kisah hiburan, pengantar
tidur, juga sekaligus mengajarkan
nilai-nilai moral anak bangsa, agar menjadi sosok yang bermoral juga mencintai
tanah air.
Tidak hanya menghadirkan sebuah cerita rakyat,
penulis juga menghadirkan kisah keseharian yang kerap dialami anak dengan
muatan nilai-nilai moral. Adalah Kinkin, yang ingin memiliki taman bungan
berwarna-warni seperti milik Nonin. Di mana dalam tanam bunga tersebut ada
bunga matahari, anggrek, mawar dan banyak lagi. Sedangkan di taman miliki
keluarga Kinkin, hanya ada bunga kemuning yang berwarna putih. Hal itulah yang
membuat Kinkin marah dan ingin menggantik bunga tersebut (hal 10). Kira-kira
apakah harapan Kinkin bisa terwujud? Dan bagaimana pula kisah asal-usul bungan
kemuning?
Membaca buku ini kita bisa belajar tentang arti
pentingnya berpikir positif, jangan suka iri dengan miliki orang lain, selalu hidup rukun dengan saudara dan tidak
menilai sesuatu dari luarnya saja. Meski memuat kisah remake dongeng
nusantara, kisah ini tetap menarik untuk dibaca. Apalagi dengan sentuhan
ilustrasi yang apik, serta tambahan kisah menarik yang telah disiapkan penulis.
Sangat pas untuk dibaca anak-anak.
Ketiga buku ini sangat menarik dan recomended untuk dibacakan kepada anak, sebagai salah satu cara, dalam mengenalkan dongeng asal-usul, juga pemahaman tentang nilai-nilai akhlak, yang diselipkan penulis juga berbagai pengetahuan unik di beberapa daerah di Indonesia. Selamat membaca dan berburu buku keren ini.
Label:
Erlita Pratiwi,
Radar Madura,
Review buku,
Tiga Adanda
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Monday, 21 August 2017
[Resensi] Kisah Poliandri Drupadi dengan Pandawa
Dimuat di Radar Madura, Minggu 20 Agustus 2017
Judul : Drupadi
Penulis : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Pertama, Januari 2017
Tebal : vi + 150 halaman
ISBN : 978-602-03-3687-9
Peresensi : Ratnani Latifah. Alumni Universitas
Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.
Siapa yang tidak mengenal kisah
pewayangan Mahabarata? Sebuah kisah monumental yang selalu di kenang di
sepanjang zaman. Bahkan hingga kini. Dan membicarakan Mahabarata, pasti kita
langsung teringat dengan sosok pandawa yang merupakan tokoh sentral dalam kisah
ini. Namun pernahkah terpikir bahwa di
balik kegagahan para satria itu, ada sosok Drupadi yang memiliki peran besar
hingga membuat para pandawa memiliki kekuatan dan tekad yang kuat?
Menilik dari betapa kisah pewayangan
ini masih selalu digemari, Seno Gumira Ajidarma, salah satu penulis besar di
Indonesia ini, menceritakan kembali kisah yang selalu diminati pasar ini. Seno
sendiri memang memiliki keterarikan tersendiri dalam kisah wayang. Di mana dia
pernah menulis cerita wayang Rama-Sinta, yang dimuat bersambung di Koran Tempo
tahun 2001, yang kemudian terbit sebagai Kitab Omong Kosong (2004) dan mendapat
Khatulistiwa Award 2005.
Dikisahkan Drupadi adalah putri
Prabu Drupada dari kerajaan Panchala. Dia terlahir dengan kecerdasan dan
kecantikan seperti bidadari. Hanya saja untuk masalah hati, entah kenapa dia
harus menerima beban berat yang memilukan. Ayahnya membuat sayembara untuk mencari
ksatria yang bisa dinikahkan dengan
dirinya. Padahal bagi Drupadi sendiri, dia sudah memiliki sosok yang selalu
diharapkannya untuk memperistrinya.
Dan Drupadi semakin merasa sedih,
ketika melihat para ksatria yang ikut sayembara adalah para raja yang terkenal
jahat dan kejam. Mungkinkah tidak ada raja-raja termasyhur kebaikannya yang
tertarik padanya? (hal 8). Hanya saja, Drupadi tahu bahwa kabar yang tersiar,
para pandawa telah tewas dalam peristiwa Bale Sigala-gala.
Betapa sedihnya Drupadi jika
akhirnya dia jatuh pada kasatria yang jahat. Sampai kemudian ada seorang
brahmana muda yang mengikuti sayembara. Di mana Drupadi meyakini wajah brahmana
itu mengingaatkan pada sosok yang selama ini dia cintai. Dia pun langsung setuju menikah dengan brahmana
yang sejatinya memang sudah memenangkan sayembara. Meski masih banyak ksatria
lain yang tidak terima dengan kemenangan itu.
Sampai sang brahmana itu membuka jubahnya. Maka gemparlah keadaan di
sana.
Berbeda dengan Drupadi yang sangat
yakin brahmana atau Arjuna memang ditakdirkan untuk dirinya. Hanya saja betapa
kagetnya Drupadi ketika Arjuna malah menyerakan dirinya kepada Yudistira,
dengan alasan dia tidak bisa menikah terlebih dahulu dari sang kakak (hal 25). Lebih mengejutkan Bima memberi saran untuk
menikahi Drupadi bersama-sama.
Di sinilah pergolakan batin Drupadi
terjadi. “Apakah perempuan diandaikan tidak punya kemauan? Tapi Drupadi sadar
dia sama sekali tidak memiliki pilihan—karena dia tengah berada di tempat orang
yang memiliki hak sepenuhnya atas dirinya. Maka Drupadi pun tidak bisa
mengindari takdirnya untuk berpoliandri. Dia menikahi para pandawa (hal 30).
Tentu saja menjadi seorang wanita
yang beristri lima, itu tidak mudah. Apalagi pada lubuk hatinya yang paling
dalam, hanya ada nama Arjuna yang sangat dicintainya. Betapa Drupadi harus siap
dengan segala konsekuensi pilihannya. Tapi yang lebih menyakitkan adalah ketika
dijadikan taruhan dari perjudian anatara Yudistira dan Sengkuni. Di mana
Yudistira memang terkenal sangat bodoh dalam masalah perjudian. Sehingga
Drupadi harus menerima perlakuan buruk dari
Duryadhana, Dursasana dan para Kurawa.
“Suami-suamiku, apakah memang
menjadi keutamaan ksatria untuk membiarkan istrinya terhina?” (hal 61). Maka sejak saat
itu Drupadi pun bersumpah dia tidak akan menyanggul rambutnya sampai bisa memandikan
rambutnya dengan darah Dursasana. Dendam
itu membawa Drupadi pada jalan tidak terduga. Karena sebagai seorang pelaku
poliandri masih bannyak jalan terjal yang menantinya. Tapi pada satu sisi, dendamnya
itu juga membawa pengaruh dalam sikap para pandawa.
Membaca novel ini, membuka banyak
gerbang tentang kisah yang memikat juga pembelajaran yang berharga, bahwa
dendam itu sungguh mengerikan. “Maka
hidup di dunia ini bukan hanya soal kita
menjadi baik atau buruk, tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan
keburukan itu.” (hal 107).
Di sisi lain kisah Drupadi ini juga
mengingatkan tentang kenyataan bahwa sering kali keberadaan wanita itu sering
disepelekan dan tidak dihargai. Perempuan harus selalu menurut dan tidak
memiliki hak suara untuk memilih. Tapi juga menunjukkan perempuan adalah sosok yang kuat, memiliki daya juang dan pengabdian yang tinggi
kepada para pasangan.
Srobyong, 2 April 2017
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Friday, 12 May 2017
[Resensi] Kolonial Pengaruhi Kuliner Indonesia
Dimuat di Radar Madura, Minggu 30 April 2017
Judul : Jejak Rasa Nusantara; Sejarah
Makanan Indonesia
Penulis : Fadly Rahman
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Pertama, November 2016
Tebal : xxii + 360 hlm
ISBN : 978-602-03-3521-6
Peresensi : Ratnani Latifah. Alumni Universitas
Islam Nahdlatul Ulama. Jepara
Sebagaimana kita ketahui, makanan
adalah kebutuhan pokok yang harus terpenuhi guna memperoleh sumber energi.
Namun dalam buku Jejak Rasa Nusantara, makanan ternyata tidak hanya
terfokus pada kebutuhan perut. Tapi memuat sejarah yang jarang diketahui. Di mana ternyata sejarah makanan
Indonesia ini tidak lepas dari pengaruh kolonial para pendatang yang berkunjung
ke Indonesia di masa silam. Bukan hanya tentang cita rasa, serta pengolahan tapi
juga tentang tatacara penyajiannya.
Fadly Rahman memaparkan dalam aspek
kuliner atau hasil masakan Indonesia
ini, banyak didapati akulturasi budaya antara pendatang dari berbagai bangsa
dengan penduduk setempat. Pada abad ke-10 M masakan Indonesia sudah dipengaruhi
oleh Tionghoa, India dan Arab. Baru memasuki
abad ke- 16 sampai 18 M Eropa—Benua Amerika dan Eropa nenanamkan pengaruhnya di
Indonesia yang dalam sejarah global disebut Columbian exchange (hal 6).
Dari India kita dikenalkan dengan
berbagai jenis bumbu masak. Seperti Bawang atau bakung (Crinium asiaticum),
ketumbar (Coriandrum sativum), jintan (Cuminum cyminum) dan jahe (Zingiber
officinale). Bahan-bahan ini berkembang di Asia Tenggara, khusunya Sumatra (hal
19).
Sedangkan dari Tionghoa kita
dikenalkan dengan dasun atau bawang putih (Allium Sativum) dan kedelai (Glycine
soja). Tidak ketinggalan adalah teknik dalam memasak dengan wajan untuk membuat
mie hingga masalah pertanian. Seperti pembudiyaan beras, kedelai, kacang tanah,
tebu, hingga jenis pembuatan minuman
fermentasi getah manis sadapan pohon palma, pembuatan gula aren. Masih dari Tionghoa juga, disinyalir tahu
pada mulanya juga salah satu bentuk akulturasi dengan negeri bambu itu.
Sebagaimana dalam Prasasti Watukura dari Jawa Timur kata tahu dalam
prasasti itu diserap dari bahasa Hokkian atau dialek Selatan (Hainan), tau-hu
(hal 20).
Tidak hanya dalam masalah bumbu,
pengaruh budaya yang dibawa para pendatang khususnya kolonial, juga merubah
masalah selera makanan. Sebagaiman yang dipaparkan Raffles, bahwa Jawa adalah “vegetable
kingdom”. Berbagai jenis tanaman dikonsumsi untuk kebutuhan pangan dan makaanan penduduk seperti padi,
jagung, kacang tebu, merica, cabai jawa, kumukus, kelapa, petai, jengkol,
pucang, kemiri, sukun, akar umbi-umbian, sagu, gandum dan kentang (hal
59).
Tapi pada perkembangannya, Indonesia
yang awalnya fokus pada pembudidayaan tanaman, saat itu mulai melirik
pembudidayaan ternak. Di sinilah selera memakan daging dimulai. Pada masa awal para pribumi lebih mempercayai
bahwa makan daging kerbau itu lebih baik dan mewah, karena kerbau biasanya
disajikan untuk para raja, namun setelah ada pengaruh dari barat, mereka
akhirnya mengenal tentang sapi juga unggas.
Perkembangan selanjutnya, selain
memberi pengaruh pada citarasa makanan, kolonial juga memberi pengaruh pada
masalah pemberian nama makanan yang sedikit banyak diambil dari serapan bahasa
barat. Seperti frikadel menjadi perkedel, smoor menjadi semur, biefstuk menjadi
bistik, soep menjadi sup.
Tidak ketinggalan ada pula bentuk
akulturasi dalam pola penyajian makanan.
Di mana jika dulu di Indonesia ketika makan hanya berlaskan daun dan memakai
tangan untuk menyuapkan nasi, kebiasaan itu berubah dengan memakai sendok dan
piring. Serta makanan mulai disiapkan di meja.
Suka atau pun tidak suka masa kolonial
memberikan banyak pengaruh dalam pengembangan berbagai jenis makanan dan
kebiasaan makan baru di Hindia-Belanda. Perkembangan itu berlangsung melalui
berbagai praktik budidaya pangan, ilmu makanan, dan gastronomi (hal 185).
Membaca buku ini kita akan diajak
mengenang kembali masa pemerintah kolonial dalam sudut pandang yang berbeda.
Karena di sini kita bukan diajak mengenal tentang ragam kejahatan yang pernah
ditorehkan pada bangsa Indonesia, tapi bagaimana berjalannya waktu yang sedikit
banyak menjadi penghubung tentang perkembangan makanan di Indonesia. Sebuah buku yang menarik dan menyenangkan.
Penulis melengkapinya dengan lampian dan bukti autentik tentang akulturasi yang
terjadi antara budaya kilonial dan Indonesia. Sebuah buku patut diapresiakan
untuk semua kalangan.
Srobyong, 28 Maret 2017
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Thursday, 27 April 2017
[Resensi] Mitologi dan Dongeng dalam Cerita
Dimuat di Radar Madura, Minggu 9 April 2017
Judul : Mata Bara
Penulis : Diani Savitri
Penerbit : Gramedia
Cetakan : Pertama, Oktober 2016
Tebal : 216 hlm
ISBN :
978-602-3387-8
Peresensi : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama.
Jepara.
Mitologi adalah sekumpulan mitos dan
legenda yang berkisah tentang para dewa dan pahlawan. Sedangkan dongeng adalah
kisah-kisah berbentuk khayalan yang menarik dan luar biasa. Sebagaimana diketahui baik mitologi atau
dongeng itu sama-sama memiliki sifat mistis dan ketidakpastian. Hanya saja
keberadaan mereka tetap menjadi sajian yang asyik untuk dikulik dan dinikmati.
Dalam kumpulan cerpen yang dipaparkan dengan gaya bahasa renyah dan
memikat ini, penulis mencoba memadukan
unsur mitologi dan dongeng dengan kisah cinta, kehidupan sehari-hari, kepahitan
dalam satu kesatuan yang asyik untuk dinikmati. Terdiri dari 16 cerita, kita akan diperkanalkan dengan
kisah-kisah yang penuh intrik, dan penuh kejutan.
Sebut saja cerpen yang berjudul
“Cerpen yang Menerbangkan Kupu-Kupu dari Untaian Rambuatnya”. Dalam kisah ini kita dikenalkan dengan sosok
Socha gadis cantik yang konon katanya bisa menerbangkan kupu-kupu dari
rambutnya (hal 11). Pada awalnya penduduk tidak mempercayai berita itu. Sampai
kemudian mereka melihat secara langsung.
Dengan munculnya gadis yang bisa menerbangkan kupu-kupu, maka kehidupan
penduduk pun berubah lebih baik. Sebagaimana yang diberitakan, keberadaan gadis
itu adalah anugerah dan menjadi ketergantungan bagi penduduk.
Namun siapa sangka, di kala
kehidupan peduduk tengah dalam masa kesuksesan, Socha tiba-tiba menghilang. Hal
ini tentu saja membuat penduduk kecewa dan marah. Bahkan sampai ketika keberadaan Socha sudah
bisa ditemukan, penduduk tetap tidak berdaya. Cerpen ini memiliki judul panjang
dengan ending yang tidak terduga. Penulis memadukan kisah mitos. dongeng dan
kehidupan sehari-hari yang kerap dilakukan masyarakat umum.
Kisah lain yang tidak kalah seru
adalah “Ros Menemukan Suaminya”. Dalam
kisah ini kita diajak memecahkan misteri keberadaan suami Ros. Setelah
kepergiannya yang tanpa kabar, Ros akhirnya berhasil menemukannya. Namun pada
titik itu, ditemukannya Satar—nama suami Ros—malah menjadi masalah. Membuka sesuatu yang tidak pernah diguga Ros,
kenapa Satar bisa menghilang tanpa jejak (hal 27).
Pada cerpen ini kita kembali
dihadapakan realita kehidupan yang sering dilakukan oleh orang-orang yang rakus
dan tidak sabaran. Di mana, tanpa berpikir dua kali berbagai cara dilakukan
agar bisa memenuhi nafsu untuk mencapai kepuasan.
Lalu ada pula cerpen yang berjudul
“Betina” judulnya sangat padat, tapi juga sangat kuat karena bisa langsung
mengundang rasa penasaran. Belum lagi
endingnya yang benar-benar tidak terduga, jika dipikirkan secara logika.
Penulis memiliki ide-ide yang suka bertabrakan. Namun disitulah keunikannya.
Di sini cerita berfokus pada toko
aku yang memiliki anjing bernama
Izsla—anjing betina. Tokoh aku memiliki kegemaran melakukan lomba pacu hewan
dan Izslah adalah lakon utama yang selalu dia banggakan. Karena Izsla sangat
pintar dan selalu bisa menyenangkannya. Izalah selalu menang jika ikut lomab
pacu hewan. Apalagi karena Izsla juga kekayaan si tokoh aku semakin melimpah
ruah.
Namun pada suatu waktu, Izsla
memperlihatkan sikap yang membuat tokoh aku marah. Hingga pada puncaknya mereka
bertengkar dan diakhiri dengan kenyataan yang tidak terbayangkan (hal 44).
Membaca buku ini, kita akan diajak
berpetualang dengan kisah-kisah yang tidak terduga. Yang menarik lagi dari kumpulan cerpen ini
adalah perihal ide-ide yang dimiliki penulis. Idenya tidak biasa dan akan
membuat pembaca terkaget-kaget. Hanya saja ada beberapa cerpen yang menurut
saya agak lamban. Dan perihal cover
back yang terasa kurang menarik. Tapi lepas dari itu, secara keseluruhan
buku ini sangat asyik untuk dinikmati.
Membaca buku ini kita bisa mengambil
sedikit gambaran realita kehidupan yang sering terjadi saat ini dan memetik
hikmahnya untuk perbaikan diri. Dari cerpennya penulis mencoba mengingatkan
bahwa dalam hidup kita janganlah suka mengandalkan sebuah mitos atau dongeng
masa lalu. Yang terpenting adalah kita harus mau berusaha dan tidak mudah
menyerah. Pesan lainnya adalah janganlah menjadi pribadi rakus yang rela
menjual diri demi kekayaaan. Karena penyesalan selalu berada di akhir.
Srobyong, 1 Januari 2017
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Subscribe to:
Posts (Atom)















