Showing posts with label Cerma. Show all posts
Showing posts with label Cerma. Show all posts

Friday, 5 October 2018

[Cerpen] [Cerma] Insiden Sepatu

Dimuat di Analisa Medan, Minggu 9 September 2018 


*Ratnani Latifah
            Vania memperhatikan deretan sepatu yang ada di hadapannya. Sangat manis dan menggugah selera. Dia melihat dengan seksama model-model flat shoes yang membuat dia makin tergiur. Padahal sudah berpuluh sepatu yang Vania koleksi untuk memadukan dengan setiap baju yang dibeli.
            Mata itu makin mengawasi dengan jeli, melihat sepatu flat warna ungu yang selalu menjadi candu.
            Ketika dia akan mengambil sepatu itu, ternyata tangan seorang cowok mendahului dia dengan cepatnya. Vania terbengong. “Cowok ini lancang sekali.” Vania menggerutu sendiri.
            “Maaf, itu sudah mau gue ambil.” Vania meminta sepatu itu.
            “Tapi, gue yang mengambil duluan.” Cowok itu tidak mau kalah.
            Vania sebal bukan main, apalagi itu model terbaru  Flat Geearsy yang selalu dia tunggu. Dengan warna ungu yang makin membuat dia harus memilikinya.
            “Loe mengambilnya setelah gue pegang. Sini berikan!” Vania berusaha merebutnya. Tapi, cowok itu tetap tidak mau kalah untuk mempertahankannya.
            “Loe kan cowok kenapa tidak mencoba mengalah sedikit dengan cewek sih,” gerutu Vania kesal.
            “Lagipula, buat apa Loe beli sepatu cewek.” Cibir Vania. Cowok itu bukannya menjawab, malah menatapnya Vania dengan  tajam.
            “Bukan urusan Loe,” ucapnya ketus.
            Perdebatan mereka untuk mendapatkan sepatu itu membuat karyawan di toko itu turun tangan untuk memisahkan. Mereka mencoba melerai dan memberi pilihan. Namun sayang, Vania dan cowok itu sama-sama menolak. Karena yang mereka inginkan sepatu itu yang ternyata stocknya tinggal satu dengan ukuran yang sama yang mereka ingin beli. Jadi tidak mungkin diganti.
            Vania dengan muka ditekuk, mencoba mengikhlaskan sepatu flat itu untuk cowok yang menyebalkan yang tidak mau mengalah. Dia pulang dengan tangan kosong tanpa membeli apapun, karena dia sebenarnya masih mengharap sepatu itu.
            “Aaaaaaaa!!” teriak Vania sendiri. Dia meninggalkan toko dengan kecewa. Dia bersumpah tidak akan melupakan cowok brengsek yang tidak punya hati, yang tidak mau mengalah dengan cewek.
            Vania, kini melangkah untuk pulang ke rumah. Dia mau merelaxkan sebentar pikirannya yang masih panas.
            Sesampainya di rumah dia tidak mengindahkan panggilan Radit—kakaknya. Vania langsung pergi begitu saja untuk masuk ke sarangnya.
            “Va, dipanggil kok ngeloyor sih.” Radit mengingatkan adiknya.
            “Vania lagi kesal Kak, nanti aja kalau udah adem.” Vania tidak mempedulian kakaknya.
            Radit mengalah membiarkan Vania mendinginkan otak. Kalau dia mengganggu malah bisa dapat semburan pedas yang berujung adu mulut tak terelakkan.
            Ketika jam makan malam, Vania baru keluar dari persembunyian. Suara peut yang tidak mau berkompromi membuat dia harus keluar demi sesuap nasi. Rasa marah ternyata membuat kelaparan juga.
            “Kenapa Va? Dari pulang sekolah kok  uring-uringan? Lagi dapet ya? Atau ada tugas fisika? Loe kan suka stres kalau harus ngerjain fisika.” Radit mendekati adiknya, mencoba meledek. Vania mengangkat bahu.
            Dia duduk di ruang tengah menungggu panggilan Bunda untuk makan malam bersama. Radit masih berusaha membujuk, dia tahu Vania tidak akan betah menyembunykan masalah dari dia.
            Benar saja, lima menit kemudian, cerita insiden sepatu itu meluncur begitu saja dari bibir mungil Vania. Dia menceritakan semua detil kejadian yang dia lalui. Rencana awal saat ke toko untuk hunting sepatu menjadi gagal total, karena ulah cowok sableng yang merusak mood Vania hilang. Dia pulang tanpa membawa apa-apa kecuali kecewa yang berkepanjangan.
            Radit malah tertawa terbahak membuat Vania bingung dengan ulah Kakaknya.
            “Ich! Apa yang lucu coba Kak,  Vania sebal tahu,” Vania protes.
            “Kau ini Va, gara-gara masalah itu uring-uringan seharian? Lucu tahu, apalagi mendengar kalian cowok dan cewek bersitegang karena sepatu,” Radit kembali tertawa terbahak. Namun, langsung dihentikannya ketika melihat wajah Vania yang semakin lusuh saja.
            “Sudah ikhlaskan saja, nanti juga dapat gantinya.”
            Obrolan itu terhenti, ketika Bunda mereka memanggil menyuruh makan malam, segera mereka berbaur menuju ruang makan.
            “Hmm, baunya sedap sekali.” Vania mencium aroma masakan Bundanya. Segera dia melahap makan malam itu tanpa lupa memulai dengan basmalah.
            Malam itu, rasa kecewa Vania melebur dengan tawa renyah dari keluarganya.
~*~
            Vania terbelalak, dia ingat betul cowok berengsek yang berada di depannya. Pagi-pagi dia sudah harus berurusan dengan cowok menyebalkan itu. Salah apa dia kenapa dia harus melihatnya lagi. Di depan rumahnya lagi.
            “Sudah datang Lex.” Radit muncul dari dalam. Dia tersenyum menyambut Alex temannya.
            Vania melonggo, dia teman Kakaknya.
            “Kenalkan Va, dia ini disainer sepatu kenalan Kakak, karyanya keren-keren lho,” ucap Radit memperkenalkan.
            “Paling di koleksi sepatumu ada juga yang buatan tangan darinya,” Radit menambahkan.
            Vania hanya diam saja, mendengar penjelasan Radit tentang cowok bernama Alex. Disainer? Lalu kenapa dia kemarin harus berbut sepatu dengan dia? Tidak masuk akal. Vania bergelut dengan pikirannya sendiri.
            “Desainer Kakak bilang? Dia nih cowok kemarin yang buat Vania bad mood,” Vania berucap.
            “Adikmu Dit?” Alex membuka suara.
            “Dia tipe keras kepala,” ucap Alex pedas.
            “Apa? Loe tu cowok keras kepala, tak punya hati untuk sesama, egois!” Vania meladeni.
            Radit kini yang bingung, melihat dua orang di depannya yang saling adu mulut dengan ego masing-masing.
            “Bentar, bentar mungkin ada kesalah pahaman di sini,” Radit menengahi.
            Dia menatap Vania dan Alex bergantian. Dia harus mendamaikan anjing dan kucing ini.
~*~
Vania kaget ketika memasuki, Alexa shop, semua karyawan memberi hormat dengan takdim. Vania baru tahu kalau Alexa shop itu, milik Alex. Toko sepatu yang kemarin Varia datangi, bahkan sering dia datangi. Dia tidak tahu bahwa cowok yang bertengkar mulut dengannya kemarin dan tadi pagi adalah pemilih toko sepatu ini. Dia bertengkar dengan pemilik dan pembuat sepatu yang sering dia beli selalu. Hebat banget masih kuliah sudah punya usaha. Pikir Varia.
            Malu! Itu perasaan yang kini bertengger di hati Vania, mau di taruh mana mukanya sekarang. Apalagi saat ini semua mata tertuju padanya. Seharusnya tadi dia menolak untuk diajak ke sini.
            “Kak, kenapa Kak Radit tidak bilang.” Vania menyenggol kakaknya.
            “Kamu kan tidak tanya Va.” Radit membela diri.
            Mereka berjalan di belakang Alex yang mengantarkan mereka pada setiap inci  toko ini.
            “Kenapa kemarin tidak bilang kalau …,” ucapan Vania belum selesai.
            “Ini toko milik gue begitu?” Alex melanjutkan menatap Vania tajam. Vania mengangguk lemah.
            Alex kembali diam, tidak menjelaskan apapun tentang kepemilikan toko ini. Vania tidak tahu, kalau dari kemarin dia di beritahu, pasti kesalah pahaman ini tidak berujung panjang.  Di sini dia seperit mau diadili.
            “Dasar cowok Aneh!” Vania kembali menggerutu. Karena dia tidak tahu jalan pikiran Alex itu.
            Dia sendiri sekarang dianggurkan. Dia dan Radit asyik berbincang entah apa yang tidak Vania pahami. Dia perlahan mencoba menjauh dan memilih area lain untuk mencoba melihat pemandangan lain, dari pada menguntit mereka tanpa ada penjelasan.
            Namun, baru beberapa langkah Varia ingin kabur, Alex menangkap basah dia, hingga membuat Vania harus mengentikan langkah.
            “Mau ke mana Loe? Kabur? Malu?” ledek Alex.
            Cowok ini sungguh, mentang-mentang kaya, melakukan semaunya. Kenapa dia harus di hukum, dipermalukan. Dia kan tidak salah secara dia tidak tahu jati diri Alex sebelumnya. Curang!
            Mereka telah sampai di ruang kantor Alex. Mereka dipersilahkan masuk. Ruangan itu sangat luas dan penuh sepatu indah. Mata Vania berbinar. Dia melihat dengan takjub.
            “Semua buat Loe Va, juga Flat Geearsy warna ungu itu,” Alex berucap datar. Membuat Vania makin tidak mengerti maksud Alex.
            Kini mereka beradu pandang, Vania baru menyadari pesona wajah dan tatapan elang yang selalu menusuk dalam. Menatapnya dengan penuh sayang.
            Kejutan besar yang membuat Vania makin terperangah ketika semua ternyata sudah Alex rekayasa dengan Radit yang sudah tahu kalau Alex sudah jatuh cinta dengan Vania sejak dia menjadi pelanggan tetap di Alexa Shop. Semua dari insiden sepatu dan juga hari ini.
Srobyong, 25 Desember 2014 – September 2017

Friday, 16 March 2018

[Cerma] Cowok Bermata Cokelat

Dimuat di Analisa Medan, Minggu 11 Maret 2018


*Kazuhana El Ratna Mida

            Rara bernapas lega bisa masuk gerbang tanpa mendapat hukuman. Semua berkat  cowok bermata cokelat itu—Ibra, yang saat ini sedang senter dibicarakan. Dia menyelamatkanku, ucap Rara dalam hati. Rara tersenyum sendiri.  Dia baik sekali. Mau membantu membujuk Pak Satpam untuk meloloskannya sekali ini.

            “Kamu masuk kelas dulu saja, Ra. Aku mau ngomong dulu sama Pak Nano.” Suara Ibra yang serak-serak basah itu membuat Rara terlonjak dari lamunan gilanya sendiri.

            “Ah, iya. Terima kasih untuk hari ini.” Rara langsung mengambil langkah seribu. Meninggalkan  Ibra yang masih berdiri di dekat gerbang berbicara dengan Pak Nano—si satpam. Rasanya dia mau melayang. Bahkan Ibra sudah hapal namaku. Yah, mengingat beberapa kali kami  memang sudah bertemu. Rara kembali berucap dalam hati sambil tersenyum sendiri.

~*~

            “Hoi! Dari tadi senyum-senyum sendiri.” Nina menyenggol bahu Rara.

            Aneh saja, bukankah sejak masuk ke kelas, Rara mendapat teguran dari Bu Indah? Bahkan mendapat hukuman karena ini kali kedua dia terlambat pada pelajaran Matematika. Yup, pada sesi jam pertama dia harus berdiri di depan kelas.

            “Pokoknya hari ini aku sungguh beruntung.” Rara memamerkan senyumnya yang manis.

            “Hah?!” Nina mengernyitkan dahi, “Ditegur Bu Indah dan di strap di depan kelas itu hari keberuntungan?”

            “Bukan!” Rara menggelengkan kepala, “Bukan karena itu, tap—,” belum sempat Rara melanjutkan ucapannya, suara Bu Indah membuat Rara menunduk yang juga diikuti Nina. Mereka saling sikut. Namun, beberapa detik kemudian mereka tertawa cekikikan. Tentu tanpa sepengetahuan Bu Indah. Kalau ketahuan bisa dapat hukuman lagi.

            “Jadi kenapa sedari tadi kamu senyum tidak jelas gitu?” Nina menodong pertanyaan begitu jam kedua dari Bu Indah selesai. Mereka terlihat senang karena baru saja diberitahukan kalau pelajaran ketiga hari ini kosong.

            “Itu karena ...,” Rara menggantung ucapannya. Tatapan yang dimiliki kini terpaku pada sosok  Ibra yang berjalan menuju perpustakaan.  Nina yang penasaran memincingkan mata mengikuti ke mana arah pandangan Rara.

            “Ibra?”  Nina tidak percaya. Bagaimana mungkin?

            Rara mengangguk. Ibra di matanya sosok  itu sungguh luar biasa. Selalu baik hati dan murah senyum. Apalagi jika menatap sepasang mata cokelatnya itu.  Mata itu sungguh teduh, dan membuat Rara betah menatapnya dalam kurun waktu yang lama. Sayangnya, Ibra tidak satu kelas dengan Rara. Dia hanya bisa memerhatikan Ibra kalau kebetulan melihat atau berpapasan dan bertemu di tempat rahasia mereka. Ups!

            “Malah melamun!” Nina menyenggol Rara. “Ke kantikn, yuk.” Nina tanpa menunggu persetujuan Rara langsung mengapit tangan teman sebangkunya itu. Padahal Rara masih ingin berlama-lama melihat Ibra. Pertemuan yang tidak disengaja seminggu  yang lalu sedikit banyak membuat Rara selalu memikirkan  Ibra—cowok bermata cokelat itu.

~*~

             Seminggu yang lalu, Rara tengah asyik membaca novel Ilana Tan di bangku taman sekolah. Dia sedang malas ke kantin dan memilih menghabiskan waktunya di bawah pohon akasia sambil membaca. Saat sedang asyik membaca dia dikagetkan dengan suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Dan Rara lebih kaget lagi ketika mendongkakan kepala. Dia  melihat sosok bermata cokelat yang membuatnya terpana. Orang itu memamerkan senyum yang sungguh manis.

            Rara memerhatikannya dengan saksama. Cowok itu  memakai seragam seperti dirinya. Tapi siapa orang itu? Rara bertanya-tanya.  Karena sebelumnya dia belum pernah melihat cowok itu. Atau karena dia yang murid baru sehingga masih kurang informasi? Entahlah.

            Cowok itu dengan santainya duduk di sebelah Rara. “Ibra. Kelas XII IPA.” cowok itu mengenalkan diri, seolah memahami tatapan aneh dari Rara.

            Rara menganggukkan kepala, lalu teringat dengan kasak-kusuk teman-teman sekelasnya tentang kakak kelas yang katanya cukup tampan dan masih mudah. Rara tersenyum sendiri, sepertinya ucapan mereka benar. Ibra memang memiliki wajah tampan dan senyum yang menawan. Rara diam-diam menatap  Ibra. Memerhatikan rambut hitamnya yang ikal, alis mata yang cukup tebal, bulu mata yang lentik, lalu mata cokelatnya dan hidung yang lebih mancung dari dirinya.  Rara berdecak dalam hati, kakak kelasnya itu sungguh ciptaan Tuhan yang luar biasa.

            “Namamu?” Rara menelan ludah mendengar suara serak-serak basah itu.

            “Rara, XI IPA.” Rara mencoba mengontrol perasaannya yang tengah melayang ke mana-mana.

            Dan sejak hari itu,  taman sekolah itu menjadi tempat favorit Rara.

~*~
            “Ra!” panggilan Nina tidak dijawab. Rara tenggelam dalam lamunannya sendiri. mengabaikan kantin yang saat ini sudah penuh sesak. Karena sebal, Nini kembali menyenggol siku Rara, hingga si empunya  terkesiap. Rara mendelik, Nina tersenyum puas.
            “Ya, habis ..., dipanggil dari tadi tidak mau jawab. Mikirin apa, sih?” Ninia bertanya sambil menyerutup es campur kesukaannya.

            “Ye ..., mau tahu aja, sih, Nin.” Rara tersenyum penuh misteri. Dia memasukkan satu sendok bakso ke mulutnya. Pesanan yang tadi diabaikan kini sudah dinikmati.

            “Alah ..., paling juga  Ibra. Iya, kan?” Nina mengerling. Rara hampir tersedak.

            “Dari pagi, cuma  Ibra yang kamu bicarakan.” Nina tidak peduli dengan muka Rara jadi bersemu merah itu.

            “Jangan-jangan, kamu suka Ibra, ya? Bagaimana bisa?”

            Rara melotot, menyuruh Nina memelankan suaranya. Teman sebangkunya itu sungguh reseh.
            Rara sendiri tidak tahu dengan perasaannya pada cowok bermata cokelat itu. Dia hanya merasa nyaman dan nyambung jika mengobrol. Ibra juga sangat baik.  Dan perasaan itu tumbuh dengan sendirinya tanpa bisa dicegah.
           
            “Ra ..., lebih baik kamu melupakan Ibra, deh.” Suara Nina yang terdengar hati-hati itu membuat Rara bertanya-tanya.

            Kenapa dia harus? Apakah Nina juga menyukai Ibra? Rara menatap Nina dengan pandangan yang sulit diartikan.

            “Bukan aku bermaksud mencampuri urusanmu. Sungguh bukan,” Nina menggelengkan kepala. Menarik napas sebentar dan kembali memerhatikan Rara. “Ah, bagaimana aku mengatakannya?” Nina memegang kepalanya. Rara mengernyitkan dahi.

            “Apa kamu juga suka  Ibra?” pertanyaan itu akhirnya muncul juga. Nina menutup mulut. Menarik napas sebentar lalu menggeleng pelan.

            “Nah, tidak ada masalah, kan? Aku tetap menyukainya.” Rara tersenyum riang.  “Nanti kalau aku berhasil mengajak dia keluar, kamu bisa sekalian ajak pacar kamu yang katanya mau kamu kenalkan?

            Nina hanya bisa menatap sedih dan bingung. Entah bagaimana dia harus menjelaskan kalau Ibra itu pacaranya.

            Srobyong, 18 September 2015-8 November 2016 

Monday, 12 March 2018

[Cerma] Tak Ada yang Instan

Dimuat di Minggu Pagi, Jumat 9 Maret 2018


Ini naskah asli sebelum ada editing dari redaksi 

Ratnani Latifah

            “Yah ... tidak ada lagi.” Tari menghela napas. Wajahnya terlihat sangat mendung. 

            “Kenapa, sih sulit sekali ...,” Tari menatap nanar. Dia menggigit bibirinya. Kebiasaan ketika tengah resah dan marah.  Ini sudah tiga bulan lebih setelah Tari mulai bergerilya mengirim naskah ke berbagai media. Tapi sama sekali tidak terlihat hasilnya.

            “Kenapa hanya nama-nama itu saja yang terus bermunculan?” Tari memonyongkan bibir.

            “Kania lagi Kania lagi. Kalau tidak Luna lagi Luna lagi. Selalu nama mereka.” Tari menggerutu. Dia mengingat beberapa nama yang paling sering muncul di koran. Biasanya ada info di grup sastra di facebook.

            “Jangan-jangan mereka main belakang lagi!” ucap Tari penuh prasangka.

~*~

            Akhir-akhir ini Tari memang selalu terlihat suram. Wajahnya sering ditekuk-tekuk seperti kertas lecek, yang siap dibakar. Lebih anehnya lagi Tari mulai menjauhi Kania. Padahal mereka sudah bersahabat cukup lama. Entah kenapa, Tari mulai sebal jika melihat Kania. Ada rasa  iri dan dengki yang menggunung di hatinya. Padahal dia tahu rasa itu sangat salah.

            “Kenapa sih, Tar? Akhir-akhir ini kamu aneh deh,” tanya Kania, hati-hati. Kania tidak paham, kenapa tiba-tiba Tari seperti menjauh darinya sejak beberapa hari terakhir ini. Padahal Kania tidak merasa mereka sedang bertengkar atau apa.

Persahabatan mereka terjalin karena kesamaan hobi dan mimpi, sejak masa orientasi siswa baru di SMA. Alasan klise, namun memang begitulah adanya. Kesamaan hobi membuat mereka cepat akrab hingga sekarang. Kania suka menulis dan membaca. Dan dia sudah sering mengirim cerpen  ke koran sejak SMP—bahkan sudah beberapa kali tulisanya tayang di koran. Sedang Tari, meski sudah sejak dulu suka  membaca dan menulis, dia baru mulai mencoba mengirim cerpennya ke koran saat di SMA dorongan Kania, tiga bulan terakhir ini.  

            “Kamu marah sama aku? Maaf, deh kalau aku ada salah.”  Kania duduk di samping Tari yang masih diam.

            “Cerita dong, Tar kamu kenapa?” Kania masih membujuk.

            Sayangnya, sampai pulang sekolah, Tari masih memilih bungkam. Dia sama sekali tidak merespon Kania. Ketika Kania memilih duduk di sampingnya dan terus bertanya, Tari pura-pura membaca dan tidak mendengar. Ketika Kania mengajak Tari ke kantin bersama. Tari malah langsung pergi duluan. Ketika Kania mengajak ke perpustakaan, Tari malah mengajak Susi.

            Tapi Kania tidak putus asa. Dia tetap berusaha mendekati Tari, meski sahabatnya itu selalu cuek. Setidaknya dia harus tahu kenapa tiba-tiba dia diamkan.  Kania pasti akan merasa kesepian jika Tari meninggalkannya. Karena bagaimana pun Tari itu sahabat yang baik, yang juga asyik diajak berdiskusi soal literasi.

            Mereka sering berdiskusi tentang buku yang mereka baca dan buku baru yang patut diburu—bahkan mereka sering berburu bareng di Gramedia atau pas ada bazar. Mereka  juga suka membahas bagus tidaknya sebuah cerpen dan bagaimana cara menulis cerpen yang bagus dan memikat. Bagaimana membuat judul yang nendang. Tidak hanya itu,  mereka juga sering saling memberi komentar dengan tulisan masing-masing, untuk diperbaiki. Saling mendukung untuk mengirim karya ke media dan banyak kegiatan seru yang mereka lalui bersama.

            Memikirkan tentang media, tiba-tiba Kania teringat dengan percakapannya dengan Tari satu beberapa hari lalu. Mungkinkah karena masalah itu Tari marah padanya? Barangkali Tari tersinggung dengan ucapannya. Kania menebak-nebak dalam hati.

            “Kan,  kenapa sih tembus suatu media susah sekali?” Tari bercerita ketika mereka menikmati jam istirahat di kantin.

            “Aku sudah mulai mengirim cerpen seperti saranmu. Beberapa kali. Ke banyak media. Tapi coba lihat ... nggak ada satu pun tulisanku yang dimuat,” lanjut Tari.

            “Tapi kamu ... sekali kirim langsung dimuat terus. Bahkan di Minggu berikutnya dan berikutnya. Aku mengamati setiap Minggu nama-nama penulis yang dimuat di koran hanya itu ... itu saja. Apakah redaksinya hanya melihat nama penulis saja? Apakah penulis pemula tidak diberi kesempatan? Atau ada kerjasama tersendiri antara penulis dan redaksi?” Tari           melontarkan banyak pertanyaan yang cukup membuat Kania agak  bingung bagaimana menjawabnya.

            “Wah ... nggak seperti itu juga Tar. Yang aku tahu nggak ada kerjasama antara penulis dan redaksi, kok. Jangan berburuk sangka, dong.” Protes Kania.

            “Aku yakin redaksi tidak memandang nama besar penulis, kok.  Tapi dilihat dari tulisannya. Kalau bagus dan sesuai selera redaksi pasti dimuat. Kalau belum dimuat mungkin masih ada yang kurang dan perlu diperbaiki,” Kania mencoba menjawab dengan hati-hati.

            “Jadi kamu mau bilang kalau tulisanku jelak, begitu? Jadi belum layak dimuat?” Tari langsung bangkit dan meninggalkan Kania.

~*~

            Keesokan harinya, Kania sengaja menunggu Tari di gerbang sekolah setelah pulang sekolah. Dia harus berbicara dan menjelaskan semuanya. Dia harus meluruskan semua salah paham ini.  Beruntung kali ini Tari mengiyakan ajakannya.  Dan di sinilah mereka—di rumah Tari yang memang tidak jauh dari lokasi sekolah.

            “Maaf Tar, kalau ucapanku kemarin menyinggungmu. Aku nggak bermaksud seperti itu,” Kania memulai percakapan.

            “Udah nggak usah dibahas. Kamu mau ngomong apa?” Tari masih agak ketus.

            “Jadi ngini ... aku mau jelasin pertanyaan kamu beberapa hari lalu yang belum sempat aku jawab semua. Kamu mau mendengarkan, kan?”

            Kania  bernapas lega ketika melihat anggukan Tari. Tapi kali ini dia harus hati-hati agar Tari tidak tersinggung.  Meski sejujurnya bagi Kania pertanyaan Tari tempo hari, pun terlalu kasar. Karena menyalahkan redaksi dan penulis lain, ketika naskahnya tidak dimuat.  Padahal untuk mencapai suatu hal itu tidak mungkin instan. Bahkan dirinya sendiri sampai saat ini masih sering menerima penolakan saat mengirim karya. Bedanya dia tidak marah, tapi tetap berusaha. Dan pastinya hal itu juga dialami penulis lain. Tidak sekali dua kali mereka mengirim, hingga akhirnya dimuat. Tapi hal itu harus Karin sampingkan dulu. Dia harus berbaikan dulu dengan Tari.

            “Jadi ... ketika kita mengirim ke koran, maka kita harus siap dengan penolakan juga penerimaan.” Kania menatap Tari.

            “Karena setiap hari redaksi tidak hanya menerima satu tulisan, bisa jadi setiap hari ada puluhan bahkan ratusan naskah masuk. Sedang rubrik cerpen  hanya ada satu minggu sekali. Redaksi harus memilih satu yang paling pas dan apik untuk dimuat. Di sini redaksi pasti punya pertimbangan sendiri.”  Kania berhenti sejenak.

            “Tenang ... redaksi tidak memandang nama besar penulis, kok. Isi cerita dan kerapian tulisan tetap diperhatikan. Jadi jangan khawatir.

            “Jika soal nama penulis yang sering dimuat hampir setiap minggu ... mungkin kita harus bertanya pada diri sendiri, sudah berapa banyak usaha kita? Sudah berapa banyak  naskah kita tulis dan kita kirim setiap harinya? Sudah berapa keras kita mencoba? Aku yakin mereka memiliki usaha yang lebih keras dan tidak mudah menyerah—baik dalam memperbaiki tulisan juga mencoba mengirim lagi.

            “Dan satu lagi kita harus sabar kalau mengirim naskah. Karena masa tunggu sebuah tulisan tidak selalu cepat.  Ada yang satu minggu, satu bulan, tiga bulan bahkan satu tahun, tergantung korannnya. Banyaknya naskah masuk membuat banyak  tulisan  antri dimuat.” Kania mengakhiri penjelasannya.

            Saat  itu Kania sempat melihat gurat wajah Tari yang memucat ketika mendengar penjelasannya.  Tapi Kania tidak tahu apakah karena marah atau menyadari sesuatu. Dia tidak mau menebak-nebak.

            “Apa aku menyinggungmu lagi?” tanya Kania.

            Tari menggeleng. “Nggak kok, kamu malah mengingatkanku tentang sesuatu yang penting, Kan. Sesuatu yang aku sepelekan.” Tari menunduk malu.

            “Kalau begitu harus diperbaiki, dong. Aku yakin kamu bisa.” Kania memberi semangat.

            Dua sahabat itu pun kemudian berpelukan dan tertawa bersama.  Seperti tidak ada perselisihan sebelumnya.

            “Eh ... tapi aku tetap penasaran kenapa tulisan kamu sering dimuat, Kan.” Ucapan Tari langsung membuat Kania tersenyum simpul.

            Kania pun jujur, kalau setiap minggu sebisa mungkin dia konsisten mengirim naskah. Ditolak sudah makanan sehari-harinya. Tapi dia tetap menulis dan kirim lagi. Dan mungkin salah satu karyanya ada yang menarik perhatian redaksi jadinya dimuat.

            “Pantas saja, aku baru mengirim beberapa kali, langsung minta dimuat. Memang siapa aku ini?” Tari terkekeh.

            “Jadi sudah nggak marah lagi, kan?” Kania menyenggol Tari.

            Tari menggeleng.  “Alhamdulillah, siap nulis dan kirim lagi, dong.” Kania mengerling dan disambut Tari dengan mengacungkan ibu jarinya.

            Bertepatan dengan itu, sebuah telepon masuk mengagetkan Tari dan Kania. Mereka saling pandang karena tidak ada nama penelopon. Tapi mereka akhirnya berpelukan setelah menerima telepon itu.

“Selamat,  Tar.  Apa aku bilang, tulisanmu itu bagus. Makanya sabar ..., jangan mau yang instan doang. Kan nggak ada yang instan! Dan nggak perlu iri juga kalee ....”

           

            Srobyong, 27 Januari 2018.