Showing posts with label Kedaulatan Rakyat. Show all posts
Showing posts with label Kedaulatan Rakyat. Show all posts

Wednesday, 20 January 2021

Resensi - Menumbuhkan Sikap Jujur dan Kepedulian

 


Judul               : Tragedi Apel & Buku Ajaib Jiko

Penulis             : Yosep Rustandi

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : Pertama, Juli 2020

Tebal               : 160 halaman

ISBN               : 978-623-253-002-7

Harga Buku     : Rp40.000

Peresensi         : Ratnani Latifah. Penulis dan penikmat buku asal Jepara

“Buku  bisa memberi bantuan kalau kita jujur. Kalau bohong berarti mikir sendiri.” (hal 47).

Menumbuhkan sikap jujur dan kepedulian pada anak itu memang sangat penting. Pendidikan karakter ini akan membangun moral yang baik bagi anak. Sehingga anak tumbuh sebagai pribadi yang lebih bertanggung jawab. Berbeda jika anak tidak dididik dengan karakter tersebut. Anak akan tumbuh dengan sikap kurang peduli dan bertindak sesuka hati.

Buku ini memuat pembelajaran karakter  sikap jujur dan kepedulian, yang sangat menarik dan cocok dibaca untuk anak. Karena cerita yang termaktub di sini, dipaparkan dengan gaya bahasa yang mudah dipahami. Ceritanya juga ringan dan mungkin sering terjadi di sekitar kita. Jadi selama membaca kita tidak akan mengalami kebosanan. Sebaliknya kita akan merasa terhibur dengan cerita juga belajar banyak hal dari kisah tersebut.

Novel ini sendiri menceritakan tentang kisah hidup anak-anak kurang mampu, yang harus menjalani hidup dengan penuh perjuangan. Alin adalah anak yang kurang beruntung. Karena sejak bapaknya meninggal dunia, kini tinggal emaknya yang membanting tulang untuk dirinya. Akan tetapi tidak lama setelah itu sang emak pun tumbang. Sejak itu Alin-lah yang harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Karena keadaan itu Alin terpaksa menjambret. Akan tetapi yang ia curi bukanlah uang atau perhiasan. Ia hanya mencuri seplastik apel, yang sangat ingin ia berikan pada emaknya. Ia hanya ingin membahagiaan emaknya. Dengan memakan apel itu ia harap emaknya akan segera pulih. Namun siapa sangka, apel hasil jambretan itu malah menumbuhnya banyak sekali masalah beruntun lain yang tidak terduga.

Bersama sahabatnya, Jiko yang kutu buku, Alin mencoba menyelasaikan berbagai masalah yang ada. Berhasilkan Jiko dan Alin melakukannya? Dan apa saja ide-ide dari buku ajaib yang memberikan inspirasi bagi keduanya selama menyelesaikan masalah yang mereka hadapi?

Secara keseluruhan, novel ini sangat menarik dan menghibur. Tema yang diangkat pun menarik dan berbeda dari kebanyakan tema cerita anak yang sering saya baca. Selain mengisahkan permasalahan Alin dan Jiko, ada pula masalah lain yang dikembangkan penulis, yang semakin membuat kisah ini seru sekali untuk dibaca sampai akhir.  Buku ini memuat cukup banyak  pendidikan karakter  bagi anak.

Dari keutamaan membaca, “Dia tidak tahu kalau buku memberi  tahu kita tentang banyak hal. semuanya ada di buku. Seluruh pengetahuan dunia ini ada di buku.” (hal 36). Mengajarkan untuk selalu bersikap jujur, “Kita tidak boleh bohong, apalagi kepada orangtua.” (hal 45). Peduli pada sesama yang digambarkan pada kisah Yasmin yang rela mengajar anak-anak tidak mampu tanpa bayaran. Juga pembelajaran untuk memiliki semangat belajar yang tinggi.  Tidak heran, jika novel ini menjadi “Pemenang Pertama pada Kompetisi Menulis Indiva 2019 Kategori Novel Anak”.  

Srobyong, 12 Oktober 2020


Pernah dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, Selasa 20 Oktober 2020 


Wednesday, 3 October 2018

[Resensi] Kisah Inspiratif Perjalanan di Tanah Suci

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu 2 September 2018


Judul               : Patah Hati di Tanah Suci
Penulis             : Tasaro GK
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Juli 2018
Tebal               : viii + 332 halaman
ISBN               : 978-602-291-411-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Salah satu impian  besar dari banyak umat Islam  adalah beribadah di tanah suci. Karena di sanalah kita bisa menggenapkan rukun Islam. Kita juga bisa merasakan jejak perjuangan Nabi Muhammad ketika menyebarkan Islam.   Berkesempatan beribadah di sana, merupakan anugerah yang luar biasa. Karena Makkah dan Madinah,  merupakan rumah Allah. Tempat suci yang menyimpan banyak berkah.

Akan tetapi saat ini untuk bisa berhaji kita perlu menunggu puluhan  tahun. Hal ini terjadi karenanya melonjaknya peminat haji, sedang daya tampung di Makkah dan Madinah tidak memadahi. Dan hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, di berbagai negara atau benua lain juga mengalami keadaan yang sama. Untuk mengakali lamanya penantian masa haji, maka sebagian umat Islam memilih melakukan umrah. Karena prosesnya tidak terlalu lama dan kita tetap bisa berbidah ke tanah suci. 

Buku karya Tasaro GK ini merupakan kisah perjalan yang dia alami ketika menjejakkan di tanah suci untuk menjalankan ibadah umrah. Kisah-kisah inspiratif yang tersemat baik ketika mengunjungi Madinah juga Makkah. Berbagai pengalaman menarik yang dia alami dipaparkan dengan apik dan menarik.  Di sisi lain buku ini juga merupakan curhat penulis dalam mengenang kisah ayahnya dan luapan rindu kepada Baginda Nabi Muhammad saw.  Melalui buku ini kita bisa menikmati kisah inspiratif penulis dalam banyak aspek.

Penulis berkata, “Bagiku, seburuk apa pun keadaan di Tanah Suci. Jika itu membuat seseorang menemukan  momentum spiritualnya, masih jauh lebih bagus dibandingkan sebaliknya.” (hal 51). 

Ada kisah yang menurut saya sangat menarik, tentang suara-suara anak kecil yang membuat penulis akhirnya terbangun dan menjalankan shalat malam di Masjid Nabawi. Ada pula, kejadian tidak terduga, di mana penulis mendapat kucuran dana dari para sahabatnya, setelah dia sempat menyedekahkan uangnya demi menolong orang lain, sebelum berangkat bahkan ketika sudah di Makkah-Madinah. Tidak kalah menarik, ada juga peringatan tegas yang didapat penulis, ketika hatinya merasa kurang kyusuk saat beribadah.

Kisah-kisah ini menjadi penanda, bahwa Allah selalu memerhatikan umat-Nya. Allah membalas langsung apa yang kita niatkan dan apa yang sudah kita perbuat.  Selain beberapa kisah tersebut, tentu saja masih banyak cerita lain yang tidak kalah menarik dan menggugah.  Di sisi lain kita juga dibuat terharu akan curhatan penulis dalam mengungkap rindu juga mengungkap maaf bagi sang ayah.

Penasaran bagaimana curhatan Tasaro terhadap ayahnya? Buku ini akan menjawab semuanya. Meski sedikit banyak saya kurang suka dengan gaya bahasa bercerita penulis,  yang kurang lugas, saya terhibur dengan pesan-pesan moral yang dipaparkan penulis. Indah dan penuh hikmah.

Srobyong, 10 Agustus 2018

Tuesday, 17 July 2018

[Resensi] Terapi Al-Quran untuk Menyucikan Hati

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu 8 Juli 2018


Judul               : Revive Your Heart
Penulis             : Nouman Ali Khan
Penerjemah      : Rini Nurul Badariah
Penerbit           : Mizania
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : 176 halaman
ISBN               : 978-602-418-175-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Al-quran adalah kitab suci umat Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad yang berisi petunjuk untuk semua umat dan membacanya bernilai ibadah.  Di antara kandungan Al-Quran  adalah adiqah, sejarah, ibadah, akhlak, muamalah dan berbagai ilmu pengetahuan—baik pengetahuan agama juga masalah sains. Di mana semua kandungan itu tidak pernah lekang oleh waktu. Karena Allah telah menjamin dan menjaga kemurian Al-Quran. Di mana pun dan kapan pun kita bisa mengambil pembelajaran dari Al-Quran.

Dan sebagaimana kita ketahui, hati adalah pangkal segala perbuatan kita. Jika hati baik, maka baik pula akhlaknya. Sebaliknya jika hati itu kotor, maka akhlak pun menjadi tercemar. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, hati itu diperumpamakan seperti pancir air yang mendidih—selalu bolak balik. Mengingat betapa rentannya hati, maka sudah semestinya kita membentengi hati dan jiwa kita agar tidak mudah bolak balik dan berkarat. Salah satunya dengan melakukan terapi hati melalui Al-Quran.

Begitu banyaknya kandungan Al-Quran, maka kita bisa mengambil saripati dan mengambil pelajaran dari pesan-pesan yang termaktub di dalamnya.  Buku karya Nouman Ali Khan ini sangat patut dibaca, untuk memahami lebih dalam bagaimana cara menyucikan hati. Dengan paparan yang mendalam dan kritis, kita akan disadarkan betapa pentingnya mengkaji Al-Quran dengan sepenuh hati, mendorong kita agar lebih memedulikan tugas kita kepada Allah dan mendesak kita untuk membenahi perpesktif hidup.

Di antaranya adalah pembahasan tentang doa.  Bagaimana kita bisa terhubungan dengan Allah melalui doa?  Sering kali kita bertanya-tanya, Apakah doa kita di dengar oleh Allah? Kenapa Allah belum mengabulkan doa kita? Di sini kita diingatkan untuk menjadi pribadi yang mawas diri—kita harus berpikir positif terhadap Allah dan tidak boleh putus asa.  Kita memang dianjurkan berdoa, namun kita tidak boleh menuntut kepada Allah. Kita harus sabar dengan segala ketentuan Allah.  Dia-lah sebaik-baik pemelihara.

 “Ketika kau merasa bahwa Allah tidak mendengarkan doamu, itulah kesuksesan tertinggi bagi setan. Dia sangat ingin meyakinkan seseorang bahwa Allah telah mengabaikan hamba-Nya karena dosa-dosa yang telah dilakukannya. Sedangkan Allah sama sekali tidak pernah mengabaikan hamba-Nya. Jadi, kita tidak boleh putus asa dengan Allah atau berpikir karena dosa-dosa kita, Allah berhenti mendengarkan kita.” (hal 2).

Selain pembahasan tentang doa,  masih banyak pembahasan lain, yang akan sangat membantu kita dalam usaha menjaga hati baik dalam urusan dunia atau akhirat.  Dengan analogi yang mudah dipahami, penulis mampu menggetarkan hati pembaca, menyadarkan kita untuk terus mendekatkan diri kepada Allah.

Srobyong, 1 Juli 2018

Saturday, 28 April 2018

[Resensi] Agar Terbebas dari Praktik Riba

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu 22 April 2018


Judul               : Hidup Tenang Tanpa Riba
Penulis             : Dwi Suwiknyo dkk
Penerbit           : Diva Press
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : 252 halaman
ISBN               : 978-602-391-524-8
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Riba adalah penetapan bunga atau menambah jumlah uang pinjamaan saat pengembalian, berdasarkan presentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok. Dalam Islam riba sangat dilarang keras. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 130.  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertawakalah kamu kepada Allah supa kamu mendapat keberuntungan.”

Dijelaskan pula bahwa Allah melaknat siapa saja yang berhubungan dengan riba—baik bagi orang yang meminjam atau orang yang dipinjami. Itulah kenapa sebelum kita terjebak pada praktik riba, maka kita harus mulai membentengi diri.  Buku ini dengan paparan yang lugas, menarik dan inspiratif mengajak kita untuk belajar dari pengalaman para penulis tentang bahaya riba, agar kita bisa mengambil ibrah dari sana.

Memang benar, setiap orang sudah pasti ingin menikmati hidup yang nyaman dan kecukupan. Namun perlu kita ingat, jangan sampai hanya karena ingin hidup enak, kita sampai menghalalkan berbagai cara, termasuk dengan melakukan praktik riba bahkan memakan harta riba.  Awalnya tentu saja nikmat, namun berjalannya waktu, kita pasti sadar bahwa hidup sederhana tanpa riba itu jauh lebih menenangkan dibanding kaya raya dengan utang riba di mana-mana (hal 10).

Sebagaimana kisah yang dipaparkan Annisa Pratiwi.  Sebelumnya hidupnya baik-baik saja. Meski pasca pernikahan  Annisa dan suaminya, mereka masih menumpang  di rumah mertua. Sampai suatu hari mereka dihadapkan pada dilema tentang harapan memiliki sebuah rumah sendiri. Di sinilah semua masalah berakar. Ambisi memiliki rumah sendiri inilah yang membuat Annisa dan suaminya nekat mengambil pinjaman di bank. Awalnya mereka bisa membayar cicilan setiap bulan dengan lancar. Namur berjalannya waktu, mereka mulai kesulitan dalam membayar cicilan.  Apalagi  jumlah cicilan terus merambat naik setiap tahunnya, mengikuti suku bunga yang juga naik setiap tahun.

Pada titik ini mereka menyadari bahwa jalan yang selama mereka lakukan adalah salah. Namun nasi sudah menjadi bubur. Mereka sudah terlanjut terjebak pada praktik riba. Lalu bagaimana mereka menghadapi masalah tersebut? Berhasilkah mereka menyelesaikan masalah dan lepas dari pusaran riba?

Selain kisah tersebut, masih banyak kisah lain yang tidak kalah menginspirasi. Seperti Hidup Berkah Tanpa Riba, Insaf dari Riba, Selagi Masih ada Napas dan banyak lagi. Dari kisah-kisah ini dapat kita saya simpulkan, bahwa agar kita terbebas dari praktik riba, maka kita harus menjauhi melakukan utang piutang  yang mengandung riba dalam bentuk apa pun. Kemudian dari diri sendiri, kita harus memiliki niat kuat untuk menghindari riba.  Buku ini sangat patut kita baca sebagai bahan renungan. Beberapa kekurangan yang ada tidak mengurangi esensi buku.

Srobyong, 9 Maret 2018 

Monday, 16 April 2018

[Resensi] Agar Rezeki Halal dan Berkah

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu April 2018 


Judul               : Aplikasi Pencari Rezeki
Penulis             : Wusda Hesta & Achi TM
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 208 halaman
ISBN               : 978-602-6716-13-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Setiap orang sudah pasti ingin memperoleh rezeki yang banyak. Karena dengan begitu, kehidupan mereka bisa dijamin enak dan hidup bahagia karena semua tercukupkan. Oleh sebab itu banyak orang yang bekerja keras demi kelancaran rezeki. Bahkan ada pula yang sampai melalukan pekerjaan yang dilarang dan diharamkan agama. Padahal rezeki lancar saja tidak cukup menjadi jaminan hidup seseorang. Jika ingin memperoleh rezeki yang lancar maka kita juga harus memerhatikan cara memperolehnya—dalam artian harus halal, sehingga rezeki itu bisa menjadi berkah.

“Kalau kita mencari rezeki dengan ilmu yang baik, pasti kita akan menemukan rezeki sesuai dengan pilihan kita.  Ketika mencari rezeki dengan cara halal, kita akan mendapatkan hasil yang halal, lebih berkah dan lebih mengenyangkan ketika dimakan. Sebaliknya, ketika kita mencari rezeki dengan cara haram, sudahlah besar resikonya.” (hal 27).

Perlu kita sadari keberhakan rezeki itulah yang akhirnya akan membuat kita merasa cukup dan selalu bersyukur kepada Allah. Dan ketika kita selalu bersyukur maka kita pun akan selalu merasa bahagia. “Syukuri, jalani dan nikmati setiap proses hidup ini. Itulah kunci kebahagiaan.” (hal 39).

Agar rezeki kita halal dan berkah, maka yang perlu kita lakukan adalah bersikap selektif dalam memilih pekerjaan terlebih dahulu.  Meski gaji yang akan kita terima sedikit, yang terpenting pekerjaan itu halal. Jangan karena diburu ingin memperoleh banyak uang, kita menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Kita harus ingat, “gaji itu diatur manajemen manusia, sedangkan rezeki  diatur yang Mahakuasa.” (hal 41).

Perlu kita sadari  juga, hasil yang kita peroleh itu sesuai dengan apa yang sudah kita usahakan. Dalam usaha memperoleh rezeki, kita tidak boleh berpangku tangan karena alasan takdir.  Memang benar takdir manusia sudah diatur oleh Tuhan—baik rezeki, jodoh juga mati. Namun Kita juga harus tetap berusaha, dengan bekerja dan membuka jaring pertemanan.  Rezeki atau jodoh tidak mungkin datang sendiri, jika kita tidak mau berusaha menjemput. Dalam salah satu firman Allah dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 pun telah dijelaskan, “Sesunggunya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (hal 63).

Sebagaimana analogi dari laba-laba dalam mencari makan, dia mengecoh mangsanya dengan jaring-jaringnya yang terlihat seperti nektar bunga.  Jika laba-laba saja dalam mencari makan selalu berusaha lalu kenapa manusia tidak?

Buku ini sangat menarik dari segi pemaparan. Selain lugas dan aktual ditambah dengan berbagai analogi sebagai pendalaman materi dan pencerahan, buku  patut dibaca untuk memahami lebuh dalam cara memperoleh rezeki halal dan berkah.

Srobyong, 23 Maret 2018 

Monday, 29 January 2018

[Resensi] Belajar Fakta Sains dari Cerita

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Senin 15 Januari 2018 


Judul               : Superkidz Science Story : Keajaiban Alam Sekitar
Penulis             : Lish Adnan
Ilustrator         : Rahmat Algifari
Penerbit           : Visi Mandiri
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : 96 halaman
ISBN               : 978-602-612-257-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Salah satu metode pendidikan yang bisa kita gunakan untuk memberi pelajaran dan wawasan  pada anak adalah metode membaca. Dan salah satu bacaan yang kerap disukai anak-anak adalah cerita-cerita yang juga dilengkapi gambar. Di mana dengan adanya gambar hal itu akan menumbuhkan daya imajinasi anak.

Sebagaimana buku ini, dilengkapi dengan gambar-gambar menarik dan lembar kegiatan aktivitas yang memacu daya ingat anak, pastinya akan membuat anak tertarik. Apalagi dalam buku ini penulis juga menambahkan tentang fakta-fakta sains yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya tentang proses fotosintesis, terjadinya hujan, terjadinya siang malam, mengapa daun berwarna hijau, kenapa kita butuh makan dan minuman, serta banyak lagi.  

Tidak ketinggalan, dalam setiap cerita yang disampaikan penulis, juga mengandung nilai-nilai pendidikan moral. Buku ini sangat patut dikenalkan kepada anak. Karena selain sebagai sarana menumbuhkan minat baca, anak bisa belajar tentang sains dan budi pekerti baik dari buku ini.

Misalnya saja kisah berjudul “Daun Merah Muda” yang mengajarkan kita untuk selalu meminta izin jika meminjam barang orang lain. Selain itu kita juga diajak mengenal kenapa daun bisa memiliki warna hijau. Bahwa daun yang berwana hijau berarti daun itu memiliki zat hijau daun atau disebut klorofil.  (hal 12-13). 

Ada pula kisah berjudul “Matahari Hilang”. Kisah ini mengingatkan kita untuk tidak suka memberi komentar negatif pada hal-hal yang kurang kita pahami. Sebaiknya kita bertanya dahulu jika belum paham atau tidak tahu. Lalu dalam masalah sains, dari kisah ini kita diajak mengenal bagaimana proses terjadinya siang dan malam. Di mana proses terjadinya siang malam ini memiliki hubungan erat dengan revolusi dan rotasi bumi (hal 30).

Tidak kalah menarih adalah kisah berjudul “Bentuk Awan yang Lucu”. Dari kisah ini kita diingatkan untuk tidak mudah putus asa. Jika gagal, kita harus segera bangkit dan mencoba  lagi. Dan kita juga dikenalkan dengan asal muasal terjadinya awan (hal 38-39).

Selain tiga kisah tersebut, tentu saja masih banyak kisah-kisah menarik yang patut kita ikuti.  Dengan bahasa yang mudah dimengerti anak, penulis membuat cerita-ceritanya menarik dan bersahabat. Apalagi kisah-kisah yang dituturkan kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari anak. Buku bagus dijadikan bacaan  bagi anak. karena  selain bisa menghibur juga menambah wawasan dan mengajarkan pendidikan budi pekerti baik bagi anak.

Srobyong, 30 Desember 2017 

Saturday, 28 October 2017

[Resensi] Menikmati Kisah Peraih Nobel Sastra

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Senin 23 Oktober 2017 


Judul               : Maut Lebih Kejam daripada Cinta
Penulis             : Orhan Pamuk, dkk
Penyusun         : Anton Kurnia
Penerbit           : Basabasi
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : 280 halaman
ISBN               : 978-602-6651-04-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Karya sastra sendiri merupakan sebuah ciptaan yang dibuat dengan tujuan estetika. Di mana biasanya karya-karya yang diciptakan berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat  dengan tema beragam dan satun waktu yang bergama pula.  Dan Hadiah Nobel Sastra adalah salah satu puncak tertinggi seorang sastrawan melalui karyanya di pentas sastra dunia. Di mana penghargaan itu secara tidak langsung akan menunjukkan tentang kepiawaian penulis juga akan mengangkat nama penulis itu sendiri.

Dalam hal ini, para peraih nobel sastra adalah penulis-penulis luar yang memang sudah tidak diragukan lagi kemampuan mereka dalam mengolak sebuah cerita. Seperti Orhan Pamuk,  Camilo Jose Cela, Albert Camus,  Toni Morrison dan banyak lagi.   Hanya saja tidak semua penulis sastra masih hidup dan terus mengenalkan karya-karyanya.

Oleh karena itu, buku ini hadir untuk mengenalkan  karya-karya sastra menarik dari peraih nobel sastra. Buku ini sendiri terdiri dari 25 kisah yang menarik dan menggelitik.  Di mana tema yang diangkat pun sangat luas. Dari cinta kasih keluarga hingga kritik sosial budaya.

Misalnya saja sebuah cerpen berjudul “Hantu Kekasih” karya Rudyard Kippling—penulis yang mendapat Nobel Sastra di tahun 1970. Dalam kisah ini penulis menyinggung tema cinta yang menarik dan menggemaskan. Ada Pansay  yang  kerap bergonta-ganti pasangan. Dia bahkan tidak segan-segan memutuskan pasangannya jika sudah bosa berhubungan. Namun suatu hari akhirnya dia memutuskan bertunangan dengan Kitty. Keputusannya itu tentu saja membuang salah satu mantan pacar Pansay marah, mengingat Nyonya Wessington masih sangat mencintai Pansay dan tidak mau diputus. Berkali-kali dia mengiba untuk berbaikan. Namun berkali-kali pula Pansay menolak.  Lalu di suatu hari yang tidak terduga tiba-tiba, entah kenapa Pansay menjadi laki-laki aneh hanya karena melihat angkong berwana kuning dan Nyonya Wessington (hal 15).

Selain itu ada pula “Tukang Sepatu” karya John Glasworthy—pemenang nobel sastra tahun 1932.  Cerpen ini penulis mengisahkan tentang tokoh yang selalu memegang teguh ideoliginya ketika berbisnis. Dia tidak mau berbuat curang dan selalu membuat sepatu dengan kualitas terbaik dan penuh kehati-hatian (hal 61).

Selain itu tentu saja masih ada  cerpen-cerpen yang tidak kalah menarik dan menggelitik. Seperti Maut Lebih Kejam daripada Cinta karya Gabriel Garcia Marquez, Gelang Emas karya Naguib Mahfouz, Idiot karya Camilo Jose Cela dan banyak lagi. Sebuah kumpulan cerpen yang menarik. Di sini kita bisa belajar untuk selalau jujur, mau bersedekah serta tidak sombong dan egos. Selain itu kita bisa menambah pengetahuan tentang sejarah penghargaan nobel sastra.

Srobyong, 5 Oktober 2017 

Wednesday, 16 August 2017

[Resensi] Belajar Bersyukur, Sabar dan Ikhlas

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Senin 14 Agustus 2017


Judul               : Syukurilah Hidup Rayakanlah Cinta
Penulis             : Fatih Zam
Penerbit           : Indiva
Cetakan           : Pertama, Februari 2017
Tebal               : 176 halaman
ISBN               : 978-602-6334-20-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

“Permata tak akan bisa diasah tanpa gesekan, begitu pula manusia, tak ada yang sempurna tanpa cobaan.” (hal 124).

Hidup tanpa cobaan itu memang tidak mungkin. Ada kalanya kita mendapat kemudahan, ada kalanya kita mendapat kesusahan. Saat mendapat kemudahan, sudah semestinya kita mensyukurinya. Dan ketika  menghadapi kesusahan, kita juga harus tetap bersyukur, ditambah mau bersabar dan ikhlas. Karena dengan menerapkan tiga prinsip itu, kita akan lebih menghargai hidup. Bahwa seyogyanya cara bangkit yang paling mudah adalah dengan berdamai dengan diri sendiri.   Jika kita memilih putus asa, yang ada kita hanya akan rugi dan menyesal.

Buku ini dengan pengemasan gaya bahasa yang lugas, renyah dan memikat memparkan tentang kisah-kisah menarik yang bisa kita ambil hikmahnya, untuk perenungan agar menjadi pribadi yang lebih baik. Penulis mengenalkan tentang kisah-kisah yang mengajarkan kepada kita untuk selalu bersyukur, sabar dan ikhlas.

Sebut saja cerita berjudul “Awan yang Menanggung Amanah Langit” di mana kisah ini bercerita tentang dua awan yang sama-sama mendapat amanah dari Allah. Kedua awan itu mendapat tugas untuk menampung air dari bumi yang sudah menguap untuk beberap waktu saja. Nanti kalau saatnya sudah tiba, bibit air itu bisa ditumpahkah kembali ke bumi sebagai hujan (hal 79).

Awan kedua melakukan amanah tersebut dengan senang hati. Namun awan yang pertama melakukannya dengan setengah hati. Dia sebal, karena gara-gara amanah itu, keindahan dirinya tidak lagi tampak.  Sehingga para pengagumnya pun melupakan dirinya.  Dia pun protes pada langit yang menjadi perantara sebagai pembawa berita dari Allah. Dia tidak mau melakukan perintah itu lagi. 
Agar terhindar dari tugas itu, akhirnya awan pertama memindahkan beban itu kepada awan kedua.  Dia senang sekali akhirnya tubuhnya kembali indah dan banyak pujian yang diberikan padanya lagi.  Sedangkan awan kedua keadaannya semakin buruk. Tapi dia tetap bersabar dan ikhlas melakukan amanah itu. hingga akhirnya langit memberi kabar kalau dia bisa melepas bibit air ke bumi.  Bersamaan dengan itu, tubuh awan kedua kembali indah. Namun di sisi lain keadaan awan pertama sungguh mengejutkan.

Selain kisah itu tentu saja masih banyak kisah-kisah lain yang tidak kalah inspiratif. Sebuah buku yang patut dibaca dan direnungkan.  Buku ini juga dilengkapi kata-kata motivasi yang pastinya akan membuat kita semakin menyadari tentang pentingnya belajar syukur, sabar dan ikhlas dalam berbagai keadaan. “Kekuatan tidak berasal dari  dari kapasitas fisik. Itu berasal dari kemauan yang gigih.” (hal 147).

Srobyong, 1 Agustus 2017

Sunday, 6 August 2017

[Resensi] Perjalanan Dua Hati dalam Mencari Kebenaran-Nya

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Senin 31 Juli 2017

Judul               : Lintang Langit pada Senja
Penulis             : Ririn Astutiningrum
Penerbit           : Laiqa, Elex Media Komputindo
Cetakan           : Pertama, Juni 2017
Tebal               : 248 halaman
ISBN               : 978-602-04-2528-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Allah itu Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Ketika kita diganjar hidup dalam lingakaran kesusahan, sudah sepantasnya kita bersabar, ikhlas dan tawakal.   Dan jika kita diganjar menjadi orang yang berada, maka seyogyanya kita harus bersyukur dan tidak terlena dengan nikmat dunia.

Membaca novel ini, kita diajarkan untuk selalu mensyukuri bagaimana pun keadaan hidup kita.  Jangan pernah kita menggungat Allah atau menyalahkan-Nya. Selain itu dalam novel ini kita juga diingatkan untuk selalu sabar dan tabah dalam menghadapi berbagai persoalaan dan rintangan hidup.  Jadikan cobaan sebagai penguat iman. Karena di balik cobaan selalu ada hikmah yang tertanam.
“Harga kehidupan kita bergantung dari kemampuan kita menerima kehidupan itu sendiri. Semakin kita bisa ikhlas dan lapang, semakin berhargalah hidup yang kita miliki.” ( hal 97).

Tidak ketinggalan dalam novel ini, penulis juga memaparkan bagaimana seharusnya orangtua yang baik dalam mendidik putra-putrinya. Bahwa dalam mendidik anak, selain memberikan materi, kasih sayang dan bimbingan orangtua itu sangat diperlukan. Mengingat orangtua adalah madrasah pertama bagi anak.  

Novel ini sendiri berkisah tentang Lintang yang merasa kesepian, karena merasa tidak dipedulikan orangtuanya, yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Hal itu-lah yang akhirnya membuat Lintang, menyalurkan kesepiannya dengan minum-minum, clubbing dan meninggalkan salat.  Ada juga Langit, terlahir menjadi orang yang tidak mampu, membuat Langit marah pada Allah. Dia merasa Allah tidak adil pada dirinya. Belum lagi cobaan berat berkali-kali menerpanya, hingga Langit semakin benci Allah.

Namun, ketika kebencian Langit semakin menggunung, dia pertemukan dengan Senja yang mengajarinya tentang hakikat cinta kepada Allah.  

“Kebencian dalam akan membuat sungai mandul tanpa aliran. Ia pun bisa menelan lautan dan membuatnya ringkai kerontang. Namun, cinta seperti gerimis yang menumbuhkan benih-benih. Hati yang basah oleh cinta kepada Allah akan mudah menumbuhkan rasa syukur atas hikmah yang senantiasa Allah kirimkan bersama musibah dan ujian.” (hal 101).

Dan Lintang, karena sebuah cobaan tidak terduga, akhirnya menuntunnya untuk mencoba memperbaiki diri.  Namun berhasilkah kedunya mempertahankan iman yang baru setitik itu, ketika tiba-tiba keduanya kembali mendapat cobaan yang mencoreng nama baik mereka?

Sebuah novel religi yang menarik. Selain memuat banyak hikmah kehidupan, novel ini juga diselipi berbagai sejarah yang menambah wawasan kita. Beberapa kesalahannya tidak mengurangi esensi dari kisah itu sendiri.

 Srobyong, 24 Juli 2017 

Monday, 17 July 2017

[Resensi] Mengelola Cinta dengan Bijak

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Selasa 4 Juli 2017


Judul               : Cinta yang Seharusnya
Penulis             : Agus Susanto
Penerbit           : Mizania
Cetakan           : Pertama, Februari 2017
Tebal               :144 hal
ISBN               : 978-602-418-140-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama. Jepara.


Cinta merupakan sebuah fenomena dunia yang banyak memengaruhi kehidupan manusia. Cinta selalu menjadi bagian dari hidup yang akan selalu hadir menemani dalam setiap embusan napas kita. Oleh karena itu, kita harus mampu memanfaatkan cinta demi mewujudkan kualitas kehidupan yang lebih baik dan indah.  Di mana kita harus tahu bagaimana cara mengelola cinta secara bijak agar tidak terjerumus pada cinta yang salah.

Sadar atau tidak saat ini banyak sekali orang yang belum bisa menempatkan cinta pada tempatnya. Hal ini bisa dilihat dari perkembangan pergaulan para remaja. Untuk itu buku ini bisa menjadi solusi yang tepat, sebagai jembatan yang akan membuka pengetahuan baru. Penulis menghadirkan berbagai pemahaman tentang cinta dan dinamikanya.

Tentu kita masih ingat dengan kisah Layla Majnun. Qais, pria tampan, cerdas dan memiliki bakat luar biasa dalam bidang seni perang, musik, syair dan lukis, tiba-tiba mendapat julukan sebagai orang gila (majnun) karena cintanya pada Layla tidak tersampaikan. Hubungan mereka ditentang hingga Qais tidak  bisa bertemu kekasihnya.  Hal inilah yang kemudian membuat Qais merana hingga berujung gila (hal 17).

Tentu kita tidak ingin mengenal cinta yang seperti itu bukan? Karena cinta seperti itu bukanlah cinta terpuji.  Cinta yang terpuji adalah cinta yang berlandaskan dengan rida Allah.  Sebagaimana yang dicontohkan dengan kisah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah.

Oleh karena itu ketika cinta mulai menyapa, kita harus tahu rambu-rambu yang perlu ditaati agar tidak salah jalan. Pertama, jadikan cinta itu sebagai motivasi. Dan di sini cinta itu hanya bisa tercapai melalui pernikahan. Jadi intinya ketika kita sudah siap mencintai, itu akhirnya kita juga siap untuk menuju gerbang pernikahan. Karena lewat jalan itu Allah menghalalkan sebuah hubungan. Cinta seperti ini yang akan menebarkan banyak motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Kedua adalah menahan pandangan. Ini jika kita belum siap menikah, maka hal utama yang perlu dilakukan adalah menahan pandangan. Dengan begitu kita akan terjauh dari fitnah.  Perlu dikatahui bahwa dengan menahan pandangan itu berarti kita menahan syahwat dan keinginan hati. Dan terkahir, yakinlah cinta itu akan indah pada waktunya. Jadi jangan khawatir jika saat ini belum nenemukan tambatan hati. Karena pasti Allah menyiapkan pasangan masing-masing jika tiba saatnya nanti (105-106).

Sebuah buku yang memikat dan memotivasi yang bisa dijadikan untuk muhasabah diri. dipaparkan dengan renyah dan gurih buku ini patut untuk dikonsumi agar bisa menjaga cinta dengan baik, menempatkannya pada jalan yang seharusnya.

Srobyong, 7 Mei 2017