Showing posts with label Koran Pantura. Show all posts
Showing posts with label Koran Pantura. Show all posts

Saturday, 22 December 2018

[Resensi Buku] Dongeng Ajaib yang Menginspirasi


Dimuat di Koran Pantura, 17 Juni 2019 

Judul               : Kumpulan Dongeng Aneh bin Ajaib
Penulis             : Arleen A
Ilustrator         : Kabita,Veronica Winata,dkk
Penerbit           : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan           : Pertama, 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-455-226-8



Kisah-kisah dongeng meski aneh dan tidak masuk akal, namun banyak nilai-nilai pembelajaran yang bisa diteladani. Kisah yang diceritakan selalu menginspirasi dan memotivasi untuk intropeksi diri. Oleh karena itu, dongeng masih menjadi bacaan yang disukai anak-anak. Apalagi dalam kisah-kisah dongeng biasanya terdapat ilustrasi menarik, yang membuat anak  semangat.  Sebagaimana Kumpulan Dongeng Aneh bin Ajaib karya Arleen A ini. Terdiri dari 10 dongeng aneh dan ajaib, buku menarik untuk dibacakan atau dibaca bersama anak-anak.

Misalnya saja kisah berjudul “Ketika Aku Jadi Sepatu” yang menceritakan tentang tokoh ‘aku’ yang tiba-tiba menjadi sepatu. Dimulai jadi sepatu ayahnya, hingga dia bisa melihat kerja keras sang ayah saat bekerja. Lalu dia menjadi sepatu sang ibu, juga sepatu adiknya. Kira-kira bagaimana akhir kisah tokoh aku ini? Apakah dia akan terus menjadi sepatu atau akan kembali menjadi dirinya sendiri? (hal 1).

Dalam kisha ini anak diajak untuk lebih menghargai orangtua. Dalam artian sebagai anak kita harus menghormati dan membantu orangtua semampu kita. Karena orangtua sudah bekerja keras untuk merawat dan mendidik kita. Ayahnya bekerja siang malam agar bisa membiayai hidup kita. Sedang ibu selalu membersihkan rumah agar nyaman untuk ditinggali. Ibu juga selalu menyiapkan sarapan yang lezat dan bergizi.

Ada pula kisah berjudul “Teko Ajaibku” yang menceritakan tentang seorang gadis kecil yang tidak sengaja menemukan sebuah teko ajaib—di mana teko itu selalu penuh isinya. Lebih menarik lagi air yang ada di dalam teko itu  sangat lezat dan bisa menyembuhkan pilek yang diderita si gadis kecil tersebut.  Gadis kecil itu pun membagikan info itu pada teman-temannya. Hingga banyak orang datang untuk melihat teko ajiabnya.

Karena semakin lama banyak orang yang datang, si gadis kecil itu menarik bayaran bagi yang ingin minum. Awalnya dia menarik harga murah, namun semakin lama dia menarik harga sangat mahal. Sejak itu para pengunjung pun semakin sepi. (hal 35). Dalam kisah ini anak diingatkan untuk tidak sembarangan memungut barang temuan di jalan. Selain itu anak juga diajak menjadi pribadi yang sudah berbagi dalam kebaikan. Bukan malah memanfaat sebuah momen untuk keuntungan diri sendiri.

Tidak kalah menarik ada kisah berjudul “Kutilku yang Besar dan Biru” menceritakan tentang gadis kecil yang memiliki kutil di hidungnya. Hal itu tentu sangat meresahkannya. Dia malu respon apa yang akan dikatakan teman-temannya tentang kutil itu. Oleh karena itu dia berusaha keras untuk menutupi kutilnya. Bahkan kalau bisa bersembunyi sampai kutil itu hilang (hal 47).Sebuah kisah yang menarik. Di sini anak diajarkan untuk menjadi diri sendiri. Tidak usah malu dengan kekurangan yang kita miliki, tapi tunjukkan prestasi.

Lalu ada juga kisah berjudul “Menara yang Tumbuh” yang mana dari kisah ini kita akan dihibur dengan kisah menakjubkan tentang harapan gadis kecil yang ingin memiliki rumah tinggi agar bisa melihat bintang dan bulan. Namun apa jadinya ketika rumahnya akhirnya bisa tinggi? Di sini kita diajak untuk mensyukuri apa yang kita miliki. Jangan suka iri dan dengki, karena pada akhirnya hanya akan merugikan diri sendiri.

Selain tiga tersebut masih banyak lagi kisah-kisah aneh dan ajaib yang sangat menginspirasi. Seperti “Tertempel pada Tutup Tong Sampah” yang memotivasi kita untuk menjadi pribadi yang tidak membeda-bedakan teman. Bertemanlah dengan siapa saja tanpa melihat status sosialnya. Atau kisah “Ketika Aku jadi Lemari” yang mengajarkan untuk tidak berlebihan dalam apa saja. Misalnya dalam menyukai atau mengoleksi sebuah barang.

Semua dipaparkan dengan apik dan mudah dipahami anak.  Bahasanya ringan  dan sederhana. Buku ini sangat cocok dijadikan bahan bacaan anak. Lebih menarik lagi, buku ini disusun dengan dua bahasa—Indonesia dan Inggris. Jadi selain bisa menikmati kisah yang diceritakan, anak juga sekaligus belajar bahasa Inggris melalui cerita.

Srobyong, Minggu 28 Januari 2018


Tuesday, 17 April 2018

[Resensi] Guru Harus Bertanggung Jawab

Dimuat di Koran Pantura, Selasa 3 April 


Judul               : Fighting, Son Seng Nim!
Penulis             : Nuraisah H
Penerbit           : Indiva
Cetakan           : Pertama, September 2016
Tebal               : 392 halaman
ISBN               : 978-602-1614-50-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

“Tugas guru bukan hanya mengajar target lesson plan, tapi juga mendidik. Kalau tugas guru hanya mengajar, seharusnya kita merasa malu saat menerima gaji.” (hal 166).

Novel ini berkisah tentang Fatimah, seorang guru bahasa Inggris di  Taman Pendidikan—TK Korea—Little Lolita.  Dalam menjalani profesinya ini, Fatimah  selain ditantang untuk menjadi seorang guru yang bertanggung jawab, dia juga harus  hidup dalam lingkungan baru, serta harus berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda agama, rasa dan budaya.

Setelah lima tahun mengajar di Little Lolita di  sekolah pusat—Jakarta,  tiba-tiba Fatimah ditempatkan di sekolah cabang yang terletak di Tangerang. Berita itu tentu saja langsung membuat Fatimah kecewa dan marah. Kenapa dia harus dipindah tugaskan? Kenapa bukan guru bahasa Inggris lainnya?  Namun pada akhirnya Fatimah mengikuti kebijakan pemindahan tersebut. Meski itu berarti, dia harus bespisah dari sahabatanya—Esti, juga jauh dari pacaranya, Angga.

Dan di sinilah tantangan sebenarnya yang harus Fatimah hadapi ketika menjadi guru. Di cabang Little Lolita di Tangerang, Fatimah memiliki satu murid bernama Lee Soh Rim,  yang selalu merasa rendah diri. Gadis kecil berusia enam tahun itu tidak seperti Jun Do  Won, Moon Hee Jin atau Lee Seung Hun yang selalu aktif dan tidak pemalu.  Belum lagi Jun Do Won entah kenapa selalu suka menganggu dan mengejek Lee Soh Rim yang sudah tidak memiliki ibu.

Memang sejak orangtuanya berpisah Soh Rim kurang mendapat kasih sayang. Ibunya lebih fokus mengejar karir, sedangkan ayahnya juga sibuk berbisnis. Sang nenek yang dititipi pun tidak kalah sibuk. Jadi sehari-hari Soh Rim lebih banyak mengahabiskana waktu dengan pengasuhnya. Padahal bagi anak korban perceraian, perhatian orangtua itu sangat diperlukan. Berbekal sebuah nomor yang tidak sengaja dia temukan di buku Soh Rim, Fatimah mencoba menghubungi  Lee Jun Ho, ayah Soh Rim agar mengetahui keadaan putrinya. Berhasilkan usaha Fatimah?

Namun di sisi lain sikap Fatimah yang terlihat lebih memerhatikan Soh Rim ini malah menjadi masalah.  “Ketika kebanyakan orang tua berpikir untuk memanjakan, guru tetap harus berpikir mendidik, menjadikan murid-murid lebih baik dalam pengetahuan dan karakter.” (hal 162).  Salah satu orangtua wali murid—ibu Jud Do Won, meminta penjelasan kenapa Fatimah melakukan itu.

“Saya memang memperlakukan  tiap anak berbeda, Mam. Maksud saya, setiap anak kan memiliki karakter yang berbeda-beda. Jadi saya memberikan perhatian dan cinta seperti yang mereka ingin dapatkan. Karena memang tidak mungkin memperlakukan anak-anak dengan cara yang sama. Karena mereka bukan robot. Mereka memiliki karakter yang harus dijag. Dan tugas guru adalah membimbing karakter itu agar tetap baik.” (hal 162-163).

Lepas dari masalah Soh Rim, Fatimah juga harus menghadapi kenyataan tentang kekasihnya, Angga yang tidak kunjung sepakat dalam hubungan mereka. Di mana Angga yang katanya siap berpindah agama agar bisa menikahinya, ternyata tidak pernah mau mencoba mengenal Islam lebih dekat. Keraguan pun mulai menghinggapi benak Fatimah.  Beruntung Fatimah memiliki teman-teman yang baik hati. Meski Anna berbeda agama dengan dirinya, Anna selalu menghargai dan peduli padanya. Begitu pula Lee Mi Yeon. Mereka adalah sahabat dan keluarga yang saling menguatkan.

Berbagai cobaan hidup kemudian membuat Fatimah lebih dekat kepada Allah. Dia kemudian memilih mundur dan melepas Angga. Selain itu Fatimah  memutuskan  memakai jilbab. Ini adalah keputusan besar, karena itu berarti Fatimah harus siap dengan segala konsekuensinya. Salah satunya adalah keluar dari Little Lolita.  Mengingat kebanyakan orangtua murid tidak setuju jika ada guru yang membawa identitas agama di sekolah (hal 315). 

Sebuah buku yang menarik. Di sini kita diingatkan tentang tugas pendidik yang sebenarnya. Bahwa guru bukan hanya bertugas mengajar saja, tapi juga harus mendalami karakter anak dengan baik. Selain itu kita juga diingatkan untuk saling menghormati dan menghargai antara sesama, meski berbeda agama, rasa dan budaya.

Hanya saja dalam buku ini masih saya temukan beberapa kesalahan tulis dan sedikit logika yang kurang pas. Namun lepas dari kekurangannya, buku ini sangat menginspirasi.

Srobyong, 7 Oktober 2017 

[Resensi] Dedikasi Haji Agus Salim Terhadap Indonesia

Dimuat di Koran Pantura, Selasa 27 Maret 2018 


Judul               : Agus Salim
Penulis             : Tim Tempo
Penerbit           : KPG
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : xiv + 203 halaman
ISBN               : 978-602-424-391-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Aluma Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Tercapainya kemerdekaan Indonesia, tidak luput  dari usaha para tokoh pergerakan nasional. Mereka adalah pahlawan yang memiliki keberanian dan sikap nasionalisme yang tinggi. Tanpa mengenal rasa takut, mereka terus berjuang. Untuk menghormati perjuangan mereka, maka tanggal 10 November diperingati sebagai hari pahlawan. Salah satu tokoh pergerakan nasional yang memiliki banyak peranan dalam meraih kemerdekaan adalah Haji Agus Salim.

Pemilik nama  asli Masyhudul Haq yang berarti ‘Pembela Kebenaran’, mendedikasikan hidupnya untuk perjuangan. Pria kelahiran Koto Gadang, Sumatra Barat, 8 Oktober 1844 ini, dengan semangat tinggi dan keberanian yang besar, dia terus melangkah tanpa rasa takut. Tidak peduli pemikirannya selalu dikritik dan dibuang,  Haji Agus Salim terus berjuang tanpa henti.   Buku ini dengan menarik memaparkan tentang peranan yang dilakukan Haji Agus Salim untuk Kemerdekaan Indonesia.

Pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Mesir misalnya. Hal ini tidak lepas dari tangan dingin Haji Agus Salim. Pengakuan de jure pertama dunia internasional terhadap proklamasi 17 Agustus 1945. Dan setelah Mesir, sejumlah negara Arab berturut-turut mendukung. Misalnya Libanon, Suriah, Irak, Arab Saudi dan Yaman.  Keberhasilannya ini membuatnya diberi julukan sebagai “The Grand Old Man” karena kepiawaiannya dalam berpolitik (hal 13).

Keberhasilannya ini membuat Belanda gagal untuk menguasai kembali Indonesia. Karena pada saat perjanjian Linggarjati, salah satu isinya berbunyi, Belanda dan Indonesia sepakat membuat Republika Indonesia Serikat—di mana Indonesia harus bergabung dalam persemakmuran Indonesia-Belanda dengan Belanda sebagai kepala. Namun dengan adanya pengakuan de facto dan de jure, posisi Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat semakin kokoh.

Sedang sebelum  proklamasi, Haji Agus Salim ikut berperan aktif dalam persiapan kemerdekaan. Dia merupakan salah satu anggota BPUPKI. Dia juga termasuk bagian dari panitia sembilan. Tim yang melahirkan Piagam Jakarta, yang kelak menjadi rancangan preambul atau pembukaan Undang-Undangn Dasar (hal 19).  Dialah tokoh yang menjadi penghubung ketika terjadi perbedatan antara golongan Islam dan nasionalis.  Tidak hanya duduk di pantia perancang hukum dasar dan panitia sembilan, Haji Agus Salim juga duduk sebagai anggota panitia penghalus bahasa dalam rancangan undang-undang, bersama Soepomo dan Prof Dr P.A.H. Djajadiningrat.

Pria yang dijuluki sebagai poliglot—karena dia menguasai banyak bahasa asing, dia antaranya; Belanda, Inggris, Perancis, Arab, Jerman, Jepang dan Turki, merupakan anggota delegasi dalam perjanjian Renville. Dengan sikap tenang dia menghadapi tekanan dari Belanda. Bahkan Haji Agus Salim berani mengungkapkan argumen tentang kelicikan Belanda dalam perjanjian Linggarjati.

Sikap keras yang dimiliki Haji Agus Salim kemudian, membuatnya sering dimusuhi pemerintah Belanda. Bersama Sukarno, Mohammad Roem, Ali Sastroamidjojo, mereka dibuang dan diasingkan di  Wisma Ranggam, yang berdiri tidak jauh dari Pelabuna Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Bangka Belitung (hal 32).  Selain di sana Haji Agus Salim juga sempat dibuang ke Berastagi dan Parapat, Sumatra Utara.

Namun begitu, jiwa nasionalisme tidak mati. Ketika akhirnya bebas, Haji Agus Salim kembali berjuang mengusir penjajah. Dan selama masa pergerakan Haji Agus Salim  ikut andil membesarkan Sarekat Islam—yang kemudian berganti  menjadi Partai Sarekat Islam. Bersama HOS. Tjokroaminoto, mereka bahu membahu melawan penindasan dan penjajahan yang dilakukan Hindia-Belanda.  Tidak hanya itu Haji Agus Salim juga kerap kali mengecam tindakan pemerintah Belanda melalui tulisan-tulisannya yang tajam.  Hal inilah yang membuat Haji Agus Salim kerap ditegur dan dianjurkan untuk melunakkan kritikannya kepada pemerintah Belanda.

Sayangnya sikap keras Haji Agus Salim tidak bisa dipatahkan. Dia berkata, “Keyakinan saya  tentang peri kehidupan; dan pendapat saya tentang pemerintah Hindia-Belanda serta kebijakannya, saya tidak bisa tawar menawar.” (hal 104).  Inilah alasan yang membuatnya memilih mundur dari jabatan Pemimpin Redaksi Hindia Baroe yang membesarkan namanya. Begitu pula ketika sempat menjadi redaksi Koran Nerajta. Karena tidak lagi satu misi dan tidak mau dimanfaatkan pemerintah Belanda, Haji Agus Salim memilih mundur.

Sepak terjang Haji Agus Salim ini patut kita teladani. Dengan sikap gigih dan kepandaiannya dalam  berdiplomasi telah merintis jalan kemerdekaan Indonesia. Dia adalah sosok sederhana yang demi bangsa, tidak takut miskin dan hidup susah. Yang terpenting adalah berjuang meraih kemerdekaan Indonesia. Buku yang patut dibaca semua kalangan.

Srobyong, 4 November 2017


[Resensi] Perjodohan, Pelarian dan Penyamaran

Dimuat di Koran Pantura, Jumat 23 Maret 2018 



Judul               : A Lady in Disguise
Penulis             : Georgette Heyer
Penerjemh       : Reni Indardini
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, September 2017
Tebal               : 392 halaman
ISBN               : 978-602-385-251-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Georgette Heyer merupakan pengarang lima puluh buku lebih. Dia adalah novelis sejarah paling terkenal dan paling dicintai dan spesialisnya adalah kisah berlatar belakang zaman Regency (1881-1937).  Novel ini sendiri merupakan salah satu karya terbaik Geogette. Sederhana namun manis yang sangat menghibur.  Dan banyak pula pelajaran hidup yang bisa kita ambil.

Kisahnya sendiri tentang Sir Richard Wyndham—pria kaya yang dijodohkan ibu dan kakaknya dengan Melissa Brandon—kenalan keluarga mereka. Sedang bagi Sir Richard dia belum ingin menikah dan memang tidak mencinta Melissa. Dia cuma menganggap Melissa sebagai teman. Belum lagi saat ini keluarga Brandon tengah terllit masalah dan terancam bangkrut. Dua kakak Melissa—Cedric dan Berverley memiliki utang yang banyak dan gemar minum-minuman keras.

Oleh kakak iparnya dia diberi saran untuk menolak perjodohan itu. Pun dengan Cedric yang menyuruh Sir Richard untuk melarikan diri saja. Lebih baik Sir Ricard tidak berurusan dengan keluarganya. Merasa bingung dan kalut, Sir Richard, melampiaskannya dengan minum (hal 37).

Dan di sinilah semua masalah mulai timbul. Saat Sir Richard—yang dalam keadaan sedikit mabuk—berjalan sendiri menujur rumahnya, dia bertemu dengan seorang pemuda aneh yang sedang berusaha kabur dan jatuh tepat di dalam pelukannya (hal 42).  Tapi sejak pertama melihat Sir Richard sudah tahu bahwa sosok yang ditemuinya adalah bukan pemuda tapi pemudi.

Sir Richard akhirnya tahu, bahwa gadis itu tengah berusaha kabur dari bibinya, karena tidak mau menerima perjodohan yang diajukan sang bibi. Dia memiliki pria yang sudah dia sukai sejak dulu—Piers. Dan itulah tempat yang tengah ingin Penelope Creed—dia ingin pergi ke tempat salah satu kenalannya di Somerset. Mendengar kisah gadis itu entah karena alkohol atau karena alasan lain, tiba-tiba Sir Richard memutuskan untuk menemani perjalanan Pen atau Penelope.  Dan dia menyadari kehidupannya berubah setelah pertemuannya dengan Pen.

Dalam perjalanan ini mereka menemui banyak hal-hal baru yang tidak terduga. Dari masalah kereta yang terperosok di parit, bertemu  dan berkenalan dengan pencuri, hingga terjebak dalam kasus pembunuhan.  Di mana Sir Richard tidak menyangka bahwa dia harus menyaksikan kematian calon kakak iparnya—Berverley. Sedang Pen harus menerima takdir bahwa orang sahabat yang dulu dia pikir menyukainya ternyata sudah memiliki kekasih.

Membaca kisah ini kita akan dibuat penasaran dengan  nasib Pen juga Sir Richard.  Apakah Pen harus kembali dan menerima perjodohan yang diatur bibinya,  atau menerima lamaran Sir Richard yang sempat dia tolak, karena Pen merasa, apa yang dilakukan pria itu hanya sekadar tanggung jawab. Sebagaimana yang pernah Piers sampaikan, bahwa akan ada skandal besar  jika ketahuan ada gadis lajang dan pria lajang bepergian bersama tanpa pelayan. Kecuali mereka bertunangan dan akan menikah.  Dan dia sudah melanggar aturan itu.  Dan bagaimana tanggapan Sir Richard sendiri tentang perjalanan jauh yang telah dilaluinya juga arti Pen bagi dirinya.

Dengan tutur bahasa yang lembut dan runtut kisah ini memiliki sisi menarik untuk diikuti. Meski mengambil ide yang cukup sederhana, namun eksekusinya sangat apik dan pas.  Penulis sukses membuat para tokoh dalam kisah ini benar-benar hidup. Pun dengan suasana cerita.  Jadi saat membaca kita seolah-olah ikut berperan serta dalam kisah ini.   Yang paling menarik dari novel ini adalah tentang sikap dan tingkah laku Pen yang selalu menarik dan penuh kejutan.

Novel ini pun tidak terlalu banyak kesalahan dalam penulisan. Bersih dan rapi.  Dari novel ini saya belajar untuk tidak memulai kebohongan. Karena dari satu kebohongan akan menciptakan kebohongan lebih dalam lagi. Selain itu di sini kita dapat belajar bahwa kita tidak bisa memaksakan kehendak pada orang lain.  “Hidup itu harus saling menghomati.” (hal 77). Recomended bagi para penikmat kisah romance.

Srobyong, 6 Januari 2018



Monday, 2 April 2018

[Resensi] Membiasakan Berdoa Sebelum Beraktivitas

Dimuat di Koran Pantura, Jumat 9 Maret 2018



Judul               : Anak Muslim Baca Basmalah
Penulis             : Mulasih Tary
Ilustrator         : Ginanjar Agus P, dkk
Penerbit           : Qibla
Cetakan           : Pertama, Juli 2017
Tebal               : 60 halaman
ISBN               : 978-602-394-495-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Sebelum melakukan aktivitas alangkah baiknya kita memulainya dengan doa.  Karena dengan berdoa, kita akan dimudahkan dalam segela urusan. Salah satunya adalah dengan membaca basmalah. Di mana basmalah adalah salah satu ayat yang terkandung dalam Al-Quran. Baslamah merupakan kalam Allah yang agung.

Selain itu basmalah merupakan pembuka dan ayat pertama dalam surat Al-Fatihah, basmalah juga menjaduipembuka seluruh surat dalam Al-Quran—kecuali Al-Fatihah. Dan basmalah sendiri mengandung banyak sekali keajaiaban. Bahkan Rasulullah juga menganjurkan untuk mengucapkan basmalah ketika hendak melakukan segala sesuatu (hal iii).

Menilik dari masalah tersebut penulis menghadirkan kisah yang mengajak anak untuk selalu membaca basmalah sebelum memulai aktivitas. Dengan pendekatan cerita, saya rasa buku ini sangat patutut dibacakan untuk anak. Buku ini sendiri terdiri dari sepuluh cerita yang dipaparkan dengan bahasa sederhana dan pastinya akan mudah dipahami anak.

Sebut saja kisah berjudul “Asrur Anak Patuh” di mana dalam kisah ini diceritakan Asrur adalah anak yang berbakti. Dia selalu mematuhi perintah orangtuanya. Dia selalu belajar dengan rajin. Bahkan Asrur memasakkan kedua orangtuanya.  Dia tahu bahwa orangtuanya pasti sangat lelah setelah bekerja seharian di sawah. Sedang dia belum diizinkan membantu dan hanya disuruh fokus belajar.
Oleh karena itu Asrur sangat bersyukur dan berterima kasih karena memiliki orangtua yang sangat pengertian.  Dia pun selalu berdoa untuk kedua orangtuanya. Tidak lupa sebelum berdoa dia memulainya dengan membaca basmalah (hal 1).

Ada pula kisah berjudul “Hari Istimewa untuk Kakek Willy” yang menceritakan tentang kebingungan Kakek Willy memilih baju. Kakek sudah membuka lemari pakaian dan mencoba beberapa, tapi kakek belum juga merasa ada pakaian yang cocok untuk dikenakan.  Melihat tingkah kakenya, Niko pun menawarkan bantuan.

“Mungkin ada sesuatu yang Kakek lupakan sehingga Kakak merasa setiap baju yang dikenakan tidak cocok,”  Niko mengingatkan kakeknya (hal 10). Sayangnya sang kakek tidak tanggap juga, akhirnya Niko mengingatkan kakek untuk membaca doa mamakaian pakaian. Tidak lupa dimulai dengan basamalah agar lebih berkah.

Tidak kalah menarik ada juga kisah berjudul “Game Baru Fahmi”. Dalam kisah ini diceritakan, Fahmi tidak bisa berkonsentrasi belajar karena terus kepikiran dengan game baru, yang baru saja dibelikan ayahnya. Sayangnya dia baru boleh bermain setelah belajr. Namun itulah masalahnya, Fahmi sama sekali tidak bisa konsentrasi. Dia tidak bisa mengerjakan PR dengan baik dan semakin gelisah,.
Melihat tingkah anaknya, sang ibu pun menghampiri Fahmi dan menasihati putranya untuk  berwudhu dulu, agar bisa fokus.  Dan setelah berwudhu, ibunya menyuruh Fahmi untuk membaca basmalah dan doa sebelum belajar. Akhirnya Fahmi pun bisa fokus belajar (hal 15).

Selain tiga kisah ini, tujuh kisah yang lain pun tidak kalah seru dan menginspirasi. Semua mengingatkan kita tentang pentingnya memulai pekerjaan dengan membaca basmalah, agar semua kegiatan kita bisa berjalan lancar dan tidak tergoda dengan setaan atau hal-hal yang merugikan.

Yang menarik lagi dari buku ini adalah setiap kisah dalam buku ini juga disertai hadis-hadis yang semakin menambah wawasan anak tentang keutamaan basmalah. Misalnya saja sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dan disahihkan al-Bani.

Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang membaca doa ini saat sore tiba : “Dengan nama Allah (bismillah), yang dengan (nama)-Nya tidak akan dapat membahayakan sesuatu pun yang ada di bumi dan di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Maka ia tidak akan ditimpa musibah yang tiba-tiba sampai pagi hari. Dan barang siapa yang  membacanya pada sore hari, maka ia tidak akan ditimpa musibah yang tiba-tiba sampai sore hari.” (hal 6).

Selain itu buku ini juga mengajarkan anak tentang nilai-nilai budi pekerti. Seperti mengajak anak untuk menjadi anak berbakti, rajin belajar dan tidak mudah tergoda dengan game, menyayangi kakek, berani meminta maaf jika bersalah, mendoakan kesembuhan teman dan banyak lagi. Memang benar dalam buku ini masih ada beberapa kesalahan tulis dalam penulisan nama tokoh. Namun saya rasa itu tidak mengurangi nilai-nilai dari buku ini.

Srobyong, 6 Januari 2017 

Tuesday, 27 March 2018

[Resensi] Mengajarkan Cara Mencintai Sesuai Aturan Tuhan

Dimuat di Koran Pantura, Selasa 13 Maret 2018


Judul               : Cinta dalam Ikhlas
Penulis             : Kang Abay
Penerbit           : Bentang Pustaka
Terbit               : Pertama, Februari 2017
Cetakan           : Ketiga, April 2017
Tebal               : viii + 372 halaman
ISBN               : 978-602-291-364-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

“Mencintai adalah belajar mengikhlaskan, bukan belajar memiliki, karena yang kita cinta, sejatinya adalah milik Allah. Dan, akan disatukan, lalu dipisahkan atas izin dan rida-Nya. Ikhlas itu memerlukan proses yang terkadang sulit, tetapi kalau kita tidak berusaha untuk belajar ikhlas, hati kita akan menjadi sakit. Proses mengikhlaskan terutama di awal itu memang terasa susah, tetapi jika kita berhasil melakukannya, semuanya akan berakhir indah.” ((hal 151).

Novel ini memiliki nilai-nilai pembelajaran yang banyak. Ketika kita membacanya, kita diajak menyelami bagaimana memaknai hidup. Bagaimana menghadapi cobaan yang datang bertubi-tubi, juga memanage hati—mencintai sesuai aturan yang diajarkan Tuhan. Selain itu dari kisah ini, kita bisa belajar tentang pentingnya bersikap positif, selalu bersyukur, sabar dan tidak mudah menyerah. Sebuah buku yang sangat mencerahkan dan patut dibaca bagia siapa saja.

Kisahnya sendiri berpusat pada Bintang Atharisena Firdaus—yang lebih sering disapa Athar. Pada usia yang baru menginjak 5 tahun dia harus menerima takdirnya sebagai seorang anak  yatim.  Tidak lama kemudian, kakak yang sangat disayangi juga pulang ke rumah Allah. Berkali-kali ditinggal orang yang sangat dia sayang, telah menempanya menjadi sosok yang tegar. Dia tidak boleh larut dalam kesedihan. Karena hidup akan terus berjalan.

Dalam perjalanannya itu, siapa sangka Athar terjabak pada sebuah muara bernama cinta. Ketika dia memasuki masa SMA, dia bertemu dengan Aurora Cinta Purnama—atau kerap disapa Ara. Di sinilah tantangan Athar dalam menjaga hati (hal 18).   Dia sangat menyukai Ara, namun dia tahu kalau dirinya tidak boleh gegabah untuk menyatakan cinta. karena masing-masing dari mereka, masih memiliki jalan panjang untuk mengejar cita-cita.  

Sampai  akhirnya, ketika kelulusan tiba, Athar tidak tahan dan  memberanikan diri mengungkapkan perasaan itu kepada Ara. Namun jawaban yang dia terima sungguh mengejutkan. Di sini, Athar harus kembali belajar untuk mengikhlaskan.

“Cinta itu indah jika sejalan dengan fitrah. Dan, fitrahnya manusia adalah mengikuti gravitasi hati, dengan cara menerima dan mengikuti kehendak-Nya dengan hati rela tanpa terpaksa. Karena rencana-Nya adalah yang terindah. Karena pilihan-Nya yang terbaik.” (hal 152).

Athar pun menerima keputusan yang diberikan Ara. Meski sakit, dia mencoba menerima. Athar lalu menyibukkan diri  untuk masuk kuliah.  Dan lagi-lagi cobaan menyelimuti hidupnya. Selama di sekolah Athar selalu menjadi juara kelas, hal itu yang membuatnya yakin bisa lolos dalam seleksi di ITB. Namun ternyata Allah berkendah lain (hal 163).  Dia tidak lolos dan berakhir kuliah di Sekolah Bisnis di Bandung.

Namun berbagai kejadian itu tidak serta merta membuat Athar goyah. Dia berusaha mencintai apa yang menimpanya dengan ikhlas. Dan tanpa terasa waktu pun berlalu dengan cepat.  Athar sudah menjadi sosok dewasa yang ulet. Hal itu-lah yang akhirnya membuat Tari, sahabatnya saat kuliah, mengajukan proposal ta’aruf (hal 266). Lalu ada Pak Farhan—orang yang sangat berjasa dalam hidup Athar, yang memintanya untuk menikahi putri satu-satunya—Salsabila.

Athar sungguh bingung bagaimana menjelaskan kalau sebenarnya dalam lubuk hatinya dia masih menyimpan nama Ara dalam setiap doanya. Meski dia sama sekali tidak tahu bagaimana kabar Ara. Bahkan bisa jadi Ara sudah menikah.  Hingga akhirnya sebuah kejadian membuat Athar membuat pilihan yang tidak terduga.

Sebuah novel yang menggugah. Banyak motivasi-motivasi positif yang bisa kita petik. Hanya saja, saya merasa ketika membaca novel ini, pemilihan sudut pandang orang pertama, tidak membuat tokoh hidup.  Ditambah lagi pemilihan gaya bahasa yang belum terlalu lentur.  Mungkin karena ini novel pertama, di mana sebelumnya penulis lebih banyak menulis buku motivasi, sehingga masih terbawa dalam menulis buku non-fiksi.

Namun lepas dari semua kekurangannya, novel ini memiliki sisi positif yang cukup banyak. Jadi sangat perlu dibaca bagi siapa saja yang ingin belajar cara mencintai apa pun yang dihadapi dengan ikhlas.

Srobyong, 16 Juli 2017 

Thursday, 22 February 2018

[Resensi] Potret Kisah Remaja dalam Memaknai Cinta dan Persahabatan

Dimuat di Koran Pantura, Rabu 14 Februari 2018


Judul               : Melted
Penulis             : Mayang Aeni
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : x + 278 halaman
ISBN               : 978-602-430-141-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara. 

Cinta tidak pernah habis untuk dijadikan cerita. Satu kata namun berjuta makna dan kisah-kisah yang termaktub di dalamnya. Maka tidak salah jika cinta selalu menjadi elemen menarik yang akan terus dibahas dengan berbagai persepsi. Selain cinta tema persabatan juga kental dibahas dan dijadikan bumbu manis dalam sebuah karya.. Begitu pula dalam novel ini.  Kita diajak menyelami kisah cinta khas remaja yang lucu, juga mendebarkan dengan perpaduan kisah persahabatan. Bagaimana para remaja menghadapi sebuah masalah ketika cinta dan persahabatan itu sendiri menjadi taruhannya.

Namun jangan khawatir meski tema yang diambil penulis ini terasa biasa dan umum dibahas, penulis memiliki keunggulan sendiri dalam pengemasannya. Di mana kisah dikemas dengan gaya bahasa yang renyah dan eksekusi yang apik. Kita pasti paham, bahwa setiap orang itu pasti memiliki keunikan sendiri. Dan setiap orang punya cara tersendiri dalam mengemas sebuah cerita.

Novel ini sendiri menceritakan tentang tiga tokoh sentral yang saling terkait. Ada Cherry yang sejak awal sudah jatuh cinta kepada Nico. Dia tidak peduli meski Nico selalu cuek dan tidak pernah peduli padanya. Cherry dengan tingkat percaya diri yang luar biasa besar, tetap keukuh mengejar cinta Nico.
Lalu ada Nico—cowok yang mendapat julukan Ice Prince. Nico digambarkan sebagai cowok yang tidak tersentuh. Dia selalu membatasi diri karena alasan tertentu. Hanya dengan Arif dan Dika—dua sahabatnya itu Nico mau membuka diri.

Tokoh ketiga adalah Mahardika—atau lebih sering disapa Dika. Dia adik kelas Nico tapi juga sahabat Nico.  Dan cowok yang terkenal playboy ini adalah teman sekelas Cherry.  Karena berada satu kelas, dengan sendirinya Dika dan Cherry pun menjadi dekat. Namun masalahnya, lambat laun Dika menyadari bahwa dia tidak ingin hanya menjadi sahabat bagi Cherry.  

Sedang Cherry tidak menyadari kalau Dika menyukai dirinya. Dia pikir Dika adalah teman yang menyenangkan. Karena itu tanpa sungkan dia sering bercerita tentang perjuanganya dalam merebut hati Nico.  Di sisi lain Nico diam-diam mulai terbiasa dengan keberadaan dan kebawelan Cherry. Apalagi sejak mereka menikmati liburan bersama di Singapura tanpa sengaja. Masalah semakin runyam ketika diam-diam Nico mengetahui kalau Dika ternyata menyukai Cherry.  Tanpa sengaja dia mendengar percakapan antara Dika dan Nico.

How can he’s being so selfish with people who event put aside his feeling for him? (hal 166). Bagaimana mungkin dia rela menukar persahabatan demi perasaanya yang masih belum jelas kepada cewek yang baru dikenalnya (hal 168). Itulah pertanyan-pertanyaan yang menggema di kepala Nico.  Nico tidak mau mengorbankan persahabatan demi cinta.

Begitupula dengan Dika. Dia tak mau merusak persahabatannya dengan Nico. Ditambah lagi Di juga tidak mau menyakiti Cherry. Namun keadaan berubah ketika Dika mengetahui sesuatu antara Nico dan Cherry hingga membuat Dika marah besar.


Sebuah novel remaja yang cukup memikat. Kita seolah dihadapkan pada permasalahan yang kerap terjadi di masa putih abu-abu. Yang mana kita memiliki sahabat kental, namun akhirnya malah jatuh cinta pada cewek yang sama. Inilah sebuah dilema yang harus dihadapi Nico dan Dika.  Di sisi lain cinta itu begitu manis dan baru mereka rasakan. Namun di sisi lain, persahabatan tidak kalah penting karena sudah dibina sejak lama.

Selain itu ada pula masalah keluarga yang tetap menjadi pengaruh bagaimana seorang anak bersikap. Sebagaimana Nico yang dibesarkan dalam keluarga berada namun minim kasih sayang. Hal itulah yang akhirnya membuat dia membatasi diri. berbeda dengan teman-temannya yang terlahir dalam keluarga penuh kehangatan hingga akhirnya bisa membawa diri.

Memang dalam novel ini masih ada beberapa kekurangan. Seperti masih tersisa beberapa salh tulis, hingga ada beberapa bagian yang terasa loncat-loncat dalam bercerita. Namun lepas dari  kekurangannya, novel ini asyik untuk dinikmati. Apalagi bagi pecinta novel romance remaja. Dan pastinya dengan membaca novel ini kita diingatkan tentang pengaruh orangtua dalam mendidik anak serta  arti penting sebuah persahabatan. “Believe me, our friendship isn’t as week as you think.” (hal 235).


Srobyong, 25 Agustus 2017