Showing posts with label Dwi Suwiknyo. Show all posts
Showing posts with label Dwi Suwiknyo. Show all posts

Monday, 24 December 2018

[Review Buku] Menaklukkan Masalah dan Kesedihan dengan Sikap Positif




Judul               : Hapus Sedihmu, Nikmati Hidupmu
Penulis             : Dwi Suwiknyo, dkk
Penerbit           : Noktah, Diva Press
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : 348 halaman
ISBN               : 978-602-51185-9-3

Setiap orang sudah pasti memiliki masalah. Karena masalah adalah bumbu dalam  kehidupan.  Kita tidak mungkin selalu dalam keadaan suka atau dalam keadaan sedih terus. Suka dan duka adalah pasangan yang saling mengiringi. Semua memiliki porsi masing-masing. Pepatah mengatakan, “Di balik kesedihan pasti ada kebahagian.”  Oleh karena itu, ketika kita mendapat masalah, hadapilah dengan  sikap positif dan pikiran terbuka. Karena dengan begitu, hati kita akan lebih lapang serta tegar.

Buku yang diambil dari kisah nyata para penulis ini, dengan paparan yang renyah dan lugas, mengajak kita untuk melihat sebuah masalah dari sisi pandang yang lain. Bahwa sebuah masalah bukanlah sesuatu yang harus kita takuti, hingga membuat kita selalu sedih. Namun sebaliknya, hadapi masalah dengan sikap positif, dan mengambil pelajaran untuk mendewasakan diri.

Sebut saja kisah yang dipaparkan Abi Ziya “Bayi, Ujian dan Keikhlasan”. Hal yang paling diharapkan dari sebuah pernikahan adalah kehadiran bayi. Begitu pula yang diharapkan Abi Ziya. Baginya menikah bukanlah akhir dari segalanya, tapi sebuah gerbang baru yang harus dia hadapi apa pun yang ada di dalamnya. Sebulan dua bulan, kabar tentang kehamilan istrinya belum juga dia dengar.

Namun pada bulan ke tiga, akhirnya kabar itu datang juga. Abi tentu saja sangat senang dan bersemangat dengan kabar tersebut. Dia bahkan sudah menyiapkan kamar mungil untuk bayinya nanti. Dia juga rutin membawa istrinya ke dokter kandungan untuk konsultasi kesehatan.  Semua awalnya terlihat baik-baik saja. Tapi suatu hari dokter memberitahukan, bahwa istrinya harus melakukan persalinan di rumah sakit. Dokter menjelaskan bahwa ada resiko kehamilan karena istrinya mengidap asma (hal 15).

Mendengar kabar itu Abi merasa sangat sedih. Dalam bayangan Abi, ketika istrinya harus melahirkan di rumah, nanti dia tidak akan mendapat pelayanan dengan cepat dan bahkan dibiarkan saja oleh para perawat yang terkenal ketus-ketus.  Mengingat banyak gosip negatif yang sering dia dengar. Namun yang lebih membuat Abi merasa sedih adalah ketika akhirnya bayi yang dia tunggu kelahirannya, lahir dalam keadaan yang memprihatikan dan harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Bahkan sempat terdengar persentase kehidupannya sangat sedikit.

Kalut dan sedih itulah yang dirasakan Abi. Namun dia sadar sedih terus menerus bukanlah cara penyelesaian yang baik. Dia harus tegar demi dirinya, anak dan istrinya. Berbagai cara pun dia lakukan,  demi kesehatannya anaknya. Hingga akhirnya usahanya berhasil, anaknya  bisa sembuh dan sehat.

Ada pula kisah yang dipaparkan Afiana Rohmani “ Peluh dan  Air Mata  di FK” cita-cita Afi adalah menjadi penulis dan masuk jurusan sastra atau bahasa.  Namun orangtuanya menyarankannya untuk menjadi seorang dokter. Akhirnya demi kebahagiaan orangtua, Afi memilih masuk kedokteran (hal 31-32).

Di sinilah berbagai masalah mulai menyapa Afi.  Dia menyadari dirinya bukanlah siswa yang sangat pintar. Oleh karena itu, Afi belajar mati-matian agar bisa mengikuti arus pendidikan kedokteran, yang umumnya memang didominasi anak-anak cerdas. Sayangnya hal itu tidak mudah. Afi sering tertinggal dan bahkan tidak bisa ikut praktikum, karena nilai  pre-test-nya jelek. 

Tidak hanya itu,  pada akhir semester dia harus menerima, bahwa nilainya sangat anjlok. Banyak mata kuliahnya yang mendapat nilai D bahkan E. Padahal dia sudah belajar dengan maksimal. Berbagai masalah yang sering hadir saat kuliah, kadang membuat Afi ingin berhenti. Namun mengingat harapan sang ibu, akhirnya Afi bertahan meski harus terseok-seok hingga berhasil lulus dan dia tetap bisa menekuni hobinya menulis.

Selain dua kisah tersebut, masih ada 13 kisah yang tidak kalah menarik dan menginspirasi.  Seperti kisah Menjemput Rezeki di Pulau Seberang, Ketika Salah Jadi Sumber Tawa,  Balada Perawan Tua dan banyak lagi. Masing-masing cerita memiliki keunikan tersendiri. Meski ada beberapa kesalahan, kisah ini tetap menarik dibaca.

Membaca buku ini, kita diingatkan tentang pentingnya rasa syukur, sabar dan ikhlas ketika mendapat masalah. Kita tidak boleh putus asa dan selalu berpikir positif saat menghadapi masalah. Selain itu melalui kisah ini kita diingatkan tentang pentingnya iman yang ternyata bisa menjadi benteng bagi diri kita. “Benteng Kejiwaaan  yang sesungguhnya  adalah iman. Keimanan kepada Allah  Yang Maha Memiliki.” (hal 51).

Srobyong, 18 Mei 2018

Wednesday, 17 October 2018

[Resensi] Kekuatan Berpikir Positif dan Tidak Mudah Menyerah

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 16 September 2018


Judul               : Jangan Mudah Mengeluh
Penulis             : Dwi Suwiknyo, dkk
Penerbit           : Quanta
Cetakan           : Pertama, Desember 2017
Tebal               : 260 halaman
ISBN               : 978-602-04-5363-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Univeritas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Teruslah melangkah meski terasa lelah. Teruslah berjuang meski cobaan kian menerjang. Karena kemenangan hanya milik mereka yang tak kenal putus asa.” (hal 7).

Sekali dua kali kita mengeluh mungkin tidak masalah. Mengingat hidup kadang tidak berjalan sesuai dengan rencana kita. Namun yang menjadi masalah adalah ketika kita mengeluh setiap hari, bahkan setiap jam atau setiap menit. Bukankah itu namanya keterlaluan? Padahal masih banyak nikmat dan rahmat yang telah Allah bagikan kepada kita.  Yang penting kita mau berusaha dan ikhtiar.

Buku yang diambil dari kisah nyata—berasal dari sayembara menulis kisah inspriratif yang digalakkan oleh Dwi Suwinyo—akan mengingatkan kepada kita tentang pentingnya bersikap positif dan tidak mudah menyerah. Kita disadarkan bahwa sering mengeluh itu tidak akan menyelesaikan masalah. Mengeluh hanya akan membuat kita lemah dan mudah terjangkit sikap putus asa. Sebaliknya jika kita selalu berpikir positif, maka kita akan menjadi pribadi yang kuat dan terus berusaha sekuat tenaga menyelesaikan masalah atau rintangan yang menghalangi jalan kita.

Terdiri dari 20 kisah yang menarik, inspiratif dan memotivasi, kita akan dibuat hanyut dengan masing-masing kisah. Apalagi dalam setiap kisah diceritakan dengan gaya masing-masing penulis. Sehingga akan ada ciri khas tersendiri yang dan membuat kita tidak mudah bosan saat membaca buku ini. Ditambah lagi dari setiap kisah akan ada uraian menarik tentang berbagai permasalahan hidup. Meski memang dari setiap tulisan masih ada beberapa kekurangannya, tetap saja buku ini patut untuk kita baca dan renungkan. Karena banyak pembelajaran yang pastinya bisa kita dapat.

Misalnya kisah berjudul “Yang Penting Yakin”. Di mana dari kisah ini kita disadarkan bahwa pertolongan Allah itu nyata. Allah itu tidak pernah tidur. Ketika melihat hamba-Nya yang kesusahan, Allah akan membuka pintu rahmat-Nya. Tentu saja hal itu berlaku bagi orang-orang yang percaya dengan  kuasa Allah. Yang tidak mudah mengeluh, dan selalu yakin bahwa Allah selalu bersama kita. 

Siapa sih yang tidak bingung ketika uang tengah menipis, sedang berbagai kebutuhan tengah menanti? Rasanya kita pasti ingin mengeluh dan menangis. Di sini-lah tantangan  penulis yang  harus benar-benar pandai dalam memilih kebutuhan apa yang akan dia pilih. Bagaimana dia menyakipi keadaan tersebut (hal 2).

Ada pula kisah berjudul “Allah Maharomantis” yang mana dalam cerita ini penulis menjabarkan tentang suka duka dalam meraih impian. Bahwa seyogyanya, setiap manusia pasti memiliki target dalam hidupnya. Meski dalam meraih terget impian itu tidak akan mudah. Akan selalu ada kerikil yang menjadi batu sandungan di setiap kesempatan. Ada jatuh bangun yang harus dihadapi. Pada titik ini, kita akan dihadapkan pada pilihan untuk mengeluh dan menyerah jika terasa berat, atau memilih terus melangkah dengan segala suka duka yang ada.

Bisa menyelesaikan tugas akhir (skripsi) tepat waktu merupakan impian terbesar bagi beberapa mahasiswa.  Hanya saja untuk meraihnya tentu bukan perkara mudah. Perlu usaha yang keras, semangat tinggi  dan tidak mudah menyerah. Di mana kita harus berhadapan dengan dosen pembimbing yang kadang rewel, lalu beburu tanda tangan penguji yang sulit sekali ditemui. Hal inilah yang dirasakan penulis dalam usahanya meraih gelar sarjananya.  Membaca kisah ini seperti membuka lembaran saya sendiri, ketika mengejar kelulusan.  Saat itu, kesabaran kita benar-benar diuji.

Delapan belas kisah lainnya pun tidak kalah menarik dan bikin kita terhanyut. Seperti kisah berjudul “Bapak Hendak Membakar Rumah” ini kisah yang menurut saya sangat menggetarkan hati. Saya yakin, pihak-pihak yang terlibat dalam kisah ini memiliki stok kesabaran yang luar biasa.

“Hidup itu selalu tentang keseimbangan antara nyaman atau tidak nyaman. Keduanya bukan pilihan, tapi keharusan. Pemisahnya adalah kesabaran yang mestinya selalu dikuatkan. Sabar ketika di atas agar tidak jumawa dan sabar saat di bawah agar tidak putus asa.” (hal 31).

Membaca buku ini secara keseluruhan, kita dapat menyimpulkan bahwa sebagai manusia kita memang harus selalu berusaha sebaik mungkin. Kita harus berusaha, namun tidak lupa kita berdoa dan tawakal. Karena sudah pasti rencana Allah adalah yang terbaik dari rencana siapa pun di muka bumi ini.

Srobyong, 18 Agustus 2018

Monday, 6 August 2018

[Resensi] Manfaat Gemar Menolong Orang Lain

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 22 Juli 2018


Judul               : Tolonglah Orang Lain, Maka Allah Akan Menolongmu
Penulis             : Dwi Suwiknyo, dkk
Penerbit           : Noktah, Diva Press
 Cetakan          : Pertama,  April 2018
Tebal               : 324 halaman
ISBN               : 978-602-5781-00-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Allah menganjurkan kita selalu gemar membantu dan menolong orang lain. Mungkin kita bertanya-tanya, kenapa kita harus  membantu atau menolong orang lain? Apa manfaat yang akan kita dapat dari sikap tersebut? Buku ini dengan bahasa yang mudah dicerna dan tidak terkesan menggurui, akan mengajak kita memahami tentang pentingnya menolong dan atau membantu orang lain. Bahwa Allah sudah berjanji bahwa perbuatan baik akan dibalas kebaikan pula. Artinya ketika kita mau menolong orang lain, maka Allah pun tidak segan untuk menolong kita. Hal ini sesuai dengan firman Allah pada surat Ar-Rahman ayat 60.  Tapi tetap perlu kita catat, dalam berbuat baik atau membantu dan menolong orang lain,  kita harus melakukannya dengan ikhlas karena Allah.

Imam Muslim juga menjaskan, bahwa siapa saja yang melapangkan satu kesusahan di dunia, Allah akan melapangkan dari salah satu kesusahan di akhirat. Dan barang siapa meringankan penderitaan seseorang, Allah akan meringankan penderitaaannya di dunia dan akhirat.Allah akan menolong seorang hamba yang mau menolong saudaranya (hal 75). Dan Allah pun sudah menjelaskan bahwa sedikit bantuan, ternyata bisa melipatgandakan pahala yang kita dapat. Maka tidakkan kita ingin rahmat dan berkah dari Allah dengan sikap gemar menolong?

Buku ini sendiri merupakan kisah nyata dari orang-orang yang sudah mempraktikkan tentang keutamaan membantu dan menolong orang lain. Mereka menanam kebaikan yang tidak kentara, namun di balas Allah dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Misalnya saja kisah yang dituturkan Annisa Pratiwi “Balasan Indah Pada Waktunya” kisah ini menceritakan tentang Annisa yang  kadang suka membantu Nenek Ipon, meski hanya bantuan yang sangat sederhana.  Dia kerap memberikan sedikit rezeki pada Nenek Ipon dengan memberi makan atau memberi lauk pauk. Ketika Nenek Ipon  terkena stroke, Annisa kerap mengunjungi dan memberikan sedikit uang untuk membeli obat (hal 34).  Sungguh kala itu Annisa sama sekali tidak mengharap imbalan dari kebaikannya itu.

Suatu hari Annisa mengalami masalah cukup pelik dengan keuangannya. Dia sungguh binggung bagaimana untuk mengatasinya. Namun siapa sangka, Allah memudah jalannya, lewat sahabatnya.  Seketika itu Annisa teringat dengan apa yang diucapkan Nenek Ipon, “Ibu mendoakan,  mudah-mudahan Allah  selalu menolong kamu saat kamu kesusahan, selalu ada saja yang menolong.” (hal 40).

Ada pula kisah yang dialami Isti Syarifah berjudul “Perempuan dari Masa Lalu  dan Receipt Kosong” Kala itu Isti yang tengah bekerja TKW Hongkong. Di sana dia bertemu teman-teman seperjuangan dan sepenanggungan. Hal itulah yang membuat Isti tidak bisa menolak, ketika dua temannya dalam waktu yang berbeda, minta tolong untuk diberi pinjaman uang.  Isti ikhlas dan percaya, bahwa dua sahabatanya tidak akan pernah lari dari tanggung jawab (hal 55).

Namun dugaan Isti salah. Ketika waktu jatuh tempo pengemabalian uang, kedua sahabatnya tidak pernah muncul. Sedang saat itu, Isti sendiri sedang butuh uang untuk pengobatan kakeknya. Marah dan kecewa pun sempat menerpa Isti. Akan tetapi janji Allah itu pasti, tiba-tiba salah satu temannya yang pernah menghilang dan tidak berkabar, mendadak muncul, mengembalikan uang yang pernah dipinjam dari Isti (hal 73).
\
Selain dua  kisah tersebut masih ada 13 kisah lainnya yang tidak kalah menarik dan sangat inspiratif.  Di sini kita disadarkan bahwa, kebaikan meski hanya berupa hal kecil, pasti dicatat oleh  Allah. Dan  kadang,  meski bukan dari orangnya langsung yang membelas, Allah memiliki cara untuk membalas kebaikan itu. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, dijelaskan, “Sesungguhnya Allah  akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya.” (hal 96).

Srobyong, 25 Mei 2018 

Saturday, 28 April 2018

[Resensi] Agar Terbebas dari Praktik Riba

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu 22 April 2018


Judul               : Hidup Tenang Tanpa Riba
Penulis             : Dwi Suwiknyo dkk
Penerbit           : Diva Press
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : 252 halaman
ISBN               : 978-602-391-524-8
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Riba adalah penetapan bunga atau menambah jumlah uang pinjamaan saat pengembalian, berdasarkan presentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok. Dalam Islam riba sangat dilarang keras. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 130.  “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertawakalah kamu kepada Allah supa kamu mendapat keberuntungan.”

Dijelaskan pula bahwa Allah melaknat siapa saja yang berhubungan dengan riba—baik bagi orang yang meminjam atau orang yang dipinjami. Itulah kenapa sebelum kita terjebak pada praktik riba, maka kita harus mulai membentengi diri.  Buku ini dengan paparan yang lugas, menarik dan inspiratif mengajak kita untuk belajar dari pengalaman para penulis tentang bahaya riba, agar kita bisa mengambil ibrah dari sana.

Memang benar, setiap orang sudah pasti ingin menikmati hidup yang nyaman dan kecukupan. Namun perlu kita ingat, jangan sampai hanya karena ingin hidup enak, kita sampai menghalalkan berbagai cara, termasuk dengan melakukan praktik riba bahkan memakan harta riba.  Awalnya tentu saja nikmat, namun berjalannya waktu, kita pasti sadar bahwa hidup sederhana tanpa riba itu jauh lebih menenangkan dibanding kaya raya dengan utang riba di mana-mana (hal 10).

Sebagaimana kisah yang dipaparkan Annisa Pratiwi.  Sebelumnya hidupnya baik-baik saja. Meski pasca pernikahan  Annisa dan suaminya, mereka masih menumpang  di rumah mertua. Sampai suatu hari mereka dihadapkan pada dilema tentang harapan memiliki sebuah rumah sendiri. Di sinilah semua masalah berakar. Ambisi memiliki rumah sendiri inilah yang membuat Annisa dan suaminya nekat mengambil pinjaman di bank. Awalnya mereka bisa membayar cicilan setiap bulan dengan lancar. Namur berjalannya waktu, mereka mulai kesulitan dalam membayar cicilan.  Apalagi  jumlah cicilan terus merambat naik setiap tahunnya, mengikuti suku bunga yang juga naik setiap tahun.

Pada titik ini mereka menyadari bahwa jalan yang selama mereka lakukan adalah salah. Namun nasi sudah menjadi bubur. Mereka sudah terlanjut terjebak pada praktik riba. Lalu bagaimana mereka menghadapi masalah tersebut? Berhasilkah mereka menyelesaikan masalah dan lepas dari pusaran riba?

Selain kisah tersebut, masih banyak kisah lain yang tidak kalah menginspirasi. Seperti Hidup Berkah Tanpa Riba, Insaf dari Riba, Selagi Masih ada Napas dan banyak lagi. Dari kisah-kisah ini dapat kita saya simpulkan, bahwa agar kita terbebas dari praktik riba, maka kita harus menjauhi melakukan utang piutang  yang mengandung riba dalam bentuk apa pun. Kemudian dari diri sendiri, kita harus memiliki niat kuat untuk menghindari riba.  Buku ini sangat patut kita baca sebagai bahan renungan. Beberapa kekurangan yang ada tidak mengurangi esensi buku.

Srobyong, 9 Maret 2018 

Thursday, 22 March 2018

[Resensi] Bahaya Pusaran Riba dan Cara Menjauhinya

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 18 Maret 2018 



Judul               : Hidup Tenang Tanpa Riba
Penulis             : Dwi Suwiknyo dkk
Penerbit           : Diva Press
Cetakan           : Pertama, Maret 2018
Tebal               : 252 halaman
ISBN               : 978-602-391-524-8
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transasi riba, sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (hal 21).

Membahas tentang masalah riba sebenarnya tidak akan ada habisnya. Karena saat ini memang semakin banyak praktik riba baik yang kecil atau yang besar. Dimulai dari pembelian dengan cara kredit hingga pinjaman besar di bank. Yang menjadi masalahnya, kebiasaan riba ini seperti dilegalkan dan dianggap boleh. Padahal dalam Islam praktik riba ini sangat dilarang. Karena riba lebih banyak madaratnya daripada  kemaslahatannya.

Sering kita mendengar kajian bahwa siapa saja yang melakukan praktik riba, maka mereka akan dilaknat oleh Allah. Baik itu orang yang melakukan atau memberi kesempatan riba. Bahkan dari apa yang pernah saya dengar, telah  dijelaskan bahwa memakan harta riba bisa membuat hati kita keras dan tidak mudah dinasihati.  Padahal semua orang pasti tidak ingin hati mereka tertutup dari cahaya Allah.

Riba sendiri itu berhubungan dengan penetapan bunga atau  penambahan jumlah uang pinjamaan saat pengembalian, berdasarkan presentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok. Misalnya saja ketika kita berhutang satu juta, kita harus mengembalikan sebanyak dua juta dengan melakukan cicilan dua puluh ribu sebanyak sepuluh kali.   Oleh karena itu sejak dini kita harus menghindari riba. Kita harus memantapkan niat agar tidak sampai terjerat pada pusaran riba. Karena riba itu selain bahaya di dunia juga bahaya di akhirat. Melalui buku ini kita akan dikenalkan dengan berbagai bahaya riba dan cara agar kita bisa menjauhi riba sedini mungkin.

Buku ini sendiri terdiri dari 15 kisah inspiratif dalam upaya melepaskan diri dari jerat riba. Semua dipaparkan dengan bahasa yang lugas, renyah dan menarik, membuat kita tidak bosan saat membaca. Sebaliknya kita malah akan terhanyut dalam kisah, membuat kita akan berpikir ulang jika kita harus berhadapan dengan riba.

Misalnya saja kisah Nur Ahwat “Melepas Jerat Benang Hitam”.  Bermula dari keinginan ingin memiliki motor, Nur dan suaminya nekat mengambil kredit motor. Namun berjalanya waktu mereka menyadari motor saja tidak akan cukup jika satu keluarga harus pergi bersama. akhirnya mereka membeli mobil. Pada awalnya semua terlihat berjalan lancar. Namun lambat laun, mereka mulai menyadari betapa beratnya membayar dua cicilan—motor dan mobil. Hidup mereka yang awalnya  damai dan nyaman berubah menjadi  penuh kebingungan dan kekhawatiran.

“Berhati-hatilah kamu dalam berutang, sesungguhnya utang itu mendatangkan kerisauan pada malam hari dan menyebabkan kehinaan pada siang hari.” (hal 9).

Pada titik itu, penulis akhirnya menyadari mungkin kehidupannya berubah gersang karena dia sudah terjebak dengan pusaran praktik riba. Menyadari hal itu penulis pun dengan berbagai upaya mulai memperbaiki diri agar tidak terus terjerat riba.


Ada pula kisah Oky E. Noovasari “Insaf dari Riba, Selagi Masih Ada Napas” semua dimulai dari  kebiasaan penulis yang tidak bisa mengendalikan diri dalam menggunakan uang dan kartu kredit yang dimiliki. Jika ada diskon atau barang-barang yang disukai—meski bukan prioritas langsung dibeli. Keadaan itu pun terus berlanjut, hingga akhirnya berbagai tagihan mulai menghantui penulis.  Kerjadian itu pun menyadarkan penulis untuk mulai menata diri dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Selain dua kisah tersebut, masih banyak kisah lain yang tidak kalah menarik dan menginspirasi. Secara keseluruhan buku ini sangat patut dibaca untuk dijadikan pembelajaran. Dapat kita simpulkan riba yang awalnya terlihat menyenangkan itu pada akhirnya akan membuat kita kebingungan. Kita dibuat bingung bagaimana membayar cicilan yang bunganya selangit.  Riba juga membuat tidur kita tidak nyenyak karena terus dihantui rasa bersalah pada diri sendiri juga kepada Allah.  Karena riba juga hati kita jadi tidak tenang dan selalu dirundung ketakutan.

Oleh karena itu kita harus menjauhi riba. Dimulai dengan menghindari utang, tidak membeli  barang apa pun secara kredit hingga melakukan pinjaman di bank. Lebih baik kita menabung untuk digunakan sewaktu-waktu, daripada melakukan riba, namun berakhir derita di kemudian hari.  Sebuah buku yang menarik dan menginspirasi. Banyak pelajaran yang bisa kita teladani dari kisah-kisah yang termatub di buku ini.

Srobyong, 9 Maret 2018 

Tuesday, 6 March 2018

[Resensi] Selalu Bersyukur Agar Hidup Bahagia

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 25 Februari 2018


Judul               : Jalani, Nikmati, Syukuri
Penulis             : Dwi Suwiknyo
Penerbit           : Noktah (Diva Press Group)
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 260 halaman
ISBN               : 978-602-50754-5-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Bahagia itu tidak tergantung dari sosial tinggi, uang berlimpah atau pekerjaan yang bergengsi. Melainkan bahagia itu dilihat bagaimana kita menjalani, menikmati dan mensyukuri hidup yang kita miliki. Buku ini dengan pemaparan yang lugas dan tidak menggurui memuat 52 hal yang mengajak kita untuk memahami konsep bahagia, lewat sudut pandang yang berbeda.

Untuk mencapai kebahagiaan kita harus memiliki keyakinan yang kuat. Yakin bahwa Allah selalu bersama kita, sehingga kita tidak perlu khawatir apalagi menggugat kehendak-Nya. Yakin bahwa setiap cobaan yang Allah berikan pasti akan ada hikmahnya. Meski  cobaan itu kadang datang bertubi-tubi, kita harus tetap menjalaninya dengan sabar dan mensyukurinya.

Kita harus belajar menerima berbagai keadaan yang mungkin tidak sesuai dengan harapan. Sabar dan ikhlaskan. Ada kalanya apa yang baik menurut kita belum tentu baik di mata Allah. Dan apa yang buruk bagi kita ternyata baik di mata Allah. Di sinilah kita belajar menerima. Manusia bisa berencana dan berusaha, namun Allah-lah yang paling berkuasa untuk mewujudkan atau tidak. Maka perlu kesabaran bagi kita jika apa yang kita harapkan belum terwujud.

Kita juga harus belajar merelakan. Dalam artian, ketika apa yang kita sukai tidak menjadi rezeki kita, maka sudah sepantasnya kita merelakan. Kita harus yakin, Allah akan memberi ganti yang lebih baik dan yang tidak pernah kita duga. “Apa-apa yang bukan hak kita akan kembali kepada kita. Dan apa-apa yang bukan hak kita, dikejar-kejar sampai kapan pun, tidak akan pernah kita dapatkan.” (hal 38).

Perlu kita ketahui, kaya itu belum tentu enak.  Uang berlimpah belum tentu membuat kita tidur nyeyak. Karena kita akan dihantui ketakutan akan adanya para pencuri yang mungkin mengincar uang kita. Sebaliknya menjadi orang yang sederhana dan tidak punya, belum tentu sengsara. Bisa jadi kekurangan itu malah membuat mereka lebih banyak bersyukur dan hidup tenang.

Inilah kenapa agar kita merasa bahagia, kita perlu membiasakan berpikir positif. Karena pikiran positif akan memberi energi positif juga. “Apa yang kita kerjakan sangat dipengaruhi oleh apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita pikirkan sangat dipengaruhi oleh kata-kata yang tersimpan (tertanam) di dalam pikiran.” (hal 101).

Selanjutnya agar hidup lebih bahagia, jangan sampai kita diperbudak kebencian apalagi sampai menjadi iri, dengki bahkan dendam. Karena sifat-sifat tersebut hanya akan membuat kita menjadi orang yang mudah resah, memikirkan bagaimana cara kita menyaingi atau menjatuhkan orang lain demi kepuasan batin kita.

Kita harus berdamai dengan diri sendiri. Karena hal itu akan membuat kita lebih memahami apa yang kita butuhkan dan apa yang perlu kita tinggalkan. Di sini kunci yang harus kita pegang teguh adalah kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani semua yang sudah ditakdirkan Allah. Sabar dan ikhlas akan membuat kita lebih bisa mengontrol diri dan tidak mudah terpancing kemarahan.

Yang tidak kalah penting selalu bersyukur dalam keadaan apa pun. Saat mendapat nikmat bahkan saat mendapat cobaan. Karena dengan bersyukur hati kita akan lebih lapang dan tenang. Dengan bersyukur kita akan lebih menghargai apa yang  kita miliki. Setelah bersyukur kita harus bertahan dalam segala situasi. Baik itu dalam masalah jodoh, rezeki, karir, kesehatan, bisnis atau keluarga.  Orang yang mau bersyukur ketika mendapat ujian dan menerimnya dengan ikhlas, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Buku ini sangat memotivasi, menunjukkan bahwa bahagia bukan hanya karena uang berlimpah atau jabatan tinggi. Namun rasa syukur, sabar dan ikhlas yang menunjukkan kualitas diri. Kita memang tidak bisa memilih bagaimana cara kita memulai hidup ini, tetapi kita masih diberi kesempatan untuk memikirkan bagaimana cara kita menikmati hidup ini, dan bagaimana cara kita menyikapi hasilnya (hal 10).

Srobyong, 28 Januari 2018 

Monday, 22 January 2018

[Resensi] Hidup Bahagia dengan Menjalani, Menikmati dan Mensyukuri


[sumber gambar pixiz] 

Judul               : Jalani, Nikmati, Syukuri       
Penulis             : Dwi Suwiknyo
Penerbit           : Noktah (Diva Press Group)
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 260 halaman
ISBN               : 978-602-50754-5-2

“Kita memang tidak bisa memilih bagaimana cara kita memulai hidup ini, tetapi kita masih diberi kesempatan untuk memikirkan bagaimana cara kita menikmati hidup ini, dan bagaimana cara kita menyikapi hasilnya.” (hal 10)

Setiap orang sudah pasti ingin menjalani hidup bahagia. Bohong besar jika ada orang yang ingin hidup dalam kesusahan apalagi penderitaan. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana agar kita bisa hidup bahagia? Apakah harus dengan memiliki harta berlimpah ruah,  memiliki rumah besar, mobil dan berbagai fasilitas mewah lainnya?  Atau ... adakah cara lain agar kita bisa bahagia?

Maka tepat sekali jika kita membaca buku karya Mas Dwi ini.  Dengan bahasa yang lugas, menarik, gamblang dan apa adanya Mas Dwi mencoba mengupas tuntas tentang bagaimana kita bisa menjalani hidup bahagia yang sesungguhnya.  Di mana fokus pembahasan adalah  tiga kata yang sesuai dengan judul buku ini “Jalani, nikmati dan syukuri”. Jangan sepelekan tiga kata tersebut. Karena di balik tiga kata itu, tersimpan kekuatan besar yang tidak pernah kita kira.  Dari analisis saya setelah membaca keseluruhan, saya menyimpulkan :

Jalani berarti kita berani menerima setiap tantangan hidup yang ada di depan kita—baik suka atau duka—karena keduanya memang satu paket yang tidak mungkin terpisah.  Entah hidup miskin atau kaya, semua tetap dijalani dengan baik.

Nikmati berarti kita menerima ketentuan Allah dengan sabar dan ikhlas. Jika kita ikhlas pasti apa yang terjadi dalam kehidupan kita, insya Allah akan lebih ringan. Meski kita dalam kesulitan. Kita akan selalu yakin di balik cobaan Allah selalu ada berkah.

Syukuri berarti kita harus mensyukuri apa pun keadaan kita. Jika ada cobaan kita harus tetap mensyukuri, mungkin itu jalan Allah dalam mengingatkan dan meninggikan derajat kita. Jika kita mendapat kelimpahan rezeki, syukuri dan tidak lupa saling berbagi sebagai wujud terima kasih kepada Allah. 

Inilah kunci kebahagiaan yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.   Bahwa kebahagiaan tidak hanya diukur dari uang atau barang mewah. Lihat saja kenyataan saat ini, orang yang semakin kaya bukannya hidup tenang, mereka malah takut kehilangan harta yang telah dikumpulkan. Berbeda dengan orang miskin yang hidup sederhana namun nampak bahagia karena selalu menerima dan mensyukuri nikmat yang ada. Jadi, bahagia yang ingin disampaikan penulis adalah tentang sikap menerima dan mensyukuri semua nikmat Allah.  Itulah bahagia yang sebenarnya.

Buku ini sendiri terdiri 50 (belum prolog dan epilog) pembahasan yang pastinya akan membuat kita menyadari tentang pentingnya tiga kata—yaitu jalani, nikmati dan syukuri—yang nantinya akan menuntun kita pada hidup bahagia.

Secara keseluruhan buku ini  sangat menginspirasi dan memotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Setiap kali membaca saya jadi berkaca pada diri sendiri. Sudahkah saya menjalani hidup ini dengan baik dan bahagia? Sudahkan saya menikmati dan mensyukuri semua yang dititipkan Allah? Belum lagi quote-quote dan kutipan hadis atau Al-Quran sedikit banyak membuka ruang memori saya tentang berbagai kejadian hidup yang sempat saya alami. Juga menjadi alarm pengingat untuk muhasabah diri.

“Jangan sampai semua kesibukan kita justru mengeraskan hati, mengeruhkan pikiran, dan harus diwaspadai bila sampai melemahkan iman.” (hal 11)

Kata-kata ini saya temukan di akhir kalimat prolog buku. Dan jujur saya sedikit tersentak karena mengingatkan saya tentang kebiasaan saya yang kadang terlalu fokus dan terforsir akan  pekerjaan. Bahkan ketika saya sudah sangat lelah dan sakit, saya masih berusaha menyelesaikan apa yang sudah saya mulai.  

Tapi membaca sebuah kisah nyata yang dipaparkan penulis, seketika saya menyadari, mungkin ada yang salah dalam pola pikir saya. Maka selesai mengkhatamkan buku ini, saya mulai mencoba membagi waktu antara pekerjaan, juga kegiatan lain yang menyenangkan.

Jangan sampai karena terlalu fokus akan pekerjaan, malah membuat saya lupa diri, bahkan tak memikirkan kesehatan yang sejatinya tidak kalah penting. Karena nikmat sehat adalah lebih berharga dari segala nikmat.

“Jika kita yakin Allah akan mengurus semua urusan kita, tidak akan ada rasa khawatir apalagi menggugat kehendak-Nya.” (hal 18)

Sebagai hamba, kita harus yakin bahwa adalah sebaik-baik pemelihara kita. Hanya Allah yang pantas kita sembah dan tempat kita bersandar dalam segala keadaan kita harus yakin Allah selalu mendengar doa hamba-hamba-Nya.

Quote ini mengingatkan saya pada kejadian di masa lalu, tentang keinginan saya yang sangat ingin melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Namun sayang beberapa tes beasiswa yang saya ikuti belum berhasil saya raih.

Sedih tentu saja, tapi daripada mendekam dengan rasa sedih berkepanjangan, saya memilih segera move on  dengan kegiatan lain. Tidak lupa dalam sujud malam, saya selalu menyelipkan doa kepada Allah. karena saya selalu yakin Allah itu Maha Mendengar dan tahu apa yang terbaik untuk saya. “Berdoalah  kepadanya, pasti Aku kabulkan untuk kalian.” (hal 23)

Hingga akhirnya di penghujung tahun 2010 Allah memberikan kesempatan saya untuk menuntut ilmu  dengan cara yang tidak terduga.

“Keberuntungan hadir setelah kita membersihkan diri, yakni dengan berlapang dada (mau menerima) dengan sabar atas apa pun yang dikehendaki Allah.” (hal 36)

Quote ini semakin membuat saya yakin, bahwa Allah selalu memiliki skenario yang indah bagi setiap hamba-Nya. Mungkin pada awalnya kita harus jatuh lebih dulu sebelum kebaikan diberikan kepada kita. Saya pikir inilah cara Allah menempa kita menjadi pribadi kuat, yang tidak mudah putus asa dan selalu berjuang.

“Apa-apa yang menjadi hak kita akan kembali kepada kita. Dan apa-apa yang bukan hak kita, dikejar-kejar sampai kapan pun, tidak akan pernah kita dapatkan.” (hal 38)

Allah selalu memiliki skenario terbaik. Menempatkan sesuatu sesuai kebutuhan dan kondisi. Jadi jika harapan yang kita bangun tidak sesuai, maka kita harus sabar dan bersyukur. Karena selalu ada nilai kebaikan di balik pilihan Allah.

Pernah suatu hari, naskah saya dimuat di salah satu media di Indonesia. Konon katanya honor tulisan akan diberikan satu minggu setelah pemuatan. Itulah yang saya ketahui dari info teman-teman sesama penulis. Namun setelah satu bulan lebih, ternyata honor saya tidak cair juga. Penasaran dan kadang sebal juga, kenapa kok media yang terkenal selalu rapi dalam pencairan honor, pas giliran saya malah seret?

Saat itu saya bingung harus konfirmasi ke mana untuk menyakan masalah honor. Akhirnya daripada  dikuasai amarah, saya memilih ikhlas dan pasrah kepada Allah. Berpikir barangkali honor itu belum rezeki saya.  Mungkin akan ada gantinya yang lain yang lebih baik. Kalau memang masih rezeki pasti akan kembali.

Tapi di suatu hari setelah beberapa bulan berlalu, dari salah satu grup kepenulisan, tanpa sengaja saya menemukan sebuah kontak  bagian honorarium  media tersebut. Maka dengan niat mencoba-coba saja, saya memberanikan diri bertanya soal horor saya yang belum cair.  Siapa sangka jawabannya sungguh melegakan dan tidak lama kemudian honor pun cair. Wah ... ternyata masih rezeki.

Ada pula kisah lain. Masih berhubungan dengan masalah honor. Kali ini bukan dengan media koran, tapi dengan salah satu penerbit yang memang kerap memberi honor jika bukunya diresensi di media tertentu.  Di mana honor akan diberikan di awal bulan. Tapi setelah menunggu beberapa bulan tidak cair, saya pun mencoba bertanya secara baik-baik. Dan alhamdulillah ada respon baik juga. Namun sayangnya sampai saat ini honor tersebut tidak pernah cair.  Maka saya menyimpulkan honor tersebut belum rezeki saya. Ya, sudah ikhlaskan saja.

Pengalaman serta quote ini membuat saya terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih ikhlas dan menerima. Karena dengan menerima hati jadi lebih tenang.

“Jangan khawatir  bila hasilnya tidak seperti  yang kita ikhtiarkan. Sebab  hadiah dari Allah tak selalu terbungkus  dengan indah. Kadang Allah membungkusnya dengan masalah demi masalah, tetapi di dalamnya selalu ada berkah. Insya Allah.” (hal 45)

Saya selalu yakin Allah adalah sebaik-sebaik tempat bersandar. Allah paling tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Sebagaimana yang pernah saya alami, ketika awal-awal saya mulai mencoba mengirim naskah ke penerbit mayor.

Saat itu ada sebuah pencarian naskah di salah satu penerbit besar di Indonesia. Dengan modal nekat, saya pun mencoba menulis dan mengirimkan naskah tersebut. Tapi sayang, naskah itu belum sesuai dengan selera redaksi. Konon katanya tema yang saya garap sudah terlalu banyak di pasaran.  Meski sempat sedih, akhirnya saya memilih mencoba mengirim ke penerbit lain yang saya lihat sesuai dengan genre buku yang saya tulis.

Tapi lagi-lagi Allah belum memudahkan jalan saya. Naskah itu kembali ditolak.  Sakit sih, karena terus ditolak. Hanya saja saya tidak  mau cepat menyerah. Saya tetap memperbaiki dan berdoa pada Allah. Hingga di tahun berikutnya, akhirnya naskah itu berhasil terbit di salah satu penerbit besar di Indonesia.

Inilah pengalaman saya yang semakin membuat yakin dengan campur tangan Allah yang akan selalu indah pada waktunya. Mengajarkan pada saya untuk terus berusaha tidak kenal lelah.  Meski jatuh kita harus bangkit lagi. Karena kesuskesan tidak bisa diraih secara instan. Butuh usaha, doa dan keuletan.

“Mulailah mengubah persepsi kita. Apa-apa yang kita yakini, seketika bisa membuat hidup kita berubah. Ketika kita meyakini bahwa situasi dan kondisi hidup kita hanya begini-begini saja, maka masa depan pun terasa suram. Sebalinya, coba simpan keyakinan yang positif agar hidup kita berubah menjadi lebih optimis.” (hal 51)

Saya sangat suka dengan quote ini. Karena dalam kalimat itu, kita diingatkan untuk selalu berpikir positif terhadap apa yang terjadi pada kehidupan kita.  Karena sugesti pikiran kita sesungguhnya memiliki pengaruh dalam hidup yang kita jalani.  Oleh karena itu sebisa mungkin saya selalu menerapkan sifat positif thinking. Dengan begitu saya akan lebih mudah bangkit kembali ketika jatuh.
Pernah saya mengalami kegagalan yang berturut-turut terjadi. Mimpi melanjutkan sekolah gagal,  kemudian ujian mendapat syahadah juga gagal. Saat itu adalah masa yang bagi saya sangat suram. Saya sempat marah pada Allah. Kenapa saya harus mengalami nasib seperti itu?

Namun kemudian saya sadari, marah tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Saya harus bangkit dan memulai dari awal. Saya harus yakin bahwa apa yang terjadi ini pasti memiliki hikmah yang lebih baik dari apa yang saya kira.  Beberapa tahun setelah itu,  saya akhirnya benar-benar tahu Allah sudah menunjukkan jalan terbaik bagi saya.

Buku ini seperti mengajak kita untuk kembali bernostalgia juga berpikir ke depan untuk memulai lembaran baru dengan jiwa dan pemikiran yang baru dan segar. Bagaimana tidak, karena setiap kali membaca per lembar buku ini, saya dibuat terpana juga tersenyum dan geleng-geleng kepala. Isi buku ini sangat dekat dengan kegiatan sehari-hari kita.

Misalnya saja dalam bab “Yang Penting Yakin”. Dalam bagian kita diingatkan tentang pentingnya rasa percaya pada Allah. Bahwa apa yang terjadi pada kita sudah menjadi ketetapan Allah. Kita harus ikhlas sabar dan selalu bersyukur. Dengan begitu dalam menjalani hidup kita lebih bahagia.

Dalam bab “Belajar Menerima” di bagian ini, penulis menekankan apa pun keadaan kita, jangan sampai hal itu membuat kita merasa rendah diri atau malu. Sebaliknya, kita harus percaya inilah takdir terbaik yang Allah berikan pada kita. Ingat kisah Tsa’laba yang kala miskin selalu rajin ibadah? Namun ketika Allah merubahnya menjadi kaya, dia malah ingkar dan tak mau membayar zakat.

Dalam bab “Kaya Belum Tentu Enak” kita pasti sering melihat dan menebak-nebak bahwa orang kaya sudah pasti merasa bahagia. Namun sejatinya prasangka itu tidak selamanya benar. Karena setiap orang pasti memiliki masalah masing-masing. Jadi daripada memelihara iri dan dengki, lebih baik memperbaiki diri dan mensyukuri nikmat yang kita miliki.

Tidak kalah menarik pada bab “Berdamai dengan Diri Sendiri” di sini saya menyadari, kunci kebahagiaan itu berada di tangan kita sendiri. Bagaimana kita menyikapi setiap masalah dan bagaimana kita menjalanai hidup ini. Semua kembali pada pribadi masing-masing.

Selain yang sudah dipaparkan tersebut tentu saja masih banyak  bab-bab lain yang tidak kalah menarik dan memotivasi. Hampir semua materi membuat saya merenungkan kembali berbagai masalah yang kerap datang silih berganti.

Kekuatan buku ini adalah pada narasi penulis yang kuat dan persuasif. Sehingga saat kita membaca, kita jadi ikut terpengaruh untuk segera berbenah diri secepat mungkin. Keunggulan lainnya adalah tentang ciri khas penulis yang kerap memberikan kisah-kisah inspiratif yang menurut saya sangat menyenangkan. Karena dari kisah itu, kita mendapat mengambil banyak keteladan.

Selain itu secara tidak langsung kita diingatkan untuk tidak baik menantap orang-orang yang berada pada kedudukan tinggi. Sebaliknya kita harus menatap ke bawah, karena di sana ternyata lebih banyak orang yang lebih menderita dari pada kita, namun tetap bisa bersyukur dan bahagia. 

“Lihatlah  orang yang berada di bawah  kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu  lebih pantas agar kalian tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” (hal 256)

Selain soal tata penyampaian, penulis juga memiliki ciri khas tulisan dengan memberikan quote-quote inspiratif. Di mana quote-quote tersebut sangat membantu dalam meluruskan hati dan renungan mendalam.
Sebab ikhlas itu tak terucap, dan sabar itu tidak berujung(hal  148)

Kemudian  soal pemilihan cover merah ini, saya rasa sangat cocok dengan tema buku yang menunjukkan keberanian hidup menuju kebahagiaan. Lalu karikatur dalam beberapa bab juga memberi warna tersendiri dalam buku.

Saya tidak tahu apakah ini karena gaya tulisan atau tidak, saya menemukan satu kesalahan tulis dalam buku ini—tulisan fitnah—ditulis fit nah  (hal 151). Namun lepas dari sedikit kekurangan tersebut, buku ini sangat sayang untuk dilewatkan. Karena buku ini sangat mencerahkan. Mengingatkan kita tentang nilai penting arti kebahagiaan.

Hidup bukan lomba berlari, tapi lomba berbagi. Yang berharga bukan seberapa cepat kita meraih impian, tapi seberapa banyak manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain saat impian tersebut akhirnya terwujud.” (hal 109)


Alhamdulilla, resensi ini terpilih menjadi juara ke-3 dalam lomba resensi  
buku "Jalani, Nikmati, Syukuri" karya Dwi Suwiknyo 
yang diadakan Penerbit Diva Press

Srobyong, 22 Januari 2018