Showing posts with label Buku Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Buku Sejarah. Show all posts

Wednesday, 12 September 2018

[Resensi] Revolusi Mental Sebagai Jalan Membangun Karakter Bangsa

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 24 Agustus 2018


Judul               : Bung Karno dan Revolusi Mental
Penulis             : Sigit Aris Prasetyo
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, November 2017
Tebal               : 380 halaman
ISBN               : 978-602-7926-37-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Revolusi mental dalam konteks historis jelas tidak dapat dipisahkan dengan sang konseptor, Bung Karno. Pada tahun  1950-an, dia telah melihat berbagai bibit penyakit mentalis yang menggerogoti mentalitas anak bangsa, baik di masyarakat dan pemerintahan yang dianggapnya kontra revolusi (hal 11). Oleh karena itu dalam pidato di hari kemerdekaan,  tanggal 17 Agustus 1957 Bung Karno mengajak segenap warga Indonesia untuk melakukan  revolusi mental.

“National building membutuhkan bantuannya Revolusi Mental! Karena itu, adakanlah Revolusi Mental! Bangkitlah.” (hal 18).

Di mana maksud revolusi mental adalah sebuah ajakan untuk melakukan perubahan dan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Kita diharapkan meninggalkan sikap-sikap buruk yang akan merugikan diri sendiri juga bangsa. Dan konon gasasan Bung Karno tentang “Revolusi Mental” saat ini, tengah disemaikan dalam program Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Menilik dari sebab musabab tersebut, Sigit Aris Prasetyo mencoba menguraikan secara sederhana perihal “Revolusi Mental” melalui potret perkataan, tindakan, karakter dan kehidupan sehari-hari dari Bung Karno. Dengan harapan kita bisa meneladani dan mengimplementasikan nilai-nilai positif yang masih relevan dalam konteks kekinian sebagai upaya membangun bangsa negara yang memiliki karakter unggul.

Di antaranya Bung Karno selalu menggemborkan semangat nasionalisme kepada seluruh rakyat. Karena semangat nasionalisme-lah  yang akan menjadikan warga negara selalu mencintai dan rela berkorban untuk kepentingan bangsa.  Tanpa nasionalisme sebuah bangsa seperti hidup tanpa roh. Tanpa nasionalisme sangatlah mustahil suatu bangsa dapat tumbuh sebagai bangsa besar. Bahkan sebaliknya, dapat menjadi bangsa lemah, rapuh dan mudah terombang-ambing dalam percaturan politik global (hal 26).

Kita juga harus membina kebhinekaan. Mengingat Indonesia, merupakan negara yang terdiri dari berbagai suku, budaya, agama dan bahasa. Oleh karenanya kita harus menjaga  persatuan tanpa membedakan perbedaan yang ada. Bung Karno pernah berkata, “Kebhinekaan harus terus kita bina, karena justru kebhinekaan inilah unsur menjadikan Ekaan. Bhineka tunggal ika harus kita pahami sebagai satu kesatuan dialektis.” (hal 36). Dengan membina dan menjaga ke-Bhineka Tunggal Ika-an, bangsa Indonesia dapat terus bersatu dan tidak mudah terpecah belah seperti beberapa bangsa lain. 

Tidak ketinggalan, Bung Karno mengingatkan kita untuk  selalu memiliki toleransi beragama. Dia berkata, “Bhineka Tunggal Ika sudah jelas mengatur hidup soal toleransi beragama. Walau kita berbeda agama, suku hingga warna kulit tapi kita tetap satu.” (hal 47). Hal ini ditunjukkan dengan lokasi  Masjid Istiqlal yang dibangun tepat berhadapan dengan  Gereja Katedral. Inilah simbol toleransi bergama yang ingin ditunjukkan Bung Karno. Sikap Bung Karno itu kemudian mengantarkannya sebagai pemimpin negara paling toleran terhadap keberagamaan.

Selanjutnya Bung Karno mengkritisi para pelaku koruptor. Di mana dia menganggap para koruptor sebagai pengkhianat negara. Perilaku tersebut lebih buruk dan hina daripada kejahatan lainnya. Korupsi bukan kejahatan biasa, namun sebagai kejahatan luar biasa. Menurutnya seorang koruptor harus diposisikan ke dalam kasta sosial paling rendah di masyarakat, lebih rendah dari kasta sudra sekalipun (hal 56).

Dalam  pidatonya di depan Kongres Persatuan Pamong Desa, tanggal 12 Mei 1964 di Jakarta, dengan gambalang Bung Karno menista para pelaku koruptor. Bung Karno juga mewanti-wanti rakyatnya untuk tidak melakukan praktik perilaku buruk tersebut.

Selain beberapa hal tersebut, masih ada sikap-sikap yang perlu kita miliki. Seperti anjuran untuk selalu mengayomi orang kecil, selalu mandiri, meningatkan minat baca, tidak melupakan sejarah, selalu bergotong royong, berani bermimpi  dan berimajinasi serta  banyak lagi. Lalu kita juga diingatkan untuk meninggalkan sikap-sikap, seperti ketamakan, kemasalan, kemesuman, keinlanderan—selalu rendah diri, individualisme, dan ego-sentrisme. Kita dituntut untuk menjadi warga Indonesia seutuhnya, menjadi manusia pembina. Sebuah buku yang patut dibaca semua lapisan masyarakat sebagai renungan dan perbaikan diri demi mewujudkan masyarakat unggul dan berkarakter.

Srobyong, 7 Desember 2017

Thursday, 24 May 2018

[Resensi] Mengenal Kehidupan Bung Hatta yang Menginspirasi

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 11 Mei 2018


Judul               : Hatta : Aku Datang Karena Sejarah
Penulis             : Sergius Susanto
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 364 halaman
ISBN               : 978-602-402-096-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Univeritas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“..., setelah DPR yang dipilih rakyat mulai bekerja dan konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Segera, sesudah konstituante dilantik, saya akan meletakkan  jabatan itu secara resemi.” (hal 13).

Dibuka dengan prolog yang menarik, buku yang membahas tentang kehidupan salah satu proklamator Indonesia—Mohammad Hatta, buku ini sangat patut dibaca bagi semua kalangan. Sergius Susanto menghidupkan kisah perjalanan kehidupan Hatta lewat jalinan  kata yang lugas,  renyah dan aktual. Kita diajak mengenal lebih dekat sosok yang kerap disebut sebagai Gandhi of Indonesia, karena gaya berpolitik Hatta itu selalu mengedepankan perdamaian.

“Penderitaan seharusnya membukakan mata pada makna kemanusiaan. Tapi mengapa orang-orang istana justru gemar menciptakan kesakitan pada rakyat banyak?” (hal 23).

Sedari awal terjun dalam organisasi politik, Hatta sudah siap dengan berbagai konsekuensi yang akan dia dapat. Termasuk ketika dia dijebloskan di penjara Belanda. Lalu tidak berselang lama, dia dibuang di Digul, Banda Niera, Penjara Glodok hingga Pulau Bangka. Namun semua perlakuan jahat yang dilakukan Belanda, tidak membuat semangat juang Hatta surut. Dia malah semakin terpacu untuk melakukan pergerakan.

Bersama Syahrir, Hatta bahkan membangun sebuah organisasi yang diberi nama Pendidikan Nasional Indonesia—PNI  yang bertujuan mengumpulkan kekuatan baru  lewat pikiran dan mental anggotanya. Dia yakin dengan pendidikan akan mampu membukakan mata hati terhadap banyak aspek dalam kehidupan ini (hal 163).

 “Rakyat kita tertalu lama ‘dididik’ tentang cita-cita umum dan dendang persatuan. Cara didik yang keliru mengajarkan asas mana yang harus dipakai. Karenanya, kita wajib memajukan pendidikan baru dengan asas yang terang.” (hal  214).

Pandangan ini sangat berbeda dengan  Soekarno yang lebih mengedepankan pada mobilisasi masa.  Namun begitu, karena memiliki tujuan yang sama untuk lepas dari penjajah, mereka pun saling bahu membahu dalam pergerakan. Hingga akhirnya mereka berdiri bersama untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka pun kemudian ditunjuk sebagai presiden—Soekarno dan wakil presiden—Mohammad Hatta.

Hanya saja, setelah  menjabat sebagai wakil presiden selama sebelas tahun, tiba-tiba Hatta memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Dia memilih menjadi rakyat biasa. Dia sudah tidak kuasa lagi melihat berbagai penyelewengan wewenang di istana.

“Kita selalu menggembar-gemborkan, bahwa negara kita berdasarkan pancasila, tetapi di mana keadilan, perikemanusiaan dan demokrasi yang sebenarnya. Apa  yang terjadi? Di masa lalu orang-orang pergerakan berjuang untuk mematahkan penindasan dan kezaliman kolonial Belanda. Kini, pemerintah yang merdeka justru mengunci ranah kekebesan rakyatnya. Adakah demokrasi, kalau orang merasa takut, harus tutup mulut, kritik tidak diperbolehkan, sehingga berbagai hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan berlaku leluasa?” (hal 296).

Membaca buku ini seperti memasuki langsung masa lalu, tentang perjalanan Bung Hatta selama masa pergerakan. Semangat juang Bung Hatta nampak jelas terpancar melalui kisah ini. Dialah sosok pahlawan yang bersahaja,  adil, peduli dengan pendidikan rakyatnya juga menghargai kedamaian. 
Buku ini secara tidak langung menjawab berbagai rasa penasaran saya tentang kehidupan Bung Hatta, yang memang dalam berbagai literatur jarang dibahas. Bahkan dalam buku materi sejarah. Berbanding terbalik dengan Soeharto yang mana sudah sangat banyak buku yang membahas kisah hidup, perjuangan juga pemikiran dari berbagai sisi.

Secara keseluruhan buku ini memang sangat asyik dinikmati. Bahasa renyah dan tidak sukar dipahami. Hanya saja saya merasa ada bagian yang tidak runtut, bahkan terkesan loncat-loncat, sehingga membuat saya cukup kaget dengan pergantian lokasi atau cerita yang tiba-tiba. Namun lepas dari kekurangannya buku ini tetap rekomendasi untuk dibaca.

Melalui kisah ini, kita dapat meneladi sikap hidup Bung Hatta yang sangat menginsprisai. Kita diajak menjadi pribadi yang tidak mudah putus asa, juga gemar membaca. Kita juga diajak untuk bersatu dan berjuang bersama untuk mencapai satu tujuan.

 “Karena itu, setiap perpecahan, dalam bentuk apa pun, sangat ditentang. Hanya melalui persatuan putra-putra Indonesia kita dapat mencapai tujuan.” (213).

Srobyong, 8 Maret 2018 

Saturday, 3 February 2018

[Resensi] Jejak Perjuangan RA Kartini dalam Persamaan Wanita

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 19 Januari 2018 


Judul               : Kartini
Penulis             : Abidah El Khalieqy
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, April 2017
Tebal               : 376 halaman
ISBN               : 978-602-385-280-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Siapa yang tidak mengenal sosok RA Kartini? Perempuan yang lahir di Jepara, 21 April 1879, merupakan pahlawan wanita yang memiliki sumbangsih dalam mengangkat derajat kaum perempuan. Keberanian RA Kartini dalam menentang adat tradisional tentang kasta antara wanita dan pria. Bahwa wanita tidak diperbolehkan keluar rumah jika sudah masa pingitan, tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikan setinggi mungkin dan adanya perbedaan kasta antara perempuan bergelar Raden Ayu dengan perempuan pribumi.

“Jadi karena aku ini seorang Raden Ayu, maka nasibku jauh lebih baik dibanding perempuan pribumi lain. Bukankah kami sama-sama perempuan. Sama-sama manusia juga. Mengapa ada perbedaan.” (hal 57).

Berbeda dengan kamu lelaki yang memiliki kebebasan mutlak untuk memperoleh pendidikan, menjelajahi banyak tempat bahkan bebas berpoligami jika memang suka. Dalam pandangan tradisi lama tersebut, wanita diharuskan belajar tentang kewanitaan—yaitu mempelajari bagaimana cara menjadi wanita terhomat dengan pandai memasak dan pandai melayani suami. Inilah yang sangat ditentang Kartini. Menurutnya seorang wanita berhak memperoleh pendidikan selayaknya wanita. Hal itu sebagaimana yang termaktub dalam surat  Al-Mujadalah ayat 11, yang pernah diterangkan Kia Soleh Darat,  “Bahwa setiap muslim baik laki-laki atau perempuan berhak memperoleh pendidikan.” (hal 260). 

Buku ini dengan penyajian yang menarik dan tidak membosankan, mengungkap kisah perjalanan Kartini dalam usahanya memperoleh  keadilan—yaitu kebebasan kaum perempuan untuk memperoleh pendidikan dan menghapus diskriminasi yang diterima wanita pribumi.

Kartini memang lahir sebagai putri dari Bupati Jepara—Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, namun dia tidak terlahir dari ibu bangsawan. Ibunya—Ngasirah, adalah  putri dari  Kyai Haji Madiro, guru agama di Telukawur, Jepara. Karena alasan ini, Kartini tidak bisa memanggil ibunya dengan sebutan”ibu”. Dia harus memanggil Ngasirah dengan sebutan “Yu” dan membiarkan ibunya tinggal di kamar pembantu. Karena memang itulah adat yang ada.  Panggilan ibu hanya diberikan kepada ibu tiri Kartini yang keturunan bangsawan.

Selain harus melihat diskriminasi  yang terjadi pada ibunya, Kartini juga harus menerima kenyataan, setelah menamatkan ELS, dia harus dipingit. Yang artinya dia tidak  bisa keluar bebas, dan  tidak diperbolehkan menuntutut ilmu, padahal itulah cita-citanya.   Kartini tidak paham kenapa pendidikan yang bisa mencerdaskan bangsa malah dilarang dilakukan? Apa salahnya jika perempuan itu pintar?  Namun Kartini tidak menyerah. Setelah amarahnya reda, bersama Kartono, kakaknya dan dua adiknya, Kardinah dan Rukmini, mereka berjuang untuk keluar dari adat tradisi yang menurut mereka tidak adil.

Dengan bantuan Nyonya Ovink-Soer dan Rosa Abendanon—salah satu teman korespondesinya dari Belanda,   Kartini akhirnya bisa mendobrak adat. Dia mengeluarkan suara tentang ketidakadilan yang diterima kaum perempuan.  Jika Kartini merasa senang dan puas, maka berbalik dengan beberapa orang yang tidak menyukai tindakan Kartini. Ibu tirinya, dua kakak kandungnya dan paman-pamannya, mencoba berbagai cara untuk  mencegah usaha Kartini gagal.

Di mana pilihan itu sempat membuat Kartini meradang.  Mereka mendesak Kartini untuk menerima lamaran dari Bupati Rembang—Raden Mas Singgih Joyo Adiningrat.  Mereka pikir jika Kartini menikah, perjuangannya akan selesai. Tapi ternyata salah. Pernikahan ini ternyata malah membuka lebar perjuangan Kartini. Raden Mas Singgih Joyo Adiningrat, ternyata sangat mendukung perjuangan Kartini.  Dia bahkan mengizinkan Kartini mendirikan sekolah bagi kaum perempuan.  

Novel yang ditulis berdasarkan naskah  skenarion film ini,  digarap dengan apik.  Dari segi penokohan dan setting benar-benar kuat. Seperti melihat sendiri bagaimana kisah hidup Kartini di masa silam. Hanya saja pada beberapa bagian, saya merasa ada kejanggalan dengan hilang dan munculnya tokoh Rukmini secara tiba-tiba. Serta keberadaan Kartono yang hanya pemanis saja.

Namun lepas dari kekurangannya, buku ini menghadirkan kisah sejarah dengan nuansa yang berbeda. Kita bisa menikmati sejarah dengan menyenangkan tanpa tertekan karena selalu dijejali hafalan. Di sini kita bisa belajar untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan membuang jauh-jauh rasa iri dan dengki.   “Kadang  orang yang cemburu bisa jadi kalap.” (hal 320). Kita harus percaya selalu ada jalan jika ada kemauan.

Srobyong, 9 November 2017 

Tuesday, 19 December 2017

[Resensi] Peran H.O.S Tjokroaminoto dalam Pergerakan

Dimuat di Duta Masyarakat, Sabtu 9 Desember 2017 


Judul               : Tjokroaminoto
Penulis             : Tim Tempo
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : xvi + 162 halaman
ISBN               : 978-602-424-402-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Diangkat dari edisi khusus Majalah Berita Mingguan Tempo, buku yang membahas tentang  peran Tjokroaminoto  dalam pergerakan ini dipaparkan dengan apik dan menarik.   Tokoh yang  lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 18 Agustus 1882 ini dengan  kemampuannya dalam berorasi dan tulisannya yang telah tersebar di berbagai media,  telah memberi inspirasi puluhan ribu orang dan menumbuhkan semangat kebangsaan.

Meski berdarah bangsawan, sejak awal Tjokro ini sangat menentang keras feodalisme. Dia berjuang untuk meretas jalan kesetaraan. Hal ini terlihat jelas dalam salah satu tulisannya berupa sajak yang dimuat di Doenia  Bergerak tahun 1914. Dia  mengkritisi penindasan dan perbedaan derajat manusia.  Begitu pula dalam berbagi pidato yang dia suarakan. Oleh karena itu dia dijuluki sebagai “Gatotkoco Serikat Islam” (hal 7).

Karir perjuangannya semakin melesat ketika dia mulai bergabung di Organisasi Sarekat Islam Mei 1912—sebuah Organisasi yang didirikan oleh Haji Samanhoedi, seorang saudagar batik. Di mana organisasi ini didirikan ketika ada persaingan dagang antara Pribumi dan Cina.  Dan berkat tangan dingin Tjokro, organisasi itu menjadi gerakan politik yang besar dan kuat.   Dalam kepemimpinannya di Sarekat Islam, sejarawan Bonnie Triyana menilai salah satu keunggulan Tjokro adalah sikap egaliter. Dia tidak memandang usia, status atau jabatan. Yang terpenting para anggota beragama sama (hal 36).

Upaya yang dilakuakan Tjokro untuk membawa Sarekat ke level nasional yaitu  merancang delapan program untuk memperjuangkan hak rakyat. Di antaranya menghapus kerja sama, mengizinkan pedidikan. Sarekat juga mendesak penghapusan peraturan yang menghambat penyebaran Islam. Itulah sebabnya Sarekat Islam semakin mendapat dukungan besar.  Mengingat dia memperjuang kepentingan rakyat dan umat Islam pada khususnya. Selain mengurus pergerakan Sarekat Islam, Tjokro juga rutin menuangkan ide-idenya di surat kabar, Oetoesan Hindia. Dia menulis dengan topik yang beragam. Mulai dari politik, hukum hingga perbedabatan antara paham sosialisme dan Islam.

Selama bergerak dalam perjuangan Tjokro berpegang pada beberapa prinspi yang pernah dia tulis dan diterbitkan dalam Sendjata Pemoeda, surat kabar PSSI. Dia mengaskan : keutamaan, kebesaran, kemuliaan, dan kebernaian bisa tercapai lewat ilmu tauhid, ilmu tentang ketuhanan (hal 30).  Tjokro memang amat meyakini Islam mengandung banyak nilai sosialisme. Oleh karena itu dia  ingin membumikan perjuangan  yang bersandar pada Islam sebagai basis ideologi.

Selain berjuang dalam ranah politik, Tjokro juga memiliki kepedulian dalam pendidikan.  Pada tahun 1930-an, banyak berdiri sekolah Tjokroaminoto yang dibangun di cabang-cabang PSII—Partai Sarikat Islam Indonesia di semua wilayah. Silabus dan kurikulumnya didasari buku Moeslim National Onderwijis yang ditulis Tjokro 1925. Sekolah-sekolah itu mengajarkan soal arti kemerdekaan, budi pekerti, ilmu umum dan ilmu keislaman. Menurut Tjokro, asas-asas Islam sejalan dengan demokrasi dan sosialisme. Maka kamu muslimin harus dididik menjadi muslim sejati untuk mencapaai kemerdekaan umat.

Kiprah Tjokroaminoto ini pada akhirnya membuat dirinya disebut-sebut sebagai guru para pendiri bangsa. Karena lewat didikannya, lahirlah para bumiputra  yang akhirnya memulai gebrakan dalam pergerakan. Sebut saja Tan Malam, Sukarno, Musso, Semaoen, Alimin hingga Kartosoewiryo.

Reportase ulang tentang Tjokroaminoto ini telah membuka wawasan kita tentang kehidupan pendiri republika yang inspiratif, tapi juga  penuh intrik pemikiran dan petualangan. Disusun dengan bahasa yang mudah dipahami, menjadi sisi positif ketika membaca buku ini. Dilengkapi dengan foto-foto dukementasi, semakin menambah rasa  perjuangan yang terjadi di masa lalu. Hanya saja karena buku ini tidak  ditulis penulis tunggal—merupakan kumpulan tulisan bergaya jurnalistik dari beberapa penulis, maka kita harus pandai-pandai menyusun rangkain kisah yang ada.     

Srobyong, 22 Oktober 2017

Sunday, 29 October 2017

[Resensi] Perjuangan Douwes Dekker Mendorong Kemerdekaan

Dimuat di Koran Jakarta, Kamis 26 Oktober 2017 


Judul               : Douwes Dekker
Penulis             : Tim Tempo
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : xii + 188 halaman
ISBN               : 978-602-424-395-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Selain para pribumi yang menjadi tokoh pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, ternyata ada pula beberapa nama Belanda yang ikut bersumbangsi berjuang demi meraih kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Douwes Dekker, yang memiliki nama  lengkap Ernest Francois Eugene Douwes Dekker. Dia lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 8 Oktober 1879.  Dia memiliki darah campuran Belanda, Prancis, Jerman dan Jawa.

Namun meski bukan penduduk Indonesia tulen, tapi semangat nasionalismenya lebih menggelora daripada penduduk bumiputra. Dalam pergerakan  revolusi, Douwes Dekker memiliki pemikiran dan gagasan yang melampaui zaman. Buku ini memaparkan tentang semangat perjuangan Douwes Dekker dalam meruntuhkan pemerintah Hindia-Belanda.

Dengan sifat kritis dan penuh keberanian, dia mengkritisi kekejaman pemerintahan Hindia-Belanda dan berani menolak diskriminasi. Hal inilah yang pada akhirnya membuat pemerintah Belanda berang dan menganggap Douwes Dekker sebagai  agitator berbahaya.  

Bersama  Tcipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker mendirikan partai politik pertama di Indonesia, bernama Indische Partij. Di mana partai ini didirikan dengan tujuan untuk membangkitkan rasa patriotisme orang Hindia untuk tanah yang memberikan kehidupan, yang mendorong untuk bekerjasama atas dasar persamaan hak politik nasional untuk mengembangkan tanah air Hindia ini, dan untuk mempersiapkan sebuah kehidupan bangsa yang merdeka (hal 26).

Hadirnya partai ini meniupkan roh  di awal masa pergerakan dan merupakana pondasi penting bagi nasionalisme Hindia. Douwes Dekker adalah sosok organisator yang tidak pernah lelah berjuang. Dia mendedikasikan hampir seluruh hidupnya untuk kemerdekaan Indonesia. Douwes Dekker yang ternyata masih  satu keturunan  dengan Eduard Douwes Dekker—penulis buku Max Havelaar yang memiliki nama pena Multatuli—ini menyerukan ide pentingnya warga Hindia menjadi satu bangsa, yang membangun kekuatan sendiri.

Dia sama sekali tidak gentar meski berkali-kali keluar masuk penjara bahkan diasingkan untuk beberapa waktu yang cukup lama. Memang sejak dia menunjukkan sikap anti penjajah, Belanda sudah mengawasi dan menganggap Douwes Dekker adalah salah satu tokoh yang berbahaya, yang  bisa mengkompori bumiputra untuk melawan pemerintah Hindia-Belanda sewaktu-waktu.  Oleh karena itu ketika Douwes Dekker mendaftarkan perjininan berdirinya partai Indische Partij, dengan tegas Beladan menolaknya, karena partai itu  dianggap berbahaya, mengancam kemananan dan  ketertiban umum. 

Tapi bukan Douwes Dekker jika langsung menyerah. Dengan kemampuannya jurnalistiknya, kerap kali Douwes Dekker menantang pemerintah Hindia-Belanda lewat tulisan-tulisan yang tajam, memojokkan dan pedas di berbagai media.  Dia mengkritisi politik etis yang memecah belah penduduk pribumi, indo dan priyayi.  Akibat keberaniannya itu, Douwes Dekker di mata tokoh-tokoh politik Belanda dianggap sebagai avonturir, oportunis bahkan schoelje atau “si bangsat” (hal 38). Di mana akibat dari tulisannya yang kerap kali menggugat, dan mengecam Belanda dan terus membangkitkan nasionalisme, dia mendapat lima gugatan hukum.

Dia pernah menjalani hukuman penjara di beberapa negara. Lalu bersama  Tcipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker dibuang ke Belanda. Kemudian mereka memanfaatkan waktu ada untuk melanjutkan sekolah.  Selain itu Douwes Dekker juga pernah  dituduh menjadi kaki tangan Jepang dan ditahan di Jakarta, kemudian dibawa ke  Ngawi, Magelang dan Jawa Timur. Di juga pernah diasingkan di Suriname.  Namun semua kejadian itu tetap tidak membuatnya gentar berjuang meraih kemerdekaan Indonesia.

Ketika akhirnya dia kembali ke Indonesia,  dia kemudian memilih berjuang lewar jalur pendidikan. Dia menjadi guru mengajar di Ksatrian Institut, sebuah sekolah yang dia bangun bersama beberapa tokoh pentolan Indische Partij. Dalam sekolah ini Douwes Dekker dengan serius mengajarkan pentingnya  bangsa merdeka dan mandiri (hal 64). Hal ini tentu saja membuat pemerintah Hindia-Belanda semakin membenci Douwes Dekker.

Kiprah Douwes Dekker ini akhirnya memberi inspirasi bagi  para pejuang muda. Seperti Tjokroaminoto dengan Serikat Islam, juga Sukarno dalam mendirikan Partai Nasional Indonesia.  Sebelum wafat Douwes Dekker ini menjadi mualaf dan mengganti nama menjadi Danudirja Setiabudi. Dia meninggal tanggal 28 Agustus 1950 karena sakit. Sebuah buku yang patut dibaca dan diapresiasi. Mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah dalam berjuang dan selalu mencintai Indonesia.


Srobyong, 21 Oktober 2017 

Tuesday, 10 October 2017

[Resensi] Kisah-kisah Romantis dan Perjuangan Jendral Soedirman

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 8 Oktober 2017 


Judul               : Soedirman & Alfiah
Penulis             : E. Rokajat Asura
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : xxiv + 440 halaman
ISBN               : 978-602-7926-35-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Selama ini kita mengenal  Jendral Soedirman sebagai sosok yang pendiam, keras dan teguh dalam pendirian. Dalam perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia, Soedirman tidak pernah ragu dan terus melangkah dengan penuh keberanian. Dia-lah yang mengenalkan siasat perang gerilya yang sukses membuat pasukan Belanda ketakutan.

Namun siapa sangka, di balik sifat keras yang dimiliki, Soedirman memiliki sisi lembut. Dia akan menjadi sosok romantis jika sudah berhadapan dengan Siti Alfiah, istrinya. Dia juga sosok ayah yang selalu mengayomi anak-anak dan seorang panglima yang selalu peduli pada pasukannya. Buku ini dengan gaya bahasa yang renyah dan memikat, mengajak kita mengenal perjuangan Jendral Soedirman melalui catatan kisah percintaan yang manis dan keseharian Seodirman dalam memanusiakan manusia.

Kisah cinta Jendral Soedirman dimulai ketika mereka sama-sama bersekolah di MULO Wiworotomo. Saat itu Soedirman menjadi sekretaris himpunan siswa dan Alfiah sebagai bendahara. Hanya saja hubungan mereka sempat tidak direstui keluarga besar Alfiah.  Namun berkat kegigihan Soedirman, akhirnya dia bisa meluluhkan Sastroatmojo, ayah Alfiah, sehinga hubungan mereka direstui dan diizinkan menikah.

Sebagai seorang suami, Jendral Soedirman  selalu memerhatikan keperluan Alfiah.  Pernah suatu hari, setalah pulang dari rutinitas kerja—sebelum isu perang akan terjadi, dia pulang dengan membawa banyak bedak dan baju untuk Alfiah.  Ketika istrinya bertanya untuk apa semua barang itu, dengan manis Jendral Soedirman menjawab, “Baju dan bedak, Bu. Soalnya kalau ada serangan udara, semua toko bakal tutup.  Biar bagaimanapun, ibu harus tetap terlihat cantik.” (hal 51).

Atau pada suatu waktu, di sela kesibukan Soedirman saat berkunjung ke Gumilir, dia masih sempat membelikan baju untuk Alfiah. Dan setiap ada sesuatu—baik tentang masalah mengajar atau tugas kententaraan,  Soedirman tidak segan-segan bercerita kepada Alfiah.  Mereka adalah pasangan yang hangat dan selalu terbuka.

Kepada tujuh anaknya, Soedirman selalu mendidik mereka dengan penuh kasih sayang. Dia menekankan nilai-nila moral agama sebagai dasar nilai-nilai kehidupan. Dia juga selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk selalu bersikap jujur dan hidup dalam kesederhanaan. Soedirman pernah berpesan pada anak-anaknya, “aja reang, aja gegoh, sing guyub, sing rukun—jangan bertengkar, jangan saling benci, yang rekat, yang jujur.” Dan kepada para anak buahnya, Soedirman selalu memperlakukan mereka seperti layaknya keluarga.

Dan untuk tanah airnya, Soedirman selalu berada di baris paling depan untuk berjuang. Dia tidak pernah gentar dalam memerangi para penjajah.  Dalam konfersensi TKR—Tentara Keamanan Rakyat—Soedirman pernah menjelaskan tentang sikap yang harus dimiliki tentara. Di mana dipaparkan tentara mempunyai kewajiban untuk mempertahankan kedaulatan negara (hal 177).

Oleh karena itu ketika Belanda berkali-kali melanggar janji—misalnya dalam perjanjian Renville dan Linggarjati—hal itu benar-benar membuat Soedirman geram. “Perundingan itu tak lebih cara Belanda untuk mengulur-ulur waktu dan mencuri kesempatan menyerang.” Itulah yang pendapat Soedirman (hal 228).

Dan ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta, Soedirman beserta kelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perlawanan  gerilya selama tujuh bulan. Padahal kala itu Soedirman baru saja sembuh dari penyakitnya. Namun rasa sakit itu sama sekali tidak membuatnya gentar. Dia tetap gigih dalam usaha mempertahankan kedaulatan Indonesia, yang saat itu memang sudah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Soedirman berkata, “Tubuhku memang semakin lemah, tapi aku tak menyerah.” (hal 337).

Sampai akhir hanyatnya, Soedirman terus mendikasikan dirinya untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.  Sebuah novel biografi yang patut mendapat apresiasi dari semua kalangan. Di sini kita diajak membaca sejarah lewat kisah manis yang tidak monoton  dan kaku. Belum lagi dari buku ini kita juga mengenal sisi lain Jendral Soedirman.   Selain selalu mencintai tanah airnya, dia juga sangat mengayomi keluarga dan selalu memanusiakan manusia—selalu menghormati tanpa membedakan pangkat atau derajat.


Srobyong, 28 Agustus 2017 

Wednesday, 23 August 2017

[Resensi] Pelajaran Diplomasi dari Presiden Sukarno

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 20 Agustus 2017 


Judul               : Dunia dalam Genggaman Bung Karno
Penulis             : Sigit Aris Prasetyo
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, Februari 2017
Tebal               : xii + 356 halaman
ISBN               : 978-602-7926-33-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Aluma Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara


Naskah ini merupakan naskah asli resensi sebelum ada editing dari redaksi untuk menyesuaikan space koran. :) 

Siapa yang tidak mengenal Sukarno?  Namanya telah menjadi legenda yang tidak lekang oleh zaman.   Tidak hanya di Indonesia, nama Sukarno sudah dikenal di seluruh posok negara di dunia.  Dia merupakan presiden pertama di Indonesia, yang memiliki banyak sumbangsih dalam usaha meraih kemerdekaan juga memajukan kesejahteraan Indonesia.  Sebagaimana diketahui Sukarno adalah seorang pemimpin yang berprisip. Dia juga seorang yang ahli bernegosiasi,  orator dan konseptor ulung.  Selain itu dia merupakan praktisi diplomasi Indonesia yang paling cerdas dalam sejarah Indonesia.

Buku ini dengan gaya bahasa yang renyah dan mudah dipahami, memaparkan tentang sepak terjang Bung Karno dalam berdiplomasi.  Bagaimana dia bisa menjalin hubungan dengan para pemimpin dunia, juga membangun kedekatan personal bahkan bersahabat dengan para pemimpin dunia, tanpa memedulikan perbedaan agama, ideologi, ras, dan budaya.  Sukarno pernah berkata, “Aku menyukai orang Timur, aku menyukai orang Barat ....” (hal 3).

Dalam berdiplomasi Sukarno selalu high profile, tegas namun cantik. Di mana itu berarti,  dia selalu teguh dengan prinsipnya.  Selalu percaya diri dan anti  minder, juga tidak bisa didekte oleh pemimpin negara manapun. Namun begitu dia tidak bersikap kaku, Bung Karno malah bersikap lues dan bersahabat. Hal inilah yang pada akhirnya membuat Sukarno selalu disegani.  Apalagi Sukarno juga sangat menjunjung tinggi persahabatan. Bahkan Sihanouk—presiden kamboja, pernah berkata, “Sukarno adalah orang yang sangat menghargai persahabatan yang tulus.” (hal 109).

Di antara sepak terjang Bung Karno dalam berdimplomasi, contohnya bisa kita lihat dalam usaha Bung Karno  mempertahankan Irian Barat sebagai satu kesatuan Indonesia. Saat itu Indonesia memang sedang bersitegang dengan Belanda, perihal wilayah Irian Barat.  Maka Bung Karno pun membujuk Presiden Amerika, J.F Keneddy agar berpihak kepada Indonesia. Dia tahu dengan dukungan Amerika hal itu akan memudahannya dalam mempertahankan wilayah Irian Barat dari Belanda. Dan akhirnya diplomasi Bung Karno berhasil. J.F Keneddy mengirim seorang diplomat  senior untuk membantu permasalahan itu, yang mana akhirnya terjadi kesepatakan damai sesuai usulan proposal Bunker tanggal 12 Juli 1962.  Indonesia setuju prinsip “self-determination” dan Belanda setuju mengembalikan Irian Barat ke Indonesia (hal 15).

Tahun 1957 Sukarno berhasil membuat kesepakatan dengan Nikita Krushchev—pernada menteri Uni Soviet untuk memulai memberikan bantuan ekonomi termasuk perlengkapan militer yang dibutuhkan Indonesia.  Dan satu tahun sesudahnya, Krushchev juga terus membela Indonesia dalam menghadapi AS yang membantu pemberontakan PRRI di Sumatera (hal 37).

Lalu Sukarno juga berhasil melakukan kerjasama dengan Chou Enlai—Perdana Menteri Tingkok. Mereka saling mendukung dalam berbagai isu dan perkembangan politik internasional. Dan saat berlangsungnya konfrontasi Indonesia dengan Federasi Malaysia, Chou Enlai juga mendukung habis-habisan Indonesia. Chou mengecam pendirian negara Ferderasi Malaysia oleh Ingris dan menganggapnya sebagai bentuk lain kolonilisme. Selain dukungan politik, Chou juga menawarkan dukungan militer  (hal 141).

Bersama Diosdago Macapagal—presiden Filifina, Sukarno saling mendukung saat memanasnya politik terkait konfrontasi Malaysia. Dukungan itu diumumkan Macapagal secara resmi pada tahun 1963. Dukungan itu tidak hanya sekadar retorika politik namun juga militer (hal 160).

Sebuh buku yang patut kita baca untuk menambah pengetahuan dalam mengenal sejarah Indonesia.  Mengenal lebih dekat sosok Bung Karno yang begitu luar biasa dan memiliki banyak jasa dalam perjuangan kemajuan Indonesia. Selain itu buku ini juga memberi inspirasi untuk mewujudkan ketertiban dunia dengan duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain.

Srobyong,  11 Agustus 2017