Friday, 8 June 2018

[Resensi] Potret Remaja yang Tidak Mudah Menyerah Meraih Mimpi

Dimuat di Kabar Madura, Rabu 30 Mei 2018



Judul               : 17 Tahun Itu Bikin Pusing!
Penulis             : Maya Lestari GF
Penerbit           : Pastel Books
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 220 halaman
ISBN               : 978-602-6716-08-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Mengambil tema remaja, novel ini termasuk kategori ringan. Gaya bahasanya sederhana, sehingga asyik dibaca tanpa perlu berpikir keras. Eksekusi cerita pun tidak diragukan lagi. Manis dan menghentak. Penulis asal Padang yang memang sudah memiliki jam terbang tinggi dalam karir menulisnya, menghadirkan kisah yang sederhana, namun sangat menyentuh dari berbagai sisi. Dalam buku ini kita akan dihibur dengan kisah perjuangan para remaja yang ingin diakui kemampuannya. Tentang mimpi, persaingan, jurnalistik, persahabatan, dan tidak ketinggalan bumbu cinta yang semakin membuat kisah ini seru.

Bagi Andriana Tasanee—atau kerap dipanggil Nana—menjadi pemred Majalah Finia di sekolahnya, Visi Andalas adalah mimpinya sejak SMP. Karena dengan menduduki jabatan itu berbagai kesempatan emas akan dia dapat. Dari acara bergengsi  seperti festival film, sastra, sampai aneka kegiatan remaja berprestasi. Bisa mengikuti forum editor di Sumbar. Serta tidak ketinggalan adalah jabatan itu bisa membuka pintu masuk Perguruan Tinggi terkemuka di negeri ini (hal 11).

Untuk mendapat jabatan itu, dia harus bersaing dengan Amanda Rusli. Sosok yang sejak awal tidak pernah dia sukai, karena gadis itu selalu menempel pada Sani, sahabatnya—yang diam-diam Nana sukai. Nana yang awalnya sudah sangat yakin bahwa dirinya akan menjadi pemenang, ternyata kenyataan yang ada malah sebaliknya.  Dia kalah. Amanda-lah yang terpilih sebagai pemred Majalah Finia.

Kenyataan itu tentu saja membuat Nana kecewa. Apalagi dia tahu bahwa sahabatnya, Sani ternyata lebih memilih memberikan hak suaranya pada Amanda dibanding dirinya. Di sini Nana merasa dikhianati. Tapi tetap saja dia tidak bisa mengubah keputusan yang ada.

Tidak hanya gagal menjadi pemred, karena kejadian yang tidak terduga, Nana harus menerima detensi membersihkan toilet, dan bahkan masuk di Finia sebagai siswi paling malang dan berakhir dimusuhi seantero sekolah.  Dia dinggap sebagai orang yang tidak bisa menerima kekalahan dan iri dengan prestasi Amanada.

Beruntung dia memiliki sahabat seperti Sonia, yang selalu setia dan terus memberi dukungan pada Nana. “Orang-orang hebat selalu menemui masa-masa gelap dalam hidupnya. Dikalahkan. Ditinggalkan. Tapi, yang bikin mereka beda adalah enggak berhenti. Mereka tetap berjuang mencapai cita-cita. Semakin kuat dijatuhkan ke lantai, semakin tinggi pantulannya. Enggak usah pikiran kata orang. Fokus saja ke impianmu.” (hal 60).

Selain itu ada pula kakaknya, Rifat yang tidak segan memberi nasihat pada adiknya agar mau intropeksi diri. Belajar dari berbagai kejadian yang telah menimpanya dan  mulai memperbaiki diri.

“Satu-satunya cara untuk berhasil adalah dengan menaklukkan diri sendiri. Buatlah prestasi setinggi mungkin, tapi tetaplah rendah hati! Jangan harap kamu bisa sukses suatu hari nanti, jika kamu selalu keras kepala. Bagaimanapun, orang-orang berhasil selalu punya ciri khusus : rendah hati dan enggak kenal kata menyerah.” (hal 87-88).

Pada titik itu, akhirnya Nana mulai membuka pikirannya. Dia mulai berdamai dengan diri sendiri dan siap berjuang lagi demi meriah impiannya—tetap menulis dan bergelut dalam dunia jurnalistik. Meski tanpa Finia dia masih bisa menunjukkan kemampuanya. Meski pada jalan itu, Nana masih harus berhadapan dengan Amanda. Karena entah kenapa gadis itu selalu berusaha menghalang-halangi jalan Nana.  

Apik, menarik dan menginspirasi. Diceritakan dengan sudut pandang orang pertama, membuat saya ikut merasakan bagaimana posisi dan perasaan Nana. Settingnya pun apik dengan latar sekolah Visi Andalan yang luar biasa. Dan bisa saya bilang novel ini sangat manusiawi. Karena dalam kisah ini penulis tidak membuat tokoh utama sebagai sosok yang sempurna.  Dan untuk bumbu cinta di sini, meski sangat  standar tapi tetap  bikin gregetan.

Membaca novel ini saya banyak belajar tentang dunia jurnalistik. Selain itu saya belajar untuk menjadi pribadi yang sabar dan bisa menahan diri. “Orang hebat  adalah orang yang bisa menahan amarah. Orang yang tetap bisa berpikir jernih saat keadaan tidak berjalan seperti yang diharapkan.” (hal 129).  Selain itu dari kisah ini, kita diajari untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dalam meraih cita-cita. Kita harus yakin selalu ada jalan untuk meraihnya, jika kita mau berjuang.

Srobyong, 20 Februari 2018 

Thursday, 7 June 2018

[Resensi] Meneladani Nilai-Nilai Kehidupan di Pesantren

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 20 Mei 2018 



Judul               : Ha Nahnu Dza
Penulis             : Ira Madan
Penerbit           : Tinta Medina, Imprint of Tiga Serangkai
Cetakan           : Pertama, Mei 2017
Tebal               : x + 438 halamn
ISBN               : 978-602-0894-64-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Pendidikan di pesantren identik dengan pendidikan Islam yang kental. Di mana di pesantren, kita akan diajak belajar berbagai kajian   ilmu agama dari ilmu fiqih, hadis, Al-quaran, ushul fiqih dan berbagai kajian  ilmu lainnya. Selain itu dalam pesantren kita juga dididik hidup dalam suasana yang kental akan ukhuah islamiyah—persaudaraan,  saling mengharagi perbedaan status, adat dan budaya dari masing-masing santri—jika memang tidak berasal dari daerah yang sama.  Selain itu di pesantren kita juga dididik  menjadi anak yang memiliki mental kuat, semangat juang mengali ilmu dan disiplin tinggi, karena terbiasa mengikuti aturan-aturan yang berlaku.

Setidaknya inilah beberapa hal yang ingin disampaikan Ira Madan—penulis asal Sumatra Utara—melalui karyanya “Ha Nahnu Dza”—novel yang menjadi salah satu nominasi “Islamic Book Award 2018” dalam kategori fiksi dewasa.  Mengambil latar pesantren sebagai setting cerita, Ira Madan berhasil menyuguhkan kisah yang cukup menarik untuk dikaji bagi masyarakat luas.

Novel ini sendiri berkisah tentang empat tokoh laki-laki remaja yang tengah mencari pencarian jati diri, usaha  dalam meraih mimpi, dengan berbagai aspek masalah  keluarga yang tengah di hadapi. Ada Sadam Husein, terlahir dari keluarga sederhana. Karena sebuah insiden dia kemudian menjadi asisten Saiful—putra dari atasan ayahnya. Namun di sinilah masalahnya, Saiful selalu berlaku menyebalkan dan membuat Sadam harus selalu mengalah—bahkan harus bersediah mengerjakan tugas Saiful.  Demi bisa lepas dari Saiful, Sadam akhirnya memutuskan belajar di pesantren. Namun kenyataan tidak terduga, kembali menghantui Sadam (hal 18).

Ada pula Sayydina Ali, seorang mualaf yang masih enggan belajar agama Islam. Andai ibunya tidak menikah dengan seorang ustad, pasti dia tidak perlu repot belajar shalat atau membaca Al-Quran. Namun demi sang ibu, Ali dituntut belajar bahkan dimasukkan ke pesantren. Kemudian ada Daffa Amhar yang mengidap savant syndrome, yang memilih masuk pesantren demi bisa dekat dengan kakan satu ayah dengannya. Dan terakhir ada Nafiz Bunayya, anak dari keluara terpandang—yang karena salah pergaulan, akhirnya dimasukkan orangtunya ke pondok pesantren.

Pada awalnya  baik Sadam, Ali, Daffa dan Nafiz, merasa pesantren hanyalah  sebuah tempat yang kurang menarik. Mereka berada di sana karena tujuan tertentu, bukan karena ikhlas dari hati ingin belajar mendalami ilmu agam.   Tapi semakin lama berada di pesantren, mereka kemudian menyadari pesantren bukanlah tempat yang sepenuhnya buruk, sebagaimana yang sering terdengar di masyarakat yang menggambarkan pesantren seperti penjara suci, karena para santri harus hidup dalam berbagai aturan yang ketat.

Di pesantren mereka malah mulai menyadari tentang pentingnya menuntut ilmu dan meraih mimpi.  Di sana mereka juga belajar tentang cara hidup sederhana dan saling menghargai. Karena hidup dalam satu atap, lambat laun mereka pun menjadi akrab dan tumbuhlah jalinan pesahabatan yang kental. Tidak kalah menarik, kehidupan mereka menjadi berwana ketika ada santriwati yang membuat mereka belajar bagaimana cara menghargai cinta dan menempatkan cinta pada tempatnya.

Sebuah novel yang cukup menarik. Ira Madan menggambarkan kehidupan pesantren yang penuh dengan nilai-nilai keteladan.  Namun lebih menarik lagi jika novel ini diekseskusi lebih matang.  Mengingat tokoh utama di sini adalah laki-laki, tapi gaya bahasanya masih terasa khas perempuan.  Selain itu dalam beberapa bagian masih ada beberapa bagian yang terasa bertele-tele dan loncat-loncat. Namun lepas dari kekurangannya novel yang membidik masalah pendidikan dan kehidupan pesantren,  cukup menarik untuk dibaca dan dikaji.

Banyak ilmu-ilmu yang bisa diteladani untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti ajakan menuntut ilmu dan menghormati guru, “Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu.” (hal 15).

Srobyong, 27 April 2018 

[Resensi] Memetik Hikmah dan Falsafah Kehidupan Pesantren

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 17 Mei 2018


Judul               : Lost in Pesantren
Penulis             : Saeful Bahri
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : xiv + 195 halaman
ISBN               : 978-602-0822-8-15
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Engkau mengharapkan kesuksesan tapi enggan menempuh jalannya. Ketahuilah perahu itu tidak berjalan di atas daratan.” (hal 7).

Sebagaimana kita ketahui, kadang kala banyak masyarakat yang memiliki pandangan bahwa belajar di pesantren itu seperti hidup dalam penjara. Karena di sana terdapat banyak peraturan yang harus kita taati. Kita  harus bangun pagi-pagi untuk salat berjamaah. Kemudian kita harus harus berjibaku dengan Al-Quran, buku  dan kitab-kitab kuning untuk  ditelaah. Tidak ketinggalan, kita harus memberi setoran hafalan kepada para ustadz-ustadzah. Dan jika kita berani melanggar peraturan maka, takziran—atau hukuman akan kita terima.

Kelihatannya segala aktivitas yang ada di pesantren itu nampak melelahkan dan membosankan. Padahal sebaliknya, berbagai aturan yang diterapkan  di pesantren itu memiliki banyak nilai-nilai pembelajaran, hikmah dan falasah yang menarik untuk kita serap manfaatnya. Untuk dijadikan bahan renungan, agar bisa memperbaiki diri.

Buku ini dengan paparan yang lugas, renyah dan menarik, mengajak kita untuk menikmati  perjalanan memetik nilai, hikmah dan falsafah kehidupan pesantren. Memaparkan tentang kisah kehidupan di pesantren yang penuh dengan suka duka, kadang manis dan kadang getir saat para santri menuntut ilmu. Mengalahkan banyak tantangan, berlatih bersikap sabar,  saling mengalah dan siap menghadapi keterbatasan demi menempa diri menjadi pribadi yang unggul berakhlakul kharimah.

Hidup di pesantren secara tidak langsung kita belajar hidup bersama dalam keberagaman suku dan budaya. Mengingat di pesantren santri tinggal bersama santri lainnya yang datang dari berbagai pelosok  negeri. Apalagi  Indonesia kaya dengan keberagaman suku dan budaya. Dan potensi ini harus dibangun agar menjadi kekuatan pemersatu dari keberagaman itu (hal 75).

Salah satu semboyan di pesantren-pesantren modern adalah “Berdiri di atas dan untuk semua golongan.”. Semboyan itu menjadi tali pengikat santri heterogen. Pesantren terbuka untuk siapa saja, tidak peduli warna kulit, suku, bahasa, sampai aliran politik. Secara tidak langsung kehidupan di pesantren itu sesuai dengan salah satu visi yang  ditetapkan oleh UNESCO—badan dunia yang berkelindan dalam urusan pendidikan dan kebudayaan.

Dengan belajar di pesantren kita bisa memperoleh nilai-nilai non kognitif yang bisa menjadi salah satu titik menunju kesuksesan seorang anak. Di antaranya, kemampuan  meregulasi diri. mengingat di pesantren santri sudah terbiasa dididik menjadi seorang yang disiplin waktu, kemandirian dan tanggung jawab (hal 80). Kemudian, kemampuan mengendalikan perhatian dan perbuatan—karena ketika hidup dipesantren, santi dituntut mandiri dan bisa menjaga lingkungan sekitar. Mampu mengelola daya tahan (persistensi), bisa menunda kenikmatan, mampu menghadapi tekanan dan mampu  menjalankan rencana.

Dengan kata lain pesantren membentuk mental belajar dan mental hidup. Jika anak-anak dididik dan ditempa dengan sikap-sikap tersebut, pada akhirnya anak akan berhasil dalam pendidikan dan karir (hal 83).  

Pesantren merupakan salah satu model pendidikan yang ada di Indonesia yang memiliki karakter yang dapat menunjang proses pembentukan kecerdasan adversitas—yaitu kecerdasan dalam menghadapi kesulitan dan tantangan hidup. Karena di pesantren kita diajarkan hidup mandiri, disiplin, memiliki daya tahan dan tempaan untuk hidup baik dalam keadaan suka atau duka (hal 95).
Dan pesantren adalah ladang yang tepat untuk menanamkan  nilai-nilai luhur, mendidik santri dengan akhlakul karimah. Dalam pandangan Munif Chatib, pesantren memiliki kekuatan spiritual dan emosional dan itu baik untuk perkembangan karakter anak. Maka tepat jika pesantren sangat teguh dengan prinsip, “Memelihara nilai-nilai lama yang masih baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik.”  (hal 99).

Sebuah buku yang menarik dan membuka banyak wawasan.  Melalui buku ini kita diajak mengenal lebih dekat kehidupan pesantren yang selain menunjang ilmu pengetahuan juga menunjang pendidikan akhlak. Mengingat akhlak  adalah pondasi kuat yang harus dimiliki setiap orang. “Jika akhlak itu telah sirna maka suatu bangsa akan binasa.” (hal 101).

Srobyong, 21 April 2018

Wednesday, 6 June 2018

[Resensi] Belajar Menjadi Orangtua yang Sabar dan Kreatif

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 13 Mei 2018


Judul               : Seberapa Capek Jadi Orangtua dan Cerita Lainnya
Penulis             :  Niken Purwani, dkk
Penerbit           : Lingkarantarnusa
Cetakan           : Pertama, Juni 2017
Tebal               : x + 214 halaman
ISBN               : 978-602-6688-01-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Sering kita mendengar bahwa menjadi orangtua itu sebuah tantangan berat.  Kita dituntut mengetahui berbagai pengetahuan tentang bagaimana cara mengasuh anak yang baik.  Kita akan dibuat repot dengan berbagai keperluan anak, dari memberi ASI, menganti popok hingga masalah urusan bersih-bersih.  Selain itu orangtua juga harus menjadi madrasah pertama bagi anak. Di mana kita  dituntut pintar dalam mendidik karakter anak, memberi teladan yang baik, agar kita tidak salah dalam memberi contoh.

Tantang selanjutnya adalah stok kesabaran yang harus kita siapkan ketika menghadapi pertumbuhan anak. Melihat anak tumbuh kembang dengan segala keaktifan dan kreativitas yang mereka miliki. Bagaimana cara kita menjelaskan berbagai persoalan yang  kadang sulit dimengerti anak, dengan sususan bahasa yang mudah dicerna, atau tentang bagaimana menanggapi rasa ingin tahu anak yang begitu tinggi. Suka duka menjadi orangtua, meski memang kadang membuat kita lelah, namun dari sana juga, kita juga belajar arti kehidupan dan belajar menjadi sosok yang lebih sabar dan kreatif.

Buku ini terdiri dari 25 kisah nyata tentang suka duka yang dialami para ibu—orangtua dalam mendidik dan mengasuh anak. Sebuah buku yang mengajak kita memahami tentang suka duka menjadi seorang ibu atau orangtua.  Bahwa sesungguhnya peran kita menjadi orangtua secara tidak sadar, selain membimbing dan merawata anak, kita juga belajar menjadi pribadi baru yang lebih peka, peduli dan penuh kesabaran.
Sebut saja kisah berjudul “Seberapa  Capek Jadi Orangtua?” yang ditulis oleh Dian Nofitasari.  Dia mengisahkan, meski  dia harus lelah dan capek ketika kita menjadi orangtua—di mana dia harus siap melakukan berbagai hal, dari menemani anak bermain, memasak, mencuci baju, membersikan rumah, dan banyak pekerjaan lain yang harus dilakukan. Akan tetapi semua pekerjaan itu tidak pernah membuatnya capek atau mengeluh, Karena semua yang dia lakukan adalah demi anak-anak tercinta. Meski kadang dia sempat mengeluh, hal itu tidak akan berlangsung lama, karena keberadaan anak adalah sumber energi positif dan motivasi orangtua untuk terus  berjuan (hal 4).
Ada pula kisah berjudul “Punya Anak = Tak Punya Waktu?” karya Vira Luthfia Annisa.  Dia memaparkan meski waktunya terpakai cukup banyak dalam urusan merawat anak, nyatanya Annisa mampu menikmatinya. Baginya punya waktu atau tidak adalah bagaimana cara kita memanage waktu itu sendiri.  Apalagi kebersamaan dengan anak yang sedang mengalami fase tumbuh kembang, adalah masa-masa terindah. Karena di sana tersimpan kelucuan, keluguan yang tidak akan ditemukan ketika anak sudah tumbuh dewasa (hal 68).
Tidak kalah menarik ada kisah berjudul “Dua Sisi yang Berbeda” karya Niken Purwani. Sadar atau tidak sebagai orangtua kita sering memaksakan kehendak pada anak. Kita sering meminta anak mengikut hal yang kita sukai. Begitu pula yang dilakukan Niken kepada putrinya. Dia mendidik Aisha untuk menyukai Bahasa Inggris—yang merupakan basic Niken. Namun siapa sangka Aisha ternyata lebih menyukai Bahasa Arab. Di sinilah orangtua harus belajar menghargai apa yang disukai anak, dengan tidak memaksakan kehendak. Orangtua harus memberi kesempatan anak untuk berkembang (hal 201).
Selain tiga kisah tersebut, masih banyak kisah-kisah lainnya yang tidak kalah menarik. Semua memiliki keunikan masing-masing, yang mampu membuat kita ikut terawa dan terhanyut dengan kisah-kisah yang termaktub di sini. Di sini kita diajarkan untuk menjadi pribadi yang lebih sabar dalam merawat dan mendidik anak.
Hanya saja dalam buku ini masih saya temukan beberapa kesalahan tulis, serta font penulisan judulnya kurang menarik karena membuat kita kesulitan dalam membaca. Namun lepas dari beberapa kekurangannya buku ini cukup menghibur dan banyak memberi wawasan tentang pengalaman menjadi orangtua dan suka duka yang pernah dialami para penulis.
Srobyong, 20 April 2018

Thursday, 24 May 2018

[Resensi] Mengenal Kehidupan Bung Hatta yang Menginspirasi

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 11 Mei 2018


Judul               : Hatta : Aku Datang Karena Sejarah
Penulis             : Sergius Susanto
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 364 halaman
ISBN               : 978-602-402-096-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Univeritas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“..., setelah DPR yang dipilih rakyat mulai bekerja dan konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Segera, sesudah konstituante dilantik, saya akan meletakkan  jabatan itu secara resemi.” (hal 13).

Dibuka dengan prolog yang menarik, buku yang membahas tentang kehidupan salah satu proklamator Indonesia—Mohammad Hatta, buku ini sangat patut dibaca bagi semua kalangan. Sergius Susanto menghidupkan kisah perjalanan kehidupan Hatta lewat jalinan  kata yang lugas,  renyah dan aktual. Kita diajak mengenal lebih dekat sosok yang kerap disebut sebagai Gandhi of Indonesia, karena gaya berpolitik Hatta itu selalu mengedepankan perdamaian.

“Penderitaan seharusnya membukakan mata pada makna kemanusiaan. Tapi mengapa orang-orang istana justru gemar menciptakan kesakitan pada rakyat banyak?” (hal 23).

Sedari awal terjun dalam organisasi politik, Hatta sudah siap dengan berbagai konsekuensi yang akan dia dapat. Termasuk ketika dia dijebloskan di penjara Belanda. Lalu tidak berselang lama, dia dibuang di Digul, Banda Niera, Penjara Glodok hingga Pulau Bangka. Namun semua perlakuan jahat yang dilakukan Belanda, tidak membuat semangat juang Hatta surut. Dia malah semakin terpacu untuk melakukan pergerakan.

Bersama Syahrir, Hatta bahkan membangun sebuah organisasi yang diberi nama Pendidikan Nasional Indonesia—PNI  yang bertujuan mengumpulkan kekuatan baru  lewat pikiran dan mental anggotanya. Dia yakin dengan pendidikan akan mampu membukakan mata hati terhadap banyak aspek dalam kehidupan ini (hal 163).

 “Rakyat kita tertalu lama ‘dididik’ tentang cita-cita umum dan dendang persatuan. Cara didik yang keliru mengajarkan asas mana yang harus dipakai. Karenanya, kita wajib memajukan pendidikan baru dengan asas yang terang.” (hal  214).

Pandangan ini sangat berbeda dengan  Soekarno yang lebih mengedepankan pada mobilisasi masa.  Namun begitu, karena memiliki tujuan yang sama untuk lepas dari penjajah, mereka pun saling bahu membahu dalam pergerakan. Hingga akhirnya mereka berdiri bersama untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka pun kemudian ditunjuk sebagai presiden—Soekarno dan wakil presiden—Mohammad Hatta.

Hanya saja, setelah  menjabat sebagai wakil presiden selama sebelas tahun, tiba-tiba Hatta memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Dia memilih menjadi rakyat biasa. Dia sudah tidak kuasa lagi melihat berbagai penyelewengan wewenang di istana.

“Kita selalu menggembar-gemborkan, bahwa negara kita berdasarkan pancasila, tetapi di mana keadilan, perikemanusiaan dan demokrasi yang sebenarnya. Apa  yang terjadi? Di masa lalu orang-orang pergerakan berjuang untuk mematahkan penindasan dan kezaliman kolonial Belanda. Kini, pemerintah yang merdeka justru mengunci ranah kekebesan rakyatnya. Adakah demokrasi, kalau orang merasa takut, harus tutup mulut, kritik tidak diperbolehkan, sehingga berbagai hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan berlaku leluasa?” (hal 296).

Membaca buku ini seperti memasuki langsung masa lalu, tentang perjalanan Bung Hatta selama masa pergerakan. Semangat juang Bung Hatta nampak jelas terpancar melalui kisah ini. Dialah sosok pahlawan yang bersahaja,  adil, peduli dengan pendidikan rakyatnya juga menghargai kedamaian. 
Buku ini secara tidak langung menjawab berbagai rasa penasaran saya tentang kehidupan Bung Hatta, yang memang dalam berbagai literatur jarang dibahas. Bahkan dalam buku materi sejarah. Berbanding terbalik dengan Soeharto yang mana sudah sangat banyak buku yang membahas kisah hidup, perjuangan juga pemikiran dari berbagai sisi.

Secara keseluruhan buku ini memang sangat asyik dinikmati. Bahasa renyah dan tidak sukar dipahami. Hanya saja saya merasa ada bagian yang tidak runtut, bahkan terkesan loncat-loncat, sehingga membuat saya cukup kaget dengan pergantian lokasi atau cerita yang tiba-tiba. Namun lepas dari kekurangannya buku ini tetap rekomendasi untuk dibaca.

Melalui kisah ini, kita dapat meneladi sikap hidup Bung Hatta yang sangat menginsprisai. Kita diajak menjadi pribadi yang tidak mudah putus asa, juga gemar membaca. Kita juga diajak untuk bersatu dan berjuang bersama untuk mencapai satu tujuan.

 “Karena itu, setiap perpecahan, dalam bentuk apa pun, sangat ditentang. Hanya melalui persatuan putra-putra Indonesia kita dapat mencapai tujuan.” (213).

Srobyong, 8 Maret 2018