Tuesday, 13 April 2021

Mengubah Mindset Agar Lebih Berani dan Bahagia

 

Sumber gambar : pinterest, edit by photogrid.

            Masa pandemi merupakan  masa yang penuh kejutan juga penuh cerita. Karena di masa ini kita dituntut untuk beradaptasi dalam segala hal. Dari harus memakai masker, menjaga jarak, menjaga daya tahan tubuh, serta siap melakukan aktivitas secara terbatas. Artinya kita tidak dapat pergi ke berbagai tempat sesuka hati. Bahkan untuk bekerja pun dilakukan dari rumah.

            Kita harus mulai terbiasa dengan kehidupan baru, tersebut. Kita tidak dapat protes, karena dunia tengah terguncang karena pandemi. Untuk waktu yang tidak terbatas kita diharapkan untuk menghindari kerumunan. Masa-masa bebas seperti  dulu, tentu akan menjadi masa yang akan kita rindukan. Berkumpul dengan teman-teman, bebas mengunjungi toko buku, berlibur, bersekolah dan kegiatn lainnya.

Bagi saya sendiri, masa pandemi adalah masa penuh tantangan. Selain harus mulai beradaptasi dengan kebiasan baru, pada saat itu, Allah tengah memberikan anugerah yang luar biasa di rahim saya. Kebahagiaan dalam menjaga kesehatan dan mempersiapkan segala keperluan di masa kehamilan pun menjadi tumpang tindih dengan berbagai kekhawatiran karena pandemi.

            Jujur saat itu saya merasa takut dan kalut. Berbagai pertanyaan menggema di kepala. Mengingat sejak adanya pandemi cara pemeriksan—baik di bidan, klinik atau rumah sakit mulai berubah.  Belum lagi proses persalinan konon katanya dipersulit. Di mana   saya melihat dan mendengar  dari tetangga serta saudara yang kebetulan mengalaminya sendiri. Misalnya saja pengalaman tetangga saya. Meski ia seorang petugas medis, ketika ia reaktif terhadap virus corona, ia mendapat perlakuan yang kurang baik dari salah satu rumah sakit besar di daerah saya.   

Ada juga sepupunya saya. Ia sempat divonis harus melalukan cesar, karena masalah pertumbuhan bayi. Sepupu saya meski kaget dan terkejut tetap menyiapkan diri dan menjalani periksaan sesuai prosedur dokter kandungan. Namun, ketika hasil tes rapid telah keluar, dan ia reaktif, perlakuan dokter yang mulanya baik pun berubah. Bahkan dalam menangani  konsultasi sang dokter menjawab via telepon. Dan sepupu saya sempat dioper ke sana ke mari untuk melakukan operasi cesar.  Astagfirullah hal adzim, perasaan saya semakin tidak menentu.

Beruntung saya memiliki buku-buku gramedia, yang sedikit banyak membantu saya dalam memahami tentang masalah kandungan juga membuat pikiran saya lebih rileks. Andai saya tidak menyalurkan kekhwatiran saya pada hal-hal lain, tentu ketakutan saya akan berdampak pada kehamilan saya, dapat membuat depresi hingga keguguran. Padahal sudah cukup lama saya menanti kehadiran buah hati setelah mengalami miskram.

Buku “9 Bulan Menjalani Kehamilan dan Persalinan yang Sehat” karya  dr. Irfan  Rahmatullah, Sp.OG dan dr. Nurcholid Umam Kurniawa, M.So.Sc, benar-benar membantu saya selama masa kehamilan. Buku ini dapat menjawab berbagai pertanyaan seputar kehamilan dan persalinan dengan detail. Bahkan tentang hal-hal yang mungkin tidak akan dijelaskan oleh dokter kandungan atau pun bidan. Melalui buku tersebut saya dapat mengetahui  bagaimana perkembangan bayi dalan kandungan,  rumus dalama mengetahui perkiraan jenis kelamin dalam kandungan, mamahami hal-hal dasar dalam kehamilan, bagaimana menjalani pola hidup sehat, masalah persalinan dan apa saja yang perlu disiapkan, masalah nifas dan banyak lagi.

Sumber gambar : Ratnani Latifah

Selain buku ini  saya juga sangat terbantu dengan membaca buku “Chiken Soup fot for the Soul; Think Positive” karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen dan Amy Newmark. Melalui buku ini saya banyak menemukan nilai-nilai positif dalam kehidupan. Apa pun masalah yang kita hadapi, ketakutan yang  datang silih berganti, dapat diatasi jika kita selalu berpikis positif dan selalu bersyukur dengan apa pun kondisi kita.

Sumber gambar : Ratnani Latifah 


Jujur saja ketika pandemi datang, banyak ketakutan yang mulai meneror isi kepala saya. Banyak pertanyaan bagaimana ... bagaimana yang menggema di kepala. Bagaimana kalau nanti virus covid-19 menyerang saya atau keluarga? Apalagi saat itu, adik saya posisinya tengah merantau di Jakarta dan Semarang—di mana dua kota tersebut cukup banyak yang terpapar covid.

Tidak hanya ketakutan soal masalah covid, saya pun merasa cemas dengan keadaan janin juga bagaimana proses melahirkan kelak. Karena jujur saja sejak pandemi menyerang, proses medis di daerah saya entah kenapa menjadi sangat sulit. Banyak cerita tentang ibu hamil yang terlantar karena kurang sigapnya penangananan dari tim medis. Ada ibu hamil yang sudah dirujuk ke rumah sakit, tetapi di sana tidak dirawat dan malah pulang. Ada pula ibu hamil yang karena tidak segera ditangani, ia melahirkan di lorong rumah sakit. Astagfirullah hal adzim... hati saya begitu miris setiap kali mendengar berita-berita semacam itu.

Siapa yang tidak takut dan merasa cemas ketika posisi saya sendiri hampir sama dengan mereka? Ya Allah, rasanya sungguh nano-nano. Maka buku “Chiken Soup fot for the Soul; Think Positive” sangat membantu saya untuk belajar memiliki pikiran yang lebih positif.

Ada dua quote yang saya sukai ketika membaca buku ini.

Pertama, “Ubahlah pikiran, maka kita akan mengubah dunia kita.” quote ini seolah berpesan, agar saya selalu memiliki mindset yang baik.

Kedua, “Pikiran positif apa pun akan lebih baik daripada pikiran negatif.” Sedangkan quote ini secara terbuka mengingatkan tentang pentingnya selalu berpikir positif dalam keadaan apa pun.

Melalui buku ini saya juga belajar untuk mengurangi ketakutan dengan mengalihkannya pada kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Saya pun memilih tenggelam dalam dunia buku dan menulis. Karena memang itulah dua dunia yang saya geluti. Membaca adalah candu yang tidak tergantikan. Karena bagi saya dengan membaca gerbang pengetahuan akan terbuka lebar, kegelapan akan mendapat sinar dan jiwa yang kerontang akan mekar.

Alhamdulillah di masa pandemi saya berhasil mengkhatamkan banyak buku terbitan gramedia. Buku-buku itu menjadi teman yang begitu menyenangkan dan sedikit banyak membuat saya lupa akan berbagai kekhawatiran yang terus bergelantung di dada.

Begitu pula dalam menulis. Terapi menulis cukup membuat fokus saya teralihkan. Meski di sini, saya pun harus menghadapi tantangan baru. Mengapa? Karena dunia tulis menulis pun mendapat dampak yang cukup signifikan dari adanya pandemi.  Salah satunya cukup banyak media yang mulai tumbang. Tidak hanya itu banyak penerbit yang mulai menunda menerbitkan buku cetak akibat imbas pandemi.

Beruntung ada buku “Jangan Mudah Menyerah; Kumpulan Inspiratif dari Jack Ma, Pendiri Alibaba” yang disunting Suk Lee & Bob Song dan buku “The Path Made Clear” karya  Oprah Winfrey. Meski kedua buku ini tidak membahas tentang motivasi menulis, tetapi kedua buku ini banyak memberikan energi positif bagi saya untuk tetap teguh dalam dunia tulis menulis. Kedua buku ini mengajarkan banyak hal agar saya tidak mudah menyerah karena keadaan. Saya belajar tentang pentingnya menjalani dan nikmati setiap proses yang kreatif dalam menulis. Saya juga belajar untuk menentukan tujuan hidup dan  berusaha yang terbaik untuk  meraihnya.

Sumber gambar : Ratnani Latifah 

Dalam dialog dengan Kazuo Inamori, pada 28 Oktober 2008, Jack Ma pernah berkata, “Saya bukan orang yang paling berbakat. Penampilan, kemampuan, dan pendidikan saya jauh dari yang terbaik secara umum. Namun, saya memahami sifat dasar manusia. Anda harus mengendalikan yang negatif dan membangun yang positif agar meraih kesuksesan. Saya berusaha melakukannya melalui semangat berkelompok dan misi bersama.”

            Apa yang diungkapkan pendiri Alibaba ini sungguh mencegangkan. Ia mengingatkan bawah sukses itu tidak hanya soal bakat, tetapi juga adanya usaha dan ketekunan. Kemudian tidak kalah penting selalu berpikir positif. Dan saya rasa semua itu benar sekali. Selama menekuni dunia menulis, saya melihat orang-orang yang tekun dan tidak mudah menyerah cenderung akan berhasil dibandingkan mereka yang memiliki bakat tapi tidak punya semangat juang.  Kalimat itu memotivasi saya untuk terus menulis dan menulis. Karena di sanalah memang panggilan jiwa saya.

            Selain buku-buku non-fiksi. Selama pandemi saya juga ditemani dengan buku-buku fiksi terbitan Gramedia yang menarik dan menyenangkan. Di antaranya Selena dan Nebula karya Tere Liye, yang seperti biasa ceritanya selalu seru, penuh makna dan bikin ketagihan. Membaca novel karya sang maestro sangat membantu meringankan beban selama menghadapi pandemi juga masa-masa kehamilan. Membaca membuat pikiran jadi lebih rileks dan tenang.


Sumber gambar : Ratnani Latifah 

            Maka tidak salah jika bagi saya membaca itu semacam terapi jiwa, agar jiwa tetap sehat dan waras. Membaca itu adalah vitamin, yang mampu memberikan suntikan semangat untuk berbebah, menjadi pribadi yang lebih baik.

            Terlepas dari masalah kehamilan, membaca buku-buku gramedia ini mengajarkan saya tentang pentingnya mengubah mindset di masa pandemi. Jangan pernah berbikir negatif, takut ini dan itu, takut mencoba sesuatu atau takut melakukan hal-hal di luar zona nyaman kita. Akan tetapi beranilah! Selalu berpikir positif dan yakin mampu. Maka dunia bisa kita taklukkan.

            Begitulah. Masa Pandemi tidak membuat saya berhenti membaca dan menulis. Meski di masa pandemi, mulai banyak perubahan yang harus kita hadapi—khususnya pada bidang penerbitan. Karena setahu saya beberapa penerbit ada yang mulai mengurangi menerbitkan buku cetak dan beralih ke ebook.

            Namun di masa pandemi pula, saya menemukan jalur baru tentang penulisan buku. Apa itu? Menulis buku pengayaan, yaitu  buku penunjang  atau pendamping yang digunakan siswa untuk belajar, selain mengacu pada buku utama.  Di mana dengan membaca buku pengayaan anak akan mendapat lebih banyak pengetahuan dan wawasan dengan cara yang lebih menyenangkan.  Bukankah menyenangkan sekali bisa berkontribusi melahirkan karya dan dibaca oleh anak bangsa di seluruh negeri?  Saya sendiri sangat bersyukur, selama berkesempatan belajar mengenal buku pengayaan—bagaimana cara pengiriman dan prosesnya—alhamdulillah ada beberapa naskah,  yang saya ajukan telah diacc dan tinggal menunggu untuk dinilaikan.

            Untuk proses penulisan buku pengayaan ini tidaklah mudah. Ada banyak hal yang perlu kita perhatikan ketika menulis buku pengayaan, salah satunya harus sesuai dengan kompetensi dasar (KD) sesuai jenjang—dari SD, SMP dan SMA/SMK.  Selain itu ketika menulis buku pengayaan kita harus sabar menunggu penilaian dari PUSKURBUK (Pusat Kurikulum dan Perbukuan).  Dan tidak ketinggalan memiliki sertifikat menulis lebih diutamakan, ketika menulis buku pengayaan.

            Yah, masalah sertifikasi penulis ini sempat menjadi perdebatan di jagat media sosial. Ada pro dan kontra. Dan itu sangat wajar. Tapi bagi saya yang kebetulan sedang menulis buku pengayaan, maka saya harus siap untuk melengkapi persyaratan penilaian, khususnya untuk buku pengayaan nonfiksi.

            Jujur awalnya saya takut dan tidak pede dengan kemampuan saya. Siapa sih, saya ini? Soal kepenulisan pengalaman saya masih sedikit. Buku-buku karya saya pun belum cukup banyak. Saya sempat maju mundur untuk mengikuti ujian sertifikasi penulis. Takut hasilnya tidak kompeten.

            Namun karena membaca buku-buku di atas—khususnya buku Chiken Soup fot for the Soul; Think Positive, buku Jangan Mudah Menyerah; Kumpulan Inspiratif dari Jack Ma, Pendiri Alibaba, dan  buku The Path Made Clear, saya mulai berpikir ulang. Kalau tidak sekarang kapan kamu berani? Bagaimana mau maju jika terus terkurung dalam rasa takut dan tidak percaya diri? Bukankah kalau gagal dapat mencoba lagi?

“Ada banyak hal yang harus aku buktikan kepada diriku sendiri. Salah satunya adalah bahwa aku bisa menghidupi hidupku tanpa takut.”

Itu adalah salah satu quote yang saya sukai dalam buku  The Path Made Clear. Ia seolah memberikan semangat dan dorongan untuk menjadi pribadi yang berani.

            Akhirnya saya pun menguatkan niat dan mengikuti ujian sertifikasi, apa pun hasilnya. Jika dulu ujian ini dilakukan via luring atau tatap muka secara langsung, maka di masa pandemi ujian dilakukan via daring. Meski begitu, tetap saja ada rasa tegang dan takut. Apalagi saya juga harus mengamankan dedek bayi, agar fokus selama melakukan ujian.

            Dan puji syukur kepada Allah, yang telah  memudahkan saya. Dedek tidak rewel, dan  meski sempat ada drama mati lampu, Allah telah memudahkan saya dalam menjawab pertanyaan yang diajukan asesor. Bu asesornya  sangat baik dan bersahabat. Alhamdulillah ternyata saya diganjar kompeten. Rasanya sungguh bersyukur. Meski saya tahu, hasil itu bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya dari sana saya harus terus belajar  untuk menulis yang lebih baik lagi.

Sumber gambar : Ratnani Latifah 

            Pokoknya terima kasih banyak Gramedia, yang telah menghadirkan buku-buku apik, yang sangat bermanfaat, memberikan banyak motivasi dan inspirasi untuk terus memperbaiki diri di masa pandemi.  Sehingga saya bisa keluar dari zona nyaman dan berani mencoba hal-hal baru. Dapat beradaptasi dengan baik di masa yang penuh tantangan. 

             Terima kasih karena dengan membaca buku gramedia, saya  belajar mengelola mindset agar selalu berpikir positif. Sembilan bulan perasaan saya campur aduk ketika hamil—takut akan berbagai hal, tetapi saya selalu berusaha berpikir positif.

Saya ingat sekali, ketika  usia tujuh bulan posisi bayi masih melintang, lalu sempat sunsang dan plasenta berada di posisi yang hampir menghalangi jalan lahir. Jika posisi bayi tidak berubah, bisa jadi saya harus melakukan operasi. Namun saya selalu berpikir positif, bahwa saya dapat melahirkan dengan normal dan lancar.

 Dan meski sempat ada drama ditolak di puskesmas ketika melakukan pemeriksaan—padahal kondisi saya sudah sangat payah—tetapi proses persalinan berjalan lancar. Allah telah menyiapkan tempat terbaik, dapat melakukan  persalinan dengan porses yang dimudahkan di tempat seorang bidan yang baik hati. Kekuatan pikiran positif membawa kita pada jalan yang positif juga. 

Sumber gambar : Ratnani Latifah. Sehat selalu ya, Dek.


Srobyong, 13 April 2021.

           

           

           

           

             

 

Wednesday, 31 March 2021

Resensi - Kisah Anak Disleksia yang Merindukan Ibu

 

Sumber : Ratnani Latifah


Judul                : Membeli Ibu

Penulis             : Riawani Elyta

Penerbit          : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : Pertama, Maret 2021

Tebal               : 240 halaman

ISBN                 : 978-623-253-033-1

Harga              : 75.000

Peresensi         : Ratnani Latifah

“Membeli Ibu” merupakan novel juara pertama pada Kompetisi Menulis Indiva 2020. Dari segi judul novel ini memang sudah mengundang penasaran. Saya sendiri ketika melihat judul ini sebagai salah satu pemenang langsung bertanya apa maksud dari kata “Membeli Ibu” Dan akhirnya rasa penasaran itu terjawab setelah membaca novel ini.

Novel ini sendiri menceritakan tentang Athifa—lebih sering disapa Ifa—yang merupakan penderita disleksia, yaitu gangguan  yang terjadi karena adanya kelainan saraf pada otak, sehingga  mengalami kesulitan dalam  proses belajar yang ciri-cirinya  kesulitan saat menulis, membaca dan mengeja. Namun Ifa ini selain kesulitan dalam membaca ia juga kesulitan dalam mengenal arah.  Oleh sebab itu ia pun jadi mudah tersasar ketika bepergian.

Karena kekurangannya itu, ia harus rela tinggal kelas selama dua kali. Jadi tidak heran ketika usianya sudah empat belas tahun, ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Karena itu pula, banyak orang yang menganggap Athifa aneh. Sehingga ia pun selalu menjaga jarak dari orang-orang.

Suatu hari karena keadaan Ifa dibawa bibinya untuk tinggal di Panti Asuhan Al-Fitrah. Sejak ditinggal sang ibu menjadi TKW, dan ayahnya yang menghilang entah kemana Ifa tinggal dengan Bibik Esih. Namun karena bibinya sudah cukup kesulitan dalam masalah ekonomi, maka terpaksa ia melepas Ifa.  Meski sedih Ifa tidak dapat berbuah apa-apa. Padahal jika ia tinggal dengan bibinya, setidaknya ia dapat menabung. Dan mungkin suatu saat ia dapat bertemu sang ibu, ‘membeli ibunya’ sebagaimana yang pernah ayahnya katakan.

Namun karena berada di panti tersebut, Ifa bertemu Fairus, yang merubah seluruh episode hidupnya. Fairuz, gadis yang penuh semangat, yang ingin menjadi psikolog, yang tidak menganggap kekurangan Ifa sebagai keanehan, Fairuz yang selalu baik terhadapanya. Bersama Fairuz pula pembaca akan diajak menelusuris teta-teki tentang makna dari ‘membeli ibu”

Secara keseluruhan novel ini sangat menarik, seru dan sangat berbeda dari kebanyakan novel yang ada. Selain kisah Ifa, kita juga dapat menemukan kisah Fairuz yang tidak kalah kompleks dan menarik untuk disimak. Gadis yang membangun Taman Baca Sakinah, yang nampak ceria dan kuat ternyata juga menyimpan kesedihan mendalam karena takdir Allah telah membuatnya kehilangan sesuatu yang paling berharga bagi seorang wanita.

Selalu suka dengan novel Mbak Riawani Elyta.  Mbak Ria ini selalu memiliki kisah yang tidak sama dengan kebanyakan penulis lainnya. Misalnya dalam  novel The Secret of Room 403 yang mengangkat tragedi tanjung berdarah 1984 (yang juga termasuk pemenang harapan dalam LMNI 2014). Atau novel Rahasia Pelangi yang mengangkat isu konflik antara gajah dan manusia.  Begitu pula dengan novel ini. Mbak Ria memilih tokoh utamanya sebagai sosok disleksia dan gadis penderita kanker.  

Tidak kalah menarik, dalam novel ini disisipkan  pula isu soal masalah TKW dan bagaimana masyarakat menilai orang hanya dari tampilan luarnya saja. Misalnya saja pada kasus Ifa. Ia dicap bodoh karena kurang tanggap dalam belajar. Padahal ketika ia diajar dengan pendekatan yang berbeda Ifa tergolong sebagai anak yang cerdas.  

Novel ini diceritakan dengan sudut pandang orang pertama bergantian  antara Ifa dan Fairuz. Di mana penggunaan sudut pandang seperti ini tidaklah mudah. Penulis harus konsisten dalam menceritakan masing-masing tokoh agar tidak tertukar. Gaya bercerita antara tokoh Ifa dan Fairuz juga harus berbeda, agar pembaca tidak bingung. Dan saya pikir, novel ini sudah  berhasil. Sejak awal membaca, saya seolah sudah mengenal bagian cerita  Ifa dan Fairuz.

Keunggulan lain dari novel ini adalah bagaimana penulis menyisipkan lokalitas yang sangat kental  dengan menyelipkan kosa kata daeraih, baik dalam narasi cerita  bercerita juga dalam percakapannya. Terlebih lagi gaya bahasa dalam bercerita yang renyah, lugas dan mudah dipahami, semakin membuat pembaca larut dalam menikmati novel ini.

Membaca novel ini benar-benar membuat saya terhanyut, seolah dapat merasakan bagaimana perasaan Ifa yang harus memendam kerindungan sejak kecil pada sang ibu.  Begitu pula bagaimana perasaan Fairuz yang harus menerima takdirnya secara tidak terduga.

Saya merasa novel ini merupakan potret nyata yang masih sering dialami oleh sebagian orang di sekitar kita. Bahwa hidup itu tidak selalu sempurna, akan selalu ada cobaan bagi siapa saja. Melalui novel ini kita dapat mengambil hikmah, sepahit apa pun hidup kita, jika kita mau bersabar, ikhlas dan bersyukur, maka hidup itu akan terasa lebih ringan dan tenteram. Kita dapat belajar banyak hal dari sosok Ifa dan Fairuz. Meski berbeda, mereka menunjukkan tentang sikap gigih, ikhlas  dan sabar ketika menghadapi berbagai cobaan.

Tidak ketinggalan, khas sebagai kisah remaja, di novel ini pun diselipi sedikit masalah merah jambu yang diramu dengan apik oleh Mbak Ria. Kisah Fairus dan Azriel akan membuat kita tersenyum-senyum sendiri ketika membaca. Meski begitu, penulis juga menyisipkan bagaimana pergaulan yang baik antara laki-laki dan perempuan.

“Aku selalu ingat nasihat Abah dan Emak juga Bang Fadli sejak dia mondok, bahwa pacaran itu hanya miliki mereka yang sudah menikah. Jadi kalau aku ingin pacaran, syaratnya hanya satu : menikah.” (hal 102).

Kemudian melalui novel ini pula kita diingatkan untuk selalu menjadi pribadi yang bermanfaat orang lain. Artinya sebagai makhluk sosial kita janganlah egois dengan mementingkan diri sendiri. Jika kita mampu tidak ada salahnya menolong orang yang membutuhkan dengan ikhlas.  Sebagaimana niat baik Fairuz dalam membangun Taman Baca Sakinah—di mana taman baca itu,  tidak hanya sebagai upaya menarik anak membaca, tetapi juga memberikan keguatan seru lain yang membuat mereka betah belajar di sana—atau pun ketika ikhlas membantu Ifa.

 “Akak senang lihat orang bahagia. Akak ini bukanlah baik-baik sangat. Ada satu hadits yang  selalu Akak ingat, Bahwa manusia yang terbaik, adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (hal 203-204).

“Menolong itu harus ikhlas. Jamila  saja selalu ikhlas bantu-bantu Pai meski dia tak sekolah. Harusnya Pai yang lebih berpendidikan, bisa lebih ikhlas dari Jamila.” (hal 62).

Srobyong, 31 Maret 2021

 


Wednesday, 17 February 2021

Resensi - Novel Psikologis; Menganalisis Sebuah Kebohongan


Judul                : Mitomania : Sudut Pandang

Penulis             : Ari Keling

Penerbit          : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : Pertama, Januari 2021

Tebal               : 256 halaman

ISBN                 : 978-623-253-028-7

Harga              : 65.000

Peresensi         : Ratnani Latifah

“Kebohongan yang dilakukan itu tidak baik karena bisa menimbulkan masalah yang lebih besar, menjadi lebih rumit, atau malah membuat masalah baru.” (hal 145-146).

Pernahkah kita menyadari bahwa kebiasaan berbohong ternyata bisa menjadi sebuah penyakit yang mengerikan? Novel yang terpilih sebagai ‘Novel Favorit’ dalam Kompetisi Menulis Novel Remaja Indiva 2019 ini menyibak tentang fakta menarik kebiasaan berbohong.

“Saya menduga kalau Kefi mengidap salah satu penyakit bohong patologis, yaitu mitomania,dan sepertinya  ini yang akut.” (hal 133).

Bisa kita bayangkan apa itu penyakit bohong patologis mitomania? Dengan menarik penulis menceritakan masalah ini dengan latar cerita masa remaja, yang lucu, seru dan tidak terduga.  Kita akan diajak menganalisis kebohongan yang telah dilakukan oleh salah satu murid di SMA Jaya Nusantara.

Kefindra—yang lebih sering disapa Kefi mengaku bahwa selama bersekolah di SMA Jaya Nusantara, ia telah mengalami bulliying—ia mendapat kekerasan verbal, non verbal bahkan secara fisik—oleh Amanda, Lisa dan Morgan. Karena masalah itu, Kefi melaporkan perundungan itu kepada guru Bimbingan  dan Konseling, Pak Joni. Ia menjelaskan secara singkat bagaimana proses perundungan yang ia alami dan menunjukkan bukti legam di pipinya.

Untuk menindak lanjuti pelaporan Kefi, akhirnya Pak  Joni memanggil Amanda, Lisa dan Morgan untuk menyelesaikan masalah. Namun pengakuan yang dipaparkan Kefi, bisa dibantah oleh Amanda, Lisa dan Morgan.

Inilah tantangan yang harus dipecahkan oleh Pak Joni, selalu guru Bimbingan dan Konseling, juga Pak Beni, selaku kepala sekolah. Mereka harus menganalisis cerita dari empat muridnya untuk menemukan siapa sebenarnya murid  mereka yang telah berbohong. Dan kenapa harus sampai melakukan hal semacam itu? Karena dari cara mereka bercerita Pak Joni mencurigai bahwa bisa jadi di antara muridnya ada yang mengalami penyakit kejiwaan akut.

Wow! Menarik dan seru. Ide penulis sangat keren. Saya sudah cukup sering membaca novel remaja, tetapi jarang   penulis yang mengangkat tema  seperti ini. Biasanya kisah novel remaja lebih pada kisah percintaan—dari kesalahpahaman atau pertengkaran lalu berbuah jatuh cinta. Ups.  Namun tidak dengan novel ini, meski genre remaja, tetapi ceritanya benar-benar out of the box. Ada memang selipan kisah cintanya, tapi itu bukanlah point yang diutamakan dalam kisah ini.

Dipaparkan menggunakan alur maju mundur, semakin membuat cerita ini menarik dan penasaran. Meski kebenarannya memang cukup cepat ditemukan, tetapi masalah-masalah lain yang disiapkan penulis pun tidak kalah memukau. Membaca novel ini kita akan diberi banyak kejutan yang tidak terduga—siapa pelakunya dan juga latar belakang masalahnya.

Membaca cerita dan sudut pandang Kefi, Amanda, Lisa dan Morgan secara bergantian, akan membuat kita ikut menebak. Siapa sebenarnya si biang masalah. Mengingat biasanya seorang korban bulliying cenderung penakut dan mudah gugup. Akan tetapi masalahanya selama melihat dan mengamati gerak tubuh keempat murid tersebut, Pak Joni dan Pak Beni sungguh bingung. Karena keempatnya bercerita dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran. Tidak ada tanda-tanda kebohongan.

Secara keseluruhan novel ini sangat menarik. Hanya saja  novel ini lebih terasa tell-nya, karena memang cukup banyak bagian narasi. Mengingat di sini kita seakan-akan menjadi pendengar dari cerita dari para tokoh.  Namun begitu hal itu tidak mengurangi keseruan dalam upaya memecahkan masalah yang ada.  Setiap membalik halaman kita akan bertanya-tanya  siapa yang salah dan apa latar belakang seseorang bisa memiliki penyakit kejiwaan?

“Penyebab  seseorang bisa mengidap mitomania akut ini yang pertama ... kegagalan dalam percintaan, pekerjaan, pertemanan, dan studi bisa menjadi pemicu seseorang berusaha menghindari dari masalah-masalah itu, sehingga dia menjadi pembohong patologis untuk  melarikan diri dari semua yang dialaminya itu. Bisa juga karena faktor kegagalan dalam hidupnya, terkhusus masalah keluarga, di mana semua orang berharap mempunyai keluarga yang harmonis. Terus ... kurang kasih sayang, rasa tidak puas, dan rendah diri juga bisa menjadi penyebab seseorang mengidap mitomania.” (hal 144).

Lepas dari semuanya, saya hanya merasa kurang sreg dengan masalah panggilan seorang ibu pada anaknya dengan panggilan “Dik?” bukankah harusnya, “Nak?”

“Dik, sedang apa?” tanyanya sambil menutup kembali pintu berwarna cokelat itu. (hal 162).

Dari segi salah tulis novel ini cukup bersih. Kayaknya saya hanya menemukan satu kesalahan soal penulisan yang harusnya ditulis kataè tapi ditulis kaya.

“Jadi, cerita fakta itu bercampur dengan khayalanannya,” kaya Pak Joni kembali menganalisis. è Kata  (Tapi itu nggak terlalu menganggu dengan jalannya cerita). (hal 40).

Bagi yang suka misteri psikologis, saya sarankan untuk membaca novel ini.  Apalagi dari novel ini kita akan menemukan banyak sekali pembalajaran hidup, motivasi dan inspirasi. Di sini kita belajar bahwa cara mendirik anak dan keluarga yang harmonis itu akan berpengaruh pada sikap dan kondisi jiwa anak. Lahir dalam keluarga broken home, memiliki orangtua yang sering melakukan kekerasan itu ternyata bisa memicu kondisi psikologi yang buruk bagi anak.

Oleh sebab itu, bagi orangtua sebelum memilih berpisah seyogyanya harus memikirkan bagaimana dampaknya kepada anak. Kalau pun jalan terbaik memang pisah, sebaiknya anak tetap diberi kasih sayang sebagaimana mestinya.  Karena rasa kurang kasih sayang pun berpengaruh pada jiwa anak. Sosok ayah dan ibu tetap selalu dibutuhkan anak—di mana pun dan kapan pun. Novel ini jleb banget soal masalah parenting. Setidaknya setelah membaca ini kita harus mulai belajar soal parenting juga.

Selain itu, melalui novel ini kita bisa belajar bahwa kita tidak boleh terlalu memanjakan anak dan menggunakan kekuasaan untuk menyelesaikan masalah. Di sini penulis menyindir soal masalah kedudukan orangtua yang sering membuat seseorang merasa sombong—contohnya dari sikap Amanda.

Kita pun diingatkan untuk menjadi orangtua yang bijaksana dengan tidak memaksakan kehendak—sebagaimana sikap Bu Amira, ibunya Kefi.  Orangtua harus bijak dan bertanggung jawab.  Lalu ada pula sentilan agar kita tJangan menjadi pembohong, berani mengakui kekalahan, jangan sombong dan banyak lagi.

Lebih dari itu, pengetahuan kita pun semakin bertambah karena kita jadi mengetahui soal mitomania.

“Mitomania akut ini adalah kebohongan patologis paling ekstrem. Karena penderitanya menganggabungkan fakta dan fantasi. Bisa jadi, dia menceritakan kebohongan mengenai sesuatu yang dikhayalkan atau diimpikannya. Dia menganggap kebohongannya itu adalah sebuah fakta, sehingga dia enggak bisa membedakan mana fiktif dan kenyataan.” (hal 133).

Srobyong, 17 Februari 2021


 

Resensi - Memaknai Hidup Lewat Pendakian

Dimuat di Kabar Madura, 30 Oktober 2019

Judul               : Altitude 3159 Miquelli

Penulis             : Azzura Dayana

Penerbit           : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : Pertama, September 2019

Tebal               : 288 halaman

ISBN               : 978-602-495-252-5

Peresensi         : Ratnani Latifah. Penulis dan penikmat buku asal Jepara


Hidup itu seperti jalur pendakian. Kadang mulus, kadang juga penuh jalan terjal dan tantangan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Jika ingin sukses dan berhasil meraih puncaknya, kita harus siap untuk terus bergerak  dan berjuang. Karena  ketika kita memilih stagnan, maka kita akan terus berada di jalur aman dan tidak akan berkembang, apalagi sekadar mencicipi keberhasilan.


(Biasa setelah membaca novel Mbak Azzura Dayana, tuh langsung pengen selancar mencari lokasi traveling yang dikunjungi. Salah satunya Gunung Prau. Pixcabay/ Mas Fajar) 

Bisa dibilang novel ini sedikit banyak tidak jauh berbeda dari dua novel sebelumnya—Altitude 3676; Tahta Mahameru atau  Altitude 3088; Rengganis—di mana keduanya sama-sama menawarkan tentang perjalanan pendakian. Namun jangan khwatir meski mengusung tema yang serupa, kisah yang dihadirkan penulis ini sangat berbeda.  Apalagi dengan bumbu kisah cinta yang tidak kalah seru dari pendakian itu sendiri. Novel terbaru karya penulis asal Palembang ini, sangat menarik untuk kita baca. Membaca novel ini selain kita bisa melihat dan menikmati asam manis perjuangan meraih cinta dan meraih puncak Gunung Dempo, lewat kisah ini, kita juga bisa menemukan makna kehidupan yang kadang sering kita lupakan.

(Kalau ini kawah putih di Gunung Patuha. Pixabay/Abietams) 

Fathan dan Hilda, sudah bersahabat sejak kecil. Sejak dulu mereka selalu berada di sekolah yang sama, dan tinggal di daerah yang sama. Namun perjalanan waktu, membuat kehidupan mereka berubah. Hilda yang dulunya bak putri jelita, kini berubah menjadi gadis gunung yang tangguh dan gemar bertualang. Tidak tanggung-tanggung Hilda bertualang mendaki satu gunung ke gunung yang lain.


(Kalau ini Gunung Dempo. Travelingyuk/ Wildan Carbon) 

Sebaliknya Fathan yang dulu dianggap dekil karena terlahir dari keluarga yang kurang mampu, kini tumbuh menjadi sosok yang elit yang sukses. Meski memiliki kegemaran yang sama dalam urusan traveling, tapi Fathan lebih mencintai keindahan bangunan-bangunan klasik nan megah di negara-negara yang dipenuhi bangunan tinggi dan gemerlap teknologi. Dalam kamusnya tidak ada enaknya pergi bersusah payah mendaki gunung. Namun janji lama yang pernah ia ucapkan pada Hilda serta kesadaran yang terlambat tentang perasaannya sendiri, menuntun Fathan untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini ia nikmati. Fathan  yang awam dan belum pernah sekalipun mendaki gunung, nekat ikut bergabung dengan tim Hilda, demi ingin mendapat perhatian gadis itu.


(Dan ini Danau Thebat Gheban. Tangkap Layar Pinterest/KSMTour) 

Bersama Lukman sang ketua, Hilda, Doni, Zen dan juga Rifhan, Fathan memulai babak baru dari perjalanan yang jauh dari kebiasannya. Ia harus siap dengan trek-trek  pendakian di Gunung Dempo, yang bisa dibilang sangat mendebarkan.


“Trek pendakian  termasuk cukup sulit, terjal, dipenuhi akar dan juga kadang bebatuan. Hanya ada satu bonus yaitu ketika mendekati puncak pertama. Untuk membantu memanjat trek, bisa berpegangan pada sisa batang pohon mati yang ada di kiri kanan.” (hal  96).


Secara keseluruhan novel ini sangat menarik dan seru.  Penulis berhasil menghadirkan ruh petualangan yang benar-benar nyata. Membaca buku ini kita seperti ikut terlibat langsung dalam perjalanan panjang dalam pendakian. Kita akan ikut merasakan ketegangan, ketakutan juga kebahagiaan setiap kali para tokoh berhasil menyelesaikan satu trek ke trek lainnya.


Dengan gaya bertutur yang lugas dan mudah dipahami, ia berhasil menyihir pembaca agar tidak berhenti sebelum menyelesaikan novel ini. Dan sebagaimana novel sebelumnya untuk urusan setting lokasi,  penulis yang juga memiliki kegemaran traveling, berhasil menghadirkan latar cerita yang benar-benar hidup. Dan dipadukan dengan alur campuran kita akan dibuat penasaran dengan bagaimana akhir kisah perjalanan Fathan. Apalagi dengan kehadiran bidadari lain yang berhasil mencuri perhatiannya.


Membaca kisah ini kita akan menemukan banyak sekali nilai-nilai kehidupan. Di antaranya kita diingatkan untuk selalu waspada dan tidak sombong di mana pun kiat berada.


“Tolong diingat untuk menjaga semangat, hindari sifat egois dan sombong, banyak berzikir, tidak mengeluh selama pendakian.” (hal 96-97).


Kemudian melalui pendakian ini, kita diajarkan tentang arti penting rasa syukur, setia kawan, saling tolong menolong, menghormati lingkungan dan banyak lagi. Pendakian adalah satu cara untuk memahami bahwa dalam hidup kita harus terus berjuang tak kenal lelah, jangan mudah menyerah apalagi kalah, karena jika tidak kita tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Beberapa kekurangan yang ada tidak mengurangi keseruan cerita.

Srobyong, 11 Oktober 2019


 

Resensi -Menyusuri Jejak yang Hilang dan Balada Anak Broken Home



Judul                : Mencari Jejak Caraka

Penulis             : I’ir Hikma

Penerbit          : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : Pertama, November 2020

Tebal               : 216 halaman

Harga              : 60.000

ISBN                 : 978-623-253-015-7

Peresensi         : Ratnani Latifah

“Ketika  kamu sakit, ingatlah satu hal. Kamu hanya sedang diberi kekuatan untuk bertahan. Kamu senang diberi keistimewaan untuk mendapatkan hikmah. Kamu hanya sedang sangat disayang oleh sang Pencipta.” (hak 7).

Meski tidak terpilih sebagai pemenang utama,  novel “Mencari Jejak Caraka” ini tidak kalah seru daripada ketiga novel lainnya. Karena itulah novel ini menjadi salah satu novel favorit dalam Kompetisi  Menulis Novel Remaja Indiva 2019.  Kisah yang disampaikan memang menarik, Sejak awal membaca, pembaca akan digiring untuk  menemukan jejak Caraka—lebih sering dipanggil Raka, yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak, juga mengungkap alasan atau misteri alasan Raka menghilang.

Memadukan tema anak broken home, misteri, persahabatan dan  traveling, novel ini sangat menarik untuk dibaca. Apalagi kisah ini dipaparkan dengan alur campuran maju mundur, yang akan membuat kita gregetan.

Di sekolah Raka terkenal sebagai anak yang antisosial. Ia tidak pernah mau bergaul dengan teman-temannya. Karena itu pula teman-teman sekelas—kelas Bahasa—pun tidak terlalu peduli dengan Raka. Bagaimana mau peduli, ketika setiap kali didekati Raka selalu menjaga jarak? Hingga suatu hari Raka tiba-tiba menghilang tanpa jejak.

Awalnya tentu saja teman-temannya tidak terlalu ambil pusing. Mereka pikir Raka hanya membolos sebagaimana kebiasaannya sejak dulu. Sampai kemudian, Hana, sang ketua kelas dipanggil wali kelas Bahasa—yang lebih sering disebut Sensei—untuk membuat tim untuk mencari jejak Raka—Tim Peka (Pencari Raka).   Di mana salah satu alasannya karena masalah ujian yang semakin dekat.

“Satu minggu lagi stimulasi ujian akan dilaksanakan. Jadwal kalian mulai  nanti akan terus padat. Belum bimbingan belajar tiap Senin dan Jumat. Saya tidak ingin mendengar ada yang tidak ikut ujian nanti.” (hal 58).

Pada awalnya Hana merasa bingung. Kenapa ia dan kawan-kawannya yang harus mencari Raka? Bukankah mudah bagi gurunya itu untuk menghubungi orang tua Raka? Namun Hana akhirnya mengikuti perintah gurunya, meski dengan berbagai pertanyaan yang menggumpal di kepalanya. Namun dari pencarian itulah, pada akhirnya Hana dan teman-temannya semakin mengenal Raka dari cara yang tidak biasa.

Dari jurnal yang tidak sengaja Hana temukan di rumah Raka, ia dan teman-temannya—Farel,  Alden, Hasna, Indira, Nata dan Sia—berusaha menelusuri jejak Raka yang tidak mudah. Karena teman yang dianggap sebagai arca itu cepat sekali pergi dari satu tempat ke tempat lain. Raka ternyata melakukan pendakian dari satu gunung ke gunung lain, menjejak ke pantai, juga mengunjungi tempat-tempat tidak terduga, seolah ia ingin menjelajahi Indonesia. Pertanyaannya kenapa Raka melakukan hal itu?

Jika dilihat dari temanya, sebenanya tema utamanya cukup umum—anak broken home yang berusaha mencari pelarian dari masalahnya. Namun dipadukan dengan traveling, misteri pencarian jejak juga masalah lainnya, kisah ini menjadi lebih menarik dan hidup.  Apalagi cerita ini dipaparkan dengan cukup apik dan lugas. Melihat bagaimana penulis menceritakan kisahnya,  saya jadi teringat dengan kebiasaan  S Gegge Mappangewa, yang selalu memberikan quote di setiap awal bab, dan  gaya Azzura Dayana dalam novel traveling-nya. 

(Ranu Kumbolo, Gunung Semeru. Unplash/Fajruddin Mudzakkir)

Meski perjalanan yang diceritakan memang sepotong-potong, hal itu tidak mengurangi rasa penasaran pembaca untuk ikut menikmati petualangan yang dilakukan Raka.  Karena tempat-tempat yang dikunjungi Raka dipaparkan dengan cukup detail dan menarik. salut dengan riset yang telah dilakukan penulis. Rasanya seru sekali menjadi Raka yang bisa bebas bepergian ke tempat-tempat yang ia suka. Ups.🤭 (Jujur baca novel ini membuat saya langsung googling untuk survei lokasi. Berikut saya bagikan beberapa hasil pencarian tempat yang dikunjungi Raka 😁) 

(Gunung Rinjani. Pixabay/arhnue)

(Gunung Rinjai. Pixabay/Alzarrin63)

Keunggulan lain dari novel ini adalah alur cerita yang tidak terduga. Penulis pandai menyembunyikan klue-klue sehingga pembaca akan terus menebak-nebak tentang apa sih sebenarnya masalah Raka? Kenapa ia jadi seperti itu? Kenapa Raka nampak menjaga jarak dan permasalahan lainnya. Salut buat penulisnya.  Gaya bahasa penyajian pun sangat mudah dipahami. Kisahnya nampak hidup—apalagi dengan diselingi kata-kata daerah, yang menunjukkan lokalitas daerah Jawa.

(Air Terjun Binangalom.Tripadvisor.com)

Hanya saja untuk bagian cerita di jurnal dan kisah Hana dan kawan-kawan dalam pencarian Raka, agak tumpang tindih, karena bagian jurnal ditulis dengan huruf yang sama. Andaikan jurnal dituliskan dalam huruf yang berbeda, mungkin akan lebih memudahkan untuk memisahkan masa kisah yang berasal dari Jurnal Raka, juga dan keseharian Hana dalam upaya pencarian.


(Danau Toba. Pixabay/Zx4354453)

Begitupula dengan masalah penanggalan, ada beberapa bagian yang tidak konsisten dalam memberikan tanggal, bulan dan tahun. Kadang hanya ada info tempat kejadian, tanpa tanggal atau tahun. Atau  kadang hanya info lokasi dan jam kejadian. Padahal jika ada keterangan  waktu—baik dari tanggal, bulan, tahun, lokasi dan jam, pasti lebih rapi. Kalau tidak diulang atau diperjelas, kadang suka bingung. (Hehheh). Mungkin saya saja sih yang merasakan ini. Karena nulis novel semacam ini tentu sulit. Kemudian saya juga agak kurang sreg dengan terlalu banyaknya tokoh, yang membuat cerita kadang tidak fokus.

(Danau Kelimutu. Liputan6.com/ Ola Keda)

Satu lagi ketika membaca novel ini saya menemukan  berapa kesalahan tulisan.

Hana menggeleng. “Biasanya Raka selalu seperti ini. Kalau sudah begini, artinya dia bolos sekolah.” Raka menjelaskan kebiasaan teman sekelasnya. è Bukankah seharunya Hana? Saat itu Sensei berbicara dengan Hana. (hal 56).

“Kamu sekamar sama kamu bertiga.” è Mungkin maksudnya kami. (hal 80).

15 Januari 2018, Tebing  Breksi, Jogjakarta 14.23. è Bukankah perjalanan study campus harusnya 2019?  (hal 99).

Namun lepas dari kekurangan yang ada, saya suka dengan banyak selipan-selipan membangun, memotivasi dan menginspirasi. Yah, banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini.

Misalnya tentang arti penting keluarga, seperti figur orang tua dalam merawat dan mendidik anak. Sebagaimana kisah Raka sendiri. Meski terlahir dari keluarga terpandang, namun ia tidak bahagia karena kesepian dan juga menjadi korban perceraian orang tuanya. Padahal seorang anak membutuhkan dekapan kasih sayang dan bimbingan selalu.

Karena masalah itulah Raka terluka. Apalagi sosok yang selama ini paling dekat dengan dirinya tiba-tiba menghilang. Raka memilih bertualang untuk menyembuhkan lukanya. Melalui kisah ini kita seolah diingatkan bahwa, cara menyembuhkan luka bukanlah dengan perjalanan saja, tetapi membiarkan diri rela—menerima dan berdamai dengan diri sendiri.

“Penyembuhan itu bukan perjalanan. Tapi pendewasaan berpikir. Lakukan petualangan untuk mendewasakan cara berpikir. Aku jamin kamu akan lebih bisa berdamai dengan masalah.” (hal 149).

Ada pula selipan religi yang mengingatkan kita bahwa selalu ada Allah di dekat kita, jika kita mau mendekat dan berserah.

“Jangan khawatir. Hidup tidak seberat yang kau lihat. Kau masih punya Allah dan aku. Ketika kamu sakit ada aku yang siap merawatmu untuk kembali sembuh. Tapi, Allah akan lebih menyabarkan hatimu.” (hal 154).

Ada pula sindiran halus agar kita selalu menjaga kebersihan di mana pun berada, termasuk di tempat-tempat wisata. Mencinta alam dan tidak merusaknya.

“Patai yang  seindah ini, sayang sekali jika harus dirusak dengan sampah. Miris tempat-tempat wisata yang indah harus rusak dengan kehadiran  sampah-sampah. Mungkin faktor banyaknya pengunjung yang datang dan tidak adanya rasa tanggung jawab terhadap alam, sehingga siapa pun dengan seenaknya membuang sampah sembarangan.” (hal 23).

Ada pula tentang persahabatan. Ini terlihat bagaimana cara  gurunya mengarahkan anak didiknya untuk saling peduli kepada teman sekelas. Dan memang dari pencarian Raka ini, teman-temannya kemudian menyadari tentang pentingnya saling mengenal dan memahami.

Selain itu, dari novel ini kita diingatkan untuk memiliki sikap kompak, dan saling bekerjasama dalam kebaikan. Juga  tentang perlunya memiliki sikap peduli pada sesama, peduli pada kesulitan teman dan tidak segan untuk membantu. Ada pula ajakan untuk menjadi pribadi yang lebih terbuka. Jangan memendam kesedihan sendiri, karena bersama itu lebih baik dari pada sendiri. Kita tidak harus lari dari masalah, tetapi menghadapi dengan lebih lapang. Dan ujian itu tanda bahwa Allah masih sayang kepada kita.

 

“Katakan, jangan hanya kau pendam sendirian. Kau hanya manusia biasa. Kau tidak akan kuat. Ada bahu-bahu kami yang siap berbagi beban. Ada telinga-telingan kami yang akan selalu mendengarkan kesah. Kau tidak pernah sendirian, kawan.” (hal 25).

Srobyong, 16 Februari 21