Wednesday, 22 August 2018

[Resensi] Islam Agama yang Mencintai Kedamaian

Dimuat di Analisa Medan, Jumat 3 Agustus 2018


Judul               : 212 Cinta Menggerakkan Segala
Penulis             : Helvy Tiana Rosa & Benny Arnas
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : x  + 262 halaman
ISBN               : 978-602-9474-14-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Aksi ini tidak ada kaitannya dengan politik. Ini adalah bukti kecintaan kita pada Al-Quran. Bagaimana cinta  karena  Allah ternyata bisa menggerakkan segala. Tentu saja dengan cara damai, bukan kekerasan. Dengan kesadaran, bukan ikut-ikutan!” (hal 67).

Mengambil tema tentang aksi damai 212, yang pernah terjadi di pengunjung tahun 2016, novel ini mengisahkan salah satu kisah nyata yang pernah terjadi dalam kejadian tersebut dengan menarik dan menghibur.  Melalui novel ini kita bisa mengambil banyak sekali pembelajaran. Di antaranya adalah bahwa Islam adalah agama yang mencintai perdamaian. Hal itulah yang membuat salah satu rumah produksi film, mengangkat kisah tersebut dalam layar lebar dan mengaplikasikan kisahnya dalam bentuk novel.

Sebagaimana kita ketahui, aksi pada 2 Desember 2016 dikenal juga dengan nama Aksi Damai 212. Sebuah peristiwa luar biasa yang telah menjadi bangian dari tonggak sejarah umat Islam di Indoensia. Pada hari itu, diperkirakan lebih dari tujuh juta orang memenuhi  kawasan Monumen Nasional (Monas) dan  sekitarnya,menyatakan sikap, dan kecintaan  kepada Allah dan Al-Quran (hal v).

Novel ini sendiri berkisah tentang  Rahmat, salah satu jurnalis berbakat dari koran besar di ibu kota. Akan tetapi Rahmat ini, meski seorang muslim, dia cukup skeptis dengan Islam.  Dia kerap membuat tulisan yang mengundang amarah dengan kritikan pedasnnya terhadap gerakan Islam. Dia meyakini bahwa aksi damai yang akan berlangsung diibukota merupakan gerakan politik yang memanfaatkan umat Islam untuk meraih kekuasaan.

“Aksi 411 adalah bentuk baru social-movement berbasis agama yang terjadi di negara demokrasi pluralistik yang ditunngangi oknum politik. Masyarakat Jakarta yang plural dari segi kekuasaan, keagamaan, dan status sosial, dipaksa menuruti kehendak mayoritas. Islam bukan lagi agama yang menyejukkan. Aksi menuntut diseretnya orang nomor satu di ibu kota itu justru menegaskan hal yang berseberangan dengan slogan ‘damai’ yang mereka usung. Citra Islam menjadi anarkis. Bahkan lebih dari itu, ia menjadi alat politik untuk memuaskan hawa nafsu oknum-oknum tertentu di panggung politik.”  (hal 13).

Tulisan Rahmat mendapat banyak protes dan hujatan dari teman-teman satu kantornya. Namun dia tetap tidak peduli dan ingin agar tulisanya tetap naik cetak. Meskipun akhirnya berbagai hujatan semakin deras dia terima. Bersamaan dengan itu, dia mendengar kabar bahwa ayahnya, Kiai Zainal, yang merupakan tokoh  ulama di Ciamis, akan ikut dalam aksi damai 212.

Rahmat pun dengan berbagai cara mencoba mencegah keinginan ayahnya. Dia tidak ingin sang ayah melakukan aksi yang sia-sia yang hanya dimanfaatkan olek oknum tertentu.  Akan tetapi untuk membujuk ayahnya bukanlah perkara gampang. Bersama sahabatnya, Adin, Rahmat terseret pada arus aksi damai dan menyaksikan berbagai kejadian yang tidak mereka duga.

Membaca kisah ini, kita akan dibuat gemas oleh sikap Rahmat yang keras kepala dan sikap skeptisnya terhadap Islam. Di sisi lain kita akan melihat semangat juang dan keikhlasan Kiai Zainal dalam mencintai Al-Quran dan Islam. Karena meski sudah sepuh, Kiai Zainal tetap teguh melakukan perjalanan jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta.  Tidak ketinggalan ada pula kekonyolan sikap Adin yang memberi warna segar dan menimbulkan tawa dalam novel ini. 

Bisa dikatakan novel ini ringan namun berbobot. Karena dalam novel ini kita bisa mengambil banyak pembelajaran. Dimulai dari cara bersikap terhadap orang tua, hubungan antara manusia dengan manusia juga hubungan manusia dengan Tuhan-nya. Kita juga disadarkan bahwa aksi 212 adalah bukti bahwa Islam adalah agama yang cinta damai dan persatuan.

Hanya saja untuk ukuran novel yang cukup menarik ini, masih banyak sekali kesalahan tulis dan kesalahan menyebut nama panggilan beberapa tokoh. Hal ini cukup menganggu konsentrasi. Namun lepas dari kekurangannya, buku ini sangat segar dibaca dan patut untuk diapresisasi.
Srobyong, 28 Juli 2018 

Wednesday, 15 August 2018

[Resensi] Menjadi Pemimpin Harus Bertanggung Jawab

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 2 Agustus 2018


Judul               : Lead Differently
Penulis             : Pambudi Sunarsihanto
Penerbit           : Kaifa
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 204  halaman
ISBN               : 978-602-0851-92-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Pemimpin adalah orang yang mengemban tugas  dan bertanggung jawab untuk memimpin sebuah organisasi atau kelompok tertentu, serta bisa mempengaruhi anggota untuk melakukan tugas dengan baik. Ketika menjadi seorang pemimpin, kita harus siap untuk melindungi dan mengayomi semua anggota dengan sebaik-baiknya.

Saat ini minat masyarakat untuk menjadi seorang pemimpin cukup banyak.  Baik itu dalam takaran pemimpin di sekolah, komunitas, perusahaan hingga menjadi pemimpin sebuah negara. Namun perlu kita sadari, menjadi pemimpin itu bukan perkara yang mudah.  Mengingat seorang pemimpin tidak hanya mengurusi tugas pribadi diri sendiri, tapi mencakup semua rakyat atau anggota yang dinaungi.

Oleh karena itu, bagi siapa saja yang ingin menjadi seorang pemipin, kita harus memerhatikan hal-hal yang perlu kita siapkan, agar ketika menjadi pemimpin, kita bisa menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan berdedikasi. Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang bertindak semena-mena, tidak bertanggung jawab dan hanya menfaatkan jabatan yang dimiliki. Buku ini dengan gaya bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, mengajak kita untuk memahami bagaimana caranya untuk menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab serta disukai bawahannya.

Menjadi seorang pemimpin memang bukan perkara mudah. Apalagi jika selama ini kita sudah terbiasa bekerja secara mandiri. Untuk itu, kita perlu merubah fokus, yang artinya kita harus mulai berpikir juga tentang tim yang kita miliki. Kita harus belajar menjadi pemimpin yang baik dengan mulai membaca buku-buku yang berhubungan dengan leadership. Ketika menjadi seorang pemimpin, kita harus sia dan mau mendengarkan saran dari anak buah, memberi teladan yang baik dan bisa mengelola waktu (hal 4).

Sebagai seorang pemimpin, jangan segan memberi motivasi kepada anak buah, jika memang diperlukan. Akui prestasi dan kontribusi mereka yang sudah membantu kita dan buat mereka berkembang dalam jenjang karier yang dimiliki. Misalnya dengan merekomendasikan pelatihan atau buku-buku bagus yang perlu dikaji. Tidak kalah penting, ketika menjadi pemimpin, kita harus memiliki empati terhadap anak buah. Ciptakan suasan kerja yang menyenangkan, sehingga mereka betah selama bekerja dan bisa bekerja secara maksimal, sehingga hasil kerja pun sangat memuaskan.


Misalnya ketika kita dituntut untuk menjadi leader dalam sebuah tim. Tentu saja kita harus mengetahui tentang apa saja yang perlu kita lakukang agar bisa meng-handle semua anak buah, tanpa adanya sikap otoriter dan bossy. Karena hal itu akan berpengaruh pada kondisi jiwa anak buah. Perlu kita sadari, setiap orang bahkan diri kita sendiri ketika mendapat perlakuan yang tidak etis, pasti tidak suka. Oleh karena itu dalam melakukan sesuatu kita juga harus memikirkan dampak yang akan diterima oleh orang lain.

Dalam upaya mengembangkan sebuah tim agar kompak dan sukses, Bruce Tuckman membagi pengembangan tim menjadi 4 fase. Pertama,  fase forming atau mulai saling mengenal karena baru terbentu sebuah tim. Kedua, fase Stroming, yaitu keadaan kacau balau, karena mungkin kita belum bisa saling berbeda pendapat. Ketiga, fase Norming, pada fase ini anggota sudah mulai mengenal dan sudah bisa menyelesaikan soal perbedaan pendapat. Dan terakhir adalah fase performing. Pada bagian ini tim mulai menunjukkan kinerja yang maksimal. Meski ada konflik, mereka sudah bisa menyelesaikan masalah dengan baik. Nah, sebagai seorang pemimpin, kita harus mengenali semua fase tersebut agar bisa mengantispasi. (hal 37).

Selain itu, masih banyak tips dan trik lain yang menarik untuk dikaji dan pelajari lebih dalam, bagaimana cara menjadi pemimpin yang bertanggung jawab juga berdedikasi. Memang tidak mudah namun, jika ada usaha pasti bisa. Itulah sedikit gambaran yang ingin disampaikan penulis dalam memahami konsep kerja seorang pemimpin. Buku yang sangat menarik dan patut dikaji bagi siapa saja yang ingin menjadi seorang leader.

Srobyong, 25 Mei 2018

Monday, 13 August 2018

[Resensi] Okky Madasari dan Sastra Anak

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 12 Agustus 2018



Judul               : Mata di Tanah Melus
Penulis             : Okky Madasari
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama,  Januari 2018
Tebal               : 192 halaman
ISBN               : 978-602-038-132-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Selama ini Okky Madasari lebih dikenal sebagain penulis sastra dewasa. Di mana karya-karyanya kerap menyuarakan kritik sosial.  Salah satunya adalah kumpulan cerpen “Yang Bertahan dan Binasa Perlahan”  yang diterbitkan pada tahun 2017. Akan tetapi di awal tahun 2018, penulis hadir dengan buku terbaru yang ternyata dibuat untuk anak-anak.  Meski begitu, perubahan genre ini, tidak mengurangi kesetiaan Okky dalam tema kemanusian yang selama ini dia usung.  Melalui buku ini dia berharap anak-anak yang membaca buku ini bisa menjadi manusia yang berpikir terbuka dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Novel ini sendiri  terinspirasi dari perjalanan Okky ketika sempat menyambangi Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.  Menceritakan tentang kisah seorang anak berusia 12 tahun bernama Matara, yang melakukan petualangan seru di Tanah Melus. Sebuah tempat yang tidak terduga dan serba aneh. Di sana Matara dihadapkan pada kejadian-kejadian yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Semua bermula ketika mamanya bilang akan mengajaknya berlibur. “Kita akan berlibur bersama, Mata.  Ke tempat jauh, tempat sangat indah, yang belum pernah kita datangi.” (hal 23).  Seharusnya kabar itu tentu sangat menarik dan membuat Mata semangat. Sayangnya,  bukan itu yang Matara rasakan. Dia  malah tidak paham kenapa mamanya hanya mengajak dirinya, tanpa papanya. Namun Matara tidak punya pilihan. Dia pun mengikuti keinginan mamanya. 

“Pesawat kecil kami mendarat  di negeri antah-berantah. Saat pesawat itu mulai merendah, aku bisa melihat hamparan hijau yang tak terlalu lebat, juga tidak benar-benar hijau. Hijau kering dan lesu, namun justru terlihat ramah dan tak menakutkan untukku.” (hal 27).

Sejak sampai di Belu, satu persatu kejadian aneh bin ajaib dialami Matara. Dimulai dari kematian sapi-sapi, yang membuat mamanya menguras tabungannya. Kemudian mimpi-mimpi buruk yang terus dia alami berulang-ulang.  Matara melihat sapi-sapi yang sudah mati itu mendatanginya, berteriak marah dan mengerubunginya.

Kemudian pertemuan dengan keluarga Tania, yang mengantarkan mamanya melakukan  upacara adat untuk membuang sial, serta meminta izin atau permisi untuk memasuki Belu, agar selamat di sana (hal 51). Tapi yang mengejutkan, hasil dari upacara itu, memberi petunjuk agar Matara dan ibunya untuk pulang. Artinya mereka tidak diberi izin mengunjungi Belu.

“Penguasa alam tidak pernah berkata yang tak benar. Orang punya hajat macam-macam di sini, kalau memang bukan itu takdirnya, pasti bilang tidak.” (hal 70).

Tapi Mama Matara tidak mempercayai pesan itu. Dia malah marah dan mengajak Matara meninggalkan tempat upacara untuk kembali ke hotel. Dalam perjalanan itulah, Matara terpisah dari mamanya. Dia terdampar di Tanah Melus. Tempat yang konon diburu oleh orang-orang Bunag, yang ingin mengancurkan Tanah Melus.

Pada awalnya Matara merasa sedih karena terpisah dari mamanya, namun lambat laun, dia mulai menikmati keberadaannya di Tanah Melus. Di sana dia memiliki banyak teman dan keluarga yang menyenangkan.  Hingga suatu hari Matara menyadari dia harus keluar dari tanah itu. Dia harus pulang.

Sebagai buku perdana genre sastra anak,  novel ini cukup menghibur dan menarik untuk diikuti. Penulis berhasil membuat pembaca penasaran dengan alur cerita. Meski untuk beberapa hal, saya merasa kurang puas dengan buku ini. Ketika awal melihat buku ini saya membayangkan sebuah petualangan seperti dalam kisah-kisah Harry Potter atau seri Bumi-nya Tere Liye. Namun ternyata dugaan saya salah. 

Sebagaimana yang pernah dipaparkan penulis, dalam menggarap kisah ini, dia memang tidak memudahkan dalam gaya bercerita. Namun, bagi saya pribadi, jika  gaya bahasanya lebih sederhana dan mudah dicerna, pasti akan terasa lebih pas untuk anak.  Lepas dari kekurangannya, novel ini bisa dijadikan bacaan menarik untuk anak. melalui buku ini anak bisa menambah daftar kosa kata dan menambah wawasan tentang salah satu daerah terluar di Indonesia.

Dan melalui buku ini kita juga diingatkan untuk saling menghormati adat budaya di mana pun kita berada. Karena di mana bumi dipijak, di sanalah langit dijunjung. Tidak ketinggalan, kesadaran kita disentil, agar selalu menjaga kelestarian adat dan budaya di Indonesia. Jangan membunuh dan memburu orang-orang yang tidak bersalah.

Srobyong, 22 Juni 2018

Saturday, 11 August 2018

[Resensi] Upaya Penyelamatan Dunia Paralel

Dimuat di Kabar Madura, Selasa 31 Juli 2018


Judul               : Bintang
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Juni 2017
Tebal               : 392 halaman
ISBN               : 978-602-03-5117-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Semakin besar kekuasaan seseorang, maka dia cenderung semakin rakus, menginginkan kekuasaan yang lebih besar lagi. Tidak peduli jika itu mengorbankan orang banyak.” (hal 32).

Masih kelanjutan dari serial Bumi, novel ini tetap menceritakan petualangan tiga sahabat ke dunia paralel. Ada Raib, Seli dan Ali. Pada seri pertama—Bumi—mereka mengunjungi Klan Bulan, pada seri kedua—Bulan—mereka mengunjungi klan Matahari. Lalu pada seri ketiga—Matahari—mereka mengunjungi Klan Bintang. Dan di sini seri keempat—Bintang—ternyata masih berhubungan dengan Klan Bintang.  Di mana mereka akan kembali ke Klan Bintang dengan sebuah misi menyelamatkan dunia paralel.

Mereka tidak pernah menyangka, pertualangan ke Klan Bintang yang awalnya lancar-lancar saja, tiba-tiba dalam sekejap telah membawa mereka pada keadaan yang menegangkan dan penuh bahaya. Mereka sempat menjadi buronan Sekretaris Dewan Kota Zaramaras, ibu kota Klan Bintang, hingga berakhir mendengar kabar yang mengejutkan. Dewan Kota Zaramaraz ternyata punya rencana jahat atas tiga klan permukaan. Dia akan meruntuhkan pasak bumi (hal 15).

Bersama Av, Miss Selena,  serta beberapa petinggi baik dari Klan Bulan dan Klan Matahari, mereka mulai membuat rencana dan saling bekerjasama untuk menggagalkan rencana jahat tersebut. Mereka harus segera menemukan pasak bumi untuk menyegel pasak tersebut.  Dan itulah tugas yang diembankan kepada Raib, Ali dan Seli dengan pantaun Miss Selena dan beberapa panglima perang yang tangguh.

Malalui analisis yang telah dibuat Ali setelah mempelajari tentang Klan Bintang dari buku yang sempat dia ambil sebelum melarikan diri dari penjara Klan Bintang, kini mereka sudah memiliki lima lokasi yang mungkin adalah tempat pasak bumi berada.  Namun siapa sangka pencarian pasak bumi itu tidak semudah yang mereka perkirakan. Bahkan yang lebih membuat mereka sedih adalah kenyataanya bahwa dari kelima tempat yang sudah ditandai, semua bukanlah tempat yang mereka cari.

Tapi yang lebih membuat mereka terkejut adalah, keberadaan mereka sudah ditemukan Klan Bintang. Lalu bebasnya Sekretaris Dewan Kota, hingga tertangkapnya Faar—salah satu orang penting dari Kelompok Rebel yang berusaha memberontak dari kekejaman pemerintah. Demokrasi yang digembar-gemborkan perintah hanyalah alat pembenaran, legalisasi kejahatan terorganisir Dewan Kota (hal 273).

Keadaan pun semakin kacau. Selain harus segera menemukan pasak bumi, mereka juga harus dihadapkan dalam peperangan bersama Sekretaris Dewan Kota. Di sinilah sebuah kenyataan tidak terungkap dan membuat semua orang terkejut. Tentang lokasi sebenarnya pasak bumi dan dampak apa yang terjadi jika mereka menyegel pasak bumi. Sosok yang selama ini telah tersegel memiliki kemungkinan untuk keluar dan bahkan mungkin bisa membaca bencana lebih besar. Raib, Seli dan Ali harus memilih.

Buku yang menarik dan mendebarkan. Kisah ini membuat kita seperti ikut masuk dalam petualangan Raib, Seli dan Ali. Dari segi bercerita buku ini memang sangat hidup. Setting-nya pun tidak berasa tempelen. Dan keunggulan lain dari novel ini itu, berbeda dari seri sebelumnya, akhir kisah ini akan membuka rasa penasaran pembaca untuk seri selanjutnya.  Meski memang ada beberapa bagian yang terasa monoton—karena beberapa adegan pulang pergi yang terus berulang, namun hal itu tetap tidak mengurangi keseruan kisah ini.

Dan khas dari penulis yang sudah menelurkan banyak buku best seller ini, banyak kutipan inspiratif yang bisa kita teladani.  Dari novel ini kita bisa belajar tentang keberanian dan ajakan untuk tidak mudah putus asa. Bahwa selalu ada jalan untuk mencapai apa yang kita harapkan. Selain itu dalam hal ini penulis mencoba menunjukkan bahwa kebatilan pada akhirnya akan merugikan diri sendiri dan bisa dikalahkan dengan kebaikan.

“Prasangka buruk dan kebencian adalah pematik yang amat efektif membuat orang-orang cemas.” (hal 273-274).

Srobyong, 2 Maret 2018

Tuesday, 7 August 2018

[Resensi] Kisah Tentang Menemukan Tujuan Hidup

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 1 Juli 2018


Judul               : Pergi
Penulis             : Tere Liye
Co-author        : Sarippudin
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Pertama, April 2018
Tebal               : iv + 455 halaman
ISBN               : 978-602-5734-05-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

[Sumber Republika]
“Kamu harus lebih sering shalat Agam. Itu perintah agama. Bahkan tiang agama.” (hal 85).

Setelah sempat ada kabar bahwa Tere Liye tidak akan menerbitkan  buku lagi, karena masalah pajak, sekarang penulis asal Sumatra itu,  hadir kembali dengan buku-buku terbarunya. Salah satunya novel Pergi, yang merupakan sekuel dari novel sebelumnya Pulang. Masih dengan tema shadow economy, Tere Liye kembali menghidupkan tokoh Bujang—yang kini sudah menjadi Tauke besar dengan apik dan menarik.

Jika pada seri sebelumnya Bujang, akhirnya kembali ke Talang untuk menziarahi makam, ayah dan ibunya, kini dia sudah harus kembali  ke ibu kota. Dengan jabatan barunya, maka tanggung jawabnya pun semakin besar. Apalagi saat ini, dia harus merebut prototype yang sekarang telah dicuri oleh El Pacho, sindikat penyelundup narkoba terbesar di Amerika serikat (hal 6).

Bersama Salonga, White,  Kiko dan Yuki, mereka terbang ke Meksiko untuk mengejar El Pacho. Namun siapa sangka di sana, mereka malah bertemu dengan seseorang yang membuat Bujang, terkejut. Bagaimana orang itu bisa mengetahui nama kecilnya dan bahkan bisa mengalahkannya dalam duel satu lawan satu?

Selain harus dibuat penasaran dengan sosok yang tiba-tiba menyerang dan mengenal dirinya, Bujang juga harus menghadapi masalah yang timbul akibat ulah Master Dragon, yang ternyata berencana menghancurkan Keluarga Tong, karena melihat perkembangan yang ada Keluarga Tong semakin meraksasa di Asia Pasifik.  Padahal dalam  aturan delapan keluarga besar  yang menguasai shadow economy di Asia Pasifik, mereka berjanji tidak akan saling menganggu dan saling sikut. Jika ada masalah harus diselesaikan dengan pembicaraan diam-diam atau dengan solusi tingkat tinggi (hal 389).  Tapi sekarang masalahnya, bersama keluarga Lin dan El Pacho, Master Dragon berencana untuk menguasai  semua pergerakan dari keluarga besar penguasa shadow economy.

Oleh karena itu, Bujang membuat aliansi dengan Keluarga Yamaguchi dan Bratva, penguasa shadow economy dari Rusia untuk mengalahkan Master Dragon.  Di sisi lain, diam-diam Bujang juga menyelidiki tentang jati diri orang yang dia temui di Meksiko, yang ternyata adalah saudara tirinya. Hal inilah yang kemudian membuat Bujang sangat penasaran dengan kisah hidup ayahnya.

Namun lebih dari itu, sebuah masalah juga tengah merisaukan Bujang. Pertemuannya dengan Tuanku Imam, membuat Bujang kembali berpikir tentang mau dibawa ke mana Keluarga Tong. Apakah dia selamanya akan hidup seperti itu?  Hidup dalam kegelapan,  melakukan pembunuhan dan sebagainya?

“Kehidupanmu ada di persimpangan berikutnya, Agam. Dulu  kamu bertanya tentang definisi pulang, dan kamu berhaisil menemukannya, bahwa siapa pun pasti akan  pulang ke hakikat  kehidupan. Kamu akhirnya pulang menjenguk pusara bapak dan mamakmu, berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan. Tapi lebih dari itu, ada pertanyaan berikutnya yang menunggu jawaban. Pergi.  Sejatinya, kita akan pergi setelah mengetahui definisi pulang? Apa yang harus dilakukan? Berangkat ke mana? Bersama siapa?  Apa kendaraanya? Dan ke mana tujuannya? Apa sebenarnya tujuan hidup kita?” (hal 86).

Meski memakai co-author, gaya bahasanya tetap terasa khas Tere Liye. Renyah dan tidak jlimet. Kisah ini juga seru dan bikin deg-deg-an. Bagaimana petempuran yang terjadi antara aliansi Keluarga Tong dan Master Dragon? Serta bagaimana akhir kisah yang Bujang temukan tentang kebenaran ibunya. Juga kehadiran Maria yang semakin memberi warna pada kehidupan Bujang.

Sedikit kesalahan tulis yang ada, tidak mengurangi keseruan cerita yang disajikan penulis. Membaca noveel ini saya belajar pentingnya menjaga emosi. “Jangan biarkan emosi, rasa marah, kebencian  kepada lawan membuat penilaian kita menjadi keliru. Tetap fokus pada tugas masing-masing. Marah, tindakat nekat membabi-buta hanya membuat lawan kita tertawa.” (hal 224).

Selain itu, melalui buku ini kita diajarkan tentang arti hidup tanpa menggurui.   Sisi religi yang ditampilkan Tere Liye, meski tersirat tapi cukup membuat kita tercenung untuk merenungkankan. Dalam perkara shalat, terlepas dari  apakah seseorang itu pendusta,  pembunuh, penjahat, dia harus shalat, kewajiban itu tidak luntur. Maka semoga entah di shalat yang ke-berapa, dia akhirnya benar-benar berubah (hal 86).

Srobyong, 12 Mei 2018




Alhamdulillah, terpilih lagi sebagai salah satu dari 10 Resensi Pilihan