Wednesday, 3 October 2018

[Resensi Kiprah Bung Hatta dalam Pergerakan Nasional

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 26 Agustus 2018 


Judul               : Hatta : Aku Datang Karena Sejarah
Penulis             : Sergius Susanto
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 364 halaman
ISBN               : 978-602-402-096-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Univeritas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Salah satu tokoh proklamator Indonesia adalah Mohammad Hatta. Dia lahir di Aur Tajungkang, Bukittinggi, 12 Agustus 1902.  Dia adalah sosok sederhana,  nasioanalis dan  memiliki prinsip yang kuat. Meski sering dibujuk rayu  Belanda dan Jepang  untuk bekerjasama, atau diajak melakukan hal-hal yang menyimpang dari demokrasi dan asas pancasila, Hatta selalu menolak dengan tegas.

Sayangnya tidak banyak buku yang membahas tentang wakil presiden pertama Indonesia, yang kerap disebut sebagai Gandhi of Indonesia.  Hal itulah yang kemudian mendorong  Sergius Sutanto,  mencoba  mengenalkan lebih dalam  tentang sosok Hatta, lewat buku ini.  Dengan paparan yang apik, lugas dan aktual, penulis memaparkan kisah hidup Hatta yang sangat menginspirasi. Serta kiprahnya dalam pergerakan nasional.

Masa kecil Hatta dihabiskan di tanah kelahirannya dengan bekal pendidikan agama yang kuat. Pada 1921, ketika mengenyam pendidikan di Handels Hoge Schol di Rotterdam, Belanda, Hatta bergabung dengan Indonesische Vereeniging—yang kemudian dikenal sebagai Perhimpunan Indonesia—PI. Tahun 1926 ketika Hatta terpilih menjadi ketua PI, dia langsung menggencarkan aksi propaganda luar negeri dalam bidang politik. Tujuannya  untuk memperkenalkan nama ‘Indonesia’ kepada dunia internasional (hal 100).  Selain itu dia juga menerbitkan  Gedenkboek yang bertujuan  untuk membuka telinga pemerintah Hindia mendengarkan suara perjuangan para pemuda Indonesia.

Namun karena hal itu, Bung Hatta dimasukkan ke penjara di Casuaristraat. Dia didakwa  tiga tuduhan, yaitu :  menjadi anggota perhimpunan terlarang, terlibat dalam pemberontakan dan penghasutan  untuk menentang kerajaan Belanda (hal 102).  Akan tetapi, kejadian itu tidak pernah menyurutkan niat perjuangan Hatta dalam upaya membebaskan Indonesia dari penjajahan.

Setelah bebas dan kembali ke Indonesia bersama Syahrir—sahabat dekatnya,  Hatta  membangun organisasi bernama Pendidikan Nasional Indonesia—PNI. Di mana organisasi ini lebih menekankan pada pendidikan kader. Menurut Hatta, “Bukan hanya pemimpin yang harus berjuang, rakyat pun mesti turut berjuang. Ada suatu kebenaran yang sering dilupakan, kemerdekaan Indonesia tidak dapat dicapai oleh para pemimpinnya saja, melainkan oleh usaha dan keyakinan rakyak banyak. Nasib rakyat Indonesia dalam genggaman tangan rakyat sendiri.” (hal 163).

Namun lagi-lagi jalan perjuangan yang dia lalui tidak mudah. Dia dan Syahrir ditangkap tentara Belanda dan dibuang di  Digul, kemudian dipindah ke Banda Neira, lalu Penjara Glodok hingga  Pulau Bangka. Pada masa itu Belanda gencar mengajak Hatta bekerjasama, agar masa pengasingannya dikurangi. Namun Hatta dengan  tegas menolak tawaran tersebut.

Meski berkali-kali diasingkan, Hatta tidak pernah gentar. Dia tetap menyuarakan pendapatnya agar warga Indonesia tidak memihak kepada Belanda atau Jepang.  Menurutnya para penjajah itu tidak ada yang bisa dipercaya.

Salah satu tokoh pergerakan yang dekat dengan Hatta selain Syahrir adalah Soekarno. Meski kerap berseberangan pendapat, mereka sering berdiskusi tentang  berbagai hal termasuk jalan untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan. Dan perjuangan mereka akhirnya terbayar ketika tanggal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia telah diproklamasikan. 

Tapi setelah 11 tahun menjadi wakil presiden, pada 1 Desember 1956,  Hatta memutuskan  mundur dari jabatannya.  Hatta mengaku, karena ‘kemanusiaan’-lah dia memilih mundur. Menolak segala bentuk penyelewengan, penyimpangan, keserakahan, dan kesombongan sebagai akibat ketidaktahuan. Terlebih, pada satu setan yang mengambil rupa : korupsi (hal 25).

Kala itu Hatta memang sudah tidak sejalan dengan cara kepemimpinan Soekarno yang mulai mendekat pada komunis dan terlalu otoriter. “Penderitaan seharusnya membukakan mata pada makna kemanusiaan. Tapi mengapa orang-orang istana justru gemar menciptakan kesakitan pada rakyat banyak?” (hal 23).

Ketika Hatta berusaha mengingatkan, Soekarno tidak pernah memedulikan nasihat sahabatnya tersebut.  Yang ada Hatta malah mulai tersingkir, tidak boleh mengajar di Universitas  Gajah Madah, karena dia  berseberangan dengan  kebijakan Demokrasi Terpimpin (hal 284).  Meski begitu Hatta tidak pernah membenci Soekarno. Dialah pemimpin dengan jiwa welas asih dan pemaaf. Buku ini membuat kita semakin mengenal sosok Hatta yang sederhana, bersahaja, teguh dalam prinsip dan  tidak mudah digoyahkan.

Srobyong, 8 Maret 2018

[Resensi] Menjual untuk Menghasilkan Banyak Rupiah

Dimuat di Harian Singgalang. Minggu 23 September 2018 


Judul               : Selling Easily and Smartly
Penulis             : Hingdranata Nikolay
Penerbit           : Gramedia
Terbit               : Mei 2018
Tebal               : 380 halaman
ISBN               : 978-602-03-0560-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Univesitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Profesi sales  bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak peduli  tua-muda, besar-kecil, pria-wanita, lajang-berpasangan-berkeluarga, tingkat pendidikan apa pun, disiplin apa pun, suku atau agama apa pun, merasa PD atau ragu, semua memiliki kesempatan menjadi sales profesional.

Saat ini profesi sales  mulai diminati banyak orang.  Dari berbagai sumber, dinyatakan bahwa  profesi ini  memiliki banyak keuntungan. Misalnya memiliki jaringan luas,  pekerjaan yang stabil di semua zaman,  gaji yang berlipat ganda,  dan adanya kebebasan saat bekerja, karena tidak selalu berada di kantor. Hal ini terbukti dengan banyaknya perusahaan baik di Indonesia  juga di  negara lain yang membuka lowongan pekerjaan sebagai sales profesional.

Buku  ini dengan paparan sederhana dan tampilan buku yang menarik, akan mengajak kita memahami tentang konsep yang baik ketika kita ingin menjadi sales profesional.  Kita bisa belajar tentang bagaimana  cara menjual dengan mudah dan  cerdas, sehingga kita bisa menghasilkan banyak uang serta memperoleh keuntungan.

Menjual adalah skill yang bisa dipelajari dan dikuasi. Owen Fitzpatrick,  Licensed Master Trainer of NLP berpendapat, “Menjual adalah mengenai kepercayaan diri dan daya pengaruh. Menjual adalah mengenai memiliki sikap yang tepat dan didukung oleh skill yang tepat. Menjual bukan hanya tentang membaca kalimat-kalimat sales hebat, melainkan menjadi seorang pembicara yang hebat. Menjual bukan saja mengenai fakta dan angka, melainkan mengenai memahami emosi dan perasaan yang terlibat di dalamnya.” (hal xxi). 

Berikut adalah tips yang dipaparkan penulis, agar pembaca bisa menjual dengan mudah dan cerdas.  Di mana langkah awal yang perlu kita lakukan adalah menentukan identitas diri dan memantapkan komitmen. Artinya kita mengakui dan menikmati pekerjaan tersebut.  Dengan mengakui bahwa kita adalah seorang sales, maka hal itu bisa membangun semangat kita, sehingga bisa menjual dengan maksimal dan konsisten.  Sebaliknya jika sejak awal kita tidak mengakui profesi sebagai sales, maka hal itu bisa membuat kita tidak semangat selama bekerja. Dampaknya kita pun kesulitan dalam menjual produk yang kita bawa.

Kemudian kita harus percaya diri sebagai penjual.  Dengan memiliki kepercayaan yang tinggi, akan membantu kita dalam menjaga komunikasi dengan banyak pihak. Kemahiran berkomunikasi akan sangat membantu dalam menjaring pembeli. Agar bisa membangun dan menjaga PD, Ada tiga elemen penting yang sangat memengaruhi kepercayaan diri (PD) seorang sales profesional atau profesi apa pun, yakni yang di dunia NPL (Non Performing Loan) disebut V-A-K : Visual, Auditory, Kinesthic.

Selanjutnya adalah kita harus memahami dengan benar produk atau jasa yang akan diperjual belikan. Karena ternyata keyakinan  bisa menjual, merasa diri sebagai penjual dan positif thinking saja tidak cukup (hal 67). Banyak kekeliruan yang dilakukan para sales, ketika ingin memasarkan produknya. Di mana para sales hanya sekadar membaca dan menghafal spesifikasi produk dari daftar katalog. Padahal sebagai sales kita perlu mengetahui lebih luas tentang produk itu sendiri. Dimulai dari spesifikasi, cara pembuatan, sejarah dan manfaat dari tiap feature atau andalan, sampai produk atau jasa kompetitor.

Sebagai seorang sales kita juga harus mengetahui tentang skill teknik penjualan.  Selalu update diri dengan konsep, teknik dan strategi menjual yang baru dan berbeda, akan membuat peluang produk kita terjual lebih banyak. Jika banyak produk yang terjual, maka otomatis keuntungan yang kita terima akan semakin tinggi.

Tidak kalah penting, kita juga harus pandai menjaring orang-orang baru.  Menurut pakar penjualan, network is power.  Hal itu merupakan trik dunia penjualan yang sangat jitu. Jika kita menjual tanpa fokus membangun network yang luas dan kuat sama seperti membangun istana pasir.   Oleh sebab itu, salah satu pebisnis wanita yang usahanya cepat meroket dalam kurun waktu 5 tahun, selalu memberikan dua target kepada para sales profesional. Yaitu target sales dan target networking. Maksudnya, selain angka terget penjualan, dia menargetkan berapa calon pelanggan baru yang harus ditemukan para sales (hal 73).

Selain yang sudah dijelaskan di atas, tentu saja masih banyak tips dan trik menarik yang bisa kita pelajari untuk memperoleh uang dengan cara mudah dan cerdas berjualan. Seperti selalu memasang target penjualan, menyiapkan produk dengan baik, memerhatikan penampilan yang bersih dan menarik, serya banyak lagi. Buku ini sangat membantu bagi siapa saja yang ingin memulai menjadi sales profesional.

Srobyong, 10 Agustus 2018 

Tuesday, 2 October 2018

[Resensi] Berwisata Sambil Mengenal Budaya Nusantara

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 30 September 2018


Judul               : 101 Travel Tips & Stories Indonesia 1
Penulis             : Claudia Kaunang, dkk
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : 288 halaman
ISBN               : 978-602-03-3165-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Pergi berwisata merupakan salah satu hiburan yang menarik dan menyenangkan untuk melepas lelah dari berbagai rutinitas. Misalnya berwisata ke pantai, pegunungan, museum atau berbagai lokasi wisata lainnya. Indonesia merupakan  negara gemah lipah loh jinawi yang memiliki banyak wisata menarik.  Dari sabang sampai merauke, setiap daerah menyimpan keindahan panorama yang sangat sayang untuk dilewatkan. 

Buku ini dengan paparan yang lugas, aktual dan persuasif akan mengajak kita mengenal lebih dalam tentang 13 wisata menarik di daerah  Indonesia serta panduan dalam berwisata. Ada Lampung , Bali, Bengkulu, Wakatobi, Banda Aceh, Makassar, Pontianak, Cirebon, Kupang , Sambas, Semarang, Demak dan Karimun Jawa. Selama mengunjungi tempat-tempat tersebut, selain bisa mengusir kepenatan, ternyata dari berwisata kita bisa  mengenal berbagai adat, budaya serta sejarah di Nusantara. Karena sebagai negara kepulauan yang terdiri dari berbagai daerah, agama dan suku bangsa, Indonesia sangat kaya dengan adat dan budaya.

Misalnya saja ketika kita berwisata ke Bengkulu.  Di sana kita bisa menikmati keindahan  alam yang memikat. Seperti menikmati keindahan di Danau Dendam Tak Sudah, Pantai Panjang, Pantai Tapak Paderi, Pantai Zakat dan banyak lagi.  Selain itu juga bisa berwisata sambil mengenal sejarah Indonesia.  Misalnya saja kita bisa mengunjungi Benteng Malrborough, yang merupakan benteng peninggalan Inggris. Benteng ini berdiri kukuh dengan kepala atau bagian depan  menghadap Bengkulu dan bagian punggung atau belanag menghadap Samudera Hindia.  Saat berkunjung kita bisa melihat beberapa meriam yang menghadap ke laut (hal 58).

Tidak kalah seru kita bisa mengunjungi Kediaman Bung Karno saat Pengasingan di Bengkulu. Pengasingan itu terjadi pada 1938-1942. Di rumah itu kita bisa melihat berbagai benda milik Bung Karno. Seperti sepeda ontel, ranjang, kursi tamu, dan buku koleksi Bung Karno. Selanjutnya kita bisa mengunjungi Museum Negeri Bengkulu.  Di sana kita bisa melihat berbagai benda-bedan bersejarah dan representasi adat istiada suku-suku di wilayah Bengkulu (hal 61).

Kita juga bisa berwisata sambil mengenal budaya di Bengkulu. Di mana kita bisa datang pada tanggal 1-10 Muharram berdasarkan kalender Islam. Karena pada saat itu ada sebuah Festival Tabot. Yaitu upacara tradisional masyarakar Bengkulu untuk mengenang kematian Husein Ali bin Abi Thalin, cucu Nabi Muhammad dalam peperangan melawan pasukan Ubaidillah bin Zain di padang Karbala (sekarang Irak).

Begitupula ketika kita berwisata ke Lampung.  Selain bisa menikmati berbagai wisata menarik, seperti mengunjungi Meseum Lampung, Teluk Kiluan,  Taman Nasional Way Kambas dan lain sebagainya, kita juga bisa melihat Festival Krakatau. Yaitu salah satu pertunjukan kebudayaan andalan Provinsi Lampung yang dilakukan setiap tahun di bulan Juli – Agustus.  Festival ini menampilkan parade yang mengangkat kekayaan budaya dan tradisi yang dimiliki Lampung.  Ada karnaval, aktrasi seni tradisional, pameran dan berbagai lomba (hal 86).

Tidak kalah menarik adalah wisata di Cerebon. Sebagai pelabuhan yang aktif sejak lebih dari 400 tahun yang lalu, ciberon menyimpan banyak sejarah. Misalnya saja Keraton Kesepuhan.  Keraton ini dibangun  pada 1452 oleh Pangeran Cakra Buana dan diperluas pada  1929 oleh Sunan Gunung Jati. Di sebelah kiri ada Museum Kereta Singa Barong, dan di sebelah kanan halaman teradapat Museum Benda Pusaka, yang memamerkan berbagai koleksi yang berkaitan dengan keraton (hal 99-100).

Jika kita tertarik berwisata ke Sambas, maka kita perlu berhat-hati. Perlu kita ketahui, Sambas masih merupakan daerah yang dikeramatkan. Oleh sebab itu, setiap pengunjung atau wisatawan sangat diharapkan menjaga bicaranya (jangan menghina, menyumpah dan sebagainya) dan menjaga perilaku, khususnya di objek-objek wisata yang dinilai suci dan sakral (hal 166). Misalnya ketika berkunjung ke Masjis Jami Keraton Sambas, Kareraton Sambas Alwatzikhoebillah dan banyak lagi.

Selain yang sudah dipaparkan di atas, tentu saja masih banyak tempat wisata lain, yang bisa kita kunjungi. Dari masing-masing tempat selain kita bisa menikmati keindahan bentang alam, bisa mengenal budaya dan sejarah, ternyata kita bisa mengenal berbagai kuliner nusantara juga berbagai wisata religi yang menarik.

Srobyong, 26 Juli 2018 

[Resensi] Dongeng yang Mengajarkan Bahaya Lisan

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 9 September 2018 


Judul               : Si Pahit Lidah
Penulis             : Dian K.
Penerbit           : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan           : Pertama, Maret 2017
Tebal               : 32 halaman
ISBN               : 978-602-394-621-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Dongeng merupakan salah satu media belajar yang baik untuk anak. Dengan mengenalkan dongeng pada anak, selain bisa sebagai sarana membangun  imajinasi anak, dongeng juga bisa menjadi bagian sebagai alat bantu mengenalkan anak nilai-nilai moral dan akhlak yang baik.  Dalah satu buku dongeng yang patut kita kenalkan pada anak adalah  dongeng asal Sumatera Selatan, berjudul “Si Pahit Lidah”. Di mana dalam dongeng ini, kita diingatkan untuk selalu menjaga ucapan.

Kita pasti sering mendengar ungkapan bahwa lidah itu lebih tajam daripada pedang. Yang artinya sebuah ucapan itu mampu menyakiti seseorang lebih dari rasa sakit ketika terkena senjata tajam. Oleh karena itu kita sering dinasihati untuk menjaga lisan atau ucapan. Jika kita takut menyakiti orang lain dengan ucapan kita, maka lebih baik jika kita hanya diam.

Dalam sebuah syair yang diambil dari kitab karya Muhammad Ibnu Ahmad Sohan dijelaskan “Seseorang itu tidak mati karena terpeleset kakinya, tapi dia meninggal karena terpeleset lidahnya. Karena terpeleset kaki itu lama-kelamaan bisa pulih kembali. Sedang terpeleset lisannya akan mendatangkan balak (cobaan ) hingga kelak di akhirat.”

Bahkan dalam Al-Quran surat Al-Isra’ ayat 53, Allah juga menyinggung anjuran untuk menjaga lisan kita. “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-ku, ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata.”

Dalam buku ini sendiri, penulis mengisahkan tentang Serunting yang iri dengan Aria Tebing—adik ipranya yang mana Aria Tebing ini memiliki jamur emas di kebunnya. Sedangkan di kebun Serunting sangatlah tandus dan tidak pernah ada jamur emas yang tumbuh di sana. Karena rasa iri yang bersarang di harinya, Serunting curiga, jangan-jangan Aria Tebing telah melakukan kecurangan (hal 6). Namun Aria Tebing menolak tuduhan yang dilontarkan Serunting.

Akhirnya Serunting menantang Aria Tebing untuk adu kekuatan, dengan syarat siapa yang kalah harus menyerahkan  kebun kepada yang menang. Tidak punya pilihan, Aria Tebing pun menerima tantangan tersebut. Meski sejujurnya dia sangat khawatir, karena dia tahu Serunting memiliki ilmu bela diri yang hebat.

Untuk mencegak kekalahannya, Aria Tebing pun mendatangi Siti—kakak sekaligus istri Serunting. Dia meminta bantuan kakaknya untuk menunjukkan kelemahan Serunting. Karena sudah mengetahui kekurangan Serunting akhirnya Aria Tebing pun menang. Sedang  Serunting yang kalah sangat marah. dia merasa dikhianti istrinya. Kekalahan itu menuntun jalan Serunting ke Bukit Siguntang dekat Gunung Mahameru (hal 13).

Dari sana dia mendapat sebuah kesaktian berupa apa pun yang dia ucapkan akan menjadi kenyataan. Namun kesaktian itu dia gunakan untuk  mengutuk apa pun yang dia temui. Karena perbuatannya itu, dia kemudian dijuliki “Si Pahit Lidah”. Serunting sama sekali tidak merasa bersalah dengan perbuatannya, bahkan dia bertekad akan membalas dendam Aria Tebing dengan kekuatannya itu.

Tapi pada suatu hari, saat kelelahan dia istrihat, dia menemukan tanah gersang yang tidak ada pohon satu pun. Padahal kala itu dia butuh pohon-pohon yang membawa kesejukan dan berlindung dari panas, akhirnya dia pun berucap, agar pohon-pohon tumbuh di sana.  Lalu bagaimana akhir perjalanan Serunting? Apakah dia akan tetap balas dendam atau memanfaatkan kekuatannya untuk kebaikan?

Dongeng bilingual—dua bahasa ini, selain mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga lisan atau ucapan, buku ini juga mengajak kita untuk mensyukuri nikmat dan tidak iri. Tidak ketinggalan, penulis juga mengingatkan bahwa membantu orang lain itu lebih menyenangkan daripada memelihara dendam. Karena perbuatan jahat hanya akan membuat kita dibenci dan diajuhi.

Lebih dari itu dari buku dongeng ini, adik-adik bisa juga belajar bahasa Inggris dengan cara yang menyenangkan. Apalagi bahasanya memang mudah dicerna dan cocok untuk selera anak.

Srobyong, 16 Maret 2018

[Resensi] Menghadapi Berbagai Masalah dengan Bijak

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 26 Agustus 2018 



Judul               : Arjuna & Kirana
Penulis             : Pricilia Chang
Penerbit           : Pastel Boosk
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 352 halaman
ISBN               : 978-602-6716-19-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Hidup tidak mungkin tanpa masalah, karena hidup memang tempatnya masalah. tinggal bagaimana kita menyikapinya, “Bukan hidup namanya jika tidak ada cobaan.” (hal 80).  Dan masalah itu hadir tidak pandang bulu. Bagi bagi orang yang sudah berkeluarga atau single. Baik itu dialami orang  dewasa, anak-anak juga remaja yang masih mengenakan seragam abu-abu. 

Dan konon masa putih abu-abu  itu masa yang paling  seru dan menarik. Masa di mana gejolak jiwa muda kita tengah bergelora. Masa di mana kita butuh pengakuan juga ajang pencarian jati diri. Mengambil sudut pandang dunia remaja, Pricilia Chang berhasil menghidupkan tokohnya dengan apik dalam kisah ini. 

Memang dunia remaja dan cinta itu tidak akan ada habisnya untuk dibahas. Selalu ada kisah dan cerita yang menarik dan unik. Meski pun sedikit banyak kita sering menemukan tema serupa, nyatanya setiap penulis memiliki khas sendiri dalam eksekusi cerita, sehingga cerita-cerita yang ada tidak pernah sama.   Begitu pula dalam kisah ini.  Tidak jauh dari masalah cinta dan persahabatan yang menjadi bumbunya.

Mengisahkan tentang Arjuna dan Kirana. Mereka memang satu kelas dan bahkan tinggal di kompleks perumahan yang sama. Namun nyatanya mereka tidak terlalu kenal bahkan tidak pernah saling sapa. Hingga di hari yang konon menurut para remaja, paling romantis—valentine—sebuah kisah bermula, hingga berbagai masalah mulai timbul. Dan mereka harus menyelesaikannya agar tidak ada yang seorangpun terluka.

“Ada tiga hal penting yang tak dapat dilihat, tetapi dapat dirasakan. Udara, sinyal Wi-Fi dan cinta.” (hal 24).

Kirana adalah tipe cewek cuek dan tidak terlalu memikirkan hubungan bernama pacaran.  Lalu suatu hari karena sahabatnya Jelita, meminta tolong sesuatu yang membuat dunia Kirana jungkir balik dalam seketika. Jelita meminta bantuan Kirana untuk memberikan sebuah cokelat pada Arjuna, agar diberikan pada Harris—sahabat Juna. Di sinilah akar masalahnya, karena jarang berbicara pada cowok, Kirana jadi grogi dan berahkhir sebuah kesalafahaman. Demi meluruskan kesalahfahaman itu, Kirana menghubungi Arjuna untuk menjelaskan pokok masalah, yang berakhir dengan jalan-jalan romantis dengan cowok itu.

Pada titik tersebut, siapa sangka setitik rasa tiba-tiba sudah merebak begitu saja. Percakapan awal yang bermula dari tidak disengaja, kini berlanjut begitu saja. Meskipun percakapan itu hanya menjadi rahasia di antara mereka. Mereka membangun dunia sendiri yang tidak pernah diketahui orang lain.

Namun bisakah seseorang menyimpan rapat sebuah rahasia? Karena sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.  Akhirnya baik Arjuna dan Kirana mulai berani menampakkan kedekatan mereka di depan umum.  Di mana akibat dari keterbukaan itu,  seseorang langsung berang.
Semua orang di sekolah tahu, Rasita sejak awal sudah membidik Arjuna. Dia ingin Arjuna hanya menjadi miliknya. Apalagi mereka memang sudah dekat dan bersahabat sejak SMP. Lalu melihat kenyataan Arjuna lebih memilih Kirana  yang baru dikenal. Belum selesai dengan kemarahan Kirana, Nevan sahabat Arjuna, ternyata juga memiliki rasa terhadap Kirana. Bagaimana Kirana dan Arjuna menyelesaikan masalah, agar tidak ada kesedihan juga pertengkaran di antara mereka. Karena  seharusnya cinta  tidak harus membuat persahabatan hancur.

Secara keseluruhan novel yang merupakan “The Wattys Winner for Visual Storytelling” ini menarik untuk diikuti. Penulis bisa membuat pembaca penasaran dengan kisah ini dari awal hingga akhir. Penulis mampu menggiring pembaca agar menyelesaiakn novel ini hingga khatam. Meski untuk beberapa bagian ada yang belum terasa konsisten. Tapi lepas dari kekurangannya novel ini bisa jadi teman baca yang seru.

Dari novel ini saya belajar tentang arti pentingnya menjaga lisan, “Ujung lidah lebih tajam daripada  ujung pisau.” (hal 289). Selain itu kita diajari untuk jujur baik pada orang lain juga diri sendiri. Karena ketidakjujuran hanya akan membuat orang lain terluka.
Srobyong, 11 Maret 2018