Thursday, 8 March 2018

[Cerita Anak] Berburu Kinjeng


Dimuat di Solo Pos, Minggu 4 Maret 2018 


Ratnani Latifah

            Berburu kinjeng adalah satu kegiatan yang paling sering Nana lakukan ketika pulang sekolah atau liburan. Seperti hari ini, Nana sudah siap untuk berburu kinjeng. Serangga yang bentuknya cantik seperti kupu-kupu. Hanya saja kinjeng ini lebih kecil dengan tubuh lacip dan runcing. Kalau dalam bahasa Indonesia, kinjeng ini  disebut capung.  Dia sudah membuat janji dengan Tutik untuk berburu kinjeng bersama. 

            “Pamit dulu, Bu. Mau berburu kinjeng. Assalamu’alaikum.” Pamit Nana. Dia bersiap akan ke rumah Tutik.

           “Wa’alaikum salam. Hati-hati, Na. Tapi ingat pesan ibu, ya, Na.” Ibunya menatap Nana penuh pengertian.

            “Siap, Bu. Nana ingat, kok!” Nana tersenyum. Setelah itu dia meraih sepedanya tidak lupa satu alat yang tidak mungkin dia tinggalkan kalau ingin berburu kinjeng.     

            Saat ingin berburu kinjeng, Nana selalu siap dengan aqua gelas atau botol apa saja yang dilubangi kecil untuk memasukkan gagang kayu untuk pegangan. Lalu satu wadah lagi sebagai tempat menyimpan kinjeng.   Tapi kadang dia  juga berburu langsung dengan memakai tangan.  Dia akan membentuk capit dengan ibu jari dan jari telunjuk.

            Sesampainya di rumah Tutik, ternyata sahabatnya itu sudah menunggu dengan alat yang lengkap.  Dua siswi kelas lima sekolah dasar itu, langsung menunju tanah luas yang cukup rimbun dengan tanaman hijau,  di belakang masjid. Di sana banyak sekali kinjeng yang beterbangan ke sana- kemari. 

            Tanpa diberi komando, Nana dan Tutik langsung mulai berburu kinjeng. Mereka seperti sudah punya aturan sendiri. Siapa yang paling cepat mengumpulkan kinjeng dalam wadah mereka, maka dialah pemenangnya.

Namun baru beberapa menit, Tutik sudah mulai ribut. “Yah ... kinjeng-nya lepas.”  

Teriakan Tutik histeri, yang langsung membuat Nana kaget dan kinjeng yang hampir dia tangkap akhirnya berhasil lolos.

Nana langsung memberi isarat pada temannya itu untuk jangan berisik. Dalam berburu kinjeng konsentrasi memang sangat dibutuhkan. Karena kinjeng itu sangat peka dan tidak mudah tertangkap.
“Aduh ... gagal lagi.” Tutik kembali berisik. Gadis berkucir  dua itu, menyibak semak-semak, mengejar  kinjeng emas atau capung berwarna emas,  yang tadi hampir dia tangkap.

Dan satu detik kemudian dia langsung berseru lebih keras. “Akhirnya dapat juga. Na, lihat aku dapat kinjeng emas.” Tutik mengacungkan tangannya dengan bangga.

“Wah ... hebat, kamu Tut. Mana lihat.” Nana ikut bersemangat.

Kedua gadis kecil itu menatap kinjeng dengan warna kemerahan itu dengan takjub.

“Eh, tapi kenapa tadi ribut banget sih. Aku jadi nggak konsertasi tahu,” protes Nana.

“Maaf. Habis aku semangat banget ingin mendapat kinjeng emas. Jadi sedari tadi aku sengaja fokus memburunya.” Tutik tersenyum lebar.

“Memang kenapa harus kinjeng emas? Biasanya kan kita menangkap kinjeng apa saja.” Nana menatap bingung ke arah Tutik.

“Kinjeng trasi, kinjeng dom, kinjeng emas, kinjeng macan.”[1]  Nana menyebut beberapa jenis kinjeng yang ada di sana.

“Aku belum bilang, ya. Aku bermaksud mau memelihara kinjeng emas, jika hari ini berhasil menangkapnya. Pasti seru sekali punya kinjeng di rumah. Jadi aku akan puas melihatnya tumbuh dan mungkin beranak. Aku sudah menangkap dua. Meski aku tidak tahu nana yang jantan dan betina.” Tutik terawa polos.

“Apa? Kau mau memelihara kinjeng?” Nana nampak kaget dengan cerita Tutik.

“Iya, aku sudah meminta izin ibu tadi. Kenapa Na? Kelihatannya kamu tidak suka. Kalau mau memelihara juga, tidak apa-apa. Aku bantu menangkap kinjeng emas juga.”

Nana menggeleng. “Bukan begitu, Tut.” Nana menatap beberapa kinjeng yang masih ada di aqua gelas yang kemudian dia lepaskan. 

“Aku tidak ingin memelihara kinjeng, Tut. Aku sudah cukup senang seperti ini. berburu kinjeng, menangkapnya lalu melihat mereka lebih dekat dan kemudian melepasnya.” Nana duduk di rerumputan.

“Ibu bilang aku tidak boleh menyakiti binatang. Meski aku sering berburu kinjeng, aku harus mengembalikanya ke alam. Karena itulah rumah terbaik bagi kinjeng.” Nana menarik napas sebentar.

“Kamu pasti tidak senang jika dikurung, bukan? Tidak mau hidup terpisah dengan keluarga? Nah, begitu pula kinjeng. Dia tidak mau dikurung.”

Mendengar ucapan Nana, seketika Tutik langsung melepaskan dua kinjeng emas yang tadi dia tangkap.

“Nggak jadi, deh. Makasih ya, Na. Sudah diingatkan. Kita berburu kinjeng saja, kalau ingin melihat kinjeng.” Tutik berucap dengan tawa lebar, membuat Nana ikut tertawa.

Srobyong, 18 Februari 2018



[1] capung berwarna abu-abu, capung yang bentuknya menyerupai jarum, capung yang berwarna emas,  capung dengan bintik-bintik di tubuhnya. 

Tuesday, 6 March 2018

[Resensi] Petualangan Gadis Bersepatu Merah

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 4 Maret 2018



Judul               : Gentayangan
Penulis             : Intan Paramaditha
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama,Oktober  2017
Tebal               : 512 halaman
ISBN               : 978-602-03-7772-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Jangan sembarangan menerima pemberian, demikian nasihat orangg-orang tua dulu, tapi kau terlanjur meminta paket itu : hadiah sekaligus kutukan. Iblis Kekasih memberimu sepasang sepatu merah.” (hal 1).

Dibuka dengan prolog yang menarik sudah menjadi daya tarik tersendiri dari novel ini. Sudut padang  orang kedua yang dipilih penulis dalam bercerita, juga memiliki kekuatan magic dalam menyihir pembaca untuk terus melanjutkan setiap jalinan cerita. Lalu yang menarik lagi judul dari novel ini sendiri—Gentayang—namun tak ada sangkut pautnya dengan kisah horor, meski menyebut-nyebut perjanjian dengan iblis—karena dalam novel ini kata gentayangan lebih pada petualangan-petualangan seru yang mendebarkan dengan balutan berbagai aspek kehidupan.

Berkisah tentang seorang perempuan berusia 28 tahun—tokoh kau—yang merasa bosan dengan kehidupannya yang dirasa sangat monoton.  Dia ingin memiliki kehidupan yang luar biasa, yang tidak sama dengan kakak atau teman-temannya. Hidup yang hanya menjadi miliknya. Di sinilah campur tangan Iblis Kekasih menjadi awal mula petualangan perempuan itu. Dia sudah diperingatkan bahwa tidak baik menerima pemberian orang lain yang belum dikenal baik. Namun dia tetap menerima sepatu merah, tanpa membaca surat yang terselip atau surat kontrak—yang ternyata menjelaskan tentang  sepatu itu konon memiliki kutukan.

Petualangannya sendiri dimulai dari kepergiannya dari New York. Tempat yang sejujurnya sudah dia impikan sejak dulu untuk dikunjungi. Meski sempat bingung dengan perubahan keadaan yang begitu tiba-tiba—mengingat dia tiba-tiba sudah terbangun dan berada di taksi menuju bandara John F.  Kennedy, sedang dia tidak ingat kapan dia sampai di New York. Tapi yang lebih membuatnya kaget adalah ketika dia menyadari bahwa sebelah sepatu merahnya tidak ada. Dari kisah ini kita akan ditemukan kembali dengan jalinan cerita yang unik tidak biasa. Karena dari kisah pertama ini, kita akan diberi pilihan tiga cerita; kembali ke Now York dan melupakan perjalananmu, melaporkan hilangnya sepatunya atau melanjutkan perjalanan ke Berlin (hal 20).

Penulis memberi kebebasan pembaca untuk membaca bagian mana saja yang disukai. Kita bebas memilih akhir dari setiap cerita. Tidak ada aturan mutlak harus membaca secara urut. Di sini kita benar-benar bebas bereksperimen cara membaca novel yang asyik menurut kita sendiri. Dari tiga pilihan yang ditawarkan Intan sebagai permulaan, kita akan dipertemukan dengan kisah-kisah lain yang ternyata memiliki benang merah dan perjalanan itu.  Dengan gaya bahasa penulis yang rapi dan memikat, akan membuat kita terus merasa haus dan penasaran dengan petualangan-petualangan yang ditawarkan penulis hingga akhir. Kita akan dibuat bertanya-tanya tentang bagaimana petualangan-petualangan tokoh kau dan takdir dari kutukan yang dibawa sepatu merah.

Petualangan dari gadis bersepatu merah ini tidak hanya membawa kita menjejakkan kaki di New York, tapi ada juga perjalanan ke Berlin, Los Angeles, Amsterdam,  perbatasan Tijuana dan lain-lain . Dan selain itu gentayangan di sini tidak melulu tentang pergi ke luar negeri tapi bisa juga gentayangan itu berlokasi di gereja di Hearleem,  masjid di Jakarta, taksi pengap atau kereta yang tak mau berhenti dan banyak lagi.

Terlepas dari masalah teknik bercerita penulis yang tidak biasa ini. Melalui kisah ini penulis menawarkan kisah berbalut kritik sosial yang cukup kental.  Semisal tentang kerusuhan Mei 1998, penculikan aktivis tahun 1997/1998 hingga gerakan G30S/PKI. Ada juga kritik agama yang kerap menjadi perdebatan panjang di negara ini setiap tahunnya, serta lemahnya masalah hukum.

“Di negerimu, orang menculik manusia sungguhan, bukan kurcaci kebun. Mereka hilang tanpa pernah  ketemu, dan banyak penculik tak pernah dihukum.” (hal 91).

Sebuah novel yang tidak biasa. Dalam novel ini saya masih merasakan unsur feminisme dan  dongeng yang cukup melekat seperti buku sebelumnya—Sihir Perempuan. Meski pada keunikan yang ditawarkan—tentang pilihan ending—juga memiliki dampak membosankan, karena kita kerap harus mengulang kisah-kisah ketika menyambungkan isinya agar tidak melupakan kisah sebelumnya. Namun lepas dari kekurangannya, novel ini cukup menarik untuk diikuti.  Di sini kita belajar untuk saling menghormati baik kepada siapa saja.

Srobyong, 22 Februari 2018 

[Resensi] Selalu Bersyukur Agar Hidup Bahagia

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 25 Februari 2018


Judul               : Jalani, Nikmati, Syukuri
Penulis             : Dwi Suwiknyo
Penerbit           : Noktah (Diva Press Group)
Cetakan           : Pertama, Januari 2018
Tebal               : 260 halaman
ISBN               : 978-602-50754-5-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Bahagia itu tidak tergantung dari sosial tinggi, uang berlimpah atau pekerjaan yang bergengsi. Melainkan bahagia itu dilihat bagaimana kita menjalani, menikmati dan mensyukuri hidup yang kita miliki. Buku ini dengan pemaparan yang lugas dan tidak menggurui memuat 52 hal yang mengajak kita untuk memahami konsep bahagia, lewat sudut pandang yang berbeda.

Untuk mencapai kebahagiaan kita harus memiliki keyakinan yang kuat. Yakin bahwa Allah selalu bersama kita, sehingga kita tidak perlu khawatir apalagi menggugat kehendak-Nya. Yakin bahwa setiap cobaan yang Allah berikan pasti akan ada hikmahnya. Meski  cobaan itu kadang datang bertubi-tubi, kita harus tetap menjalaninya dengan sabar dan mensyukurinya.

Kita harus belajar menerima berbagai keadaan yang mungkin tidak sesuai dengan harapan. Sabar dan ikhlaskan. Ada kalanya apa yang baik menurut kita belum tentu baik di mata Allah. Dan apa yang buruk bagi kita ternyata baik di mata Allah. Di sinilah kita belajar menerima. Manusia bisa berencana dan berusaha, namun Allah-lah yang paling berkuasa untuk mewujudkan atau tidak. Maka perlu kesabaran bagi kita jika apa yang kita harapkan belum terwujud.

Kita juga harus belajar merelakan. Dalam artian, ketika apa yang kita sukai tidak menjadi rezeki kita, maka sudah sepantasnya kita merelakan. Kita harus yakin, Allah akan memberi ganti yang lebih baik dan yang tidak pernah kita duga. “Apa-apa yang bukan hak kita akan kembali kepada kita. Dan apa-apa yang bukan hak kita, dikejar-kejar sampai kapan pun, tidak akan pernah kita dapatkan.” (hal 38).

Perlu kita ketahui, kaya itu belum tentu enak.  Uang berlimpah belum tentu membuat kita tidur nyeyak. Karena kita akan dihantui ketakutan akan adanya para pencuri yang mungkin mengincar uang kita. Sebaliknya menjadi orang yang sederhana dan tidak punya, belum tentu sengsara. Bisa jadi kekurangan itu malah membuat mereka lebih banyak bersyukur dan hidup tenang.

Inilah kenapa agar kita merasa bahagia, kita perlu membiasakan berpikir positif. Karena pikiran positif akan memberi energi positif juga. “Apa yang kita kerjakan sangat dipengaruhi oleh apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita pikirkan sangat dipengaruhi oleh kata-kata yang tersimpan (tertanam) di dalam pikiran.” (hal 101).

Selanjutnya agar hidup lebih bahagia, jangan sampai kita diperbudak kebencian apalagi sampai menjadi iri, dengki bahkan dendam. Karena sifat-sifat tersebut hanya akan membuat kita menjadi orang yang mudah resah, memikirkan bagaimana cara kita menyaingi atau menjatuhkan orang lain demi kepuasan batin kita.

Kita harus berdamai dengan diri sendiri. Karena hal itu akan membuat kita lebih memahami apa yang kita butuhkan dan apa yang perlu kita tinggalkan. Di sini kunci yang harus kita pegang teguh adalah kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani semua yang sudah ditakdirkan Allah. Sabar dan ikhlas akan membuat kita lebih bisa mengontrol diri dan tidak mudah terpancing kemarahan.

Yang tidak kalah penting selalu bersyukur dalam keadaan apa pun. Saat mendapat nikmat bahkan saat mendapat cobaan. Karena dengan bersyukur hati kita akan lebih lapang dan tenang. Dengan bersyukur kita akan lebih menghargai apa yang  kita miliki. Setelah bersyukur kita harus bertahan dalam segala situasi. Baik itu dalam masalah jodoh, rezeki, karir, kesehatan, bisnis atau keluarga.  Orang yang mau bersyukur ketika mendapat ujian dan menerimnya dengan ikhlas, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang beruntung.

Buku ini sangat memotivasi, menunjukkan bahwa bahagia bukan hanya karena uang berlimpah atau jabatan tinggi. Namun rasa syukur, sabar dan ikhlas yang menunjukkan kualitas diri. Kita memang tidak bisa memilih bagaimana cara kita memulai hidup ini, tetapi kita masih diberi kesempatan untuk memikirkan bagaimana cara kita menikmati hidup ini, dan bagaimana cara kita menyikapi hasilnya (hal 10).

Srobyong, 28 Januari 2018 

Monday, 5 March 2018

[Cerita Anak] Belajar Bersikap Adil


Dimuat di Kompas (Nusantara Bertutur) Minggu, 18 Februari 2018


by Ratnani Latifah 


 Ana dan Ani adalah saudara kembar. Mereka  tinggal di Jepara, Jawa tengah. Keduanya  duduk di kelas enam SDN Nusa Indah.  

  Di sekolah Ani terpilih sebagai ketua kelas. Dia harus mengatur berbagai urusan kelas dengan adil dan bijaksana. Misalnya dia harus memberi teguran dan  sanksi jika ada teman-temannya yang tidak mau menjalankan tugas piket.  Murid yang tidak mau menjalankan piket,  akan disuruh membersihkan kelas sepulang sekolah. Peraturan itu sudah disetujui semua murid. Karena dengan begitu, mereka juga belajar bertanggung jawab.

Hari ini kebetulan adalah tugas piket Risa, Bagus, Sari, Andi dan Ana. Risa, Sari dan Bugus sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Mereka sudah berangkat lebih pagi dan mulai membersihkan kelas.  Tapi tidak dengan Andi dan Ana. Ketika sampai di sekolah, keduanya malah asyik mengobrol di depan kelas, tanpa berniat membantu. Ani pun langsung menegur mereka.

“Hai, kalian kok malah mengobrol di sini?” tegur Ani.

“Bukankah hari ini kalian tugas piket?”

“Santai saja, Ani. Semua sudah dikerjakan Risa, Sari dan Bagus, kok. Iya, Kan Ndi?”  Ani meminta persetujuan Andi.

“Bener banget. Tuh mereka saja tidak protes pada kami.” Andi tertawa santai.

“Tidak bisa begitu, dong ... ini kan juga tugas kalian. Lihat mereka masih sibuk membersihkan kelas. Eh ... kalian malah bersantai di sini.” Ani terlihat marah. Tapi Ana dan Andir terlihat tidak peduli.

“Baiklah, jika kalian tidak mau ikut membantu, maka sesuai perjanjian yang kita sepakati di kelas, kalian akan dapat hukuman.” Ani bersedekap sambil menatap Ana dan Andi.

“Kalian berdua harus membersihkan kelas sepulang sekolah!”

“Eh ... kok kamu gitu, An. Aku kan saudara kembarmu, masak dihukum juga.” Protes Ana.

“Memang kenapa kalau saudara? Kalau kamu melangar tentu saja tetap harus aku hukum.” Ani menjelaskan. Sepertinya Ana berani berulah, karena merasa pasti akan dibela Ani karena saudara.

“Benar, kan Ndi? Kamu pasti tidak mau kalau yang dihukum hanya kamu, sedang Ana tidak. Padahal kalian sama-sama melanggar aturan.” Kali ini Ani yang meminta persetujuan teman satu kelasnya itu. Tanpa ragu Andi pun langsung mengangguk.

            Pada akhirnya Ana pun tidak ada pilihan. Dengan Andi dia membersihkan kelas sepulang sekolah.

            Sesampainya di rumah, Ana langsung menceritakan kejadian itu pada ibunya. Dia menceritakan kalau tindakan Ani itu sama sekali tidak adil. 

            “Bukankah sesama saudara harus saling membantu? Iya, kan Bu?”  

Dia yakin Ani pasti akan ditegur ibunya, karena tidak membantu saudaranya.

            Tapi ternyata Ana salah, ibunya malah membenarkan perbuatan Ani. Apa yang dilakukan Ani telah menunjukkan sikap adil sebagai seorang ketua kelas. Dia tidak memihak pada siapa pun, meski itu saudaranya sendiri. Siapa pun yang bersalah harus dihukum.

            Ana menunduk malu. Ternyata dialah yang salah. Dia pun meminta maaf pada Ani. Dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

            Srobyong, 12 Februari 2018 

[Resensi] Catatan Kehidupan Anne yang Menginspirasi

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 18 Februari 2018 


Judul               : Anne of the Island
Penulis             : Lucy Maud Montgomery
Penerjemah      : Indradya SP & Nur Aini
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, Maret 2017
Tebal               : 400 halaman
ISBN               : 978-602-402-072-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

“Kepedihan yang Tuhan berikan kepada kita mengandung hiburan dan kekuatan.” (hal 84).

Novel ini merupakan seri lanjutan dari buku 2 sebelumnya—Anne of Green Gables dan Anna of Avonlea. Dan tentu saja kisah ini masih berpusat pada sosok Anne Shhirley yang memiliki sifat polos dan apa adanya dalam menghadapi kehidupan. Namun di sisi lain Anne adalah sosok yang memiliki mimpi dan semangat berjuang untuk mewujudkanya.

Dalam seri ketiga ini, Anne sudah mulai beranjak dewasa. Dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Redmond. Dan itu berarti dia harus rela meninggalkan Green Gables dan segala kenangan manisnya dan kebersamaan yang menyenangkan.  Beruntung dalam masa perantauannya itu, ada juga Gilbert Blythe—sahabatnya yang juga melanjutkan pendidikan, juga Charlie Sloane—teman Anne juga. Tidak ketinggalan,  ada pula Pricilla Grant sahabat yang juga akan menjadi teman satu pondokan dengan dirinya.

Masih dengan keluguannya kita akan dijasikan kisah-kisah yang terjadi di masa perkuliahan Anne.  Di mana di awal perkuliahan dia berkenalan dengan Phillipa Gordon—gadis cantik yang lahir dari keluarga kaya, namun sedikit plin-plan (hal 56). Yang tidak terduga dari perkenalan itu adalah tentang kenyataan bahwa Phillapa berasal dari  tempat kelahiran Anne—Bolingbroke, Nova Scotia. Di sinilah pertemanan mereka mulai terjalin dan semakin akrab setiap harinya. Mereka tinggal bersama di Patty’s Place, sebuah rumah yang indah dan menyenangkan.

Namun meski sibuk dengan pendidikannya, Anne tidak pernah melupakan Avonlea. Sesekali dia tetap pulang dan menikmati kesejukan tempat tinggalnya. Kejutan yang dia dapat saat pulang ke desanya adalah perihal gosip hubungan dirinya dengan Gilbert. Memang benar mereka sangat dekat, tapi bagi Anne Gilbert hanyalah sahabat. Dia tidak mau persahabatan mereka hancur karena cinta. Lagi pula Anne punya impian tersendiri tentang kisah cintanya.

Oleh karena itu ketika tiba-tiba Gilbert mengungkapkan cinta padanya, Anne sangat marah.  Dia juga menolak menjadi kekasih Gilbert. Masalah inilah yang akhirnya membuat hubungan Anne dan Gilbert sempat renggang. Bersamaan dengan itu hadir sosok yang menyerupai impian Anne. Dialah Royal Garner. Mereka pun langsung dekat bahkan sudah tersiar kabar kalau mereka akan segera bertunangan.  Sedang Gilbert konon katanya mulai dekat dengan Christie yang entah kenapa ketika mendengar kabar itu, membuat Anne sedikit tidak suka.

Selain itu tentu saja masih banyak kisah-kisah lain tidak terduga yang akan terjadi dengan Anne dan teman-temannya. Semisal percinta Phillipa yang sempat bingung harus memilik Alec atau Alonzo. Namun pada akhinyirnya Phillipa memilih sesuatu yang tidak terduga. Pun dengan Anne yang mulai memikirkan ulang tentang perasaannya hingga membuat keputusan yang mengejutkan banyak orang. Ada pula tentang impian Anne soal menulis. Selain kisah-kisah bahagian kesedihan pun tak lepas dari perjalanan hidup Anne, ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia.

Novel ini dikisahkan dengan runtut dan tutur bahasa yang lembut.  Cukup menghibur dan membuat kita banyak belajar dari sosok Anne. Karena dia memiliki cara pandang yang menarik dan bijaksana. Misalnya dalam memahami berbagai cobaan dalam hidup.

“Tidak ada  kehidupan yang dapat berkembang dengan baik dan menjadi utuh tanpa adanya cobaan dan kepedihan—walaupun mungkin kita baru akan mengakuinya itu jika kita cukup nyaman.” (hal 84).

Atau ketika dia menasihati Davy dalam masalah menjaga perkataan baik dan buruk. “Kata-kata kotor akan meracuni pikiranmu dan mengusir semua hal yang baik dan berani.” (hal 96).

Namun di sisi lain, Anne adalah sosok yang cukup keras kepala. Sehinga butuh waktu lama untuk menyadari siapa sosok yang benar-benar dia cintai. Bagi saya novel ini memang tidak terlalu banyak twist. Tapi hal itu tetap tidak mengurangi keseruan dalam kehidupan Anne yang seru dan menarik.  
Dari novel ini kita belajar arti ketulusan dan kejujuran. Serta kemauan keras dan tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita.  “Pengalaman baru  akan memperluas wawasan kita.” (hal 80).  
Srobyong, 7 Januari 2017