Thursday, 10 August 2017

[Resensi] Terorisme dan Kisah Pencarian Jati Diri

Dimuat di Analisa Medan, Rabu 9 Agustus 2017


Judul               : Boys Beyond The Light
Penulis             : Astrid Tito dan T. Akbar Maulana.
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Agustus 2016
Tebal               : 212 hal
ISBN               : 978-602-03-3216-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

“Mengapa terorisme seakaan identik dengan Islam? Sedangkan kekerasan bisa dijumpai di seluruh benua dan juga dilakukan oleh umat lain.”  (hal 204).


Novel ini terinspirasi dari sebuah film dokumenter, yang merupakan kisah nyata tentang perekrutan pemuda Indonesia untuk bergabung dengan RIIS—Republic of Islam Iraq Syiria, lewat jaringan sosial media. Dalam novel ini kita diajak mengenal 4 pemuda dengan cita-cita berbeda namun bertemu pada medan sama yang tidak terduga.

Ada Galih, seorang anak konglomerat Jakarta. Apa pun yang dia inginkan, akan sangat mudah dia dapatkan. Kecuali satu, perhatian kedua orangtuanya. Di mana mereka terlalu sibuk dengan berbagai bisnis hingga tak memiliki sedikit waktu untuk dirinya. Hal ini-lah yang kadang membuat Galih tidak suka. Satu hal yang dia syukuri, bahwa dia memiliki seorang kakak yang baik hati, yang selalu setia menemaninya.

Ada pula Abay  yang berasal dari Susoh, Aceh Barat Daya. Dia adalah siswa beprestasi baik dalam ilmu akademik juga olahraga. Selain itu dia juga menghafal Al-Quran.  Hal itulah yang kemudian mengantar Abay belajar di Turki. Selanjutnya ada Bagas—kakaknya Galih.  Sebagaimana Abay, Bagas juga seorang pemuda yang pintar. Hanya saja permasalahan keluarga telah membuatnya menjadi sosok berbeda. Dia ingin bebas. Dia tidak mau dikekang dengan segala harapan ayah dan ibunya.

Terakhir ada Teguh, kakak kelas Abay. Masa lalu yang kelam, membuat Teguh memilih jalan tidak terduga. Jalan yang dia yakini sebagai jalan paling benar dan memang harus dia lakukan. Dendam merasuk kuat dalam sanubarinya.

Bermula dari alasan yang bertolak belakang, mereka pada akhirnya bertemu dalam organisasi RIIS. Tapi di sisi-lah kisah mulai semakin menarik. Galih yang memang memilih jalan itu karena mengikuti jejak sang kakak, lama-lama mulai tidak menyukai pilihannya ini. Apalagi puncaknya ketika dia diminta sebagai anggota yang melakukan bom bunih diri (hal 147).

Hal itu pun terjadi kepada Abay, dia yang awalnya ikut bergabung karena, ingin terlihat gagah di hadapan wanita yang pernah dicintainya, merasa tidak siap dan tidak setuju dengan adanya bom bunuh ini. Bagaimana pun bunuh diri adalah tindakan yang dilarang agama. Belum lagi apa yang akan terjadi dengan ibu dan adiknya jika dia nekat melakukan hal gila ini?

Abay dan Galih pun menyusun rencana untuk melarikan diri. Sayangnya, Teguh mencium gelagat itu. Dia tidak terima anak buahnya melakukan pengkhianatan.  Pertempuran sengit pun tidak bisa dihindari.  Mereka saling baku hantam untuk mempertahankan kepercayaan masing-masing. Teguh yang meyakini, jihad seperti inilah yang terbaik dan pastinya akan diridai Allah yang akan mengantar ke surga.

Dan keyakinan itu berbanding terbalik dengan Galih dan Abay.  Selama mereka ikut berjuang, pertempuran hanyalah menyisakan duka, membuat banyak pihak  kehilangan keluarga dan saudara. 
Dulu memang Abay sempat memiliki pemikiran yang sama dengan Teguh. Namun setalah diam-diam bisa menghubungi ibunya, banyak pencerahan yang akhirnya Abay dapat. Dia merenung dan merenung.  Di mana dia meyakini, jihad tidak harus melalui peperangan. Tapi bisa dengan ilmu pengetahuan bahkan berbakti kepada orangtua. Jihad yang saat ini dia lakukan, hanyalah imbas  dari geopolitik dunia.  

Kehidupan Abay dan Galih pun dipertaruhkan dalam pelarian ini. Akankan mereka selamat atau kembali untuk mendapat hukuman berat.  Tapi sebuah suara letusan pada akhirnya menjawab semua pertanyaan itu.

Sebuah novel yang menarik dan menginspirasi.  Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah, dan pemilihan pov yang menarik—diceritakan bergantian dari sudut pandang Galih dan Abay.   Dan beberapa kekurangannya tidak menutup kenikmtan dalam membaca.

Novel ini  menunjukkan bagaimana empat pemuda yang mencoba mencari jati diri dalam balutan terorisme. Mereka tanpa adanya bimbingan dari orang dewasa, mudah terseret dan terpengaruh. Banyak pembelajaran yang bisa kita ambil dari novel ini. Tentang Islam, politik, pengaruh ideologi dan banyak lagi.  Juga ada  beberapa sindiran yang sangat telak. Di antaranya,  “Dari mana kamu tahu akan masuk surga? Kamu telah mengambil alif fungsi Allah sebagai Tuhan.” (hal 103).

Srobyong, 10 April 2017 

[Resensi] Kiat Mudah Menjadi Cewek Kuat dan Tegar

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 6 Agustus 2017 


Judul               : Jangan Jadi Cewek Cengang
Penulis             : Linda Satibi, dkk
Penerbit           : Indiva
Cetakan           : Pertama, April 2017
Tebal               : 208 halaman
ISBN               : 978-602-6334-18-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

“Orang mukmin yang kuat adalah lebih baik dan lebih baik dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Namun keduanya itu pun sama memperoleh kebaikan. Berlombalah untuk memperoleh apa saja yang memberikan manfaat kepadamu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.” (hal 15).

Buku yang ditulis 12 penulis ini mencoba memaparkan tentang kiat mudah  menjadi cewek kuat dan tegar.  Meski jatuh berkali-kali, mereka selalu bangkit lagi dan terus berjuang sampai titik darah penghabisan. Dan tangis yang mereka keluarkan bukanlah tanda kalau wanita adalah makhluk cengeng,  tangisan adalah cara mereka mengeluarkan energi negatif dalam diri dan kemudian bangkit lagi.   Buku ini sangat patut dibaca bagi para wanita yang belajar arti ketegaran.

Dalam salah satu ulasan, dipaparkan bahwa wanita itu harus selalu menerapkan sikap KIPOP. Yaitu kuat, ikhlas, pantang menyerah, optimis dan positif.    Kuat berarti, meski wanita menangis, mereka melakukannya bukan karena lemah, tapi untuk mengeluarkan sampah yang ada, meluapkan sejenak kesedihan yang dirasakan. 

Ikhlas. Kita harus sadar bahwa segala hal yang kita alami adalah ujian dari Allah.  Ikhlas memang tidak semudah pengucapan atau penulisannya. Dan cara paling ampuh adalah dengan senantiasa mengingat bahwa semua yang ada di alam semesta ini adalah kepunyaan-Nya (hal 16).

Pantang menyerah—yaitu sifat selalu tabah dan tidak mudah menyerah hanya karena tumpukan masalah hadir dalam kehidupan kita.  Pernah mendengar kisah Sumayyah binti Khayyat? Dia adalah salah satu sahabiya yang sangat kuat. Segala macam siksa lahir dan batin sudah beliau rasakan. Seperti dijemur di tengah sengatan terik matahari sambil dipakaikan baju besi. Dia  juga dihina dengan dengan kata-kata kotor dan perlakuan-perlakuan yang keji. Namun Sumayyah tidak menyerah dalam membelas iman dan Islam, sampai titik darah penghabisan, hingga dia meninggal dalam keadaan syahidah (hal 17-18)

Optimis. Sebagai seorang wanita kita harus selalu memiliki pemikiran ke depan. Percaya bahwa selalu ada jalan dalam setiapa hambatan. Kita selalu percaya ada Allah di sisi kita.  Coba kita renungkan sejenak tentang kisah Siti Hajar. Dia adalah sosok wanita yang luar biasa sabar dan optimis. Ketika dia dan Ismail ditinggal dalam tanah kering, dan kebetulan bekal mereka habis, Siti Hajar tidak mengeluh. Dia tahu putranya sedang kehausan, oleh karena itu dia segera mencari pertolongan untuk mendapat air. Meski berkali-kali gagal, dia tidak menyerah. Dalam dirinya sudah tertanam optimisme bahwa Allah tidaak akan melupakan hambanya. Hingga akhirnya pertolongan Allah benar-benar tiba, melalui Nabi Ismail.

Terakhir positif. Yaitu kita mau positive thingking, positive feeling dan positive motivationselalu ber-positif thinking—yaitu ketika kita mendapatkan masalah apa pun, kita harus langsung berpikir bahwa itu adalah ketentuan terbaik dari Allah. “Berbaik sangka terhadap Allah termasuk ibdaha yang baik.” (hal 24).  positive feeling—yaitu kita selalu memiliki perasaan baik. Mampu mengendalikan marah atau pun energi negatif lainnya dalam menghadapi masalah.   Agar selalu positive feeling kita harus menenangkan diri terlebih dahulu.

Terakhir adalah memiliki positive motivation—kita harus selalu menjaga niat kita agar tetap berada di koridor yang baik. Bahkan ketika kita sedang menghadapi masalah yang berat, kita harus niatkan semuanya demi beribadah kepada Allah. Karena apa pun yang kita lakukan akan mendapat balasan sesuai dengan niat yang kita tanam (hal  25).

Sebuah buku yang patut dibaca bagi siapa sajaa, khusunya bagi wanita. Dipaparkan dengan gaya bahasaa santi dan renyah, membuat buku ini sangat bersahabat.

Srobyong, 28 Juli 2017 

Monday, 7 August 2017

[Resensi] Belajar Cara Menghadapi Masalah dari Novel

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 6 Agustus 2017 


Judul               :  Some  Kind of Wonderful
Penulis             : Winna Efendi
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Januari 2017
Tebal               : 360 halaman
ISBN               : 978-602-03-3555-1
Persensi           : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

“Kekuatan bukan dinilai dari seberapa sedikit air mata yang diteteskan, atau dari seberapa banyak kau pernah merasa goyah. Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyuman mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan.” (hal 303).

Mengambil tema persahabatan berbalut cinta dan kehilangan, membuat novel ini terasa dekat dalam kehidupan sehari-hari.  Karena sadar atau tidak sadar, dalam persahabatan antara pria dan wanita sering terselip rasa kasih yang tumbuh menjadi cinta. Hanya saja rasa itu tidak selalu kisah itu berakhirr bahagia. Ada kalanya gayung bersambut, ada kalanya cinta  yang dimiliki hanya bertebuk sebelah tangan hingga berakhir retaknya persahabataan.

Ada Liam Kendrick yang memilih pergi ke Sydney dengan alasan untuk mewujudkan mimpinya sebagai seorang koki. Padahal di balik kepergiannya, Liam  haanyalah sosok yang butuh tempat berlari, agar tidak bertemu lagi dengan Wendy. Cinta pertamanya yang bertepuk sebelah tangan. Wendy adalah  sahabat Liam sejak kecil juga gadis yang sudah mencuri hatinya. 

Dan kenyataan yang membuat Liam lebih sakit lagi adalah, kenyataan tentang siapa laki-laki yang akhirnya dipilihan Wendy untuk dinikahi. Willem—adik laki-laki Liam meski berbeda ibu.  Tapi bisa apa Liam selain memberi restu? Bukankah tidak mungkin dia menghalangi dua orang itu menjuju altar suci? Itu-lah alasan yang akhirnya membuat Liam memilih meninggalkan bangku kuliah dan tinggal di Sydney. Membuka lemabaran baru meski sejatinya, bayang-bayang kenangan masa lalu, masih menghantuinya.

“Karena aku ingin memutuskaan hubungan dengan hal-hal yang sudah kutinggalkan dan memendamnya dalam-dalam sebagai kenangan. A clean finish, a brand new start. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa bergerak maju kalau terlalu terpaku pada masa lalu.” (hal 17).

Ada pula Rory Handitama yang sedang mencoba menata kehidupannya kembali, seetelah sebuah insiden meluluhlantakkan kehidupannya yang bahagia. Dua orang yang sangat dia sangat disayanginya pergi dengan cepat dengan cara yang tidak terduga. Namun sayang hal itu tidak mudah. Rory masih belum bisa move on dengan kenyataan itu. Bayang-bayang keberadaan orang-orang yang disayanginya itu masih memenuhi ruang otak dan pikirannya. Hal inilah yang membuat Rory memilih tertutup dan menolak berdekatan dengan laki-laki lain. Dia tidak bisa.

“The thing about sameness is that it is comforting as much as it is excruciating.” (hal  23).
Sampai sebuah kejadian mempertemukan keduanya, membawa kisah lain yang tidak mereka duga. Liam yang entah kenapa  merasa tertarik dengan Rory yang jelas-jelas bukan tipe-nya jika ingin menjalin hubungan. Liam hanya menyadari ada sorot yang sama di mata Rory dengan dirinya—kehilangan. Hal itu-lah yang menuntun Liam untuk berusaha mengenal Rory.

Sedang bagi Rory, kemunculan Liam adalah bencana. Dia tidak tahu, kenapa koki terkenal itu tiba-tiba hadir begitu saja menyusup dalam kehidupannya.  Membuat perjalanan hidupnya berbeda  hanya dalam hitungan hari. Bersama Liam dia bisa tersenyum dan melupakan sejenak rasa sakit yang dirasakannya dan itulah yang dia takuti. Rory terlalu takut melangkah, hingga melupakan Jay—mantan suaminya dan Ruben—putranya.

Selain pergulatan batin perasaan Liam dan Rory yang masih bingung akan dibawa ke mana hubungan aneh di antara keduanya, ada juga Noah—sahabat Rory juga Jay, yang ternyata diam-diam suka dengan Rory. Dan Wendy tiba-tiba datang dengan kenyataan yang tidak pernah Liam duga. “What-ifs ruin you. Mereka nggak membuat segala sesuatuanya jadi lebih baik.” (hal 201).

Sebuah novel yang menarik. Memilih menceritakan kisah dengan pov pertama, dari masing-masing tokoh membuat kita bisa memahami bagaimana emosi masing-masing tokoh. Eksekusi cerita juga dipaparkan dengan apik. Hanya saja memang ada beberapa bagian yang terasa membosankan, karena sedikit bertele-tele. Namun lepas dari kekurangannya, novel ini patut dinikmati bagi pecinta novel romance.

Dari novel ini kita bisa memetik pelajaran bahwa kita tidak seharusnya lari dari masalah dengan menyiksa diri. Namun seyogyanya kita harus menghadapi setiap masalah dengan berani. Dengan begitu kita bisa berdamai dengan diri sendiri dan bisa melepas masa lalu untuk menyongsong masa depan yang tengah menanti.

Srobyong, 28 Juli 2017 

Sunday, 6 August 2017

[Resensi] Perjalanan Dua Hati dalam Mencari Kebenaran-Nya

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Senin 31 Juli 2017

Judul               : Lintang Langit pada Senja
Penulis             : Ririn Astutiningrum
Penerbit           : Laiqa, Elex Media Komputindo
Cetakan           : Pertama, Juni 2017
Tebal               : 248 halaman
ISBN               : 978-602-04-2528-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Allah itu Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Ketika kita diganjar hidup dalam lingakaran kesusahan, sudah sepantasnya kita bersabar, ikhlas dan tawakal.   Dan jika kita diganjar menjadi orang yang berada, maka seyogyanya kita harus bersyukur dan tidak terlena dengan nikmat dunia.

Membaca novel ini, kita diajarkan untuk selalu mensyukuri bagaimana pun keadaan hidup kita.  Jangan pernah kita menggungat Allah atau menyalahkan-Nya. Selain itu dalam novel ini kita juga diingatkan untuk selalu sabar dan tabah dalam menghadapi berbagai persoalaan dan rintangan hidup.  Jadikan cobaan sebagai penguat iman. Karena di balik cobaan selalu ada hikmah yang tertanam.
“Harga kehidupan kita bergantung dari kemampuan kita menerima kehidupan itu sendiri. Semakin kita bisa ikhlas dan lapang, semakin berhargalah hidup yang kita miliki.” ( hal 97).

Tidak ketinggalan dalam novel ini, penulis juga memaparkan bagaimana seharusnya orangtua yang baik dalam mendidik putra-putrinya. Bahwa dalam mendidik anak, selain memberikan materi, kasih sayang dan bimbingan orangtua itu sangat diperlukan. Mengingat orangtua adalah madrasah pertama bagi anak.  

Novel ini sendiri berkisah tentang Lintang yang merasa kesepian, karena merasa tidak dipedulikan orangtuanya, yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Hal itu-lah yang akhirnya membuat Lintang, menyalurkan kesepiannya dengan minum-minum, clubbing dan meninggalkan salat.  Ada juga Langit, terlahir menjadi orang yang tidak mampu, membuat Langit marah pada Allah. Dia merasa Allah tidak adil pada dirinya. Belum lagi cobaan berat berkali-kali menerpanya, hingga Langit semakin benci Allah.

Namun, ketika kebencian Langit semakin menggunung, dia pertemukan dengan Senja yang mengajarinya tentang hakikat cinta kepada Allah.  

“Kebencian dalam akan membuat sungai mandul tanpa aliran. Ia pun bisa menelan lautan dan membuatnya ringkai kerontang. Namun, cinta seperti gerimis yang menumbuhkan benih-benih. Hati yang basah oleh cinta kepada Allah akan mudah menumbuhkan rasa syukur atas hikmah yang senantiasa Allah kirimkan bersama musibah dan ujian.” (hal 101).

Dan Lintang, karena sebuah cobaan tidak terduga, akhirnya menuntunnya untuk mencoba memperbaiki diri.  Namun berhasilkah kedunya mempertahankan iman yang baru setitik itu, ketika tiba-tiba keduanya kembali mendapat cobaan yang mencoreng nama baik mereka?

Sebuah novel religi yang menarik. Selain memuat banyak hikmah kehidupan, novel ini juga diselipi berbagai sejarah yang menambah wawasan kita. Beberapa kesalahannya tidak mengurangi esensi dari kisah itu sendiri.

 Srobyong, 24 Juli 2017 

Wednesday, 2 August 2017

[Resensi] Kunci Sukses Meraih Beasiswa

Dimuat di Jateng Pos Minggu 30 Juli 2017 

Judul               : Saatnya Berburu Beasiswa!
Penulis             : Enung Nurhayati
Penerbit           : Laksana
Cetakan           : Pertama, Juni 2017
Tebal               : 208 halaman
ISBN               : 978-602-407-163-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi dengan beasiswa, sudah pasti menjadi harapan setiap orang. Selain menambah pengalaman, hal itu bisa mengurangi beban orang tua dalam masalah tanggungan biaya.  Buku yang ditulis Enung Nurhayati, yang merupakan  peraih beasiswa sejak S1 – S3 membagikan cara bagaimana agar sukses dalam meraih dan menaklukkan beasiswa.

Dalam usaha menaklukkan beasiswa, larangan yang wajib kita hindari adalah rasa takut. Karena rasa takut hanya akan membuat kita tidak berani mencoba.  Dan jika tidak mencoba, maka tidak ada peluang sukses belajar dengan beasiswa. Selain itu, rasa takut juga bisa mengakibatkan kurangnya motivasi dan optimisme pada kemampuan diri (hal 32).  Selain itu masih ada beberapa hal lain yang perlu dihindari.

Tidak takut mengambil risiko. Manusia hidup di dunia tidak lepas dari peluang dan risiko. Peluang dan risiko ibarat dua sisi dari sekeping mata uang. Keduanya tidak mungkin dipisahkan. Dan jika ingin berhasil dalam meraih beasiswa, maka seyogyanya kita harus memiliki keberanian untuk menangkap peluang dan mengambil risiko sekaligus.

Jangan takut tidak mampu. Ini berarti, jika ingin meraih beasiswa, kita harus memberi sugesti pada diri sendiri, bahwa kita mampu. Tidak perlu berkecil hati atau merasa minder dengan kemampuan peserta lain. Yakin bahwa setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. 
Tidak takut ditolak. Siapa pun di dunia ini, pasti tidak suka dengan penolakan. Namun, jika langkah kita berhenti hanya karena takut ditolak, maka sudah pasti kita tidak akan pernah mampu untuk meraih beasiswa. Perlu dicatat, masalah nanti akan diterima atau tidak, yang terpenting adalah kita mau mencoba dan berusaha (hal 58).

Tidak takut gagal.  Sebagaimana diketahui, kegagalan adalah momok terbesar bagi siapa saja yang berburu beasiswa. Apalagi jika kita sudah berusaha dengan keras, tapi ternyata kita gagal. Meski begitu, jangan jadikan alasan kegagalan itu  untuk tidak melakukan usaha lagi. Jika sebelum mencoba sudah takut gagal, maka otomatis, kesempatan pun tidak akan pernah datang.  Kita harus meyakini kalau kegagalan adalah sukses yang tertunda. Sehingga ketika kegagalan terjadi, hal itu tidak membuat kita putus asa, namun menjadikan kegagalan itu sebagai semangat untuk terus berjuang dan mencoba lagi.

Selain itu agar bisa meraih beasiswa, penting bagi kita untuk  memiliki bekal 7M. Yaitu, membuat map planing—karena dengan memiliki peta rencana, hal itu akan memudahkan kita,  dalam mengetahui ke mana arah tujuan yang telah ditentukan. Menuliskan cita-cita. Berdasarkan sebuah penelitian, orang yang mencatat mimpi yang dimiliki, memiliki potensi meraih harapan itu, dibanding orang yang tidak menulisnya.

Membumikan Man Jadda Wajada. Artinya kita harus selalu bersungguh-sungguh dalam mengaplikasikan berbagai cara dan usaha untuk mendapat beasiswa.  Selanjutnya membiasakan Going The Extra Miles—yang artinya, melakukan sesuatu di atas rata-rata yang dilakukan orang pada umumnya. Di sini berarti, kita selalu berusaha menjadi sosok paling baik dari orang lain. Selalu meningkatkan diri untuk menjadi yang terbaik (hal 70).

Memperluas networking. Disadari atau tidak, ketika kita memiliki jaringan luas, hal itu akan memudahkan akses dalam memperoleh berbagai informasi tentang beasiswa. Tidak kalah penting adalah memaksimalkan ikhtiar, doa dan bertawakal. Setelah berusaha keras,  maka sudah semestinya  kita mengembalikan hasilnya kepada Allah.

Selanjutnya tidak kalah penting yang perlu disiapkan agar sukses mendapat beasiswa adalah memiliki ijazah kelulusan sekolah, menyiapkan kartu identitas, membuat CV—Curriculum Vitae, memiliki kemampuan bahasa asing,  ada surat rekomendasi, menunjukkan proposal penelitian dan siap dalam wawancara.

Dengan menyiapkan semua  yang sudah dipaparkan, hal itu akan memudahkan bagi kita dalam meraih beasiswa.  Buku ini menunjukkan sebuah jalan terang yang akan membawa kesuksesan. Sebuah buku yang patut dibaca, bagi siapa saja yang saat ini sedang  berusaha meraih beasiswa dalam berbagai jenjang, baik di luar negeri atau di dalam negeri.

Srobyong, 8 Juli 2017