Friday, 14 April 2017

[Resensi] Ketika Masa Lalu Selalu Menghantui

[Dimuat di Radar Sampit, Minggu 26 Maret 2017] 

Judul               : Love in Pompeii
Penulis             : Indah Hanaco
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, November 2016
Tebal               : 236 hlm
ISBN               : 978-602-03-3452-3
Peresensi         : Ratnani Latifah.  Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Setiap orang sudah pasti memiliki masa lalu. Hanya saja pilihan untuk terkunkung dengan masa lalu atau bangkit—move on menghadapi kenyataan, kembali pada pribadi masing-masing.   Yang perlu digaris bawahi, masa lalu bukanlah hantu yang harus dihindari, tapi sesuatu yang harus direngkuh, agar bisa dijadikan kaca pembelajaran untuk berjalan maju menghadapi masa depan.

Sebagaimana novel pada umumnya, penulis mengambil tema cinta. Namun jangan khawatir, selain kisah cinta penulis juga memadukan dengan tema-tema pendukung yang unik dan  seru. Apalagi dalam pemilihan setting yang menjadi poin tambahan yang membuat novel ini memikat.

Novel ini berkisah tentang  Gladys yang memilih membuang masa lalunya dengan tinggal di Hampstead, London.  Sebuah masa lalu yang membuat Gladys menjadi sosok yang sangat waspada kepada para pria. Di sana dia tinggal bersama Tantenya—Herra dan Lulu putri kecilnya.  Pada awalnya kehidupanya terasa damai dan menyenangkan. Sampai kemudian ada tetangga baru yang membuat kehidupan Gladys berubah dastris (hal 4).

Namanya Callum. Dia adalah seorang pembalap formula one. Selama ini dia terkenal sebagai lady killer dan selalu mengencani model-model cantik di sekelilingnya. Hanya saja Callum sendiri tidak ingin memiliki komitmen dengan siapa pun. Karena banginya sebuah komitmen itu  akan mengingatkannya pada masa lalu yang saat ini tengah ingin dia buang jauh-jauh.

Siapa sangka dua manusia yang terkungkung dalam masa lalu ini kemudian dipertemukan pada kejadin yang tidak terduga. Di perumahan tempat Gladys tinggal ada sebuah peraturan yang tidak tertulis jika da tetangga baru, maka diharuskan menyambutnya dengan memberikan apple pie (hal 15). Dan itulah yang dilakukan Gladys. Hanya saja pertemuan pertama itu terjadi insiden yang membuat Gladys tidak terlalu menyukai Callum.

Di sisi lain, jika Gladys tidak ingin berhubungan dengan tetangganya, maka hal itu berbanding berbalik dengan Lulu. Putri kesayangan Gladys malah sangat mengidolakan Callum. Lulu bahkan dengan santai melekat dan meminta gendong pada Calllum.  Lulu seolah menjadi jembatan yang kemudian membuat Gladys dan Callum menjadi dekat.  

Dan lambat laun, Gladys pun mulai bisa menerima keberadaan Callum. Mereka bahkan pernah berbagi sedikit masa lalu yang menjad momok bagi keduanya. Seperti alasan Gladys memilih tinggal di London, hingga kepedihan lain yang harus Lulu lalui. Callum pun juga berkisah, tentang masa kecilnya yang membuatnya kadang terlalu over protektif pada Lulu. Karena dia tidak ingin Lulu tidak memiliki kasih sayang seperti dirinya. Tanpa Callum sadari, dia sudah sangat jatuh cinta dengan kepolosan Lulu dan entah mengapa dia merasa sangat nyaman dengan kedekatannya dengan Gladys.
Perasaan itu semakin Callum rasakan ketika mereka sempat melakukan perjalanan liburan bersama ke Napoli. Menikmati keindahan teluk Napoli,  mengunjungi Castle dell’ Ove, Pasilipo,  Amalfi Coast hingga Pompeii—kota zaman Romawi kuno yang pernah terkubur selama enam belas abad, setelah letusan gunung Venesius di tahun 79 (hal 257).

Hanya saja ketika mereka kembali, baik Gladys atau pun Callum dihadapkan kembali pada masa lalu yang masih menjadi hantu bagi mereka.  Entah apa yang akan mereka pilih. Apalagi baik Gladys atau Callum menyadari, perihal keyakinan mereka yang tidak sejalan. Dan  Gladys juga harus menelan keterkejutan tentang sebuah rahasia yang selama ini tidak pernah dia ketahui tentang jati dirinya yang sebenarnya.

Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan  gurih, membuat novel ini asyik dinikmati. Memilih alur maju mundur memberi poin lebih pada novel ini—membuat pembaca digelitik rasa penasaran hingga menamatkan kisah ini sampai akhir.  Banyak kejutan yang tidak terduga yang mengesankan.  Kelebihan lainnya adalah dalam menghidupkan kisah dari pemaparan setting dan karakter tokoh yang kuat dan minimnya kesalahan tulis.

Novel ini sarat makna. Di antara kita diajarkan bagaimana mendidik anak. Bahwa  anak itu sejatinya tidak hanya butuh materi saja, namun kasih sayang dan perhatian itu juga penting. 

Selain itu dalam novel ini kita diajak untuk mencoba berdamai dengan masa lalu. Jangan jadikan masa lalu sebagai ketakutan dan menutup diri. tapi jadikan itu sebagai pelajara untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jangan terpaku dengan ucapan orang lain. 

“Kau tidak perlu memikirkan opini orang. Selalu ada kesalahan yang bisa dilihat seseorang di luar sana, meski kau tidak melakukan apa-apa.” (hal 47).

Srobyong, 11 Februari 2017 

Thursday, 13 April 2017

[Resensi] Tanamkan Karakter Anak Lewat Cerita

[Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 26 Maret 2017]

Judul               : Ahmad dan Domba Kecil
Penulis             : Wikan Satriati
Ilustrasi           : EorG
Penerbit           : Alif Republika
Cetakan           : Pertama, September 2016
Tebal               : 52 hlm
ISBN               : 978-602-0822-33-4
Peresensi         : Ratnani Latifah.

Ini merupakan naskah asli sebelum diedit redaksi yang bisa dibaca di gambar. 

Anak adalah aset bangsa. Karena itu sejak dini anak perlu mendapat pendidikan yang baik. Salah satunya adalah pendidikan moral atau akhlak berdasarkan kisah-kisah Islam. Dengan mendapat pendidikan akhlak yang baik sejak dini, maka hal itu akan membangun sikap dan pola pikir anak yang selalu memiliki sopan santun dan bisa membawa diri dengan baik.

Buku ini, merupakan salah satu seri dari rangkaian Seri Belajar Islam secara Menyenangkan.  Sebuah buku yang patut dibaca untuk anak. Karena nilai-nilai moral yang terdapat di dalamnya sangat baik untuk diketahui dan dipraktikkan oleh anak.  Disajikan dengan lues dan renyah pasti akan sangat cocok untuk anak. Ditambah lagi buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi cantik yang semakin membuat anak suka melihatnya.

Dalam buku ini terdiri dari enam kisah yang seru juga menyenangkan. Sebut saja “Ahmad dan Domba Kecilnya”. Berkisah tentang Ahmad yang sedang mengembala domba. Namun tiba-tiba ada salah seekor dombanya hilang. Ahmad pun berusaha mencari di mana dombanya. Dia mengkhawatirkan dombanya yang dia tahu adalah makhluk lemah, pasti akan sangat menyedihkan jika belum ditemukan sampai malam hari. Bisa-bisa nanti domba itu dimakan serigala pemangsa (hal 8).

Saat sedang mencari, Ahmad melihat  Kakek Gembala yang tinggal di padang yang subur. Di sana sang kakek sedang membuat pagar agar domba-dombanya tidak berlari ke luar kandangnya.  Ahmad pun mendekati Kakek Gembala, melihat mungkinkah ada dombanya yang tersasar di sana.  Dalam cerita ini anak diajak untuk menjadi seorang yang jujur.  Karena kejujuran akan membawa keberuntungan bagi diri sendiri dan orang lain.

Ada pula kisah berjudul “Di Bawah Cahaya Bulan Purnama”. Menceritakan tentang dua gadis kecil—kakak beradik yang tinggal di dekat stasiun kereta. Pada suatu malam mereka sedang asyik bercengkrama. Sang kakak membayangkan jika dia bisa menjadi masinis. Sedang adiknya membayangkan bisa tidur di tempat  yang memiliki pintu dan atap (hal 16). 

Hanya saja itu hanya impian mereka. Karena mereka selama ini tinggal di gerobak bersama sang ayah yang selalu bekerja keras agar mereka bisa makan. Apalagi sejak ibu mereka sudah meninggal dunia. Tapi apakah kedua kakak beradik itu sedih atau marah? Kisah ini mengajak anak untuk selalu mensyukuri apa yang mereka miliki, meski itu hanya sedikit.

Selain dua ini ada juga kisah “Peniagaan Terindah” yang mengajarkan untuk berjualan dengan jujur dan tidak membohongi pembeli.  Dengan begitu uang yang diterima pasti akan berkah. Atau kisaha  Si Gembul yang mengajak untuk tidak berlebihan dalam makan atau dalam melakukan sesuatu. Lalu Ikan di Dalam Es serta Permata Gemerlap di Dalam Misykat.

Membaca buku ini anak selain mendapat pengetahuan tentang pendidikan akhlak yang baik, juga meningkakan daya imajinasi mereka. Sekaligus bagi orangtua bisa menularkan kebiasaan membaca sejak kecil pada anak. Mengajak anak untuk mencintai budaya membaca, karena membaca adalah jendela dunia.

Srobyong, 12 Maret 2017 

[Cerpen-Cernak] Akibat Buruk Sangka

Sumber Google. 

[Cernak ini dimuat di Satelit Post, Senin 20 Maret 2017]

Kazuhana El Ratna Mida

            Ita merasa ikut sedih, ketika melihat Nana yang hampir menangis. Tadi, Nana terlihat ingin ikut bermain. Tapi tidak  ada satu pun  yang mau bermain dengannya. Mereka malah saling berbisik, sambil menunjuk-nunjuk pada Nana. Ita ingin melakukan sesuatu.

            Hari ini lapangan dekat rumah Ita  ramai. Maklum hari Minggu. Dari banyak anak-anak yang bermain, di sana ada Santi, Lia,  Cici, dan dirinya.  Mereka adalah  teman sekelas Nana. Juga tetangga baru yang suka bermain di lapangan.  Mereka membuat janji untuk bermain bersama. Melihat teman-temannya bermain, Ita yakin Nana juga ingin ikut bermain. Namun dengan cepat Santi melarangnya.  Bahkan Santi juga membujuk Lia, Cici dan dirinya  untuk tidak mau mengajak Nana.

            “Hai, kalian jangan pernah main dengan Nana. Dia itu berkutu,” ucap Santi agak berbisik. Membuat Ita, Lia dan Cici berpandangan. Mereka antar percaya dan tidak dengan ucapan Santi.

            “Benarkah?” tanya Ita.

            Santi langsung mengangguk. “Tentu saja benar. Pokoknya jangan dekat-dekat dengan dia. Nanti kita ketularan punya kutu.” Santi menunjukkan wajah ketakutan. Lalu diikuti Lia dan Cici. Mereka tidak mau memiliki kutu.

            “Aku tidak akan main dengannya,” Lia dan Cici berucap bersamaan.

            Ita menatap Santi yang terlihat menang. Lalu berpaling melihat Nana. Temannya itu menunduk mendengar ucapan Santi yang menjelek-jelekkannya. Dianggap bisa menularkan kutu. Ita bisa merasakan dari sikap Nana yang terlihat  sangat sedih, mendengar komentar Santi.

Kenapa Santi berperasangka buruk pada Nana? Kenapa Santi  membenci Nana? Itulah berbagai pertanyaan yang berada di kepala Ita. Gadis kecil yang baru duduk di kelas empat itu tidak paham. Apa salah Nana pada Santi?

            “Tapi setahuku Nana tidak seperti itu,” bela Ita setelah lama terdiam.

            “Ya sudah kalau kamu tidak percaya. Sana main dengan Nana, biar ketularan kutu. Tapi aku tidak akan mengajakmu bermain dengan kami lagi,” ucap Santi galak.

            “Yah, sana main sama Nana,” Lia mengikuti ucapan Santi.

            “Jangan salahkan kami kalau nanti ketularan kutu,” ejek Cici.

“Sudah, ah. Tidak usah membahas Nana. Kita mulai main saja.” Santi mengajak Cici dan Lia yang selalu menurut pada Santi.

“Kamu boleh pilih mau main dengan siapa, Ta.” Santi berucap lagi menunggu pilihan Ita.

Ita sungguh bingung. Dia tidak ingin menjauhi Nana. Tapi dia juga tidak ingin menjauhi Santi. Semua adalah temannya. Pasti akan menyenangkan jika bermain bersama-sama. Tidak ada prasangka dan permusuhan.

 Ita ingat pesan dari guru agamanya, Bu Intan.  Sesama teman tidak boleh berburuk sangka dan  membeda-bedakan teman. Bu Intan juga pernah bilang tidak baik sesama teman itu tidak rukun.
 
~*~

Pada akhirnya, Ita tetap memilih bermain dengan Nana.   Sejak pindah di  SD Permata, Ita tidak melihat tanda-tanda Nana memiliki kutu. Teman yang suka mengepang rambutnya itu, sangat pintar dan baik hati.   Hanya  Santi, Lia,  dan Cici yang tidak terlalu suka dengan Nana.

Tapi dua hari kemudian ada yang aneh dengan Santi.  Ita dan Nana melihat Santi hanya duduk sendirian di bangkunya.  Wajahnya terlihat sedih. 

“Kamu kenapa, San?” tanya Nana.

“Iya, biasanya kamu selalu dengan Lia dan Cici.” Ita ikut penasaran.

“Mereka tidak mau bermain denganku lagi,” ucap Santi sedih.

Lalu tanpa diminta, Santi mulai bercerita kenapa Lia dan Cici menjauhinya.  Semua gara-gara kutu. Santi tidak tahu, kenapa dia tiba-tiba memiliki kutu. Padahal selama ini dia selalu keramas dan merawat rambutnya yang panjang.   Kecuali kebiasannya yang mengikat rambut saat masih basah. Padahal ibunya selalu melarang Santi melakukannya. Karena memang tidak baik untuk kesehatan rambut. Karena kejadian ini,  sekarang Santi tahu bagaimana perasaan Nana.  

“Maafkan aku, ya, Na.” Santi berucap dengan sungguh-sungguh. “Maaf juga, ya, Ta.”

“Aku sudah memaafkan, kamu, kok San,” ucap Nana dengan tersenyum. “Aku juga,” Ita ikut bersuara.  

Santi sangat senang mendengarnya. Apalagi ketika Nana memberitahunya cara cepat menghilangkan kutu.  Sepertinya Santi  mendapat karma, karena telah memfitnah Nana.  Santi berjanji mulai sekarang tidak akan jahat lagi. Dia tidak akan berburuk sangka dan tidak akan membenci Nana yang lebih pintar dari dirinya.  Santi baru sadar, damai itu lebih indah daripada permusuhan.


Srobyong, 24 Oktober 2016 

Wednesday, 12 April 2017

[Resensi] Belajar Menjaga Hati Melalui Novel

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 26 Maret 2017 

Judul               : Cinta dalam Semangkuk Sop Kaki Kambing 
Penulis             : Ifa Avianty
Penerbit           : Indiva
Cetakan           : Pertama, Oktober 2016
Tebal               : 176 hlm
ISBN               : 978-602-6334-03-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama. Jepara.

Membaca novel ini selain disuguhi kisah cerita yang lucu dan unik, penulis juga menyisipkan sisi historis yang berhubungan dengan perbedaan ideologi masa pergerakan nasioanal.  Di sini disinggung juga perihal masalah kultur daerah yang membuat novel ini terasa berbeda dengan kebanyakan novel lainnya. Penulis memiliki keunikan tersendiri dalam menghadirkan kisah yang tidak pasaran.

Mengisahkan tentang cinta segitiga yang dikemas renyah dan tidak terduga. Ada Stepanie si Putri Ketimun yang sering patah hati, Awy sang Pangeran Naga yang dimabuk asmara serta Gadhi si jejaka nerdy.

Awy dan Gadhi adalah sahabat kental. Mereka mulai dekat ketika masuk SMA,  karena sama-sama  nerd. Jadi dengan sendirinya mereka pun menjadi cocok (hal 16) Dan Stephanie adalah teman Awy semasa zaman TK dulu.  Mereka sempat berpisah karena berbeda sekolah sampai akhirnya bertemu lagi di resto Gadhi saat makan Sop Kaki Kambing.

Di sinilah, entah dapat gagasan dari mana, tiba-tiba Awy ingin menjodohkan Gadhi dengan Stephanie. Menurutnya mereka sangat cocok. Bahkan Awy sudah merencakan untuk mempertemukan mereka. Hanya saja, mendadak Awy berubah pikiran. Diam-diam dia juga mengharapkan bisa memiliki Stephanie. Hingga akhirnya dia membernikan diri mengutarakan perasaannya. Dan di sinilah masalah dimulai. Di sisi lain, Stephanie merasa bimbang. Benarkah dia telah melakukan hal yang benar dengan menerima Awy?

Beralih ke Gadhi, akhirnya dia berkesempatan melihat Stephanie yang selalu dibanggakan Awy sebagai calon istrinya. Yang ternyata pertemuan itu ternyata memberi efek yang tidak terduga. Baik bagi Gadhi juga bagi Stephanie. Dan tiba-tiba dia merasa menyesal mengiyakan tawaran Awy (hal 55).

Dan masalah semakin rumit, ketika orangtua Stephanie menawarkan perjodohan dan Awy dihadapkan pada sebuah tradisi yang membuatnya tidak tenang. Dan lebih mengejutkan Babe Awy ternyata mengenal tentang keluarga Stephanie yang semakin membuatnya dilarang menikahinya. Ada misteri apa?

Setelah bagian ini pembaca akan diajak menyelami side story di masa lampau yang masih mendarah daging. Sejarah yang berhubungan dengan keluarga Awy juga Stephanie.  Setting waktu pun berubah di zaman masa penjajahan  tahun 1908-1924. Petualangan baru yang menegangkan akan membuat kita tersihir.

Dipaparkan dengan sudut pandang masing-masing tokoh membuat para tokoh terasa hidup. Sejak awal novel ini cukup sulit ditebak endingnya. Membuat penasaran penuh kejutan. gaya bahasanya pun renyah dan lugas. Asyik untuk diikuti.  Dan lagi ada sisi religi yang kental dalam novel ini.  Meski memang pada beberapa bagian ada yang terasa lambat dan ada ketidakkonsistenan dalam pemakaian pov aku (hal 43-44). Tapi lepas dari kekurangannya novel ini sangat recomended dibaca.
Kekuatan lain dalam novel ini adalah banyaknya selipan nasihat yang menginspirasi bisa dijadikan pembelajaran dan renungan. Misalnya di  sini kita diajari bagaimana cara menjaga hati, memanage cinta yang baik agar mendapat rahmat-Nya. Kita juga dianjurkan untuk tidak membiasakan berpikir positif karena pikiran positif memiliki energi yang positif juga. “Kalau kamu pikir tidak bahagia, maka kamu kemungkinan memang tidak bahagia.” (hal 63).

Lalu kita juga dilarang berpikir pendek dan negatif. “Jangan berpikiran negatif terhadap sesuatu yang belum terjadi.” (hal 78). Dan mengajarkan agar ikhlas dalam setiap cobaan yang menerpa, berdamai dengan masa lalu.

Srobyong, 25 Februari 2017 

Friday, 7 April 2017

[Resensi] Sejarah Indonesia di Mata Empat Perempuan Belanda

Dimuat di Duta Masyarakat, Minggu 26 Maret 2017 


Judul               : Tanah Air Baru, Indonesia
Penulis             : Hilde Janssen
Penerjemah      : Meggy Soedajmiko
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, November 2016
Tebal               : 336 hlm
ISBN               : 978-602-03-3541-4
Persensi           : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama. Jepara

Hilde Janssen adalah  jurnalis dan ahli antropologi dari Belanda.  Tanpa sengaja dia menemukan sebuah foto yang bertuliskan “Wanita-Wanita Belanda dalam Perjalanan menuju Republika 1947” saat berkunjung menyaksikan eksposisi peringat “65 Tahun Republik Indonesia”.  Gambar itu terdiri dari Miny sambil memegang ukulele dan Annie dalam perjalanan kereta api dari pelabuhan Jakarta ke Yogyakarta, di perbatasan Kranji, Januari 1947. Di atara mereka berdiri suami Annie—Djabir dan militer Belanda (hal 6).

Hal itu kemudian menumbuhkan rasa penasaran pada Hilde yang menjadi latar belakang terbitnya buku ini.  Hilde lalu mencari tahu siapa saja wanita-wanita yang berada ada di foto dan alasan apa yang membuat mereka mendatangi Indonesia di tengah kecamuk perang antara Indoenesi dan Belanda dan kisruh politik yang penuh polemik.

Berbekal  foto itu akhirnya Hilde bertemu dengan Dolly Zegerius. Dan dari Dolly Hilde akhirnya mengenal keluarga Kobus—Miny, Annie dan Betsy. Pada usia yang masih mudah mereka memilih Indonesia sebagai tanah air baru dengan melakukan emigrasi pada tanggal 6  Desember 1946 dan sampai di pelabuhan Jakarta tanggal 1 Januari 1947 (hal 20).

Dolly menikah dengan Soetarjo Soerjosoemarno—dikenal dengan nama Tarjo yang masih keturan ningrat kesultanan Mangkunegara di Solo.  Mereka bertemu saat Tarjo menyelesaikan pendidikan topografi di Sekolah Tinggi Teknik di Delft (hal 43). Sedang tiga saudara Kobus itu menikah dengan laki-laki pribumi biasa. Miny menikah dengan Amarie—kelasi kelas barang,  Annie dengan Djabir—pekerja asal Madura dan Betsy dengan Djoemiran—buruh pelabuhan di Belanda.

Sebelum mereka memutuskan ber-emigrasi, di Belanda mereka juga tengah kisruh pasukan Jerman yang meringkus semua keturuan Yahudi di Belanda—termasuk ayah Dolly yang merupakan keturunan Yahudi.  Tapi meski akhirnya kisuruh selesai Dolly tetap memilik ber-emigrasi ke Indonesia, meski tahu di sana tengah ada polemik yang rumit. Begitupula tiga saudara Kobus. Ketika mereka memutuskan menikah dengan para pribumi, mereka akan ikut dengan suami mereka.  

Di Indonesia sendiri, ternyata hidup mereka tidak bisa dibilang menyenangkan. Mereka mengalami banyak kejadian pasang surut dan melihat dengan mata kepala sendiri tentang pergolakan kisruh politik dan usaha pemerintah dalam mempertahankan kemeredekaan Indonesia.  Belum lagi masalah penampilan mereka yang kadang dianggap sebagai mata-mata Belanda.

Pada tanggal 21 Juli 1947 mereka harus menyaksikan Agresi Militer I. Di mana Belanda telah mengingkari perjanjian Linggarjati yang sudah disetujui di mana Belanda akan mengakuis secara de facto kemerdekaan Indonesia.   Jadilah keadaan Indonesia masih kacau balau. Lalu Dolly dan tiga saudara Kobus juga harus terlibat pada Agresmi Militer II pada tanggal 9 Desember 1048.  

Mereka juga dihadapkan pada  masalah pembebasan Irian Barat, gerakan Gerakan 30 September—kudeta 1965. Pada saat itu terjadi pembantaian pada keluarga Jendral Nasution di mana memakan korban putrinya—Ade Irma Suyani. Hal ini tentu saja membuat Dolly sangat bersedih.  Sedang Miny sendiri harus menerima kenyataan suaminya, Nanang—suami kedua setelah Miny bercerai dengan Amarie dijebloskan ke penjara—Nanang dianggap sebagai tahanan politik kategori C. Nanang  disinyalir ada  hubungan dengan PKI.  (hal 202).

Tidak hanya itu mereka juga menyaksikan bagaimana jatuhnya Orde Lama, Timor-Timor dan peristiwa Mei 1988. Namun begitu berbagai kejadian yang menjadi warna kehidupan mereka, tidak menyurutkan rasa cinta mereka pada Indonesia.  Memang baik Annie, Betsy, Miny dan Dolly, mereka sempat diliputi ketakutan dan kekhawatiran juga kekecewaan. Namun itu tidak mengubah bahwa mereka tetap memilih Indonesia sebagai tanah air yang memberi banyak kisah.

Membaca novel ini, kita akan mengetahui sejarah Indonesia dari kacamata perempuan Belanda.  Dan semua perempuan itu sampai sekarang tetap bertahan di Indonesia—tepatnya di Jakarta Selatan. Menikmati masa tua bersama putra-putri dan cucu-cucu mereka. Diambil dari kisah nyata dan menggunakan tutur bahasa yang renyah, novel ini  sangat menarik dan memikat.  Banyak pembelajaran hidup juga belajar memakian rasa cinta pada tanah air.

Srobyong, 12 Maret 2017