Tuesday, 11 October 2016

[Cerpen] Kisah Perempuan di Halte Bus

Dimuat di Kaltim Post, Minggu 9 Oktober 2016
Kazuhana El Ratna Mida*)

Aku mengernyitkan dahi—antara kaget dan tidak percaya.  Aku menatap  sekali lagi dengan lebih cermat bahwa apa yang aku lihat sekarang benar-benar kenyataan. Dan begitulah. Aku yakin itu kamu. Salah satu teman di Unmul  dulu. Ah, betapa aku sangat merindukanmu. Entah kenapa kala itu, tiba-tiba kamu tak bisa dihubungi. Kamu bagai hilang di telan bumi. Dan tahukah kau? Betapa kini aku bahagia ketika akhirnya aku bisa melihatmu.  Gegas aku mendekatimu. Duduk di sampingmu dengan semringah.  Namun beberapa saat kemudian ada sakit yang langsung menusuk ulu hatiku. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

~*~


Saturday, 8 October 2016

[Resensi] Petualangan, Perjuangan dan Persahabatan

Judul               : Matahari 
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Terbit Pertama : Juli, 2016
Cetakan           : Kedua, Agustus 2016
Halaman          : 400 hlm
ISBN               : 978-602-03-3211-6

Hidup adalah petulangan. Semua orang memiliki petualangan masing-masing, maka jadilah seorang petualang yang melakukan hal terbaik. (hal. 362)

Novel Matahari masih berkutat dengan kisah petualangan tiga sahabat—Raib, Ali dan Seli. Pada  buku sebelumnya—Bumi dan Bulan, Raib diceritakan memiliki kekuatan Klan Bulan. Raib bisa menghilang. Bahkan dijelaskan bahwa Raib masih keturunan putri di Klan Bulan. Sedang Seli adalah anak yang memiliki darah Klan Matahari. Seli bisa mengeluarkan petir. Dan Ali, sebagai makhluk paling rendah—Klan Bumi, bisa berubah menjadi beruang raksasa.
Pada seri sebelumnya, Raib, Ali dan Seli sudah berpetualang ke Klan Bulan[1] dan Klan Matahari.[2] Maka pada seri ini, mereka ingin melanjutkan petualangan ke Klan Bintang. Sebuah Klan  yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya dengan pasti. Bahkan ada yang beranggapan Klan Bintang hanyalah sebuah mitos dan tidak pernah ada.

Ali berusaha membujuk Raib agar mau membuka portal menuju Klan Bintang melalui buku kehidupan yang dimiliki.

“Kita bisa ke sana, Ra! Bayangkan! Kita bisa ke klan paling jauh, bagian dari dunia paralel misterius.  Ayolah, Ra, sedikit sekali yang pernah pergi ke Klan Bintang. Bahkan Av tidak tahu-menahu di mana lokasi klan tersebut. Buku-buku di perpustakaannya juga tidak pernah menulis tentang klan yang seolah hilang itu.” (hal. 33)

Namun dengan keras pula, Raib menolak ajakan Ali yang menurutnya gila. Mereka tidak tahu bahaya apa yang akan menunggu mereka di Klan Bintang. Apalagi Av melarang Raib menggunakan buku matematika itu untuk membuka portal apa pun.

Pada awalnya Ali tidak bisa berkutik dengan penolakan itu. Tapi beberapa bulan kemudian, Ali yang jenius itu, bermodal hadiah dari Av—sebuah soft copy seluruh  buku di perpustkaan Klan Bulan, telah berhasil mengira-ngira di mana letak Klan Bintang berada. Ali akhirnya menemukan satu buku yang pernah menyinggung tentang lorong-lorong, dua ribu tahun silam, saat pertempuraan si Tanpa Mahkota dengan saudara tirinya.
Ali berasumsi bahwa Klan Bintang itu bukan berada  di atas awan. Tapi sebaliknya, klan itu justru berada di bawah—di perut bumi. (hal. 69)   Seli antara percaya tidak percaya. Lagi pula di sana sudah pasti ada magma yang sangat panas.  Tapi lagi-lagi berhasil menjelaskan kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan oleh Raib dan Seli.

“Itu tidak masalah bagi teknologi Klan Bintang yang memang paling maju dari klan lain. Lagipula, jika mereka mengeduk kedalaman tiga ribu kilometer misalnya. Itu tetap masih jauh dengan inti bumi, masih tiga ribu kilometer lagi. Menurut perhitunganku, penduduk Klan Bintang awalnya pernah tinggal di permukaan, mungkin pendudukanya campuran dari tiga klan sekaligus. Kemudian entah dengan alasan apa, mereka pindah ke dalam sana, membentuk peradaban baru. Mereka membuat lubang menuju perut bumi.” (hal. 70-71)

Selain menemukan jalan menuju ke Klan Bintang, ternyata Ali juga berhasil membuat sebuah kapsul yang diberi nama ILY[3] yang memiki kekuatan gabungan antara kekuatan Klan Bulan dan  Klan Matahari.  Ada alasan tersendiri kenapa Ali menamakan kapsul itu dengan nama sahabat barunya itu.

Pada akhirnya Raib dan Seli  setuju dengan ajakan Ali,  untuk berpetualang ke Klan Bintang. Mereka berangkat setelah ujian semester akhir—tepat pada masa liburan.  Pada awal perjalanan, baik, Raib, Seli dan Ali nampak menikmati petualangan baru yang mengasyikkan itu.  Mereka melewati pengunungan berselimut kabut, melintasi sungai besar di dataran tinggi lalu melewati lembah perkebunan luas dengan beberapa perkampungan permai  di tengah-tengahnya. (hal. 111)

Namun tentu saja tidak ada yang namanya perjalanan mulus. Di tengah perjalanan, saat mereka berusaha menghancurkan sebuah lorong, ular besar menghadang mereka. Ular itu sangat gesit dalam berkelit. Membuat Seli dan Raib cukup kelelahan.  Tak hanya ular, mereka juga harus menghadapi  kelelawar yang besarnya hampir menyerupai  seekor sapi. Mereka dalam keadan terdesak. (hal. 157)
Beruntung, mereka akhirnya bisa sampai di tempat yang dituju—Klan Bintang. Di sana mereka disambut ramah oleh Faar—salah satu penduduk Klan Bintang yang masih keturunan Klan Bulan.  Tapi ternyata tidak dengan Dewan Kota Zaramaraz—dewan tertinggi di Klan Bintang. Mereka memiliki pendapat berbeda dengan kedatangan tiga sahabat itu. Mereka menganggap Raib, Seli dan Ali yang memiliki kekuatan adalah orang yang berbahaya dan harus diringkus—mereka menjadi buronan. (hal. 209)  Lalu bagaimana petualangan Raib, Seli dan Ali di sana? Mungkinkah akan  ada bantuan dari Av dan Miss Selena?

Selama ini Tere Liye  dikenal sebagai penulis yang  produktif  dalam menghasilkan karya.  Bisa dibilang, setiap tahun  penulis ini selalu mengeluarkan karya baru. Dan  hampir semua bukunya selalu masuk jajaran buku best seller. Dan pada tahun ini pun Tere Liye  hadir menyapa penggemarnya dengan dua buku terbaru yang sama-sama diterbitkan di Gramedia Pustaka Utama. Hujan  yang terbit 28 Januari 2016.  Dan berselang beberapa bulan, Tere Liye kembali hadir dengan novel  Matahari—seri ketiga dari serial ‘Bumi’ pada 25 Juli 2016.  Pantaslah jika kemudian,  Tere Liye mendapat penghargaan sebagai Writer of The Year 2016 pada  acara Indonesia International Book Fair (IIBF) oleh IKAPI—Ikatan Penerbit Indonesia.

Berbeda dari buku-buku sebelumnya, kali ini Tere Liye mengambil genre science fiction dengan sentuhan fantasi juga. Sebuah genre yang bisa dibilang memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada genre yang lain.  Karena sudah pasti penulis harus melakukan riset yang mendalam dalam berbagai hal. Tapi pada kenyataannya Bumi disambut hangat di pasar Indonesia. Karya-karyanya itu memberi warna pada literasi di Indonesia dan menunjukkan kepiawaian penulis dalam menulis berbagai genre.

Kelebihan pada novel ini adalah kisah dikemas dengan gaya bahasa santai dan renyah. Penokohan di garap dengan baik dan kuat. Sehingga ketika membaca novel ini, pembaca seolah bisa merasakan apa yang dirasakan tokoh tersebut. Seperti Ali yang sangat jenius dan  Raib yang judes dan selalu tidak percaya dengan Ali.  Juga kekonyolan Seli yang sangat menggemari drama Korea. 

Selain itu adalah tentang setting juga digarap dengan sangat teliti, hingga tidak terkesan tempelan saja. Setting yang baik akan membuat pembaca seperti berada di lokasi kejadian. Dan saya merasakan itu dalam setiap perjalanan yang dilakukan tiga sahabat itu. Lalu percakapan antara tokoh yang semakin menghidupkan kisah petualangan Raib, Ali dan Seli. Ditambah memakai alur maju mundur yang juga memiliki kekuatan tersendiri untuk memancing rasa penasaran pembaca untuk menyelesaikan membaca novel ini.  Pemilihan pov satu dari tokoh Raib juga turut membantu keseruan cerita.

Meski pada awalnya, saya pikir pov akan berganti pada setiap seri. Yaitu pov Raib pada novel Bumi, pov Seli di novel Bulan dan pov Ali di novel Matahari. Tapi ternyata saya salah. Penulis tetap konsisten memakai pov satu dari tokoh Raib  pada setiap novel. Dan ini menarik.

Membaca buku ini seperti diajak berpetualangan ke dunia paralel. Mengasyikkan dan mendebarkan. Kita juga diajak memaknai arti persahabatan.  Di mana sahabat itu harus  saling memahami dan membantu dalam segala situasi.  Lalu mengajarkan akan perlunya berjuang dalam segala situasi. 

Saya pikir, adanya novel ini mengokohkan Tere Liye sebagai penulis multilatenta dengan berbagai genre yang selama ini digarapnya.  

Dan kelemahannya saya rasa berada pada  masalah plot. Di mana plot sudah bisa dibaca sejak awal, karena memiliki pola yang mirip dengan seri sebelumnya.  Serta masih ditemukan beberapa kesalahan kepenulisan di sini. Beberapa kesalahan tulis yang saya temukan.

*Aku tersentum tpis Aku tersenyum tipis. (hal. 79)
*Anak itu pastil genius sekali = Anak itu pasti genius sekali. (hal. 105)
*Tapi sudah menjad tugasku = Tapi sudah menjadi tugasku. (hal. 239)
*Seandinya pun gagal = Seandainya pun gagal. (hal. 363)
*Getaran itu melewati tubuku = Getaran itu melewati tubuhku. (hal. 367) 

Satu hal lagi bagi saya yang merasa kurang seru sejak membaca seri ini dari awal adalah tentang bahasa dari Klan Bulan, Klan Matahari dan Klan Bintang. Alangkah lebih baik jika penulis menjelaskan lebih detail akan bahasa itu dan tidak terasa memakai bahasa Indonesia.  Sebenarnya pada halaman 170 pada novel ini, ada sedikit disinggung tentang bahasa Klan Bulan yang patah-patah diucapkan Faar ketika menyapa Raib. Namun bahasa itu masih tetap terlihat seperti bahasa Indonesia.  Mungkin jika di seri selanjutnya soal bahasa khusus setiap Klan bisa dibuat biar lebih hidup.  Sebagaimana dalam Lord of The Ring—ada bahasa khusus elf. Misalnya saja.

Namun begitu, secara keseluruhan  novel ini  keren dan tetap asyik buat dinikmati.  Memiliki sisi kejutan di akhir cerita dan itu memberi kepuasan tersendiri setelah membaca. Bagi yang suka genre science fiction, fantasi,  novel ini sangat direkomendasikan untuk dibaca. Apalagi ditambah bumbu persahabatan dan serta tambahan ilmu pengetahuan alam lewat si jenius Ali.  Di antaranya :
“Lapisan-lapisan bumi secara sederhana dibagi menjadi tiga. Paling atas disebut dengan lithosphere atau crust, dalamnya 100 kilometer. Lapisan kedua disebut mantle. Tebalnya hingga 2.900 kilometer.  Mantle adalah bagian terpenting yang menentukan masa depan permukan bumi. Lapisan ketiga atau terakhir disebut inti bumi, yang dibagi menjadi dua, outer core dan inner core.” (hal. 124-125)

“Kebanyakan ular merasakan getaran udara melalui organ yang disebut membran typhani. Ular akan mendeteksi segala sesuatu yang ada di sekitarnya dengan menggunakan lidahnya yang bercabang. Itulah sebabnya mengapa ular sering menjulurkan lidah. Sebab lidah tersebut digunakan untuk menghimpun informasi melalui partikel udara.” (hal.142)

“Ubur-ubur abadi tidak pernah mati. Ditemukan di laut Mediterana dan perairan Jepang, ubur-ubur ini bisa bertansformasi, mengubah sel-selnya dari usia dewasa kembali menjadi bayi.” (hal. 185)

Tidak ketinggalan pada novel ini, terdapat  quote inspiratif yang bisa dipetik pelajaran. Misalnya. “Setiap klan memiliki keistimewaan masing-masing.” (hal. 194)  seolah mengajarkan  agar setiap orang itu saling menghargai antara klan yang ada.

Lalu “Selalu ada jalan keluar sepanjang kita terus berpikir positif.” (hal. 338) dari quote ini kita bisa belajar  agar selalu berpikir positif,  selalu semangat dalam berjuang tidak mudah menyerah.

~*~

Hasil ini tentu saja sangat mengejutkan, bagi saya. Karena  saya sadar sekali dalam lomba ini sudah pasti akan banyak saingan. Hai ini Tere Liye! Ini yang mengadakan Gramedia! Tapi pada akhirnya  tetap nekat ikutan. Dan omo ... ternyata Allah punya rencana indah buat saya.  





[1] Bisa dibaca di buku “Bumi.”
[2] Bisa dibaca di buku “Bulan.”
[3] Terinspirasi dari nama sahabat ketika berpetualang di Klan Matahari. Bisa dibaca di buku “Bulan”

[Resensi] Tiga Misteri Pembunuhan Penuh Intrik

Judul               :  The World’s Favorite Agatha Christie (Karya Agatha Christe Pilihan Favorit Pembaca Sedunia)
Penulis             : Agatha Christie
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           :  Pertama, Maret 2016
Halaman          : 624 hlm
ISBN               : 978-602-03-2621-4
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Siapa yang tidak mengenal Agatha Christie—yang pada tanggal 15 September ini diperingati sebagai hari jadinya yang ke 126? Dia adalah penulis misteri paling terkenal di dunia.  Karya-karyanya selalu laris manis dalam berbagai bahasa.  Memperingati hari jadinya yang ke 125, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan karya Agatha Christe Pilihan Favorit Pembaca Sedunia. Tiga naskah yang akhirnya dipilih ini merupakan hasil dari pengumpulan suara pembaca di seluruh dunia.

Tiga naskah ini tidak memiliki benang merah satu sama lain dan sejatinya merupakan potongan-potangan buku yang sudah pernah diterbitkan sebelumnya. Namun kisah yang terpilih ini  mengungkapkan betapa cerdiknya seorang Agatha Chrtistie dalam membuat kisah misteri pembunuhan.

Tiga kisah itu adalah And Then There Were None (Lalu Semua Lenyap) pertama diterbitan pertam kali  1939. Lalu Murder on the Orient Express (Pembunuhan di Orient Express) yang diterbitkan pertama kali 1934 dan The Murder of Roger Ackroyd (Pembunuhan Atas Roger Ackroyd) diterbitkan pertama kali 1926.

Lalu Semua Lenyap. Mengisahkan tentang sepuluh orang yang diundang ke sebuah pulau terpencil—Pulau Negro. Mr. Justice Wargrave, Vera Claythorne, Philip Lombard, Emily Brent, Jendral Macarthur, Dokter Amstrong, Anthony Marston, Henry Blore, Tomas Rogers dan Ethel Rogers. Bagaimana mereka sampai di sana, sungguh unik dan sangat mencurigakan.

Keadaan semakin kacau dan mencekam, ketika tiba-tiba ada suara yang mengungkap kejahatan yang dituduhkan pada sepuluh tamu tersebut. (hal. 34) Lalu berturut-turut satu persatu dari mereka ditemukan mati mengikuti pola sebuah lagu. Korban pertama adalah Anthony Marston yang meninggal karena keracunan sianida. Hanya saja siapa yang memasukkan racun itu tersebut itulah yang tidak tercium jejak pelaku. Namun pada akhirnya mereka sadar, mungkin pembunuh sejatinya berada di antara mereka sendiri.

Kisah kedua Pembunuhan di Orient Express pun tak kalah rumit dengan bagian pertama.  Saat kereta terjebak salju di Balkan, salah satu penumpang bernama Mr. Ratchett terbunuh dalam keadaan yang mengenaskan. (hal. 218). Kasus ini pada akhirnya membuat Inspektur Hercule Poirot turun tangan untuk menanganinya.

Dengan cara yang unik Poirot mengumpulkan informasi untuk mengetahui siapa pembunuh yang sebenarnya dari dua belas orang yang dicurigai. Apa motif yang dimiliki pembunuh dan bagaimana cara melakukan aksi pembunuhan itu. Hingga akhirnya terungkap siapa pelaku yang sama sekali tidak terduga. Mengejutkan dan luar biasa.

Terakhir adalah Pembunuhan Atas Roger Ackroyd yang kembali melibatkan Hercule Poirot untuk memecahkan kasus yang ada di desa King’s Abbot.  Diceritakan Mr. Ackroyd tiba-tiba ditemukan meninggal di ruangannya sendiri oleh dr. Sheppard.  Sedang orang yang berada di rumah saat itu, masing-masing memiliki alibi yang cukup kuat.

Sebelum kematian Mr. Ackroyd sebenarnya dia tengah bersedih karena kekasihnya Mrs. Ferrars ditemukan tewas bunuh diri. Katanya perempuan itu tidak sanggung menanggung kesedihan karena merasa bersalah telah membunuh sauminya dulu. Tapi belakangan Mr.Ackroyd baru tahu, kekasihnya itu tertekan karena diperas seseorang yang mengetahui kejahatan yang telah dilakukannya.  Mrs. Ferrars meninggalkan sepucuk surat untuk mengungkap siapa sang pelaku pemerasan. Namun sebelum itu terungkap, Mr. Ackroyd telah ditemukan terbunuh.

Hercule Poirot yang kebeteluan di sana, akhirnya menerima tawaran keponakan dari Mr. Ackroyd—Flora untuk menyelidiki kasus itu hingga keakar-akarnya.

Sebagaimana keabiasannya Poirot melakukan penyelidikan dengan cara unik dan sangat mendetail. Dan ketika pada sampai kesimpulan siapa pembuhnya, maka pembaca akan dibuat tertegun dan tidak percaya. Karena si pelaku sangat lihai dalam menyamarkan diri.

Ketiga kisah misteri ini benar-benar sangat sulit ditebak. Twits endingnya sangat keren. Penulis benar-benar lihai menyembunyikan pelaku kejahatan dengan sangat rapi.  Dan cara mengungkapkan siapa pelaku sebenarnya juga keren. Tidak diragukan lagi jika karya-karyanya disukai semua pembaca di dunia. Salut. Bagi para pencinta buku misteri dan memang penggemar Agatha Christie, buku ini recomended untuk dibaca.

Kisah-kisah dalam buku ini mengajarkan untuk tidak memelihara dendam dan diperbudak uang. Karena dendam dan gila uang hanya akan menyulut pada kejahatan. Quote yang paling mengesankan ketika membaca kisah ini adalah, “Dosamu akan selalu mengejarmu.” (hal. 69)

Srobyong, 2016. 

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 2 Oktober 2016 


Sunday, 2 October 2016

[Review] Promise; Tentang Cinta dan Luka


Hasil gambar untuk cover novel promise by Dwitasari


Judul               : Promise ; This Is Not Only About Love
Penulis             : Dwitasari
Ide Cerita        :Sukhdev & Dwitasari
Penerbit           : Loveable
Cetakana         : Pertama, 2016
ISBN               : 978-602-6922-44-1

YOGYAKARTA, Rahman (Dimas Anggara) seorang cowok Jogja yang berwajah tampan namun lugu dan sederhana, sangat berbeda dengan sahabatnya sejak kecil yaitu Aji.

Aji (Boy Wiliam) yang playboy dan suka bergonta-ganti pacar. Aji selalu punya keinginan agar Rahman bisa menjadi seperti dirinya. Bisa merasakan cinta dan memiliki wawasan yang lebih luas lagi, namun dengan cara yang salah. Tetapi, cara Aji mengubah Rahman justru menjadi awal kejadian yang mengubah hidup Rahman secara drastis. Tanpa disadari, malam itu membuat ayahnya marah kepada Rahman dan semenjak itu pula Rahman tidak bertemu aji lagi.

MILAN, 18 belas bulan kemudian, adalah kota di mana saat ini Rahman kuliah dan juga bekerja paruh waktu di sebuah toko klontong.

Kanya (Amanda Rawles) adalah gadis Jawa blasteran yang sejak usia 10 tahun tinggal di Eropa dan harus pulang ke Jogja untuk mendengarkan sebuah wasiat dari ibunya. Dan, ibunya berharap Kanya tidak kembali lagi ke Eropa untuk menjalankan wasiat tersebut.

Moza (Mikha Tambayong) adalah teman kuliah Rahman yang selalu punya perasaan lebih kepada Rahman. Tapi, Moza melihat ada sebuah teka-teki di hidup Rahman yang tidak dia ketahui jawabannya.

ISTANBUL, Salsabila (Mawar De Jongh) adalah salah satu murid di pesantren ayah Rahman, yang jatuh cinta kepada Rahman dan dia menitipkan sebuah surat untuk Rahman melalui Aji. Suatu ketika di malam hari, Rahman menerima telepon dan ternyata dari Aji. Rahman merasakan perubahan dari sahabatnya itu, bahkan pertemuan Aji dan Rahman tidak seperti dulu lagi. Moza pun baru tahu siapa Rahman sebenarnya saat itu dan siapa perempuan yang dicintainya.

~*~
Novel ini mengisahkan tentang Rahman, anak dari Pak  Purnomo, yang memiliki pondok pesntren di Yogyakarta. Dia memiliki seorang teman bernama Aji yang playboy. Aji selalu berusaha meracuni pemikiran Rahman yang polos agar mau seperti dirinya. Prinsip Aji adalah menikmati hidup dengan senang-senang. Lagipula hidup itu cuma sekali, jadi harus dimanfaatkan dengan baik. Salah satunya adalah dengan pacaran. Misalnya dengan Salsabila, santi bapaknya yang sudah lama menyukai Rahman.

“Kamu ikut gaya dan cara aku nyarai pacar, supaya hidup kamu nggak datar-datar aja kayak jalan tol.” ( hal.48)

Hal ini tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Rahman. Baginya pacaran itu mendekati zina.  Namun bukan Aji kalau mudah menyerah. Jika Rahman tidak mau pacaran, maka berbagai cara akan dia lakukan untuk membujuk sahabatnya itu. Aji memberikan DVD porno pada Rahman.

Sebuah petaka pun muncul. Pak Purnomo memergoki Rahman memiliki DVD itu. Rahman pun di sidang bapaknya. Sampai sebuah keputusan dari bapaknya membuat Rahman lemah karena harus dinikahkan di usia muda.

Dari Yogyakarta, lalu setting berganti ke Milan. Rahman tengah menyelesaikan pendidikannya arsitektur di sana. Sekaligus mencari seseorang yang sangat dirindukan. Di sana Rahman mengenal Moza yang diam-diam menyukai Rahman.  Dalam pencariannya siapa sangka Rahman malah bertemu dengan Aji dan melihat sebuah kenyataan yang tidak terduga.

Novel ini dibuka dengan prolog memikat. Memakai pov campuran satu dan dua, membuat pembaca penasaran dengan apa yang terjadi dalam kisah itu. Namun pada kisah seterusnya ceritanya terasa agak membosankan. Dan saya kurang suka dengan eksekusi ending. (Mungkin hanya saya saja)

Hal yang merasa ganjalan saya adalah tentang sikap Rahman yang sangat berubah. Di mana keluguan Rahman? Dia dikatakan sebagai seorang yang dididik dengan agama yang kental, namun hal itu sudah tidak terlihat lagi ketika dirinya berada di Milan. Rasanya sangat timpang ketika dijeskan pada bab awal kalau Rahman itu sosok yang sangat memegang teguh ajaran agama.

Saya juga merasa ada lubang dari kepergian Kanya yang terlalu tiba-tiba dan tanpa dijelaskan dengan alasan yang logis kenapa dia pergi. Lalu kenapa dia kembali ke Milan. Banyak pertanyaan yang tidak saya temukan dalam novel ini.

Di sini tokoh yang lebih berperan banyak adalah Rahman, Moza dan Aji. Sedangkan Kanya dan Salsabila terasa hanya pemanis yang muncul sesekali.

But, lepas dari itu ... novel ini memiliki keunikan dengan layout yang manis. Gaya penceritaan bagus. Juga quote-quote yang memikat. Jadi bagi yang suka romance bisa menjadikan buku ini sebagai salah satu alternatif bacaan. Oh ya novel ini juga  difilmakan. Semoga pada filmnya pertanyaan-pertanyaan saya yang memenuhi kepala bisa terjawab.  Saya belum nonton filmnya. 

Yang saya pelajari dari novel ini adalah tentang usaha untuk menjadi seseorang yang ikhlas dan tidak mudah menyerah. 

Saturday, 1 October 2016

[Resensi] Belajar Saling Menghargai Perbedaan Suku dan Budaya Melalui Novel

Judul               : Love In Adelaide
Penulis             : Arumi E
Editor              : Donna Widjajanto
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, 2015
Halaman          : vi + 230 hal
ISBN               : 978-602-03-2545-3
Peresensi         : Ratnani Latifah, Penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Setiap negara sudah pasti memiliki budaya  tersendiri. Sebagaimana kata pepatah, di mana bumi di pijak di situlah langit dijunjung.  Jadi di mana pun berada, kita harus menyesuaikan diri dan menghargai budaya yang ada.

Novel ini bercerita tentang Aleska yang harus pindah dan menjalani hidup baru di Adelaide,  Australia. Semua  bermula dari pernikahan ibunya dengan seorang yang berkebangsaan Australia. Meski sempat tidak rela harus pindah, namun Alesaka akhirnya mengalah.  Bagaimana pun dia memang sangat sayang dengan ibunya. Kepindahannya itu membuat Aleska mengenal Zach Mayers—anak Pak Abe—yang berarti saudara tirinya yang dalam pandangan Aleska cukup menyebalkan karena terlalu protektif.  (hal. 13)  Juga Sarah yang lebih membuatnya tidak nyaman karena tidak pernah bersikap manis pada dirinya.

Selama di Adelaide, Aleska memutuskan untuk bekerja sambilan di restoran yang bernama Asian Taste.  Di tempat kerjanya inilah Aleska merasakan sesuatu yang menyenangkan. Apalagi dari sana pula dia mengenal sosok Neil yang memiliki kepribadian hangat yang membuat mereka cepat akrab.   Dari perkenalan itu juga membuat Aleska belajar untuk saling menghargai perbedaan suku dan budaya.

Kenyataan Neil yang merupakan seorang separuh Aborigin yang kerap membuat dia dipanggail  manusia kelas dua.  Karena konon dulu suku Aborigin selalu diperlakukan diskriminatif oleh para penduduk berkulit putih—yang notabene para pendatang.  Walau meski sekarang setiap bulan Juli ada perayaan Naidoc Week—usaha pemerintah untuk menghargai sejarah, budaya dan prestasi kaum Aborigin dan penduduk Kepulauan Selat Torres. (hal. 60) 

Namun tetap saja masih banyak orang kulit putih yang memandang sebelah mata pada Neil dan kaumnya,  karena  ada segelintir kaum Aborigin yang tidak berpendidikan tinggi, miskin dan melakukan tindak krimininal. Padalah semua manusia itu setara.  Apa pun rasnya,  dari belahan bumi mana pun. Semua manusia sama. Tergantung pribadi masing-masing. (hal. 62)  Begitulah pendapat Aleska ketika Neil meminta pendapatnya tentang orang-orang yang masih memiliki mental rasis. Aleska juga menambahi, “Dalam ajaran agamaku, semua manusia sama dan setara di mata Tuhan. Tuhan hanya menilai manusia dari kebaikannya. Siapa yang lebih baik, itulah yang lebih mulia.”

Dari perkenalannya dengan Neil juga menuntun Aleska dalam mengenal lebih jauh dengan budaya kental negara baru yang ditempatinya. Salah satunya tentang alat musik Konga—alat musik perkusi yang dipukul dengan tangan untuk menimbulkan punya. Jika di Indonesia mungin seperti gendang. Dan alat musik didgeridoo—alat musik asli Aborigin dan disinyalir sebagai alat musik tertua di dunia. (hal. 83)

Lambat laun kedekatan yang awalnya hanya sebagai teman kerja, perlahan memunculkan perasaan lain di hati Aleska pun dengan Neil. Sayangnya kedekatan antara Aleska dan Neil tidak disukai Zach. Entah apa sebabnya. “Kamu itu muslimah, tentunya tahu batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Apalagi kamu berhijab. Kamu harus menjaga nama baik muslimah.”(hal. 90)

Sebuah kenyataan yang membuat Aleska menyadari ada banyak lubang dan benteng besar yang tidak mungkin bisa ditembus. Mereka memiliki perbedaan keyakinan. Entah bagaimana kisah mereka akan berlanjut.

Diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah dan memikat membuat novel ini sangat asyik dibaca. Ditambah lagi banyak kejutan yang membuat semakin pensaran dengan jalannya cerita ini.  Beberapa kekurangannya tidak mengurangi kenikmatan dalam membaca.

Sebuah novel yang sarat makna. Selain mengandung budaya yang cukup kental, novel ini juga sarat religi sehingga banyak hal yang bisa diambil pelajaran.  Semisal tentang anjuran untuk menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan atau tentang anjuran untuk mendidik anak dengan cara lemah lembut bukan dengan kekerasan.

Banyak juga  quote inspiratif yang bisa dijadikan renungan. Salah satunya,  “Hanya Allah yang berhak menentukan kamu berdosa atau tidak, kamu diampuni atau tidak. Selama kamu masih diberi hidup, itu artinya kamu diberi kesempatan menembus kesalahanmu dan berubah perlahan menjadi lebih baik.”  (hal. 193)

Srobyong, 15 Agustus 2016 

Dimuat di Koran Pantura, Rabu 28 September 2016