Showing posts with label Agatha Christie. Show all posts
Showing posts with label Agatha Christie. Show all posts

Tuesday, 28 November 2017

[Resensi] Kehebatan Hercule Poirot Memecahkan Kasus Misteri

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 5 November 2017 


Judul               : The Best of Hercule Poirot
Penulis             : Agatha Christie
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Maret 2017
Tebal               : 599 halaman
ISBN               : 978-602-03-3871-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara


Bagi penikmat kisah misteri pasti sudah tidak asing dengan nama Hercule Poirot.  Dia merupakan tokoh fiksi karangan Agatha Christie—penulis fiksi kriminal asal Inggris, yang mana karya-karyanya selalu laku dipasaran. Hercule Poirot adalah seorang detektive swasta yang memiliki kecerdasan dan kejelian dalam menganalisis berbagai masalah.  Selain itu dalam memecahkan kasus yang dihadapi Poirot ini memiliki pendekatan yang berbeda dari kebanyakan detektive. Dan hal itu-lah yang membuatnya hampir selalu sukses dalam menguak berbagai kasus misteri.

Membaca jejak petualangan Poirot rasanya seperti memasuki labirin panjang yang tidak ada ujungnya. Namun begitu kita tidak pernah merasa bosan. Kenyataan yang ada, kisah-kisah petualangannya selalu ditunggu. Untuk mengobati kerinduan penggemar Agata Christie, Gramedia memilih tiga cerita yang paling difavoritkan pembaca untuk dicetak kembali dalam tampilan yang menyegarkan. Inilah buku “The Best of Hercule Poirot”. Di mana kisah-kisah yang terpilih adalah ; The Abc Murders (Pembunuhan ABC), Five Little Pigs (Menguak Pembunuhan), dan Curtain : Poirot’s Last Case (Tirai).  Memang ketiga cerita ini tidak memiliki kaitan, namun kisah yang dipaparkan sukses memberi ketegangan dan kejutan menarik dalam penyelesaian kasus. Tidak terduga dan menakjubkan.

Pada cerita The Abc Murders (Pembunuhan ABC), secara tiba-tiba Poirot mendapat surat kaleng dari seseorang dengan  inisial ABC.  “Mr. Hercule Poirot—Anda menganggap Anda dapat memecahkan misteri-misteri yang bahkan terlalu rumit bagi polisi Inggris kamu yang dungu, bukan? Mari kita buktikan, Mr. Clever Poirot, sampai mana kepintaran Anda. Mungkin bagi Anda kasus ini tidak terlalu sulit untuk dipecahkan. Berhati-hatilah terhadap apa yang akan terjadi di Andervon pada tanggak 21 bulan ini.” (hal 16).  

Arthur Hastings, sahabat Poirot menganggap kalau surat itu hanya pekerjaan orang iseng.  Begitu pula  dengan polisi yang juga telah melihat surat tersebut. Hal itu sangat berbanding terbalik dengan pendapat Poirot.  “Ada sesuatu  mengenai surat ini yang tidak aku sukai .... Bukan karena naluri. Lebih tepatnya adalah pengetahuanku—pengalamanku—yang mengatakan padaku bahwa ada sesuatu yang salah dalam surat ini—“

Dan ternyata dugaan Poirot tidak meleset pada tanggal 21 di Andover dia mendapat laporan bahwa seorang wanita tua bernama Ascher, yang membuka toko kecil serta menjual tembakau dan surat kabar, ditemukan terbunuh (hal 24).  Di sana tidak ada petunjuk apapun kecuali, sebuah buku panduan kereta api dan panduang itu memang ABC.  Bersama Hastngs, Poitor mencoba mengungkapkan fatka di balik pembunuhan itu. Karena ternyata pembunuhan yang terjadi itu tidak sesederhana dari apa yang terlihat.

Lalu pada kisah kedua Five Little Pigs (Menguak Pembunuhan), di sini Poirot mendapat permintaan dari Carla Lemarchat untuk mengungkap kebenaran di balik pembunuhan yang dilakukan ibunya—Caroline Crale enam belas tahun yang lalu. Carla tidak percaya bahwa ibunya telah membunuh ayahnya—Mr. Crale.  Dia suda bertekad bulat, apapun hasilnya dia harus mengetahui kebenaran itu.
Poirot pun mulai mendatangi siapa saja yang memiliki keterkaitan dengan kejadian itu. di sana Poirot mendapat kenyataan bahwa Caroline berada pada pihak yang disudutkan dan memang semua bukti menunjukkan kalau  Caroline adalah  pembunuhnya.

“Kenyataan ini mungkin menyakitkan tetapi saya selalu berprinsip kebenaran harus diutamakan. Kendati tujuan baik, kedustaan akan bahaya. Setiap orang harus berani menghadapi kenyataan. Tanpa keberanian, hidup takkan mempunyai arti.” (hal 362).  

Dan terakhir adalah Curtain : Poirot’s Last Case (Tirai).  Saya merasa kisah ini yang paling mendebarkan. Karena lokasi kejadian kali ini juga memiliki sejarah  tersendiri bagi Arthur Hastings dan Poirot. Saat itu Poirot tengah menghadapi kelihaian seorang pembunuh yang lebih suka Poirot sebut X. Karena perbuatan si X banyak korban berjatuhan. Hanya saja dalam usahanya menemukan X di sana ada  Judith—putri Hastings yang bisa jadi adalah pelaku.  “Jangan terburu nafsu Sobat. Aku mohon kau jangan berbuat kesalahan yang tidaaak mau kubukukan untukmu.” (hal 449).

Ketiga kisah ini benar-benar mendebarkan dan tidak terduga. Diterjemahkan dengan bahasa yang mudah dipahami, membuat kita terasa nikmat saat membaca. Beberapa kesalahan tulis yang ada tidak mengurangi kenikmatan saat membacanya. Dari kisah-kisah ini saya menyadari hal yang paling berbahaya yang bisa menuntun seseorang penjadi pembunuh adalah cinta dan harta.

Srobyong, 24 September 2017 

Saturday, 11 November 2017

[Resensi] Kehebatan Hercule Poirot Memecahkan Kasus Misteri


Dimuat di Radar Sampit, Minggu 5 November 2017 




Judul               : The Best of Hercule Poirot
Penulis             : Agatha Christie
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Maret 2017
Tebal               : 599 halaman
ISBN               : 978-602-03-3871-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Bagi penikmat kisah misteri pasti sudah tidak asing dengan nama Hercule Poirot.  Dia merupakan tokoh fiksi karangan Agatha Christie—penulis fiksi kriminal asal Inggris, yang mana karya-karyanya selalu laku dipasaran. Hercule Poirot adalah seorang detektive swasta yang memiliki kecerdasan dan kejelian dalam menganalisis berbagai masalah.  Selain itu dalam memecahkan kasus yang dihadapi Poirot ini memiliki pendekatan yang berbeda dari kebanyakan detektive. Dan hal itu-lah yang membuatnya hampir selalu sukses dalam menguak berbagai kasus misteri.

Membaca jejak petualangan Poirot rasanya seperti memasuki labirin panjang yang tidak ada ujungnya. Namun begitu kita tidak pernah merasa bosan. Kenyataan yang ada, kisah-kisah petualangnnya selalu ditunggu. Untuk mengobati kerinduan penggemar Agata Christie, Gramedia memilih tiga cerita yang paling di favoritkan pembaca untuk dicetak kembali dalam tampilan yang menyegarkan. Inilah buku “The Best of Hercule Poirot”. Di mana kisah-kisah yang terpilih adalah ; The Abc Murders (Pembunuhan ABC), Five Little Pigs (Menguak Pembunuhan), dan Curtain : Poirot’s Last Case (Tirai).  Memang ketiga cerita ini tidak memiliki kaitan, namun kisah yang dipaparkan sukses memberi ketegangan dan kejuatan menarik dalam penyelesaiakn kasus. Tidak terduga dan menakjubkan.

Pada cerita The Abc Murders (Pembunuhan ABC), secara tiba-tiba Poirot mendapat surat kaleng dari seseorang dengan  inisial ABC.  “Mr. Hercule Poirot—Anda menganggap Anda dapat memecahkan misteri-misteri yang bahkan terlalu rumit bagi polisi Inggris kamu yang dungu, bukan? Mari kita buktikan, Mr. Clever Poirot, sampai mana kepintaran Anda. Mungkin bagi Anda kasus ini tidak terlalu sluti untuk dipecahkan. Berhati-hatilah terhadap apa yang akan terjadi di Andervon pada tanggak 21 bulan ini.” (hal 16).  

Arthur Hastings, sahabat Poirot menganggap kalau surat itu hanya pekerjaan orang iseng.  Begitu pula  dengan polisi yang juga telah melihat surat tersebut. Hal itu sangat berbanding terbalik dengan pendapat Poirot.  “Ada sesuatu  mengenai surat ini yang tidak aku sukai .... Bukan karena naluri. Lebih tepatnya adalah pengetahuanku—pengalamanku—yang mengatakan padaku bahwa ada sesuatu yang salah dalam surat ini—“

Dan ternyata dugaan Poirot tidak meleset pada tanggal 21 di Andover dia mendapat laporan bahwa seorang wanita tua bernama Ascher, yang membuka toko kecil serta menjual tembakau dan surat kabar, ditemukan terbunuh (hal 24).  Di sana tidak ada petunjuk apapun kecuali, sebuah buku panduan kereta api dan panduang itu memang ABC.  Bersama Hastngs, Poitor mencoba mengungkapkan fatka di balik pembunuhan itu. Karena ternyata pembunuhan yang terjadi itu tidak sesederhana dari apa yang terlihat. 

Lalu pada kisah kedua Five Little Pigs (Menguak Pembunuhan), di sini Poirot mendapat permintaan dari Carla Lemarchat untuk mengungkap kebenaran di balik pembunuhan yang dilakukan ibunya—Caroline Crale enam belas tahun yang lalu. Carla tidak percaya bahwa ibunya telah membunuh ayahnya—Mr. Crale.  Dia suda bertekad bulat, apapun hasilnya dia harus mengetahui kebenaran itu.
Poirot pun mulai mendatangi siapa saja yang memiliki keterkaitan dengan kejadian itu. di sana Poirot mendapat kenyataan bahwa Caroline berada pada pihak yang disudutkan dan memang semua bukti menunjukkan kalau  Caroline adalah  pembunuhnya.

“Kenyataan ini mungkin menyakitkan tetapi saya selalu berprinsip kebenaran harus diutamakan. Kendati tujuan baik, kedustaan akan bahaya. Setiap orang harus berani menghadapi kenyataan. Tanpa keberanian, hidup takkan mempunyai arti.” (hal 362).  

Dan terakhir adalah Curtain : Poirot’s Last Case (Tirai).  Saya merasa kisah ini yang paling mendebarkan. Karena lokasi kejadian kali ini juga memiliki sejarah  tersendiri bagi Arthur Hastings dan Poirot. Saat itu Poirot tengah menghadapi kelihaian seorang pembunuh yang lebih suka Poirot sebut X. Karena perbuatan si X banyak korban berjatuhan. Hanya saja dalam usahanya menemukan X di sana ada  Judith—putri Hastings yang bisa jadi adalah pelaku.  “Jangan terburu nafus Sobat. Aku mohon kau jangan berbuat kesalahan yang tidaaak mau kubukukan untukmu.” (hal 449).

Ketiga kisah ini benar-benar mendebarkan dan tidak terduga. Diterjemahkan dengan bahasa yang mudah dipahami, membuat kita terasa nikmat saat membaca. Beberapa kesalahan tulis yang ada tidak mengurangi kenikmatan saat membacanya. Dari kisah-kisah ini saya menyadari hal yang paling berbahaya yang bisa menuntun seseorang penjadi pembunuh adalah cinta dan harta.


Srobyong, 24 September 2017 

Friday, 28 October 2016

[Resensi] Mengungkap Misteri Pesta Pembunuhan

Dimuat di Kabar Madura, 18 Oktober 2016

Judul                :  Hercule Poirot And Pesta Pembunuhan
Penulis             : Agatha Christie
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           :  Pertama, Juni  2016
Halaman          : 168 hlm
ISBN               : 978-602-03-2897-3
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Siapa yang tidak mengenal Agatha Christie? Dia adalah penulis misteri paling terkenal di dunia. Karya-karyanya selalu laris manis dalam berbagai bahasa—menurut data dalam wikipedia dipaparkan buku-bukunya telah terjual sebanyak lebih dari satu miliar eksemplar dalam bahasa Inggris dan satu miliar lagi dalam 45 bahasa asing (hingga 2003). Sebagai contoh kepopulerannya yang luas, dia adalah penulis paling laris di Perancis, dengan lebih dari 40 juta eksemplar novelnya terjual dalam bahasa Perancis (hingga 2003) dibandingkan dengan 22 juta untuk Ã‰mile Zola, saingan terdekatnya.

Karya yang sudah dihasilakn  Agatha Chirtie kurang lebih 80 novel yang kebanyakan merupakan kisah detektif dan misteri ruang tertutup. Salah satu tokoh besar dalam karyanya adalah Hercule Poirot. Agatha Christie memiliki kelihaian dalam mengatur plot yang tidak mudah ditebak. Selalu ada kejutan-kejutan tidak terduga yang membuat pembaca berdecak.  

Novel ini berkisah tentang Hercule Poirot yang mendapat undangan dari  Mrs. Ariadne Oliver—seorang novelis detektif—untuk mengunjungi The Greenshore Follly.  Mrs. Oliver sendiri diundang oleh keluarga Stubb untuk mengatur pembunuhan dalam sebuah festival besar yang akan dilakukan di Greenshore Folly.  Hanya saja Mrs. Oliver khawtir mungkin dalam fesitival yang akan terjadi ini akan ada pembunuhan secara nyata.  (hal. 42.)  Itulah alasannya mengundang Hercule Poirot—detective yang tersohor.

Lalu Mrs. Oliver menjelaskan siapa saja yang kemungkinan akan terlibat dalam pembunuhan di festival. Yaitu  Sir George Stubbs—pemilik Greenshore Folly, Laddy Stubb—Hattie dua puluh tahun lebih mudah dari sang suami yang menikah hanya karena harta, Michael Weyman—arsitek muda yang cukup tampan yang bekerja untuk memperbaiki Folly. Lalu ada Miss Brewiss—semacam sekretaris rumah tangga, Alec Legge dan istrinya Peggy—pasangan yang memiliki pondok di tepi sungai, Kapten Warborough—agen keluarga  Masterton, keluarga Masterton serta Mrs. Folliat. (hal. 46-47)

Berdasarkan asumsi itu Hercule Poirot mencoba mencari tahu benar atau tidaknya kecurigaan Mrs. Oliver.  Tentu saja melalui caranya yang khas dalam melakukan penyelidikan. Dan benar saja kecurigaan Mrs. Oliver berbuah nyata. Ketika festival terjadi Marlene Tucker yang memang bertugas menjadi mayat dalam misteri pembunuhan buatan itu benar-benar sudah tidak bernyawa. (hal. 109) Belum hilang rasa kekagetan itu, Hattie Stubb (Lady Stubb) dinyatakan hilang setelah tersiar kabar Paul Lopez—sepupunya akan datang berkunjung.

“Kelihatannya seolah-olah dua hal itu saling bertautan—pembunuhan itu dan hilangnya Lady Stubb. Tak mungkin keduanya peristiwa yang sama sekali tak ada sangkut pautnya.—terutama karena tak ada alasan bagi Lady Stubb untuk mendadak pergi seperti ini—“ Inspetur Bland berpendapat. (hal. 119) Belum lagi dalam pembunuhan itu tidak ada tanda-tanda perlawanan dari korban.  Hercule Poirot pun berpendapat, “Itu mudah dilakukan –jika dia mengenal pelaku. Bisa dibilang, itulah yang ditunggunya.”  (hal. 123) Lalu siapa sebenarnya pembunuh dari  Marlene Tucker dan ke mana hilangnya Lady Stubb?

Membaca karya Agatha Christie ini seperti memasuki labirin panjang yang entah kapan bisa keluar. Pembaca digiring pada praduga-praduga, yang ternyata pada akhirnya dikejutkan dengan jawaban yang membuat tidak percaya. Cara Agatha Christie mengelabui pembaca pun tidak sembarangan, karena dia memang sangat piawai dalam menyusun alur dengan fakta-fakta yang tidak bertabrakan. Jadi analisis yang dipaparkan akan membuat pembaca terkagum-kagum.

Bagi pecinta kisah detektif dan misteri, novel ini sangat recomended untuk dibaca. Gaya bahasa terjemahan pun lugas dan enak dibaca tidak membuat bingung.  Dalam novel ini saya belajar bahwa sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga—bahwa kebohongan itu tidak akan bertahan lama dan kejahatan pasti pada akhirnya akan terungkap dan mendapat balasan. Hercule Poirot berkata, “Dengan seorang pembunuh tak ada yang namanya akhir.” (hal. 150)


Srobyong, 26 Agustus 2016 

Saturday, 8 October 2016

[Resensi] Tiga Misteri Pembunuhan Penuh Intrik

Judul               :  The World’s Favorite Agatha Christie (Karya Agatha Christe Pilihan Favorit Pembaca Sedunia)
Penulis             : Agatha Christie
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           :  Pertama, Maret 2016
Halaman          : 624 hlm
ISBN               : 978-602-03-2621-4
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Siapa yang tidak mengenal Agatha Christie—yang pada tanggal 15 September ini diperingati sebagai hari jadinya yang ke 126? Dia adalah penulis misteri paling terkenal di dunia.  Karya-karyanya selalu laris manis dalam berbagai bahasa.  Memperingati hari jadinya yang ke 125, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan karya Agatha Christe Pilihan Favorit Pembaca Sedunia. Tiga naskah yang akhirnya dipilih ini merupakan hasil dari pengumpulan suara pembaca di seluruh dunia.

Tiga naskah ini tidak memiliki benang merah satu sama lain dan sejatinya merupakan potongan-potangan buku yang sudah pernah diterbitkan sebelumnya. Namun kisah yang terpilih ini  mengungkapkan betapa cerdiknya seorang Agatha Chrtistie dalam membuat kisah misteri pembunuhan.

Tiga kisah itu adalah And Then There Were None (Lalu Semua Lenyap) pertama diterbitan pertam kali  1939. Lalu Murder on the Orient Express (Pembunuhan di Orient Express) yang diterbitkan pertama kali 1934 dan The Murder of Roger Ackroyd (Pembunuhan Atas Roger Ackroyd) diterbitkan pertama kali 1926.

Lalu Semua Lenyap. Mengisahkan tentang sepuluh orang yang diundang ke sebuah pulau terpencil—Pulau Negro. Mr. Justice Wargrave, Vera Claythorne, Philip Lombard, Emily Brent, Jendral Macarthur, Dokter Amstrong, Anthony Marston, Henry Blore, Tomas Rogers dan Ethel Rogers. Bagaimana mereka sampai di sana, sungguh unik dan sangat mencurigakan.

Keadaan semakin kacau dan mencekam, ketika tiba-tiba ada suara yang mengungkap kejahatan yang dituduhkan pada sepuluh tamu tersebut. (hal. 34) Lalu berturut-turut satu persatu dari mereka ditemukan mati mengikuti pola sebuah lagu. Korban pertama adalah Anthony Marston yang meninggal karena keracunan sianida. Hanya saja siapa yang memasukkan racun itu tersebut itulah yang tidak tercium jejak pelaku. Namun pada akhirnya mereka sadar, mungkin pembunuh sejatinya berada di antara mereka sendiri.

Kisah kedua Pembunuhan di Orient Express pun tak kalah rumit dengan bagian pertama.  Saat kereta terjebak salju di Balkan, salah satu penumpang bernama Mr. Ratchett terbunuh dalam keadaan yang mengenaskan. (hal. 218). Kasus ini pada akhirnya membuat Inspektur Hercule Poirot turun tangan untuk menanganinya.

Dengan cara yang unik Poirot mengumpulkan informasi untuk mengetahui siapa pembunuh yang sebenarnya dari dua belas orang yang dicurigai. Apa motif yang dimiliki pembunuh dan bagaimana cara melakukan aksi pembunuhan itu. Hingga akhirnya terungkap siapa pelaku yang sama sekali tidak terduga. Mengejutkan dan luar biasa.

Terakhir adalah Pembunuhan Atas Roger Ackroyd yang kembali melibatkan Hercule Poirot untuk memecahkan kasus yang ada di desa King’s Abbot.  Diceritakan Mr. Ackroyd tiba-tiba ditemukan meninggal di ruangannya sendiri oleh dr. Sheppard.  Sedang orang yang berada di rumah saat itu, masing-masing memiliki alibi yang cukup kuat.

Sebelum kematian Mr. Ackroyd sebenarnya dia tengah bersedih karena kekasihnya Mrs. Ferrars ditemukan tewas bunuh diri. Katanya perempuan itu tidak sanggung menanggung kesedihan karena merasa bersalah telah membunuh sauminya dulu. Tapi belakangan Mr.Ackroyd baru tahu, kekasihnya itu tertekan karena diperas seseorang yang mengetahui kejahatan yang telah dilakukannya.  Mrs. Ferrars meninggalkan sepucuk surat untuk mengungkap siapa sang pelaku pemerasan. Namun sebelum itu terungkap, Mr. Ackroyd telah ditemukan terbunuh.

Hercule Poirot yang kebeteluan di sana, akhirnya menerima tawaran keponakan dari Mr. Ackroyd—Flora untuk menyelidiki kasus itu hingga keakar-akarnya.

Sebagaimana keabiasannya Poirot melakukan penyelidikan dengan cara unik dan sangat mendetail. Dan ketika pada sampai kesimpulan siapa pembuhnya, maka pembaca akan dibuat tertegun dan tidak percaya. Karena si pelaku sangat lihai dalam menyamarkan diri.

Ketiga kisah misteri ini benar-benar sangat sulit ditebak. Twits endingnya sangat keren. Penulis benar-benar lihai menyembunyikan pelaku kejahatan dengan sangat rapi.  Dan cara mengungkapkan siapa pelaku sebenarnya juga keren. Tidak diragukan lagi jika karya-karyanya disukai semua pembaca di dunia. Salut. Bagi para pencinta buku misteri dan memang penggemar Agatha Christie, buku ini recomended untuk dibaca.

Kisah-kisah dalam buku ini mengajarkan untuk tidak memelihara dendam dan diperbudak uang. Karena dendam dan gila uang hanya akan menyulut pada kejahatan. Quote yang paling mengesankan ketika membaca kisah ini adalah, “Dosamu akan selalu mengejarmu.” (hal. 69)

Srobyong, 2016. 

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 2 Oktober 2016