Monday, 16 January 2017

[Resensi] Menikmati Keindahan Lembata Melalui Kisah Romance

Dimuat di Kabar Madura,  Senin 9 Januari 2017 


Judul               : Cintaku di Lembata
Penulis             : Sari Narulita
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, Mei 2016
Halaman          : 192 hlm
ISBN               :  978-602-03-1040-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.


Indonesia sangat kaya dengan budaya juga tempat-tempat indah yang menakjubkan. Salah satunya adalah Lembata—salah satu kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur. Konon dikenal dengana nama Lomblen yang memiliki arti kawula. Alamnya sebagian besar terdiri atas wilayah pesisir pantai, perbukitan dan gunung berapi (hal 18).

Menyadari keindahan Lembata membuat Sari Nuralita terinspirasi untuk memadukan keindahan NTT dengan sebuah kisah romance.  Novel ini sendiri berkisah tentang Kayla yang akhirnya menerima ajakan Eleonora, sahabatnya untuk ikut berpetualangan ke Pulau Lembata mengikuti pers conference Adventure Lembata 2014.  

Namun siapa sangka dalam perjalannya ini, Kayla bertemu sosok di masa lalunya—Gringgo atau nama aslinya Elanda. Seseorang yang pernah menempati tempat teristimewa ketika di remaja dulu. Saat dia bergabung  dengan BKSSM—Badan Kerja Sama Seniman Militer.  Di mana Kayla pernah menjadi artis film dan kemudian jatuh cinta pada Gringgo. Sayangnya mereka tidak bersatu karena  alasan tertentu di kala itu.

Pertemuan kembali itu secara tidak langsung membuat Kayla kelabakan. Percikan cinta dan rindu pada laki-laki Kupang itu membuatnya terjebak pada kisah cinta yang terlarang.  Entah bagaimana kisah Kayla dan Gringgo yang konon katanya tidak mungkin bisa bersatu. Banyak misteri yang menyelubungi hubungan mereka.

Seperti tiba-tiba datang sosok misterisus yang mengaku  diminta leluhur untuk menjaga Gringgo. Dia menasihati Kayla.  “Nona adalah masa lalunya. Kalian tidak ditakdirkan untuk hidup bersama.” ( hal 153).

Dan ketika Kayla bercerita pada Nora, sahabatnya, bukannya menenangkan, Nora malah menasihatainya untuk percaya pada ucapan sosok itu. “Hati-hati Kayla, sebaiknya kauturuti nasihatnya. Di sini tradisi dan adat istiadat masih sangat kuat meskipun masih sudah banyak yang moderen. Tetap saja mereka takut melanggarnya.  Hentikan segera khayalanmu untuk membina hubungan yang lebih akrab dengan laki-laki itu. Kalau tidak, kamu akan semakin hanyut dengan perasaanmu dan terluka nantinya.” (hal  155).

Kayla dilema. Haruskah dia percaya dengan semua itu atau tidak. Tapi dia tidak ingin kehilangan Gringgo untuk yang kedua kalinya.

Kisah ini diceritakan dengan gaya tutur bahasa yang lembut, membuat tidak bosan membaca. Apalagi dalam perjalanan kisah dua sejoli ini, penulis menjabarkan latar yang sangat menawan. Pertama pembaca diajak mengenal desa Lamagute dengan udara yang sejuk dan kejernihan air lautnya. Dilanjutkan perjalanan ke kampung adat Lewohala yang terletak di  lereng Gunung  Ile Lewotolok. Di sana ada gunung Ile Ape. Ketika sampai di puncak gunung bisa menyaksikan panorama terbitnya matahari yang indah (hal 34).

Perjalanan yang tidak kalah menarik adalah ketika mengunjungi Jontona. Di sana bisa melihat keindahan pantai putih, mengunjungi museum ikan paus dan melihat tradisi berburu ikan paus. (hal. 53) Tidak ketinggalan di  Jontana pelancong bisa melihat pertunjukkan tari tradisi di Teluk Walengan.  Dan tidak terlupakan adalah ketika bisa menikmati senja di Bukit Cinta, Wolor Pass. Di NTT, masih lekat dengan budaya daerah yang dimiliki.

“Bukan hanya keindahan alam dan budayanya, NTT adalah museum hidup. Di sini banyak kampung adat yang terawat, tradisi merapu dan megalitik. Ritual di sini bukan dilakukan sekdar untuk memuaskan rasa ingin tahu wisatawan, tapi memang merupakan keseharian yang mereka jalankan.” (hal 120).

Selain mengenalkan keindahan Lembata,  dalam novel ini juga sedikit mengkritisi pemerintah yang belum bisa mengelola potensi alam lembata untuk menjadi objek wisata dengan keindahan laut, gunung, adat istiadat dan budayanya yang terjaga turun-temurun. (hal 139).

Srobyong, 15 September 2016 

Sunday, 15 January 2017

[Resensi] Mereguk Inspirasi dari Kehidupan Hamka

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 8 Januari 2017

Judul               : Hamka
Penulis             : Haidar Musyafa
Penerbit           : Penerbit Imania
Cetakan           : Pertama, Oktober 2016
Halaman          :  464 hlm
ISBN               : 978-602-7926-28-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama. Jepara.


Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa dipanggil  Buya Hamka, merupakan satu di antara putra Indonesia yang memiliki segudang prestasi.  Baik itu dilihat dari perannya sebagai ulama, pejuang, sastrawan, wartawan, politisi, juga kiprahnya dalam membangun peradaban bangsa Indonesia (hal 7).

Buku ini menyajikan sejarah kehidupan, pemikiran dan perjuangan Hamka secara lengkap. Memberi motivasi, inspirasi dan spirit juang tinggi.  Sejak kecil, Hamka sudah menunjukkan sikap ulet dalam belajar dan pantang menyerah dalam usaha mewujudkan harapannya.

Dia senang belajar ilmu agama dan tidak keberatan belajar  tentang ilmu umum. Berbagai  buku telah dia baca. Dia berpendapat, “Ilmu agama itu memang sangat penting. Namun belajar ilmu umum juga diperlukan agar bisa  menambah wawasan.” (hal 50).

Demi memuaskan dahaganya akan ilmu pengetahuan, pada usia 16 tahun, Hamka  pergi ke Tanah Jawa, untuk mengasi ilmu dari para tokoh Sarekat Islam. Di antaranya dia belajar pada HOS. Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto,  Ki Bagoes Hadikoesoemo, dan K.H Fachruddin. Setelah itu, melanjutkan mendalami ilmu agama di Tanah Suci Makkah pada Februari 1972. Sepulangnya dari Makkah, dia langsung ditunjuk sebagai  Ketua Cabang Muhamadiyah di Padangpajang.

Di sinilah perjuangan Hamka dimulai. Dia berjuang dengn ikhlas. Selain aktif dalam mengembangkan organisasi Islam dan dakwah, Hamka juga terjun dalam dunia pendidikan. Dia ikut mengajar di Tabligh School.  Dalam praktik mengajarnya, Hamka tidak ingin mengajar anak didiknya dengan metode yang keras dan kaku. Pendidikan itu harus disampaikan dengan lembut dan kasih sayang.

Dan untuk  mengembangkan perjuangannya dalam dakwah, dia menerbitkan majalah bulanan yang diberi nama Kemauan Zaman. Dengan alasan, semoga dengan adanya media tulisan, dia bisa memberikan pencerahan dan wawasan keislaman kepada banyak orang melalui tulisan (hal 326).

Tidak hanya menulis dalam majalah saja, Hamka juga  mulai menerbitkan karya-karyanya dalam wujud buku cetak. Hampir semua karyanya  selalu disambut hangat oleh masyarakat. Baik itu buku agama, tasawuf, cerpen dan roman.  Sayangnya ketika buku-buku agama karya Hamka sedang laris manisnya, polisi Governemen Hindia Belanda melarang buku itu diedarkan lagi.  Belanda takut materi tulisan Hamka itu akan mempengaruhi pola pikir para pribumi dan sehingga nantinya berani menentang Belanda.

Meski sedih, Hamka tetap menulis. Berharap semoga karya-karya lainnya  bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk menegakkan panji Islam setinggi-tingginya. Juga mengobarkan semangat perjuangan melawan penjajah.

Selain berjuang di Sumatera Barat, Hamka juga mendedikasikan dirinya untuk berjuang di Makassar. Hamka tidak tahan melihat Pemerintah Belanda yang selalu melakukan tindakan semena-mena pada kaum  pribumi. Untuk itu dia bertekad untuk membebaskan tanah airnya dari cengkrama penjajah. Langkah awalnya adalah dengan mengamalkan ilmu yang dimiliki untuk mencerdaskan kaum pribumi. Mengingat pendidikan merupakan sarana dari membebaskan rakyat dari kebodohan.

Penulis buku berpendapat, meski banyak yang menganggap Hamka  sebagai muslim yang kaku dan kolot. Nyatanya, Hamka adalah sosok yang santun, memiliki hati lembut, dan teduh dalam dakwahnya. Dia seorang ulama perangkul  bukan pemukul.  Pengaruh dan keilmuannya  berhasil menyentuh semua golongan. Baik religius maupun nasionalis, masyarakat dalam negeri  maupun luar negeri.

Hamka pernah  berkata, “Jika hidup ini hanya diisi dengan berburuk sangka atas perbuatan yang akan dilakukan orang pada kita, tentu hal itu akan membuat kita gamang melangkah. Padahal Allah akan memberi pahala dan dosa sesuai dengan apa yang kita niatkan (hal 384).

Buku ini sangat inspiratif dan sarat makna. Mengingatkan untuk menjadi pribadi yang selalu ikhlas, tabah, tidak pendendam dan tidak mudah menyerah dalam berjuang.  Serta mengajak untuk mencintai tanah air dan buku yang merupakan jendela ilmu.

Srobyong, 30 November 2016 


Monday, 9 January 2017

[Resensi] Menjelajahi Masjid di Lima Benua



Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Sabtu 31 Desember 2016 

Judul               : 1001 Masjid di 5 Benua
Penulis             : Taufik Uieks
Penerbit           : Mizan
Cetakan           : Pertama, Oktober 2016
Halaman          : 260 hlm
ISBN               : 978-979-433-971-8
Persensi           : Ratnani Latifah. Penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Unisnu Jepara.


Bagi sebagian orang jika berkesempatan untuk menjelajahi lima benua dengan negara-negara adidaya, lazimnya tempat wisata yang akan dipilih adalah pantai, pegunungan, atau pusat perbelanjaan. Namun berbeda dengan Taufik, yang lebih memilih menjelajahi berbagai masjid di pelosok berbagai negara untuk mereguk inspirasi spiritual jiwa.

Menurut Taufik dengan mengunjungi masjid dia bisa mengetahui kehidupan masyarakat muslim di suatu kota di negara tertentu. Bahkan dapat mengenal lebih jauh sejarah ajaran Islam mulai masuk, sekaligus perkembangannya di kota tersebut.   

Buku ini mengulas perjalanan Taufik selama berkeliling ke berbagai negara dan kunjungannya ke berbagai masjid. Di antaranya ada  masjid yang konon merupakan markas teroris di Amsterdam. Nama masjid tersebut adalah Masjid Stichiting El Tawheed atau Yayasan At-tauhid. 

Pada tahun 2004 terjadi pembunuhan Theo van Gogh, sutradara pembuat film anti-silam, oleh pemuda bernama Mohammad Bouyeri, yang merupakan salah satu jamaah masjid tersebut.  Peristiwa yang menggemparkan negeri Belanda dan disebut sebagai “Dutch September 11” ini membuat gerakan dan kegiatan di El Tawhed selalu dimatai-matai pemerintah (hal 21). 

Tidak kalah menarik adalah  kunjungan di Masjid Kapitan Keling—di mana di sana terdapat Al-Quran dalam sepuluh bahasa.  Masjid ini dibangun oleh Cauder Mohuddeen pada 1801. Di sana ada papan pengingat yang bertuliskan “Merokok adalah haram dari pandangan Islam kerana padah-nya terdapat kemudaratan.”  (hal 84). Peringatan ini seolah mengingatkan  kaum agar selalu menjaga kesehatan.

Keunikan lainnya adalah adanya dua sisi pintu yang dihiasi surah Al-Ashr ayat 1-3 yang selain dalam bahas Arab, juga diterjemahkan dalam sembilan bahasa. Yaitu  Inggris, Prancis, Spanyol, Italia, Jerman, Belanda, Cina, Jepang dan Korea. Di sini kita bisa merenungi makna mendalam  dari surah tentang waktu (hal 86).

[Resensi Meneladani Nabi dan Rasul Buku Cerita Seru 25 Nabi dan Rasul]

Selain dua masjid ini, masih banyak masjid yang menarik dengan berbagai budaya dan sejarah peradaban Islam. Di antaranya  Masjid Tonson di negeri seribu pagoda,  Masjid Qingjing di Quanzhou yang merupakan saksi persahabatan, juga pembauran budaya Cina dan Arab, Masjid Noor Muhammad di ZanZibar, Masjid Rahmat di Dala—Yangoon yang mirip dengan dunia fantasi, Masjid Kul Zarif di Kazan, Masjid Nagoya di Jepang dan banyak lagi.

Buku ini dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan persuasif.  Sebuah buku yang sarat makna. Dalam wisata religi dan spiritualnya, penulis mengingatkan untuk selalau mensyukuri keagungan Allah, juga mengenalkan tentang budaya dan sejarah peradaban di berbagai penjuru dunia. Ada juga pesan kuat bahwa meskipun berbeda negara dan budaya, sesama muslim itu saudara dan harus saling menyayangi.

Srobyong, 18 Desember 2016 

Thursday, 5 January 2017

[Review] Kisah Perjalanan Gadis Dayak Memperoleh Hidayah

Judul               : Kujemput Islam dengan Cinta-Mu
Penulis             : Lesa Mara Pepe
Penerbit           : Zukzez Express
Cetakan           :  Dua, Mei 2016
Halaman          : 246 hlm
ISBN               : 978-602-7967-50-2

Manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada kehidupan di masa depan.  Karena manusia hanya bisa merencanakan dan Tuhan-lah yang menetukan segalanya. Sebagaimana dengan keyakinan, kita tidak pernah tahu siapa saja yang akan mendapat hidayah dari Tuhan . Baik itu kapan dan bagaimana hidayah itu datang menyapa.

Misalnya saja kisah  tentang Abu Thalib—Paman Nabi saw, meski dia sangat dekat dan sayang dengan Nabi, Abu Thalib belu terbuka hatinya untuk memeluk Islam. Lain lagi dengan Umar bin Khatab, dia sangat membenci Nabi dan Islam. Bahkan dia hendak membunuh Rasulullah, namun siapa sangka ketika mendengar alunan ayat Al-Quran, hatinya yang keras mendadak lunak dan langsung menyatakan masuk Islam.

Sebagaimana kisah pada sahabat, saat ini banyak hal senada yang kerap terjadi pada orang-orang istimewa. Salah satunya Lesa Mara Pepe, penulis yang berasal dari Kalimantan. Dia dilahirkan dari keluarga  Kristen Protestan taat  (hal. 26). Dia hidup dalam tradisi kental suku dayak. Namun karena karunia-Nya, dara manis ini mendapat hidayah untuk memeluk Islam.  Tentu saja perjuangannya tidak mudah. Dia mengkaji berbagai literatur dan sejarah. Baik itu sejarah Islam, Kristen dan suku dayak.  
Kisah perjalannya dimulai ketika dia Lesa melanjutkan pendidikannya di Akademi Analisis Kesehatan Borneo Lestari, Kalimantan Selatan,  sekitar tahun 2011. Di sana dia bertemu mahasiswa perawat bernama Azahar. Bisa dibilang Azhar adalah media yang membawa Lesa mengenal lebih dekat. Dari Azhar, Lesa banyak belajar melalui buku-buku yang dipinjamkan Azhar.  Selain itu mereka juga kerap berdiskusi soal agama masing-masing.

Di sinilah, Lesa akhirnya menemukan beberapa aturan Islam yang sangat indah dan tidak pernah dia temukan dalam agamanya.   Merasa tertarik, perlahan Lesa mulai mencari tahu lebih banyak tentang sejarah—baik itu agama Islam atau agama yang dianutnya. Mengkaji ulang kitab injil dan membaca tarjamah Al-Quran.

Selain itu banyak buku Lesa baca untuk menuntaskan rasa hausnya. Sebut saja buku karya Felix Y Siauw—mualaf Cina yang berjudul ‘Udah Putusin Aja!   Buku lain yang dia baca adalah Kala Yesus Jadi, Tuhan karya Richard E. Rubenstein, 13 Alasan Mencinta Yesus, Harus Masuk Islam karya Insan LS Mokoginta yang juga seorang mualaf, Hijab I’m in Love karya Oki Setiana Dewi.

Lesa juga mendapat motivasi dari kisah Hj. Irena Handono—mantan biarawati yang berasal dari etnis Tionghoa.  “Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi pekerti, emosi, rasio. Agama Islam adalah agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah akan  memberi.” (hal. 109)

Hanya saja dalam usahanya mencari kebenaran, perjalanan Lesa tidak bisa berjalan mulus. Keluarga besarnya memarahinya habis-habisan. Hal ini terjadi di tahun 2013. Berbagai cara dilakukan orangtua Lesa agar putri sulungnya itu tidak berpindah agama.  Bahkan Lesa sampai ditatar dan diajak debat perihal agamanya.  Yang paling buruk, Lesa hampir dilarang orangtuanya melanjutkan pendidikan, karena di sana-lah asal muasal Lesa mengenal Islam lebih jauh. (hal. 127)

Beruntung hal itu tidak terjadi. Lesa tetap diizinkan menyelesaikan kuliah dengan persyaratan yang diajukan ayahnya. Namun pada kenyataanya, Lesa tidak bisa mengikuti permintaan agamanya.  Pada tanggal 4 Mei 2014 Lesa resmi bersyahadat. Meski dia tahu konsekuensi dari pilihannya.
Selama perjalannya mencari kebenaran, selain mempelajari sejarah Islam dan Kristen, Lesa ternyata mendalami hubungan antara kedua agama tersebut dengan budaya dayak. Dan dari pengamatannya, Lesa mendapati kenyataan yang tidak terduga. Bahwa Islam dulu pernah memiliki pengaruh suku Dayak Maanyan. (hal. 191)

Membaca novel ini, sungguh memberi banyak wawasan. Baik itu tentang agama Islam, Kristen atau pun budaya dayak. Selain itu buku ini juga dilengkapi kisah cinta Lesa yang tak kalah manis dari perjalanannya dalam menjemput hidayah. Ini adalah buku yang sangat inspiratif.  Dikemas dengan bahasa yang santun, membuat buku ini asyik untuk dibaca. Beberapa salah tulis tidak mengurangi kenikmatan dalam membaca.

Dan dari buku ini saya juga semakin memahami perihal persatuan yang kokoh dari suku dayak. Mereka saling menghormati pilihan agama masing-masing dan tidak saling menjatuhkan. Namun hidup dengan berdampingan.



Wednesday, 4 January 2017

[Resensi] Novel Pembangun Jiwa

Dimuat di Kabar Madura, Jumat 30 Desember 2016 

Judul               : Ayat-Ayat Cinta 2
Penulis             : Habiburrahman El Shirazy
Penerbit           : Republika Penerbit
Tahun terbit     : November 2015
Cetakan           : Empat, Desember 2015
Halaman          : vi + 690 halaman
ISBN               : 978-602-0822-15-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.


Keunggulan dalam novel religi adalah tentang pesan-pesan yang cukup banyak bisa diambil sebagai pembelajaran. Sebagaimana dalam novel ayat-ayat cinta 2 karya Kang Abik.   Dalam novel ini pesan yang tersirat atau pun tersurat benar-benar bisa menjadi pembangun jiwa-jiwa yang gersang.  Sebuah novel yang sangat inspiratif dan memikat. Tidak hanya mengungkap kisah cinta yang manis, tapi juga menyisipkan nilai-nilai moral dalam perjalanan  dakwah.

Kisah  dibuka  dengan kehidupan Fahri yang mulai berubah sejak menikah dengan Aisha.  Dia tinggal di   Edinburgh, Scotlandia dan mengajar  di University of Edinburgh. Dia tinggal bersama Paman Hulusi, asisten rumah tangganya. Sebuah kejadian yang tidak terduga, harus membuat Fahri kehilangan Aisha.

Tanggal 2 November 2007 Aisha dan Alice pergi ke Palestina. Tapi setelah tanggal 4 November Aisha hilang seperti ditelan bumi. Fahri sudah melakukan berbagai cara untuk menelusuri jejak istrinya. Namun hasilnya nihil. Dan  pada tanggal  29 Januari 2008 jasad Alicia ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan di daerah Hebron, Israel (hal 118-119).  Kenyataan ini semakin membuat Fahri sedih, memikirkan nasib Aisha.

Untuk melupakan kesedihannya, Fahri mencoba menenggelamkan diri pada penelitian, mengajar dan mengurusi bisnis yang dulu dibangun dengan Aisha.  Selain itu Fahri juga berusaha untuk memulihkan citra Islam.

[Resensi Rasa Sakit Masa Lalu dan Usaha untuk Memeluknya Novel Tentang Kamu]

Dia tidak ingin Islam dianggap sebagai setan, moster atau teroris. Sebagaimana pendapat Keira tetangganya—Keira yang entah kenapa sangat membenci Fahri. Tidak cukup Keira, bahkan Fahri juga disebut sebagai amalek—orang-orang bodoh seperti keledai—oleh Baruch dan teman-teman Yahudinya. (hal 293). Untuk memulihkan anggapan sepihak itu, Fahri melakukan diskusi terbuka membahas tentang amalek  (hal 421). Fahri juga menerima undangan debat tentang permasalah agama dari Oxford. Dia adalah pakar studi Islam sebagai wakil University of Edinburgh (hal 421).

Karir Fahri sangat gemilang kala itu. Hanya saja untuk masalah rumah tangga, dia belum bisa move on dari Aisha. Beberapa kali dia mendapat tawaran untuk menikah lagi. Namun berkali-kali pula dia menolak tawaran itu. Apalagi ada seseorang yang entah kenapa mengingatkan Fahri pada soso Aisha—Sabina, seorang tuna wisma yang pernah ditolongnya. Hanya saja Sabina itu berwajah buruk dan memiliki suara yang serak. Tentu saja sangat bertolak belakang dengan Aisha.

Sampai pada suatu ketika kehadiran Hulya berhasil mlomencairkan hati Fahri.  Di sini kesetiaan Fahri diuji. Antara tetap setiap menunggu Aisha yang tidak berkabar atau melupakan Aisha dan membuka lembaran baru.

Novel setebal  690 cukup membuat saya merasakan pergolakan batin. Antara marah, sedih, kecewa juga bahagia. Gaya bahasa, setting sangat menarik. Kecuali untuk plot yang bagi saya sudah bisa ditebak sejak awal dan karakter Fahri yang terlalu sempurna jika memang ada di dunia nyata. Ditambah novel ini cukup banyak kesalahan penulisan.

Namun lepas dari kekurangnya, novel ini memiliki sisi lain yang pastinya sangat recomended untuk dibaca.  Penulis pandai menggiring pembaca untuk menyelesaikan novel sampai tamat untuk mengungkap kebenaran yang tersamarkan.

Sebagaimana khas karya Kang Abik, novel ini  banyak bertaburan quote inspiratif. Ada banyak renungan yang pastinya bisa menjadi pembangun jiwa.  Sebagaimana pendapat yang dipaparkan Fahri.

“Kita tidak perlu memerkosa agama-agama itu untuk disama-samakan. Tidak perlu. Yang penting dan perlu, adalah membangun kedewasaan dalam beragama. Para pemeluk-pemeluk agama harus menghayati ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh, sereligus-religiusnya dan sedekat-dekatnya mereka dengan Tuhannya, sehingga jiwa mereka menjadi bersih. Lalu hendaknya mereka beragama secara dewasa! Dari situ akan tercipta toleransi yang hakiki, toleransi yang anggun. Adanya agama adalah untuk menjadi pedoman hidup  bagi manusia. Menjadi aturan, hukum dan norma bagi kehidupan manusia.” (hal 574 - 580).

Beberapa pembelajaran yang bisa dipetik setelah membaca novel ini adalah,  penulis mengingatkan pembaca tentang masalah toleransi antar umat beragam, dan selalu berbuat baik pada tetangga.  “Kita tetangga, harus saling membantu.” (hal 38). Selain itu anjuran untuk mengemban dakwah—menegakkan agama Allah. Selamat membaca.

Srobyong, 22 November 2016