Saturday, 31 January 2015

[Cerpen Horor] Hikiko



Judul : Hikiko

Oleh :Kazuhana El Ratna Mida

Nika memasuki kamar dengan segera. Dia ingin merebahkan diri sebentar karena rasa lelah yang menjalar diseluruh tubuhnya. Seharian ini terlalu banyak aktivitas yang dia jalani. Biarlah untuk hari ini dia tidak ikut makan malam dengan keluarga. Nika langsung tertidur setelah membersihkan diri, terlelap dalam mimpi.

Nika tidak tahu, entah karena terlalu lelah atau terlalu banyak mengkhayal dia merasa kasurnya ini bergerak-gerak seperti digoyang-goyang. Didorong seperti sedang ditimang-timang. Nika membuka mata mencoba mengembalikan kesadaran sepenuhnya. Ini nyata, dia tidak bermimpi. Nika menelan ludah, dengan masih duduk di atas kasur mencoba menetralisir alam pikirannya. Tapi gerak itu masih dia rasakan dan malah bertambah cepat. Nika menengok ke sekeliling kamar.

Mendadak dia merasa takut, bulukudunya merinding. Dia ingin keluar untuk ke kamar kakaknya, tapi kaki itu seolah tidak bisa bergerak. Nika kemudian mencoba merebahkan diri lagi, berharap dia tidak merasakan kasur ini ditimang-timang. Dia memejamkan mata, menutupnya dengan bantal mencoba mengusir rasa takut. Tapi tetap saja dia merasakan kasur itu bergoyang-goyang.

Semakin lama semakin cepat. Ada penasaran yang menyelimuti jiwanya. Dengan sedikit mengintip Nika mencoba mengedarkan pandangan. Lalu pandanyannya bertaut dengan sosok pucat tidak jauh dari kasurnya, yang sedang mendorong dengan tawanya yang membuat bergidik.

Nika terkesiap, detak jantungnya tak beraturan. Kini tatapannya nanar.

“Hikiko!” pekik Nika panik.

Dia menjauh tapi hantu kecil yang hampir menyerupai kuntilanak itu malah mendekat, membuat Nika ketakutan.

“Pergi!” teriak Nika.

Bukannya pergi Hikiko seolah ingin meraih Niki dengan segera. Kini Hikiko makin keras mengoyang-goyangkan kasur membuat Niki berteriak keras.

Menjambak rambut Nika dengan kasar, menarik tangan dan hampir mencekiknya.

~*~

Nika menghela napas. Mungkin semua hanya imaji atau mimpi. Ah, sudahlah itu tidak penting. Pagi sudah menyapa, kini Nika memulai aktivitas seperti biasa. Dia menyiapkan segala kebutuhan sekolahnya dengan suka cita.

Entah beberapa minggu ini dia merasa selalu memimpikan hal yang sama. Bertemu Hikiko dan dihantuinya.

~*~

“Itte Mairimasu—aku berangkat!” Nika bergegas, meninggalkan rumah besar yang baru saja dibeli keluarganya beberapa minggu lalu.

“Ohaiyou, Nika-chan—selamat pagi, Nika-chan,” sapa Mari—teman Nika yang kebetulan berada di kompleks perumahan barunya.

“Ohaiyou.” Nika tersenyum. Mereka pun kini berangkat bersama ke sekolah.

Namun, baru beberapa langkah menuju sekolah ....

Glek!

Niki menelan ludah, menatap sosok Mika yang tengah berubah menjadi Hikiko. Teror baru dimulai, menghantui Nika dan rumah baru yang ditempati tanpa akhir.

Tawa menyeringai di bibir Hikiko. Meraih Nika, menarik tangan dan rambut ingin mencincang. Dia ingin membalas kejahatan orang-orang yang dilakukan padanya sewaktu tinggal di rumah yang dihuni Nika.

Srobyong, 22 Desember 2015.

Nb : tidak seram.

[Cerpen] Cowok di Bus Santika



Judul : Cowok di Bus Santika

OLeh : Kazuhana El Ratna Mida

Aku sudah memasuki Bus Santika dan duduk santai di kursi bagianku. Tiba-tiba seorang cowok muncul dan dengan santai duduk menjajariku. Kutatap dia yang nantinya akan menjadi teman perjalanan menuju desa kelahiranku. Cowok berperakwakan tinggi dan cukup tampan menurut kacamataku. Sedari tadi dia hanya diam tak menyapaku dan asyik mendengarkan musik yang menempel di telinganya.

Aku pun memilih yang sama. Bodoh amat, dia saja cuek. Kenapa aku tidak. Kemudian sambil menunggu semua penumpang masuk dan siap mengantar aku pulang. Kuisi waktu dengan membaca manga terbaru yang baru aku beli beberapa hari lalu. ‘Manga Naruto’ yang menjadi favoritku.

“Wah kamu suka Naruto?” tiba-tiba dia sudah ikut nimbrung membaca bersamaku. Tubuhnya condong ke arahku hingga bisa kucium bau parfum melati yang melekat dalam tubuh cowok itu. horor juga nih cowok kok memakai parfum seperti ini. Bodoh amat mungkin emang ini parfum kesukaannya.

“Eh, iya, kamu juga suka?” tanyaku balik. Dia menganguk, dan kemudian meluncurlah cerita tentang hobinya dengan dunia anime yang sangat digemarinya itu.

Senang juga sih aku mendapat teman duduk yang bisa nyambung diajak ngobrol. Biasanya aku hanya bisa diam hingga sampai tujuan. Kupikir tadi, aku akan kembali merasakan itu. karena melihat gelagat dia yang begitu cuek dengan sekelilingnya. Namun aku salah dia asyik juga.

“Kamu anak Mlonggo juga?” Matanya berbinar. Aku mengangguk mengiyakan. 

“Tidak kusangka kita satu daerah ya,” ucapnya sambil tersenyum manis.

Akhirnya kami pun mengobrol sana-sini, dan aku tidak menyangka dia juga satu kampus denganku meski beda fakultas dan semester. Jadilah kami saling bertukar alamat dan juga nomor handphone yang bisa dihubungi. Mungkin suatu saat kami bisa bertemu lagi.

Pertemuan dan obrolan manis yang terjadi karena manga Naruto. Andai kau tak mengeluarkan manga itu belum tentu kami bisa mengorbol bebas seperti ini.

“Bagimana kalau nanti kita balik ke Jogja bareng. Ketemuan di halte bus ini ya,” ucapnya ketika kami sudah sampai.

Aku mengiyakan saja. Pasti seru bisa berengan dengan dia lagi. Dan lagi aku merasa sangat nyaman dengan dia. Jangan-jangan, aku suka dia pada pertemuan pertama? Who Knows?

“Sampai jumpa dua minggu yang akan datang,” ucapnya melambaikan tangan. Aku sendiri sudah harus melaju ke rumah melepas lelah dengan sepeda kakak yang sedari tadi setia menunggu kepulanganku.

Kusapa surga kecil yang menjadi saksi bisu aku tumbuh, aku senang sekali dua bulan aku tidak pulang. Rasanya rindu pada bapak dan ibu sudah membuncah. Kupeluk mereka dengan bahagia. Setelah itu aku rebahan di kamar tercinta.

Tiba-tiba ringtone lagu’ blue bird’ milik Ikimono Gakari mengagetkan aku. Kubuka pesan masuk di handphoneku. Ternyata dari Sabil, cowok di bus santika yang menjadi teman dudukku.

“Rai, dah sampai di rumah dengan selamatkan?” 

“Alhamdulillah, iya aku dah sampai dan istihat di rumah.”

Aku senyum-senyum sendiri membaca pesan-pesan yang dia kirim untukku. Obrolan yang tertunda di bus kami lanjutkan di sini. Dua minggu di rumah dia yang mewarnai dan memenuhi inbok hp-ku. Meski kami berkomunikasi lewat dunia maya. Rasanya itu cukup membuat kami seolah sudah kenal lama.

Dan hari ini, sudah saatnya aku kembali untuk mengejar cita. Aku begitu semangat karena hari ini aku bisa bertemu lagi dengan dia. Aku sudah membayangkan pertemuan manis ke dua yang pasti lebih asyik dari awal kami jumpa.

Kutunggu dia hingga, bus sudah mau siap berangkat ke kota. Tapi dia tidak muncul juga. Aku jadi was-was, padahal tadi dia sempat memberi kabar kalau dia sudah siap untuk berangkat. Kuhubungi nomor handphonenya, tapi tak jua ada jawaban dan selalu sibuk. 

“Halo, benarkah ini nomor Raisa?” suara seseorng dari seberang sana.

“Iya, saya sendiri, ngomong-ngomong Sabilnya mana? Bus sudah mau berangkat lho Mbak,” aku mencoba menjelaskan. Cukup lama penelepon itu diam dan menghela napas. 

Bagai disambar petir, ketika aku mendengar kepergian Sabil yang begitu mendadak dan tak masuk akal. Mungkinkah dia mengerjaiku? Wajahku yang semula ceria menjadi sendu. Kuputaskan membatalkan tiket ke Jogja dan segera pergi ke rumah Sabil.

Kutatap dia yang sudah terbujur kaku. Tak bisa kubendung tangis yang kucoba tahan sedari tadi. Dia yang bari datang mewarnai kini telah pulang pada Ilahi tanpa permisi.

“Ini dek Rai, ada titipan dari Sabil buat kamu,” Alia kakak Sabil yang tadi meneleponku menyerahkan kotak kecil untukku.

Kubuka kotak itu di rumah setelah selesai acara pemakamannya. Sebuah surat dan mug cantik bertulis namaku. 

Untuk Raisa

Maaf jika pertemuan ini membuatku terluka. Sungguh aku tidak bermaksud untuk memporak-porandakkan hidup yang sudah kau punya. Perasaan yang sudah aku belenggu agar tak tertarik dengan dunia merah jambu malah datang ketika melihatmu. Padahal sedari awal aku coba besikap dingin tak memerhatikanmu. Tapi entah kenapa aku malah tidak bisa mengendalikan perasaan yang aku punya.

Mungkin kau tidak ingat aku, aku Muhammad Sabil Al Fatih. Kakak kelasmu yang dulu yang selalu memerhatikanmu. Lama aku menyimpan rasa ini, karena kamu selalu bilang tak mau berpacaran sebelum gelar sarjana kau raih. Karena itu aku hanya bisa menatapmu dari jauh. Sebenarnya aku tahu semua tentangmu. Cuma aku berpura-pura seolang tak mengenalmu.

Hari itu di Bus Santika. Aku sungguh senang bisa mengobrol denganmu. Kemudian kita saling mengirim pesan layaknya sudah saling mengenal sejak dulu. Sungguh, andai aku bisa mengulur waktu aku ingin ada lebih lama untuk menemani di sisimu. Tapi, tumor otak yang menggerogotiku tak bisa diajak kompromi. Aku memang sengaja pulang, ketika aku sudah merasakan maut yang mengintai. Kau mungkin bingung bagaimana aku tahu akan ajal yang mau menjemputku. 

Aku seorang indigo yang memiliki kemampuan bisa menlihat masa depan orang-orang, termasuk masa depanku sendiri. Kerena itu kutulis ini untukmu ketika ajal semakin mendekatiku.

Aku harus pergi Raisa. Maaf dan terima kasih telah mewarnai di detik-detik kehidupanku. Meski tak banyak kenangan indah yang aku berikan padamu. Sungguh sejak dulu aku sangat mencintamu. Jaga diri baik-baik ya. Seseorang yang baik akan dikirimkan untukmu.

Aku menangis sesenggukan dengan menggenggam erat surat itu. pedih rasanya kehilangan seseorang yang begitu tulus padaku dalam sekejap mata. Aku menyesal karena telah melupakan dia yang ternyata telah lama memerhatikanku. Pantas saja kau merasa familiar dengan dia. 

Cowok di Bus Santika—Sabil aku takkan melupakanmu lagi. Sebuah kenangan terindah meski hanya dua minggu. Semerbak wangi melati menusuk hidungku, aroma parfum yang sama ketika kita saling sapa saat bertemu. Apakah kau masih melihatku di sini? Jiwamu yang masih rindu.

Ya, pada akhirnya aku harus menerima, cintaku harus tertunda karena sebelum kita berikrar untuk saling tautkan hati kau telah pergi. 

Meninggalkanku selamanya tak tahu kapan akan bertemu lagi. Mungkin dikehidupan selanjutnya? Who knows?. Pikirku dalam hati.

Aku harus kembali menata ulang hati memulai hidup kembali. 

Srobyong, Edit terakhir 20/1/15

[Cerpen Horor] Hitam Legam


Judul : Hitam Legam

Genre : Horor

Oleh : Kazuhana El Ratna Mida
Aku pernah mendengarnya dari para warga. Rumah itu penuh misteri dan ada penunggunya. Maklumlah rumah itu dibagun dekat pohon bambu yang katanya, sebagai rumah hantu. Lagi pula rumah itu memang kosong karena pemilik rumah ke luar kota. Jadi potensi untuk angker semakin sempurna. Belum lagi dua kuburan keluarga yang berpepetan di kebun belakang.
~*~

Bulukuduku merinding setiap kali melewati rumah itu. Ada ketakutan yang menyergap hingga peluh bercucuran membasahi tubuh. Seperti saat ini ketika aku harus pulang malam dan melewati rumah itu sendiri.
Dinda--teman yang biasanya bareng denganku sakit hingga tak ikut rapat IPPNU--Ikatan Putri Putri Nahdatul Ulama tadi.

Entah kenapa rapat yang biasanya dilakukan pagi hari diganti malam ini.

Parahnya yang aku dengar, sakit yang diderita Dinda itu karena kesambet hantu penunggu rumah itu. Aku jadi takut.

Segera aku mempercepat langkah. Tak maulah aku bertemu para demit yang bentuknya bermacam-macam."Ich, ngeri."

Kulirik jam yang melingkar di tangan kiri. Sudah jam sepuluh lebih sepuluh menit aku harus cepat.
Malam hari yang bertepatan dengan malam jumat adalah waktunya para setan ke luar. Beberapa fakta pernah terjadi di daerahku.


Seorang warga pernah melihat sosok hitam legam yang ikut berpatroli--ronda di malam hari.

Pug!

Aku merasakan seseorang menepuk pundakku. Seketika wajahku pias karena ketakutan. Aku tak berani menoleh dan terus mengucap doa.

"Ya Allah jauhkan aku dari pada setan." Aku merapalkan dua tangan.

"Hoi, Na! Ini aku Bella."

"Kya, Bella, kenapa tak bilang dari tadi! Aku ketakutan tahu!" Marahku.

Bella hanya nyengir kuda. Dia adalah temanku sekolah tapi tak begitu aktif organisasi.

Beruntung aku bertemu dia. Paling tidak dia bisa mejadi teman seperjalanan yang bisa mengurangi ketakutanku. Ya, walau aku tak tahu alasan dia pulang hingga malam, dan masih dengan memakai seragam sekolah.

~*~

"Tumben sendirian, biasanya berdua dengan Dinda," ucap Bella heran.

"Dia sakit, Bel. Sejak malam kemarin. Katanya dirasuki jin gitu," aku bercerita.

"Aku kok tidak tahu ya? Padahal kita satu kompleks." Kulihat Bella menggaruk kepalanya.

"Kan memang tak diumumkan Bell. Hanya kerabat dan tetangga terdekat yang tahu," aku menjelaskan.

"Pantesan tadi kamu ketakutan. Tenang, ada aku pasti tidak ketemu hantu, hehehe." Bella tertawa tak berdosa.

Setelah belokan ke kiri kami sampai di depan rumah itu. Rumah dengan model jawa klasik yang kini terlihat suram dan angker.

Kuajak Bella berjalan cepat, tapi dia msih saja santai.

"Ayo, Bel! Cepat!" Kutarik tangannya dengan segera.

Sekelebat bayang hitam tiba-tiba tertangkap dalam netra.

Glek!

Aku menelan ludah. Apa itu? Jangan-jangan penampakan genderuwo yang sering orang-orang bilang.
Para tetangga yang kebetulan dekat rumah itu sering melihat penampakan hantu penunggu rumah.

Lalu bau tak sedap seperi bau kambing menusuk hidungku. Prengus sekali.
"Na, kenapa tiba-tiba wajahmu memucat?" tanya Bella.

"Tadi ada makhluk hitam pekat yang lewat," aku menjelaskan.

"Ah, Kau salah lihat mungkin," timpal Bella santai.

Aku pun mengiyakan. Mungkin memang salah lihat karena ketakutan yang luar biasa.

Kuajak Bella untuk lebih cepat lagi karena malam semakin larut. Takutnya nanti terjadi hal-hal aneh yang menyapa.

Sambil berjalan kulirik pohon bambu yang terlihat jelas dari jalanan. Tak apa-apa tapi kenapa bulu romaku berdiri semua? Kata orang-orang jika itu terjadi maka biasanya sedang diikuti setan.

Aku semakin paranoid. Semilir angin makin membuat bergidik ngeri. Pohon bambu itu seperti berjalan mengikuti.

Ah, salahku kenapa tak kusuruh menjemput ayah atau abangku. Kupikir rapat bisa selesai lebih cepat. Sungguh aku menyesal sekarang.

Ya Allah semoga aku selamat dari hal-hal yang tak aku inginkan. Doaku dalam hati.

"Aaaaa ...!"aku berteriak dan langsung berlari dengan kencang.

Sosok hitam legam yang biasa kusebut genderuwo ada di depan mata.


Tubuhnya tinggi dengan rambut hitam panjang menjuntai.

Aku melupakan bahwa tadi berjalan beriringan dengan Bella.

"Wah bagaimana dengan Bella?" Aku bicara sendiri.

Napasku masih tersengal-sengal ketika akhirnya tiba di rumahku sendiri.

"Na, kenapa kamu pucat pasi?"

Kutatap Bella yang sudah ada di depanku.

"Bel, sejak kapan kamu berada di sini?" tanyaku bingung.

"Untunglah kamu selamat," ucapku penuh syukur. Dia hanya tersenyum.


"Mampir dulu yuk! Atau menginap saja di rumaku," aku menawari.

Maklum rumah Bella masih melewati beberapa rumah di sini. Dia menggeleng dan berlalu pergi.

"Lho, sudah pulang. Baru mau aku jemput," Bang Ihsan muncul dari balik pintu.

"Telat Bang. Aku pulang dengan penuh perjuangan," ceritaku.

"Maaf, tapi sepertinya kamu ada teman pulang tadi. Aku mendengar percakapan dua orang mesti tak begitu jelas. Sama siapa tadi?"

"Sama Bella, Bang. Untung aku ketemu dia di jalan," ucapku dengan senyum mengembang.

"Eh, bukannya Bella kecelakaan bakda magrib saat kamu rapat?"

"Lalu siapa yang bersamaku, Bang?" tanyaku dengan gemetar.

"Itu hantu wanita penjaga rumah itu, Mbak."

Adikku yang memang seorang indigo muncul dan menunjukkan sosok itu padaku.

Aku terkesiap melihat wanita berbaju merah menatapku dengan tersenyum dan melambai.
Tubuhku langsung lemas seketika.



---The End---

Srobyong, Januari 2015

[Cerpen] Dendang Salawat Nabi




Judul : Dendang Salawat Nabi

Oleh :Kazuhana El Ratna Mida/ Ratna Hana Matsura

Andai beliau masih ada pasti ceritanya berbeda. Akan ada gemerlap cahaya menyemarakkan musala. Membuat jiwa luluh menyenandungkan lagu pada sang kekasih, bergumal rindu rasa ingin bertemu.

~*~

Al-Falah menghela napas. Sejak satu tahun lalu—tepatnya sejak kakek meninggal. Musala ini menjadi sunyi—senyap. Tak ada lagi celotehan anak-anak yang melafalkan huruf hijaiyah, apalagi menyenandungkan salawat Nabi ketika bulan maulid datang.

Sungguh nuansanya sangat berbeda. Al-Falah rindu masa itu. Melihat anak-anak bermain dan bersendau gurau dengan teman-teman, lalu berlatih bersama membaca Al-Barjanji.

Kini masa itu telah tertelan waktu. Ketika pemuka agama—kakek yang selalu menggerakkan dakwah telah berpulang, hilang juga semangat para penerus yang tak punya tekad berjuang. 

Al-Falah miris ingin menangis. Apakah hanya sampai batas ini saja, tak ada lagi perombakan untuk kebaikan?

Ya Allah andai aku bisa ingin rasanya menggerakkan maju seperti dulu, meneruskan jejak perjuangan yang telah didirikan. Batin Al-Falah. Tapi siapalah aku? Aku tak memiliki daya untuk mewujudkan semua tanpa ada penggerak lainnya yang memiliki cita-cita yang sama. Batinnya lagi.

“Aku harus ditopang baru bisa berjalan,” lirih Al-Falah berucap dalam kesendirian.
Ya kesendirian ketika tinggal gelap yang tersisa di sini. Andai bisa Al-Falah ingin berteriak agar para warga mendengar kepiluan hatinya yang telah menggerogoti.

Apalah gunanya musala yang selau direhab setiap saat, namun, warganya kosong tak mau meramaikan. Hanya segelintir orang yang datang silih berganti untuk menunaikan jamaah. Itu pun bisa dihitung dengan jari. Padahal luas musala ini mampu ditempati semua warga di sini.

Al-Falah sungguh sedih dan kadang-kadang menangis dalam sepi. Dia selalu berharap ada seseorang yang memiliki kesadaran melanjutkan perjuangan.

~*~

Hingga dia datang menjadi cahaya terang—seorang yang memiliki semangat juang mulai menghidupkan musala. 

Al-Falah sungguh bangga, ingin berucap syukur—berterima kasih pada dia yang mau mengabdi untuk warga, melanjutkan perjuangan sang kakek yang dulu telah berpulang.

Doa yang diam-diam dipanjatkan kini dijabahi Sang Penguasa Alam. Hadirnya seseorang yang bernama Nur Laila. Namanya secantik akhlaknya menjadi penerang di gelapnya malam yang membunuh warga.

~*~

“Shalluu ‘Alannabi Muhammad.”

Al-Falah mendengarkan suara merdu yang terdengar dari speker. Hatinya terasa damai sejuk penuh haru.
Titik balik setelah satu tahun musala ini sepi tak ada yang mengisi. 

“Alhamdulillah, para warga telah sadar kembali menyalakan pijar dakwah,” Al-Falah berucap syukur.
Sungguh ini adalah hadiah—kado terindah ketika para warga telah mulai sadar, menyemarakkan bulan maulid yang kini datang. Menyongsong tahun baru dengan perubahan. Al-Falah berharap ini akan langgeng dan terus berjalan.

Al-Falah mendengarkan salawat Nabi kini sudah didendangkan. Dia tersenyum senang. Melihat anak-anak kecil dan warga yang ikut meramaikan musala mengobati kehampaan yang dulu menerpa jiwanya.

“Semoga ini bukan untuk awal dan akhir kalinya, tapi akan dimulai lagi untuk dirintis dengan kajian Al-Quran dan Al-Barjanji secara bergantian,” doa Al-Falah dengan senyum mengembang.

Srobyong, 30 Desember 2014.

 Spesial untuk ultah Mbak Lulu Wal Marjaan

[Cerpen] Istana Yang Kurindu

Judul : Istana Yang Kurindu

Oleh : Kazuhana El Ratna Mida

Aku tak butuh apa-apa selain bisa memasuki ruang itu. Ruang yang teramat istimewa yang membuatku jatuh cinta. Aku ingin di sana selamanya. Merajut mimpi dan kasih yang menggelora.

~*~

“Kamu masih ingin ke sana, Ra?” tanya Fifi yang tahu akan ambisiku sejak masih di sekolah dasar.

“Ya, tentu saja.” Aku mengangguk pasti.

“Hahaha, kamu lucu Ra,” ucap Fifi tiba-tiba.

“Kenapa?” tanyaku tak paham.

“Dasar! Kamu tak pernah berpikir bahwa semua itu sia-sia? Mungkin dia sudah memiliki orang lain. Dia melupakanmu, Ra,” tandas Fifi sambil menatapku.

“Tidak mungkin, dia tak seperti itu. Dia akan terus menungguku sampai aku siap,” ucapku yakin.

Aku sangat mengenalnya, sejak dulu selalu bersama. Dia tak akan berkhianat.

Dia pernah bilang padaku. “Datanglah ketika kamu siap, Ra. Ketika kamu mantap untuk selalu dekat denganku selamanya,” ucapnya dengan senyum mengembang.

Sungguh, aku sangat menyukainya, ingin selalu bersama dalam ruang yang sama.

Andai kecelakaan setahun lalu tak terjadi padaku, mungkin aku sudah berada di sisinya. Mengisi hari-hari penuh canda tawa. Ya, tapi apa boleh buat takdir berkata lain. Aku harus jatuh dan kini dalam proses penyembuhan. Tapi aku tak membuang cita untuk bisa selalu dekat dengannya.

Aku percaya janjinya itu pasti. Dia tak pernah sekali pun berbohong padaku. Apa yang dikatakannya selalu dia tepati.

~*~

Senyumku mengembang, akhirnya waktu pun datang berpihak padaku. Aku sudah dinyatakan sembuh dan bisa memulai aktivitas lagi. Meski masih ada wanti-wanti yang harus aku patuhi. 'Jangan terlalu banyak berpikir.

Kalau masalah itu aku pasti bisa. Aku kan orang yang sangat santai, kecuali untuk satu tujuan yang masih aku tanam dalam diri. Berada satu ruangan dengannya dalam istana tak berdinding, namun penuh makna.

“Tunggu aku di sana,” lirih aku berkata.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, akhirnya kumantapkan niat untuk menemuinya, setelah lama berpisah. Ya, aku sudah cukup sehat untuk memulai rencana yang pernah aku susun dengannya. Aku pasti bisa. Demi berada di sisinya aku akan berusaha.

“Semangat, Ra!” teriakku sendiri.

Dengan modal nekat aku kembali mendekatinya. Memulai semua dari awal. Ya, walau ada sedikit takut yang sejatinya menggelayuti raga. Lama tak bersua, buatku grogi juga.

Ingatan tentang obrolanku dengan Fifi beberapa minggu lalu mencuat, membuatku makin resah.

Tidak mungkin dia menolak, dan melupakanku. Dia pasti masih mau menerimaku, ucapku dalam hati mencoba menyemangati diri.

Akhirnya aku sampai di sana. Kutatap istana yang nantinya akan aku tinggali bersamanya. Ini yang aku tunggu. Aku sudah mantap akan pilihanku.

“Selamat datang,” sapa seorang wanita berjilbab yang kutahu dia adalah salah satu anggota keluarganya—namanya Mbak Indah.

“Sudah sembuh, Ra?” tanya Mbak Indah sambil menatapku.

“Alhamdulillah, Mbak,” jawabku dengan tersenyum.

“Selamat datang kembali, kamu sangat dirindukan untuk kembali,” ceritanya padaku.

Ces!

Betapa aku senang mendengar kabar ini, berati dia tetap menungguku meski aku pergi beberapa lama demi kesembuhanku.

Aku pun masuk dengan semangat. Tak sabar rasanya ingin memeluk dia yang nantinya benar-benar akan menjadi keluargaku. Yang menemani dalam desahan napasku.

“Ra, kamu kembali!” teriak beberapa keluarga lain begitu melihat kedatanganku.

Ada Mbak Meli, juga Mbak Lili. Mereka sangat baik padaku, membantuku selalu untuk dekat dengannya. Merekalah orang yang berjasa telah mengenalkan aku pada dia yang saat ini aku temui, mereka yang mendukung ketika kadang harapanku pasang turun.

Aku memasuki ruang yang menjadi tujuanku. Satu langkah lagi aku akan bertemu.

“Aku kembali, aku sangat merindukanmu.” Pelukku padanya seketika.

Dia hanya tersenyum padaku, membelai jilbab biru yang ada di kepalaku.

“Alhamdulillah, Ra. sudah lama aku menunggumu untuk kembali.” Dia menatapku.

“Peluk, dan belailah aku sepuasmu. Aku sangat rindu ketika kita sering berkencan berdua, baik pagi siang atau malam.” Dia mengerling padaku. Aku tersipu malu.

“Kita mulai lagi ya,” pintanya padaku. Benar kan? Dia tak lupa padaku dia masih menunggu.

“Hem, aku siap. Kita saling mengisi.” Aku mengangguk mantap.

Lalu kumemeluk dia lagi dan mengecupnya, karena sungguh aku sangat rindu. Inilah bukti sayangku.

“Al-Quranku, aku siap untuk menghafalkanmu.”

Ya, inilah istanaku Al-Quran yang nantinya akan membantuku menuju surga Rabb-ku. Pun dengan pondok pesantren tempat menuntut ilmu, juga niat suci untuk menghafalkan Al-Quran, mimpiku sejak dulu.

Di sini tak ada dinding perbedaan akan kasta, aku dan para santri lainnya hanya fokus untuk dekat dengannya, menghafal lalu mengamalkan isinya.
Inilah istana yang selalu kurindu, Al-Quran dan Pondok Pesantren yang selalu ada di dalam kalbu.



Srobyong, 23 Januari 2015.