Thursday, 4 October 2018

[Resensi] Meraih Kesuksesan dengan Menerapkan Ikigai

Dimuat di Koran Jakarta  Rabu, 5 September 2018


Judul               : The Book of Ikigai
Penulis             : Ken Mogi, Ph.D.
Penerjemah      : Nuraini Matsura
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, Juni 2018
Tebal               : 200 halaman
ISBN               : 978-602-385-415-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara


Salah satu cara agar kita bisa meraih kesuksesan adalah dengan menerapkan ikigai dalam kehidupan sehari-hari.  Ikigai sendiri adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Secara sederhana ikigai adalah filosofi Jepang yang memberikan motivasi, semangat, gairah dan tujuan untuk menjalani hidup. Di mana dengan ikigai, kita bisa menjalani hidup yang lebih menyenangkan, bisa terhindari dari stres bahkan kita bisa meraih kesuksesan.

Dengan penjelasan yang terperinci dan mudah dipahami, Ken Mogi  dengan bukunya,  The Book of Ikigai mencoba menunjukkan tentang peran penting ikigai dalam meraih kesuksesan, dan kisah-kisah inspiratif pelaku ikigai yang patut kita teladani. Dijelaskan pula lima pilar yang harus kita lakukan ketika ingin menerapkan ikigai agar kita sukses.  

Pertama, mengawali dengan hal yang kecil.  Misalnya kebiasaan bangun pagi. Disadari atau tidak kebiasaan bangun pagi akan membuat kita selangkah lebih depan dari pada orang-orang yang terbiasa bangun siang. Sebagaimana yang dilakukan oleh Jiro Ono, pemilik Sukibayasi Jiro, restoran sushi. Dia selalu bangun pagi agar bisa pergi ke pasar untuk mendapatkan ikan terbaik. Dia juga tidak segan untuk memijit daging gurita selama satu jam, agar hasilnya lebih lezat. Dia juga tidak segan  membersihkan sisik dan usus ikan demi menghasilkan sushi yang nikmat (hal 7).

Kebiasaan sederhana itu, merupakan salah satu kunci sukses yang mengangtarkan Jiro  Ono, sebagai  chef bintang-tiga-Michelin dan restorannya menjadi yang terbaik di dunia. Ada pula Hiroki Fujita, yang berdagang tuna di pasar ikan Tsukiji yang terkenal di Tokyo.  Dia selalu bangun pagi agar bisa memperoleh tuna terbaik. Fujita menyadari  seni memilih tuna itu sangat rumit. Jika dia bangun terlambat, bisa jadi dia tidak akan mendapatkan tuna terbaik, dan tidak memperoleh keuntungan.  Di Jepang sendiri kebiasaan bangun pagi memang sudah menjadi kebiasaan sejak masa era Edo (1603-1868) ketika Jepang diperintah oleh  Keshogunan Tokugawa. Di mana hal ini dilakukan demi meraih kesuksesan dalam bidang pertanian (hal 27).

Kedua, membebaskan diri sendiri.  Artinya kita tidak memedulikan definisi sosial, baik masalah pangkat atau profesi. Menurut Mihaly Csikzentmihalyi, seorang psikolog Amerika kelahiran Hungaria, membebaskan diri sendiri berarti kita berada pada  kondisi flow (mengalir). Di mana kita tidak memerlukan pengakuan  untuk hasil kerja atau upaya yang telah kita lakukan. Kita larut dalam aktivitas  sehingga rasanya tidak ada yang lebih penting (hal 78).

Seperti  Sei Shinagon yang nyaris tidak  pernah merujuk posisinya di masyarakat dalam keseluruhan The Pillow Book. Padahal dia merupakan penulis cerita film-tersebut.  Hal itu juga berlaku bagi Jiro Ono, yang tidak memedulikan posisinya sebagai seorang chef hebat. Baginya yang terpenting adalah selalu menghasilkan sushi terbaik, agar siapa saja yang menikmatinya bisa merasakan kenikmatan dan kelezatannya.

Ketiga, keselarasan dan kesinambungan.  Yaitu kita bisa menyesuaikan diri dalam berbagai lingkungan masyarakat dan siap untuk melanjutkan kebiasaan yang sudah ada tersebut. Mengingat di Jepang memang kaya akan adat dan budaya. Seperti kebiasan dalam minum teh juga olahraga sumo. Keselarasan dan kesinambungan merupakan etos  terpenting dan unik  dari cara berpikir masyarakat Jepang.

Sikap inilah yang dipertahankan Ono dalam menjalankan restorannya. Dia melestarikan salah satu makanan khas di Jepang dengan sushinya. Dia berusaha menghasilkan sushi terbaik agar siapa saja yang menikmatinya merasa senang dan puas. Dia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, hingga masih bertahan hingga sekarang. Karena hal itu pula-lah Jiro Ono berhasil meraih kesuksesan.

Selain tiga pilar tersebut masih ada dua pilar lagi yaitu kegembiraaan dari hal-hal kecil dan hadir di tempat dan waktu sekarang. Semuanya saling melengkapi dan jika kita menerapkannya maka kita pun bisa meraih kesuksesan. Dan kita tidak perlu khawatir ikigai ini bukan hanya bisa dimiliki oleh orang Jepang. Karena setiap manusia juga bisa memiliki ikigai sendiri.  Secara keseluruhan buku ini mengajarkan kita untuk  menerima diri sendiri dalam melakukan sebuah pekerjaan.

“Rahasia terbesar ikigai adalah menerima diri sendiri, apa pun ciri-ciri unik yang mungkin kita miliki semenjak lahir.” (hal 183).

Srobyong, 24 Agustus 2018

[Resensi] Ziarah Sebagai Jalan Perenungan Diri

Dimuat di Tribun Jateng, Minggu 2 September 2018


Judul               : Ziarah
Penulis             : Iwan Simatupang
Penerbit           : Noura Books
Cetakan           : Pertama, September 2017
Tebal               : 224 halaman
ISBN               : 978-602-385-334-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Ini merupakan naskah asli ketika mengirim, sebelum dipotong oleh redaksi dan dimuat :) 

Novel ini merupakan peraih Roman ASEAN Terbaik 1977. Dengan tema yang sederhana dia mampu menghasilkan sebuah kisah yang tidak biasa. Ziarah yang kita ketahui memiliki hubungan erat dengan kebiasaan kita untuk mengunjungi makam—baik makam keluarga, tokoh agama. Di mana tujuan kunjungan itu adalah untuk  mendoakan dan memohon berkah pada tokoh-tokoh agama. selain itu ziarah juga salah satu hal yang mengingatkan kita bahwa pada akhirnya nanti kita juga akan mati. Untuk itulah kita memerlukan perisapan dan bekal yang cukup untuk menghadap Tuhan.

Namun dalam novel ini ziarah memiliki makna yang lebih mendalam dan tidak biasa.  Belum lagi dalam novel ini penulis tidak memberikan nama-nama tokoh, secara gamblang.  Sehingga kita harus siap untuk berpikir lebih dalam untuk memahami apa yang ingin disampaikan penulis lewat kisah ini.

Sejak kematian istrinya, mantan pelukis itu menjadi sosok yang berbeda.  Di pagi hari dia akan ceria layaknya manusia normal. Dia  bekerja dengan rajin, mengecat dan mengapur rumah, atau bekerja serabutan lainnya. Yang terpenting dia tidak diminta untuk menggali kuburan. Itu adalah jenis pekerjaan yang sangat dia hindari.  Sedang di malam hari, dia akan menghabiskan uangnya untuk membeli tuak. Dia akan meminumnya hingga mabuk, lalu berteriak memanggil nama istrinya, dan Tuhan sambil menangis. Namun tidak lama kemudian dia akan  tertawa keras (hal 14).

Padahal sebelum istrinya meninggal, dia adalah seorang pelukis yang sangat berbakat dan mempunyai masa depan cerah.  Tersebab kematian istrinya, dia meninggalkan pekerjaan itu dan mengubur semua lukisannya. Dia menyatakan bahwa dirinya tidak berbakat pada bidang lukisan.

Namun suatu hari, seorang opseter datang dan mengajak si mantan pelukis untuk bekerja padanya. Dia meminta si mantan pelukis untuk mengapur seluruh tembok luar perkuburan kotapraja, yang tanpa dinyana langsung disetujui si mantan pelukis. Dan inilah awal mula perubahan sikap si mantan pelukis setelah ditinggal mati istrinya. Dia tidak lagi berteriak sambil menangis atau tertawa. Tapi dia mulai bersikap sopan, yang membuat semua orang bingung.  Tidak hanya itu si mantan pelukis ini juga berhasil membuat wali kota kebingungan dan  banyak berbagai kejadian ajaib yang terjadi karena si mantan pelukis, yang membuat warga geger.

Membaca novel ini saya seperti masuk pada labirin panjang, dan tidak tahu kapan bisa keluar.  Ketika saya membaca ulasan dari para penikmat buku, mereka dominan mengatakan bahwa buku ini bagus dan menarik untuk dibaca. Hal itu pula yang melatar belakangi saya untuk membeli buku ini. Di sisi lain saya juga penasaran dengan judul novel “Ziarah” yang sangat menggelitik tersebut. Akan tetapi saya cukup kaget, ketika apa yang saya bayangkan tidak sesuai dengan isi dari novel ini.   Mungkin hal ini dikembalikan kepada masalah selera masing-masing pembaca. Saya sendiri, merasa buku ini agak berat dan perlu pendalaman yang lebih untuk memahami keseluruhan kisah.

Namun lepas  dari masa itu, saya cukup terhibur dengan kisah ini. Ada bagian yang lucu, ada juga bagian yang bikin tegang. Saya menikmati sindiran halus tentang masalah tata negara dan bagaimana ambisi seseorang untuk meraih kedudukan juga bisa kita temukan di dalam novel ini.  Melalui kisah ini penulis juga mengkritisi cara berpikir kebanyakan manusia yang hanya melihat sesuatu dari satu sisi saja. Misalnya saja tentang calon sarjana filsafat  dan merupakan anak orang yang ingin jadi opseter penjaga kuburan atau pilihan si mantan pelukis yang ingin bunuh diri dan banyak kejadian lain dalam novel ini.

Tidak ketinggalan melalui novel ini kita diajak untuk siap menerima segala takdir Tuhan dan ikhlas menerika kematian yang bisa datang sewaktu-waktu.  Karena kematian mutlak akan terjadi pada manusia.  Dan ziarah adalah jalan perenungan. Ke mana pun langkah kita teriring, kita telah melakukan ziarah.

Srobyong, 26 Agustus 2018

Wednesday, 3 October 2018

[Resensi] Orangtua Tidak Boleh Pilih Kasih

Dimuat di Kabar Madura, Senin 17 September 2018


Judul               : Still into You
Penulis             : Yenny Marissa
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Agustus 2017
Tebal               : x + 330 halaman
ISBN               : 978-602-430-156-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara



Pola asuh orangtua terhadap anak memiliki dampak yang besar dalam tumbuh kembang anak. Ketika anak diasuh dengan sikap demokratis, maka hal itu bisa membangun anak menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Jika anak diasuh dengan sikap otoriter, maka anak akan tumbuh menjadi seorang disiplin, namun memiliki kecenderungan suka memberontah. Dan ketika diasuh dengan cara permisif—atau memberi kebebasan anak secara berlebihan—hal ini akan mendidik anak menjadi sosok yang tidak bisa dikendalikan.

Selain itu perlu kita ingat juga dalam mengasuh anak, orangtua sebisa mungkin tidak boleh bersikap pilih kasih. Orangtua harus bersikap adil kepada anak. Jangan karena anak memiliki kekurangan, orangtua lebih memanjakan anak lain yang berprestasi. Karena hal ini bisa menimbulkan sikap iri dan rendah diri kepada anak.

Novel karya Yenny Marissa ini selain mengusung tema umum—cinta—novel ini juga memadukannya dengan masalah pelik keluarga, khususnya tentang cara asuh orangtua pada anak.  Sebuah kisah yang cukup menarik dan membuat kita berpikir ulang tentang pentingnya pola asuh yang benar. Orangtua tidak boleh egois dan hanya mementingkan pemikiran sendiri, tanpa memikirkan perasaan anak.

Novel ini berkisah tentang kisah cinta remaja yang penuh intrik serta tantangan. Bagi Arkan, masa lalu sudah semestinya dihapus atau lebih kejamnya dibuang. Tidak perlu diingat-ingat apalagi sampai mengulang kisah yang sama (hal 1). Akan tetapi pemikirannya itu berubah ketika dia harus bertemu lagi dengan Revi, mantan pacarnya semasa SMP. Pertemuan kembalinya dengan sang mantan, memicu semangat Arkan untuk berusaha merebut kembali hati, cewek yang sudah pernah dia sakiti sebelumnya.

Namun pertanyaanya, berhasilkan Arkan dengan misinya, ketika Revi yang sekarang sangat berbeda dengan sosok yang dikenalnya di masa lalu? Belum lagi sikap Revi yang jutek, cuek dan galak pada Arkan.   Di sini kesabaran Arkan benar-benar diuji. Apakah dia akan tahan dengan sikap Revi  atau memilih menyerah dan melepaskan masa lalunya.

Di sisi lain, Revi yang saat itu tengah dikejar-kejar Arkan, malah sering jalan bareng dengan Nathan, sahabat Arkan, karena mereka kebetulan berada pada satu klub yang sama. Siapa sih yang bisa menjamin ketika cowok dan cewek sering jalan berdua? Inilah hal yang paling Arkan takutnya.  Keduanya adalah sosok yang sangat penting bagi dirinya.

Sedang bagi Revi sendiri, saat itu dia tidak ingin diganggu dengan urusan cinta. Satu luka yang saat ini tengah dia hadapi lebih dari cukup. Dia tidak mau menambah lagi, jika nantinya dia kembali disakiti. Revi seolah merasa trauma, akibat sikap orang-orang yang paling dekat dengan dirinya. Dia tidak pernah menyangka, pilihannya untuk tinggal bersama orangtuanya, ternyata malah menyakitinya.

Sejak dulu Revi hanya ingin keberadaanya diakui oleh orangtuanya. Dia ingin mendapat perhatian yang sama sebagaimana Shevi, kakaknya. Sayangnya harapan itu tidak pernah dia dapat bahkan ketika mereka tinggal bersama. Shevi tetap satu-satunya orang yang diperhatikan orangtuanya. Yang lebih menyakitkan adalah, ketika tanpa sengaja dia mengetahui alasan  orangtuanya, kenapa tiba-tiba dia diminta tinggal bersama mereka, setelah bertahun-tahun dititipkan di rumah neneknya. (hal 117-118).  Kadang Revi  berpikir apakah dia harus sakit dulu baru orangtunya peduli padanya.

Cukup seru dan bikin penasaran  dengan akhir kisahnya. Hanya saja, pada beberapa bagian novel ini terasa cukup lambat. Selain itu ada beberapa kata-kata yang menurut saya terlalu kasar diucapkan remaja. Namun lepas dari kekurangannya, novel ini cukup bersih dari salah ketik. Penulis lihai dalam bermain kata. Secara keseluruhan, bagi penikmat kisah romance, novel ini bisa dijadikan salah satu pilihan.

dari kisah ini, selain kita bisa belajar tentang masalah pola asuh yang sudah saya paparkan di atas, di sini kita juga belajar pentingnya merasakan kebahagiaan dengan mensyukir apa yang kita miliki. “Sederhana saja, jika ingin bahagia, buatlah kebahagiaan itu. Jangan pernah menunggu keadaan karena keadaan itu sesuatu yang tidak pasti. Sesuatu itu abu-abau. Intinya, bahagia itu pilihan.” (hal 78).

Srobyong, 11 Agustus 2018

[Resensi] Kisah Inspiratif Perjalanan di Tanah Suci

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Minggu 2 September 2018


Judul               : Patah Hati di Tanah Suci
Penulis             : Tasaro GK
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Juli 2018
Tebal               : viii + 332 halaman
ISBN               : 978-602-291-411-2
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Salah satu impian  besar dari banyak umat Islam  adalah beribadah di tanah suci. Karena di sanalah kita bisa menggenapkan rukun Islam. Kita juga bisa merasakan jejak perjuangan Nabi Muhammad ketika menyebarkan Islam.   Berkesempatan beribadah di sana, merupakan anugerah yang luar biasa. Karena Makkah dan Madinah,  merupakan rumah Allah. Tempat suci yang menyimpan banyak berkah.

Akan tetapi saat ini untuk bisa berhaji kita perlu menunggu puluhan  tahun. Hal ini terjadi karenanya melonjaknya peminat haji, sedang daya tampung di Makkah dan Madinah tidak memadahi. Dan hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, di berbagai negara atau benua lain juga mengalami keadaan yang sama. Untuk mengakali lamanya penantian masa haji, maka sebagian umat Islam memilih melakukan umrah. Karena prosesnya tidak terlalu lama dan kita tetap bisa berbidah ke tanah suci. 

Buku karya Tasaro GK ini merupakan kisah perjalan yang dia alami ketika menjejakkan di tanah suci untuk menjalankan ibadah umrah. Kisah-kisah inspiratif yang tersemat baik ketika mengunjungi Madinah juga Makkah. Berbagai pengalaman menarik yang dia alami dipaparkan dengan apik dan menarik.  Di sisi lain buku ini juga merupakan curhat penulis dalam mengenang kisah ayahnya dan luapan rindu kepada Baginda Nabi Muhammad saw.  Melalui buku ini kita bisa menikmati kisah inspiratif penulis dalam banyak aspek.

Penulis berkata, “Bagiku, seburuk apa pun keadaan di Tanah Suci. Jika itu membuat seseorang menemukan  momentum spiritualnya, masih jauh lebih bagus dibandingkan sebaliknya.” (hal 51). 

Ada kisah yang menurut saya sangat menarik, tentang suara-suara anak kecil yang membuat penulis akhirnya terbangun dan menjalankan shalat malam di Masjid Nabawi. Ada pula, kejadian tidak terduga, di mana penulis mendapat kucuran dana dari para sahabatnya, setelah dia sempat menyedekahkan uangnya demi menolong orang lain, sebelum berangkat bahkan ketika sudah di Makkah-Madinah. Tidak kalah menarik, ada juga peringatan tegas yang didapat penulis, ketika hatinya merasa kurang kyusuk saat beribadah.

Kisah-kisah ini menjadi penanda, bahwa Allah selalu memerhatikan umat-Nya. Allah membalas langsung apa yang kita niatkan dan apa yang sudah kita perbuat.  Selain beberapa kisah tersebut, tentu saja masih banyak cerita lain yang tidak kalah menarik dan menggugah.  Di sisi lain kita juga dibuat terharu akan curhatan penulis dalam mengungkap rindu juga mengungkap maaf bagi sang ayah.

Penasaran bagaimana curhatan Tasaro terhadap ayahnya? Buku ini akan menjawab semuanya. Meski sedikit banyak saya kurang suka dengan gaya bahasa bercerita penulis,  yang kurang lugas, saya terhibur dengan pesan-pesan moral yang dipaparkan penulis. Indah dan penuh hikmah.

Srobyong, 10 Agustus 2018

[Resensi] Kisah Oedipus dan Kehidupan Seorang Penggali Sumur

Dimuat di Kabar Madura, Kamis 30 Agustus 2018

Judul               : The Red-Haired Woman
Penulis             : Orhan Pamuk
Penerjemah      : Rahmani Astuti
Penerbit           : Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Febaruari 2018
Tebal               :  viii + 344 halaman
ISBN               : 978-602-291-449-5
Persensi           : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Memadukan kisah antara mitologi Oedipus Rex dan Hikayat Rostam dan Sohram, Pamuk menggambarkan kisah hubungan antara seorang ayah dan  anak, serta berbagai permasalahan pelik tentang negara dan kebebasan individu.  Dengan bahasa yang sederhana, kita akan digiring dengan kisah yang mendebarkan. Membuat kita tidak bisa berhenti sampai halaman buku ini habis.

Cem pada mulanya memiliki cita-cita menjadi penulis.  Namun karena satu  lain hal, Cem kemudian malah belajar  teknik geologi dan menjadi kontraktor bangunan. Semua dimulai ketika ayahnya tiba-tiba menghilang, dan ibunya berkata mereka sudah tidak bisa mengandalkan uang ayahnya. Mereka pun  pindah dari Istanbul ke Gebze.  Di sana Cem bekerja, membantu pamannya menjaga kebuh buah ceri dan persik (hal 9).

Kepindahannya itu-lah yang membuka pertemuan antara Cem dan Tuan Mahmut, seorang pengggali sumur. Cem ditawari Tuan Mahmut untuk menjadi asistennya, dengan tawaran gaji empat kali lebih banyak  daripada menjadi pengawas kebun buah. Dan pekerjaan itu hanya memerlukan waktu sepuluh hari. Mendengar tawaran itu, tentu saja Cem langsung tertarik. Meski awalnya sang ibu menolak gagasan Cem, pada akhirnya dia diizinkan pergi dengan Tuan Mahmut.

Di tempat penggalian sumur itu-lah, sebuah kisah tidak terduga terjadi dan kemudian merubah kehidupan Cem. Banyak menghabiskan waktu dengan Tuah Mahmut, membuat dia merasakan emosi yang lebih dekat dengan pria itu—laiknya seorang ayah dan anak.  Apalagi Cem memang merasa kurang dapat perhatian dari ayahnya di kala dulu. Tuan Mahmut memiliki cara tersendiri dalam mengingatkan Cem. Di antaranya dengan kisah-kisah yang diambil dari Al-Quran. Cem cukup menikmati semua kedekatan itu. Hingga suatu hari Cem melihat seorang wanita berambut merah—wanita yang ternyata memiliki sejarah panjang dengan kehidupan Cem.

Sejak melihat Cem yang memiliki ketertarikan pada primadona teater keliling,  sebenarnya Tuan Mahmut sudah memberikan nasihat.  “Perusak akhlak itu sudah ada di sana sejak kita datang di sini. Yang mereka lakukan hanya menari dengan menggoda dan mengucapkan lelucon-lelucon kotor untuk para prajurit. Itu tidak ada bedanya dengan rumah bordil. Jangan dekari tempat itu!” (hal 57).

Namun bukannya menurut, Cem malah semakin penasaran. Diam-diam dia kerap mengikuti perempuan berambut merah. Apalagi perempuan yang meskipun sudah memiliki suami itu nampak membuka jalan bagi Cem untuk mendekat. Lalu sebuah masalah lain muncul. Penggalian sumur yang dia lakukan dengan Tuah Mahmut ternyata belum membuahkan hasil. Dan pemilik tanah sudah semakin mendesak. Jika air tidak segera muncul mereka harus segera pergi dan bonus yang dijanjikan tidak akan diberikan. Kecuali air itu muncul.

Lalu kejadian tidak terduga muncul, membuatCem memilih pergi dengan ketakutan, karena mengira telah melakukan pembunuhan terhadap Tuan Mahmut. Dan sejak itu pula, Cem tertarik untuk  belajar teknik geologi dan mendalami kisah tentang Oedipus serta Kisah Rostam dan Sohrab—di mana berkisah tentang hubungan seorang ayah dan anak dengan nasib tragis. Cem benar-benar takut dia telah melakukan sesuatu yang kejam.

Cem hidup dalam ketakutan, mungkin suatu hari perbuatannya akan terungkap dan dia akan ditangkap karena telah membunuh Tuan Mahmut. Mungkin nasibnya akan sama seperti kisah-kisah yang pernah dia dengar—tentang Oedipus dan Kisah Rostam dan Sohrab—meski dalam versi berbeda.  Dan ketakutannya semakin memuncak, ketika tiba-tiba muncul seseorang yang mengaku sebagai anaknya.

Orhan Pamuk novelis Turki terkemuka dalam sastra pascamodern, sukses membuat kisah ini benar-benar hidup. Kisah ini dikemas dengan apik dan menarik. Kita akan dibuat menebak-nebak, apa hubungan antara Oedipus, Kisah Rostam dan Sohrab dengan kehidupan Cem.  Selain itu kita harus menebak-nebak bagaimana nasib Cem, juga bagaimana nasib Tuan Mahmut yang sebenarnya.

Tidak hanya menggabungkan kisah klasik masa lalu,  kita juga diantarkan pada polemik politik yang cukup pelik di Turki di masa itu—tentang hak setiap individu dalam berpendapat dan menentukan pilihan, juga tentang kelompok sayap kiri. Membaca kisah ini saya belajar bahwa masalah itu bukan untuk dihindari tapi dihadapi.

Srobyong, 30 Maret 2018