Monday, 14 May 2018

[Resensi] Cerita dan Aktivitas Penuntun Akhlak Islami

Dimuat di Harian Analisa Medan, Jumat 27 April 2018



Judul               : 365 Cerita dan Aktivitas  Penuntun Akhlak Islami
Penulis             : Dian K & Tethy Ezokanzo
Ilustrasi           : Doni Rakhman
Penerbit           : Qibla
Cetakan           : Pertama, 29 Januari 2018
Tebal               : 978-602-455-293-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Pendidikan akhlak sudah semestinya dikenalkan kepada anak sejak dini. Karena akhlak adalah pondasi utama bagi sikap yang dimiliki seseorang. Dengan memiliki akhlak yang baik, maka hal itu akan menjadi bekal anak dalam bergaul dan menempatkan diri di lingkungan. Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk mengenalkan dan memberi teladan akhlakul kharimah pada anak.  

Memang proses dalam pengenalan akhlak itu tidak akan mudah, oleh karena itu perlu ada pembelajaran secara bertahap dan  terus- menerus, agar anak terbiasa. Selain itu penting diketahui orangtua, dalam mengenalkan anak kita perlu melakukannya dengan cara yang menyenangkan, ramah dan mudah dipahami, ehingga anak tidak  cepat bosan atau malah tertekan.

Buku “365 Cerita dan Aktivitas  Penuntun Akhlak Islami” saya pikir akan sangat cocok dibaca bagi anak dengan orangtua sebagai pendamping. Karena di dalam buku ini terdapat berbagai kegiatan yang  bisa dijadikan teladan selama satu tahun penuh. Buku ini dilengkapi dengan kisah seru,  ilustrasi menarik,  pantun, hadis dan doa yang bisa dihafal anak.  dipaparkan dengan bahasa sederhana, dan tidak terkesan menggurui membuat buku ini sangat layak dibaca.

Misalnya saja pada bulan Januari anak diajak mengenal akhlak baik.  Misalnya dalam suatu kisah,  
ada Ade yang kesulitan dalam pelajaran matematika. Suatu hari dia bersempatan menyontek, karena melihat  soal ujian matematika yang sedang di foto kopi. Ade bahkan sempat mengambil kertas ujian tersebut. Namun Ade sadar, menyontek adalah perbuatan tercela. Lebih baik dia jujur dan belajar lebih giat daripada melakukan kecurangan (hal 3).

Atau dalam kisah lain yang dialami Zahra.  Tanpa sengaja Ali merusak  kolase buat Zahra. Padahal Zahra sudah berusaha membuat kolases itu seharian.  Karena takut dapat amarah dan amukan dari Zahra, Ali memilih sembunyi di kamar. Tapi ketika tanpa sengaja dia mendengarkan percakapan Zahra dan ibunya, ketika melihat kolasenya rusak, Ali akhirnya merasa bersalah dan meminta maaf (hal 15).

Kemudian di bulan Februari, anak diajak belajar tentang keimanan.  Dalam sebuah kisah berjudul “Percaya pada Allah” di sini akan dikenalkan dengan sikap berserah dan tawakal kepada Allah. Tapi tentu saja setelah melakukan usaha. Diceritakan Papa Haifa di-PHK karena perusahaan tempatnya bekerja bangkrut.  Akan tetapi ketika mencoba mencari pekerjaan baru, Papa Haifa tidak kunjung dapat pekerjaan baru. Akhirnya Papa Haifa memilih berjualan roti bakar. Sayangnya bukannya untung, jualan itu lebih sering rugi. Haifa pun jadi sedih. Akan tetapi Papa Haifa tidak menyerah, akhirnya lambat laun usaha itu mulai berkemnang (hal 35).

Dan di bulan Maret, anak diajak belajar saling menyayangi. Seperti yang dilakukan Dino ketika memiliki adik baru. Awalnya tentu saja Dino sebal dan takut. Dia khawatir kalau ada adik baru, maka perhartian ibu dan ayahnya akan berkurang. Tapi anggapan itu ternyata salah. Dino pun tidak lagi benci pada adiknya. Di malah merasa sayang, karena adiknya sangat lucu.

Selain beberapa kisah tersebut tentu saja masih banyak kisah lain yang tidak kalah seru dan menarik.  Misalnya di bulan April anak akan dikenalkan dengan masalah ibadah, selanjutnya di bulan  Mei, berbakti kepada orangtua, bulan Juni, sedekah, bulan Juli Dakwah dan Jihad, dan banyak lagi.

Keunikan lainnya,  dalam buku ini juga dilengkapi kisah sejarah nabi dan sahabat yang patut dijadikan renungan.  Anak jadi mengenal sejarah  kepemimpina  Abu Ubdaiha—pemimpin yang rendah hati, Salman Al-Farisi gubernuh yang sangat sederhana, masuknya Bilal pada agama Islam dan banyak lagi.

Dalam buku ini kita juga diajari bersikap amanah, selalu bersyukur, menyayangi binatang, memiliki sikap empati, rajin beribadah, hormat peada orangtua dan sikap-sikap terpuji lainnya. Dilengkapi dengan aktivitas seru yang menididik anak, rasanya sangat rugi jika tidak memiliki dan membaca buku ini.

Srobyong, 22 April 2018

[Resensi] Penculikan Para Aktivis Pada Tragedi 1998

Dimuat di Harian Bhirawa, Jumat 27 April 2018 



Judul                : Laut Bercerita
Penulis              : Leila S. Chudori
Penerbit            : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : Pertama, Oktober 2017
Tebal                : x + 379 halaman
ISBN               : 978-602-424-694-5
Peresensi          : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Tragedi penculikan yang terjadi pada para aktivis di 1998, sampai saat ini masih menyimpan banyak kedukaan dan misteri. Khususnya bagi para keluarga korban penculikan. Karena sebagaimana fakta yang ada, dalam penculikan itu ada 1 korban meninggal, 9 korban dikembalikan dan 13 korban lainnya yang tidak diketahui nasibnya sampai sekarang. 

Mengambil latar kisah tersebut, Leila S. Chudori mampu membuat kita seperti melihat visualisasi kejadian yang benar-benar terjadi di masa itu. Kekejaman dan kebiadaban yang dilakukan oleh dalang penculikan itu, sungguh membuat kita miris.  Selain itu melalui buku ini kita juga dihadapkan tentang bagaimana keadaan keluarga korban, yang harus merasakan kepedihan yang tidak kalah menggetirkan. Tidak ada kepastian keadaan korban, tidak ada makam dan pencarian yang sia-sia.

Novel ini sendiri berkisah tentang Biru Laut yang berbagung dan aktif dalam organisasi Winarta dan Wirasena. Bersama teman-teman seperjuangannya; Sunu, Daniel, Alex, Dana, Widi, Naratama, Gusti, Kinan, Bram, Gala, Julius, Narendra, Coki dan banyak lagi, dia  mengecam kepemimpinan di orde baru karena sangat diktator.  Di mana berbagai kekejaman terjadi membuat rakyat makin sengsara. Pemerintah melarang beredarnya buku-buku, majalah dan surat kabar yang berani mengkritisi pemerintahan atau berhaluan  kiri untuk diterbitkan.  Untuk itulah mereka berjuang untuk mendapatkan kembali,  hak berserikat, berkumpul dan berpendapat dibatasi bahkan dirampas secara paksa. 

Dimulai dari kegiatan berkumpul dan diskusi, mereka kemudian melakukan aksi pemberontakan di Blanguan. Akan tetapi ternyata kegiatan mereka terciduk olen intel, hingga mereka kemudian diburu dan disiksa.  Di tahun 1996 sendiri, organisasi Winarta dan Wirasena dianggap sebagai organisasi terlarang. Namun begitu, mereka tidak gentar dan terus melanjutkan perjuangan.

“Kita tak ingin selama-lamanya berada di bawah pemerintahan satu orang selama puluhan tahun. Hanya di negara diktatorial satu orang bisa memerintah begitu lama ...seluruh Indonesia dianggap milik keluarga dan kroninya. Mungkin kita hanya nyamuk-nyamuk pengganggu bagi mereka. Kerikil dalam sepatu mereka. Tapi aku tahu satu hal : kita harus mengguncang mereka. Kita harus mengguncang masyarakat yang pasif, malas dan putus asa agar mereka ikut memperbaiki negeri yang sungguh korup dan berantakan ini, yang sangat tidak menghargai kemanusiaan ini.” (hal 182).

Namun pergerakan mereka mulai pudar, ketika satu persatu anggota Winarta dan Wirasena pada bulan Maret diculik dan dikurung di bawah tanah. Setiap hari mereka diinterogasi agar mau membuka mulut tentang siapa dalang di balik gerakan mereka. Jika tidak mau menjawab atau memberi jawaban salah, mereka harus merasakan berbagai siksaan. Dari diinjak, dipukul, ditendang, disundut, diikat terbalik,  distreum, digantung hingga diletakkan di atas balok es dan direndam dalam bak (hal 254).

Meski begitu kekejaman mereka tidak membuat para aktivis takut.“Jangan sampai kita tenggelam pada kekelaman. Kelam adalah lambang kepahitan, keputus-asaan, dan rasa sia-sia. Jangan pernah membiarkan kekelaman menguasai kita, apalagi menguasai Indonesia.” (hal 225).

Selain membahas penculikan para aktivis, penulis juga memaparkan tentang bagaimana kondisi keluarga korban aktivis yang diculik. Mereka harus merasakan kesedihan yang berkepanjangan tanpa kepastian tentang keadaan anak atau suadaranya dan pencarian yang tidak pernah berujung.

Bersama Aswin, Asmara Jati—adik Laut, membangun Komisi Orang Hilang (hal 245). Mereka  mencoba mengingatkan pemerintah untuk sadar dan bertanggungjawab dengan kejadian itu. Salah satunya  melakukan aksi kamisan di depan Istana Negara. Novel ini adalah potret kekejaman yang pernah terjadi di Indonesia. Tentang perjuangan para aktivis yang ingin membebaskan Indonesia dari kekejaman pemerintah diktator untuk menjadi negera demokrasi. Juga usaha untuk memperjuangakan hak asasi manusia—baik untuk berpendapat, berkumpul dan berserikat.

Sebuah buku yang sangat menarik dan patut diapresiasi. Meski ada beberapa bagian yang kurang konsisten dalam penggunaan kata sapaan (hal 220),  serta penulisan aku dan saya (hal  274), novel yang memakai alur maju mundur ini sangat menarik untuk diikuti.  Buku ini menyadarkan kita tentang pentingnya perjuangan dan tidak mudah putus asa, serta sabar dan tabah dalam menghadapi berbagai cobaan.

Srobyong, 2 April 2018 

Wednesday, 9 May 2018

[Resensi] Kenali Penyebab Penyakit Kanker

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 22 April 2018



Judul               : Mana yang Menyebabkan Kanker?
Penulis             : DR. Toshio Akitsu
Penerjemah      : Shela Rewata
Penerbit           : Qanita
Cetakan           : Pertama, November 2017
Tebal               : 160 halaman
ISBN               : 978-602-402-107-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Di belahan dunia mana pun, baik di Jepang, Indonesia atau negara lainnya, kanker merupakan salah satu penyakit yang menjadi momok bagi setiap orang. Karena tingkat kematian paling tinggi di dunia disebabkan oleh kanker. Lebih dari 8,2 juta orang meninggal karena kanker dan lebih dari 14 juta jiwa terjangkit kanker dan bahkan bisa bertambah setiap waktu. Di Indonesia sendiri, Badan Kesehatan Dunia memprediksi bahwa di tahun 2030 orang yang mengidap penyakit kanker akan meningkat.   

Buku ini dengan pemaparan yang lugas, aktual dan mudah dipahami mencoba mengenalkan kepada kita, tentang penyebab  kanker—baik yang terjadi karena masalah gen, ataupun karena kebiasaan yang dilakukan masyarakat. Tidak ketinggalan melalui buku ini, penulis mengajak kita untuk mengetahui cara pencegahan dan pengobatannya.

Dimulai dari kebiasaan pola makan yang sering dilakukan masyarakat, yaitu memakan daging berlebihan.  Pada saat mencerna daging, usus bekerja lebih keras, dan hasilnya muncul-lah kemungkinan kanker usus besar. Kita harus tahu bahwa jika kita makan daging terus-menerus, bakteri jahat dalam usus meningkat. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya bakteri jahat bernama klostridium. Bakteri jahat inilah yang menjadi penyebab timbulnya kanker (hal 44). Oleh karena itu untuk menghindari kanker, kita harus mulai mengurangi makan daging secara berlebihan. Atau pilihan lainnya, kita bisa menambah mengkonsumsi yoghurt, agar risiko kanker menurun.

Sebagaimana kita ketahui karsinogen adalah zat kimia penyebab kanker. Di dalam kacang tanah terdapat fungsi aflatoksin yang mengandung zat karsinogen yang kuat. Oleh karena itu penting bagi kita untuk sebisa mungkin tidak mengkonsumi makanan tersebut secara terus-menerus dan kita perlu memperhatikan keseimbangan gizi makanan untuk mengindari kanker.

Tidak kalah penting yang perlu kita perhatikan adalah kebiasaan makan kita yang sering mengkonsumi makanan gorengan atau dibakar. Perlu kita ketahui makanan yang mengandung karbohidrat jika dibakar atau digoreng dengan suhu tinggi lebih dari 120 derajat Celsius akan menghasilkan zat karsinogen. Oleh karena itu kita dihimbau untuk hati-hati dalam mengolah makanan. 

Berkaitan dengan kanker, kita juga harus mengontrol pemakaian garam secara berlebihan.  Mengkonsumi garam berlebihan bisa membuat kita terkena kanker lambung juga semua jenis kanker. Menurut penelitian Pusat Kanker Nasional,  kelompok dengan asupan garam tinggi jelas terlihat memiliki risiko kanker lambung yang lebih tinggi dua kali lipat, daripada kelompok dengan asupan garam rendah. (hal 52).  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah menyebutkan  bahwa anjuran konsumi garam adalah 5 gram per hari.

Kebiasaan lain yang sering dilakukan masyarakat adalah merokok. Inilah salah satu kebiasaan yang memiliki potensi tinggi, sehingga kita bisa terkena kanker—baik bagi perokok aktif atau perokoh pasif, juga keturunannya. Salah satunya bisa didapat dari asap. Asap rokok akan melukai membran mukosa pada selaput lendir, hidung, bibir, lidah, rongga mulut, tekak, pangkal tenggorokan dan lain-lain. Kemudian melalui air liur, di mana air liur yang keluar pada saat merokok, sama dengan air yang masuk pada putung rokok, yaitu banyak mengandung tar. Sedang jika air liur ditelan, tidak diragukan lagi akan meningkatkan kemungkinan terjangkit kanker lambung dan usus besar (hal 71).

Kemudian, kebiasaan menggunakan tabir surya yang konon berguna untuk melindungi wajah. Perlu kita ketahui, krim tabir surya mengandung komponen yang dapat memicu kanker kulit itu sendiri. Karena krim tabir surya ini mengandung titanium oksida—yaitu komponen yang menghasilkan oksigen aktif akibat reaksi sinar ultraviolet. Hal ini senada dengan paparan dari WHO, tentang dampak titanium oksida. Tidak kalah penting, komponen yang terdapat pada kosmetik dan krim tabir surya yang menjadi nano partikel seng pun akan melukai DNA, sehingga ada kekhawatiran menjadi penyebab kanker (hal  76).

Namun jika kita memang sudah terjangkit kanker, maka kita bisa melakukan tiga standar pengobatan; yaitu operasi bedah, terapi radiasi dan terapi kanker (kemoterapi).  Atau kita bisa juga melakukan pengobatan alternatif atau standar medis, sebagai penunjang.  Buku ini sangat patut kita baca sebagai langkah awal pencegahan kanker. Dengan begitu kita bisa lebih berhati-hati dan memulai hidup dengan sehat. Karena sehat itu mahal.

Srobyong, 26 Maret 2018 

Tuesday, 1 May 2018

[Traveling] Berburu Wisata Akar Seribu

[Dokumen pribadi]


            Ketika mendengar tentang wisata “Akar Seribu” saya langsung penasaran dengan bagaimana lokasi wisata tersebut. Seberapa menarikkah tempat itu? Kenapa sampai disebut akar seribu? Bagaimana sejarahnya? Sayangnya berkali-kali punya keinginan ke sana, tapi dalam realita, saya selalu gagal datang, entah dengan alasan apa. Hingga akhirnya  saya bisa menjejak kaki di sana.

            Tentu saja dengan awal nekat. Karena jujur karena belum pernah datang, saya sama sekali tidak tahu rute jalannya secara nyata ke sana. Saya hanya mengandalkan google map yang beberapa kali  saya baca dan kemudian mengandalkan insting, mengikuti tanda panah di jalan.

            Dan ternyata lokasinya tidak sesulit yang saya bayangkan.  Lokasi Akar Seribu sendiri berada di Plajan, Pakis Aji, Jepara. Meski jujur, jalan menunju ke sana memang cukup menantang. Karena jalannya sedikit curam. Tapi jalan sudah cukup mulus, kok. Karena katanya dulu di sana jalannya belum sebagus saat ini. (komentar teman-teman yang sudah pernah datang).  Tapi kalau musim hujan pasti  licin.

 Saya sendiri mulai perjalan dari  Mlonggo sekitar pukul delapan, saya berangkat dengan memilih jalur lewat Krasak, Bangsri.  Jadi dari Krasak, saya lurus, melewati SMP 2 Bangsri masih lanjut terus, kemudian melewati SMK Sadamiyah masih terus lurus, hingga sampai di  desa Kepok. Tidak lama dari Kepok, saya sampai di desa Plajan.  Di sana ada jalan melingkar jika luru akan menunju Gong Perdamain Dunia, sedang jika belok kiri akan menuju Akar Seribu, di mana jaranya kurang lebih 200 M.

Memasuki rute ke Akar Seribu, suasana dingin mulai terasa, mengingat, Plajan memang daerah dataran tinggi.  Tapi semua rasa dari lelah dan dingin yang sempat terasa dalam perjalanan, langsung luruh ketika akhirnya sampai di lokasi dengan tepat.

“Yeah ... akhirnya sampai juga.” Rasanya ingin berteriak keras, namun saya tahan dalam hati.

Dan rasanya puas bahwa akhirnya bisa melunasi rasa penasaran yang sejak dulu menggunung di hati. Ceileh bahasanya, xixii.

Jadi saya pun langsung masuk, yang ternyata di sana satu orang harus membayar sebesar Rp 5.000,-. Tidak  perlu waktu lama, saya pun langsung eksplore lokasi akar sebiru dengan semangat.

Dimulai dari  jembatan pelangi yang mana, setiap orang yang ingin menikmati view bentang alam yang indah dan asri, juga mengabadikan gambar.  Ketika ingin menikmati momen itu, kita bisa membayar sebanyak Rp 2000,-. Ternyata jika ramai di sana kita hanya dibatasi waktu selama lima menit dan hanya bisa menampung lima orang. Mungkin takut jika terlalu banyak orang jembatan akan roboh, karena jembatan itu dibuat dari bambu.

[Dokumen pribadi] 

Oh iya, alasan kenapa tempat ini diberi nama akar seribu, ternyata berhubungan dengan adanya pohon karet yang memiliki banyak akar—bahkan melebihi seribu, Di mana pohon itu sudah ditanam sejak tahun 1931 oleh Mbah Sumani (alhm). Alasan penanama pohon ini ternyata untuk mencegah terjadinya longsor, penghijauan dan untuk menjaga sumber mata air.


[Dokumen pribadi]


Selain bisa bersuka ria dengan jembata pelangi atau melihat keperkasaan pohon karet yang sudah berusia puluhan tahun itu, di sana ada juga disediakan wahana yang bisa dinikmati anak-anak. Seperti permainan mobil-mobilan, melihat berbagai binatang; di antaranya Rusa, Buaya,  dan Burung Jalak.

Tidak puas itu, jika mau mencari lokasi asyik buat foto, ada tangga yang diberinama “Tangga Pelaminan” karena di tangga tersebut di beri bunga-bungan melingkar yang cantik. Kemudian tidak kalah menarik ada pula gardu pandang yang mana dari sana kita bisa menikmati view bentang alam Desa Plajan dari atas.

[Dokumen pribadi]

Sebetulnya saya sangat ingin menikmati keindahan alam lewat gardu pandang ini. Tapi ketika sampai dan melihat ketinggian salah satu gardu pandang yang ada, mendadak nyali saya ciut. Entah kenapa saya merasa  takut dan ngeri, melihat lokasi gardu pandang, pohon dan tanah yang menopang gardu pandang tersebut. 


[Dokumen pribadi. foto dari bawah]

 Tapi tidak tahu jika di gardu pandang yang tersedia kursi dan meja—saat itu saya kebetulan belum melihat yang bagian itu, karena jalan kebetulan di blok karena ada pelatihan polisi di Akar Seribu.  (Eh, nggak tahu deng, entah di blok atau tidak, tapi rasanya kurang nyaman, jika lewat jalan yang dibuat latihan polisi. Hhhe. Jadi jalan memutar, di sana hanya melihat dua gardu pandang, belum lihat secara lengkap).

[Sumber : google]

Tidak ketinggalan di Akar Seribu ini, kita juga bisa berziara ke petilasan  Ki Kerto Guno dan Ki Kerto Seno. Kemudian ada juga Tebing Kepodang, Gowok Macan dan Tebing Beringin.  


Puas menikmati keindahan alam dan berbagai hal di Akar Seribu, akhirnya saya memilih  hengkang dan melajutnya perjalanan ke Gong Perdamaian Dunia. Yah. Sekalian wong sudah di Plajan. Meski sebelumnya sudah pernah mampir (baca di sini),  tapi kayanya tetap seru.

Dan benar saja, sampai di sana, ternyata sedikit banyak ada perubahan yang terjadi. Salah satunya ditambah rumah pohon, dan tatana taman yang lebih rapi dan menarik.  akhirnya setelah puas, dan hari sudah mulai siang, saya pun memutuskan untuk segera pulang. Oh iya, kalau mau ke Gong Perdamaian, sekarang per orang harus keluar biaya sebesar Rp 5000,-.

[Dokumen pribadi]

Srobyong, 1 Mei 2018.
           
          

[Traveling] Berkah Voucher buku : Dari Lawang Sewu hingga Sam Po Kong

(Dokumen pribadi)



“Merangkai kata, agar semua momen yang pernah terhadi, tetap terpatri tak hilang digulung waktu.”


Bermula dari kemenangan saya yang tidak terduga—di mana saya menjadi salah satu pemenang lomba meresensi buku karya Tere Liye “Matahari” yang diadakan Gramedia sekitar akhir bulan di tahun 2016,  Maka kesempatan menjejakkan langkah di kota lumpia terbuka lebar.

Sungguh ... awalnya saya tidak menduga akan terpilih menjadi salah satu pemenang. Mengingat lomba resensi ini, saya yakin akan banyak pesaingnya. Dan ketika saya intip beberapa resensi yang dilombakan, semua tulisannya sangat bagus-bagus.  

Tapi hari itu—tepatnya 22 November 2016, ketika hasil lomba diumumukan, dan membaca nama saya ada di sana, rasanya ... wow, hati ini seperti mau meledan. Antara percaya dan tidak percaya, juga rasa syukur karena kerunia Allah. Hei ... saya ini masih unyu banget dalam masalah resensi, masih belajar. Jadi ketika menyabet juara kedua itu sesuatu banget. Apalagi yang mengadakan adalah penerbit besar macam Gramedia.  Maka tidak ada yang lebih patut saya lakukan selain syukur kepada Allah, bukan? Kala itu hadiah yang akan saya dapat adalah voucher gramedia sebesar Rp 750.000,-  dan paket novel GPU.


Nah, sebagai seorang yang gila buku, pastinya hadiah itu sangat menggiurkan bukan? Begitu pula dengan saya.    Saya sangat tidak sabar untuk menghabiskan voucher tersebut. J

Tapi masalahnya adalah, fakta sedih yang harus saya terima, bahwa  di Jepara memang masih belum ada Gramedia.  Jika ingin memakai voucher, maka sudah barang pasti saya harus ke ibu kota Jawa Tengah, biar voucher tidak hangus percuma.

Maka saya pun mengajak adik saya—Al Ghazali dan siap berburu buku bersama. Kami berangkat pagi dengan bersepeda motor, mengarungi jalan berdebu dari Mlonggo ke Semarang. Lelah tentu saja. Tapi harga itu rasanya terbayar ketika kami sudah sampai di lokasi tujuan dan bisa memanjakan mata, mengambil buku-buku yang kami taksir.

Berhubung sudah di Semarang, maka sekalian saja kami meluangkan sedikit waktu untuk menapaki keindahan kota ini. 

Kami pun memutuskan mengunjungi “Lawang Sewu” setelah seharian berkeliling di Gramedia mencari buku. Tahu dong, kalau lawang sewu adalah bangunan tua yang sudah berdiri sejak zaman Belanda. Dan dulu merupakan gedung Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dan setelah merdeka  gedung ini dibuat sebagai kantor Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Dan konon katanya, lawang sewu itu memiliki aura mistis yang  kuat. Bahkan lawang sewu termasuk salah satu tempat terhoror se-Asia.

[Dokumen pribadi]

Tapi, berhubung kami datangnya siang, tentu saja rasa horor yang sering saya dengar tidak begitu terasa. Tapi tidak masalah, karena di sana, tetap menyimpan keindahan ruang, yang pastinya bisa buat diabadikan juga buat  foto narsis. Eh xixii :D


 [Dokumen pribadi]

Bagaimana tidak, bangunan yang memiliki banyak pintu dan jendela ini sangat artistik. Nggak rugi jika bertandang ke sini. Tapi selain itu, di sana kita juga bisa belajar tentang sejarah kereta api.

[Dokumen pribadi]

Selanjutnya setelah dari Lawang Sewu, kami langsug lanjut ke Klenteng Sam Po Kong. Konon katanya tempat ini adalah petilasan dari Laksamana Ceng Ho. Bangunan ini ternyata menyimpan kolaborasi unsur China dan Islam. Karena Laksamana Ceng Ho, dikabarkan sudah memeluk Islam ketika sampai di Semarang.


[Dokumen pribadi]

[Dokumen pribadi] 

Sayangnya di sini, saya hanya sebentar, karena memburu waktu pulang. Mengingat hari sudah semakin sore. Sedang saya harus segera balik ke Jepara, agar tidak sampai ke-malaman.  Yah ... semoga di lain waktu bisa kembali bertandang ke sini dan lebih dalam mengulik tempat bersejarah ini.

[Dokumen pribadi] 


Srobyong, 1 Mei 2018