Monday, 7 August 2017

[Resensi] Belajar Cara Menghadapi Masalah dari Novel

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 6 Agustus 2017 


Judul               :  Some  Kind of Wonderful
Penulis             : Winna Efendi
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Januari 2017
Tebal               : 360 halaman
ISBN               : 978-602-03-3555-1
Persensi           : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara.

“Kekuatan bukan dinilai dari seberapa sedikit air mata yang diteteskan, atau dari seberapa banyak kau pernah merasa goyah. Kekuatan ada pada diri orang-orang yang tetap bangun dan menjalani setiap hari meski hal terakhir yang ingin mereka lakukan adalah hidup. Kekuatan datang dari senyuman mereka yang bersedih, dari orang-orang yang telah kehilangan segalanya namun tetap bertahan.” (hal 303).

Mengambil tema persahabatan berbalut cinta dan kehilangan, membuat novel ini terasa dekat dalam kehidupan sehari-hari.  Karena sadar atau tidak sadar, dalam persahabatan antara pria dan wanita sering terselip rasa kasih yang tumbuh menjadi cinta. Hanya saja rasa itu tidak selalu kisah itu berakhirr bahagia. Ada kalanya gayung bersambut, ada kalanya cinta  yang dimiliki hanya bertebuk sebelah tangan hingga berakhir retaknya persahabataan.

Ada Liam Kendrick yang memilih pergi ke Sydney dengan alasan untuk mewujudkan mimpinya sebagai seorang koki. Padahal di balik kepergiannya, Liam  haanyalah sosok yang butuh tempat berlari, agar tidak bertemu lagi dengan Wendy. Cinta pertamanya yang bertepuk sebelah tangan. Wendy adalah  sahabat Liam sejak kecil juga gadis yang sudah mencuri hatinya. 

Dan kenyataan yang membuat Liam lebih sakit lagi adalah, kenyataan tentang siapa laki-laki yang akhirnya dipilihan Wendy untuk dinikahi. Willem—adik laki-laki Liam meski berbeda ibu.  Tapi bisa apa Liam selain memberi restu? Bukankah tidak mungkin dia menghalangi dua orang itu menjuju altar suci? Itu-lah alasan yang akhirnya membuat Liam memilih meninggalkan bangku kuliah dan tinggal di Sydney. Membuka lemabaran baru meski sejatinya, bayang-bayang kenangan masa lalu, masih menghantuinya.

“Karena aku ingin memutuskaan hubungan dengan hal-hal yang sudah kutinggalkan dan memendamnya dalam-dalam sebagai kenangan. A clean finish, a brand new start. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa bergerak maju kalau terlalu terpaku pada masa lalu.” (hal 17).

Ada pula Rory Handitama yang sedang mencoba menata kehidupannya kembali, seetelah sebuah insiden meluluhlantakkan kehidupannya yang bahagia. Dua orang yang sangat dia sangat disayanginya pergi dengan cepat dengan cara yang tidak terduga. Namun sayang hal itu tidak mudah. Rory masih belum bisa move on dengan kenyataan itu. Bayang-bayang keberadaan orang-orang yang disayanginya itu masih memenuhi ruang otak dan pikirannya. Hal inilah yang membuat Rory memilih tertutup dan menolak berdekatan dengan laki-laki lain. Dia tidak bisa.

“The thing about sameness is that it is comforting as much as it is excruciating.” (hal  23).
Sampai sebuah kejadian mempertemukan keduanya, membawa kisah lain yang tidak mereka duga. Liam yang entah kenapa  merasa tertarik dengan Rory yang jelas-jelas bukan tipe-nya jika ingin menjalin hubungan. Liam hanya menyadari ada sorot yang sama di mata Rory dengan dirinya—kehilangan. Hal itu-lah yang menuntun Liam untuk berusaha mengenal Rory.

Sedang bagi Rory, kemunculan Liam adalah bencana. Dia tidak tahu, kenapa koki terkenal itu tiba-tiba hadir begitu saja menyusup dalam kehidupannya.  Membuat perjalanan hidupnya berbeda  hanya dalam hitungan hari. Bersama Liam dia bisa tersenyum dan melupakan sejenak rasa sakit yang dirasakannya dan itulah yang dia takuti. Rory terlalu takut melangkah, hingga melupakan Jay—mantan suaminya dan Ruben—putranya.

Selain pergulatan batin perasaan Liam dan Rory yang masih bingung akan dibawa ke mana hubungan aneh di antara keduanya, ada juga Noah—sahabat Rory juga Jay, yang ternyata diam-diam suka dengan Rory. Dan Wendy tiba-tiba datang dengan kenyataan yang tidak pernah Liam duga. “What-ifs ruin you. Mereka nggak membuat segala sesuatuanya jadi lebih baik.” (hal 201).

Sebuah novel yang menarik. Memilih menceritakan kisah dengan pov pertama, dari masing-masing tokoh membuat kita bisa memahami bagaimana emosi masing-masing tokoh. Eksekusi cerita juga dipaparkan dengan apik. Hanya saja memang ada beberapa bagian yang terasa membosankan, karena sedikit bertele-tele. Namun lepas dari kekurangannya, novel ini patut dinikmati bagi pecinta novel romance.

Dari novel ini kita bisa memetik pelajaran bahwa kita tidak seharusnya lari dari masalah dengan menyiksa diri. Namun seyogyanya kita harus menghadapi setiap masalah dengan berani. Dengan begitu kita bisa berdamai dengan diri sendiri dan bisa melepas masa lalu untuk menyongsong masa depan yang tengah menanti.

Srobyong, 28 Juli 2017 

Sunday, 6 August 2017

[Resensi] Perjalanan Dua Hati dalam Mencari Kebenaran-Nya

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Senin 31 Juli 2017

Judul               : Lintang Langit pada Senja
Penulis             : Ririn Astutiningrum
Penerbit           : Laiqa, Elex Media Komputindo
Cetakan           : Pertama, Juni 2017
Tebal               : 248 halaman
ISBN               : 978-602-04-2528-3
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Allah itu Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Ketika kita diganjar hidup dalam lingakaran kesusahan, sudah sepantasnya kita bersabar, ikhlas dan tawakal.   Dan jika kita diganjar menjadi orang yang berada, maka seyogyanya kita harus bersyukur dan tidak terlena dengan nikmat dunia.

Membaca novel ini, kita diajarkan untuk selalu mensyukuri bagaimana pun keadaan hidup kita.  Jangan pernah kita menggungat Allah atau menyalahkan-Nya. Selain itu dalam novel ini kita juga diingatkan untuk selalu sabar dan tabah dalam menghadapi berbagai persoalaan dan rintangan hidup.  Jadikan cobaan sebagai penguat iman. Karena di balik cobaan selalu ada hikmah yang tertanam.
“Harga kehidupan kita bergantung dari kemampuan kita menerima kehidupan itu sendiri. Semakin kita bisa ikhlas dan lapang, semakin berhargalah hidup yang kita miliki.” ( hal 97).

Tidak ketinggalan dalam novel ini, penulis juga memaparkan bagaimana seharusnya orangtua yang baik dalam mendidik putra-putrinya. Bahwa dalam mendidik anak, selain memberikan materi, kasih sayang dan bimbingan orangtua itu sangat diperlukan. Mengingat orangtua adalah madrasah pertama bagi anak.  

Novel ini sendiri berkisah tentang Lintang yang merasa kesepian, karena merasa tidak dipedulikan orangtuanya, yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Hal itu-lah yang akhirnya membuat Lintang, menyalurkan kesepiannya dengan minum-minum, clubbing dan meninggalkan salat.  Ada juga Langit, terlahir menjadi orang yang tidak mampu, membuat Langit marah pada Allah. Dia merasa Allah tidak adil pada dirinya. Belum lagi cobaan berat berkali-kali menerpanya, hingga Langit semakin benci Allah.

Namun, ketika kebencian Langit semakin menggunung, dia pertemukan dengan Senja yang mengajarinya tentang hakikat cinta kepada Allah.  

“Kebencian dalam akan membuat sungai mandul tanpa aliran. Ia pun bisa menelan lautan dan membuatnya ringkai kerontang. Namun, cinta seperti gerimis yang menumbuhkan benih-benih. Hati yang basah oleh cinta kepada Allah akan mudah menumbuhkan rasa syukur atas hikmah yang senantiasa Allah kirimkan bersama musibah dan ujian.” (hal 101).

Dan Lintang, karena sebuah cobaan tidak terduga, akhirnya menuntunnya untuk mencoba memperbaiki diri.  Namun berhasilkah kedunya mempertahankan iman yang baru setitik itu, ketika tiba-tiba keduanya kembali mendapat cobaan yang mencoreng nama baik mereka?

Sebuah novel religi yang menarik. Selain memuat banyak hikmah kehidupan, novel ini juga diselipi berbagai sejarah yang menambah wawasan kita. Beberapa kesalahannya tidak mengurangi esensi dari kisah itu sendiri.

 Srobyong, 24 Juli 2017 

Wednesday, 2 August 2017

[Resensi] Kunci Sukses Meraih Beasiswa

Dimuat di Jateng Pos Minggu 30 Juli 2017 

Judul               : Saatnya Berburu Beasiswa!
Penulis             : Enung Nurhayati
Penerbit           : Laksana
Cetakan           : Pertama, Juni 2017
Tebal               : 208 halaman
ISBN               : 978-602-407-163-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumna Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi dengan beasiswa, sudah pasti menjadi harapan setiap orang. Selain menambah pengalaman, hal itu bisa mengurangi beban orang tua dalam masalah tanggungan biaya.  Buku yang ditulis Enung Nurhayati, yang merupakan  peraih beasiswa sejak S1 – S3 membagikan cara bagaimana agar sukses dalam meraih dan menaklukkan beasiswa.

Dalam usaha menaklukkan beasiswa, larangan yang wajib kita hindari adalah rasa takut. Karena rasa takut hanya akan membuat kita tidak berani mencoba.  Dan jika tidak mencoba, maka tidak ada peluang sukses belajar dengan beasiswa. Selain itu, rasa takut juga bisa mengakibatkan kurangnya motivasi dan optimisme pada kemampuan diri (hal 32).  Selain itu masih ada beberapa hal lain yang perlu dihindari.

Tidak takut mengambil risiko. Manusia hidup di dunia tidak lepas dari peluang dan risiko. Peluang dan risiko ibarat dua sisi dari sekeping mata uang. Keduanya tidak mungkin dipisahkan. Dan jika ingin berhasil dalam meraih beasiswa, maka seyogyanya kita harus memiliki keberanian untuk menangkap peluang dan mengambil risiko sekaligus.

Jangan takut tidak mampu. Ini berarti, jika ingin meraih beasiswa, kita harus memberi sugesti pada diri sendiri, bahwa kita mampu. Tidak perlu berkecil hati atau merasa minder dengan kemampuan peserta lain. Yakin bahwa setiap orang pasti memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. 
Tidak takut ditolak. Siapa pun di dunia ini, pasti tidak suka dengan penolakan. Namun, jika langkah kita berhenti hanya karena takut ditolak, maka sudah pasti kita tidak akan pernah mampu untuk meraih beasiswa. Perlu dicatat, masalah nanti akan diterima atau tidak, yang terpenting adalah kita mau mencoba dan berusaha (hal 58).

Tidak takut gagal.  Sebagaimana diketahui, kegagalan adalah momok terbesar bagi siapa saja yang berburu beasiswa. Apalagi jika kita sudah berusaha dengan keras, tapi ternyata kita gagal. Meski begitu, jangan jadikan alasan kegagalan itu  untuk tidak melakukan usaha lagi. Jika sebelum mencoba sudah takut gagal, maka otomatis, kesempatan pun tidak akan pernah datang.  Kita harus meyakini kalau kegagalan adalah sukses yang tertunda. Sehingga ketika kegagalan terjadi, hal itu tidak membuat kita putus asa, namun menjadikan kegagalan itu sebagai semangat untuk terus berjuang dan mencoba lagi.

Selain itu agar bisa meraih beasiswa, penting bagi kita untuk  memiliki bekal 7M. Yaitu, membuat map planing—karena dengan memiliki peta rencana, hal itu akan memudahkan kita,  dalam mengetahui ke mana arah tujuan yang telah ditentukan. Menuliskan cita-cita. Berdasarkan sebuah penelitian, orang yang mencatat mimpi yang dimiliki, memiliki potensi meraih harapan itu, dibanding orang yang tidak menulisnya.

Membumikan Man Jadda Wajada. Artinya kita harus selalu bersungguh-sungguh dalam mengaplikasikan berbagai cara dan usaha untuk mendapat beasiswa.  Selanjutnya membiasakan Going The Extra Miles—yang artinya, melakukan sesuatu di atas rata-rata yang dilakukan orang pada umumnya. Di sini berarti, kita selalu berusaha menjadi sosok paling baik dari orang lain. Selalu meningkatkan diri untuk menjadi yang terbaik (hal 70).

Memperluas networking. Disadari atau tidak, ketika kita memiliki jaringan luas, hal itu akan memudahkan akses dalam memperoleh berbagai informasi tentang beasiswa. Tidak kalah penting adalah memaksimalkan ikhtiar, doa dan bertawakal. Setelah berusaha keras,  maka sudah semestinya  kita mengembalikan hasilnya kepada Allah.

Selanjutnya tidak kalah penting yang perlu disiapkan agar sukses mendapat beasiswa adalah memiliki ijazah kelulusan sekolah, menyiapkan kartu identitas, membuat CV—Curriculum Vitae, memiliki kemampuan bahasa asing,  ada surat rekomendasi, menunjukkan proposal penelitian dan siap dalam wawancara.

Dengan menyiapkan semua  yang sudah dipaparkan, hal itu akan memudahkan bagi kita dalam meraih beasiswa.  Buku ini menunjukkan sebuah jalan terang yang akan membawa kesuksesan. Sebuah buku yang patut dibaca, bagi siapa saja yang saat ini sedang  berusaha meraih beasiswa dalam berbagai jenjang, baik di luar negeri atau di dalam negeri.

Srobyong, 8 Juli 2017 

Sunday, 30 July 2017

[Review Buku] Cara Sandi dalam Mengekspresikan Cinta



Judul               : Sandi’s Style
Penulis             : Sirhayani
Penerbit           : Grasindo
Cetakana         : Pertama, Mei 2017
Tebal               : 264 halaman
ISBN               :978-602-375-919-4


Blurb
“Lo tahu percepatana gravitasi bumi berapa? Sembilan koma delapan meter per sekon kuadrat. Dan gue butuh lebih dari angka itu di diri gue, supaya elo lebih tertarik ke gue.”

Namanya Sandi. Siswa SMA yang suka membuat kerusukan bersama enam teman akrabnya di sekolah. Dia benci mata pelajaran Biologi dan dia merupakan salah satu siswa yang mengikuti olimpiade Fisika. Arti namanya kode, tetapi kata orang dia tidak suka memberi kode.

Sandi terkenal konyol. Terkadang ia suka mengombali Safa—siswi olimpiade Biologi—dengan memakai istilah-istilah yang berbau sains. Tidak ada tujuan khusus Sandi melakukan itu selain karena dia iseng. Tetapi keisengan itu ternyata berubah menjadi keseriusan, sejak Sandi mulai jatuh hati pada Safa

~*~

Mengambil latar sekolah dengan tema khasa remaja SMA pada umumnya, novel ini terasa dekat dengan keseharian kita.  Karena bisa jadi tokoh-tokoh yang berada dalam kisah ini memang benar-benar ada dalam kisah nyata. Misalnya saja siswa yang suka bikin onar, konyol, siswa yang suka tawuran, siswa yang pintar dan banyak lagi.

Novel ini dengan menilik dari kacamata dunia SMA mengisahkan tentang kisah persahabat dan juga cinta dari sosok Sandi—siswa SMA yang bisa dibilang unik. Karena meski dia konyol dan suka semaunya sendiri, sejatinya dia adalah siswa yang cukup berprestasi—bahkan ikut olimpiade Fisika.

Akibat kekonyolan yang dilakukan Sandi, yang pada akhirnya  hal itulah yang membuat Sandi mengenal Safa. Saat itu kelas Sandi sedang kosong, jadi mereka mengisi waktu kosong dengan bermain. Salah satunya adalah menerima tantangan teman Sandi untuk bermain peswat kertas. Sandi yang terkenal usil kemudian membuat sebuah taruhan. Jika nanti saat dia melempar pesawat kertas itu dan mengenai murid cowok, maka akan dia jadikan sahabat. Namun jika yang terkena lemparan pesawat itu murid  cewek, maka dia akan menjadikannya pacar (hal 12).

Maka sejak saat itu, Sandi mulai melancarkan aski gombal yang unik agar menarik hati Safa yang pendiam. Padahal bagi Safa sejak awal diaa berharap tidak terlibat masalah dengan Sandi. Karena Safa hanya ingin menikmati masa SMA-nya dengan damai dan tenang. Sayangnya harapan Safa tidak terkabul. Pada kenyataanya Sandi kini sudah mercuni hidupnya.

“Lo tahu nggak, kenapa natrium punya ion positif dan klorin punya ion negatif? Karena NaCl sudah ditakdirkan untuk bersama. NaCl adalah dua unsur yang bersatu membentuk senyawa baru. Ibarat manusia kalau lp ngelihat perempuan dan laki-laki yag bersanding di pelaminan, mereka adalah sepasang manusia yang sudah ditakdirkan untuk bersama.”  (hal 43).

“Lo tahu, nggak? Kenapa natrium mempunyai satu elektron valensi sedangkan klorin mempunya tujuh elektron valensi? Karena delapan adalah kelengkapan bagi mereka. Ibarat pasangan. Perbedaam dalam sebuah hubungan itu wajar, karena gue tahunya rata-rata pasangan punya kekurangan dan kelebihan yang saling melengkapi.” (hal 44).

“Gue mau bilang, kalau gue suka sama lo. Gue juga mau bilang, kalau gue bakalan ngebuat lo suka sama gue. Itu aja, kok.” ( hal 51).

Itu adalah beberapa gombalan Sandi yang bisa dibilang lucu tapi berkelas.  Di mana gombalan yang dia berikan berisi petikan ilmu yang bisa diambil pelajaran. Dan selain itu masih banyak lagi gombalan Sandi yang tidaka kalah bikin mengocok perut.

Safa sendiri awalnya risih dan taakut, namun sebagaimana batu jika terus dihujani pasti akan luluh. Begitu pula Safa yang akhirnya sedikit memiliki simpati dan nyaman dengan Sandi. Karena Sandi itu ternyata siswa yang unik. Hanya saja, saat kedekatan mereka sudah terjadi, Gilang musuh bebuyutan Sandi muncul dengan membawa masa lalu mereka. Selain itu ada Mira—orang dari masa lalu Sandi yang semakin membuat masalah runyam.

Membaca novel ini serasa masuk kembali pada masa-masa SMA.  Kisah dipaparkan dengan gaya bahasa yang menarik dan memikat, membuat kita selalu penasaran dengan cerita itu sendiri. Bagaimana nasib cinta Sandi dan Safa, lalu apa yang terjadi dengan Mira dan Gilang ... juga bagaimana keputusan Kakak Safa yang mengjutkan.

Penulis menghidupkan tokoh utama dengan baik. Jadi kisah mereka kerasa banget. Dan keunggulan lain dari novel ini adalah kelihaian penulis dalam membumbui sense humor yang pas dan apik. Asli membaca novel ini sukses membuat saya tersenyum lucu hingga ngakak. Yah, saya  menikmati novel ini dan terhibur.

Hanya saja untuk perpindahan plot cerita  kurang halus, masih terasa kaku dan terkesan loncat-loncat. Dan cukup banyak typo yang saya temukan saat membaca novel ini.

“Iya, Pak guru, iya. Pelan-pelan dong nariknya.” —ini tanda petiknya harusnya di bawah.
Jawab!”  (hal 8).

Jualannnya—harusnya jualannya, n-nya lebih satu (hal 29).

Ke rumahn—haruanya ke rumahnya (kurang ya) hal 92).

Aku biasanya bikin gue—mungkin maksudnya kue (hal 185).

sSalah satunya—harusnya Salah satunya—kelebihan s (hal 250).

Selain itu beberapa masalah tidak dieksplore secara tuntas. Seperti tentang Safa dan Sandi yang merupakan siswa olimpiadi, namun tidak ada gambaran mereka mengikuti olimpiade pada salah satu scene kisah ini. Padahal jika ada sedikit digambarkan, pasti akan lebih menarik. 

Tapi lepas dari kekurangannya novel ini tetap asyik diikuti. Menyenangkan dan sangat menghibur. Catatan satu lagi membaca novel ini jadi teringat sosok Dilan yang juga usil dan kocak. Juga memiliki cara tersendiri dalam mengungkapkan cinta.  Membaca novel ini mengingatkan kita untuk selalu menjadi diri sendiri.


Srobyong, 30 Juli 2017 

Tuesday, 25 July 2017

[Resensi] Dampak Perpisahan Orangtua - Anak

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 23 Juli 2017 


Judul               : No Place Like Home
Penulis             : Alma Aridatha
Penerbit           : Penerbit Ikon
Cetakan           : Pertama, April 2017
Tebal               : 290 halaman
ISBN               : 978-602-74653-7-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Memiliki keluarga yang utuh  dan harmonis adalah harapan setiap anak. Karena dengan begitu, kasih sayang yang  didapatkan akan terasa lebih lengkap. Oleh karena itu sudah semestinya sebagai orangtua dan atau calon orangtua,  harus memikirkan dampak yang akan terjadi sebelum mengambil sebuah keputusan. Jangan karena ego yang tinggi, hal itu malah menjadi bumerang—membuat anak sedih dan kecewa.

Novel ini mengambil teman keluarga broken home yang dibalut dengan renyah dan gurih.  Kisah berpusat pada tokoh Ganda yang merasa bimbang. Di usianya yang ke sepuluh, dia akhirnya mengetahui siapa ayah kandungnya—Gio. Namun di sanalah masalahnya. Sejak kecil Ganda yang sudah dekat  dan nyaman dengan ayah tirinya—Dhimas. Ganda  merasa tidak memerlukan keberadaan Gio.  Sampai sebuah kejadian membuat Ganda berubah.

Setelah lulus sekolah menengah pertama, Ganda memutuskan ingin tinggal bersama ayahnya. Dia akan bersekolah SMA di Jakarta. Hal itu tentu saja membuat ibunya—Tara bingung dan merasa tidak rela. Namun begitu, dia mencoba memahami pilihan putranya (hal 8-9).  Maka kehidupan baru Ganda pun di mulai. Jika di Bandung dia akan bersama Tara, Dhimas dan Juna, adiknya, di Jakarta dia harus beradaptasi dengan keluarga Gio. Di sana Gio sudah memiliki istri bernama Jess dan dua anak.

Ganda sadar, jika sebagian orang harus tumbuh tanpa orangtua, dia malah memiliki dua ayah dan dua ibu. Sebuah kenyataan yang harus disyukuri bukan? Namun pada kenyataannya anugerah itu juga menjadi kesedihan bagi Ganda. Entah mengapa dia tidak merasakan arti sebuah keluarga yang dia inginkan. Sebuah keluarga yang hangat dan mengayominya. Ganda ingin tinggal di rumah yang memberinya kedamaiaan dan kenyamanan.

Sayangnya semua itu hanya harapan. Ganda sadar baik ayah dan ibunya itu memiliki kesamaan.  Mereka selalu merasa cukup memberinya fasilitas dan materi yang melimpah, maka dia akan bahagia. Padahal anggapan itu salah. “Ganda tidak menginginkan sepeda gunung mahal atau motor sport terbaru atau rekening yang penuh dengan nominal angka. Dia hanya ingin lebih diperhatikan. Apakah keinginannya terlalu berlebihan?” (hal 15).

Dan kesedihan Ganda semakin penuh, ketika menyadari bahwa keberadaannya selalu menjadi alasan untuk disakit—dia selalu disalahkan pada perbuatan yang tidak pernah dilakukan. Dia marah dan terluka. Kenapa masa lalu orangtuanya harus dilimpahkaan padanya? Bukankah dia hanya seoranag korban dari kesalahan dan keegoisan orangtuanya?

Kenyataan tentang masalah keluarga yang rumit, sedikit banyak membawa dampak banyak bagi Ganda. Hal itu bisa dilihat dari sikap atau tingkahnya. Dia memilih diam dan memendam semuanya sendiri. Dia menjauh, menutup diri dan malas bersosialisasi. Sampai sebuah kejadian dalam masa orientasi siswa membuat Ganda mengenal Nadya. Gadis itu sangat rame dan bersemangat.

Nadya membawa suasanaa baru dalaam hari-hari Ganda. Sampai kemudian Ganda tahu di balik senyum Nadya gadis itu memiliki kisah yang tidak kalah pilu dari dirinya. Hanya saja Nadya berani menghadapinya.  Di sini Ganda belajar banyak dari Nadya tentang arti memafkan.

Meminta maaf itu gampang. Memberi maaf itu sedikit lebih sulit, tapi masih bisa dilakukan. Namun, melupakan semua kejadian itu yang mustahil (hal 115).

Selain mengusung tema keluarga, tentu saja ada kisah manis khas remaja. Tentang persahabatan,  cinta, patah hati dan salah paham. Semua diramu dengan cukup menarik. Sehingga kisahnya tidak monoton dan membosankan.  Penulis pandai dalam mengeksekusi alur maju mundur.

Hanya saja di balik keunggulannya, dalam novel ini masih ditemukan beberapa salah tulis dan tulisan kurang jelas.  Namun lepas dari kekuranganya, novel ini patut dibaca. Di sini kita dapat belajar bahwa dalam mendidik anak bukan hanya materi yang diutamakan, namun juga kasih sayang dan pendidikan langsung dari orangtua yang merupakan madrasah pertama.  Menarik.

Srobyong, 10 Juni 2017