Saturday, 8 October 2016

[Resensi] Tiga Misteri Pembunuhan Penuh Intrik

Judul               :  The World’s Favorite Agatha Christie (Karya Agatha Christe Pilihan Favorit Pembaca Sedunia)
Penulis             : Agatha Christie
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           :  Pertama, Maret 2016
Halaman          : 624 hlm
ISBN               : 978-602-03-2621-4
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Siapa yang tidak mengenal Agatha Christie—yang pada tanggal 15 September ini diperingati sebagai hari jadinya yang ke 126? Dia adalah penulis misteri paling terkenal di dunia.  Karya-karyanya selalu laris manis dalam berbagai bahasa.  Memperingati hari jadinya yang ke 125, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan karya Agatha Christe Pilihan Favorit Pembaca Sedunia. Tiga naskah yang akhirnya dipilih ini merupakan hasil dari pengumpulan suara pembaca di seluruh dunia.

Tiga naskah ini tidak memiliki benang merah satu sama lain dan sejatinya merupakan potongan-potangan buku yang sudah pernah diterbitkan sebelumnya. Namun kisah yang terpilih ini  mengungkapkan betapa cerdiknya seorang Agatha Chrtistie dalam membuat kisah misteri pembunuhan.

Tiga kisah itu adalah And Then There Were None (Lalu Semua Lenyap) pertama diterbitan pertam kali  1939. Lalu Murder on the Orient Express (Pembunuhan di Orient Express) yang diterbitkan pertama kali 1934 dan The Murder of Roger Ackroyd (Pembunuhan Atas Roger Ackroyd) diterbitkan pertama kali 1926.

Lalu Semua Lenyap. Mengisahkan tentang sepuluh orang yang diundang ke sebuah pulau terpencil—Pulau Negro. Mr. Justice Wargrave, Vera Claythorne, Philip Lombard, Emily Brent, Jendral Macarthur, Dokter Amstrong, Anthony Marston, Henry Blore, Tomas Rogers dan Ethel Rogers. Bagaimana mereka sampai di sana, sungguh unik dan sangat mencurigakan.

Keadaan semakin kacau dan mencekam, ketika tiba-tiba ada suara yang mengungkap kejahatan yang dituduhkan pada sepuluh tamu tersebut. (hal. 34) Lalu berturut-turut satu persatu dari mereka ditemukan mati mengikuti pola sebuah lagu. Korban pertama adalah Anthony Marston yang meninggal karena keracunan sianida. Hanya saja siapa yang memasukkan racun itu tersebut itulah yang tidak tercium jejak pelaku. Namun pada akhirnya mereka sadar, mungkin pembunuh sejatinya berada di antara mereka sendiri.

Kisah kedua Pembunuhan di Orient Express pun tak kalah rumit dengan bagian pertama.  Saat kereta terjebak salju di Balkan, salah satu penumpang bernama Mr. Ratchett terbunuh dalam keadaan yang mengenaskan. (hal. 218). Kasus ini pada akhirnya membuat Inspektur Hercule Poirot turun tangan untuk menanganinya.

Dengan cara yang unik Poirot mengumpulkan informasi untuk mengetahui siapa pembunuh yang sebenarnya dari dua belas orang yang dicurigai. Apa motif yang dimiliki pembunuh dan bagaimana cara melakukan aksi pembunuhan itu. Hingga akhirnya terungkap siapa pelaku yang sama sekali tidak terduga. Mengejutkan dan luar biasa.

Terakhir adalah Pembunuhan Atas Roger Ackroyd yang kembali melibatkan Hercule Poirot untuk memecahkan kasus yang ada di desa King’s Abbot.  Diceritakan Mr. Ackroyd tiba-tiba ditemukan meninggal di ruangannya sendiri oleh dr. Sheppard.  Sedang orang yang berada di rumah saat itu, masing-masing memiliki alibi yang cukup kuat.

Sebelum kematian Mr. Ackroyd sebenarnya dia tengah bersedih karena kekasihnya Mrs. Ferrars ditemukan tewas bunuh diri. Katanya perempuan itu tidak sanggung menanggung kesedihan karena merasa bersalah telah membunuh sauminya dulu. Tapi belakangan Mr.Ackroyd baru tahu, kekasihnya itu tertekan karena diperas seseorang yang mengetahui kejahatan yang telah dilakukannya.  Mrs. Ferrars meninggalkan sepucuk surat untuk mengungkap siapa sang pelaku pemerasan. Namun sebelum itu terungkap, Mr. Ackroyd telah ditemukan terbunuh.

Hercule Poirot yang kebeteluan di sana, akhirnya menerima tawaran keponakan dari Mr. Ackroyd—Flora untuk menyelidiki kasus itu hingga keakar-akarnya.

Sebagaimana keabiasannya Poirot melakukan penyelidikan dengan cara unik dan sangat mendetail. Dan ketika pada sampai kesimpulan siapa pembuhnya, maka pembaca akan dibuat tertegun dan tidak percaya. Karena si pelaku sangat lihai dalam menyamarkan diri.

Ketiga kisah misteri ini benar-benar sangat sulit ditebak. Twits endingnya sangat keren. Penulis benar-benar lihai menyembunyikan pelaku kejahatan dengan sangat rapi.  Dan cara mengungkapkan siapa pelaku sebenarnya juga keren. Tidak diragukan lagi jika karya-karyanya disukai semua pembaca di dunia. Salut. Bagi para pencinta buku misteri dan memang penggemar Agatha Christie, buku ini recomended untuk dibaca.

Kisah-kisah dalam buku ini mengajarkan untuk tidak memelihara dendam dan diperbudak uang. Karena dendam dan gila uang hanya akan menyulut pada kejahatan. Quote yang paling mengesankan ketika membaca kisah ini adalah, “Dosamu akan selalu mengejarmu.” (hal. 69)

Srobyong, 2016. 

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 2 Oktober 2016 


Sunday, 2 October 2016

[Review] Promise; Tentang Cinta dan Luka


Hasil gambar untuk cover novel promise by Dwitasari


Judul               : Promise ; This Is Not Only About Love
Penulis             : Dwitasari
Ide Cerita        :Sukhdev & Dwitasari
Penerbit           : Loveable
Cetakana         : Pertama, 2016
ISBN               : 978-602-6922-44-1

YOGYAKARTA, Rahman (Dimas Anggara) seorang cowok Jogja yang berwajah tampan namun lugu dan sederhana, sangat berbeda dengan sahabatnya sejak kecil yaitu Aji.

Aji (Boy Wiliam) yang playboy dan suka bergonta-ganti pacar. Aji selalu punya keinginan agar Rahman bisa menjadi seperti dirinya. Bisa merasakan cinta dan memiliki wawasan yang lebih luas lagi, namun dengan cara yang salah. Tetapi, cara Aji mengubah Rahman justru menjadi awal kejadian yang mengubah hidup Rahman secara drastis. Tanpa disadari, malam itu membuat ayahnya marah kepada Rahman dan semenjak itu pula Rahman tidak bertemu aji lagi.

MILAN, 18 belas bulan kemudian, adalah kota di mana saat ini Rahman kuliah dan juga bekerja paruh waktu di sebuah toko klontong.

Kanya (Amanda Rawles) adalah gadis Jawa blasteran yang sejak usia 10 tahun tinggal di Eropa dan harus pulang ke Jogja untuk mendengarkan sebuah wasiat dari ibunya. Dan, ibunya berharap Kanya tidak kembali lagi ke Eropa untuk menjalankan wasiat tersebut.

Moza (Mikha Tambayong) adalah teman kuliah Rahman yang selalu punya perasaan lebih kepada Rahman. Tapi, Moza melihat ada sebuah teka-teki di hidup Rahman yang tidak dia ketahui jawabannya.

ISTANBUL, Salsabila (Mawar De Jongh) adalah salah satu murid di pesantren ayah Rahman, yang jatuh cinta kepada Rahman dan dia menitipkan sebuah surat untuk Rahman melalui Aji. Suatu ketika di malam hari, Rahman menerima telepon dan ternyata dari Aji. Rahman merasakan perubahan dari sahabatnya itu, bahkan pertemuan Aji dan Rahman tidak seperti dulu lagi. Moza pun baru tahu siapa Rahman sebenarnya saat itu dan siapa perempuan yang dicintainya.

~*~
Novel ini mengisahkan tentang Rahman, anak dari Pak  Purnomo, yang memiliki pondok pesntren di Yogyakarta. Dia memiliki seorang teman bernama Aji yang playboy. Aji selalu berusaha meracuni pemikiran Rahman yang polos agar mau seperti dirinya. Prinsip Aji adalah menikmati hidup dengan senang-senang. Lagipula hidup itu cuma sekali, jadi harus dimanfaatkan dengan baik. Salah satunya adalah dengan pacaran. Misalnya dengan Salsabila, santi bapaknya yang sudah lama menyukai Rahman.

“Kamu ikut gaya dan cara aku nyarai pacar, supaya hidup kamu nggak datar-datar aja kayak jalan tol.” ( hal.48)

Hal ini tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Rahman. Baginya pacaran itu mendekati zina.  Namun bukan Aji kalau mudah menyerah. Jika Rahman tidak mau pacaran, maka berbagai cara akan dia lakukan untuk membujuk sahabatnya itu. Aji memberikan DVD porno pada Rahman.

Sebuah petaka pun muncul. Pak Purnomo memergoki Rahman memiliki DVD itu. Rahman pun di sidang bapaknya. Sampai sebuah keputusan dari bapaknya membuat Rahman lemah karena harus dinikahkan di usia muda.

Dari Yogyakarta, lalu setting berganti ke Milan. Rahman tengah menyelesaikan pendidikannya arsitektur di sana. Sekaligus mencari seseorang yang sangat dirindukan. Di sana Rahman mengenal Moza yang diam-diam menyukai Rahman.  Dalam pencariannya siapa sangka Rahman malah bertemu dengan Aji dan melihat sebuah kenyataan yang tidak terduga.

Novel ini dibuka dengan prolog memikat. Memakai pov campuran satu dan dua, membuat pembaca penasaran dengan apa yang terjadi dalam kisah itu. Namun pada kisah seterusnya ceritanya terasa agak membosankan. Dan saya kurang suka dengan eksekusi ending. (Mungkin hanya saya saja)

Hal yang merasa ganjalan saya adalah tentang sikap Rahman yang sangat berubah. Di mana keluguan Rahman? Dia dikatakan sebagai seorang yang dididik dengan agama yang kental, namun hal itu sudah tidak terlihat lagi ketika dirinya berada di Milan. Rasanya sangat timpang ketika dijeskan pada bab awal kalau Rahman itu sosok yang sangat memegang teguh ajaran agama.

Saya juga merasa ada lubang dari kepergian Kanya yang terlalu tiba-tiba dan tanpa dijelaskan dengan alasan yang logis kenapa dia pergi. Lalu kenapa dia kembali ke Milan. Banyak pertanyaan yang tidak saya temukan dalam novel ini.

Di sini tokoh yang lebih berperan banyak adalah Rahman, Moza dan Aji. Sedangkan Kanya dan Salsabila terasa hanya pemanis yang muncul sesekali.

But, lepas dari itu ... novel ini memiliki keunikan dengan layout yang manis. Gaya penceritaan bagus. Juga quote-quote yang memikat. Jadi bagi yang suka romance bisa menjadikan buku ini sebagai salah satu alternatif bacaan. Oh ya novel ini juga  difilmakan. Semoga pada filmnya pertanyaan-pertanyaan saya yang memenuhi kepala bisa terjawab.  Saya belum nonton filmnya. 

Yang saya pelajari dari novel ini adalah tentang usaha untuk menjadi seseorang yang ikhlas dan tidak mudah menyerah. 

Saturday, 1 October 2016

[Resensi] Belajar Saling Menghargai Perbedaan Suku dan Budaya Melalui Novel

Judul               : Love In Adelaide
Penulis             : Arumi E
Editor              : Donna Widjajanto
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, 2015
Halaman          : vi + 230 hal
ISBN               : 978-602-03-2545-3
Peresensi         : Ratnani Latifah, Penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Setiap negara sudah pasti memiliki budaya  tersendiri. Sebagaimana kata pepatah, di mana bumi di pijak di situlah langit dijunjung.  Jadi di mana pun berada, kita harus menyesuaikan diri dan menghargai budaya yang ada.

Novel ini bercerita tentang Aleska yang harus pindah dan menjalani hidup baru di Adelaide,  Australia. Semua  bermula dari pernikahan ibunya dengan seorang yang berkebangsaan Australia. Meski sempat tidak rela harus pindah, namun Alesaka akhirnya mengalah.  Bagaimana pun dia memang sangat sayang dengan ibunya. Kepindahannya itu membuat Aleska mengenal Zach Mayers—anak Pak Abe—yang berarti saudara tirinya yang dalam pandangan Aleska cukup menyebalkan karena terlalu protektif.  (hal. 13)  Juga Sarah yang lebih membuatnya tidak nyaman karena tidak pernah bersikap manis pada dirinya.

Selama di Adelaide, Aleska memutuskan untuk bekerja sambilan di restoran yang bernama Asian Taste.  Di tempat kerjanya inilah Aleska merasakan sesuatu yang menyenangkan. Apalagi dari sana pula dia mengenal sosok Neil yang memiliki kepribadian hangat yang membuat mereka cepat akrab.   Dari perkenalan itu juga membuat Aleska belajar untuk saling menghargai perbedaan suku dan budaya.

Kenyataan Neil yang merupakan seorang separuh Aborigin yang kerap membuat dia dipanggail  manusia kelas dua.  Karena konon dulu suku Aborigin selalu diperlakukan diskriminatif oleh para penduduk berkulit putih—yang notabene para pendatang.  Walau meski sekarang setiap bulan Juli ada perayaan Naidoc Week—usaha pemerintah untuk menghargai sejarah, budaya dan prestasi kaum Aborigin dan penduduk Kepulauan Selat Torres. (hal. 60) 

Namun tetap saja masih banyak orang kulit putih yang memandang sebelah mata pada Neil dan kaumnya,  karena  ada segelintir kaum Aborigin yang tidak berpendidikan tinggi, miskin dan melakukan tindak krimininal. Padalah semua manusia itu setara.  Apa pun rasnya,  dari belahan bumi mana pun. Semua manusia sama. Tergantung pribadi masing-masing. (hal. 62)  Begitulah pendapat Aleska ketika Neil meminta pendapatnya tentang orang-orang yang masih memiliki mental rasis. Aleska juga menambahi, “Dalam ajaran agamaku, semua manusia sama dan setara di mata Tuhan. Tuhan hanya menilai manusia dari kebaikannya. Siapa yang lebih baik, itulah yang lebih mulia.”

Dari perkenalannya dengan Neil juga menuntun Aleska dalam mengenal lebih jauh dengan budaya kental negara baru yang ditempatinya. Salah satunya tentang alat musik Konga—alat musik perkusi yang dipukul dengan tangan untuk menimbulkan punya. Jika di Indonesia mungin seperti gendang. Dan alat musik didgeridoo—alat musik asli Aborigin dan disinyalir sebagai alat musik tertua di dunia. (hal. 83)

Lambat laun kedekatan yang awalnya hanya sebagai teman kerja, perlahan memunculkan perasaan lain di hati Aleska pun dengan Neil. Sayangnya kedekatan antara Aleska dan Neil tidak disukai Zach. Entah apa sebabnya. “Kamu itu muslimah, tentunya tahu batas-batas pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Apalagi kamu berhijab. Kamu harus menjaga nama baik muslimah.”(hal. 90)

Sebuah kenyataan yang membuat Aleska menyadari ada banyak lubang dan benteng besar yang tidak mungkin bisa ditembus. Mereka memiliki perbedaan keyakinan. Entah bagaimana kisah mereka akan berlanjut.

Diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah dan memikat membuat novel ini sangat asyik dibaca. Ditambah lagi banyak kejutan yang membuat semakin pensaran dengan jalannya cerita ini.  Beberapa kekurangannya tidak mengurangi kenikmatan dalam membaca.

Sebuah novel yang sarat makna. Selain mengandung budaya yang cukup kental, novel ini juga sarat religi sehingga banyak hal yang bisa diambil pelajaran.  Semisal tentang anjuran untuk menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan atau tentang anjuran untuk mendidik anak dengan cara lemah lembut bukan dengan kekerasan.

Banyak juga  quote inspiratif yang bisa dijadikan renungan. Salah satunya,  “Hanya Allah yang berhak menentukan kamu berdosa atau tidak, kamu diampuni atau tidak. Selama kamu masih diberi hidup, itu artinya kamu diberi kesempatan menembus kesalahanmu dan berubah perlahan menjadi lebih baik.”  (hal. 193)

Srobyong, 15 Agustus 2016 

Dimuat di Koran Pantura, Rabu 28 September 2016 


Friday, 30 September 2016

[Resensi] Belajar Arti Persahabatan Lewat Novel


Judul buku      : Promises
Penulis             : Kristi Jo
Desain cover   : Orkha Creative
Penerbit           :  Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, September 2015
Tebal buku      : 232 halaman
ISBN               : 978-602-03-2000-7

Orang boleh berubah, waktu boleh bertambah, tapi ikatan persahabatan nggak harus putus. (hal. 93)

Novel ini menceritakan tentang persahabatan antara Joshua, Lana dan Alex yang sudah dibina sejak kecil. Mereka bisa dibilang seperti permen karet yang tidak mungkin bisa dipisahkan. Tapi, setiap pertemuan sudah pasti ada perpisahan. Lana harus meneruskan pendidikannya ke Melbourne, menyusul kakaknya.  Joshua sendiri pindah ke Surabaya. Hanya Alex tetap tinggal di Jakarta.

Hal ini-lah yang kemudian harus mereka terima karena sudah pasti mereka tidak bisa bersama lagi. Karena akan berpisah, Lana mengusulkan untuk membuat sebuah kesepatakan. Menulis sebuah harapan yang nantinya akan dibuka bersama-sama setelah lima tahun. (hal. 11) Meski pada awalnya Joshua dan Alex tidak terlalu setuju, mereka pada akhirnya tetap melakukannya.

Namun setelah lima tahun, ketika mereka kembali bertemu, semua sudah tidak bisa lagi seperti dulu. Lana berubah menjadi pendiam dan terkesan menjaga jarak dengan Joshua. Alex tidak bisa dihubungi dan juga sulit diketahui keberadaannya. Bahkan ketika akhirnya Alex ditemukan, cowok itu sudah tidak seperti Alex yang dulu. Joshua bingung, tapi dia tidak mau persahabatan mereka putus begitu saja. Karena itu dia mulai menyelidiki kenapa kedua sahabatnya telah berubah. 

Dan siapa sangka potongan puzzle yang berusaha Joshua susun, menempatkannya pada posisi yang tidak pernah duga. Dia baru tahu kalau persahabatan mereka telah berubah menjadi lingkaran cinta segitiga.  Alex mencinta Lana tapi Lana menyukai dirinya. Tidak hanya itu Joshua juga mendapati kenyataan kalau Alex telah menjadi pecandu narkoba dan mengidap AIDS. Sedang Lana sempat mengalami pelecehan seksual hingga membuat  gadis itu trauma.

Dan dia pun bertanya-tanya mungkinkah persahabatanya bisa kembali utuh setelah mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi?

Sebuah novel yang mengajaran arti sebuah persahabatan dengan segala intrik dan konflik yang harus diselesaikan. Bahwa setiap orang memang memiliki masalah dan rahasia sendiri-sendiri. Namun memiliki masalah bukan akhir dari kehidupan, karena begitula hidup, bahwa orang tidak akan lepas dari masalah.“Nggak selamanya hidup cuma diisi dengan hal-hal yang baik dan membuat bahagia. Pasti akan ada masalah. Dan sudah seharusnya harus diingat, kalau di ada hal yang baik dalam hidup di balik adanya sebuah masalah. Kalau punya masalah, face it! Cari solusi. Kalau mampu bertahan menghadapi kesulitan apa pun, yakin saja bahwa hidup akan kembali pada titik yang baik lagi.” (hal. 161)

Selain itu novel ini juga mengajarkan untuk saling mendukung dan menguatkan,  mengajak agar hidup tidak diisi dengan terjebak pada masa lalu. “Gue nggak bisa memutar ulang waktu dan berada di sana supaya lo nggak mengalaminya. Tapi gue di sini sekarang buat lo. Yang kita jalanin adalah masa depan, Lan. bukan masa lalu.” (hal. 164) “Boleh, kok kita ngelihat ke belakang, sekadar mengintip. Tapi jangan sampai lo menoleh ke belakang. Apalagi sampai berputar dan kembali ke sana.” (hal. 177) Sahabat akan selalu ada dalam suka dan duka. Novel ini mengajarkan semua itu.

Ditulis dengan gaya santai dan mudah dicerna. Covernya pun menarik.  Hanya ada beberapa kesalahan seperti sempat ditemukan ada campuran sebuah pov, lalu ketidakkonsistenannya dalam panggilan nama dan di akhir bagian novel ini terasa lambat.  Namun, lepas dari semua itu novel ini recomended untuk dibaca. 

Dimuat di Koran Singgalang, Minggu 14 Agustus 2016 

Telat banget tahunya kalau naskah resensi ini dimuat di Singgalang. ^_^


Monday, 26 September 2016

[Resensi] Menjaga Cinta dengan Jalan Hijrah


Judul               : Ku Cinta Kau dan Dia
Penulis             : @DuniaJilbab & Ririn Astutiningrum
Penyunting      : Rarindra Rahman
Penerbit           : Wahyu Qalbu
Cetakan           : Pertama, Juli 2016
Halaman          : 204 hlm
ISBN               : 978-602-74138-9-4
Peresensi         : Ratnani Latifah,penikmat buku dan penyuka literasai alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Membahas cinta memang tidak akan ada habisnya. Karena cinta bagi manusia itu memang sebuah fitrah. Allah menciptakan manusia dengan menanamkan sikap cinta—welas asih. Hanya saja yang menjadi pertanyaan bagaimana menjaga cinta agar berbuah surga? Karena sejatinya cinta itu tidak mudah dipelihara.  Ada adab dan batas-batas yang harus dipatuhi ketika cinta itu datang.  Dan cinta yang paling hakiki adalah cinta pada-Nya. Menyandarkan segala cinta pada Sang Pencipta.

Berdasarkan itu, penulis mencoba mengurai cara menjaga cinta agar berbuah jalan menuju jannah—surga.  Lazim diketahui cinta itu tentang kecondongan hati yang membuat seseorang selalu ingin dekat dan bertemu orang yang dicintai.  Namun hal itu tidak bisa dilakukan jika kunci halal bernama pernikahan belum disahkan.  Di sini adalah tantangan bagi kita dalam menjaga cinta.

Dan agar cinta itu bisa berbuah surga, maka yang perlu dilakukan adalah hijrah. Dalam artian meninggalkan cinta yang belum halal itu dengan berserah pada Allah. Karena hijrah berarti   meninggalkan kekasih hati yang selama ini mengisi, mencintai, menyayangi, melengkapi dan memenuhi ruang hati dan kehidupan kita.  (hal. 27)

Dengan berhijrah kita bisa menjaga hati agar cinta yang kita miliki tidak membawa pada jalan yang salah jika memang belum disahkan—menikah. Memang berhijrah membutuhkan pengorbanan. Itu pasti. Pengorbanan yang harus kita lakukan demi mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar, yakni cinta-Nya yang kelak mengantarkan kita memasuki janah al-ma’wa.  (hal. 31)  Selain itu buku ini mengingatkan bahwa jodoh itu misteri—hanya Allah yang tahu. Sebelum jodoh datang alangkah baiknya sambil menunggu adalah selalu memperbaiki diri. Karena jodoh adalah cerminan diri sendiri.  (hal. 49)

Membaca buku ini mengajarkan arti kesabaran dan keikhlas. Bahwa dalam setiap rencana Allah adalah jalan terbaik yang diberikan. Kita diajarkan untuk tidak mudah putus asa dan menjaga diri agar terhindar dari zina. Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah, tidak berkesan menggurui menambah poin keunggulan buku ini. Selain itu dalam buku ini juga dilengkapi dengan tips  dalam istiqomah dalam hijrah pada Allah. Ada  pula kisah-kisah isnpiratif para sahabat yang berjuang dalam hijrah dan menjaga diri dari

Srobyong, 24 Agustus 2016 

Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Sabtu 24 September 2016