Friday, 12 August 2016

[Resensi] Cara Mengelola Waktu Para Miliarder


Judul               : 99 Perbedaan Cara Mengelola Waktu  Miliarader Vs Orang Biasa
Penulis             : Monica Anggen & Erlita Pratiwi
Editor              : Mira S

Penerbit           :  PT. Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)

Cetakan           : Pertama, November 2015

Halaman          : vi + 306 halaman

ISBN               : 978-602-3752-62-1

Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan penyuka literasi, alumni Unisnu Jepara


 “Kunci kesuksesan terletak bukan pada bagaimana kita menghabiskan waktu, namun bagaimana kita menginvestasikan waktu yang kita miliki secara tepat.” (hal. 15)

Menjadi seorang yang sukses—milarder  itu bukan hal yang mudah. Tapi harus ada kemuan dan usaha keras untuk mewujudkannya. Salah satunya  dengan management waktu yang baik. Banyak anggapan dari orang-orang yang belum tahu bahwa miliarder itu hanya bisa hidup santai dan bermewah-mewahan. Padahal  anggapan itu keliru. Dari buku ini akan  diungkap bagaimana para milarder mengelola waktu yang baik.

Selalu Bangun Lebih Pagi.  Dengan bangun lebih pagi, para miliarder  memiliki waktu yang lebih banyak.  Bisa memulai hari lebih awal daripada orang biasa, bisa berolahraga, menyusun daftar pekerjaan yang harus selesai dan sebagainya. (hal. 3)  

Melipatgandakan Waktu. Artinya  tidak pernah menyia-nyiakan atau menghemat waktu. (hal. 15) Ketika orang biasa terpaksa menghemat waktu kerja demi bisa mengerjakan hal lain, para miliarder melipatgandakan waktu dengan mempekerjakan orang yang bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ingin mereka lalukan. Mereka tidak takut tersaingai atau berbagi peluang usaha berbanding terbalik dengan orang biasa.

Memilih Menghabiskan Waktu dengan membaca. Ini adalah salah satu kebiasan milarder yang bisa diteladani. Mereka tidak ingin menyia-nyiakan waktu hanya dengan bersantai saja. Santai sambil belajar—itulah membaca. Karena dari membaca bisa menyerap banyak informasi. Membaca akan menuntun untuk memperluas pengetahuan, dalam banyak bidang. Hal ini seperti yang dilakukan Mark Zuckerberg—pemilik dan pendiri Facebook ini, mengampanyekan gerakan membaca.  (hal. 22)  Ini adalah cara terbaik dalam memanfaatkan waktu luang.

Memiliki disiplin yang tinggi.  Mereka beranggapan bahwa waktu itu sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan. “Time is money” begitulah semboyan mereka. Jadi mereka selalu bertanggungjawab penuh atas waktu yang dimiliki.  Shoppenhour berkata, “Orang biasa tidak terlalu memedulikan waktu yang mereka miliki, sementara orang bijak tahu bahwa waktu harus digunakan dengan sebaik-baiknya.” (hal. 29) 

Membiarkan Hasil yang Berbicara.  Para miliarder tidak perlu berbicara banyak kepada orang lain betapa pekerjaan yang harus mereka kerjakan dalam sehari melebihi pekerjaan yang bisa dilakukan oleh orang biasa. Daripada banyak bicara, mereka lebih senang menunjukkan hasil pekerjaan mereka secara langsung. (hal. 67)

Selalu Tepat Waktu.  Dalam kamus para miliarder, mereka selalu berusaha datang tepat waktu. Disiplin yang tinggi terhadap waktu, membuat para miliarder mampu menyelesaikan banyak pekerjan dalam satu hari hingga mereka masih memiliki waktu untuk kesibukan lainnya. (hal. 146)

Membuat Rencana Sekaligus Mewujudkannya. Para miliarder selalu bergerak cepat. Mereka tidak hanya membuat banyak rencana tanpa mengaplikasikannya. Namun dalam sekali waktu mereka membuat rencana juga mewujudkannya. Napoleon Hill berpendapat, “Jangan menunggu karena tak akan pernah ada waktu yang tepat. Mulailah dari sekarang dan berusahalah dengan segala yang ada. Seiring waktu, akan ada banyak cara yang lebih baik asalkan mau tetep berusaha.”  (hal. 204)


Selain tujuh cara mengelola waktu yang sudah dipaparkan masih sembilan puluh dua lagi, cara mengelola waktu yang baik. Serta dilengkapi quote-quote inspiratif dan kisah-kisah dari para miliarder itu sendiri.  Buku ini dipaparkan dengan bahasa yang mudah dipahami. Membuka cara pandang  tentang pentingnya mengatur waktu. Hanya saja sekilas buku ini terlalu memandang sebelah pada orang biasa. Tapi lepas dari kekuranganan itu buku ini patut untuk dibaca. Apa lagi banyak kutipan-kutipan yang memotivasi untuk menghargai waktu. Dari beberapa quote, saya sangat suka quote ini, “Anda tidak membuang-buang waktu jika Anda menghabiskan waktu Anda dengan bijak.” (hal. 149) 

Dimuat di Koran Pantura, Rabu 10 Agustus 2016 


Thursday, 11 August 2016

[Resensi] Belajar Sejarah dan Budaya dengan Mengunjungi Museum


Judul               : Jelajah 62 Museum
Penulis             : Nadrah & Hanbun
Penyunting      : Marina Ariyani
Penerbit           : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan           : Pertama, 2015
Halaman          : 248 hlm
ISBN               : 978-602-249-990-9
Peresensi         : Ratnani Latifah, Penikmat buku dan penyuka literas, alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama.

Bung Karno pernah berkata, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri.”  Sebagaimana kita ketahui, bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki berbagai macam budaya dan sejarah. Karena sebelum Indonesia merdeka  banyak napak tilas berbagai kejadian yang pernah ada sebagai bukti jejak perjuangan bangsa—itulah sejarah—kejadian di masa lampau yang bisa dipelajari untuk diamil manfaatnya.

Dan musuem adalah tempat yang mengabadikan jejak sejarah dan budaya bangsa Indonesia. Sebuah tempat yang menunjukkan bukti menghormati jejak para pahlawan di Indonesia.  Di sana terdapat berbagai jenis peninggalan yang bisa kita lihat sebagai bukti outentik dan bisa diambil tambahan ilmu pengetahuan.

Museum sendiri di Indonesia jika dihitung keseluruhannya mungkin  ada tiga ratusan lebih yang tersebar di berbagai kota. Salah satunya di Jakarta yang konon terdapat 62 museum yang harus dikunjungi.  Kita tinggal memilih  musem apa yang dingin dikunjungi, sesuai dengan pengetahuan yang ingin diketahui. 

Misalnya saja jika ingin mengetahui tentang para pahlawan revolusi, maka kita bisa berkunjung ke Museum Paseban yang masih dalam kawasan Monumen Pancasila Sakti.  Diresmikan tangal 1 Oktober 1981 oleh  M.H. Soeharto dan direnovasi 2013. Dalam museum ini terdapat 16 diorama. Di antaranya : pengangkatan jenazah dari sumur maut, upacara pemberangkatan jenazah  Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, dan diorama yang menggambarkan penculikan para jenderal dan pahlawan revolusi lainnya.  (hal. 16) Selain itu ada pula foto para pahlawan revolusi yang gugur sebagai perisai bangsa.

Kalau ingin mengenal tentang budaya Pencak Silat, bisa mengunjungi Museum Pencak Silat.  Sebagaimana diketahui, pencak silat adalah salah satu seni bela diri tradisional yang berasal dari Indonesia dan telah menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia. Museum ini menyajikan infomasi mengenai sejarah pencak silat beserta penyebarannya di tanah air.  Memiliki koleksi berupa busana pencak silat, tetabuhan, pengobatan tradisional dan senjata yang disimpan dalam kotak kaca. (hal. 23)
Dan jika ingin menambah pengetahuan tentang listrik, maka bisa mengunjungi  Museum Listrik dan Energi Baru yang terletak di kawasan  Taman Mini Indonesia Indah.  Diresmikan pada 1995. Museum yang memiliki tiga lantai ini menawarkan banyak hal yang menarik—inovatif dan edukatif. Antara lain : adanya pergaan Reaktor Nukilir PWR (Pressurized Water Reaction). Ada pula ruang Cerdas Energi dan Ruang Cedas Listrik. (hal. 45)

Tidak kalah menarik, jika ingin mengenal keberagaman satwa di Indonesia, bisa mengunjungi Museum Fauna Indonesia Komodo dan Taman Reptilia yang diresmikan pada 1978. Terdapat 500 ekor hewan awetan dari 150 satwa di museum, serta 200 ekor dari 55 jenis satwa, terutama reptil dan amfibi.

Jika ingin mengetahui cerita di balik  secarik kerta bernama teks proklamasi, maka bisa mengunjungi Museum Perumusan  Naskah Proklamasi.  Sebagaimana kita ketahui, teks proklamasi memiliki kaitan erat dengan sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebuah peristiwa penting  yang terjadi pada tanggal 16-17 Agustus 1945 yaitu perumusan naskah proklamasi. (hal. 154-155). Di museum ini kita akan disuguhi  diorama yang menceritakan Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebarjdo ketika merumuskan naskah proklamasi, kronologi perumusan  naska proklamasi, pianao yang  dijadikan tempat Soekarno dan Hatta menandatangani naskah  tersebut, foto dan poster perjuangan, patung dada beberapa tokoh dan lain-lain.

Selain museum-museum yang sudah disebutkan, masih banyak lagi museum di Jakarta yang wajib dikunjungi untuk menambah pengetahuan sejarah dan budaya bangsa Indonesia.  Sebut saja Museum Nasional yang merupakan rekam jejak nyata kebudayaan Indonesia, Museum Sejarah Nasioanl yang adalah rekam jejak sejarah bangsa Indonesia, Museum Kebangkitan Nasional—sebuah museum yang menunjukkan perjuangan baru melalui kekuatan pemikiran pemudah bangsa Indonesia dan masih banyak lagi museum yang bisa dikunjungi.

Berdasarkan kenyataan itu, jika saat ini kebanyakan orang menganggap mengunjungi museum adalah kegiatan yang membosankan, maka anggapan itu salah. Museum adalah tempat yang selayaknya harus dikunjungi oleh warga Indonesia. Karena dari kunjungan itu, selain  bisa menikmati liburan, kita juga bisa menyerap ilmu pengetahuan tentang sejarah dan budaya di Indonesia.

Srobyong, 2 Agustus 2016 

Versi asli ketika mengirim ke Koran Jakarta. Versi pemuatan bisa dibaca di sini

Dimuat di Koran Jakarta, Senin 8 Agustus 2016 




[Resensi] Kisah Kelam Putra-Putri Hurin dan Inspirasinya


Judul               : The Children of Hurin
Penulis             : J.R.R. Tolkien
Alih bahasa     : Gita Yuliani K
Editor              : Poppy D. Chusfani
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, April 2016
Halaman          : 352 hlm
ISBN               : 978-602-03-2703-7
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi almuni Universitas Islam Nadlatul Ulama

Bagi penikmat kisah The Lord of the Rings, sudah pasti mengenal J.R.R Tolkien. Karya karyanya dalam genre fantasi sudah tidak diragukan. Bahkan dia disebut-sebut sebagai ‘bapak’ dari genre fantasi tinggi modern.  Selain The Lord of the Rings, buku lainnya adalah The Silmarilion dan  The Hobbit yang sudah difilmkan. Namun siapa sangka ternyata sebelum terciptanya kisah The Hobbit atau The Lord of the Rings, The Children of Hurin-lah yang lebih dulu ada namun belum menjadi catatan utuh sebagai buku. Karena hal itu,  Christopher Tolkien, putra dari J.R.R. Tolkien menyusun narasi utuh dari naskah ayahnya menjadi novel fantasi utuh yang tidak kalah menakjubkan dari karya-karya sang ayah sebelumnya.

Novel ini berkisah tentang keluarga Hurin—penguasa Edain yang bersahabat dengan kaum Eldar. Pada kala itu Hurin dan saudaranya Huor ikut dalam kelompok pengintai dan mereka diserang pasukan Orc, sehingga mereka terpisah-pisah.  Namun Hurin dan Huor beruntung bisa selamat dan bersembunyi di Gondolin, yang belum pernah dilihat manusia lain. (hal. 38)

Sebenarnya raja ingin menahan mereka agar tetap di Gondilin, karena rasa welas asihnya yang tinggi. Namun baik Hurin maupun Huor memint izin untuk kembali ke bangsanya di Dor-lomin.   Dan mereka berjanji tidak akan menceritakan apapun tentang Gondolin pada siapa pun.

Pada masa berikutnya, Hurin dan Huor ikut dalam peperangan besar gabungan dari pasukan manusia dan bangsa elf melawan raja kegelapan—Morgoth. Namun nahas, Huor gugur dan Hurin tertangkap disendera oleh Morgoth. (hal. 67)  Di sisi lain, Morwen—istri Hurin mengirim Turin—putra Hurin ke Doriath, sesuai pesan suaminya, Sedang dirinya yang tengah hamil tetap memilih berada di Hiltum.

Di depan Morgoth, Hurin dipaksa untuk membuka mulut tentang keberadaan Turgon—putra Raja Fingolfin. Namun dengan keras kepala Hurin menutup mulut.  Dan di Doriath Turin disambut hangat oleh Raja Thingol dan bersahabat dengan Beleg. Dari Beleg, Turin diajari kerajinan kayu, memanah dan cara menggunangan pedang.  Tapi sembilan tahun di Doriath, pikiran Turin terus terpaku pada Morwen dan Neinor—ibu dan adik Turin. Sehingga Turin meminta izin pada Raja Thingol untuk kembali menemui keluarganya.

Di sinilah, petualangan Turin dimulai. Dari pertikaiannya dengan Saeros yang selama ini membencinya karena diperlakukan baik di Thingol dan fitnah yang  berujung dia diusir dari Doriath. Pertemuan Turin dengan para penyamun, lalu pertemuanya dengan Min—sang Kurcaci. (hal 133) Turin mengalami berbagai kejadian-kejadian yang tidak terduga. Kepahitan hidup dan tragedi kelam.

Selain itu Turin juga sempat tinggal di Nargothrond dan berteman dengan Gwindor yang kemudian membuat targedi lain karena keberadaannya membuat hubungan Gwindor dan Finduilas diambang kehancuran. Kekelaman hidup Turin semakin menjadi-jedi ketika dia bertemu Glaurung dan Neinor yang berada dalam pengaruh Glaurung.

Membaca novel ini seperti ikut hidup dalam dunia fantasi bersama para elf dan orc. Seakan terjebak pada labirin yang diciptakan penulis dengan sangat apik dan tertata rapi dan tidak tahu kapan bisa keluar dari sana. Novel ini sangat menegangkan karena banyak kejutan yang tidak terduga sampai pada akhir cerita.

Penggambaran settingnya benar-benar hidup  sehingga tidak terasa tempelan. Pun dengan karakter tokoh yang kuat semakin membuat terhayut dalam novel ini. Hanya catatan kaki pada novel berada di bagian belakang buku, membuat sedikit rikuh karena harus membolak-balik jika ada bahasa yang tidak diketahui.

Lepas dari itu,  novel fantasi ini sangat luar biasa dan patut untuk dibaca. Apalagi bagi para penggemar J.R.R Tolkien. Kisahnya sangat berbeda dari buku-buku sebelumnya yang ada kecondongan pada sedikit humor di The Hobbit atau kepahlawanan di The Lord of the Rings. The Children of Hurin lebih pada kisah kelam yang terjadi karena kebencian Morgoth pada Hurin dan mengutuk keturunan Hurin.

Dari novel ini  mengajarkan, agar kita selalu menempati janji dan memiliki sifat sabar. “Waspadalah saat hatimu panas maupun dingin, dan upayakan kesabaran, kalau kau bisa.” (hal. 92)  Dari quote lain diajarkan untuk menjadi seorang yang bijak dan tidak cepat gegabah,  dan tidak angkuh. “Belajarlah menjadi bijaksana! Kau tidak boleh menjadi pembelot.” (hal. 99). Serta ajakan untuk menjaga lisan yang baik, “Diamlah kalau kau tidak bisa mengucapkan hal-hal baik, dan itu akan lebih bermanfaat bagi kita semua.” (hal. 149)

Srobyong, 22 Juli 2016

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 7 Agustsu 2016

 


Sunday, 7 August 2016

[Resensi] Cara Berkomunikasi yang Baik dan Memikat Hati


Judul               : Cara Mudah Memikat Hati Orang Lain
Penulis             : Dwi Suwiknyo
Penerbit           : Quanta, Elex Media  Komputindo
Cetekan           : Pertama, Desember 2015
Halaman          : v + 151 hlm
ISBN               : 978-602-02-7796-7
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan liteasi, alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Resensi versi 2

Disadari atau tidak, mengetahui cara berkomunikasi yang baik pasti akan sangat berguna dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Mengingat sebagai makhluk sosial, kita akan selalu berhubungan dengan berbagai macam karakteristik. Ketika mengetahui bagaimana cara berkomunikasi yang baik, maka mudah bagi kita untuk memikat hati orang lain sehingga akan timbul kepercayaan dan kenyamanan.

Pertama yang harus  diketahui terlebih dahulu agar mengetahui cara berkomunikasi yang baik adalah dengan mengenali pribadi orang-orang di sekeliling kita. Dengan mengetahui kepribadian orang lain, kita bisa memperkirakan bagaimana cara pendekatakan yang baik sesuai dengan kepribadiannnya.
Menyadari betapa pentingnya membangun komunikasi yang baik, Dwi Suwiknyo menghadirkan buku ini.  Mengulas tentang bagaimana menjadi pribadi yang mudah disenangi karena menggunakan cara berkomunikasi yang baik—lues, sopan dan tetap komunikatif.

Fokus dalam buku ini sesungguhnya sangat sederhana. Dwi Suwiknyo hanya membagi menjadi tiba bagian saja. Mengenalkan tiga rumus yang harus dipraktikan jika ingin menjadi pribadi yang disenangi karena bisa membangun cara berkomunkasi yang baik.

Rumus 6B

Agar menjadi pribadi yang lues dalam berkomunikasi maka seyogyanya mempraktikkan enam rumus ini. Di antaranya selalu berkata benar. Perkataan bisa membuat kesan baik bagi teman bicara yang ditemui. Apakah orang itu jujur atau tidak. Dan kebenaran  akan selalu disukai banyak orang, sehingga dengan sendirinya akan membuat orang lain suka. (hal. 17)

Tidak lupa selalu berkata dengan fasih, sehingga membuat orang lain mudah memahami apa yang diucapkan. Agar tidak terjadi kesalahpahaman.  Dalam melakukan komukasi juga harus membiasakan berkata baik, hormat, lemah lembut, dan  pantas. Semuanya ini harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Agar apa yang dikatakan itu sesuai dengan kenyataan.

Poin penting dalam berkomunikasi adalah selalu berbicara dengan cara yang baik. Berbicara yang baik adalah sumber kebaikan hidup. Bagaimaan cara bertutur kata  dalam berbicara bisa dijadikan penilaian bagaimana kepribadian seserang. Karena biasanya orang yang berkepribadian baik memang lebih suka berkata dengan kata-kata yang  baik. 

Rumus 5S

Pada bagian ini, penulis mengenalkan cara efektif agar orang lain merasa nyaman jika berkomunikasi dengan kita. Apa yang dipaparkan di sini, kesemuanya sudah diprakikkan penulis. Ketika kita mau berkomunikasi yang baik, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah selalu bersikap ramah. Ini kunci dari sebuah komunikasi yang baik.

Memberikan  senyuman  saat mengucapkan salam dan menyapa dan selalu mempraktikkan sopan santun. Penting diketahui bahwa sebuah senyuman memiliki efek luar biasa ketika membangun komunikasi. “Ingatlah, senyuman tidak butuh biaya sedikit pun, tetapi membawa dampak yang luar biasa. Tidak akan menjadi miskin orang yang memberinya, justru akan menambah kaya bagi orang yang mendapatkannya. Senyum juga tidak memerlukan waktu yang bertele-tele, namun membekas kekal dalam ingatan sampai akhir hayat. Tidak ada seorang fakir yang tidak memilikinya, dan tidak ada seorang kaya pun yang tidak membutuhkannya.” (hal. 63)

Rumus 4T

Dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan orang lain, empat rumus ini menyadarkan bahwa sebuah hubungan itu tidak hanya sekadar menyapa dan berlalu pergi. Tapi penting untuk memahami  orang lain, agar sebuah hubungan itu terus berlanjut karena sudah merasakan kenyaman dalam berinteraksi.  Seperti taaruf. Komunikasi akan dirasa lebih nyaman jika kedua belah pihak saling mengenal, hingga kemudian bisa saling memahami. Lalu dengan memahami, maka hal itu   bisa membuat hubungan dengan orang lain  terjalin erat.

Buku ini sangat inspiratif dan sarat makna. Mengenalkan kiat agar bisa membuat orang lain merasa nyaman dalam berkomunikasi. Mengajarkan cara yang baik dalam membangun hubungan di mana pun. Karena dalam hidup bermasyarakat—atau hidup berosialisasi memang tidak baik untuk menjadi pribadi yang mengedepankan egoisme. Karena sikap egois hanya akan membuat orang lain merasa tidak nyaman dan membuat dijauhi.

Dipaparkan dengan bahasa yang ringan dan renyah. Ditambah ada kisah-kisah inspiratif yang bisa diteladani yang semakin membuat nilai tambah pada buku ini. Mustahil semua orang akan menyukai kita bila kita tidak pernah berbuat kebaikan untuk mereka. (hal. 127)

Srobyong, 8 Mei 2016 

Dimuat di Koran Pantura, Rabu  3 Agustus 2016


Thursday, 4 August 2016

[Resensi] Mengenal Reog dan Tari Jathil Melalui Novel


Judul               : Interval
Penulis             : Diasya Kurnia
Penyunting      : Ainini
Penerbit           : Ping, Diva Press
Cetekan           : Pertama, Februari 2016
Halaman          : 176 hlm
ISBN               : 978-602-391-058-5
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Membaca novel ini, akan mengingatkan kita  tentang seni budaya reog yang berasal dari Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo yang dianggap sebagai kota asal kesenian reog. Dalam wikipedia reog sendiri adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat. Namun seiring berjalannya waktu, seni budaya ini pun mulai dilupakan sebagaimana seni budaya lain di Indonesia. Sebuah kenyataan yang membuat miris. Bahkan sempat tersiar Reog Ponorogo malah dikalim sebagai seni budaya Malaysia.

Kisah berawal dari Kinanti seorang gadis SMA yang juga menjadi penari jathil—penari yang menunggang kuda kepang yaitu kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu dan dicat menyerupai kuda di pertujukan tari reog sebagai gambarana pasukan berkuda. (hal. 14)  Sejak kecil Kinanti memang sangat suka menari yang kemudian dari profesi itu dia bisa melanjutkan sekolah hingga SMA.  Mengingat sejak kecil dia hanya dirawat sang kakek yang hanya bekerja sebagai senima pembuatan topeng Bujang Ganong.

Tapi ternyata, pekerjaan yang digeluti Kinanti itu malah membuat dirinya dicap sebagai gadis yang tidak baik dan diperlakukan tidak adil.  Mengingat sebagai penari jathil lekat dengan status sebagai perempuan penggoda. Padahal tentu saja hal itu tidak benar. Kinanti sungguh miris, jika semua orang berpikir seperti itu, maka jathil akan segera lenyap karena tidak diminati generasi penerus. Karena itulah, Kinanti bertekad menunjukkan bahwa penari jathil itu bukan seperti sangkaan kebanyakan orang.   (hal. 16)

Namun tentu saja itu tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi di sekolah Kinanti dijauhi teman-temannya. Hanya Rey—satu-satunya sahabat yang dimiliknya yang juga seorang penari jathil. Rey pula yang selalu mendukung Kinanti agar menjadi seorang yang kuat.  Tapi dari lubuh hati yang paling dalam tentu saja Kinanti berharap orang-orang tidak memandang sebelah para penari jathil dan berusaha untuk menghidupkan seni Reog Ponorogo.

“Aku sendiri merasa sedih karena tak ada lagi yang akan meneruskan budaya leluhur kota ini. Mungkin, di tempat lain, banyak gadis yang tertarik belajar tarian budaya. Tapi, di sini malah tergerus oleh perkembangan zaman. Aku sangat berharap cara pandang masyarakat berubah dan ada gerak pemerintah untuk menyelamatkan warisan ini.” (hal. 168)

Selain mengangkat teman lokalitas, novel ini juga diramu dengan romance yang cukup kental. Tentang kisah cinta Kinanti yang cukup berliku dengan kejutan-kejutan yang dibuat penulis.   Pernah mencintai Dimas secara diam-diam, juga mencintai Carl—guru bahasa Ingrisnya. Dan ternyata ada seseorang yang diam-diam menyukai Kinanti. Tidak ketinggalan juga ramuan kisah tentang persahabatan antara Kinanti dan Rey yang sangat kental.  Serta usaha  Kinanti dalam pencarian kedua orangtuanya yang ternyata berada di Ner York. Dia sungguh ingin tahu alasan kenapa dia ditinggalkan dan dirawat sang kakek.

Diceritakan dengan gaya bahasa yang cukup mengasyikkan sehingga mudah dicerna. Tema lokaliatas dan lika-liku cerita menjadi daya tarik sendiri—menjadi pemicu untuk menamatkan kisah dari novel ini. Hanya saja, pada beberepa bagian novel ini kurang runtut dan terkesan lonta-loncat. Dan sedikit kurang eksplorasi dalam maasalah reog ataupun jathil.

Lepas dari kekuarangnnya, bagi penikmat buku, novel ini tetap asyik dibaca. Ada beberapa pesan yang bisa diambil pelajaran dari novel ini.  Seperti anjuran untuk mencintai seni budaya “Kata Pak Rengga, mencintai seni itu harus dari hati.” (hal. 16) Berusaha untuk melestarikan budaya yang hamir punah.  Atau mengajarkan agar menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dalam segala situasi. Serta sikap toleransi jika ada perbedaan pendapat.


Srobyong, 5 Juli 2016

Ini naskah asli ketika mengirim ke redaksi. Namun pada pemuatannya ada  beberapa pemotongan juga editing pada judul. ^_^ 


Dimuat di Radar Surabaya, Minggu 31 Juli 2016