Saturday, 7 May 2016

[Review] Pentingnya Memiliki Harapan





Judul               : Hope, Terapi Terindah
Penulis             : Indri Listya R
Editor              : Dekik Yassir
Penerbit           : AE, Publishing
Cetakan           : Pertama,  Agustus 2015
Halaman          : viii + 164 hlm
ISBN               : 978-602-1189-59-7

Jika sesuatu yang buruk menghampiri, mengingat Allah adalah yang terbaik untuk menghindarinya. (hal. 149)

Mengingat Allah memang akan membuat hati menjadi tenang.  Dan salah satu agar selalu mengingat Allah adalah dengan melafalkan ayat-ayat-Nya. Al-Quran bisa dikatakan sebagai obat paling mujarab dari berbagai macam obat di dunia juga sebagai sarana berdoa.  Dan harapan adalah sebuah jalan menuju perbaikan. Karena dengan memiliki harapan orang akan terus berjuang untuk mencoba menggapainya. Keduanya adalah dua hal yang harus saling dipadukan agar bisa mewujudkan impian. Namun, bagaimana jika seseorang itu tak memiliki harapan bahkan putus asa hingga memilih jalan salah?

Novel ini menceritakan tentang Claris. Dia mungkin tercukupi dalam urusan materi, tapi untuk kasih sayang, gadis itu merasa ditelantarkan. Ayah dan ibunya terlalu sibuk dengan bisnis keluarga.  Padahal bagi Claris yang terpenting itu bukan masalah materi yang dia dapat tapi mereka bisa berkumpul.

Lalu suatu hari dia bertemu Darrel, sosok yang memiliki nasib sama yang kemudian membuat mereka dekat.  Dari kedekatan itulah kemudian mereka menjalin hubungan. Semula tentu saja semua baik-baik saja. dari Darrel,  Claris merasa mendapat perhatian yang selama ini dicarinya. Dia tidak peduli pada nasihat temannya—Tara, kalau Darrel tidak sebaik perkirannya. (hal.  28)

Tapi siapa sangka, kecurigaan Tara benar, tapi semua telah terlambat. Rasa cinta Claris yang terlampau tinggi telah membuat logikanya tidak berjalan baik. Dia tetap memilih bersama Darrel. Mengikuti segala tindakan yang dilakukan kekasinya itu—mengkonsumis narkoba. Toh, Claris mengakui dengan meminum obat laknat itu dia jadi bisa merasakan kebahagian meski hanya sesaat.
Tapi sepandai-pandainya tupai melompat, akan jatuh juga. Begitupun dengan Claris. Selama ini dia memang menyembunyikan kenyatan bahwa dia menjadi pecandu. Ayah dan ibunya melihat dirinya sedang sakau. (hal.  67) Mereka memaksa Claris untuk masuk rehabilitasi.

Meski berat Claris terus mencoba bertahan demi sebuah harapan yang dipupuknya. Kembali seperti dulu dan berkumpul dengan keluarga. Tapi harapan itu tinggalah harapan ketika sebuah kenyataan yang tidak pernah terduga malah menamparnya. Tapi apakah dia harus kembali hilang harapan?

Mereka mulai sadar, atas kecintaannya pada harta, telah  menjerumuskan cinta yang seharusnya ada. Mengubah yang seharusnya hangat  menjadi dingin. Yang seharusnya terang menjadi kelam. (hal. 67)

Novel ini sangat sarat makna. Diceritakan dengan gaya bahasa yang ringan dan renyah. Sebuah novel yang mengingatkan tentang pentingnya memiliki harapan. Dan betapa pentingnya keluarga sebagai madrasah pertama. Bahwa sebuah kasih sayang itu tidak hanya diukur dengan materi tapi kasih sayang itu sendiri.  

Ada juga bagian tentang spiritual yang membuat kita memahami konsep bahwa hanya pada Allah-lah kita harus bersandar.  Betapa kekuatan iman itu selalu diperlukan agar terhindar dari jalan yang tidak diridhai.

Ingatlah kepada Allah
Dalam keadaan senang atau pun susah
Dalam keadaan sehat atau sesakit apa pun
Allah pasti memberikan yang terbaik. (hal. 125)

Dan kelebihan lainnya adalah tentang masalah ending yang cukup mengehentak. Pada awalnya memang ada bagian yang bisa ditebak, tapi pada babak akhir, ternyata ....

Hanya saja sebagaimana yang diturukan penulisnya masih banyak kesalahan kepenulisan di sini. Tapi lepas dari itu sebagai buku perdana, novel ini segar untuk dinikmati.

Srobyong, 7 Mei 2016


Wednesday, 4 May 2016

[Resensi] Pemikiran dan Perjuangan Pahlawan dalam Pendidikan

Judul               : Sang Guru; Novel Biografi Ki Hajar Dewantara
Penulis             : Haidar Musyafa
Penerbit           : Penerbit Imania
Cetakan           : 1, November 2015
Halaman          : 420 hlm
ISBN               :978-602-7926-24-0
Peresensi         : [Ratnani Latifah, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama  Jepara]

Ini naskah asli sebelum di edit redaktur, 

Raden Mas Seowardi  atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara adalah satu dari Pahlawan Nasional yang ikut berjuang keras demi kemajuan bangsa Indonesia. Khususnya dalam kancah pendidikan. Menurutnya pendidikan itu sangat penting dalam kehidupan semua orang.
Karena itu,  dia berjuang keras agar para inlander juga bisa mendapat pendidikan yang layak. Dan untuk menghormati perjuangannya bertepatan dengan kelahiran Ki Hajar Dewantara—2 Mei diperingati sebagai ‘Hari Pendidikan Nasional.’
Sejak kecil Ki Hajar Dewantara  dididik dengan pendidikan agama olah orangtuanya. Bahwa sesama manusia itu memiliki kedudukan yang sama, yang membedakan hanyalah iman dan takwa dihadapan Tuhan.  (hal. 36) Inilah yang membuat Ki Hajar Dewantara tidak pernah membeda-bedakan kasta dalam menjalin pertemanan.  Selain itu sejak kecil ternyata dia sudah sangat peduli dengan pendidikan. 
Melihat banyak teman-temannya dari inlander yang tidak bisa menuntut ilmu  membuatnya  sedih dan bertekad berbagi ilmu pada  mereka.  Sejak saat itulah Ki Hajar Dewantara memiliki impian dan cita-cita agar kelak bisa membangun sekolahan. (hal. 61)

Namun sebelum benar-benar terjun pada kancah pendidikan, Ki Hajar Dewantara pernah berjuang dibidang politik. Bersama Douwes Dekker dan  Tjipto Mangoenkoesoemo mereka mendirikan IP (Indische Partij) yang pada perkembangannya menjadi NIP (National Indische Partij).  Selain perjuang pada bidang politik, Ki Hajar Dewantara juga aktif dalam dunia  jurnalistik. Banyak tulisan-tulisannya yang mengecam ketidakadilan yang dilakukan Governemen Hindia Belanda dimuat di surat kabar.

Baru pada 1921 Ki Hajar Dewantara memutuskan keluar dari NIP dan memilih fokus berjuang pada pendidikan. (hal. 241)  Dia memilih membantu kakaknya, Kangmas Soerjopranoto yang saat itu sedang merintis taman belajar bagi anak-anak di istana Kadipaten Puro Pakualam.
Lalu berjalannya waktu, Ki Hajar Dewantara ingin membuka sekolah sendiri yang sesuai dengan keinginan dan impian yang dimiliki. Yaitu menjalankan sistem pendidikan yang sesuai dengan kondisi anak-anak inlander saat itu. Agar kelak mereka menjadi manusia-manusia yang mandiri, cerdas, cermat, serta menjadi pribadi yang handal secara lahir dan batin. (hal. 260)

Maka pada tanggal 3 Juli 1922 Ki Hajar Dewantara berhasil mendirikan sekolah sendiri, yang diberi nama “National Onderwijs Instituut Tamansiswa” dengan memiliki tujuh asas dan tujuan. (hal. 266-267) Untuk mengenang peristiwa itu, Ki Hajar Dewantara membuat tetenger—pertanda yang berbunyi. “Lawan sastra Ngesti Mulyo.” Artinya “Dengan menguasai ilmu akan mendatangkan kemuliaan, dan melawan segala bentuk kebiadaban.” (hal. 268) Ki Hajar Dewanatara juga berpendapat, “bahwa pendidikan merupakan sarana yang paling utama untuk membebaskan negeri kita dari kebodohan.”(hal. 278)

Dalam menerapkan sistem pendidikan, Ki Hajar Dewantara meyakini, kalau pendidikan itu tidak boleh diberikan dengan paksaan. Tapi dengan sikap penuh kasih sayang, cinta damai, penuh kejujuran dan sopan santun. (hal. 287)  Peserta didik harus ditempatkan sebagai subjek bukan objek, sehingga bisa seenaknya dipaksa dengan berbagai aturan.

Para peserta didik harus diberi ruang seluas-luasnya untuk meningkatkan potensi diri dengan cara kreatif dan bertanggungjawab sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta didik.

Karena itu, Ki Hajar Dewantara menerapkan tiga semboyan dalam pendidikan di sekolah Tamansiswa; Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani. (hal. 288)

Selain mengembangkan daya pikir dan nalar, Ki Hajar Dewantara juga menekankan pendidikan budi pekerti. Agar karakter anak dapat terbentuk secara baik dan tumbuh berkembang menjadi manusia yang memiliki budi pekerti yang mulia. Ki Hajar Dewantara benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan pendidikan. Perjuangan yang dlakukan Ki Hajar Dewantara terus berlanjut bahkan ketika kemerdekaan Indonesia sudah tercapai.

Sebuah novel biografi yang sarat makna dan inspiratif. Dipaparkan dengan bahasa yang mudah dicerna. Buku ini patut dibaca semua kalangan. Kisah tokoh yang yang disebut sebagai bapak pendidikan nasioanl ini, mengajarkan tentang arti pendidikan yang memang bisa mengubah suatu dunia dengan kepandaian yang dimiliki. Meski ada beberapa kesalahan kepenulisan tetap tidak mengurangi kenikmatan membaca buku ini.


Srobyong, 29 April 2016 
Dimuat di Koran Jakarta, Edisi; Senin, 2 Mei 2016 

Kalau mau baca setelah di editi, bisa cek di sini Korjak [Pemikiran dan Perjuangan Pahlawan Pendidikan]


Sunday, 1 May 2016

[Traveling] Menapaki Gong Perdamaian Dunia



Jejak perjalanan ini sejatinya sudah dua bulan yang lalu—tepatnya 28 Februari 2016. Dan baru ingin menulisnya sekarang. ^_^ hahhh ketahuan kalau suka malas buat nge-blog. But, daripada tidak sama sekali. Mungkin setelah ini akan ada postingan lain, tentang beberapa tempat yang dulu sempat kusamangi, yang memang belum berwujud cerita, karena dulu belum aktif nge-blog. Ich, nggak ada yang nanya hehh.  Sudahlah, abaikan curhat nggak jelas itu.

Bermula dari misi gagal mengambil buku pesanan Hujan-nya Tere Liye, membuatku malas pulang.  Sudah terlanjur keluar juga, pikirku dalam hati.  Ya sudah meski agak mendung, dan memang masih berpotensi bakal hujan, aku nekat saja. [baca memaksa] adik yang selalu siap jadi rider buat Mbaknya ini buat meluncur ke TKP.

“Ayuk, ke Plajan saja. Gong Perdamaian Dunia.” Aku menepuk bahunya.

Dan perjalanan pun dimulai. Tak memakan waktu lama, akhirnya kami sampai di sana. Sesuai dugaanku, gerimis sudah mulai menyapa, ketika kami sampai. 

Sesampainya di sana, aku langsung disambut dengan pemandangan hijau yang entah kenapa selalu membuatku betap berlama-lama menatapnya. Karena kata Nabi Muhammad sendiri, hijau-hijaun itu memang obat mata.  J  Dan lagi aku sangat suka dengan dekorasi penataannya yang seperti taman.



Puas sejenak meliat pemandangan di sana. Aku melihat-lihat dokumentasi foto-foto di sana. Ternyata gong perdamaian dunia itu tidak hanya di Indonesia, tapi juga di beberapa negara lainnya. Seperti Gneva—Swiss, Shancong—China.

Selain ada tempat foto-foto dokumentasi yang membuat kita bisa melihat berbagai kejadian yang dulu sempat terekam.



Ada juga  kendi pansacila, sumur perdamaian, hanya saja sumur perdamainnya tak ke foto :( 




Ada tanah 202 negara yang dimasukkan dalam toples dengan diberi masing-masing bendera negara.  Nah, fotonya ada di bangunan di belakang kami yang narsis, hehh. 




Ada Gong Perdamaian Dunia, Gong Perdamaian Nusantara dengan pesan “Sarana Persatuan dan Pemersatu bangsa."




dan Gong Perdamaian Asian Afrika, yang terdiri dari berbagai bendera negara yang dulu ikut konfersensi  sia-Afrika 1955




dan ada juga semacam  bukti peresmian Gong Perdamaian Dunia oleh Gubernur Maluku, tahun 2012.



Gong Perdamaian Dunia ini sudah berumur sekita 450 tahun, lho. Simbol sebagai perdamaian dunia, agar tidak ada lagi perang terorisme dan konflik saran. Gong Perdamaian dunia terletak di desa Plajan, kecamatan Pakis Aji Jepara. Ada juga di beberapa kota lain, seperti Bali, Ambon, Palu dan lain-lain.

Setelah puas menikmati keindahan dan biasa buat jejek pernah mengunjungi Gong Perdamaian Dunia, kami pun undur diri. Pengennya lanjut ke wisata lain di sekitar Plajan, seperti Akar Seribu atau Air terjun Jurang Nganten. Tapi ternyata Allah belum mengijabahi. Hujan terus deras hingga kami memutuskan pulang saja.  Kami tidak mungkin ke Akar Seribu mengingat jalannya akan sangat berbahaya jika hujan datang.


Kalau mau mampir ke sini, uang masuknya sangat terjangkau. Just 3000 bisa puas menikmati sejarah dan keindahan yang dihadirkan. J

[Traveling] Wisata Sejarah Gua Manik Pecatu Park & Benteng Portugis

Doc. pribadi

Sabtu, 30 April 2016.  Aku bersama adikku—Zali dan temannya—Teguh lalu ditambah Mbak Ami. Kami berempat memutuskan memulai perjalanan ke Pantai Pecatu Gua Manik (Gua Manik Pecatu Park), Banyumanis, Donorojo, Jepara. Kami berangkat kurang lebih pukul satu siang. Membelah panasnya cuaca, mencoba mencari sejumput keindahan alam yang Allah ciptakan.

Kami sangat paham jika untuk mencapai tempat Gua Manik, kami harus melewati perjalanan yang cukup panjang. Melewati jalan berkelok yang hanya berdiri pohon-pohon karet di sepanjang jalan.  Tapi karena memang sudah ada niat, kami pun terus menerjang.

Dimulai dari perjalanan Pasar Mlonggo, melaju mengikuti rute Bangsri lalu melewati  Kembang, dan melewati  Keling.  Di sini, kami sudah disuguhi keindahan alam hutan karet yang memang sudah menjadi rute perjalanan.

Meski perjalannya cukup melelahkan, tapi keindahan jalan yang indah menjadi suguhan hangat tersendiri. Suasana alam sudah sangat terasa sebelum kami sampai di Gua Manik. Alhamdulillah perjalannya termasuk sangat lancar, dua rider—Zali dan Teguh melaju dengan cepat dan tepat. Berbelok-belok mengikuti jalan hingga akhirnya kami sampai di tempat tujuan tepat pukul dua siang.  Lokasinya sekitar 50 meter dari “Rumah Sakit Kusta Donorojo.”

Dan wow, rasa capai yang sempat menjalar, rasanya langsung rontok, ketika sudah tiba di tempat yang sangat luar biasa. Pemandangan hijau yang terhampar dan nampak perbukitan nan indah, membuat kami merekah. Memang Maha Besar Allah dengan segala keindahan yang diciptakan.
Dan Jreng, inilah penampakan Pantai  Gua Manik.

Doc. pribadi


Doc. pribadi

Doc. pribadi


Doc. pribadi



Gua Manik Pecatu Park ini baru dirilis April 2010, lho. Masih cukup mudah ya usianya? Hhehh berasa apa coba.  Pantai ini dibangun dengan  tujuan menyelamatkan dan pemanfaatan aset, pemberdayaan ekonomi masyarakat, menciptakan lapangan kerja di sekitar Gua Manik. [1]

Jika ingin melihat lebih jelas lagi keindahan pantai ini, bisa dengan menaiki mercusuar, atau disebut juga menara padang yang ada tidak jauh dari tulisan raksasa Gua Manik.  Nah ini foto yang diambil dari mercusuar.

Doc. pribadi



Puas menikmati keindahan dan sejenak mengabadikan beberapa moment napak tilas kami pernah menjejak di sana, kami melanjutkan perjalanan untuk menelusuri lagi lebih ke dalam. Mencoba melihat pantai yang terlihat nampak penuh gelombang. Dengan hamparan pasir putih yan bersih dan cantik. Ah, iya dari sini kami juga bisa melihat Pulau Mandalika, dengan cukup jelas dari pantai.

Jujur tujuan kami memasuki lebih dalam kearea Gua Manik, sejatinya karena kami sangat penasaran ingin melihat Gua Manik itu sendiri. Karena kami mengira mendengar namanya itu, pasti bersinggungan dengan sebuah gua. Tapi, sedari tadi kami cari tak ada tanda-tanda ada gua. Kecuali ada sebuah perbukitan yang cukup tinggi. Yang pada akhirnya kami daki. Di sana ada Gardu Pandang. Menikmati indahnya keindahan dengan duduk tenang. ^_^ 

Doc. pribadi


Meski ternyata itu bukan tujuan yang kita cari, tapi melihat pemandangan yang terhampar sangat indah—keindahan perbukitan, pantai dan pulau mandalika dari puncak, mengurangi rasa lelah dan sedikit kecewa. J . Yah, di sana adalah puncak yang biasanya digunkana untuk mendaki.  

Dan kami baru mengetahui setelah turun dari bukit kalau di sini memang tidak ada Gua Manik. Tapi kenapa diberi nama Gua Manik? Ini karena kebetulan letak pantainya berada di Gua Manik. Hhehh.
Tapi ada selentingan sih, kalau sejatinya ada sebuah gua di sana, hanya saja yang bisa melihat gua itu hanya orang-orang tertentu. Biasanya jika ingin melihat harus melakukan puasa mute “puasa dengan buka hanya nasi putih” selama 40 hari.  Wallahua’lam.

Oh ya, bagi yang ingin mengunjungi tempat ini, harga yang diberikan cukup terjangkau. Satu orang hanya 2.500.  Murah tapi pemandangannya indah. Recomended, kan?

~*~

Setalah dari  Gua Manik Pecatu Park, rasanya tidak afdol jika tidak sekalian mampir ke Benteng Portugis.  Karena letaknya memang tidak terlalu jauh. Dan dalam perjalanan, kami kembali disuguhi keindahan perbukitan nan indah yang membuat berdecak kagum. Sayangnya kami tidak terlalu lama, karena mengingat, kami harus menyesuaikan waktu agar tidak kesorean ketika pulang. J


Doc. pribadi


Doc. pribadi


Pernah dengar tentang istilah benteng Portugis? Atau ketika Indonesia masih dalam masa penjajahan. Yup, bener banget. Ini adalah peninggalan dari bukti sejarah itu. Benteng Portugis. Terletak di desa Banyumanis kecamatan Donorojo, Jepara. Tempat yang bersejarah dan juga memiliki pesona pemandangan yang indah.  

Doc. pribadi


Benteng ini, dibangun di atas sebuah bukti batu di pinggir laut. Lalu di depannya terhampar pulau Mandalika, sehingga pulau itu bisa jelas terlihat dari pantai.   

Doc. pribadi


Sebenarnya masih ada beberapa tempat yang asyik dinikmati ketika sampai di benteng Portugis, seperti batu sedimen  yang menjadi salah satu icon di Benteng Portugis juga sebuah gazebo di bagian atas tempat meriam berada. Tapi mengingat waktu sudah beranjak sore, kami memutuskan pulang. ^_^ biar tidak kesorean sampai rumah. 

Oh iya, jika mau ke sini untuk tiketnya memang masih agak mahal di sini daripada di Gua Manik. Tapi tetap terjangkau hanya 4000 per orang.  Murah dapat melihat pemandangan indah. 

[Resensi] Antara Cinta, Kebohongan dan Trauma Masa Lalu


Judul               : Cincin Separuh Hati
Penulis             : Netty Virgiantini
Editor              : Husfani Putri & Astheria Melliza
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, September 2015
Halaman          : 280 halaman
ISBN               : 978-602-03-1932-2
Peresensi         : [Ratnani Latifah, penikmat buku dan penyuka literasi Alumni Unisnu Jepara]

Masa lalu yang kelam kadang memang bisa menjadi trauma yang mendalam bagi siapa saja. Tapi haruskah hidup  itu terjebak pada masa lalu dan menjadi budak ketakutan?

Novel ini menceritakan tentang Nilam yang selalu terjebak dengan masa lalunya—perceraian orangtuanya. Dia selalu takut menjalin komitmen dengan seorang laki-laki karena melihat betapa ibunya harus sakit hati karena dikhianti ayahnya. Dia trauma. Setiap mengingat pengkhianatan sang ayah, dia selalu berkeringat dingin dan mendadak pusing disertai mimpi buruk.  Pengkhianatan ayahnya yang selingkuh itu mengakibatkan ibunya keguguran dan kemudian meninggal, hal itu sungguh menjadi momok ketakutan dan kekhawatirannya. Itulah yang kemudian membuat Nilam bertekad untuk tidak menikah.  (hal. 12)

Lalu pada suatu waktu, Nilam dibingungkan dengan acara reuni yang mau diadakan teman-temannya semasa SMA. Dia sangat ingin datang dalam reuni itu, tapi masalahnya dia tidak mungkin datang sebagai jomblo. Meski dia sendiri tidak bermaksud mau berhubungan dengan laki-laki. Masalah tekadnya untuk tidak menikah adalah hal pribadi dan dia tidak ingin mengumbarnya. Dulu dia selalu bisa menghidari pertanyan permasalahan itu dengan bilang masih menunggu yang cocok di hati. (hal. 13) Namun kali ini sepertinya tidak akan semudah itu.

Demi melindungi gengsi dan bisa menghadiri reuni, akhirnya Nilam menciptakan sebuah kebohongan. Dia mendapat sebuah cincin separuh hati dari  Kanti, istri kakak sepupunya. Dengan cincin itu dia membuat kebohongan. Kebohongan yang kemudian membuat dunianya berubah. Dengan percaya diri dia mengumumkan bahwa dia bertunangan dengan Aryobimo. Dia tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya telah mengubah dunianya.

Seseorang yang bernama Aryobimo datang memintanya untuk bertanggung jawab. Karena akibat kebohongannya rumah tangga laki-laki itu diambang kehancuran.  (hal. 43). Bingung dan tidak menyangka itulah yang kemudian Nilam rasakan. Pertemuannya dengan Aryobimo mengubah jalan hidupnya. Laki-laki itu mengajarinya arti bersyukur terhadap segala masalah yang telah dialaminya dan menyadarkannya bahwa akhir sebuah cinta akan selalu sama seperti yang terjadi pada keluarganya. Bahwa setiap orang memiliki jalan cintanya sendiri-sendiri.

Belum selesai satu masalah, seorang laki-laki datang dan mengaku sebagai adiknya. (hal. 69) Dan memintanya untuk menemui sang ayah yang sakit keras. Tentu saja dia menolak. Dia tidak akan menemui laki-laki yang telah menyakiti dia dan ibunya.  Cerita masa lalu itu pun kembali menjadi hantu bagi kehidupan Nilam. Entah bagaimana Nilam menghadapi bayang-bayang masalalunya. Juga kebohongan-kebohongan yang sudah ditanamnya.  Bisakah dia bisa berdamai dengan waktu atau terus terjebak dalam bayang masa lalu? Juga tentang sebuah perasaan yang kemudian dia sadari bahwa separuh hatinya mengharapkan laki-laki bernama Aryobimo untuk selalu di sisinya.

Novel ini mengajak mengingat tentang apa yang terjadi pada orangtua itu akan selalu diingat anak. Ketika sebuah pernikahan tidak berjalan baik misal terjadi perceraian, pengkhianatan anak akan selalu menjadi korban. Menimbulkan trauma yang akan selalu menjadi bayang-bayang.  Karena itu sudah seharusnya orangtua sudah sewajarnya memikirkan dulu sebelum mengambil keputusan.

Selain itu, novel ini juga memiliki banyak pesan yang bisa diambil.  Antaranya; mengajarkan untuk selalu jujur, karena satu kebohongan akan menciptakan kebohongan yang lain, lalu untuk tidak terjebak masa lalu. “Setiap orang punya garis hidup sendiri-sendiri. Ada takdirnya masing-masing.” (hal. 104) Karena masa lalu hanya akan menjadikan seseorang tertekan, menyimpan dendam. Bahwa masa lalu  harusnya dijadikan pengalaman untuk menjalani hidup yang lebih baik.  “Kita memang nggak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa belajar untuk nggak mengulanginya lagi. Dalam hidup ini, nggak ada jaminan yang pasti untuk sebuah hubungan. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan? Yang kita lakukan hanya berusaha untuk mempertahankannya. Kalau akhirnya terjadi perpisahan, itu sudah risiko dari sebuah hubungan.” (hal. 239) Ada juga pesan yang termaktub dalam kalimat ini, “Janji yang  nggak membawa kebaikan, lebih baik dilepaskan.”  (hal. 260)


Novel ini diceritakan dengan gaya bahasa yang asyik dan mudah dicerna.  Memiliki banyak pesan moral yang bisa diambil manfaatnya, hanya saja endingnya memang mudah ditebak, tapi tetap tidak mengurangi keasyikan membaca untuk menuntaskan cerita ini. Penulis mampu mengajak pembaca untuk ikut merasakan emosi para tokoh. Recomended. 

Dimuat di Koran Pantura; Edisi; Rabu, 27 April 2016