Thursday, 17 March 2016

[Review] Belajar Arti Ketulusan dan Persahabatan dari Novel



Judul               : Bunga Lara
Penulis             : Nay Kiara
Penyunting      : ShaBi Dan
Penerbit           : LovRinz Publishing
Cetakan           : Pertama, 2015
Halaman          : vi + 191 hlm
ISBN               : 978-602-04849-02-7

Endorsement

Ketika sahabat memintamu untuk menikahi untuk menikahi lelaki yang pernah membuatmu hampir bunuh diri, apa yang akan kamu lakukan? Ini novel tentang cinta, persahabatan dan pergaulan yang terjaga. ~Asma Nadia, Penulis 49 Buku Best Seller~

Kisah ini menyadarkan betapa hidup itu penuh kejutan. Seringkali terasa pahit. Membaca novel ini seolah ikut terbawa haru biru nasib-nasib tokoh-tokohnya, sekaligus belajar arti bersabar dan ikhlas serta bagaimana memupuk harapan. ~Arumi E, Penulis Novel Tahajud Cinta di Kota New York dan Hatiku Memilihmu~

~*~

Novel ini menceritakan tentang persahabatan antara dua insan—Rara dan Bunga dengan perbedaan karakter yang cukup mencolok. Mereka memang sama-sama hijaber tapi penampilan mereka cukup kontras—bertolak belakang. Jika Bunga termasuk penganut paham berkerudung lebar, tidak dengan Rara. Dia memakai jilbab namun tetap tampil casual.  Namun mereka tetap klop dan dekat.

Sebenarnya Rara pun sebenarnya dulu pernah berprasangka buruk dengan muslimah macam Bunga, tapi setelah perkenalannya dengan gadis baik itu, Rara baru tahu selama ini dia salah. Jadilah dia malah menjadi sahabat kental itu. Rara bahkan menjadi pembela bagi Bunga yang masih diperlakukan kurang sopan dan suka dicerca.

Masalah terjadi ketika setelah libur kuliah, mendadak Bunga dikabarkan tak sadarkan diri karena disangka melakukan percobaan bunuh diri. Tentu saja hal itu membuat Rara mencak-mencak. Kenapa sahabatnya itu dituduh melakukan perbuatan hina seperti itu? Di mata Rara, Bunga adalah sosok muslimah yang selalu bersahaja, solehah,  baik hati dan selalu pemaaf.  Bunga selalu shalat malam dan puasa senin-kamis. (hal. 24)

Tak terima dengan tuduhan, itu Rara mulai menyelidik apa yang terjadi dengan sahabatnya ketika dia tidak di Bogor. Penyelidikannya itu mempertemukan Rara dengan seorang mahasiswa Ilmu Komputer—David, masih keturunan bule.

Rara sempat mencurigai David, tapi nyatanya cowok itu cukup baik dan malah membantu Rara dalam menjaga Bunga dalam proses penyembuhan. Dan lambat laun mereka pun semakin dekat. David orangnya santai dan asyik.   Rara pun mencoret David dari daftar kecurigaan. Rara kemudian membidik teman-teman ceweknya juga mungkin teman Bunga sendiri, yang notabene dulu suka mengolok-olok Bunga. 

Atau mungkin ada mahasiwi yang tidak suka melihat kedekatannya Bunga dengan Lim hingga melakukan fitnah kejam pada sahabatnya? Memang Lim adalah mahasiswa yang cukup populer dan dikagumi para mahasiswi. Bahkan dia juga merasa  nyaman jika bersama Lim. Dan kebetulan karena satu organisasi Bunga cukup dekat dengan Lim.

Namun lagi-lagi kecurigaan Rara tidak terbukti. Dia pun akhirnya fokus membantu proses penyemuhan Bunga. Mungkin ketika sahabatnya sadar nanti dia akan menemukan jawaban yang sebenarnya. Tapi jawaban yang diterima Rara ketika Bunga sadar malah seperti godaman palu. Jadi selama ini dugaannya benar? Rara sungguh bingung dengan kenyataan yang dihadapinya. Lalu langkah apa yang kemudian akan diambil Rara? Siapa orang di balik kejadian bunuh diri yang menimpa Bunga?

Novel ini diceritakan dengan gaya yang cukup berbeda. Ada beberapa pesan yang bisa diambil dari kisah ini.  Yaitu ajakan untuk selalu bersabar, menjaga ucapan—lisan, bersikap tulus, serta berbaik sangka. Hanya saja masih ditemukan beberapa typo dan  ada beberapa bagian dalam novel ini yang masih terkesan loncat-loncat. Dan pemaparan tokoh berlum terlalu kuat.   

Lepas dari itu semua novel ini memiliki keunikan sendiri dan patut dibaca. Ada quote yang saya suka dari novel ini, mengajarkan arti kesabaran. “Ujian tidak hanya dalam kehidupan, tapi juga dalam sekolah atau kuliah. Jika menghadapi ujian kuliah saya sudah merasa berat bagaimana menghadapi ujian hidup yang pastinya akan lebih dari itu.” (172)

Srobyong, 17 Maret 2016



Wednesday, 16 March 2016

[Review] Antara Cinta, Restu dan Budaya


Judul               : Wajah Sakura di Cermin Dilla
Penulis             : NR. Ristianti
Penata Aksara : Dekik Yassir
Penerbit           : AE Publishing, Dunia Dekik Media
Cetakan           : Pertama, Agustus 2015
Halaman          : x + 226 hlm
ISBN               : 978-602-1189-55-9

Cinta itu memang sejuta rasanya, tapi ketika cinta tidak mendapatkan restu dan berbentur budaya ..., maka jalan mana yang akan kau pilih dalam melangkah?

Novel ini menceritakan tentang kisah cinta yang tak sampai karena terbentur akan budaya dan restu dari orangtua. Hingga Nadia memilih membesarkan hidup dengan caranya sendiri. Serta menyimpan rahasia besar yang entah kapan akan dibeberkan.

Dilla—itulah nama anak Nadia. Benih yang dia dapat dari laki-laki yang sangat dicintainya. Putrinya itu  tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berwawasan luas. Hanya saja Dilla merasa ibunya terlalu sibuk dan tak lagi memiliki waktu untuk dirinya.

Nadia bukannya tidak ingin memerhatikan Dilla. Hanya saja sejak dia memutuskan menangani dua perusahaan, waktunya memang banyak tersita. (hal. 22) Dan semua ini dialkukan demi Dilla. Dia tidak ingin anak gadisnya itu kekurangan. Apalagi sebentar lagi Dilla akan masuk perguruan tinggi.  (hal. 27)

Keduanya memandang permasalah dari sudut pandang masing-masing. Sehingga pertengkaran-pertengkaran kadang tidak bisa dihindari antara ibu dan anak ini.  Puncaknya terjadi ketika Nadia yang sudah janji akan datang pada penyerahan penghargaan karena Dilla memenangkan lomba design, yang ternyata lagi-lagi Nadia ingkar.

Dilla marah dan memilih kabur dengan menginap di rumah salah satu tetangganya—ibu Rara, sahabatnya Dilla.  Namun, dalam pelariannya itu dia malah mendapat kabar ibunya dalam keadaan drop. Dilla sangat khawatir bagaimana jika penyakit lupus ibunya kambuh lagi?

Dari kejadian itu mereka sebenarnya sudah mulai saling memahami satu sama lain. Tapi prahara datang lagi ketika tanpa sengaja Dilla menemukan sebuah kota kayu bercat hitam di kolong lemari. (hal. 55) Dilla menemukan foto mamanya bersama alelaki Jepang. Dan dia baru mengetahui bahwa selama ini mamanya berbohong. Dia bukan anak dari ayah yang selama ini diziarahi.  Dilla pun menuntut penjelasan.

Meski sempat ragu, Nadia akhirnya memilih menceritakan semuanya.  Masa lalu yang selama ini dia simpan. Tentang cinta di masa lalunya ketika berada di Jepang, juga tentang orangtua sang lelaki  yang tidak merestui hubungan mereka.

Karena itu-lah, Dilla akhirnya berada di Jepang. Mencari kebenaran yang selama ini ditutupi mamanya. Hanya saja mampukan Dilla mendapat apa yang diharapkannya? Sebuah kasih sayang dari ayah,  kakek dan nenek? Juga tentang sebuah kisah lain yang dia temukan ketika di Jepang. Pertemuannya dengan pemuda Jepang bernama Taka.  

Satu masalah belum selesai, Dilla kembali dihadapkan pada masalah besar lainnya. Tentang penyakit mamanya yang semakin parah juga permintaan mamanya untuk meminta maaf pada kakek dan nenek dari pihak mamanya. Entah apa lagi yang disimpan mamanya. Dan sanggupkan Dilla memenuhi permintaan mamanya?

Novel ini diceritakan dengan dua pov dari masing-masing tokoh. Membuat cerita terasa lebih hidup. Menunjukkan kepiawaian penulis dalam mengeksekusi naksahnya. Dalam penceritaan setting Jepang pun cukup detail dan hidup.

Hanya saja  dalam pembagian pov-nya terasa kurang seimbang. Masih didominasi Pov Dilla. Karena saya pernah membaca novel dengan pov seperti ini tapi dalam pembagiannya sam porsi. Jadi terasa pas.  Lalu masih banyak  ditemukan typo. Semisal dalam penulis coklat yang harusnya cokelat. Atau kata asing yang harusnya ditulis miring tapi tidak.  Juga agak kecewa ketika ada beberapa lagu Jepang yang dimasukkan tapi tidak diberi arti. Karena tidak semua orang memahami lirik bahasa Jepang. Berbeda dengan lagu Inggris. Jadi kalau dalam lagu itu diberi catatan kaki artinya pasti akan lebih membuat pembaca masuk dalam cerita karena mengeri makna lagu. 

Lepas dari itu semua, novel ini tetap asyik dibaca. Memberi banyak  pelajaran yang berharga. Seperti; bahwa kebahagiaan seorang anak bukan masalah dia diberi harta melimpah, tapi seorang anak juga membutuhkan kasih sayang orangtua.  Sikap keras kepala hanya  akan merugikan diri sendiri dan akan menyiki orang lain.


Srobyong, 16 Marte 2016 

[Review] Ketika Manusia Diperbudak Kebencian dan Dendam



Judul                           : Animu Seven Days
Penulis                         : Ajeng Maharani
Penerbit                       : LovRinz
Cetakan                       : Ketiga, November 2015
Cetakan pertama         : September 2014
Halaman                      : xiv + 251 hlm
ISBN                           : 978-602-71451-0-8

Kebencian dan dendam kadang memang tidak bisa dihindari ketika menyadari hidup yang dijalani tidak sesuai dengan mimpi.  Usaha keras sudah dilakukan, menjadi seorang yang mengalah pun dilakoni, tapi ternyata kepahitan hidup tetap saja menyambangi bahkan mencabik-cabik hingga koyak dan tidak dihargai. Lalu apakah salah jika kebencian dan dendam akhirnya menenggelamkan hati nurani?

Merupakan novel tertralogy yang  terdiri dari empat kisah yang saling memiliki benang merah. Mengangkat tema kebencian dan juga dendam akibat pahitnya hidup yang dijalani. Dan mengalami kehidupan yang tidak adil. Membuat mereka gelap mata Entah apa yang akan dipilih antara tetap berjalan lurus sesuai ajaran atau malah melenceng mencari jalan pintas demi mewujudkan harapan untuk pembalasan.

Semua bermula pada satu tempat—Danau Sinabu. Sebuah tempat yang konon katanya bisa memberikan apapun keinginan sang peminta. Tempat yang konon katanya sangat sulit ditemukan. Bahkan jika pun orang-orang berhasil sampai, sangat jarang dari mereka bisa kembali pulang.   
Kisah pertama dibuka dengan mengenalkan kehidupan Salsa. Gadis cantik yang selama ini memiliki profesi sebagai penyanyi dangdut keliling. Mengikuti jejak mamak angkat yang merawatnya. Pada mulanya kehidupan Salsa baik-baik saja. Tapi karena satu kata “cinta” kehidupan yang semula damai menjadi kacau.  (hal. 4)

Salsa hamil dengan seorang laki-laki yang sudah beristri juga seorang pejabat—Darsono.  Lalu dia dipanggil polisi karena diduga menyebarkan video syur-nya dengan laki-laki itu. Demi dendam. Dan di sanalah bencana yang lebih mengerikan itu bermula.  Membuat Salsa hampir terjebak dalam kematian. Pertemuannya dengan Pak Hakim dan Helmi Sudjaja—komandan kepolisian. Serta pertemuanya dengan Ari—laki-laki pincang yang misterius, tinggal di Pulau Maku-Maku—Kampung Mati. Padahal mamaknya sudah selalu mengingatkan, “Kamu harus hati-hati dalam menetukan langkah. Jangan sampai, keinginanmu malah menjatuhkan dirimu sendiri.” (hal. 11)

Kisah kedua adalah tentang kisah antara Yana dan Nora. Mereka masih mudah, duduk dibangku SMA.  Keduanya saling mencintai. Sayangnya, papa Yana tidak pernah menyetujui hubungan mereka. Karena menurut Helmi Sudjaja, Nora gadis miskin itu tidak cocok bersanding dengan putranya. Lagipula dia sudah berjanji pada Pak Hakim akan  membiarkan anaknya menjadi menantu lelaki kurus itu. (hal. 49)

Demi menghalangi hubungan kedua anak itu, Helmi rela melakukan apa saja. Bahkan dia memburu putranya sendiri. Dan memperlakukan Nora dengan cara biadab. Mengetahui kenyataan ini Yana tentu saja marah dan benci dengan ayahnya. Dia mencerca mengumpat dan berencana balas dendam. Menghantam mobil papanya. Berhasilkan aski balas dendamnya itu?

Kisah ketiga adalah kisah tentang Cuwa—gadis cantik yang dulu periang kini mendadak menjadi sosok gadis yang kehilangan nyawa. Hidupnya seperti arca batu dengan bola mata yang menelanjang. (hal. 139)  Semua terjadi karena kejadian nahas itu, Cuwa ditemukan lunglai di atas tanah tertutupi daun mati dengan tubuh setengah telanjang. Ada bekas tamparan dan lebam di pipi. (hal. 154)

Kejadian itulah yang kemudian membuat dada Guntur gemetar. Kemarahan, kebencian dan dendam. Dan untuk membalas rasa sakitnya itu ...,Guntur berencana mencari Danau bertuah itu. Danau yang dikatakan sakti. Di desa Makui—Pulau Maku-Maku.  Guntur tak memedulikan peringatan orang lain kalau perjalanan ke sana bukanlah pekerjaan mudah. Tapi demi Cuwa dia akan melakukan apa saja. Dia pun mencari perempuan yang katanya pernah sampai di Danau itu—Nandini, dia ingin mengatahui jalan ke sana.

Di sini lain, kisah keempat. Bunga. Wanita Jawa yang dengan sabar menunggu janji sang kekasih—Guntur.  Namun kenyataan yang didapat ketika gadis itu akhirnya memutuskan mencari sang kekasih tak bekabar, malah meremuk redamkan hatinya. Hati Guntur telah berpaling. Pada gadis bernama Cuwa. Tapi Bunga tetap sabar. Dia memutuskan tetap mencari Guntur dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan dia pernah bertemu dengan Ari juga Nora demi menemukan Guntur.  Lalu berhasilkah Bungan menemukan Guntur? Bagimana kelanjutan kisahnya setelah tahu dikhianati dan apakah Guntur berhasil dengan harapannya, membalas sakit hati Cuwa?

Sebuah novel yang membuat penasaran sejak kali membaca. Mengajak pembacanya memasuki labirin panjang  yang entah kapan akan selesai. Cerita dipaparkan dengan gaya khas penulis yang asyik diikuti—renyah.

Novel ini hampir bersih dari typo. Saya hanya menukan satu typo kalau tidak salah. Pada halaman 16. Entahlah mungkin karena keasyikan membaca novel ini.  Sangat recomended. Mengajarkan bahwa demdam dan kebencian jika tidak ditempatkan pada tempatnya hanyalah akan berakhir pada kerugian diri sendiri. Dan menambah banya kosakata baru. 

Srobyong 16 Maret 2016



Friday, 11 March 2016

[Cerpen] Wanita yang Terjebak dalam Kegelapan



Seperti inilah rasanya dicampakkan. Kau berdiri di pojokan jalan, diabaikan seperti kulit pisang yang dibuang sembarang. Orang-orang berlalu –lalang di sekitarmu tanpa menyadari kau betul-betul ada. Tanpa tahu kau sungguh-sungguh nyata. Tak ada yang benar-benar peduli pada apapun penderitaannmu. Atau tumpahan airmatamu. Kau sudah berupaya memantaskan diri. Mendinginkan kepalamu. Melapangkan hatimu. Menarik ujung-ujung bibirmu. Tapi tak ada satu pun yang terjadi padamu. Kecuali, kau kebasahan di dalam hujan.
Dulu aku pikir aku takkan pernah dicampakkan.
Ya. Dulu.
Tetapi segala sesuatu selalu berbeda dari waktu ke waktu. Dan kali ini, hal yang tak pernah kubayangkan akan terjadi, akhirnya terjadi.
Aku menatap langit. Ini hujan atau air mata? Bukankah tadi langitnya biru? Aku ingin tahu mengapa kini begitu gulita.
 ~*~
Sembilan puluh hari yang lalu, harimu masih cerah. Merasakan kenikmatan hidup bergelimang harta dan cinta. Yah, begitulah adanya. Wajah cantikmu  selalu dirindukan. Setiap hari kau mengosoknya hingga selalu bersinar. Memakai baju mahal yang melekat pada tubuh indahmu . Tak ketinggalan berbagai macam aksesoris yang melingkar di leher jenjangmu juga tangannmu yang semulus permata.  Membuatmu semakin menawan.  Siapa yang tidak mengenal dengan dirimu? Wanita tercantik di kota ini. Yang selalu dipuja dan dalam usia muda sudah menjadi wanita sukses membuat banyak wanita lain iri juga mengagumimu. Yah, wajarlah itu terjadi. Kau terlahir dari keluarga kaya dan memang sangat pintar.
~*~ 
          “Em ..., kau cantik sekali, Sayang.” Pria berkacamata itu menatapmu lekat. Dari atas hingga bawah. Menelanjangi setiap jengkal tubuh indahmu. Dan kemudian terpaku pada bibir ranummu. Kau sendiri hanya tersenyum. Merekah. Juga menatap pria di depanmu dengan pandangan menggoda. Mengalungkan tanganmu  pada leher pria di depanmu. Membuat pria itu tak lagi mampu mengendalikan diri, segera pria itu melumat ranum bibirmu dengan bibirnya.  Memujamu dengan cinta. Dan malam pun menjadi saksi  gelung mesra kalian.  Sepasang suami istri yang baru berikrar janji.
            Semua orang tahu. Dia adalah  suamimu. Dari sekian banyak pria yang mengejarmu dan yang coba ayahmu sodorkan, kau memilih pria berkacamata itu. Pria yang menurutmu sempurna. Karena pria itu memang memiliki tubuh tinggi proporsional dengan wajah menawan, hidung mancung dan tatapan mata elang. Sejak dulu memang begitulah seleramu. Selalu tertarik dengan pria-pria yang menawan. Lalu tanpa menunggu lama kau memohon pada ayahmu untuk segera dinikahkan dengan pria itu. Kau bersikeras ingin membangun bahtera rumah tangga dengan pria itu. Tidak dengan yang lainnya. Pria itu pun juga menunjukkan gelagat sama. Berusaha memperjuangkan cinta untukmu. Pram mencoba mengambil hati ayahmu.
            “Ayah, aku sangat mencintai dia. Aku hanya ingin menikah dengan Pram. Bukan yang lainnya.”  Kau membujuk ayahmu, ketika kau tahu ayahmu ingin menjodohkanmu dengan salah satu anak dari  relasi yang dikenal.
            Ayahmu menghela napas. Sikapmu memang sangat keras kepala. Apa yang kau inginkan maka haruslah kau dapatkan. Ayahmu tahu itu. Jadi meski sejatinya ayahmu tidak terlalu setuju dengan pilihanmu, ayahmu memilih pasrah. Membiarkan kau menikah dengan Pram—pria yang entah bagaimana bisa membuatmu luluh dalam sekejap waktu.
            Masih teringat jelas dalam ingatan. Kau bertemu Pram tanpa sengaja di sebuah toko buku. Lalu entah bagiamana ceritanya Pram mengajakmu berkenalan dan terjadilah kisah cinta diantara kau dan Pram. Pria yang menurut ayahmu entah darimana asal usulnya—tidak jelas. Tapi pada kenyataannya Pram juga berhasil mengambil hati ayahmu. Itu sangat hebat. 
            Pernikahan anatara kau dan Pram pun kemudian digelar. Dengan pesta yang spektakuler. Tentu saja.  Hari itu adalah hari terindah dalam hidupmu.
 ~*~
            Pada awal pernikahan kau dan Pram nampak bahagia. Tidak ada tanda-tanda akan ada sebuah tragedi besar. Ayahmu pun sudah ikhlas menerima Pram menjadi menantunya. Pram sudah berhasil mengambil simpati ayahmu. Dan lagi, ayahmu sudah tidak dapat melakukan apapun untuk memisahkan kau dan Pram. Melihat kau sangat mencintai Pram. Dan begitupun Pram. Seolah kau dan Pram itu tidak bisa dipisahkan.  Hati siapa yang tidak luluh?
            Karena itu, ayahmu mulai mendidik Pram untuk menjadi pria berkelas yang bisa dibanggakan. Kau pun menyetujui usul ayahmu. Melihat Pram menggantikan posisimu. Mengurusi perusahaan ayahmu. Kau mengatakan ingin fokus menjadi ibu rumah tangga. Ibu dari anak-anakmu dan Pram tentu saja.
            “Kau yakin akan melepas pekerjaanmu?” Pram menatapmu meminta kepastian di hari kelima belas kau dan Pram menjadi suami istri. Pram duduk di tepi ranjang. Dan kau menyisir rambut panjangmu.
            “Em.” Kamu berbalik  dan menatap suamimu lalu mengangguk pasti. Kau sudah tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi. Sejak kau mengenal Pram, kau hanya fokus pada pria itu. Tidak pernah lagi bergonta-ganti pacar seperti dulu. Kau yakin Pram adalah belahan jiwamu. Jadi kenapa harus takut menyerahkan milikmu?
            “Aku sangat senang jika kamu yang meneruskan perusahaan ayah. Aku yakin kau pasti bisa.” Kau dan Pram saling tatap. Tatapan penuh kasih.  Pram lalu memelukmu erat. Membenamkan tubuh sintalmu dalam dekapannya. Dan kau sangat menikmati saat-saat seperti itu. Hatimu  terasa tenang.
           “Terima kasih sudah mempercayaiku, Ran.” Pram melepaskan pelukan, Pram memegang bahumu. Menatapmu dengan tatapan yang membuncah.
“Aku sangat mencintaimu.” Lalu Pram mengecupmu di dahi dan perlahan lalu ke bibir. “Aku juga.” Kamu membelas apa yang dilakukan Pram. Dan kemudian kau dan Pram pun tenggelam dalam cinta yang membuncah.  Kebersamaan dengan Pram adalah fase terindah yang kau harap akan terus berjalan dan tak pernah luruh.
Namun harapanmu tinggal-lah harapan. Malam itu ternyata malam terakhir sebelum akhirnya kejadian yang tidak pernah kau duga datang.  Pram yang dulunya selalu memujamu, menghujanimu dengan cinta perlahan berubah.  Kau pun menjadi gelisah. Lalu dengan sembunyi-sembunyi  mulai menyelidiki apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Pram.
Dan kau sangat syok dengan kenyataan yang akhirnya kau temukan. Yah, hari ke delapan puluh lima kau dan Pram menjadi pasangan ..., tanpa sengaja kamu mendengarkan semuanya. Di balik munculnya Pram dalam kehidupanmu.  Juga melihat hal yang tak pernah kau bayangkan.
Marah dan kecewa itulah yang kau rasakan kala itu. Gegas kamu pulang dan mencari ayahmu.  Kini kau menyadari bahwa kecurigaan ayahmu dulu benar. Pram adalah penipu. Kau diliputi rasa bersalah. Tapi sampai di rumah kau tak menemuka ayahmu.  Yang ada hanyalah sebuah panggilan singkat yang kemudian membuatmu gemetar.
Kegelisahanmu pun semakin bertambah. Malam itu menjadi malam terpanjang yang kau miliki. Terjebak dalam perasaan yang tak menentu. Kau terus menggigit bibir dan gegas menuju rumah sakit. Kabar yang kau terima itu sungguh menyakitkan. Kau menangis ..., meraung. Menyesali semua yang telah terjadi. Tapi semua sudah terlambat.
Itulah akhir dari kisah indahmu. Kehidupan yang dulunya sangat berpihak padamu perlahan menghilang. Dan semua itu karena pria yang kau cintai. Pria itu ternyata tidak tulus. Hanya memanfaatkanmu untuk kepentingannya sendiri. Menjadikanmu jembatan kesuksesan.
Itulah jawaban kenapa kau di sini. Terjebak dalam kegelapan. Tak ada seorangpun yang memedulikanmu. Tak melihat wujud nyatamu yang menangis dalam rintik hujan. Meski kau sudah berusaha tampil cantik dan menawan, mencoba berlapang dada. Membagi cinta yang sama sekali tak kau inginkan. Tapi tak seorang pun peduli. Pun dengan Pram. Lagipula suamimu itu  sudah memilih wanita lain. Cinta yang sejak dulu disembunyikan dengan rapi. Tak hanya itu Pram pun mengambil segalanya yang kau miliki. Menggenggamnya dengan kepuasan.
Dan satu lagi kenyataan yang harus kau tahu. Pram juga membuatmu tak lagi bernapas setelah membekapmu di hari ke sembilan puluh kau dan Pram menjadi pasangan. Dan kau pun akhirnya meregang nyawa dengan tangan priamu. Kau telah mati. Dibunuh suamimu demi keserakahan yang tak terkendali.

Srobyong, 11 Maret 2016 




Diikutkan dalam tantangan menulis cerpen di Grup Titik Temu

Tuesday, 1 March 2016

[Cerpen] Kotak Penadah Mata


Dimuat di Malang Post, Edisi; Minggu 28 Februari 2016


Kazuhana El Ratna Mida *)

            Kardi menatap lekat kotak persegi yang ada di depannya. Kotak yang sengaja dia beli beberapa hari lalu untuk menyempurnakan ide yang dimiliki, tepatnya mungkin keputusan yang diambilnya. Kardi tak merasa ragu. Toh, dengan melakukan ini, dia bisa menjadi lebih baik dalam menjaga diri—pandangan dan menghapus keburukan yang selama ini telah dilakukannya.

Kardi menarik napas. Memegang kotak, lalu membuka perlahan.  Di sana ada sebuah pisau kecil yang sengaja dibelinya. Dia sengaja memilih yang paling tajam, agar ketika dia mengambil matanya, proses pengambilannya bisa dilakukan dengan cepat. Tanpa ada rasa sakit yang menusuk-nusuk. Kardi pun mulai mengarahkan pisau itu ke wajahnya. Lalu perlahan dia mengambil bola matanya dengan sehati-hati mungkin. Setelah satu bola mata kiri berhasil diambil, segera Kardi memasukkannya ke dalam kotak penadah mata yang ada di depannya. Senyum tersungging di bibir Kardi.
~*~