Thursday, 17 December 2015

[Cerpen] The Stalking

[Dimuat di Majalah Online Panchake. Edisi ke-2, 10 Oktober 2015]


Oleh Ratna Hana Matsura [Kazuhana El Ratna Mida]

Jantungku berdegup keras. Kakiku menegang. Aku menggigit bibir bawahku. Kuremas jemari yang basah oleh keringat. Sementara teriak dalam hati tidak aku pedulikan. Aku menarik napas panjang, lalu membuka mata perlahan. Ketika aku sadar bisikan itu lenyap. Kemudian berganti tepukan pelan di pundakku, yang membuatku sedikit terkejut.

“Kau baik-baik saja?”

Tatapanku tertuju pada sosok Mira yang melihatku bingung. Lantas aku mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

“Kalau begitu sebaiknya kita pulang sekarang.” Dia meraih tangan kananku. Menariknya agar aku berjalan dengan cepat.

Aku tersenyum tipis. Menuruti Mira. Namun dalam waktu singkat sesuatu yang luar biasa terjadi. Senyumku pudar dan sebuah perasaan aneh membuatku begidik ngeri. Hidungku mencium bau anyir, sementara tanganku terasa lengket oleh sesuatu yang begitu kental. Aku menatap Mira. Seketika aku membekap mulut menggunakan tangan kiriku. Aku melihat sesosok hitam besar menatapku dan semuanya mendadak gelap dengan cepat.

~*~

Aku terbangun dengan napas tersengal-sengal. Keringat dingin mengalir di tiap lekuk tubuhku. Mataku mengerjap beberapa kali.

“Dia tidak mungkin mengikutiku,” ucapku lirih. “Bagaimana ini?” Aku memegang kepala yang tiba-tiba terasa pening.

Aku mencoba mengontrol napas untuk berpikir jernih. Dia tidak mungkin mengejarku lagi. Dia sudah mati. Bahkan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Penguntit itu ... dia sudah mati. Aku meyakinkan diri sendiri.

Tap ... tap ... tap!

Aku menelan ludah. Ini sudah tengah malam. Langkah siapa itu? Aku tinggal sendirian di apartemen ini. Aku memegang unjung seprei dengan wajah pias. Bayangan penguntit kembali berkelebat di kepala.

“Tenang .... Aku harus tenang.” Aku berbicara dengan diriku sendiri. Aku tidak boleh panik.

“Penguntit itu sudah mati sehari yang lalu.”

Aku mengingat dengan jelas kejadian itu. Saat itu tanpa sengaja aku yang sedang jalan-jalan dengan Mira dan kecelakaan itu terjadi. Dia terpental saat menyeberang jalan.

Tap ... tap ...tap!

Suara langkah itu kembali terdengar. Aku menelan ludah. Menyentuh tengkuk yang semakin merinding. Aku menatap sekeliling ruangan. Kosong, tak ada apa pun. Lalu kenapa aku merasa ada yang tengah mengintaiku?

Tenang, ini pasti hanya imajinasiku saja, aku membuat persepsi sendiri dalam membatin. Mataku kembali mengerjap ketika sosok tinggi besar membuatku terkejut. Jantungku serasa mau copot.

“Kya ...!” aku berteriak. Memundurkan langkah secara spontanitas. Napasku naik turun tidak beraturan.

“Apa itu barusan? Si penguntit, ‘kah? Tapi—” Aku menggigit bibir. Ketakutanku semakin membesar.

“Kenapa kau menguntitku? Apa salahku?” Aku ingin menangis. Aku mengeratkan tangan pada baju yang kukenakan. Terus memundurkan langkah karena kusadari pasti sosok itu tengah semakin mendekat bahkan aku bisa merasakan napasnya. Napasku tercekat. Aku menutup mata. Aku baru membuka mata secara perlahan ketika kurasakan langkahnya tak lagi terdengar.

~*~

Aku menarik napas panjang. Menetralkan perasaan yang sedang berkecamuk dalam dada. Sampai sekarang, yang masih tidak aku pahami adalah alasan orang itu menerorku. Orang atu ... ah entahlah! Siapa dia? Dan apa maunya? Lagi pula setahuku dia mengalami kecelakaan kemarin.

Aku mendesah. Pikiranku kusut tidak mampu mencerna apa-apa. Aku bersandar di kursi, namun jantungku sontak kembali jumpalitan ketika melihat bayangannya muncul dari balik kaca jendela. Aku menjerit keras dan langsung bangkit. Aku harus pergi dari sini. Segera! Itulah yang ada dipikiranku. Tidak memedulikan jam berapa saat ini. Aku mengambil kunci mobil.

Dalam perjalanan ingatanku terbang pada pertemuanku dengan seorang teman kantor beberapa hari lalu. Kami bertengkar karena beda pendapat. Tapi tidak mungkin bila temanku adalah si penerorku. Aku menggelengkan kepala. Lalu menggigit bibir sendiri. Mungkinkah karena kesalahan itu? Aku menerka mengingat satu rahasia yang sampai saat ini menjadi rahasiaku sendiri. Aib yang pernah aku buat. Tentang aku yang pernah membunuh seseorang.

Mobil kupacu dengan kecepatan tinggi. Ketika menyadari sosok itu telah duduk di bangku belakang dengan tatapan tajamnya yang kudapati dari kaca spion tengah, tiba-tiba saja tubuhku serasa mati. Kaku.

Oh, God, makhluk apa ini? Napasku naik turun. Perlahan aku menghentikan mobil dan buru-buru ke luar meninggalkan sosok itu. Aku berlari sekencang mungkin. Tapi lagi-lagi sosok itu bisa mengejarku.

Aku terjerembab. Dia semakin dekat. Aku menelan ludah yang terasa kering.

“A-apa mau-mu?” tanyaku terbata.

Dia tak menjawab pertanyaanku, tapi dia terus menatapku lekat. Membuatku bergidik ngeri dan ingin segera melarikan diri. Tapi ... entah kenapa tubuh ini beku tak bisa diajak kompromi.

“Ya, kata-kan se-su-at-u!” Aku sungguh ketakutan ketika sosok itu semakin mendekat. “A-pa alasanmu ... mem-per-la-ku-kan ... a-ku seper-ti in-i?”

Grap!

Dia tetap tak menjawab, malah kini dia mencekal kuat pergelangan tanganku. Aku mengeliat berusaha menjauh. Tapi semakin aku bergerak entah kenapa pegangan itu makin kuat membuatku tak bisa banyak bergerak. Aku memohon untuk dilepaskan. Tapi dia tak mendengarkan aku. Dia malah menyeretku, membawaku pada tempat yang membuatku ternganga.

Tempat dengan bau anyir yang membuatku ingin muntah. Lalu pemandangan yang kulihat membuatku ingin memejamkan mata. Sungguh buruk dan menyesakkan dada. Aku tidak ingin melihat ini.

“Kumohon ... biarkan aku pergi pada keluargaku.” Aku menarik napas. “Jangan menggangguku.” Aku berlari menjauh ketika dia mengendurkan cekalanku. Menyusuri jalan yang kuyakini itu menuju rumah orang tuaku. Aku harus minta tolong agar mereka membantuku.

Aku tersenyum senang ketika melihat Mira keluar dari rumah. Aku memanggilnya, tapi dia tak menyahut dan pergi berlalu begitu saja. Kulihat matanya sembap. Aku jadi khawatir padanya. Ingin aku mengejarnya tapi kuurungkan karena kulihat Ibu yang juga tengah menangis sesegukkan.

Bukan hanya Ibu tapi ternyata semua keluarga besarku. Mereka nampak berduka karena sesuatu. Tapi karena apa? Kenapa hanya aku yang tak tahu? Kulangkahkan kaki pada kerumunan orang yang ada di ruang tengah. Dan aku hampir tak bisa bernapas ketika melihat siapa yang tengah terbaring di sana.

Aku menatap sosok yang berdiri tak jauh dariku. Aku ingin kabur tapi dia segera mencekalku. Mengantarkan pada satu tempat yang sungguh kusesali. Seharusnya aku tidak bunuh diri, menabrakkan diri pada mobil di jalan itu.

[Cerpen] Sang Penunggu

[Dimuat di Metro Riau, Edisi; Minggu, 13 Desember 2015]

*Kazuhana El Ratna Mida
            Waktu telah memakan hari-harimu hingga kering kerontang begitupun dengan aku. Kamu terlihat lemas tak berdaya karena masih saja setia menunggu kekasihmu yang tak kunjung datang. Kamu semakin pucat dan kurus tak secantik dulu yang banyak menjadi primadona kota.
            Yah, betapa aku lelah mengingatkanmu untuk pergi saja meninggalkan kekasihmu yang tak setia—menghilang. Namun, kamu tak mau. Kamu bilang kekasihmu pasti kembali lalu menyemai mimpi bersama seperti janji kalian dulu.
            “Ah, lupakan saja dia. Kau harus merawat diri!” marahku padamu.
         “Han, kau itu sangat cantik. Janganlah menyiksa diri,” lanjutku. Namun kamu tetap bersikukuh.  Kamu menggenggam tanganku, meyakinkan aku bahwa kekasihmu tak mungkin mengkhianatimu. Apalagi meninggalkanmu. “Percayalah.” Senyummu terukir indah membuat dadaku sesak. Entah sudah berama lama aku tak pernah melihatmu tersenyum seperti itu. Namun sayang senyum itu bukan buatku, tapi untuk kekasihmu yang tak tahu ada di mana saat ini. Kekasihmu bagai hilang ditelan bumi.
~*~
          

Monday, 14 December 2015

[Resensi] Pulang; Sebuah Perjalanan Hidup



Judul               : Pulang
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Republika Penerbit
cetakan            : 1, September 2015
Halaman          : iv+ 400 halaman
ISBN               : 978-602-082-212-9
Harga              : 65.000,-
Peresensi         : Ratnani Latifah [Penikmat buku dan literasi, berdomisili di Jepara]

Pulang memiliki banyak arti. Di antaranya, jika dia seorang perantau mungkin dia akan pulang ke kampung halaman. Atau bisa jadi pulang ke rumah Tuhan karena jiwanya telah diambil. Pulang juga bisa diartikan kembali jalan Tuhan setelah sekian lama tersesat dalam lembah hitam. Semua orang akan pulang pada tempatnya masing-masing. Itulah hakikatnya. Begitupun Bujang atau lebih dikenal sebagai Si Babi Hutan. Dia harus pulang ketika waktu yang ditentukan telah datang.

Kedatangan Tauke ke Talang, telah merubah hidup Bujang. Atas izin bapak dan ibunya Tauke membawanya  ke kota. Dia diadopsi menjadi keluarga Tong. Salah satu keluarga besar di dunia hitam. Pada awalnya Bujang berpikir bahwa nanti di sana dia akan dijadikan tukang pukul—jagal seperti bapaknya. Namun ternyata dia salah. Di sana dia malah disekolahkan. Pada awalnya dia bersikeras menolak, ingin seperti bapaknya. Namun Tauke menasihatinya, “Masa depan Keluarga Tong bukan di tangan orang-orang yang pandai berkelahi. Masa depan keluarga ini ada di tangan orang yang pintar.” (hal. 55) Pada akhirnya dia menerima keputusan Tauke setelah melakukan kesepakatan bersama. Bahkan pada akhirnya nanti dia bahkan bersekolah hingga keperguruan tinggi di Amerika dan belajar tentang shadow economy.

Namun selain bersekolah, Bujang tetap diajari bagaimana cara berkelahi, menembak bahkan tehnik ninja seperti, menggunakan shuriken yang telah dimodifikasi sesuai zaman saat ini. Sehingga dia mendapat sebutan Si Babi Hutan karena memiliki kehebatan yang luar biasa—pintar, kuat dan tidak terkalahkan. Dia sangat tekenal dikalangan dunia hitam itu. Bujang memang ahli dalam bersiasat.  membunuh, dan melakukan bisnis hitam. Namun ada satu hal yang tidak pernah dilakukannnya, memakan daging babi dan minum khamr. Itulah nasihat terakhir yang diberikan ibunya. Tanpa orang ketahui ..., selain menjauhi makan dan minuman haram itu ..., entah kenapa setiap mendengar adzan subuh ada perasaan aneh yang menyergap hatinya. Namun Bujang selalu menepisnya.

Kemudian dari tahun ke tahun Keluarga Tong pun semakin kuat. Hampir seluruh Kota Provinsi sudah dikuasai. Namun ..., karena kesuksesan itu ..., banyak keluarga lain yang merasa cemburu. Salah satunya Keluarga Lin yang sudah berani mengambil teknologi pemindai yang telah dikembangkan Keluara Tong di Makau. Hal ini yang kemudian memicu perselisahan. Selain perselisihan dari luar, ternyata ada juga perselisihan dari keluarga Tong sendiri—sebuah pengkhianatan orang dalam yang membuat Bujang kaget. Bagaimana mungkin temannya sendiri tega melakukan hal seperti itu? Berusaha mengambil alih kekuasaan dan membunuh Tauke.

Dalam kekecewaan dan rasa tidak percayanya, Bujang menyadari bahwa memang beginilah hidup. Seperti yang terjadi dengan bapaknya. Hidup ini adalah perjalanan panjang dan tidak selalu mulus. (hal.262) yang diperlukan adalah kesabaran. Dari kejadian ini pula, Bujang dipertemukan dengan pamannya—Tuanku Imam. Pertemuan itu mengingatkan padanya untuk pulang ke tempat asalnya. Dan dari pamannya Bujang mengetahui kenapa adzan subuh selalu memanggilnya.  Namun di satu sisi, dia berkeinginan untuk menyelesaikan permasalahan dulu—sebuah kesetian, baru memikirkan apakah dia harus pulang atau tidak.


Novel dengan tema unik namun tetap sarat makna. Sebuah novel yang menceritakan sindikat keluarga yang berkecimpung di dunia hitam. Tapi tetap mengajarkan nila-nilai kehidupan. Bahwa setiap orang selalu punya masalah masing-masing—tidak ada yang sempurna. Lalu menyadarkan akan pentingnya sebuah pendidikan. Selain itu ada juga sisi religi yang bisa ditangkap dalam novel ini. Bahwa menjauhi makan dan minum yang haram bisa memanggil jiwa yang masih terjaga jiwanya, meskipun sudah banyak kejahatan yang dilakukan. Ada pula quote yang mengajarkan kesabaran. Bersabarlah, maka gunung-gunung akan luruh dengan sendirinya, lautan akan kering. Biarlah waktu menghabisi semuanya. (hal. 288). Dan ada pula sebuah nasihat yang mengingatkan bahwa jikalau setiap orang punya masa lalu, manusia tetap bisa berubah. (hal. 341)

Thursday, 10 December 2015

[Review] Cinta Suci di Madinah


Judul Buku                  : 77 Cahaya Cinta di Madinah
Penulis                        Penulis                         : Ummu Rumaisha
Penerbit                       : Al-Qudwah Publishing
Cetakan,                      : 1, 2015
ISBN                           : 978-602-317-023-4
Harga                          : Rp. 49.000,-
Halaman                      : vii+256 halaman

Umat terdahulu adalah suri tauladan yang seharusnya kita contoh—mengidolakan kelebihan-kelebihan yang dimiliki mereka—khususnya para sahabat. Tidak dipungkiri saat ini rasa cinta terhadap sahabat-sahabat nabi mulai tergeser karena kita lebih suka mengidolakn selebritis. Selebritis terlihat lebih hebat. Kita melupakan kehebatan pada sahabat yang rela menjadi syuhada demi kemakmuran Islam. Dengan adanya buku ini penulis memaparkan harapannya agar orang-orang saat ini mulai mencoba meneladani kisah sahabat.

Buku ini akan membahas tentang kisah-kisah sahabat berdasarkan kisah nyata. Kisah yang jika kita membacanya akan membuat kita tahu tentang nikmat cinta yang paling tinggi. Cinta yang  membuat tidak bisa berpaling, ketika sudah mengetahui nikmat cinta suci.  Cinta itu akan membuat dampak ingin selalu berada didekat-Nya. Setiap detik setiap waktu. Bahkan siap mengorbankan jiwa jika memang itu perlu. Begitulah yang dirasakan para sahabat Nabi Muhammad saw. di Madinah. Ketika cinta yang dimiliki hanya disandarkan pada Allah, maka apa pun yang dilakukan itu murni untuk mengharapkan ridha-Nya.  Kecintaan yang berlimpah itu menjadikan Madinah layaknya kota suci yang disinari cahaya terang.

Cinta yang begitu dahsyat itu  terangkum dalam buku 77 Cahaya Cinta di Madinah. Buku ini memaparkan kisah-kisah para pecinta yang luar biasa. Selain memaparkan cinta kepada Allah juga mengisahkan cinta pada sesama manusia dan Rasul. Keikhlasan dan keberanian yang dimiliki sungguh patut diteladani.

Seperti kisah cinta Zainab dan Abu al-Ash bin Rabi’. (hal. 9) Mereka adalah pasangan suami istri yang saling mencintai. Namun setelah kenabian Nabi Muhammad, Zainab memilih ikhlas mengimani  agama yang dibawa ayahnya—Rasulullah saw. Berbeda dengan suaminya yang masih meempertahankan agama lamanya. Meski cinta yang ada di antara mereka tidak pernah sedikit pun berubah. Namun apa mau dikata Rasulullah meminta Abu al-Ash untuk membiarkan Zainab  ke Madinah. Mereka harus berpisah karena perbedaan keyakinan. Zainab sungguh sedih dengan perpisahan itu, apalagi dia dalam keadaan hamil. Tapi perintah Allah adalah yang utama.

Ada pula kisah cinta yang  dialami Zaid bin Haritsah. (hal. 22). Dia dulunya adalah budak Siti Khadijah, namun setelah Khadijah menikah dengan Rasulullah Zaid dibebaskan daan kemudian memeluk Islaam. Dia terkenal sebagai seorang yang rajin membaca Al-Quran, shalat malam dan puasa. Karena keimanan dan cintanya yang luar biasa itu, Zaid mendapatkan sesuatu yang tidak pernah diduga.

Kisah lainnya bisa kita baca tentang Julaibab yang menjadi rebutan bidadari. Dia bukanlah seorang yang tampan—malah lebih tepatnya dikenal dengan seorang yang buruk rupa. Lalu apa yang sebebarnya dimiliki Julaibab hingga dia bisa menjadi rebutan bidadari? Bahkan Julaibab bisa menikahi putri pemimpin Anshar yang cantik jelita.  (hal. 37)

Tak tertinggal kisah Amr bin  Uqaisy ‘Masuk Surga Tanpa Shalat’. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi. Allah memang Maha Besar. Memiliki cara tersendiri untuk mengangkat derajat hamba yang dipilih. Keburukan yang pernah dimiliki di masa lalu, bisa terhapus dengan cahaya terang yang sudah menyapa qalbu. Subhanallah. (hal. 158) Dan tidak kalah apik kisah-kisah lain yang bisa ditemukan dalam buku ini.

Kisah-kisah yang terurai di sini sungguh memancarkan sinar terang, menggetarkan hati dan bisa menjadi cambuk penambah keimanan. Banyak dari kisah yang jarang diuraikan dalam buku-buku sejarah nabi yang hampir serupa.  Apalagi yang dibahas di sini adalah utamanya cinta dari sahabat yang menyinari kota Madinah. Keunikan dari buku ini dari yang lain adalah selain memaparkan cerita-cerita yang jarang diangkat juga mengikutsertakan gambar-gambar yang disesuaikan dengan isi cerita.  Walaupun dalam pemberian gambar terkesan tidak konsisten. Karena sebagian cerita ada yang bergambar ada yang tidak.

Lepas dari kekurangan yang ada, buku ini tetap asyik untuk dinikmati. Dengan menggunakan  gaya bahasa yang mudah dipahami, penulis menceritakan kembali kisah-kisah yang begitu mengharukan. Buku ini sangat sarat makna.  Misalnya mengajarkan kepada kita untuk selalu ingat  pada Allah dan Rasul-Nya, membuat keimanan kita terpupuk dan semakin kokoh, mengajarkan keikhlasan dalam mencintai Allah, serta pada apun yang kita kerjakan. Jika cinta yang kita miliki bersandar pada Allah dan Rasul-Nya. Insya Allah, keberkahan akan selalu menyertainya. Sebuah renungan untuk  bermuhasabah diri. Menyadarkan kepada kita bahwa seyogyanya umat terdahulu adalah suri tauladan yang baik. 




Thursday, 3 December 2015

[Resensi] Ketika Subardjo Menjadi Caleg



Judul               : Namaku Subardjo
Penulis             : Hapsari Hanggarani
Penerbit           : Metamind, Imprint of Tiga Serangkai
cetakan            : 1, Juli 2015
Halaman          :  viii+ 240 halaman
ISBN               : 978-602-72834-0-4

            Sebegitu pentingkah sebuah nama yang moderen itu? Sehingga Jojo alias Subarjdo kehilangan pacar dengan alasan tidak masuk akal. Padahal Jojo memiliki wajah yang lumayan tampan dan tidak pelit kalau masalah traktir mentraktir. “Sori, Jo, aku jadi ilfil kalo ... mmm ... kukira ‘Jojo’ nama asli kamu.” (hal. 15). Ternyata kejadian semacam itu tidak hanya sekali dialami Jojo. Diputus gara-gara namanya tidak keren.

            Kaget dan sedih tentu saja Jojo rasakan. Apalagi ditambah dengan masalah kuliahnya yang tidak juga kelar dan masih berkutat di bab awal dalam tugas akhirnya. Hidup Jojo sungguh suram. Tapi di balik kesuraman hidup itu ..., ada juga sisi keren dari Jojo. Dia adalah pemuda yang berhasil dalam usaha wiraswasta telur asin. Usaha warisan keluarga.

            Dalam masa suramnya ini tiba-tiba saja fenoma caleg merubah hidupnya. Semua gara-gara usul dari Rudy anak buahnya. Terdampar pada dunia caleg, membuatnya memahami bagaimana cara kerja dunia politik di negerinya dan sedikit melupakan patah hati karena memiliki nama yang tidak moderen. Bersama Rudy dan Dina—adik Jojo, mereka mulai berjalan pada jalan yang tidak biasa.

            Jojo sejak awal sebenarnya tidak terlalu tahu politik—bisa dibilang gaptek. Tapi karena sudah menjeburkan diri ..., mau tidak mau dia harus belajar. Belajar membuka jaringan; mengenal dunia politik lebih jauh. Sebagaimana yang dikatakan Rudy. “Membuka jaringan politik itu nggak semudah membalikkan tangan.” “... seperti buang mangga. Boleh saja kulitnya berwana hijau, tapi kalau sudah dikupas ternyata isinya berwarna kuning atau oranye. Atau apel, luarnya merah tapi dalamnya berwarna putih. Atau semangka, berkulit hijau ternyata dalamnya merah .... Jadi dunia politik, sesuatu dan orang-orang di dalamnya nggak selalu sama dengan penampakan luar mereka. Boleh saja bajunya hijau, tapi sebenarnya hatinya kuning dan seterusnya ...” (hal. 79-80)

Untungnya keikutsertaan Jojo buat nyaleg mendapat restu dari orangtuanya. Meskipun  ibunya sempat sangki juga. Apakah menjadi caleg partai Peduli Amat bisa menjamin masa depan cerah. Tepatnya apakah menjadi caleg bisa mendatangkan uang? Bisa biki kaya? (hal. 99)

Karena memang sudah terlanjur ..., mau tidak mau Jojo harus terjun juga. Memulai kampanye untuk menjaring pendukung. Seperti yang digembar-gemborkan Rudy setiap waktu. Meski pada dasarnya Jojo tidak terlalu senang dengan cara yang dipakai. “Kita menolong orang kan biar dapat pahala, kenapa mengharapkan suara? Salah niat, tahu!” (hal. 161) “Rud, apa nggak ada cara lain untuk menarik simpati orang lain selain memanfaatkan musibah orang lain?” (hal. 197)

Lalu pertanyaan yang mengusik Jojo ketika berkampanye. “Memangnya masyarakat kita terlalu matrealistis hingga harus selalu meminta uang dari pada caleg? Atau si caleg yang kegeeran dikira kalau sudah memberi uang, terus bakalan dipilih?” (hal.207)

Jojo sungguh tidak menyangka dengan barbagai jalan yang telah dilakukan demi mensukseskan misi kampanyenya. Walaupun dia memang tidak terlalu ngoyo untuk dipilih. Yang jadi perhatiannya itu ..., malah keadaan ibunya yang tiba-tiba memekik dan  jatuh pingsan. Entah apa yang terjadi. Dan tentang nasib Jojo sebagai caleg ..., kelanjutannya bisa langsung menuntaskan sendiri.


Novel yang unik dengan mengambil tema yang jarang diambil. Hawa segar untuk bacaan yang biasanya lebih sering mengusung tema cinta. Recomended untuk dibaca. Meski ada kesan kurang dalam cerita ini. Tentang arti sebuah nama yang disinggung tapi pada kelanjutannya cerita lebih fokus pada Jojo yang menjadi caleg. Juga tentang karakter Dina yang kurang kuat. Tapi tetap tidak mengurangi keasyikan dalam membaca. Banyak pesan yang sebenarnya dalam di ambil. Tentang seseorang tidaklah harus diukur melalui nama. Dan bagaimana politik di mata masyarakat juga caleg itu sendiri.  [Ratnani Latifah, tinggal di Desa Srobyong-Mlonggo, Jepara]

[Dimuat di Radar Sampit, Edisi; Minggu, 29 November 2015]