Wednesday, 15 February 2017

[Resensi] Kisah Tentang Orang-Orang yang Patah Hati

Dimuat di Koran Pantura, Senin 9 Januari 2017 

Judul               : Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Penulis             : Eka Kurniawan
Penyunting      : Ika Yuliana Kurniasih
Penerbit           : Penerbit Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Maret 2015
Halaman          : vi + 170 hlm
ISBN               : 978-602-291-072-5
Peresensi           : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.


Terdiri dari 15 cerita pendek, buku ini bisa membuat pembaca hanyut memasuki labirin yang entah kapan bisa keluar.  Sebagian banyak cerpen-cerpen yang dituangkan Eka Kurniawan dalam buku ini adalah tentang perasaan terluka—patah hati, dari berbagai kerancauan hidup. Kelebihan dari semua cerpen yang ada di sini adalah, penulis bisa mengusung ide cerita sederhana namun dikemas dengan keunikan tersendiri, sehingga membuat cerita semakin berwarna.

Diawali dengan kisah Gerimis yang Sederhana. (hal. 1) Pertemuan antara Mei dan Efendi. Lalu kehadiran seorang pengemis, yang kemudian membuka tabir  tentang sebuah rahasia. Diceritakan dengan gaya bahasa lugas dan tidak berele-tele.  Eka Kurniawan sangat piawai dalam membuat kisah ini menjadi cerita manis, pahit dan menghentak.

Kemudian kisah Gincu Ini Merah, Sayang. (hal.13) Judulnya saja sudah menarik. Begitupun ceritanya yang ternyata mengangkat tentang seorang PSK. Bagaimana Marni yang akhirnya merasakan cinta dan gayungnya juga disambut. Marni akhirnya menikah dengan Rohmat Nurjaman. Pertemuan mereka di bar Beranda membuat mereka saling jatuh cinta. Dan memutuskan menghapus semua masa lalu. Tapi hanya karena sebiah gincu merah, pernikahan itu mengalami prahara. Entah ada apa dengan dengan keberadaan gincu merah itu.

Cerpen ini diceritakan dengan alur maju mundur. Jadi selama membaca, akan ada potongan puzle yang membuat ingin mengetahui di balik maksud gincu merah.

Cerita ketiga adalah Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.  (hal. 25) Cerpen yang dijadikan judul cover buku ini.  Sebagai sebuah judul memang agak panjang, tapi jangan khawatir, cerita yang ditawarkan akan membuat pembaca merasa puas dengan gaya penuturan penulis.

Maya merasa sangat terluka, ketika pada  malam sebelum menikah, dia ditinggalkan sang kekasih. Yang lebih membuatnya terpukul adalah kekasihnya itu meninggalkan dirinya karena lebih memlih sahabatnya.  Alasan itulah yang kemudia membuatnya mengiris nadi. Hanya saja ternyata dia masih bisa diselematkan.  Dalam masa istrihatanya itu, tiba-tiba dia memperoleh mimpi aneh.

Dalam mimpi itu dia akan memiliki kekasih baru yang tampan dan menjanjikan kehidupan bahagian. Tak hanya sekali tapi berulang kali mimpi itu hadir dalam tidurnya. Dikisahkan kekasihnya itu tinggal di kota kecil Pangandaran.  Namun adakah mimpi itu benar nyata atau hanya sebuah halusinasi?  Ending cerita ini sungguh mengejutkan dan bisa dibilang gila.

Dan sebuah kisah yang tidak kalah menarik adalah Cerita Batu (hal. 77)  Sebagaimana manusia, batu ini memiliki perasaan. Dia ingin dihormati dan tidak suka jika diperlakukan semena-mena.  Pernah suatu hari ada seorang lelaki yang membuatnya dirinya merasa terhina. Sehingga dia bertekad untuk membalas dendam pada lelaki itu.  Entah apa yang dibuat lelaki itu hingga batu merasa marah.

Tapi dalam perjalannya melakukan aksi balasa dendam, dia menemukan kenyatakan yang tidak pernah dia tahu sebelumnya. Kalau ternyata selalu ada kejahatan di mana-mana.

Bagaimana pun Eka Kurniawan berhasil menciptakan cerpen dari kisah-kisah sederhana namun dengan kemasan yang tidak biasa. Sehingga membaca kumpulan cerpen ini, kita bisa menemukan banyak hal-hal baru. Bagaimana mengolah ide yang biasa jadi luar biasa.  Pun bagaimana mengolah gaya bahasa yang sederhana tapi tetap membekas di hati pembaca. Inilah kelihaian penulis yang karyanya memang sudah wara-wiri di berbagai media Indonesia, pernah terpilih sebagai salah satu “Global Thinkers of  2015” dan menjadi penulis Indonesia pertama dalam daftar Man Booker International Prize 2016.

Selain empat cerita itu, cerita yang lain pun tidakalah menarik dan sangat menghibur.  Sebagaimana kisah Kapten Bebek Hijau atau Pelajaran Memelihara Beo.  Sederhana tapi selalu ada kejutan yang diberikan penulis. Ada juga pesan tersirat yang bisa diambil dari buku ini. Bahwa hubungan antara dua manusia itu  jika tidak diikuti dengan saling memberikan kepercayaan, maka keretakan itulah yang akan didapat.  Atau bahwa dendam sejatinya tidak akan membuat perasaan merasa lega. Dan harusnya kita selalu mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan.


Srobyong, 10 Mei 2016 

Thursday, 9 February 2017

[Resensi] Cinta, Persahabatan dan Perjodohan


Judul               : Dear Friend with Love
Penulis             : Nurilla Iryani
Penerbit           : Stiletto Book
Cetakan           : Pertama, Oktober 2012
Tebal               : 146
ISBN               : 978-602-7572-07-2


Dear Friend With Love karya Nurilla Iryani ini novel dengan tema sederhana namun keren dalam eksekusinya. Tema yang diambil perihal cinta, persahabatan dan perjodohan.  Sebuah tema yang sudah umum dipakai bagi sebagian  penulis novel.   Hanya saja tema biasanya ini menjadi luar biasa berkat kelihaian penulis dan memamparkannya. Kisahnya diramu dengan baik hingga membuat novel tetap asyik untuk dinikmati. 

Dalam hal ini penulis memakai sudut pandang tokoh secara bergantian dengan gaya bahasa yang renyah, juga kadang kocak. Tapi itulah uniknya Nurilla, sehingga kisah yang dipaparkan serasa hidup. Pembaca jadi bisa menilai karakter tokoh, entah itu suka atau malah benci dan gregetan.

Novelnya sendiri berkisah tentang Karin yang sudah hampir 8 tahun menyukai Rama, sahabatnya sendiri. Inilah alasan yang membuat Karin memilih jomblo di usianya 25 tahun lebih dua bulan.

Loving someone who doesn’t love you back is such a hell on earth. Especially, when you can’t even show your love for the sake of friendship. Oh, or maybe, you need that friendship for take sake of your love? (hal 1).

Sayangnya, Rama tidak peka dengan perasaan Karin, bahkan dia kerap curhat perihal pacar-pacarnya tanpa rasa bersalah pada Karin. Khususnya tentang Astrid yang akan segera dinikahi Rama.
 

“Again and again. Aku cuma jadi tempat sampahnya Rama bercerita tentang para perempuan itu. Dan di antara sekian banyak perempuan yang pernah dia jadikan pacar, why is it never me?” (hal 6).

Sampai kemudian muncul Adam yang memberi warna pada kisah ini.
  Ternyata Ibu Karin merencanakan sebuah perjodohan dengan putra dari salah satu temannya—yang ternyata teman Karin di masa kecil dulu—yang dulu selalu Karin bully.

Di sinilah, permasalahan mulai timbul. Rencana pernikahannya dengan Astrid ternyata tidak berjalan lancar. Selain Astrid yang lebih rempong dengan segala urusan dan mendominasi semua persiapan bahkan menginginkan Rama memakai setelan baju pink untuk pernikahan mereka.  Lebih parah melarang Rama untuk menemui Karin.  Rama mulai menyadari bahwa hanya Karin yang bisa menerima dia apa adanya.  Dan jujur dia tidak menyukai keberadaan Adam.

Sedang Karin, yang mulai lelah karena tidak mungkin memiliki Rama, lebih banyak menghabiskan waktu dengan Adam, yang entah kenapa selalu membututinya.  Belum lagi dia juga sempat bersitegang dengan Rama.

Merasa telah salah jalan, Rama mencoba kembali mendekati Karin. Dia meminta maaf pada Karin dan mencoba mengulurkan tangan untuk menapaki hubungan baru. Entah kenapa dia baru menyadari  perasaannya terhadap Karin.

Karin sungguh bimbang di satu sisi Rama memang orang dia cintai. Tapi di sisi lain, keberadaan Adam juga sudah memberi warna bagi kehidupannya yang selama ini hanya itu, itu saja. Adam selalu punya caraa untuk membuat Karin bahagia. Tapi relakan dia melepas cintanya demi alasan itu? Apalagi penantian panjangnya selama ini akan berbuah hasil.

Membaca novel ini tidak butuh lama, hanya sekitar 2 jam novel ini kelar saya baca dengan meninggalkan banyak sensasi. Sebel, suka, gemes dan banyak lagi.  Penulis sukses membuat saya baper tingkat tinggi.   Untunglah tebakanku perihal ending bener, duh rasanya makin puas. Tidak mengecewakan meski memang aku bisa menebaknya.
  Tapi keren euy! Suka banget.

Meski ending mudah ditebak bagi saya, tapi novel ini sendiri cendenderung sejak awal sudah memiliki kekuatan, menghipnotis, agar para membaca menyelesaikan kisahnya hingga akhir.  Secara keseluruhan saya tidak kecewa membaca ini. Sebuah novel yang terasa hidup dan renyah banget.

Beberapa pesan yang bisa saya  ambil adalah kita harus selalu  menjaga ucapan, agar tidak menyakiti hati orang lain.  Dan cinta akan datang pada waktunya. Jadi tidak perlu khawatir dan galau tingkat dewa.


Srobyong, 7 Februari 2017 

"Resensi ini diikutsertakan pada campaign #AkuCintaBuku bersama StilettoBook  dan Riawani Elyta."

Thursday, 2 February 2017

[Buku Solo] [Dongeng Fantasi Pembentuk Kepribadian Baik]


~Telah Terbit~

Judul : Dongeng Fantasi Pembentuk Kepribadian Baik 
Penulis : Kazuhana El Ratna Mida 
Penerbit :  Visi Mandiri
Editor : Tin Zulaekha & Anggita Linggar
Penata Letak & Perancang Sampul : Isna Wulandari
Ilustrasi sampul dan isi : Wilsa Pratiwi 
Tebal : 144 halaman 
ISBN : 978-602-317-318-1 
Harga : 50.000

Terdiri dari 15 cerita, buku “Dongeng Fantasi Pembentuk Kepribadian Anak” menawarkan cerita-cerita yang akan mengasah imajinsi anak. Apalagi dalam buku ini dilengkapi dengan gambar full colour.

Selain itu buku ini juga sarat dengan pesan-pesan moral yang mendorong anak untuk memiliki budi pekerti yang baik.

Buku ini bisa dibeli di toko buku terdekat, gramedia atau bisa juga lewat online di bukalapak 

Kisah di Balik Lahirnya Dongeng Fantasi Pembentuk Kepribadian Baik.

Bisa lolos di penerbit mayor adalah mimpi saya sejak dulu, ketika mulai menggeluti dunia literasi. Ada kepuasan tersendiri yang entah bagaimana mengungkapkannya. Dan alhamdulillah kali pertama saya lolos adalah pada naskah ini.  (Buku pertama yang lebih dulu terbit itu malah lolos untuk kedua kalinya). Meski pada mimpi saya dulu adalah menulis novel. Tapi saya tahu Allah pasti memiliki rahasia hingga membuat naskah anak dan non-fiksi yang malah menjadi jalan pertama dalam dunia buku.

Ketika mendengar berita kalau Visi Mandiri dari Ziyad Group sedang membutuhkan naskah, gegas saya mengumpulkan naskah-naskah cerita anak saya. Saya edit lalu satukan. Awalnya kisah ini terdiri dari dua bagian. Yaitu naskah cerita anak biasanya yang berjumlah 11 cerita lalu delapan kisah dongeng fantasi.   

Namun dari penerbit, memberi arahan untuk membagi menjadi dua. Jadi sekali mengirim satu naskah ini akan dijadikan dua buku untuk diterbitkan. Tapi dengan catatan saya harus menambahi beberapa cerita untuk dua buku tersebut.  Saya pun menyanggupinya dengan senang hati. Ini adalah kesempatan.

Saya mengirim naskah ini pada tanggal 30 Desember 2015 dan tanggapannya sungguh menyenangkan, naskah ini langsung acc tidak lama kemudian. Tahu bagaimana rasanya, kan? Ketika mimpi yang sudah lama di pupuk dan kini tumbuh kembang? Antara sedih senang dan terharu. Hhhe lebay, ya ... tapi itulah kenyataannya. Saya semangat empat lima.

Namun ternyata di balik cepatnya proses acc, saya harus bersabar pada proses terbit.  Saya sudah mendapat kabar perihal selesai editing, ilustrasi dan layout itu pada bulan Juli 2016. Kala itu saya pikir, ketika sudah mendapat cover buku akan segera dicetak. Namun saya salah. Buku ini masih harus menunggu daftar cetak.

Di sini kesabaran saya kembali diuji. Tapi akhirnya kesabaran itu berbuah juga. Meski harus memakan waktu hampir satu tahun, buku ini akhinya lahir juga.  :)  


Yuk intip judul-judul kisah dan beberapa ilsutrasi kece yang ada di sini.  





Tuesday, 31 January 2017

[Resensi] Ketika Dua Genius Menghadapi Kasus Pembunuhan

Dimuat di Kabar Madura, Senin 21 Januari 2017 

Judul               : Kesetiaan Mr. X
Penulis             : Keigo Higashino
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Juli 2016
Halaman          : 320 hlm
ISBN               : 978-602-03-3052-5
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Membaca novel ini, kita akan dihadapkan pada analisis kecerdasan. Yaitu kecerdasan dari  fisikawan dan seorang yang genius matematika, dalam mengungkap sebuah kasus pembunuhan.  Menarik dan membuat pembaca ikut berpikir, menebak-nebak  sampai kapan adu kecerdasan itu akan selesai.

Kisah dimulai dengan penemuan mayat di sungai Edo di sisi Tokyo. Mayat itu ditemukan dalam keadaan yang sangat mengenaskan: telanjang bulat; bahkan sepatu dan kaus kakinya tidak ada. Wajahnya hancur seperti semangka dibelah, serta jemarinya juga dibakar.  Selain bekas cekikan di leher, tidak ditemukan luka yang lain dalam tubuh itu (hal 49).

Setelah melakukan penyelidikan, Kusanagi—detektif yang menangani kasus pembunuhan itu, akhirnya mengetahui bahwa mayat itu bernama Shinji Togashi (hal.55). Terungkapnya identitas si mayat, membuat Yasuko Hanaoka—mantan istri Togashi terseret dalam kasus itu dan dianggap sebagai tersangka. Karena konon katanya, meski mereka sudah bercerai Togashi masih sering menghubungi Yasuko.  Bahkan disinyalir Yasuko adalah orang terakhir yang ditemui Togashi.

Kusanagi pun segera mendatangi Yasuko untuk melakukan penyelidikan. Mengecek alibi ibu satu anak  pada tanggal 10 Maret. Meski tidak nyaman Yasuko menjelaskan dengan detail apa yang dilakukannya, dan memastikan dia sama sekali tidak terlibat dalam kasus pembunuhan itu. Merasa belum puas dengan penjelasan Yasuko, Kusanagi mencoba mencari informasi dari tetangga Yasuko. Namanya Ishigami, seorang guru matematika SMA dan penasihat klub judo. Tapi lagi-lagi Kusanagi tidak mendapatkan informasi apa-apa. Karena ternyata Ishigami tidak terlalu dekat dengan tetangganya. 

Merasa buntu dalam menangani kasus ini, Kusanangi berkunjung ke rumah sahabatnya—Yukawa, seorang fisikawan, yang kerap membantunya menyelesaikan kasus.  Kusanangi menjelaskan hal-hal yang mengganjal selama penyelidikan. Seperti alibi Yasuko yang terlalu sempurna, yang malah mengundang rasa penasaran.

Yukawa berkata “Aku sudah bilang, manusia normal tidak akan sampai berpikir menyiapkan tempat penyimpanan  potongan tiket demi sebuah alibi. Apalagi sampai menyelipkannya  dalam pamflet karena  sudah menduga kalian akan datang. Orang seperti itu pantas disebut lawan berat.” (hal. 78).
Tidak ketinggalan Kusanangi menyinggung Ishigami, yang sontak membuat Yukawa kaget tapi juga senang. Yukawa pun mengunjungi, temannya yang sangat genius matematika. Pertemuan dua teman lama itu, pada akhirnya membuka tabir yang selama ini ditutupi   dengan sangat rapat. Yukawa mengetahuis sesuatu, begitupun dengan Ishigami. Hanya saja entah apa yang akan dilakukan dua genius itu ketika menyadari sesuatu yang tengah mereka hadapi saat ini.

Yukawa berkata, “Menurutku cara memecahkan kasus ini adalah menggunakan soal lain, bukannya  soal meruntuhkan alibi. Perbedaannya jauh lebih besar daripada perbedaan antara soal geometri dan fungsi bilangan. Contohnya soal kamuflase—teknik penyamaran. Cara ini sukses membuat polisi tak berkutik.  Saat orang biasa berusaha menutupi kejahatannya serumit mungkin, maka  orang genius tidak akan melakukan itu. Dia akan memilih metode sederhana, tapi tidak pernah terpikirkan atau  bakal dipilih orang biasa.” (hal.241).   

Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah, membuat novel ini sangat asyik untuk dinikmati. Pembaca diajak bersabar mengikuti alur cerita,  bagaimana detektif Kusanagi bisa mengungkap kebenaran dengan bantuan Yukawa.  Selain itu pembaca akan dibuat terkejut dengan sebuah kenyataan tentang adanya pembunuhan lain yang tidak terduga. Novel ini selain berisi upaya pemecahan kasus pembunuhan, diselipkan juga kisah cinta cukup menyentuh.

Mengajarkan bahwa sebaik apa pun kejahatan ditutupi, pasti akan terkuak juga.  Dan memang tidak mungkin seseorang selamanya menyimpan kejahatan yang diperbuatnya. Karena sudah pasti hidupnya tidak akan tenang. “Memang berat menyembunyikan kebenaran. Ia tak akan memperoleh kebagaiaan sejati jika terus menyembunyikan kebenaran. Ia tidak akan bisa hidup tenang karena terus dihantui perasaan bersalah seumur hidupnya.” (hal 310).


Srobyong, 11 Oktober 2016

Friday, 27 January 2017

[Resensi] Menaklukkan Segala Rintangan dengan Sikap Positif

Dimuat di Koran Jakarta, Rabu 18 Januari 2017

Judul               : Kau Tak Pernah Berjalan Sendiri
Penulis             : David Mezzapelle
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, September 2016
Tebal               : xxii + 482 halaman
ISBN               : 978-602-03-2531-6
Peresensi         : Ratnani Latifah, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.


Dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang mudah. Selalu ada banyak masalah yang acap kali menjadi rintangan, sebagai warna  kehidupan.  Buku ini  mencoba menjelaskan bagaimana cara agar bisa menaklukkan segala  rintangan yang kerap kali dialami oleh sebagian orang.   Sebuah buku yang inspiratif dan sangat memotivasi.

Sebut saja Melody Goodspeed. Pada usia 26  tahun dia mempunyai pekerjaan yang nyaris sempurna. Namun siapa sangka beberapa minggu kemudian dia mengalami sesuatu yang mengubah kehidupannya. Dia  kehilangan penglihatan, karena gumpalan darah yang bersarang di kepalanya.  Di sana-lah titik paling rendah dalam hidup Melody. Dia merasa depresi dan putus asa. Bahkan berkeinginan mati.  

Namun Melody sadar kalau dirinya hanya memiliki dua pilihan—menyerah atau berjuang. Dan dia memilih berjuang.  Melody masuk ke pusat rehabilitasi dan belajar hidup sebagai tunanetra. Di sana dia belajar dari instrukturnya, bahwa hidup belum berakhir hanya karena sebuah perubahan.  Dan hidup  tidak pernah memberikan cobaan lebih berat daripada yang bisa kita tangani (hal 22).  Perlahan Melody pun bisa menerimanya dirinya. Bahkan kemudian dia menjadi seorang guru bagi para tunanetra.

Kisah lainnya adalah  Suzanne Miller yang selalu dihantui kanker. Ketika dia kecil ibunya meninggal karena penyakit kanker. Dan ketika dia menikah ternyata suaminya—Rob didiagnosa mengidap tumor otak besar bahkan hingga dirawat di unit perawatan intensif dan meninggal.  Namun tidak cukup pada dua orang yang paling dia sayangi, ternyata dia pun didiagnosa terjangkit penyakit kanker indung telur. Padalah kala itu dia masih harus memikirkan dua anaknya.   Kenyataan itu tentu saja membuat Suzan runtuh, karena dia pikir telah lolos dari takdir yang mengerikan.  Beruntung dia mendapat banyak dukungan dari teman dan saudaranya dari seluruh penjuru dunia. Di sini Suzan seolah mendapat kekuatan dan optimis untuk menjalani pengobatan. Lalu dengan penuh antusias mengayun langkah menuju hidup baru pascakanker (hal 95).

Tidak kalah inspiratif adalah kisah Kimberlee M. Hooper. Ketika berusia 21 tahun dia mengalami  penyakit yang disebut ensefalitis, peradangan akut pada otak.  Dia mengalami kejang dan koma selama beberapa hari dan terbangun tanpa mengingat masa lalu.  Selama laju hidupnya dia selalu dihantui kalau-kalau ensefalitis itu kambuh dan kembali mengambil semuanya lagi—kenangan tentang suami, putrinya, anak yang dikandung, teman dan koleganya.

Namun dia sadar ketakutan itu tidak akan menyelesaikan masalah.  Dia belajar bahwa  yang bisa dilakukannya hanyalah merangkul setiap hari  dan bersyukur atas apa yang dimiliki saat itu. Menciptakan kenangan dan menghargai setiap detik yang bisa dimiliki dengan orang-orang yang dicintai.  Karena masa lalu bukanlah satu-satunya hal yang merumuskan diri. Tapi tindakan dalam membentuk masa depan-lah yang akan menciptakan masa depan yang menyenangkan (hal 188).

Lalu ada juga kisah Emmanuel Ofsu Yeboah. Dia lahir di Ghana 1977  tanpa tulang kering kanan dan kaki kanan yang menggelantung tanpa kekuatan. Dia dianggap anak yang dikutuk sehingga sang ayah meninggalkannya karena malu. Keluarga lain juga teman tidak ada yang menginginkannya kecuali sang ibu.

Dari sang ibu dia belajar untuk tidak mudah menyerah dengan segala keterbatasannya. Dia ingin membuktikan bahwa orang-orang disabilitas pun bisa melakukan hal besar. Emmanuel memutuskan akan bersepeda sejauh enam ratus kilometer berkeliling Ghana.  Dengan bantuan Challenged Athletes Foundation (CAF), organisasi di California yang mendukung atlet dengan disabilitas dan Raja Osagyefuo dari Ghana, yang menyetujui gagasannya, Emmanuel bisa melakukan rencananya.

Dia memulai perjalanannnya dan berhasil mengayuh hampir sejauh 650 kilometer membelah Ghana hanya dengan satu kaki.  Dia menjadi seorang disabilitas yang sangat menginspirasi. Dia mengajarkan bahwa setiap orang bisa mengatasi rintangan selama memiliki percaya diri (hal 199).

Selain beberapa kisah ini masih banyak lagi kisah inspiratif yang sangat menginspirasi. Mengajarkan pada kita bahwa untuk mencapai kehidupan yang bahagia,  kita harus selalu bersyukur bagaimana pun keadaan yang ada.  Menanamkan sikap positif dengan berani menerima segala cobaan dan menghadapinya dengan kesabaran tidak mudah menyerah.  Selalu ada jalan jika kita mau berusaha dan terus mencoba.


Srobyong, 15 Januari 2017 

Atau bisa dibaca di web Koran Jakarta