Sunday, 6 November 2016

Buku : Godaan yang Tak Bisa Dihindari



“Hidup tanpa buku seperti ruang gelap tak berlampu” 
~Titon Rahmawan~ [1]

Melihat buku entah kenapa selalu memberi sensasi yang berbeda. Bahkan saking istimewanya buku selalu menjadi prioritas utama untuk dibeli daripada kebutuhan sekunder lainnya.  Saya rela tidak membeli tas, atau sepatu baru yang penting ada buku baru. J

Karena buku seperti emas yang selalu nampak berkilau di mata. Seperti bunga yang selalu menerbar harum serta sedap dipandang mata.

Laksana sebuah jendela. Terbuka lebar menawarkan banyak pemandangan baru yang tak terduga, tumpukan pengetahuan yang tersimpan bisa selami kapan pun dan di mana pun. Laksana teman yang setia menemani dalam suka dan duka.  Memberi hiburan tatkala saya sedih. Dia menerima saya apa adanya.

Menjadi vitamin menyehatkan jiwa. Laksana lilin yang siap menjadi penerang hati dengan petuah-petuah yang tersimpan rapi. Juga menjadi guru yang tak pernah marah. Melihat tumpukan buku sungguh serasa mendapat tenaga baru. Jadilah berbagai buku menjadi santapan lezat yang tak ingin terlewatkan. Buku adalah godaan yang tak bisa dihindari.  Dia melekat, menempel dengan kuat. Sulit rasanya jika harus berjauhan dengan buku.

Kenapa saya bilang begitu? Maka saya akan mencoba mengulas sedikit bagaimana hubungan yang tercipta antara saya dan buku.

~*~
Awal Perjumpaan

Membicarakan buku itu selalu menarik di mata saya. Dia seolah memiliki magnet yang mampu menarik saya  untuk menempel padanya.  Saya sangat ingat bagaimana awal perkenalan saya dengan buku.

Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu minat baca saya sedang meningkat. Buku-buku kisah Nabi, wali songo dan dongeng menjadi bacaan favorit saya kala itu. Beruntung di rumah kakek saya, buku-buku itu bertebaran di sana. Jadilah saya suka menghabiskan waktu di sana.

Sampai kemudian, kakak saya mulai mengenalkan saya pada kisah-kisah lain—dongeng moderen dan cerpen dari majalah bobo dan fantasi.  Di sini minat baca dan minat buku saya semakin meningkat. Tanpa sadar sejak itu saya sudah jatuh cinta dengan buku.  Dan saya selalu tergoda untuk membelinya.

Di zaman Madrasah Tsanawiyah, saya rela tidak menghabiskan uang saku di kantin. Saya menyisihkannya demi melegakan dahaga saya pada buku.  Berpuluh-puluh majalah dan tabloid menjadi teman setia saya. Saat itu untuk buku seperti novel saya belum mampu membelinya. Saya hanya bisa mengandalkan perpustakaan di sekolah. Mengingat saya tinggal di desa yang belum memiliki toko buku lengkap—bahkan hingga sekarang tidak ada Gramedia di kota saya. Poor me.  :( Apalagi di daerah terpencil tempat saya tinggal. Atau entah karena saya yang terlalu cupu, sehingga tidak tahu di mana ada toko buku.  Dan pastinya belum marak juga penjulana buku secara online.

Beruntungnya di masa Aliyah sudah ada sebuah toko buku di bangun. Di sinilah, saya semakin menggila. Saya berpikir itu adalah kesempatan. Jadi uang tabungan saya habiskan untuk menambah buku saya. Dan kalau pergi ziarah ke Kajen, maka prioritas pertama setelah berziarah adalah berburu buku.  Buku telah mengikat saya begitu erat.

~*~

Alasan Kenapa Tergoda dengan Buku

Kenapa saya bisa tergoda dengan buku? Karena saya meyakini  dengan bersahabat dengan buku saya akan mendapat banyak manfaat. Dan inilah beberapa manfaat yang saya rasakan. Dan pastinya hal ini semakin menggoda saya untuk bisa merengkuh buku sebanyak-banyaknya.

1.             Buku Adalah Sumber Berbagai Ilmu Pengetahuan

Saya sangat percaya, dari buku tersimpan banyak sekali ilmu.  Berbagai macam pengetahuan bisa diserap siapa saja yang mau membaca buku. Bagaimana tidak, jika di dunia ini tak ada buku? Bagaimana ilmu pengetahuan bisa disalurkan? Bagaimana orang menjadi pintar tanpa adanya buku? Media buku adalah sarana yang paling diperlukan di dunia ini.  Menyalurkan berbagai ilmu baik ilmu. Sahabat Ali bin Abi Thalib pernah berkata : “Semua penulis akan meninggal, dan karyanyalah yang akan abadi sepanjang masa. Maka tulislah yang akan membahagiakanmu di akhirat nanti.”

Perkataan ini selain merujuk kita agar menulis juga menyimpan kesimpulan bahwa buku itu akan abadi dan bisa terus disalurkan pengetahuannya untuk orang banyak. Berbeda dengan penulisnya—manusia yang bisa meninggalkan kapan saja.  Coba kita pikir bagaimana ilmu bisa tetap disalurkan tanpa seorang cendekiawan? Maka buku adalah salah satu solusinya. Dia menyimpan ilmu-ilmu yang selalu dibutuhkan di berbagai zaman dari pengetahuan yang dikuiasai penulis.

2.             Buku Sebagai Jendela Dunia

Buku memang laksana jendela yang membuka berbagai bentang dunia di depan mata. Hanya dengan membaca jejak para penulis kita seolah diajak menyusuri setiap lekuk dunia. Keindahan, panorama semua termaktub dan bisa kita akses melalui buku. Dan buku bisa menjadi panduan yang menarik jika kita benar-benar ingin mengunjungi tempat-tempat yang telah dipamerkan pada kita.  sebagaimana yang dikatakan Henry Ward Beecher “Buku adalah jendela Sukma kita melihat dunia luar lewat jendela ini. Rumah tanpa buku bagaikan ruangan tak berjendela.” [2] 

3.             Buku Adalah Sumber Imanjinasi

Degan membaca banyak buku bisa merangsang pembaca untuk menciptakan imajinasi-imajinasi yang tidak terduga. Bagaimana tidak, kenyataan saat ini banyak sekali penulis yang terinspirasi dari sebuah buku bacaan lalu menuangkannya lagi dan sebuah tulisan lain hingga menjadi buku baru. Tentu dalam artian bukan menjiplak, namun memberi rangsangan agar menciptakan sesuatu yang baru dengan sentuhan eksekusi yang berbeda. Karena toh, setiap orang itu memiliki keunikan sendiri dalam menulis. Tema boleh sama tapi cara penyajian baik dari gaya bahasa, plot dan karakter saya yakin beda.  Inilah gunanya membaca.

4.             Memiliki Pancingan untuk Menemukan Ide-Ide Baru

Sebagaimana buku bisa merangsang imajinasi, berbagai ide baru juga bisa didapatkan di sini. Yah, saya merasakannya sendiri. Sebagai seorang yang suka membaca buku, membuat saya juga mencintai dunia kepenulisan. Dan Buku bagi saya adalah tumpukan ide yang bisa digali kapan saja. Setiap kali membaca buku, banyak ide berseliweran yang kemudian bisa saya jadikan cerita menurut versi saya. Dan mungkin di tempat lain banyak orang yang memiliki pemikiran serupa dengan saya.

5.             Menambah Kosa Kata Baru

Ini salah satu kenapa buku menjadi godaan terbesar bagi saya. Dengan menambah koleksi buku dan membaca, saya bisa menyerap berbagai kosa kata baru yang mungkin tidak saya kenal sebelumnya. Yah, mengingat penulis itu terlahir dengan latar belakaang berbeda dan pastinya mereka memiliki keunikan tersendiri sehingga bisa menciptakan hal-hal baru yang kemudian menginspirasi pembaca.

6.             Menghibur

Ini sudah pasti. Buku adalah penghibur yang paling menyenangkan. Alasan inilah yang semakin membuat saya tergoda untuk menjadi pemburu dan pecinta buku. Membaca buku membuat saya bisa melepaskan penat. Dia bisa membuat saya tertawa ketika kesedihan kadang mendera.  

7.             Menjadi Salah Satu Sarana Memperbaiki Diri

Betapa buku memiliki banyak khasiat yang membuat siapa saja tergoda untuk memilikinya.  Termasuk saya. Memiliki dan membaca buku-buku motivasi sudah pasti akan membawa dampak baik. Yaitu mensugesti pembaca untuk meniru dan memperbaiki diri. Kisah inspiratif yang ditawarkan bisa memberi dorongan dan motivasi untuk menjadi seseorang yang terus memperbaiki diri.

Tujuh alasan ini setidaknya memberi saya dorongan untuk selalu mencintai buku. Membuat saya selalu tergoda untuk memilikinya.  Keberadaan buku sungguh berarti bagi yang belum mumpuni dalam berbagai ilmu pengetahuan. Sedang saya sangat ingin menambah wawasan agar otak saya tidak mudah karatan.

Genre Buku yang Menggoda

Jika saya ditanya genre buku apa yang bisa menggoda saya untuk segera membeli dan mengoleksinya?

Maka jujur saya harus mengaku, saya termasuk pecinta buku dengan berbagai jenis genre buku. Bahkan bisa dibilang semua genre. Kecuali yang agak berat—sastra tertentu. Kembali pada selera tentang berat yang saya maksud.

Kenapa saya bisa suka membaca berbagai genre? Oh itu simple karena saya memadang setiap buku sudah pasti menyimpan pesan-pesan tersendiri dan pastinnya bisa memberi saya inspirasi.  Inilah beberapa koleksi buku saya dengan berbagai genre yang campur aduk. Baik itu romance, horor, misteri, non-fiksi, keagamaan, manga , religi  dan buku anak. Semua ini selalu menggoda membuatku ingin memeluk mereka. Menimbun dan berselancar dalam lautan ilmu yang dibentangkan. 

Romance 

Horor & Misteri











Non-fiksi & Motvasi


Buku Anak


Manga Detective & Petualangan


Manga Romance


Andai Hidup Tanpa Buku

Membayangkan jika hidup tanpa buku, maka dunia saya akan gelap. Karena buku itu seperti cahaya. Dia menjadi lilin yang menerangi jiwa. Selain itu buku itu seperti napas yang harus saya hirup agar bisa bertahan hidup. Dan buku laksana makanan yang harus saya makan akan bisa menambah gizi pengetahuan.  Maaf jika agak lebai, hehhh. Tapi inilah yang memang saya rasakan. 

Hal Gila Jika Sudah Menyangkut Buku

Membicarakan hal gila yang pernah saya lakukan sehubungan dengan buku? Saya tidak yakin enntah ini bisa disebut gila atau tidak. Karena ini hanya saya lihat dari kacamata saya sendiri.  Tapi saya tetap akan menceritakannya. J Jujur menjadi orang yang mudah tergoda dengan buku juga membuat saya lebih posesif terhadap buku.  Bagaimana tidak? Buku bagi saya itu seperti harta karun, jadi harus selalu saya jaga sedemikian rupa agar tetap dalam keadan baik dan segar di mata saya.  Ketika habis membeli buku saya langsung menyampulnya dengan rapi. Memberi tanda kepemilikan.

Saya tipe orang yang tidak suka jika melihat buku berantakan. Dalam artian ada lipatan dalam buku untuk dibuat pembatasan buku atau tangan yang kotor menyentuh buku. Pembatasan buku dilipat-lipat. Atau malah tekena tumpahan minyak, teh atau kopi. Aih, jujur saya tidak tahan.  

Alasan-alasan itu menutut saya menjadi orang yang sangat cerewet jika berhubungan dengan buku. Terkhusus bagi mereka yang ingin meminjam buku saya. Bisa jadi orang mungkin akan malas juga. Tapi mau bagaimana lagi?  

Jujur saya kadang ada rasa enggan meminjamkan buku pada orang lain. Karena dalam istana pikiran saya, akan ada banyak pertanyaan-pertanyaan gila mengenai kekhawatiran saya.

“Bagaimana jika mereka tidak merawat buku saya dengan baik?”
“Saya takut buku saya nanti rusak. Padahal selama ini saya selalu menjaganya dengan baik.”
“Bagaimana kalau mereka lupa mengembalikan buku saya?”
“Saya selalu mengembalikan buku pinjama tepat waktu.”
“Bagimana kalau buku saya nanti dilipat-lipat?”
“Saya tidak suka buku dilipat. Karena itu membuat buku terlihat berantakan dan tidak sedap dipandang mata.”

Dan masih banyak pertanyaan dan penyetaan  lain menggema di kepala.   Sehingga ketika ada teman atau saudara yang meminjam saya akan menjelaskan dengan detail bagaimana cara perawatan buku menurut versi saya. Saya akan mewanti-wanti agar buku itu jangan sampai kenapa-napa. Menjelaskan apa yang boleh dilakukan dan tidak bolek dilakukan dengan koleksi buku saya. Lebai, kan?  L Tapi mau bagimana lagi itu demi melindungi buku-buku kesayangan saya.

Lagi pula memang ada kejadian teman yang kalau suka meminjam buku malas  mengembalikannya. Atau kalau dikembalikan,  sampulnya rusak, buku ada lipatan atau bahkan terkena hujan. Duh rasanya mangkel banget. Pengen nangis. Padahal selama ini saya selalu menjaga buku dengan sepenuh hati.  Hal ini membuat saya kadang harus menagih agar segera dikembalikan. Tidak enak, sih harus meminta-minta, tapi salah dia sendiri meminjam kok tidak bertanggungjawab.  Padahal jika saya meminjam saya akan menjaga buku pinjaman dengan baik dan mengembalikannya tepat waktu. L

~*~

Kisah lainnya adalah masalah saya dalam memanage uang jika berhubungan dengan buku.  Jangan tanya seberapa saya ini terlalu boros jika menyangkut buku. Hal ini-lah yang kadang menjadi pemicu bagi saya dimarahi orangtua. Saya dianggap boros dan buang-buang uang L Duh salah lagi.

Karena seberapa pun uang yang saya pegang jika ke toko buku atau bazar sudah dipastikan akan habis. Bahkan kadang mengambil jatah uang lain demi menuntaskan rasa haus dengan buku.  Ini sungguh di luar kendali. Melihat buku di rak-rak  itu seolah memanggil saya untuk segera membelinya.  Mata saya langsung hijau dan ingin memborong semuanya. Hhheh.  Duh, buku kenapa kau selalu menggodaku? 

Yah, saya tidak peduli, meskipun di rumah sudah banyak buku menumpuk dan antri dibaca, jika memang ada buku baru yang menggoda iman, pastinya akan saya beli.  Kalau tidak beli itu bisa membuat saya gelisah dan kepikiran terus. Jadi lebih baik beli dulu saja. Masalah baca nanti bisa diatur waktunya. J Yang penting buku sudah di tangan dulu. Hhehh.

Buku memang selalu menjadi godaan yang paling sulit dihindari.  Tapi selain itu,  buku adalah  teman suka duka, teman paling setia.  

“Buku adalah teman yang paling tenang dan konstan; mereka adalah konselor paling mudah dan bijaksana, serta guru yang paling bijak.”


Srobyong, 6 November 2016 

Ket
[3] Kumpulan Kutipan Tokoh


Alhamdulillah menjadi juara 3 dari Giveaway Kisah Antara Aku dan Buku

Thursday, 3 November 2016

[Resensi] Belajar Bangkit dari Kegagalan para Triliuner Dunia

Dimuat di Koran Jakarta, Selasa 1 November 2016

Judul               : Perbedaan Cara Bangkit dari Kegagalan Miliarder Vs Orang Biasa
Penulis             : Monica Anggen & Erlita Pratiwi
Penerbit           : Grasindo
Cetakan           : Pertama, April 2016
Halaman          : 316 hlm
ISBN               : 978-602-37-5419-9
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Setiap  orang pernah gagal. Hidup seperti roda berputar. Ada masanya jaya. Ada pula surut. Buku ini mengungkap, kiat para miliarder bangkit  lagi setelah jatuh. JK Rowling, sebelum sukses pernah gagal. Buku pertamanya, Harry Potter, 12 kali ditolak penerbit. Namun dia tidak menyerah.  JK Rowling gigih memperjuangkan karyanya. Dia terus menawarkan naskahnya sampai akhirnya terbit dan menjadi buku paling laris sepanjang masa.
Dia pernah berkata, “Tidak mungkin hidup, tanpa gagal, kecuali kita sangat berhati-hati dalam menjalani hidup sehingga bisa diartikan belum memiliki kehidupan sama sekali. Dalam hal ini, kita sudah gagal,”  (hal 2).  Jadi, kegagalan bukanlah akhir segalanya. Kalau ingin sukses,  harus gigih dan berani memperjuangkan nasib.  Tanamkan pola pikir positif. Selama memiliki semangat untuk mencoba lagi dan tetap gigih, kesempatan mencapai kesuksesan selalu ada (hal 7).
Kisah inspiratif lain bisa diambil  dari Elton John, penyanyi dan pencipta lagu asal Inggris. Dia peraih Grammy Award.  John pernah gagal karena kesalahan sendiri. Dia tidak menyerah.  Dia sadar boros telah mendorongnya ke jurang kemiskinan. John pun  segera menyadari kesalahannya, memperbaiki dan bangkit dari kegagalan. Akhirnya pada November 2002, dia bisa bangkit dengan meluncurkan album greatest-hits yang laris manis (hal 33).

Ada juga kisah Bill Bartman, pengusaha, pendiri dan mantan CEO perusahaan jasa penagih utang bernama Commercial Financial Service (CFS). Dia juga penulis buku. CFS ditutup dan dinyatakan bangkrut.  Saat itu  dia dituduh curang dalam meningkatkan perusahaan dengan memanipulasi laporan keuangan,  bersama rekan bisnisnya, Jay Jones.
Setelah diselidiki, ternyata hanya Jones yang melakukan tindak kejahatan itu.  Bill dinyatakan tidak bersalah.  Meski sudah bangkrut, dia tidak mau berhenti begitu saja. Dia tahu kegagalan merupakan peringatan, agar lebih berhati-hati dalam melangkah. Kegagalan merupakan pendorong agar mencari cara lain yang lebih baik agar mendorong kesuksesan (hal 36).  Benar saja pada  tahun 2005, ketika menuliskan pengalaman hidupnya berjudul Billionaire Secret to Success, buku itu menjadi bestseller. Begitu pun dengan buku lainnya Bailout Richess yang ditulis tahun 2009 paling laris di Amazon.

Tidak kalah inspiratifnya kisah Donald Trump menghadapi kegagalan. Pengusaha real estate sukses dengan kekayaaan mencapai satu miliar dolar Amerika ini harga saham propertinya jatuh pada akhir 1990. Dia menanggung utang 900 juta dolar. Belum lagi dia harus membayar tuntutan ganti rugi dari perceraian dengan mantan istrinya (hal 178).

Tapi Trump yang memiliki pola pikir positif dalam menghadapi segala masalah yang membelitnya. Dia percaya kegagalan merupakan kesempatan mengubah hidup secara keseluruhan. Dia bisa kembali bangkit dan sukses sampai sekarang.
Masih banyak lagi kisah inspiratif para miliarder lain yang bisa diambil pembelajaran. Sebut saja Mc Hammer, Kelcy Warren, Bill Gates,  Jan Koum, dan Mark Zuckerberg.  Buku mengajarkan, kegagalan adalah kesempatan untuk memulai kembali dengan lebih pintar (hal 223).
Srobyong, 30 Oktober 2016 


Wednesday, 2 November 2016

[Resensi] Menaklukkan London dan Manchester Biru

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 30 Oktober 2016 

Judul               : Pemburu di Manchester Biru 
Penulis             : Hanif Thamrin
Penerbit           : Gramedia 
Cetakan           : Pertama, Juli 2016 
Halaman          : 154 hlm
ISBN               : 978-602-03-2683-2
Peresensi         : Ratnani Latifah, lulusan Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara, Jateng.

“Jika kita tidak berani bermimpi tinggi, bagaimana mungkin bisa meraih hal-hal besar?” (hal.3).

Hanif adalah sosok pemuda yang memiliki semangat tinggi dalam upaya mengejar mimpi. Dia tidak ingin kalah dengan keadaan. Dia tidak takut bermimpi. Sebagai mana kata Ir. Seokarno—bapak presiden pertama Indonesia, Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

Diambil dari kisah nyata, novel ini mengisahkan tentang kegigihan Hanif dalam berjuang mengerjar mimpinya. Sebuah kegigihan yang harus dia pertahankan dari London sampai ke Manchester Biru.

Bermodal semangat dan nekat, Hanif menjelajahi kota London. Dia  melanjutkan pendidikannya di Goldsmiths University of London,  program postgraduate TV journalism tahun ajaran 2014/2015.  Bekal yang dia bawa ke London itu sangat pas-pasan. Dia hanya memiliki uang untuk membayar perkuliahan selama setahun. Semantara uang kosnya hanya untuk enam bulan.  Padahal, mengikuti jadwal kuliahnya, dia harus berada di London selama satu tahun. (hal. 5) 

Tapi Hanif tidak takut. Hal itu malah menjadi sebuah tantangan. Dia harus bekerja di  kota yang cukup keras itu, untuk bertahan hidup.  Semangatnya demi mewujudkan mimpi sungguh luar biasa. Bahkan dia tidak peduli, jika harus bekerja serabutan.  Apa pun itu yang penting halal. 

Dia pernah menjadi  buruh cuci mobil.  Selain itu dia juga pernah mencicipi menjadi tukang merenovasi toilet, kuli angkut, door to door sales, sampai pelayan restoran dan kasir.   Hanif sungguh gigih berusaha agar tetap bisa melajutkan pendidikan di sana.  Baginya ini adalah kesempatan yang harus diperjuangkan.  Dia tidak peduli, meski harus merasakan tubuhnya sakit semua, karena mengerjakan pekerjaan kasar.  

Selain bermimpi melanjutkan kuliah di London, Hanif juga ingin sekali bisa bekerja di BBC—British Broadcasting Corporation.  Dia pun tidak melewatkan untuk mengajukan lamaran.  Selain melamar pekerjaan di BBC, Hanif juga membuat berbagai lamaran di tempat lain. Sayangnya, dari semua lamaran yang dia kirimkan,  tidak satupun  yang bisa menerima dirinya magang.   Apakah Hanif putus asa? Jawabannya tidak, dia terus berusaha lagi dan lagi.

Dan buah kesabarannya akhirnya terjawab di tahun 2015. Dia mendapat email dari Liston P. Siregar yang menyatakan dia diterima magang di BBC. (hal. 63)   Hanif sangat senang. Tapi dia juga menyadari di saat yang sama, itu adalah masa yang sangat berat.  Hari senin dan Jumat Hanif magang di BBC.  Selasa, Rabu, Kamis, kuliah seharian. Sabtu dan Minggu kerja double shif di Five Guys. (hal. 65) Tapi lagi-lagi, Hanif tetap berusaha untuk menghadapi semuanya.  Dia sangat gigih.
Di saat Hanif tengah menikmati  pekerjaanya di BBC, dia mendapat email dari dosennya—Linda Lewis. Memberikan  informasi bahwa Manchester City Football Club, tengah mencari produser yang bisa berbahasa Indonesia dan Inggris.  (hal.  75)  Di sinilah, pergualatan batin bagi Hanif. Dia bingung antara harus  menerima tawaran itu atau menolak. 

Namun Hanif teringat dengan kutipan Richard Branson, “If someone offers you on amazing opportunity, and you’re not sure you can do it, say yes—then learn how to do it later.” (hal.78).    Dia pun akhirnya mengamil keputusan besar untuk berjuang di Manchester.

Hanya saja di sana, tak seperti di London. Hanif harus memulai dari awal. Bekerja di sana ternyata tidak mudah, ketika masih menjadi orang baru. Di sana tidak ada yang mengajaknya mengobrol. Tidak ada yang mau duduk bersamanya saat makan siang.   Hanif ditantang apakah  di sana dia  menaklukkan  Manchester atau tidak.  

Kisah ini dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah dan mengasyikkan.   Buku ini sangat sarat makna. Mengingatkan pada kita, bahwa selalu ada jalan untuk meraih mimpi. Serta mengajarkan pada kita untuk tidak mudah menyerah, selalu mengobarkan api semangat. Selain itu,  saya jadi mengetahui bagaimana menjadi profesional di klub sepakbola ternama di dunia.  Menarik. 

Srobyong, 23 Oktober 2016 


Saturday, 29 October 2016

Jika Ingin Menjadi Penulis


Sumber Google 

Perjalan membuat saya mendapat pengalaman. Dan dari pengalaman itu saya menyadari, modal utama ketika ingin menjadi penulis.

Ini hanya berdasarkan versi yang sudah saya lakukan selama belajar menjadi penulis. Meski sampai sekarang saya masih terus belajar lagi dan lagi untuk meriah mimpi itu.  Karena belajar tidak akan berhenti sampai embusan napas akan berhenti.

1.      Mulai Menulis

Sumber Google
Yah, kalau kita tidak memulainya, bagaimana bisa kita bisa tahu apakah kita bisa menghasilkan karya, merajut kata menjadi sebuah cerita. Memang pada awalnya agak susah. Kita akan kesulitan memulai apa yang akan kita tulis. Namun, jika setiap hari, kita mau berlatih, sudah pasti lambat laut akan semakin lues dalam merangkai kata.

2.      Membaca

Sumber Google 
Kita tahu dengan membaca akan menambah pengetahuan yang ada. Membaca akan menambah kosa kata, menjadi nutrisi otak. Dengan membaca bisa jadi menjadi langkah menstimulus otak untuk mendapat ide-ide yang luar biasa. Jika kita tidak membaca bagaimana kita tahu naskah seperti apa yang baik dan menarik? Yang memiliki nilai jual?

3.      Mulai Mempelajari Kode Etik dalam Menulis atau Tata Bahasa yang Baik dan Benar

Sumber Google
Kita tahu, setiap hal sudah pasti ada ilmunya. Misalnya dalam masalah, shalat kita butuh ilmu fiqih. Pun dengan kepenulisan, kita butuh ilmu agar tulisan kita terlihat bagus dan tentu saja rapi. Itulah pentingnya kita belajar kode etik dalam menulis.

Bagaimana penulisan huruf kapital, penempatan kata depan, bagaimana menulis kata sapaan dan masih banyak lagi. Kita harus mempelajarinya. Baik itu lewat suatu komunitas atau kita belajar dari buku yang kita punya. Masalah cara itu kembali pada masing-masing individu. Namun yang pasti kita  harus mempelajarinya.

Sebagus apa pun cerita yang kita rangkai, jika cara penulisan salah, hal itu pun akan menjadi bumerang. Antara cerita yang bagus dan tata bahasa harus saling berdampingan agar menjadi satu kesatuan yang indah.

4.      Mau berusaha

Sumber Google

Ini juga sangat penting. Seseorang tidak akan mudah dalam meraih impian jika tidak ada usaha. Dalam menulis pun demikian. Tidak ada yang instan. Misalnya saja jika kita ingin mengetahui tata cara mengirim naskah atau mengetahui alamat media yang kita tuju. Maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah mencari informasi. 

Beruntunglah, saat ini sudah banyak info yang sudah di share di sana-sini. Di berbagai blog banyak orang berbagi alamat media, pun bagaimana cara mengirimkan naskah. Tak hanya alamat media, alamat redaksi penerbitan pun sudah banyak sekali di share. Kita hanya perlu klik dan membacanya. Dengan begitu bertambahlah informasi yang kita punya. Mudah bukan? Just klik, maka semua informsi akan keluar.

Beberapa link info alamat media Redy'sRedWorldPenulis MembelajarNaqiyyahsyamNegeri Guntur Alam,  dan masih banyak lagi. 

Selain itu, jangan malas juga untuk mencari informasi bagaimana naskah-naskah yang sering dimuat di media atau naskah yang diterbitkan. Inilah gunanya kita harus rajin membaca. Baca dan baca, dengan begitu kita tahu selera redaksi dari mempelajarinya.

Jika kita malas membaca dan survei bagaimana kita tahu naskah seperti apa yang disukai? Tengok saja klipingsastra, lakon hidup. Di sana naskah-naskah yang pernah dimuat di media bisa kita temukan. Atau di blog para penulis yang sering post, naskah mereka setelah dimuat di suatu media atau majalah.

5.      Tidak Mudah Putus Asa
Sumber Google 
Dalam segala hal, sudah pasti akan ada suka dan duka. Begitupun dalam dunia kepenulisan. Di tolak ketika mengirim naskah ke media atau penerbit adalah resiko yang harus kita terima.  Di sinilah tantangannya. Jika sekali ditolak kita marah dan berhenti, maka usai sudah mimpi itu. Berbeda jika kita mau berjuang. Kegagalan itu bukan akhir dari segalanya. Kegagalan ada sahabat yang akan mengingatkan pada kita untuk terus berusaha lebih baik lagi. Bagaimana kita bisa kuat jika tak pernah menjadi mengalami kegagalan?

Percayalah, setiap orang memiliki masa sendiri-sendiri untuk meniti karir yang disukai. Kita hanya perlu berusaha ditambah doa. Insya Allah jika diijabahi Tuhan akan memudahkan langkah kita. 

Masih ingin menjadi penulis? Kalau iya, yuk mulai action