Monday, 19 March 2018

[Resensi] Usaha Menjaga Keutuhan Rumah Tangga

Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 18 Maret 2018 



Judul               : (im) Perfect Serenade : Love in Verona
Penulis             :  Irene Dyah
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, September 2017
Tebal               : 244 halaman
ISBN               : 978-602-03-6104-8
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Mengambil tema pernikahan, novel ini memaparkan tentang kisah sepasang suami istri yang tengah mengalami dilema rumah tangga yang sudah dibangun selama enam tahun. Kehidupan rumah tangga mereka  awalnya begitu sempurna hingga sebuah badai menjungkirbalikkan semua.

“Semua wanita mengharapkan kisah cinta sempurna, pasangan yang tanpa cacat, kehidupan yang happy ever after tanpa perjuangan setitik pun. Mana bisa? Perjalanan hidup kita kan bukan cerita film atau novel. Kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.” (hal 59).

Bansar adalah tipe suami yang tidak romantis dan apa adanya. Namun siapa sangka dia memiliki affair dengan Ayang—sekretaris pribadinya. Kenyataan itu tentu saja membuat Serenade merasa dikhianati.  Hal itulah yang membuat Serenade Sukmah yang awalnya menolak project  Wisata Kota Cinta ke Verona, akhirnya dia terima.  Setidaknya kepergiannya itu bisa membuat dia relax untuk sementara—melupakan sejenak masalah rumah tangganya. Selain itu, dia juga  bisa mulai melakukan riset untuk novel terbarunya.

Selama di Verona Seren menjadi sekretaris di Juliet Club—sebuah tempat yang menerima surat cinta atau surat apa saja dari berbagai negeri. Bersama Giovanna dan Saima, mereka saling membantu dan bekerjasama. Keadaan baru di sana benar-benar membuat Serenade sedikit melupakan beban kehidupannya di Indonesia. Dia menikmati setiap jengkal kesempatan yang dia miliki selama di Verona.

Hingga kehadiran Aris Zanetti—penulis asal Verona, membuat Serenade merasakan sesuatu yang selama ini mulai terasa hambar. Manisnya perhatian dan kehangatan dari seorang pria. Di sinilah keadaan mulai pelik.  Di satu sisi Seren merasa bersalah—karena bagaimana pun statusnya masih sebagai seorang istri. Di sisi lain dia juga masih menyimpan kemarahan akibat ulah Bansar. Jika suaminya itu berani selingkuh dengan wanita lain, kenapa dia tidak boleh?

Selain mengalami dilema tentang masalah rumah tangganya, dia juga harus memilih antara memperpanjang kunjungannya di Verona atau kembali ke Indonesia. Bagaimana pun melakukan setting di Verona adalah kesempatan yang langkah. Akhirnya Seren pun mencoba menghubungi Bansar untuk meminta izin. Namun yang mengejutkan tiba-tiba pria itu sudah berada di Verona  dengan sebuah misi (hal 154).

“Setiap perjalanan pasti butuh kata pulang. Dan pulang bagimu, di dunia ini, adalah kembali kepadaku. Kepada rumah kita, dan semua yang kita bangun enam tahun terakhir.” (hal 132).

Lalu bagaimana tanggapan Seren? Akankan dia menerima ajakan Bansar atau tetap memilih di Verona dengan segala sesuatu yang baru? Dengan eksekusi yang apik penulis mampu menyihir kita, membuat kita penasaran bagaimana akhir kisah ini. Karena selalu ada kejutan-kejutan kejadian yang tidak terduga juga membuat kita belajar berbagai permasalahan hidup.

Seperti kisah hidup Giovanna yang selama ini terpaku dengan masa lalu atau kehidupan Saima yang unik. Semua memberi kesan dan semakin menambah keseruan novel ini. Selain itu ada pula kisah dari pengirim surat misterius yang membuat Seren merenungi berbagai cobaan hidupnya. “Setiap orang memiliki perjuangan perangnya sendiri-sendiri. Dan kita semua punya pilihan cara untuk memenangi perang itu.” (hal 116-117).

Nilai tambah lainnya dari novel ini adalah kita bisa menikmati keindahan Verona dan Tanah Rencong. Bahasanya yang renyah dan gurih, membuat kita tidak bosan saat membaca. Meski ada sedikit kesalahan tulis, hal itu tidak mengurangi kenikmatan saat membaca.

Dari novel ini saya belajar bahwa perlu adanya komunikasi antara pasangan agar bisa menyelesaikan masalah.  Dan dalam menghadapi masalah kita tidak boleh mudah menyerah. Kita harus bangkit lagi dan tidak boleh terjebak masa lalu.  “Berhenti menghujat diri sendiri, kamu mesti bangkit  mengatasi masalah, dengan rasa percaya diri.” (hal 98).

Kita pasti tahu bahwa di dunia ini tidak ada orang yang sempurna—baik laki-laki atau perempuan—oleh karenanya ketika pria dan wanita membangun biduk rumah tangga, bukan kesempurnaan yang perlu dicari tapi saling melengkapi untuk membangun pondasi yang kokoh. Dalam bidik rumah tangga selalu ada suka dan duka, kadang tenang kadang bergelombang, tinggal bagaimana menyikapi dan menyelesaikannya dengan kepala dingin.

Srobyong, 16 Februari 2018 


Friday, 16 March 2018

[Cerma] Cowok Bermata Cokelat

Dimuat di Analisa Medan, Minggu 11 Maret 2018


*Kazuhana El Ratna Mida

            Rara bernapas lega bisa masuk gerbang tanpa mendapat hukuman. Semua berkat  cowok bermata cokelat itu—Ibra, yang saat ini sedang senter dibicarakan. Dia menyelamatkanku, ucap Rara dalam hati. Rara tersenyum sendiri.  Dia baik sekali. Mau membantu membujuk Pak Satpam untuk meloloskannya sekali ini.

            “Kamu masuk kelas dulu saja, Ra. Aku mau ngomong dulu sama Pak Nano.” Suara Ibra yang serak-serak basah itu membuat Rara terlonjak dari lamunan gilanya sendiri.

            “Ah, iya. Terima kasih untuk hari ini.” Rara langsung mengambil langkah seribu. Meninggalkan  Ibra yang masih berdiri di dekat gerbang berbicara dengan Pak Nano—si satpam. Rasanya dia mau melayang. Bahkan Ibra sudah hapal namaku. Yah, mengingat beberapa kali kami  memang sudah bertemu. Rara kembali berucap dalam hati sambil tersenyum sendiri.

~*~

            “Hoi! Dari tadi senyum-senyum sendiri.” Nina menyenggol bahu Rara.

            Aneh saja, bukankah sejak masuk ke kelas, Rara mendapat teguran dari Bu Indah? Bahkan mendapat hukuman karena ini kali kedua dia terlambat pada pelajaran Matematika. Yup, pada sesi jam pertama dia harus berdiri di depan kelas.

            “Pokoknya hari ini aku sungguh beruntung.” Rara memamerkan senyumnya yang manis.

            “Hah?!” Nina mengernyitkan dahi, “Ditegur Bu Indah dan di strap di depan kelas itu hari keberuntungan?”

            “Bukan!” Rara menggelengkan kepala, “Bukan karena itu, tap—,” belum sempat Rara melanjutkan ucapannya, suara Bu Indah membuat Rara menunduk yang juga diikuti Nina. Mereka saling sikut. Namun, beberapa detik kemudian mereka tertawa cekikikan. Tentu tanpa sepengetahuan Bu Indah. Kalau ketahuan bisa dapat hukuman lagi.

            “Jadi kenapa sedari tadi kamu senyum tidak jelas gitu?” Nina menodong pertanyaan begitu jam kedua dari Bu Indah selesai. Mereka terlihat senang karena baru saja diberitahukan kalau pelajaran ketiga hari ini kosong.

            “Itu karena ...,” Rara menggantung ucapannya. Tatapan yang dimiliki kini terpaku pada sosok  Ibra yang berjalan menuju perpustakaan.  Nina yang penasaran memincingkan mata mengikuti ke mana arah pandangan Rara.

            “Ibra?”  Nina tidak percaya. Bagaimana mungkin?

            Rara mengangguk. Ibra di matanya sosok  itu sungguh luar biasa. Selalu baik hati dan murah senyum. Apalagi jika menatap sepasang mata cokelatnya itu.  Mata itu sungguh teduh, dan membuat Rara betah menatapnya dalam kurun waktu yang lama. Sayangnya, Ibra tidak satu kelas dengan Rara. Dia hanya bisa memerhatikan Ibra kalau kebetulan melihat atau berpapasan dan bertemu di tempat rahasia mereka. Ups!

            “Malah melamun!” Nina menyenggol Rara. “Ke kantikn, yuk.” Nina tanpa menunggu persetujuan Rara langsung mengapit tangan teman sebangkunya itu. Padahal Rara masih ingin berlama-lama melihat Ibra. Pertemuan yang tidak disengaja seminggu  yang lalu sedikit banyak membuat Rara selalu memikirkan  Ibra—cowok bermata cokelat itu.

~*~

             Seminggu yang lalu, Rara tengah asyik membaca novel Ilana Tan di bangku taman sekolah. Dia sedang malas ke kantin dan memilih menghabiskan waktunya di bawah pohon akasia sambil membaca. Saat sedang asyik membaca dia dikagetkan dengan suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Dan Rara lebih kaget lagi ketika mendongkakan kepala. Dia  melihat sosok bermata cokelat yang membuatnya terpana. Orang itu memamerkan senyum yang sungguh manis.

            Rara memerhatikannya dengan saksama. Cowok itu  memakai seragam seperti dirinya. Tapi siapa orang itu? Rara bertanya-tanya.  Karena sebelumnya dia belum pernah melihat cowok itu. Atau karena dia yang murid baru sehingga masih kurang informasi? Entahlah.

            Cowok itu dengan santainya duduk di sebelah Rara. “Ibra. Kelas XII IPA.” cowok itu mengenalkan diri, seolah memahami tatapan aneh dari Rara.

            Rara menganggukkan kepala, lalu teringat dengan kasak-kusuk teman-teman sekelasnya tentang kakak kelas yang katanya cukup tampan dan masih mudah. Rara tersenyum sendiri, sepertinya ucapan mereka benar. Ibra memang memiliki wajah tampan dan senyum yang menawan. Rara diam-diam menatap  Ibra. Memerhatikan rambut hitamnya yang ikal, alis mata yang cukup tebal, bulu mata yang lentik, lalu mata cokelatnya dan hidung yang lebih mancung dari dirinya.  Rara berdecak dalam hati, kakak kelasnya itu sungguh ciptaan Tuhan yang luar biasa.

            “Namamu?” Rara menelan ludah mendengar suara serak-serak basah itu.

            “Rara, XI IPA.” Rara mencoba mengontrol perasaannya yang tengah melayang ke mana-mana.

            Dan sejak hari itu,  taman sekolah itu menjadi tempat favorit Rara.

~*~
            “Ra!” panggilan Nina tidak dijawab. Rara tenggelam dalam lamunannya sendiri. mengabaikan kantin yang saat ini sudah penuh sesak. Karena sebal, Nini kembali menyenggol siku Rara, hingga si empunya  terkesiap. Rara mendelik, Nina tersenyum puas.
            “Ya, habis ..., dipanggil dari tadi tidak mau jawab. Mikirin apa, sih?” Ninia bertanya sambil menyerutup es campur kesukaannya.

            “Ye ..., mau tahu aja, sih, Nin.” Rara tersenyum penuh misteri. Dia memasukkan satu sendok bakso ke mulutnya. Pesanan yang tadi diabaikan kini sudah dinikmati.

            “Alah ..., paling juga  Ibra. Iya, kan?” Nina mengerling. Rara hampir tersedak.

            “Dari pagi, cuma  Ibra yang kamu bicarakan.” Nina tidak peduli dengan muka Rara jadi bersemu merah itu.

            “Jangan-jangan, kamu suka Ibra, ya? Bagaimana bisa?”

            Rara melotot, menyuruh Nina memelankan suaranya. Teman sebangkunya itu sungguh reseh.
            Rara sendiri tidak tahu dengan perasaannya pada cowok bermata cokelat itu. Dia hanya merasa nyaman dan nyambung jika mengobrol. Ibra juga sangat baik.  Dan perasaan itu tumbuh dengan sendirinya tanpa bisa dicegah.
           
            “Ra ..., lebih baik kamu melupakan Ibra, deh.” Suara Nina yang terdengar hati-hati itu membuat Rara bertanya-tanya.

            Kenapa dia harus? Apakah Nina juga menyukai Ibra? Rara menatap Nina dengan pandangan yang sulit diartikan.

            “Bukan aku bermaksud mencampuri urusanmu. Sungguh bukan,” Nina menggelengkan kepala. Menarik napas sebentar dan kembali memerhatikan Rara. “Ah, bagaimana aku mengatakannya?” Nina memegang kepalanya. Rara mengernyitkan dahi.

            “Apa kamu juga suka  Ibra?” pertanyaan itu akhirnya muncul juga. Nina menutup mulut. Menarik napas sebentar lalu menggeleng pelan.

            “Nah, tidak ada masalah, kan? Aku tetap menyukainya.” Rara tersenyum riang.  “Nanti kalau aku berhasil mengajak dia keluar, kamu bisa sekalian ajak pacar kamu yang katanya mau kamu kenalkan?

            Nina hanya bisa menatap sedih dan bingung. Entah bagaimana dia harus menjelaskan kalau Ibra itu pacaranya.

            Srobyong, 18 September 2015-8 November 2016 

Tuesday, 13 March 2018

[Cernak] Teman Baru

Dimuat di Kompas Klasika, Nusantara Bertutur Minggu, 11 Maret 2018 



Ratnani Latifah

            Hari ini adalah hari pertama Ellen masuk sekolah di SDN Matahari yang terletak di kota Jepara. 

            “Apakah mereka akan menerima Ellen, Bu?” tanya Ellen pada ibunya. Gadis berambut ikal itu terlihat gugup dan khawatir.

            “Tentu saja, Sayang.”  Ibunya tersenyum, meyakinkan Ellen.

            “Tapi Bu, mereka terlihat berbeda dengan Ellen. Bagaimana kalau mereka tidak suka dengan kehadiran Ellen? Bagaimana kalau nanti Ellen dimusuhi?” Tanyanya khawatir.

            “Siapa bilang berbeda.” Ibunya menggelengkan kepala.

            “Lihat ... kalian kan sama-sama  punya tangan, mata, kaki dan hidung. Jadi tidak ada yang berbeda.”
            “Maksud Ellen  bukan itu, Bu!” Ellen cemberut.

            “Lihat kulit Ellen yang agak hitam legam ini, juga rambut Ellen yang ikal ini.  Ini sangat berbeda dengan anak-anak di kota ini.” Ellen menunduk sedih.

            “Hai, putri ibu jangan terlalu khawatir, ibu yakin teman-teman kamu  tidak akan membeda-bedakan seseorang dari warna kulit atau rambut. Percaya sama ibu.” Ibunya tetap berusaha membesarkan hati Ellen.

            “Sudah, sekarang ayuk bersiap berangkat sekolah.”

            Ellen akhirnya menurut. Dia berangkat sekolah, meski dengan perasaan yang sangat was-was. Dan sesampainya di kelas bersama Bu Tari, guru wali kelas enam,  Ellen semakin gugup.

            “Nah ... anak-anak sebelum pelajaran kita mulai, kita berkenalan dulu, yuk, dengan teman baru kita dari Papua.” Bu Tari memberi penjelasan pada semua murid.

            “Ayo Ellen, berikan salam dan perkenalkan diri kamu.” Perintah Bu Tari.

            Setelah Ellen memperkenalkan diri, Bu Tari lalu memberi pengumuman baru, tentang kegiatan belajar di luar kelas, juga tugas kelompok yang harus dilakukan para siswa.

            Ellen semakin cemas dan khawatir. Karena dia belum memiliki satu kenalan di kelas, dan sekarang harus memilih sendiri teman untuk diajak berkelompok.

Di tengah kebingungannya, dia dikejutkan dengan keberadaan beberapa teman satu kelasnya yang  mengerubunginya.

“Ayo Len, kita belajar bersama,” ucap Putri, Sari dan Nia berbarengan.

“Tidak usah malu dengan kami,  kami semua senang lho punya teman baru. Ayo!” Putri tersenyum, diikuti Sari dan Nia.

            “Iya, ayo nanti kita ketinggalan, lihat semua teman-teman sudah bersiap keluar.” Ajak Nia.

           “Kamu tidak usah merasa malu dengan warna kulit atau rambut kita yang berbeda. Karena pada dasarnya, kita sama-sama ciptaan Tuhan dan sama-sama warga Indonesia. Jadi kita harus saling menghormati. Tidak ada permusuhan, tapi persatuan. Kita adalah saudara.” Sari berucap panjang lebar. Dia seolah tahu apa yang dikhawatirkan teman barunya itu.

            “Yup, aku setuju yang diucapkan Sari. Dalam pelajar Pendidikan Kewarganegaraan, kita kan selalu diingatkan bahwa kita harus saling menghormati setiap perbedaan yang ada. Berbeda-beda, tetap satu jua.” Purti dan Nia berucap kompak.

            Seketika perasaan Ellen langsung lega. Teman-temannya benar, beda suku, ras atau warna kulit, mereka tetap satu karena mereka berada di tanah yang sama, tanah air Indonesia.

 Srobyong, 7 Maret 2018

Naskah di atas adalah naskah asli sebelum direvisi editor. Hasil editing bisa dibaca di Kompas Klasika Nubi ada juga versi audionya jika mau mendengarkannya ^_^ 

Monday, 12 March 2018

[Cerma] Tak Ada yang Instan

Dimuat di Minggu Pagi, Jumat 9 Maret 2018


Ini naskah asli sebelum ada editing dari redaksi 

Ratnani Latifah

            “Yah ... tidak ada lagi.” Tari menghela napas. Wajahnya terlihat sangat mendung. 

            “Kenapa, sih sulit sekali ...,” Tari menatap nanar. Dia menggigit bibirinya. Kebiasaan ketika tengah resah dan marah.  Ini sudah tiga bulan lebih setelah Tari mulai bergerilya mengirim naskah ke berbagai media. Tapi sama sekali tidak terlihat hasilnya.

            “Kenapa hanya nama-nama itu saja yang terus bermunculan?” Tari memonyongkan bibir.

            “Kania lagi Kania lagi. Kalau tidak Luna lagi Luna lagi. Selalu nama mereka.” Tari menggerutu. Dia mengingat beberapa nama yang paling sering muncul di koran. Biasanya ada info di grup sastra di facebook.

            “Jangan-jangan mereka main belakang lagi!” ucap Tari penuh prasangka.

~*~

            Akhir-akhir ini Tari memang selalu terlihat suram. Wajahnya sering ditekuk-tekuk seperti kertas lecek, yang siap dibakar. Lebih anehnya lagi Tari mulai menjauhi Kania. Padahal mereka sudah bersahabat cukup lama. Entah kenapa, Tari mulai sebal jika melihat Kania. Ada rasa  iri dan dengki yang menggunung di hatinya. Padahal dia tahu rasa itu sangat salah.

            “Kenapa sih, Tar? Akhir-akhir ini kamu aneh deh,” tanya Kania, hati-hati. Kania tidak paham, kenapa tiba-tiba Tari seperti menjauh darinya sejak beberapa hari terakhir ini. Padahal Kania tidak merasa mereka sedang bertengkar atau apa.

Persahabatan mereka terjalin karena kesamaan hobi dan mimpi, sejak masa orientasi siswa baru di SMA. Alasan klise, namun memang begitulah adanya. Kesamaan hobi membuat mereka cepat akrab hingga sekarang. Kania suka menulis dan membaca. Dan dia sudah sering mengirim cerpen  ke koran sejak SMP—bahkan sudah beberapa kali tulisanya tayang di koran. Sedang Tari, meski sudah sejak dulu suka  membaca dan menulis, dia baru mulai mencoba mengirim cerpennya ke koran saat di SMA dorongan Kania, tiga bulan terakhir ini.  

            “Kamu marah sama aku? Maaf, deh kalau aku ada salah.”  Kania duduk di samping Tari yang masih diam.

            “Cerita dong, Tar kamu kenapa?” Kania masih membujuk.

            Sayangnya, sampai pulang sekolah, Tari masih memilih bungkam. Dia sama sekali tidak merespon Kania. Ketika Kania memilih duduk di sampingnya dan terus bertanya, Tari pura-pura membaca dan tidak mendengar. Ketika Kania mengajak Tari ke kantin bersama. Tari malah langsung pergi duluan. Ketika Kania mengajak ke perpustakaan, Tari malah mengajak Susi.

            Tapi Kania tidak putus asa. Dia tetap berusaha mendekati Tari, meski sahabatnya itu selalu cuek. Setidaknya dia harus tahu kenapa tiba-tiba dia diamkan.  Kania pasti akan merasa kesepian jika Tari meninggalkannya. Karena bagaimana pun Tari itu sahabat yang baik, yang juga asyik diajak berdiskusi soal literasi.

            Mereka sering berdiskusi tentang buku yang mereka baca dan buku baru yang patut diburu—bahkan mereka sering berburu bareng di Gramedia atau pas ada bazar. Mereka  juga suka membahas bagus tidaknya sebuah cerpen dan bagaimana cara menulis cerpen yang bagus dan memikat. Bagaimana membuat judul yang nendang. Tidak hanya itu,  mereka juga sering saling memberi komentar dengan tulisan masing-masing, untuk diperbaiki. Saling mendukung untuk mengirim karya ke media dan banyak kegiatan seru yang mereka lalui bersama.

            Memikirkan tentang media, tiba-tiba Kania teringat dengan percakapannya dengan Tari satu beberapa hari lalu. Mungkinkah karena masalah itu Tari marah padanya? Barangkali Tari tersinggung dengan ucapannya. Kania menebak-nebak dalam hati.

            “Kan,  kenapa sih tembus suatu media susah sekali?” Tari bercerita ketika mereka menikmati jam istirahat di kantin.

            “Aku sudah mulai mengirim cerpen seperti saranmu. Beberapa kali. Ke banyak media. Tapi coba lihat ... nggak ada satu pun tulisanku yang dimuat,” lanjut Tari.

            “Tapi kamu ... sekali kirim langsung dimuat terus. Bahkan di Minggu berikutnya dan berikutnya. Aku mengamati setiap Minggu nama-nama penulis yang dimuat di koran hanya itu ... itu saja. Apakah redaksinya hanya melihat nama penulis saja? Apakah penulis pemula tidak diberi kesempatan? Atau ada kerjasama tersendiri antara penulis dan redaksi?” Tari           melontarkan banyak pertanyaan yang cukup membuat Kania agak  bingung bagaimana menjawabnya.

            “Wah ... nggak seperti itu juga Tar. Yang aku tahu nggak ada kerjasama antara penulis dan redaksi, kok. Jangan berburuk sangka, dong.” Protes Kania.

            “Aku yakin redaksi tidak memandang nama besar penulis, kok.  Tapi dilihat dari tulisannya. Kalau bagus dan sesuai selera redaksi pasti dimuat. Kalau belum dimuat mungkin masih ada yang kurang dan perlu diperbaiki,” Kania mencoba menjawab dengan hati-hati.

            “Jadi kamu mau bilang kalau tulisanku jelak, begitu? Jadi belum layak dimuat?” Tari langsung bangkit dan meninggalkan Kania.

~*~

            Keesokan harinya, Kania sengaja menunggu Tari di gerbang sekolah setelah pulang sekolah. Dia harus berbicara dan menjelaskan semuanya. Dia harus meluruskan semua salah paham ini.  Beruntung kali ini Tari mengiyakan ajakannya.  Dan di sinilah mereka—di rumah Tari yang memang tidak jauh dari lokasi sekolah.

            “Maaf Tar, kalau ucapanku kemarin menyinggungmu. Aku nggak bermaksud seperti itu,” Kania memulai percakapan.

            “Udah nggak usah dibahas. Kamu mau ngomong apa?” Tari masih agak ketus.

            “Jadi ngini ... aku mau jelasin pertanyaan kamu beberapa hari lalu yang belum sempat aku jawab semua. Kamu mau mendengarkan, kan?”

            Kania  bernapas lega ketika melihat anggukan Tari. Tapi kali ini dia harus hati-hati agar Tari tidak tersinggung.  Meski sejujurnya bagi Kania pertanyaan Tari tempo hari, pun terlalu kasar. Karena menyalahkan redaksi dan penulis lain, ketika naskahnya tidak dimuat.  Padahal untuk mencapai suatu hal itu tidak mungkin instan. Bahkan dirinya sendiri sampai saat ini masih sering menerima penolakan saat mengirim karya. Bedanya dia tidak marah, tapi tetap berusaha. Dan pastinya hal itu juga dialami penulis lain. Tidak sekali dua kali mereka mengirim, hingga akhirnya dimuat. Tapi hal itu harus Karin sampingkan dulu. Dia harus berbaikan dulu dengan Tari.

            “Jadi ... ketika kita mengirim ke koran, maka kita harus siap dengan penolakan juga penerimaan.” Kania menatap Tari.

            “Karena setiap hari redaksi tidak hanya menerima satu tulisan, bisa jadi setiap hari ada puluhan bahkan ratusan naskah masuk. Sedang rubrik cerpen  hanya ada satu minggu sekali. Redaksi harus memilih satu yang paling pas dan apik untuk dimuat. Di sini redaksi pasti punya pertimbangan sendiri.”  Kania berhenti sejenak.

            “Tenang ... redaksi tidak memandang nama besar penulis, kok. Isi cerita dan kerapian tulisan tetap diperhatikan. Jadi jangan khawatir.

            “Jika soal nama penulis yang sering dimuat hampir setiap minggu ... mungkin kita harus bertanya pada diri sendiri, sudah berapa banyak usaha kita? Sudah berapa banyak  naskah kita tulis dan kita kirim setiap harinya? Sudah berapa keras kita mencoba? Aku yakin mereka memiliki usaha yang lebih keras dan tidak mudah menyerah—baik dalam memperbaiki tulisan juga mencoba mengirim lagi.

            “Dan satu lagi kita harus sabar kalau mengirim naskah. Karena masa tunggu sebuah tulisan tidak selalu cepat.  Ada yang satu minggu, satu bulan, tiga bulan bahkan satu tahun, tergantung korannnya. Banyaknya naskah masuk membuat banyak  tulisan  antri dimuat.” Kania mengakhiri penjelasannya.

            Saat  itu Kania sempat melihat gurat wajah Tari yang memucat ketika mendengar penjelasannya.  Tapi Kania tidak tahu apakah karena marah atau menyadari sesuatu. Dia tidak mau menebak-nebak.

            “Apa aku menyinggungmu lagi?” tanya Kania.

            Tari menggeleng. “Nggak kok, kamu malah mengingatkanku tentang sesuatu yang penting, Kan. Sesuatu yang aku sepelekan.” Tari menunduk malu.

            “Kalau begitu harus diperbaiki, dong. Aku yakin kamu bisa.” Kania memberi semangat.

            Dua sahabat itu pun kemudian berpelukan dan tertawa bersama.  Seperti tidak ada perselisihan sebelumnya.

            “Eh ... tapi aku tetap penasaran kenapa tulisan kamu sering dimuat, Kan.” Ucapan Tari langsung membuat Kania tersenyum simpul.

            Kania pun jujur, kalau setiap minggu sebisa mungkin dia konsisten mengirim naskah. Ditolak sudah makanan sehari-harinya. Tapi dia tetap menulis dan kirim lagi. Dan mungkin salah satu karyanya ada yang menarik perhatian redaksi jadinya dimuat.

            “Pantas saja, aku baru mengirim beberapa kali, langsung minta dimuat. Memang siapa aku ini?” Tari terkekeh.

            “Jadi sudah nggak marah lagi, kan?” Kania menyenggol Tari.

            Tari menggeleng.  “Alhamdulillah, siap nulis dan kirim lagi, dong.” Kania mengerling dan disambut Tari dengan mengacungkan ibu jarinya.

            Bertepatan dengan itu, sebuah telepon masuk mengagetkan Tari dan Kania. Mereka saling pandang karena tidak ada nama penelopon. Tapi mereka akhirnya berpelukan setelah menerima telepon itu.

“Selamat,  Tar.  Apa aku bilang, tulisanmu itu bagus. Makanya sabar ..., jangan mau yang instan doang. Kan nggak ada yang instan! Dan nggak perlu iri juga kalee ....”

           

            Srobyong, 27 Januari 2018.