Friday, 17 February 2017

[Resensi] Mencari Pengakuan Lewat Olimpiade Sains Astronomi

Dimuat di Koran Pantura, Selasa 31 Januari 2017

Judul               : Starlight
Penulis             : Dya Ragil
Editor              : Abduraafi Andrian
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, April 2016
Halaman          : 264 hlm
ISBN               : 978-602-03-2753-2
Peresensi         : Ratnani Latifah (Penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara)


Starlight adalah sebuah  novel yang  mencoba mengingatkan bahwa setiap anak tidak boleh dibeda-bedakan dan  berhak bermimpi dan berjuang dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan yang disukai. Selayaknya teori Big Bang atau teori asal-usul alam semesta. Di mana itu berarti, setiap orang punya potensi. Jika mau berusaha, meski berasal dari  nol bisa meledak menjadi hebat.  (hal. 10-11)

Novel ini menceritakan tentang Wulan yang sangat menyukai bintang dan bermimpi ingin menjadi astronom.  Karena memang sejak kecil, ayahnya  sudah mengenalkan Wulan dengan bintang. Memberitahunya tentang teori Big Bang, mengenalkan Proxima Centauri, bintang yang paling dekat dengan bumi setelah matahari, atau tentang Sirius—bintang kembar dan Pleiades—kumpulan ratusan, mungkin ribuan bintang. Namun sang ayah tidak terlalu peduli dengan impiannya dan malah lebih mendukung saudara kembarnya—Lintang untuk menyukai astronomi.

Suatu hari di sekolah diadakan seleksi olimpiade sains, di mana salah satu pilihannya adalah bidang astronomi. Tentu saja dia sangat girang.  Karena tahun lalu perwakilan dipilih langsung melalui nilai rapor. Di mana dia tak mungkin terpilih, karena bisa dibilang dia bukanlah murid yang cukup berprestasi. Tapi berbeda dengan seleksi, dia masih punya kesempatan. (hal. 50)

Tiba-tiba Wulan teringat saudara kembarnya.  Jika nanti Lintang tahu tentang seleksi olimpiade ini, sudah pasti ayah mereka akan memaksa Lintang ikut ambil bagian astronomi, meski anak itu tidak akan setuju. Karena ayah mereka sangat yakin, Lintang mampu bersaing untuk lolos dalam olimpiade nasional dengan kecerdasan yang dimiliki.  Berbeda dengan Wulan yang hanya memiliki kecerdasan pas-pas-an.

Selain Lintang yang menjadi saingannya,  ada juga Bagas dan Nindi, siswa yang tidak kalah cerdas dengan saudara kembarnya itu.   Untungnya, pada seleksi awal itu, Wulan bisa lolos, meski dia harus marah mengingat ulah kembarannya yang tidak serius dalam seleksi itu. (hal. 102)

Namun olimpiade harus tetap berjalan. Apalagi sekarang Wulan punya dua misi. Harapan tentang impiannya sendiri, menekuni bidang astromoni, juga sebuah harapan  bisa menunjukkan kemampuannya agar ayahnya bisa bangga pada dirinya, bukan hanya bangga pada kepandaian Lintang.

Bersama Bagas dan Nindi, Wulan dibimbing  Pak Hadi untuk  sampai di seleksi tingkat kabupaten.  Mereka berlajar dengan sangat tekun meski sesekali ada masalah yang kadang membuyarkan konsentrasi. Salah satunya tentang pertengkaran Teguh dengan Lintang, juga ketidakharmonisan hubungan antara dirinya, Bagas dan Nindi.

Dan betapa kagetnya Wulan ketika melihat pengumuman siapa saja yang lolos dalam seleksi olimpiade sains tingkat kabupaten—dua di antaranya dari bidang astronomi. (hal. 163) Padahal dia sudah menyiapkan diri jika memang gagal. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, dia lolos.

Impian Wulan pun terasa semakin dekat. Dia sudah belajar sungguh-sungguh untuk menyongsong olimpiade sains tingkat provinsi. Tapi wajah gadis itu malah terlihat mendung. Ternyata setelah diusut, kemurungannya terjadi karena ucapan sang ayah. Ayahnya bilang, “Kalau gagal di olimpiade, jangan merasa terbebani.” (hal. 181) Ucapan itu seolah menunjukkan dia tidak diharapkan ayahnya menang.  Dan pasti akan berbeda jika Lintang yang ikut, ayahnya pasti akan memberi semangat. “Semangat kamu pasti bisa.”

Melupakan kesedihan itu, Wulan tetap melakukan yang terbaik. Entah bagaimana kelanjutan usaha Wulan. Apakah nantinya dia bisa memperoleh pengakuan dari sang ayah dan lolos dari olimpiade astronomi apa tidak.

Selain membahas tentang usaha Wulan yang ingin mendapat pengakuan sang ayah, olimpiade atronomi, novel ini juga menceritakan tentang arti persahabatan juga cinta. Penulis meramunya dengan sangat baik dan dengan porsi yang pas. Novel yang sarat makna, mengajarkan tentang keluarga, khususnya orangtua yang seharusnya tidak boleh pilih kasih, lalu tentang semangat dalam mengejar impian juga ada bumbu persahabatan dan cinta. Diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah, sehingga membuat kisah ini mudah dinikmati. Dan tidak ketinggalan, pengetahuan tentang ilmu astronomi juga banyak bertebaran dalam buku ini.

Srobyong, 9 Juni 2016 

Thursday, 16 February 2017

[Resensi] Belajar Menjadi Pribadi yang Sabar dan Ikhlas dari Novel

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 29 Januari 2017 


Judul               : Tentang Kamu
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Kedua, Oktober 2016
Tebal               : vi + 524 hlm
ISBN               : 978-602-0822-34-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Penikmah buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahlatul Ulama, Jepara.


Sabar adalah sikap yang menunjukkan kekuatan emosi untuk selalu bertahan dalam segala situasi, meski itu sangat sulit.  Sabar juga berarti tidak mudah mengeluh dan memiliki jiwa yang kokoh. Membaca novel ini, kita akan dikenalkan pada sosok yang begitu sabar dan ikhlas meski cobaan keras datang bertubi-tubi.  Tere Liye, penulis asal Sumatra kembali menyapa penggemarnya dengan buku yang sangat inspiratif.  Dia selalu memiliki ide-ide segar dan unik.

Novel ini mengisahkan tentang jejak kehidupan Sri Ningsih yang akan dipaparkan melalui perjalanan panjang dari Zaman Zulkarnaen—seorang junior associate di Thompson & co, London.  Di mana dalam kasus ini Zaman harus menemukan ahli waris Sri. Karena siapa sangka, perempuan tua yang memilih tinggal di panti Jompo di Paris, ternyata memiliki kekayaan sebesar  satu miliar poundsterling dalam bentuk saham. Dan jika dirupiahkan itu akan sama nilainya dengan 19 triliun rupiah (hal 11). 

Zaman memiliki amanah untuk memecahkan misteri ini. Tidak menunggu lama Zaman segera bertindak. Pertama, dia mendatangi panti jompo di paris—di mana dia malah mengetahui kenyataan Sri telah meninggal dan hanya meninggalkan diary tipis.  Tapi dari benda itu, pada  akhirnya  membawa Zaman kembali ke negerinya tercinta untuk mengendus perjalanan Sri Ningsih.

Pulau Bungin menjadi langkah awal mengikuti isi cacatan tersebut. Karena di sanalah Sri dilahirkan. Di sini Zaman nampak terkejut mendapati kisah perjalanan hidup Sri yang tidak terduga. Dicap sebagai anak pembawa sial dan harus menjadi anak yatim piatu di usia kecil. Tidak cukup itu Sri pun harus rela diperlakukan kasar oleh ibu tirinya.  Namun Sri menerima semua itu dengan sabar dan ikhlas.

Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak akan ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apa pun dia,  sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya. Tidak bisa (hal 48).

Setelah dari Bungin, Zaman melanjutkan perjalanan ke Surakarta, ke tempat Madrasah Kiai Ma’sum. Di sini Sri hanya memiliki Tilamuta, adik tirinya sebagai anggota keluarga. Ibu tirinya meninggal dalam insiden kebakaran. Pada bagian ini Sri akhirnya menemukan dua sahabat yang sangat disayanginya. Namun rasa iri dan benci ternyata mampu menggoyahkan rasa kekerabatan itu. Bahkan Sri sampai mengalami trauma yang mendalam akibat kejadia ini.

Rasa dengki telah menjadi kebencian luar biasa, yang bahkan bisa membuat pelakunya tega membabi-buta (hal 191).

Untuk mengobati traumanya itu ... Sri memutuskan tinggal di Jakarta. Dan Zaman pun dengan setia mengikut pola perjalanan hidup Sri. Kali ini selain ada diary tipis, Zaman juga mendapat surat-surat milik Sri yang cukup membantunya dalam penyelidikan. Namun lagi-lagi Sri bagai hilang di telan bumi, setelah berhasil menjadi wanita sukses—setelah berkali-kali jatuh bangun dan mengalami kebangkrutan.  

Ternyata Sri memilih London sebagai tempatnya bersembunyi. Di sana dia sempat memiliki keluarga yang begitu baik dan bahkan menikah. Namun, tak lama setelah itu ... Sri kembali menghilang tanpa pesan apa pun. Di sini Zaman merasa buntu. Dia bertanyaa-tanya apa yang membuat Sri selalu menghilang?

Belum selesai kebingungan Zaman perihal penyelidikannya, tiba-tiba ada seseorang yang mengaku sebagaia istri Tilamuta dan merupakan ahli waris kekayaan Sri. Padahal menurut penyelidikan Zaman, Tilamuta telah meninggal. Kehidupan Sri yang penuh  puzzle-puzzle ini, menjadi tantangan besar bagi Zaman. Dia bertekad akan mengungkapkan semua kebenarannya. Itulah prinsip yang selama ini dipegangnya.

“Jika berkata jujur akan membuat empat orang jahat terbunuh mengenaskan, sedangkan berbohong akan membuat selamat, maka pilihan yang akan aku ambil adalah bersedia mati bersama dengan empat orang jahat itu demi menegakkan kebenaran” (hal 512).

Dipaparkan memakai sudut pandang orang ketiga, membuat kisah terasa hidup. Gaya bahasanya pun renyah dan gurih. Penulis pandai menyimpan kebenaran hingga akhir. Menuntun pembaca agar menyelesaikan novel ini sampai akhir. Tidak ketinggalan kejutan akhir yang mungkin tidak pernah terbayangkan.  Beberapa kekurangannya tidak menutupi keasyikan dalam membaca.

Sebuah novel yang sarat makna dan menginspirasi. Kita diajak belajar menjadi sosok yang selalu sabar dan ikhlas. Selain itu kita juga diajarkan untuk menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan selalu positif thinking.

Jadilah  seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir dengan sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru (hal 278).

Srobyong, 30 Desember 2016 

 
Resensi ini merupakan resensi versi kedua. Resensi versi pertama bisa dicek di sini (salah satu resensi terpilih dari lomba resensi Tentang Kamu yang diadakan Penerbit Republika)

Wednesday, 15 February 2017

[Resensi] Kisah Tentang Orang-Orang yang Patah Hati

Dimuat di Koran Pantura, Senin 9 Januari 2017 

Judul               : Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi
Penulis             : Eka Kurniawan
Penyunting      : Ika Yuliana Kurniasih
Penerbit           : Penerbit Bentang Pustaka
Cetakan           : Pertama, Maret 2015
Halaman          : vi + 170 hlm
ISBN               : 978-602-291-072-5
Peresensi           : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.


Terdiri dari 15 cerita pendek, buku ini bisa membuat pembaca hanyut memasuki labirin yang entah kapan bisa keluar.  Sebagian banyak cerpen-cerpen yang dituangkan Eka Kurniawan dalam buku ini adalah tentang perasaan terluka—patah hati, dari berbagai kerancauan hidup. Kelebihan dari semua cerpen yang ada di sini adalah, penulis bisa mengusung ide cerita sederhana namun dikemas dengan keunikan tersendiri, sehingga membuat cerita semakin berwarna.

Diawali dengan kisah Gerimis yang Sederhana. (hal. 1) Pertemuan antara Mei dan Efendi. Lalu kehadiran seorang pengemis, yang kemudian membuka tabir  tentang sebuah rahasia. Diceritakan dengan gaya bahasa lugas dan tidak berele-tele.  Eka Kurniawan sangat piawai dalam membuat kisah ini menjadi cerita manis, pahit dan menghentak.

Kemudian kisah Gincu Ini Merah, Sayang. (hal.13) Judulnya saja sudah menarik. Begitupun ceritanya yang ternyata mengangkat tentang seorang PSK. Bagaimana Marni yang akhirnya merasakan cinta dan gayungnya juga disambut. Marni akhirnya menikah dengan Rohmat Nurjaman. Pertemuan mereka di bar Beranda membuat mereka saling jatuh cinta. Dan memutuskan menghapus semua masa lalu. Tapi hanya karena sebiah gincu merah, pernikahan itu mengalami prahara. Entah ada apa dengan dengan keberadaan gincu merah itu.

Cerpen ini diceritakan dengan alur maju mundur. Jadi selama membaca, akan ada potongan puzle yang membuat ingin mengetahui di balik maksud gincu merah.

Cerita ketiga adalah Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.  (hal. 25) Cerpen yang dijadikan judul cover buku ini.  Sebagai sebuah judul memang agak panjang, tapi jangan khawatir, cerita yang ditawarkan akan membuat pembaca merasa puas dengan gaya penuturan penulis.

Maya merasa sangat terluka, ketika pada  malam sebelum menikah, dia ditinggalkan sang kekasih. Yang lebih membuatnya terpukul adalah kekasihnya itu meninggalkan dirinya karena lebih memlih sahabatnya.  Alasan itulah yang kemudia membuatnya mengiris nadi. Hanya saja ternyata dia masih bisa diselematkan.  Dalam masa istrihatanya itu, tiba-tiba dia memperoleh mimpi aneh.

Dalam mimpi itu dia akan memiliki kekasih baru yang tampan dan menjanjikan kehidupan bahagian. Tak hanya sekali tapi berulang kali mimpi itu hadir dalam tidurnya. Dikisahkan kekasihnya itu tinggal di kota kecil Pangandaran.  Namun adakah mimpi itu benar nyata atau hanya sebuah halusinasi?  Ending cerita ini sungguh mengejutkan dan bisa dibilang gila.

Dan sebuah kisah yang tidak kalah menarik adalah Cerita Batu (hal. 77)  Sebagaimana manusia, batu ini memiliki perasaan. Dia ingin dihormati dan tidak suka jika diperlakukan semena-mena.  Pernah suatu hari ada seorang lelaki yang membuatnya dirinya merasa terhina. Sehingga dia bertekad untuk membalas dendam pada lelaki itu.  Entah apa yang dibuat lelaki itu hingga batu merasa marah.

Tapi dalam perjalannya melakukan aksi balasa dendam, dia menemukan kenyatakan yang tidak pernah dia tahu sebelumnya. Kalau ternyata selalu ada kejahatan di mana-mana.

Bagaimana pun Eka Kurniawan berhasil menciptakan cerpen dari kisah-kisah sederhana namun dengan kemasan yang tidak biasa. Sehingga membaca kumpulan cerpen ini, kita bisa menemukan banyak hal-hal baru. Bagaimana mengolah ide yang biasa jadi luar biasa.  Pun bagaimana mengolah gaya bahasa yang sederhana tapi tetap membekas di hati pembaca. Inilah kelihaian penulis yang karyanya memang sudah wara-wiri di berbagai media Indonesia, pernah terpilih sebagai salah satu “Global Thinkers of  2015” dan menjadi penulis Indonesia pertama dalam daftar Man Booker International Prize 2016.

Selain empat cerita itu, cerita yang lain pun tidakalah menarik dan sangat menghibur.  Sebagaimana kisah Kapten Bebek Hijau atau Pelajaran Memelihara Beo.  Sederhana tapi selalu ada kejutan yang diberikan penulis. Ada juga pesan tersirat yang bisa diambil dari buku ini. Bahwa hubungan antara dua manusia itu  jika tidak diikuti dengan saling memberikan kepercayaan, maka keretakan itulah yang akan didapat.  Atau bahwa dendam sejatinya tidak akan membuat perasaan merasa lega. Dan harusnya kita selalu mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan.


Srobyong, 10 Mei 2016 

Thursday, 9 February 2017

[Resensi] Cinta, Persahabatan dan Perjodohan


Judul               : Dear Friend with Love
Penulis             : Nurilla Iryani
Penerbit           : Stiletto Book
Cetakan           : Pertama, Oktober 2012
Tebal               : 146
ISBN               : 978-602-7572-07-2


Dear Friend With Love karya Nurilla Iryani ini novel dengan tema sederhana namun keren dalam eksekusinya. Tema yang diambil perihal cinta, persahabatan dan perjodohan.  Sebuah tema yang sudah umum dipakai bagi sebagian  penulis novel.   Hanya saja tema biasanya ini menjadi luar biasa berkat kelihaian penulis dan memamparkannya. Kisahnya diramu dengan baik hingga membuat novel tetap asyik untuk dinikmati. 

Dalam hal ini penulis memakai sudut pandang tokoh secara bergantian dengan gaya bahasa yang renyah, juga kadang kocak. Tapi itulah uniknya Nurilla, sehingga kisah yang dipaparkan serasa hidup. Pembaca jadi bisa menilai karakter tokoh, entah itu suka atau malah benci dan gregetan.

Novelnya sendiri berkisah tentang Karin yang sudah hampir 8 tahun menyukai Rama, sahabatnya sendiri. Inilah alasan yang membuat Karin memilih jomblo di usianya 25 tahun lebih dua bulan.

Loving someone who doesn’t love you back is such a hell on earth. Especially, when you can’t even show your love for the sake of friendship. Oh, or maybe, you need that friendship for take sake of your love? (hal 1).

Sayangnya, Rama tidak peka dengan perasaan Karin, bahkan dia kerap curhat perihal pacar-pacarnya tanpa rasa bersalah pada Karin. Khususnya tentang Astrid yang akan segera dinikahi Rama.
 

“Again and again. Aku cuma jadi tempat sampahnya Rama bercerita tentang para perempuan itu. Dan di antara sekian banyak perempuan yang pernah dia jadikan pacar, why is it never me?” (hal 6).

Sampai kemudian muncul Adam yang memberi warna pada kisah ini.
  Ternyata Ibu Karin merencanakan sebuah perjodohan dengan putra dari salah satu temannya—yang ternyata teman Karin di masa kecil dulu—yang dulu selalu Karin bully.

Di sinilah, permasalahan mulai timbul. Rencana pernikahannya dengan Astrid ternyata tidak berjalan lancar. Selain Astrid yang lebih rempong dengan segala urusan dan mendominasi semua persiapan bahkan menginginkan Rama memakai setelan baju pink untuk pernikahan mereka.  Lebih parah melarang Rama untuk menemui Karin.  Rama mulai menyadari bahwa hanya Karin yang bisa menerima dia apa adanya.  Dan jujur dia tidak menyukai keberadaan Adam.

Sedang Karin, yang mulai lelah karena tidak mungkin memiliki Rama, lebih banyak menghabiskan waktu dengan Adam, yang entah kenapa selalu membututinya.  Belum lagi dia juga sempat bersitegang dengan Rama.

Merasa telah salah jalan, Rama mencoba kembali mendekati Karin. Dia meminta maaf pada Karin dan mencoba mengulurkan tangan untuk menapaki hubungan baru. Entah kenapa dia baru menyadari  perasaannya terhadap Karin.

Karin sungguh bimbang di satu sisi Rama memang orang dia cintai. Tapi di sisi lain, keberadaan Adam juga sudah memberi warna bagi kehidupannya yang selama ini hanya itu, itu saja. Adam selalu punya caraa untuk membuat Karin bahagia. Tapi relakan dia melepas cintanya demi alasan itu? Apalagi penantian panjangnya selama ini akan berbuah hasil.

Membaca novel ini tidak butuh lama, hanya sekitar 2 jam novel ini kelar saya baca dengan meninggalkan banyak sensasi. Sebel, suka, gemes dan banyak lagi.  Penulis sukses membuat saya baper tingkat tinggi.   Untunglah tebakanku perihal ending bener, duh rasanya makin puas. Tidak mengecewakan meski memang aku bisa menebaknya.
  Tapi keren euy! Suka banget.

Meski ending mudah ditebak bagi saya, tapi novel ini sendiri cendenderung sejak awal sudah memiliki kekuatan, menghipnotis, agar para membaca menyelesaikan kisahnya hingga akhir.  Secara keseluruhan saya tidak kecewa membaca ini. Sebuah novel yang terasa hidup dan renyah banget.

Beberapa pesan yang bisa saya  ambil adalah kita harus selalu  menjaga ucapan, agar tidak menyakiti hati orang lain.  Dan cinta akan datang pada waktunya. Jadi tidak perlu khawatir dan galau tingkat dewa.


Srobyong, 7 Februari 2017 

"Resensi ini diikutsertakan pada campaign #AkuCintaBuku bersama StilettoBook  dan Riawani Elyta."

Thursday, 2 February 2017

[Buku Solo] [Dongeng Fantasi Pembentuk Kepribadian Baik]


~Telah Terbit~

Judul : Dongeng Fantasi Pembentuk Kepribadian Baik 
Penulis : Kazuhana El Ratna Mida 
Penerbit :  Visi Mandiri
Editor : Tin Zulaekha & Anggita Linggar
Penata Letak & Perancang Sampul : Isna Wulandari
Ilustrasi sampul dan isi : Wilsa Pratiwi 
Tebal : 144 halaman 
ISBN : 978-602-317-318-1 
Harga : 50.000

Terdiri dari 15 cerita, buku “Dongeng Fantasi Pembentuk Kepribadian Anak” menawarkan cerita-cerita yang akan mengasah imajinsi anak. Apalagi dalam buku ini dilengkapi dengan gambar full colour.

Selain itu buku ini juga sarat dengan pesan-pesan moral yang mendorong anak untuk memiliki budi pekerti yang baik.

Buku ini bisa dibeli di toko buku terdekat, gramedia atau bisa juga lewat online di bukalapak 

Kisah di Balik Lahirnya Dongeng Fantasi Pembentuk Kepribadian Baik.

Bisa lolos di penerbit mayor adalah mimpi saya sejak dulu, ketika mulai menggeluti dunia literasi. Ada kepuasan tersendiri yang entah bagaimana mengungkapkannya. Dan alhamdulillah kali pertama saya lolos adalah pada naskah ini.  (Buku pertama yang lebih dulu terbit itu malah lolos untuk kedua kalinya). Meski pada mimpi saya dulu adalah menulis novel. Tapi saya tahu Allah pasti memiliki rahasia hingga membuat naskah anak dan non-fiksi yang malah menjadi jalan pertama dalam dunia buku.

Ketika mendengar berita kalau Visi Mandiri dari Ziyad Group sedang membutuhkan naskah, gegas saya mengumpulkan naskah-naskah cerita anak saya. Saya edit lalu satukan. Awalnya kisah ini terdiri dari dua bagian. Yaitu naskah cerita anak biasanya yang berjumlah 11 cerita lalu delapan kisah dongeng fantasi.   

Namun dari penerbit, memberi arahan untuk membagi menjadi dua. Jadi sekali mengirim satu naskah ini akan dijadikan dua buku untuk diterbitkan. Tapi dengan catatan saya harus menambahi beberapa cerita untuk dua buku tersebut.  Saya pun menyanggupinya dengan senang hati. Ini adalah kesempatan.

Saya mengirim naskah ini pada tanggal 30 Desember 2015 dan tanggapannya sungguh menyenangkan, naskah ini langsung acc tidak lama kemudian. Tahu bagaimana rasanya, kan? Ketika mimpi yang sudah lama di pupuk dan kini tumbuh kembang? Antara sedih senang dan terharu. Hhhe lebay, ya ... tapi itulah kenyataannya. Saya semangat empat lima.

Namun ternyata di balik cepatnya proses acc, saya harus bersabar pada proses terbit.  Saya sudah mendapat kabar perihal selesai editing, ilustrasi dan layout itu pada bulan Juli 2016. Kala itu saya pikir, ketika sudah mendapat cover buku akan segera dicetak. Namun saya salah. Buku ini masih harus menunggu daftar cetak.

Di sini kesabaran saya kembali diuji. Tapi akhirnya kesabaran itu berbuah juga. Meski harus memakan waktu hampir satu tahun, buku ini akhinya lahir juga.  :)  


Yuk intip judul-judul kisah dan beberapa ilsutrasi kece yang ada di sini.