Monday, 24 October 2016

[Resensi] Cinta Bersemi di Blue City

Dimuat di Harian Singgalang, MInggu 23 Oktober 2016 

Judul               : Love in Blue City
Penulis             : Irene Dyah
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, Mei 2016
Halaman          : 212 hlm
ISBN               : 978-602-03-2865-2
Peresensi         : Ratnani Latifah


Membaca novel ini kita akan dikenalkan dengan kota kecil bernama Chefchaouen atau juga dikenal dengan sebutan Blue City. Sebuah kota yang terletak di sebelah timur laut Maroko. Memiliki keunikan, di mana  hampir di semua tempat, kota ini didominsi warna biru. Itulah kenapa Chefchaouen dijuluki sebagai mutiara biru.  Di sini pembaaca akan diajak jalan-jalan menimati kota biru ini.

Selain mengenalkan setting kota yang indah, novel ini juga menyajikan kisah yang memikat. Nada Aleema Shahir sangat ingin mengunjungi Chefchaouen, Maroko. Dan keinginannya terwujud berkat kakaknya—Tristan yang berencana berbulan madu ke Maroko. Namun siapa sangka, Tristan harus membatalkan perjalanan itu karena istrinya, Miyu hamil.  Akhirnya hanya Nada yang tetap pergi dengan ditemani Rania sahabatnya (hal. 8).

Alasan kenapa Nada sangat ingin mengunjungi kota ini karena dia sangat tergila-gila dengan warna biru.  Dan dia menjadikan kota ini sebagai tempat yang wajib dikunjungi.  Namun di balik alasan itu sejatinya Nada juga punya misi. Dia ingin bertemu kembali dengan Haykal, sahabat Tristan yang diam-diam disukai Nada.   Tapi betapa kecewanya Nada ketika akhirnya bertemu dengan Haykal, pria itu malah muncul dengan seorang gadis cantik bernama Noemie.

Sedih dan kecewa itulah yang Nada rasakan, tapi, dia tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Bagaiamana pun dia tengah liburan di kota impiannya. Jadi dia harus menikmatinya. Begitulah keinginan Nada dalam hati.

Tapi betapa Nada berusaha untuk bersikap wajar, dia tetap kesulitan. Dia sedih juga marah. Masalahnya, meski Haykal nampak dekat dengan Noemie, pria itu tetap perhatian dan suka usil pada Nada.  Belum lagi Nada terjebak menjalin persahabatan dengan Neomie yang ingin belajar tentang Islam pada Nada.

“Aku hanya berharap kamu tidak keberatan berkawan denganku. Aku ingin punya lebih banyak teman muslimah.” (hal. 83-86).

Di lain sisi Haykal mengkhawatirkan sikap Nada yang terlihat agak berubah. Jika sebelumnya gadis itu selalu cerewet dan suka marah-marah, maka kali ini Nada terlihat lebih pendiam. Padahal dia sudah berjanji pada Tristan untuk selalu menjaga Nada selama berada di Blue City. Bahkan di saat Nada selalu menjaga jarak, Haykal terus berusaha menjaga gadis itu.

Akan tetapi meski Haykal selalu bersikap baik, sikap Nada tidak berubah. Gadis itu masih suka marah tidak jelas dan kadang sangat pendiam.  Dan sikap Nada semakin aneh ketika mendengar percakapan yang tidak sengaja dia dengar. Percakapan yang merubah segalanya. Membuat Nada sedih, Haykal bingung dan Noemie marah dan tidak habis pikir.  Entah bagaimana para tokoh di novel ini menyikapi tumbuhnya cinta di kota biru itu.

Novel ini mengambil mengambil tema sederhana namun dieksekusi dengan sangat baik. Gaya bahasanya renyah, percakapan antara tokoh membangun kisah ini semakin asyik untuk diikuti dan terasa hidup.

Dan yang paling menarik tentu saja setting dari kisah ini sendiri.  Penulis menjabarkan dengan baik  kota yang memiliki sebutan mutiara biru.  Di sana Nada menikmati perjalanan melewati lorong biru Medina, lalu melakukan perjalanan ke Spanish Mosque.

Hanya saja, saya merasa kurag sreg dengan sikap Nada. Sebagai seorang muslimah yang berhijab saya merasa karakternya belum terlalu kuat.  Atau mungkin tokoh Nada sengaja dipaparkan seperti ini, karena bercermin dari para muslimah saat ini. Tapi lepas dari kekurangannya, novel ini tetap asyik untuk dinikmati. 

Membaca novel ini mengajarkan bagaimana cara menjemput cinta yang baik.  “Bidadari istimewa, hanya bisa dipesan setelah membayar mahal. Dan rasa sayang itu harus diperjuangkan.” (hal. 131-135)

Serta mengajari untuk selalu menyukuri apa yang dimiliki dan menerima semuanya dengan ikhlas apa yang telah digariskan Tuhan.  “Hidup selalu indah jika kita pandai bersyukur. Kalau kita ikhlas menerima skenario Tuhan, apa pun bentuknya. Kadang yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Dia.” (hal. 192)

Srobyong, 16 Oktober 2016 


Sunday, 23 October 2016

[Review] Cinta, Persahabatan dan Keluarga

Judul               : Janji Matahari
Penulis             : Koko Ferdie
Penerbit           : Diandra
Cetakan           : Pertama, 2016
Halaman          : 121 hlm


Blurb
Aku tidak pernah cukup paham tentang cinta.
Bertemu denganmu, bisakah kukatakan adalah suatu kebetulan?
Kau menyeretku begitu dalam,
Hingga membuat ruang di dada serta pikiranku hanya tertuju padamu.
Tatapanmu dingin dan menyimpan luka teramar dalam.
Bisakah aku menjadi penghapus akan kesedihanmu itu?
Namun, ketika aku berlari dan mencari tahu banyak hal tentangmu.
Aku justru kian menyadari,
Bila kita ditakdirkan bertemu namun tidak bersatu.

~*~

Cinta memang tidak bisa terprediski, dia datang secepat mata memandang. Lalu bagimana agar cinta itu tidak menjadi pesakitan? Karena cinta memang selalu memberi kejutan.

Novel ini menceritakan tentang  Tomomi Kawaguchi.  Gadis itu memilih melanjutkan pendidikannya di Koishitai Gakuen. Ada beberapa alasan kenapa Tomomi memilih sekolah ini.  Salah satunya adalah alasan yang sengaja dia rahasiakan (hal. 6) Hal ini masih da hubungannya dengan cerita masa lalu.

Keputusannya untuk sekolah di sana, mempertemukan Tomomi dengan Haruna. Teman SMP-nya yang tidak begitu akrab.  Haruna juga punya alasan kenapa memilih sekolah itu.  Yaitu untuk mengejar cinta pertamanya—Makoto Miura.  Sebuah alasan yang cukup membuat Tomomi terkejut.  Kenapa Haruna jatuh cinta dengan Makoto? Apa alasannya?

Menginta mereka berasal dari sekolah yang sama di masa lalu ..., pada akhirnya membuat mereka dekat.  Persahabatan pun tercipta di antara mereka. Apalagi bagi Haruna yang dulu memiliki masa lalu suram tentang persahabatan. Begitupun dengan Tomomi.

Selain itu, di tempat ini  juga membuat Tomomi bertemu dengan orang-orang yang tidak terduga.  Salah satunya adalah sosok laki-laki yang  diusir  dari sebuah kedai. Dan laki-laki itu meninggalkan  gantungan kunci yang berbentuk lonceng, bertuliskan nama Haru.  Laki-laki itu membuat Tomomi sangat penasaran.  Di sana

Ketika Tomomi masih  memikirkan  bagaimana cara mengembalikan lonceng itu pada laki-laki misterius itu, Tomomi malah dipertemukan dengan Makoto Miura (hal. 25-26)

Di sinilah masalah bermula.  Siapa sangka ketika Haruna berjuang ingin mengejar Makoto Miura, laki-laki itu malah menyukai Tomomi. Itu bisa dilihat dari bahasa tubuh Makoto.   Sedang Haruna pernah berpesan pada Tomomi sesuatu yang mengejutkan.

“Aku menyukai kalian berdua. Dan, aku  hanya berharap kau tidak akan menyukai Makoto-senpai karena aku akan membencimu.  Begitu pula jika Makoto-senapai menyukaimu. Maaf jika aku egois. Tapi Makoto-senpai sudah seperti kakak yang menyenangkan bagiku setelah kakakku meninggal. Kau pun sama Tomomi.” (hal. 38)

Namun siapa yang bisa mencegah cinta yang tumbuh  tanpa  bisa diduga itu?  Di sisi lain, Tomomi juga mengalami hari-hari yang tidak terduga dengan laki-laki yang bernama Haru itu.  Entah mengapa mereka selalu dipertemukan.  Dan Haru memiliki sisi yang membuat Tomomi simpati. Ada pertanyaan yang menganga di hati Tomomi. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Haru?

Di tengah kebingungan Tomomi memikirkan masa Haru, Tomomi juga harus berhadapan dengan kenyataan, bahwa persahabatannya diambang kehancura. Entah apa yang ada dilakukan Tomomi.  Belum lagi satu persatu misteri yang selama ini menghantui Tomomi mulai terkuak. Ada apa dengan masa lalu Tomomi? Dan apa alasan sebenarnya  Tomomi memilih sekolah ini? Selain dua pertanyaan ini, sebenarnya masih banyak pertanyaan yang lain yang membuat pembaca akan bertanya-tanya.

~*~
Novel ini diceritakan dengan gaya bahasa yang manis dan mengasyikkan.   Mengambil tema sederhana tentang cinta, persahabatan dan keluarga, membuat novel ini terasa dekat dengan pembaca.
Pertama membaca novel ini, saya pikir kisahnya berpusat pada cinta itu sendiri.  Semacam cinta segi tiga atau segi empat.  Tapi, ternyata setelah membaca secara perlahan, saya menyadari ada konflik lain yang ingin dibangun oleh penulis.

Memang ada cinta yang terlihat nyata dari kekukuhan Haruna yang menyukai Makoto. Sedang  Makoto malah tertarik dengan Tomomi. Di salin sisi Tomomi bertemu Haru yang membuatnya simpati, juga sebuah janji masa kecilnya.  Tidak ketinggalan sebuah masa lalu tentang keluarga Tomomi yang ingin dia pecahkan.  Juga persahabatan yang diambang kehancuran. Kompleks dan agar rumit, memang. Tapi itulah yang menjadi poin penting.  Pembaca diajak  mengurai satu persatu agar puzzle-puzzle tersebut.

Novel ini cukup memikat. Saya menikmati setiap lembar halaman yang ada. Hanya saja, saya merasa buku ini terlalu tipis, kurang tebal.  Dalam novel ini saya menemukan banyak karakter tokoh yang ada. Namun  saya belum merasakan ketuntasan pada setiap tokoh, kecuali Tomomi yang paling menonjol.  Seolah tokoh selain Tomomi hanya singgah sebentar dan kemudian berlalu.  

Tapi lepas dari itu, novel ini tetap memikat dengan kelebihan yang dimiliki. Banyak pelajaran yang bisa saya petik setelah membaca novel ini.

Saya belajar arti persahabatan yang seharunya dibina dengan kejujuran. “Sahabat memang harus saling melengkapi.” (hal. 95)

Begitupun dengan masalah keluarga. Kadang kenyataan pahit itu harus diungkapkan agar tidak menjadi beban dan membuat orang lain terluka lebih dalam. Selain itu, saya diajak untuk bisa move on dari masa lalu.  Maafkan, lah, maka hatimu akan ringan. Begitulah, hidup tidak selamanya mengalami fase bahagia saja. ada sedih juga suka. Jadi cobalah menjadi seorang pribadi yang selalu menerima setiap fase hidup. Tegar dan teruslah melangkah.   Selamat membaca.

Sunday, 16 October 2016

[Review] Meneladani Sikap Rasulullah SAW yang Jarang Diceritakan


Judul               : Rasulullah SAW The Untold Story
Penulis             : Ali Abdullah
Penerbit           : Quanta
Cetakan           : Pertama, 2015
Halaman          : 182 hlm
ISBN               : 978-602-02-5885-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara


Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran bahwa Nabi Muhammad saw ada uswatun khasanah—suri tauladan yang baik bagi seluruh umat di dunia.  Namun begitu Rasulullah saw tetaplah manusia biasa. Beliau menikah, makan, minum,  mandi. Merasakan sedih atau bahagia sebagaimana manusia pada umumnya. Pernah merasakan sakit juga melakukan kekeliruan.   Hanya saja tentu saja ketika Rasulullah melakukan kesalahan cepat-cepat bertaubat dan memperbaiki diri.  Beliau adalah seorang manusia biasa, tetapi tidak seperti manusia biasa. Beliau istimewa dan merupakan orang terpilih.

Berangkat dari itu, penulis mencoba mengajak pembaca untuk mengambil hikmah—meneladi sikap Rasulullah saw dari kisah-kisah yang jarang diperbincangkan dalam kajian serius. Terdiri dari 30 kisah inspiratif yang menunjukkan bahwa Rasulullah adalah manusia biasa namun tetap  tidak menjatuhkan wibawanya dan tetap memiliki akhlakul kharimah.

Sebagai manusia biasa Rasulullah saw pernah keliru. Ketika itu beliau mendapati masyarakat Madinah melakukan penyerbukan kurma. Rasulullah saw menduga jika hal itu tidak dilakukan  hasilnya akan baik.  Pendapat itu pun diikuti masyarakat.  Namun ketika waktu paneh, hasil kurmanya malah berkurang. Rasululllah pun yang menyadari kekeliruan beliau. Menanggapi itu, Rasulullah kemudian menyatakan bahwa beliau hanya menduga. Praduganya itu tidak ada kaitannya dengan firman Allah.  Lalu beliau bersabda “Kalian lebih mengetahui tentang perkara dunia kalian.” (hal. 3)

Dari kisah ini kita dapat mengambil hikmah, agar kita membedakan mana yang menjadi urusan agama (akhirat) dan mana yang urusan dunia.  Jika dalam urusan agama Rasulullah adalah ahlinya namun dalam urusan duniawi (seperti penyerbutkan kurma) Rasullullah tidak mutlak mengetahui. Namun dari kekeliruan tersebut, Rasulullah lalu mengoreksi diri dan menasihati para sahabat dengan nasihat yang baik—yaitu untuk menyerahkan perkara pada ahlinya.

Dalam kisah lain diceritakan. Pernah pada suatu kesempatan Rasulullah tengah menghadapi beberapa orang terkemuka Quraisy yakin ‘Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal dan Abbas bin Abdil Mutahlib dengan maksud menjelaskan hakikat Islam. Namun tiba-tiba ada seorang laki-laki buta—Abdullah bin Ummi Maktum—untuk meminta Rasulullah untuk mengajarkan beberapa bacaan ayat Al-Quran. Rasulullah pun merasa terganggu dengan memperlihatkan wajah yang masam.

Lalu turunlah surat Abasa ayat 1-10 yang mengingatkan Rasulullah untuk mengontorol akhlak beliau agar senantiasa menjadi sosok teladan bagi umat manusia di seluruh dunia. (hal. 9)  Dalam kisah ini kita diajak belajar agar tidak membeda-bedakan orang dalam status sosial yang dimiliki.

Rasulullah pun pernah lupa. Diceritakan Rasulullah tengah melakukan shalat Zuhur yang harus dikerjakan 4 rakaat. Namun dalam keadan lupa Nabi sudah mengakhiri shalat dengan dua rakaat salam. Melihat kesalahan itu, seorang sahabat mengingatkan Rasullullah. Lalu Nabi pun melanjutkan dua rakaat lagi dan sebelum salah beliau menambah sujud sahwi. (hal. 20) Dari kisah ini kita dapat meneladani sikap Rasulullah yang mau mendengar pendapat orang lain—beliau tetap rendah hati.  Kejadian tersebut juga memberi keteladanan dalam bidang fikih Islam.

Selain lupa, Rasulullah sebagai manusia biasa juga pernah shalat subuh kesiangan. Kala itu Rasulullah dan para sahabat melakukan perjalanan sampai di sepertiga malam.  Sebagian sahabat mengusulkan kepada Rasulullah agar beristirahat dan tidur sebentar.  Namun Rasulullah menolak karena takut kebablasan sehingga melewatkan waktu Subuh.  Lalu Bilal pun berjanji akan membangunkan Nabi, karena dia berencana tidak akan tidur sehingga Nabi setuju. Tapi siapa sangak Bilal tertidur dan Rasulullah terbangun ketika garis matahari telah di ujung timur.  Rasulullah pun segera mengambil air wudhu dan shalat (hal. 33)

Inilah nanti yang menjadi rujukan ilmu fikih, bahwa jika selama tidur itu tidak sengaja, maka keterlambatan itu diampuni. Namun jika sejak wal sudah berencana untuk terlambat shalat maka itu berdosa.

Selain kisah-kisah ini masih banyak lagi kisah lain yang menunjukkan sisi manusiawinya Rasulullah namun tetap bisa diambil pelajaran untuk terus memperbaiki diri. Sebuah buku yang inspiratif dan memberikan banyak pembelajaran. Dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah, membuat buku ini asyik untuk dibaca. Penulis menyajikannya dengan tutur bahasa lembut dan tidak terkesan menggurui.

Srobyong, 17 Agustus 2016 

Dimuat di Koran Medan Bisnis, Minggu 16 Oktober 2016





[Review] Mengenal Fakta Unik Binatang Melalui Dongeng


Judul               : Dongeng Seru dan Fakta Unik Binatang
Penulis             : Shabrina WS.
Penyunting      : Tin Zulaeha, Sulistyo Wibowo
Ilustator           : Anggi Rois
Penerbit           : Visi Mandiri
Cetakan           : Pertama, Agustus 2016
Halaman          : 112 hlm
ISBN               : 978-602-317-276-4

Salah satu cara agar menambah pengatahuan anak  adalah dengan membaca. Karena hal itu, sejak dini sangat baik bagi anak untuk dikenalkan dengan bacaan yang mendidik. Namun begitu tentu saja dalam memilih bacaan orangtua menyesuaikan dengan usia anak.  Dari pengamatan yang ada, anak lebih suka membaca buku dengan adanya unsur gambar ilustrasi cantik sebagai dorongan untuk mau membaca. 

Dongeng Seru dan Fakta Unik Binatang karya Shabrina WS, bisa dijadikan salah satu pilihan agar dibaca anak. Karena selain menawarkan ilustrsi yang cantik,  anak bisa belajar tentang fakta unik binatang juga membentuk kepribadian yang baik dari kisah-kisah dongeng yang ditawarkan. Terdiri empat belas dongeng yang sarat makna, sangat direkomendasikan untuk dibaca.

Misalnya dongeng berjudul ‘Ran, Tikus Pengerat’  mengajarkan anak untuk bekerja keras dalam  meraih cita-cita, jangan menjadi orang pemalas. Juga mengenalkan fakta unik tentang Tikus. Di mana tikus adalah binatang pengerat. Dengan mengerat, gigi mereka tidak akan rusak, justru lebih kuat dan rapi. Gigi depan tikus tumbuh sekitar 3,5-4,5 inci per tahun.  Hal ini menyebabkan tikus harus menggerogoti benda-benda di sekitarnya agar gigi depannya  terkikis. Bila tidak, gigi tikus akan menembus dan melukai bibir dan mulutnya. (hal. 20)

Atau dongeng berjudul ‘Jagad Si Flying Squad’ mengajarkan anak agar menyayangi binatang. Bahwa gajah itu bisa bekerja sama dengan manusia. Gajah tidak akan mengganggu jika wilayahnya tidak diganggu. Dan fakta uniknya adalah bayi gajah yang baru lahir beratnya sekitar 100 kilogram. Kalau gajah dewasa beratnya bisa mencapai 4-5 ton. Satu gigi gajah dewasa beratnya sekitar 4 kilogram. Kadang gajah menyeprotkan debu ke badannya untuk mengusir serangga. (hal. 42)

Tidak kalah menarik adalah dongeng berjudul ‘Cruin Si Katak Merah’ yang mengajarkan anak untuk tidak mengganggu dan menyakiti hewan-hewan di sekitar kita. Fakta uniknya adalah Katak adalah hewan pemangsa hama. Di Indonesia ada beberapa spesies katak. Katak merah atau Leptophryne cruentata adalah salah satu spesies katak di Indonesia yang terancam punah. (hal. 49)

Lalu dongeng ‘Pergi ke Seberang Sungai’ yang mengajak anak untuk saling membantu dalam kebaikan, mengucapkan terima kasih pada orang lain sehabis dibantu.  Dalam kisah ini penulis menjukkan fakta unik tentang Kuda nil. Binatang itu berendam dalam air hingga 14 jam. Kuda nil juga suka berendam di lumpur, menyusui anaknya hingga 18 bulan. Makanannya adalah rumput dan tumbuhan lain. (hal. 87)

Selain empat kisah yang sudah dipaparkan masih banyak lagi dongeng menarik lainnya yang inspiratif.  Dilengkapi dengan animal paper toys yang bisa dibuat maninan anak sehingga bisa mengasah motoriknya, menambah keunggulan buku ini.  Diceritakan dengan gaya bahasa khas anak mudah dipahami. Beberapa kesalahan kepenulisan tidak mengurangi kenikmatan membaca.


Srobyong, 23 Agustus 2016 

Wednesday, 12 October 2016

[Resensi] Hijab: Antara Fashion dan Keyakinan


Judul               : My Hijab
Penulis             : Ifa Avianty
Penerbit           : Pastel Books, Penerbit Mizan
Cetakan           : Pertama, Mei 2016
Halaman          : 164 hlm
ISBN               : 978-602-0851-42-3
Peresensi           : Ratnani Latifah, Penikmat buku dan penyuka literasi. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Memakai hijab adalah sekian dari banyak perintah Allah kepada Muslimah. Keputusan untuk mengenakan (dan juga melepaskannya) adalah  pilihan. Hijab itu bukan sekadar pemanis belaka atau untuk mengikuti fashion yang ada. Namun sebuah usaha untuk menutup aurat menjalankan syariat agama. Mantapkan niat dan tujuan dalam berhijab agar tidak ada kecewa dalam pilihan yang kita buat. (hal. 6)

Dulu sekitar tahun 80-90-an, hijab lebih dikenal dengan sebutan jilbab. Kala itu belum banyak Muslimah Indonesia yang mengenakan hijab. Jika pun ada para pemakai hijab itu berasal dari kalangan anak pesantren.  Untuk anak di sekolah umum bisa dihitung jari. Banyak masyarakat yang memandang bahwa memakai jilbab itu aneh, apalagi jika itu hijab yang panjang.  Bahkan pada tahun 1991 ketika Surat Keputusan jilbab sudah resmi diberikan, masih banyak intimidasi terhadap akhwat yang berjilbab.  (hal. 30-31)

Masyarakat belum bisa menerima kehadiran Muslimah berhijab di ruang publik. Ada anggapan bahawa ketika berhijab akan membuat jodoh sulit datang, susah mendapat pekerjaan dan dianggap sebagai teroris. Miris sekali mengingat Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki penduduk pemeluk agama Islam  paling banyak di dunia.  

Padahal sudah dijelaskan dalam dalam surat Al-Ahzab ayat 59. Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya—ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Buku ini merupakan kisah nyata penulis dalam memperjuangkan pilihannya memakai hijab.  Dia menyampaikan bagaimana perjuangan para muslimah yang dulu ingin menunaikan kewajiban Allah yang penuh liku. Berbeda dengan sekarang, hijab sudah mulai diterima masyarakat luas. Bahkan hijab kini malah sudah menjadi fashion tersendiri yang tidak kalah menarik dengan fashion lainnya.

Hal ini bisa dilihat dari kemunculan berbagai jenis fashion hijab. Seperti Jilbab Jhoda Akbar—yang diadaptasi dari salah satu film India yang laris di Indonesia. Ada pula Jilbab  Hana—diambil dari salah satu film di Indonesia. Contoh lagi Jilbab Wolfis, Rawis, paris dan masih banyak lagi.

Melihat fenomena ini, penulis selain senang karena hijab sudah diterima, namun juga mulai resah. Karena melihat kenyataan hijab lebih pada digunakan untuk fashion saja, belum dipilih dari hati.  Padahal seyogyanya, ketika seorang Muslimah sudah memutuskan berhijab, ada baiknya juga mulai memperbaiki diri. Dimulai dari cara menjaga bicara, menjaga pandangan mata, menjaga agar selalu berperilaku baik dan sopan dan menjaga jilbab itu sendiri.  Memantapkan niat dan tujuan dalam berhijab.

Penulis juga menghimbau bagi para Muslimah yang berhijab, jangan khawatir untuk masalah jodoh atau karir. Jodoh adalah rahasia Allah, yang terpenting adalah terus memperbaiki diri dan tidak lupa berdoa pada Allah. Dan masalah karir, sekarang ini sudah terbukti meski berhijab kita tetap bisa berprestasi dalam membuka bisnis atau bekerja kantoran. Sebuah buku yang sangat inspiratif dan recomended untuk dibaca bagi perempuan. Dipaparkan dengan gaya bahasa yang santai dan menyenangkan.


Srobyong, 7 September 2016

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 9 Oktober 2016