Thursday, 17 September 2015

2 yang Menginsprasi Tak Pernah Mati



By Kazuhana El Ratna Mida

Setiap orang pasti memilki sesuatu yang bisa dijadikan inspirasi dan motivasi untuk kemajuan diri. Sama halnya dengan saya. Misal tentang keidolaan pada ilmuan atau tokoh pejuang Islam, buku dan lain sebagainya. Pada dasarnya memang  banyak yang menginspirasi dan memotivasi saya sampai detik ini. ^^ Tapi ..., saat ini yang ingin saya beritahukan itu dua buah film yang selalu memberi inspirasi dan motivasi bagi saya. Dua film yang menurut saya berbeda dan sangat luar biasa.  Dua film yang sampai saat ini kalau disuruh menonton kembali saya pasti akan melakukannya dengan senang hati. Dan kenapa saya bisa suka? Cek yuk, alasannya. 


  • Harry Potter





Oke, siapa yang tidak kenal dengan Harry Potter? Film yang diadaptasi dari novel J.K Rowling, yang mendulang kesuksesan dan menjadikan penulisnya menjadi miliader. Dimana film ini memiliki 7 seri sesuai dengan novel yang ada. Tapi diseri yang ke-7 harus dibagi menjadi dua; part 1 dan part 2. Film yang juga mendapat banyak penghargaan. Jadi, apa saja sih, seri dari Film Harry Potter? 

·         2001 -  Harry Potter and the Philosopher's Stone
·         2002 -  Harrry Potter and the Chamber of Secrets
·         2004 - Harry Potter and the Prisoner of Azkaban
·         2005 -  Harry POtter and the Goblet of Fire 
·         2007 -  Harry Potter and the Order of the Phoenix
·         2009 - Harry Potter and the Half-Blood Prince
·         2010 - Harry Potter and the Deathly Hallows  Part 1
·         2011 - Harry Potter and the Deathly Hallows  Part 2

Dari semua film itu ..., mengajarkan pada saya tentang arti sebuah persahabatan. Yup, persahabatan yang ditunjukkan Harry Potter, Ronald Weasley dan Hermione Granger. Walau kadang ada selisih paham, dan beda pendapat. Namun dari awal hingga akhir persahabatan mereka masih terjaga. Dan bagaimana mereka mencoba mengalahkan musuh? Mereka selalu memiliki sikap yang gigih dan tidak mudah menyerah. Sikap yang harus dicontoh kalau memang ingin mencapai apa yang diinginkan. Selain itu ..., film Harry Potter meski meroket, juga ada kritik pedas, dimana kelemahan dari  film  ini terlihat menunjukkan kematian yang suram. Tapi ..., memang begitulah selalu ada pro dan kontra. Tapi mengangkat teman kematian menurut saya, sah-sah saja. Bukankah nanti suatu saat juga mati?  Film ini juga jadi merangsang saya untuk menulis dan berimajinasi dengan bebas.

Mengintip sedikit sinopsis film Harry Potter :

Bahwa dikisahkan, Harry Potter awalnya tidak tahu bahwa dia seorang keturunan penyihir. Dia hidup bersama paman, bibi dan saudara sepupunya yang seorang muggle—seorang yang hidup di dunia biasa, bukan dari dunia sihir.  Lalu pada saat dia berusia 11 tahun dia mendapat undangan untuk sekolah di Sekolah Penyihir Hogwart. Saat itulah pertama kali, Harry tahu siapa dia sebenarnya. Di sekolahnya itu ..., dia bertemu dengan Ronald Weasley—penyihir dari keluarga miskin dan Hermione Granger—penyihir berbakat dari keluarga muggle. Mereka pada akhirnya akan bersahabat, meski mereka berbeda satstus. Mereka mengalami banyak petualangan untuk mengalahkan penyihir jahat Lord Voldemort yang ingin menguasai dunia.  


  • Lord of The Rings


Sama halnya dengan Harry Potter, Lord of The Rings pun bergenre fantasi. Film yang juga memiliki seri. Tapi di Lord of The Rings, hanya memiliki tiga seri. Film yang disutradai oleh Peter Jakcson diadaptasi dari novel juga. Karya  J.R.R. Tolkien. Yang juga menorehkan banyak prestasi. Ketiga seri itu  berjudul :

·         2001 The Fellowship of the Ring
·         2002 The Two Towers
·         2003 The Return of the King

Film yang menurut saya, juga sangat menginspirasi dan memberi motivasi. Saya mengatakan menginspirasi dan memotivasi karena di sana, saya diajak untuk melihat Frodo yang harus mengendalikan diri kalau ingin menyelesaikan misi yang diemban. Padahal saya tahu mengendalikan diri adalah hal yang sangat sulit. Bahkan frodo juga berkali-kali hampir gagal dan terpengaruh dengan suara-suara jahat yang sering menghampirinya. Jika dilihat tugasnya yang hanya membuang cincin, itu telihat mudah. Padahal sejujurnya cincin itulah biang masalah yang bisa membuat seseorang jadi lupa diri dan menjadi rakus. Dan kalau bisa menghancurkan film itu, maka sama saja bisa menghancurkaan kejahatan dari Dark Lord Sauron.

Misi ini tentu tidak hanya diemban Frodo Baggin—hobit—seorang, yang dalaam perjalanannya ditemain Sam, teman setia Frodo. Ada beberapa bantuan baik dari Aragorn , putra mahkota Gondor, dan penyihir Gandlf, Legolas—dari dunia Peri dan Gimli—si makhluk kerdil.  Mereka saling membantu untuk mengalahkan musuh yaitu Dark Lord.

Disini ditunjukkan untuk mengalahkan musuh besar, semua harus saling membantu bahu membaahu tidak peduli suku dan ras.  Ada juga tokoh Golum, dia ini yang akan selalu menggoda Frodo untuk berkhianat.

Ini kalau menurut saya. Dua film ini mengajak saya untuk melihat sisi lain yang kadang terlupakan. Hal-hal sepele namun sejatinya bermakna. Persahabatan dan persatuan, saya melihat semua itu di dua film ini.  Kalau menurut teman-teman apa sih, film yang sangat berkesan, hingga menginspirasi dan memotivasi? Saling berbagi yuk ...!

Srobyong, 17 September 2015






Friday, 11 September 2015

Glass Shoes





Kazuhana El Ratna Mida

Laisa sadar dia merasa selalu tertarik dengan sepatu kaca. Dia ingin memilikinya. Mata itu selalu berbinar jika melihat. Tapi anehnya berbanding terbalik dengan reaksi tubuhnya. Ya,  entah kenapa setiap kali menatap deretan sepatu kaca di etalase toko, kepalanya mendadak pening dan matanya berkunang-kunang. Ada ketakutan yang sama sekali tidak dipahaminya.

~*~
“Oh ..., Lai, kau sudah pulang.” Sang ibu menyambutnya dengan tawa riang.  “Aku senang, kau baik-baik saja. Ibu sungguh khawatir kau kenapa-napa tadi.” Ibunya merangkul pundak Laisa.

“Lai tidak apa-apa, Bu. Lai sudah sembuh.” Laisa tersenyum. Seminggu yang lalu, Laisa memang sempat harus dirawat di rumah sakit. Tapi syukurlah tidak terlalu lama. Dia bahkan sudah bisa kembali ke sekolah.

“Ya, sudah cepat ganti baju dan kita makan siang bersama. Sebentar lagi dua kakakmu juga akaan datang.” Laisa menurut. Dia sungguh bersyukur, memiliki ibu tiri yang sangat baik hati itu.  Dua kakakknya pun selalu menyayanginya. Oh ..., padahal dulu Laisa sempat takut tentang mitos ibu tiri yang akan selalu jahat pada anak angkat yang dimiliki. Dia bahkan sempat menolak ketika ayahnya mengutarakan niat untuk menikah lagi. Ternyata dugaannya salam.

“Ye ..., malah bengong. Ayuk dari tadi ibu manggil kita untuk  makan.” Misca menepuk pundak Laisa hingga gadis itu sedikit berjingkat. Di pojok kanan Kara yang juga melihat kejadian itu malah terpingkal-pingkal. “Makanya jangan banyak melamun, Lai. Bisa-bisa kesurupaan.” Kara terkekeh.

Setelah selesai makan siang, sang ibu memanggil Laisa juga kedua kakaknya. Ibunya memberikan masing-masing sepatu kaca cantik yang membuat kedua kakaknya berjingkrak saking senangnya. Tapi Laisa hanya menatap begong. Dia juga senang tapi sisi lain dirinya seolah berbisik untuk tidak mengambilnya, mengisyaratkan marabahaya. Laisa memgang kepalanya, matanya mulai berkunang-kunang Laisa pun akhirnya  pingsan.

~*~
“Hah?! Masak, ibu kamu baik banget sama kamu,” komentar Rosa. Teman sebangku Laisa terlihat kaget setelah mendengar cerita temannya itu baru saja dapat sepatu kaca baru yang berakhir dengan pingsan. Rosa mengernyitkan kening.

 “Aih ... pasti ada udang di balik rempeyek kalau sampai ibumu bersikap aneh gitu.” Rosa mencerca.

 Laisa menatap bingung temannya. “Apa yang kau bicarakan? Aku tidak paham deh. Bukankah sejak dulu ibu dan dua kakakku memang selalu baik?” kini Laisa yang mengeryit.

“Ya! Apa kepalamu terbentur batu hingga kau lupa segalaa kejahatan yang mereka lakukan?” Rosa menutup mulut sendiri ketika ingatannya terpelanting pada saat Laisa ditemukan jatuh dari tangga.

 “Ros, kau baik-baik saja?” Laisa semakin bingung.

 “Kau sungguh ingat aku?” Rosa memegaang pundak temannya itu.

 “Tentu saja aku mengingatmu, kau ini kenapa sih.”  Laisa mengangkat bahu.

 “Ta-ta-pi ..., kenapa kamu tidak ingat dengaan kejahatan ibu dan saudara tirimu?” Rosa menggaruk-garukkan kepala. Lalu memanggil Natan yang tidak sengaja lewat di pintu kelas mereka.

“Kalau kau tidak percaya padaku. Coba saja kau tanya Natan. Dia yang sering menyelamatkanmu ketika kau disiksa ibu tirimu itu.”

“Natan?” Laisa mengertnyitkan kening. Menatap Natan lamat-lamat hingga cowok tinggi itu sedikit grogi. “Siapa dia? Apa aku mengenalnya. Seketika Rosa dan Natan melongo. Ini namanya bencana. Laisa ternyata mengalami amnesia disosiatif.[1] Natan yang memang tertarik dengan dunia kedokteran dan gila membaca itu menyimpulkan.

Natan menatap nanar pada gadis itu. Gadis yang selalu dia cintai sepenuh hati. Dan sekarang gadis itu bahkan tidak mengingat dirinya, itu adalaah pukulan keras yang sungguh membuatnya merasa sedih dan kesal. Ah ..., andai tidak ada hari itu. Natan mengucapkannya dalam hati. Kejadian yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.

“Hai, tenanglah. Pasti ada cara untuk menyembuhkan Lai. Dan kita harus melakukannya. Aku yakin mereka punya maksud jahat dengan berpura-pura baik pada Laisa.” Rosa berbisik.

“Sepertinya Laisa tidak tahu kalau ayahnya telah meninggal,” lanjut Rosa. Natan mentap temannya itu.

 “Tadi dia bercerita sepatu itu dibelikan untuk menyambut kepulangan ayahnya.”  Natan mendelik.

 “Hai, kenapa kalian saling berbisik?” Laisa protes.

“Tidak ada, kok.” Rosa menggeleng. “Eh ..., apa hari ini kami boleh main ke rumahmu?” 

“Kau dan dia?” Laisa menunjuk pada Natan.  Rosa mengangguk. “Kalau kau tidak kenal mulai sekarang kamu harus mengenalnya. Rosa tersenyum.

Setelah pulang sekolah, mereka pun ke rumah Laisa seperti janji yang mereka buat. Di sana Laisa disambut ramah oleh ibunya. Tapi Rosa dan Natan yang masih warasa tahu, kalau itu hanya kepura-puraan.

“Aku bolehkan melihat sepatu kacamu?”

 Laisa mengangguk dia mengajak Rosa dan Natan ke kamarnya.

“Coba kau pakai.” Natan menyuruh Laisa. Namun Laisa langsung menolak dengan keras meski hati kecilnya merasa ingin.

“Ayolah kau tidak akan apa-apa.” Natan meyakinkan pun dengan Rosa. Awalnya Laisa ragu tapi pada akhirnya dia berhasil mengenakana sepatu kaca itu. Meski dentuman kesakitaan seperti mencabik-cabik kepalanya. Laisa jatuh terkulai lagi.

“Lai kau tidaka apa-apa?” Rosa dan Natan sungguh khawatir.

Saat terjatuh dan terbentur lantai, mendadak Laisa merasakan esensi yang berbeda. Seolah dia merasa pernah mengalami kejadian seperti itu.  Memakai sepatu kaca dan bergegas pergi. Mendengar banyak suara yang berdentum keras. Lalu jatuh tidak sadarkan diri.

~*~

“Kau baik-baik saja?” Rosa dan Natan bernapas lega setelah melihat Laisa siuman. Laisa menatap ke sekeliling dan menyadari kini dirinya berada di rumah sakit.

 “Ibu dan Kakakku mana?” Rosa menunjuk ke luar. “Panggilkan mereka, ya,” pinta Laisa.

 Di  luar ibu dan kedua kakak tirinya tampak gusar. Mereka takut ingatan Laisa segera pulih dan tidak bisa mereka tipu lagi. Padahal rencana yang mereka buat tinggal sebentar lagi akan sukses. Ketika mereka bisa meminta tanda tangan dari Laisa maka gadis itu akan terdepak.

 “Ibu kenapa?” Laisa menatap ibunya yang terlihat kuyu ketika menemuinya.

“Tidak ada, Sayang. Ibu hanya kecapean.” Dia berbohong.  Laisa mengangguk dan mengizinkan ibunya untuk pulang terlebih dahulu agar bisa istirahat.  Saat itulah tanpa sengaja dia melihat kertas yang disembunyikan ibunya. Sebuah surat kuasa. Dia menutup mulut.

“Lai, kau kenapa?” Rosa memegang pundak Laisa perlahan. Laisa menggeleng.

“Syukurlah.” Rosa semringah pun dengan Natan.

“Boleh aku meminta bantuan kalian?” mereka saling pandang dan mengangguk.

Sore itu akhirnya ibu dan dua kakak tiri Laisa ditangkap polisi dengan tuduhan percobaan pembunuhan dan penipuan.

Epilog

Laisa membiarkan dirinya di rangkul Natan. Mereka duduk di bangku sebuah taman.

“Hari itu aku senang sekali akan pergi kencan denganmu. Aku bahkan sampai membeli sepatu baru; sepatu kaca yang selalu kuincar sejak dulu. Sepatu yang hanya kugunakan untuk kencan dengan seseorang yang sangat spesial di hatiku.  Aku juga sedikit berdandan. Suatu hal yang jarang kulakukan. Namun, ketika aku menuruni tangga, seseorang mendorongku dengan keras. Membuatku jatuh berguling-guling.”  

Srobyong, 11 September 2015.

 Diikutkan dalam TakeOffMyRedShoesGA



[1] Kondisi ini berkaitan dengan ketidakmampuan untuk mengingat informasi pribadi yang penting yang biasanya bersifat traumatik secara emosional atau mempunyai beban tekanan yang kuat terhadap emosional

Thursday, 10 September 2015

[Review] Jelajah Dunia Anak




Kazuhana El Ratna Mida
Judul               : Kumpul Bocah
Penulis             : Lovrinz and Friend
Penerbit           : LovRinz
Cetakan           : Cetakan pertama, Juni 2015
Halaman          : vi + 121 halaman
ISBN               : 978-602-0849-12-6

Dunia anak selalu menyenangkan. Apalagi dengan masuk ke sana, akan banyak menemukan hal-hal seru yang syarat makna. Buku hasil penjaringan dalam sebuah event yang dilakukan di LovRinz; di tulis oleh 20 penulis dengan keunikan sendiri-sendiri.

Pertama tentang kisah yang di tulis oleh Ury Ayu Masitoh. Adi, dia merasa bingung bagaimana caranya mendapatkan uang Rp 50.000 untuk membeli buku penunjang. Sedang dia sangat sadar, bahwa dalam sehari dia tidak mungkin mendapatkannya. Dan dalam kebingungannya itu ..., dia melihat kesempatan emas karena melihat ada uang seratus ribu tergeletak begitu saja.  Dia menatap lama uang itu, bertanya dalam hati apakah sebaiknya uang itu dia ambil atau tidak? Tapi saat ini dia butuh uang. Lagi pula tidak ada yang melihat. Tidak ada salahnya, kan mengambil. Kira-kira ..., Adi akan mengambil uang itu atau tidak, ya? Mengingat saat dia hendak mengambil dia teringat  ustadnya bahwa mencuri itu dosa. Dia juga ingat ibunya yang kesusahan setiap kali memikirkan biaya sekolahnya. (halaman 7)

Sebuah kisah yang memberi perenungan tentang sikap jujur. Bahwa jujur itu selalu indah dan tidak akan merugikan.

Lalu ada pula kisah yang ditulis  Selly Kurniawati.  Robi adalah anak orang kaya. Dia selalu berlaku sombong pada teman-temannya. Suka menyakiti perasaan orang lain. Karena itu dia tidak banyak memiliki teman. Namun pada suatu hari dia mengalami kecelakaan. Sayangnya saat dia berusaha meminta tolong, tidak seorang pun yang mau membantunya. Lalu muncul Andi, seorang teman satu sekolah yang pernah dibuat Robi terluka. Apa mungkin Andi mau membantunya mengingat tingkah Robi yang selalu membuat masalah? Untuk mengetahui kelanjutan kisahnya ..., langsung baca sendiri saja, ya.  (halaman 26)

Dalam kisah ini, mengajarkan bahwa setiap orang itu tidak bisa hidup sendirian. Semua orang butuh teman untuk saling menolong dan berbagi.

Kisah lain dituturkan oleh Rizki Fuji. Naila dia sangat ingin punya sepatu kaca seperti teman-temannya. Dia merengek agar segera dibelikan sepatu itu. Tapi orangtua Naila tidak memiliki banyak uang untuk membeli. Lagi pula untuk makan saja susah. Mereka bingung bagaimana membujuk Naila yang keras kepala itu. Akhirnya Naila bisa mendapatkan sepatu yang diharapkan, tapi setelah mendapat itu Naila malah sedih. Kenapa Naila malah sedih, padahal sudah dapat sepatu kaca? Cek kelanjutannya sendiri, deh. Biar tidak penasaran. (halaman 104)

Cerita ini mengajarkan untuk menjadi seseorang yang tidak keras kepala da selalu memaksakan kehendak sendiri.

Selain tiga kisah yang ada di atas, masih banyak lagi kisah memiliki banyak manfaat untuk anak-anak  yang patut dikuti ceritanya. Menjelajahi dunia anak untuk lebih dekat dan memahami dunia mereka.

Srobyong, 10 September 2015.


Wednesday, 9 September 2015

[Cerpen] Mbak Nila Dan Palentine Day



Mencoba Membuat Komedi. Entah lucu atau tidak ^_^



Kazuhana El Ratna Mida

            Entah kenapa tiba-tiba mbak tak bersuara. Kupanggil beberapa kali dia tetap bisu. Padahal aku sampai berpose lucu agar mbak melirikku.
Tapi ....
Hasil gambar untuk Gambar Valentine
            “Mbak!” panggilku lagi di depan kamarnya, masih dengan memeluk daun pintu. Mbak Nila sama sekali tak menyahutku, dia sedari tadi diam bahkan tak menengok sedetik pun.

          “Mbak!” ucapku sekali lagi. Tapi dia tetap tak merespon. Lalu aku pun mendekatinya. “Ya Allah, Mbak Nila!” aku berteriak histeris  melihatnya.

~*~

            Aku menatap lama mbak yang duduk bersila sambil membaca majalah Gadis seperti biasa. Aku sudah tahu kenapa dia tiba-tiba murung tanpa alasan jelas yang membuatku jengah setengah dewa. Uch. Dia itu sungguh jahat, masak membiarkan adik manisnya ini khawatir tingkat akut (he-he-he).

          Alasan dia murung secara tiba-tiba itu, gara-gara galau permanen, hari palentine mau tiba. Itu-tuh yang katanya dirayakan ketika tanggal 14 Pebruari. Hari yang kata para pemuda-pemudi disebut hari kasih sayang.

        Hello? Kenapa harus menunggu sampai tanggal 14 Februari coba. Setiap hari kan bisa. Cuma beli kue atau coklat dan bunga, kan? Aku sungguh tak habis pikir dengan gaya para remaja sekarang.

    Eh, aku juga remaja deng. Tapi aku beda. Aku adalah penggerak para remaja yang menolak palentine days. (ciee gaya banget aku).

       “Valentine Days, kali Na!” suara koor teman-temanku menyahut tiap kali aku tak bisa mengucapkan kata V dan F yang akhirnya aku serupakan dengan huruf P. ‘Palentine, dan Pebruari’. Maaf jangan protes ini kebiasaan yang tak bisa hilang.

        “Apa lihat-lihat!” sentaknya padaku.

     Aku hanya nyengir kuda. Padahal sungguh aku saat itu sedang kepikiran dengan gerakan No Palentine yang mau aku galakkan.

       “Siapa yang lihat Mbak. Huhuhu GR-deh.” Aku meleletkan lidah.

      Mbak Nila melolot dan aku langsung  kabur secepat mungkin. Kulihat dia masih mengejarku karena ingin mencubit. Ya, itu kebiasaanya yang tak pernah hilang ketika gemas padaku. Itu katanya, ya. Mungkin karena aku memang lucu dan manis (edisi narsis).

   Napasku tersengal-sengal. Ya, aku sudah sangat lelah. Main kejar-kejaran dengan Mbak Nila ternyata sudah membuat kami mengelilingi rumah sebanyak empat kali. Wow, bayangkan empat kali guys? Itu berati sama saja aku bisa jalan dari Mlonggo ke Bangsri.

    Karena lelah, kami duduk di lantai sambil minum air dingin yang aku ambil tadi. Duh lelahnya sungguh bikin mati rasa euy.

    “Mana!” Mbak Nila mengambil botol dengan segara. Meneguk dengan nafsu membabi buta. Dia seperti dikejar anjing menggonggong hingga tak bisa bengong.

    “Mbak!” aku menyenggol lengannya. Air yang diminum pun sedikit muncrat membuat dia mendelik seketika.

            “Apaan sih, dari kemaren mbak, mbak mulu,” protesnya padaku.

            “Em ...  em ...,” aku ragu untuk membuka suara.

            “Mau bilang apa sih? Am-em-am-em.”

            “Ah, nggak jadi aja. Aku senang Mbak hari ini sudah bisa ceria lagi.” Aku langsung berlari meninggalkan mbak sendiri.

            Aku tak enak hati untuk menasihatinya untuk tidak galau gara-gara palentine yang mau datang. Entar aku dibilang bawel.

~*~

            Heboh Palentine memang sungguh gila. Baru H-2 dari acara palentine. Bunga-bunga jadi laris. CokElat pun cepat ludes apalagi merek ‘SilverQueen’ (iklan—habis ini harus bayar royalti buat aku—ketawa menang) yang dijadikan rebutan. Apalagi nanti kalau H-1. Sudah seperti lebaran mungkin.

            Wow, remaja di sini sungguh pengikut setia St. Palentine eh maaf St. Valentine maksudku. Seorang pendeta yang meninggal di tanggal 14 Pebruari itu. Aku mengucapkan kata Valentine dengan susah payah. Ich kenapa tak ada yang memahami kecadelanku sih. (gembor pake speker).

            Berbondong-bondong para pasangan kekasih, baik yang sudah menikah atau masih pacaran—eh pacaran kan tidak boleh, ya?—entahlah aku tak tahu. Semua tumpah ruah merayakan palentine day.

            Katanya kalau tak ikut merayakan dibilang kuper tak mengikuti zaman. Ah, kalau aku sebodoh amat.

            Biarlah anjing menggongong, kafilah berlalu. Ha-ha-ha.

            Aku masih waras kok. Masih sangat sadar untuk tidak meniru kebiasaan yang telah meracuni budaya Islam.

            Iya, Islam kan tak pernah mengajarkan untuk merayakan pelentine. Kalaupun ada perayaan itu maulid Nabi saw untuk mengenang kelahiran beliau.

            Budaya palentine itu tak ada contohnya bisa jadi malah menjadi bid’ah. Iya, nggak sih? Ah, aku belum terlalu pintar untuk urusan agama. Aku biasanya hanya meniru kata-kata ustzah Isa yang sering mengajari ngaji bakda magriban di musala.

            “Mbak Isa, Bid’ah itu apa, sih?” tanyaku suatu hari.

          “Na, bid’ah adalah segala sesuatu yang baru yang tidak ada contohnya di zaman Rasulullah dulu.”

            “Contohnya apa, Mbak?”

            “Em ... apa palentine juga bid’ah? Kan dulu di zaman Rasulullah tidak ada,” ucapku ingin tahu.

       “Dua jempol untuk kamu. Sudah ayo setor deresan dulu!” suruh Mbak Isa dengan senyum mengembang.

            Aku pun segera membuka Al-Quran dan mulai membaca dengan fasih kalam-kalam yang telah Allah turunkan.

            Setelah ini aku mau memberi tahu Mbak Nila tentang palentine yang ternyata bid’ah, jadi jangan diikuti untuk merayakannya.

~*~

          Sore hari ketika pulang sekolah. Aku kaget luar binasa (maksudku luar biasa—edisi lebay). Mbak Nila tidak ada di kamarnya. Aku mencari ke sana-ke mari tapi tetap saja tak menemukannya.

         Biasanya di jam seperti ini,  dia sudah pulang. Kalau aku sih memang pulang telat karena tadi ada rapat IPNU-IPPNU (Ikatan Putra Nahdlatul Ulama-Ikatan Putri-Putri nahdlatul Ulama) di sekolah.

          Aduh, mbak ini pergi ke mana sih? Membuat aku cemas saja. Bapak dan ibu sedang keluar kota jadi hanya kami berdua yang menjaga rumah. Kalau terjadi apa-apa bagaimana? (mulai lebay, ala sinetron).

            Aku bertanya pada tetangga sebelah katanya mereka tak melihat ke mana perginya Mbak Nila.

            “Ya, Allah semoga mbakku baik-baik saja.” Aku merapalkan kedua tangan.

            Baru selesai berdoa. Suara ulukan salam mengagetkan aku yang masih cemas menggila.

            “Kenapa sedih, Na?” tanya mbakku tak berdosa.

            Sebel deh, dia sudah membuatku senewen. Padahal sedari tadi aku mengkhawatirkannya. Eh, dia malah pulang dengan senyum sumringah. Apa dia sudah sembuh, ya?

            “Mbak dari mana sih, dari tadi aku cariin kok nggak ada.”

            “Aku baru beli bakso, Na. Laper. Yuk kita makan. Aku beliin juga buat kamu.”

            Hah!? Aku melonggo. Sedari tadi aku pusing kayak orang gila ternyata dia pergi beli bakso. Ya, Allah kenapa dia tak meninggalkan memo biar aku tak terlalu cemas.

            Kini, aku pun mengekor menuju dapur untuk menikmati bakso yang dia beli. Aku juga lapar. Tak ada orang tua kadang membuat malas memasak. Enaknya pilih yang praktis dengan jajan di luar.

        Setelah makan, kami menononton TV bersama. Lagi-lagi Palentine tetap menjadi top berita. Semua film yang ada juga sudah mulai berbumbu hari palentine yang akan tiba. Semua serba romantis dan serba pink. Aku tak suka, ungu lebih keren (siapa yang nanya, ya?).

            Aku melirik ke arah mbakku. Dia terlihat senang dengan acara yang ditayangkan. Senyumnya tersungging tanpa beban. Matanya berbinar melihat bintang kesayangannya tayang.

            “Wah, romantis sekali. Aku juga mau.” Matanya masih fokus pada drama yang sedang ditonton.

            “Mau apa Mbak?” tanyaku penuh selidik.

            “Itu yang seperti di televisi.”

            Mataku melotot. Ampun deh mbakku ini masak ingin meniru adegan di film-film.

            “Jangan dong, Mbak. Itu kan tidak dibenarkan dalam syari’at Islam,” protesku dengan segara.

            Kalau seperti ini aku tidak bisa menahan lagi. Aku harus menjelaskan pada mbakku. Ini salah. Aku tak bisa membiarkan mbakku salah kaprah dalam pergaulannya.

            Aku pun mulai mengoceh dari A-Z. Menjelaskan tentang sejarah asal mula ada hari palentine.

          Pada zaman Rasulullah tidak ada tuh hari kasih sayang. Masak untuk mengungkapkan kasih sayang harus menunggu palentine datang. Aduh, nggak banget. Setiap hari pun kita bisa saling berbagi.

            “Denger ya, Mbak,” ucapku sok bijak.

      “Dan janglah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. [1]

            Aku membacakan satu ayat yang sama persis diajarkan ustazahku saat mengaji.

            Kulirik mbak, yang hanya senyum-senyum aja ketika mendengar ucapanku.

           “Hadis Rasulullah s.a.w:“Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu.”

          “Mbak nggak mau kan seperti itu. Jadi kita sebagai muslim yang baik harus menjauhi hal-hal yang mendekatkan pada bid’dah. Kita harus memilah-milah kegiatan yang kita lakukan. Boleh kok memilih sesuatu yang baru tapi itu masih dalam koridor islam.” Aku berucap menggebu-ngebu seperti kereta yang melaju dengan kecepatan penuh.

Gemes deh masak mbakku nggak tahu, sih. Padahal dia lahir lebih dulu dari aku. Harusnya dia paham.     Ah, aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.

            “Iya, mbak tahu, kok,” ucapnya dengan santai.

            “Trus kenapa Mbak masih ingin meniru?” tanyaku tidak mengerti.

           “Siapa coba yang mau meniru.” Mbakku masih sangat santai. Tatapannya masih lurus menikmati drama yang ditontonnya.

            Aku lalu berdiri sengaja menghalangi pandangannya. Ya, biar dia berbicara sambil melihat muka manisku. Habis, sedari tadi cuma melihat wajah Park Shin Hye. Memangnya aku kalah cantik apa sama artis Korea itu? (memang kalah cantik sih. Aku aja yang narsis he-he-he).

           “Minggir-minggir!” usir mbakku. Tapi aku masih bersikukuh.

          “Dek Nana, Sayang, mbak tahu kok kita tidak boleh kejangkit virus valentine.” Mbakku menatapku sambil tersenyum.

            “Lalu?” aku balik menatapnya, menunggu jawabann ke luar dari bibirnya.

            Kenapa tadi di bilang ingin seperti yang di televisi. Padahal jelas tadi iklan tentang palentine. Lalu tentang keanehan mbak beberapa hari lalu tiba-tiba galau dan kata teman-teman mbak, mbak terkena pirus pelentine. Trus aku harus percaya sama siapa? Tembokkah?

            Mbakku malah tertawa lebar mendengar pertanyaanku yang ngacau.

           “Siapa yang pengen itu. Makanya kalau lihat iklan pake mata lebar.” Mbak mengarahkanku pada iklan sama yang kebetulan ditayangkan lagi.

         Aku melongo. Kya, bukan pelentine yang mbakku mau tapi majalah baru yang mau memuat kabar baru tentang Suju—Super Junior—Boy Band Korea. Ah. Aku tak melihat itu. Fokusku pada tulisan besar palentine berwarna pink besar di atas gambar Suju.

                 Kalau itu mah aku juga mau.

               “Makanya jangan sembarangan menuduh!” protesnya. Aku sendiri hanya nyengir kuda.

         Acara drama sudah selesai, kini saatnya pergi ke rumah sebelah. Aku segera bersiap pun dengan Mbak Nila. Kutunggu dia di depan pintu kamarnya. Tapi sedari tadi tak keluar juga. Aku pun membuka pintu yang ternyata tak dikunci. Aku membuka pintu sambil mengoceh kayak burung beo.

            “Aku sangat bersyukur ternyata mbak tak seperti yang aku kira. Kita berada di jalan yang sama. Penggerak no pelentine yes baca yasin. ha-ha-ha.”

 Maaf kebetulan ada warga yang meninggal pas hari pelantine jadi kami mau baca yasin dulu, dari pada merayakan palentine. No way.

            Aku memanggil mbak untuk segera berangkat.

     “Mbak!” aku memanggilnya tapi dia tak juga menoleh. Masih berkutat di depan meja yang membelakangi pintu kamarnya. Karena tak sabar segera kususul dia. Ini sudah mau jam setengah tujuh malam, nanti telat untuk takziyah dan berdoa—membaca yasin,  di rumah Mang Mamat. Mbak ini kenapa sih?

            “Ya, Allah, Mbak Nila!” teriakku histeris.

            Mbak Nila menatapku tersenyum tanpa dosa.

            “Maaf  ketiduran. Aku capek sekali.”

            Aku langsung ingin menelannya bulat-bulat.

Srobyong, 5 Ferbruari 2015.


Ket :

[1] (Surah Al-Isra : 36)