Thursday, 22 December 2016

[Review] Ketika Cinta dan Masa Lalu Saling Tumpang Tindih


Judul               : Love in City of Angels
Penulis             : Irene Dyah
Penerbit           : Gramedia
Cetakan           : Pertama, November 2016
Halaman          : 212 hlm
ISBN               : 978-602-03-3491-2

Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan dan setiap orang berhak mendapat kesempatan untuk berubah. Jangan jadikan alasan masa lalu membuat kita semakin terjebak pada kubangan gelap itu. Masa lalu bukan untuk ditangisi, tapi dijadikan pembelajaran untuk memperbaiki diri. 

Cinta dan trauma, masih menjadi tema yang asyik dinikmati. Yang terpenting adalah bagaimana penulis mengola kisah dengan unik sehingga berbeda dengan kebanyakan novel dengan tema serupa. Sebagaimana novel Love in City of Angels, memadukan kisah cinta yang tidak terduga, juga masa lalu serta trauma yang pada akhirnya membimbing sang tokoh pada jalan yang salah.

Masa lalu membuat Ajeng memiliki  persepsi yang salah tentang cinta. Bahwa cinta itu hanya omong kosong—cinta adalah mitos. Hal ini yang kemudian membuat Ajeng lebih memilih menjalin hubungan tanpa status dengan berbagai pria yang membuatnya nyaman. Lagi pula dia memang tidak memiliki keinginan untuk menikah. Ajeng punya pandangan tersendiri perihah pernikahan.

Seremonial akan mengubah manusia menjadi sepasangan individu  asing, berevolusi menjadi satu tim (yang seharusnya) solid bernama keluarga. Tapi harusnya orang yang berilmu tahu, evolusi tidak selamanya berjalan mulus. Ada cacat genetika, kegagalan, berkurangnya fungsi, dan hal-hal mengerikan lainnya. Jadi tidak heran, dalam pernikahan pun muncul perceraian, perselingkuhan, ribut-ribut urusan anak dana harta, berantem sama mertua, kehilangan privasi, juga para bapak yang kabur meninggalkan keluarga, tapi tiba-tiba memohon maaf (hal 4).

Lepas dari pernikahan, Ajeng menikmati kehidupan bebasnya di Krung Thep, nama lain dari Bangkok. Sampai kemudian, dia menyadari ada yang salah pada dirinya—dia terlambat datang bulan—dalam keadaan ini Ajeng sedikit merasa menyesal karena meneguk minuman beralkohol.  Belum lagi dia lupa siapa laki-laki itu.  

Hingga pada sebuah acara di kantor—perkenalan Presdir baru, Ajeng bertemu dengan  Earth—pria tampan yang ternyata mengingat bagaimana dirinya mabuk malam itu dan mengatakan sesuatu yang membuat Ajeng melilit.  Ajeng pun bergegas ingin membeli test pack.  Lucunya Ajeng entah kenapa terjebak pergi dengan pria yang tidak dia kenal Yazan yang mengaku tahu rumahnya (hal 31).

Tapi dari pertemuan itu, Ajeng malah menjadi dekat dengan Yazan. Meski Ajeng menyadari Yazan bukanlah seperti pria yang dia kencani selama ini. Yazan terlalu serius dan jarang sekali menunjukkan ekspresi.  Mereka sempat menghabiskan waktu bersama dalam rangka mengunjungi Masjid Jawa (hal 55).

Tidak hanya itu Yazan juga pernah melakukan sesuatu yang romantis dan membuat Ajeng seperi hilang kendali.  Sesuatu yang entah kenapa jarang Ajeng dapatkan dari orang lain. Hanya saja  setiap kali mengingat masa lalu yang dilakukan ayahnya, Ajeng langsung membuat jarak. Dia tidak boleh tunduk pada pria.

“Aku tidak bisa melarangmu kamu tergila-gila padaku. Terserah. Tapi, aku juga tidak bisa menjanjikan apa pun kepadamu. Jadi, mari kitaa berteman saja seperti sekarang, dan kita lihat perkembangannya nanti. Tidak ada ikatan. Dan, kamu juga tidak punya hak melarang-larang atau mengguruiku. Dalam hal apa pun.” (hal 112).

Lalu bagaimana tanggapan Yazan perihal penolakan Ajeng? Apakah Ajeng benar-benar hamil? Selain dua pertanyaan ini sejatinya masih banyak lagi kepingan-kepingan misteri yang membuat kisah ini semakin menarik. Seperti rahasia yang disimpan rapat oleh sang ibu hingga membuat Ajeng Syok.

Ini kali kedua membaca karya Mbak Irene dalam seri Around The World With Love.  Sebelumnya saya membaca Love in Blue City.   Saya suka pemilihan judulnya yang unik karena tidak menjabakan nama kotanya langsung. Selain  Love in Blue City dan  Love in City of Angels, ada juga  Love in Marrakech.  Ketiganya adalah seri Around The World With Love karya Mbak Irene yang bisa diburu.

Novel ini dipaparkan dengan gaya bahasa renyah, lugas, asyik dan gurih. Penulis memiliki ciri khas dalam bercerita. Selain itu kepingan-kepingan misteri yang diselipkan penulis juga sukses membuat saya penasaran. Penulis pandai menggiring pembaca untuk tidak berhenti membaca sampai pada tahap akhir.   

Penokohan juga terasa hidup, membuat kisah terasa semakin seru. Yazan yang selalu cuek tapi keras kepala dan Ajeng yang jinak-jikan merpati. Masalah setting, mengingat penulisnya memang penah bermukim di sana, membuat penjabarannya terasa hidup. Menyatu dengan cerita.

Kelebihan lainnya adalah pengetahuan yang ditawarkan penulis perihal kehidupan di Bangkok. 

“Masjid Jawa itu masjid tertua di Bangkok. didirikan oleh perantau Jawa, Haji Muhammad Saleh di tanah wakaf. Dalam penyebaran Islam di Bangkok  ulama-ulama Indonesia memilih peran yang cukup besar. Irfan Dahlan—putra KH. Ahmad Dahlan merantau ke India dan Pakistan, lalu menetap di Thailand dan menikah dengan Zahrah, seorang putri imam Masjid Jawa, yang ternyata cucu dari H Mahmud Saleh.” (hal 64).

Atau perihal nama lain Bangkong yang ternyata begitu sulit untuk diucapkan Krung Thep Mahanakhon Amon Rattanakosin .... (lanjutannya bisa diintip dihalaman 2). Panjang banget J   atau makna Krung Thep—nama pendek Bangkok yang memiliki arti City of Angels (hal 202).  Dan masih banyak lagi.

Hanya saja saya merasa tokoh selain Ajeng dan Yazan itu, hanya numpang lewat. Entah kenapa saya merasa porsi mereka kurang. Misalnya  pria Jepang—Jun Miyamoto, kalau saja dia memiliki porsi yang lebih pasti cerita akan lebih seru.  Atau Earth, pria yang membuat Ajeng jungkir balik. Karena di sini Ajeng diceritakan memiliki banyak teman pria. Jadi keberdaan mereka bisa membuat kisah lebih menarik dan membuat jantung berdebar-debar.

Tapi lepas dari kekurangnnya. Novel ini sarat makna. Selain mendapat  pelajaran sejarah, ada juga pembelajaran tentang arti keluarga. Bahwa orangtua memiliki peran penting yang mempengaruhi sikap anak. Pendidikan yang salah akan membawa dampak buruk pada psikologi anak. Sebagaimana yang dialami Ajeng, tumbuh dari keluarga broken home, membuatnya  membenci dan tidak mempercayai cinta.

Tidak ketinggalan, di sini kita juga belajar, bahwa setiap manusia itu memiliki kesempatan untuk berubah. Memilih menjadi orang yang baik atau buruk adalah pilihan kita sendiri. Dan jangan menjadikan masa lalu sebagai kedok kita untuk melakukan kesalahan lain yang tidak diridai. Seharunsya kita belajar dari masa lalu untuk memperbaiki diri.

Manusia bisa khilaf. Dan setiap manusia punya kesempatan untuk menyadari kekeliruannya, bertobat, berusaha menjadi sosok yang lebih baik. Jangan biarkan dirimu terpenjara masa lalu (hal 148).


Srobyong, 22 Desember 2016 

Dan untuk wawancara dengan penulisnya bisa dibaca di sini

Wednesday, 21 December 2016

[Resensi] Rasa Sakit, Masa Lalu dan Usaha untuk Memeluknya


Judul               : Tentang Kamu
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Kedua, Oktober 2016
Tebal               : vi + 524 hlm
ISBN               : 978-602-0822-34-1

Setiap orang sudah pasti memiliki masa lalu. Selalu ada jejak sejarah yang tertinggal dalam perjalanan waktu.  Hanya saja, bagaimana cara menyikapi masa lalu? Hal itu kembali pada pribadi masing-masing. Memilih tetap terjebak dalam kubangan rasa sakit akan masa lalu, atau memeluknya dan memulai membuka lembaran baru.

Novel ini mengisahkan tentang rasa sakit, sebuah masa lalu serta usaha dalam mencoba memeluk semua kesedihan itu.  Tokoh perpusat pada perjalanan hidup Sri Ningsih. Namun dipaparkan dengan tidak biasa oleh penulis, sehingga membuat jalinan kisah ini sangat menarik untuk diikuti.  Tere Liye, selalu memiliki kejutan dalam setiap karya yang diterbitkannya.  Menyajikan cerita unik yang kadang jarang disentuh oleh penulis lain.

Zaman Zulkarnaen adalah salah satu pengacara di  Thompson & co. London.  Dia tidak pernah menyangka akan mendapat kasus yang sangat unik. Bagaimana  tidak? Kliennya ini, konon memiliki kekayaan satu miliar poundsterling dalam bentuk saham. Dan jika dirupiahkan itu akan sama nilainya dengan 19 triliun rupiah.  Hal lain yang menarik adalah kliennya ini terakhir tinggal di sebuah panti jompo di Paris.

Di sinilah tantangan Zaman. Dia harus menyelesaikan kasus perihal pembagian harta warisan yang belum diketahui siapa calon pewarisnya. Mereka hanya menerima pesan  dari klien yang berusia  70 tahun itu, melalui pos. 

“Jika terjadi sesuatu dengan nama yang tertulis di sana, Thompson & co. diberikan mandat untuk menyelesaikan harta warisan wanita tua ini seadil-adilnya  sesuai hukum yang berlaku.” (hal 13).

Dan betapa kagetnya Zaman ketika membaca nama pemilik kekayaan itu ... yang ternyata memiliki nama “Sri Ningsih”—dia orang Indonesia. Sekarang Zaman tahu kenapa dia yang dipilih menyelesaikan kasus ini.

Pada bagian ini,  kisah mulai bergulir pada perjalanan Zaman yang mencoba menelusuri kehidupan Sri. Pertama dia memilih mengunjungi panti jompo yang merupakan tempat terakhir yang ditinggali Sri. Di sana dia mendapati kalau Sri sudah meninggal. Zaman pun melanjutkan perjalanannya. Kali ini dia mendatangi Pulau Bungin—tempat kelahiran Sri. Dia memilih tempat intu mencoba mengikuti jejak tulisan dari diary tipis milik Sri yang diberikan Aimée—pengurus panti.  Itulah satu-satunya petunjuk yang dimiliki Zaman.

Di sana, Zaman menemukan kisah yang diluar dugaan. Dia tidak menyangka masa kecil dilalui Sri dengan begitu keras. Pantas saja dalam diarinya Sri menulis perihal kesabaran.

Ketika kebencian, dendam kesumat sebesar apa pun akan luruh oleh rasa sabar. Gunung-gunung akan rata, lautan akan kering, tidak akan ada yang mampu mengalahkan rasa sabar. Selemah apa pun fisik seseorang, semiskin apa pun dia,  sekali di hatinya punya rasa sabar, dunia tidak bisa menyakitinya. Tidak bisa (hal 48).

Dari Pulau Bungin, Zaman melanjutkan perjalanannya ke Surakarta, mengunjungi Madrasah Kiai Maʹsum.  Di sanalah Sri tinggal setelah bola api melahap semua miliknya—termasuk ibu tirinya. Berkat bantuan Guru Bajang, Sri dan adiknya, Tilamuta bisa belajar di tempat Kiai Ma’sum.  

Sri kemudian bersahabat dengan Nur΄aini, putri bungsu Kiai Maʹsum.  Selain Nur΄aini, ada juga Sulastri, salah satu guru di madrasah yang sejak kecil juga dirawat Kiai Maʹsum.  Persahabatan mereka bisa dibilang sangat kental. Ke mana-mana mereka selalu bersama.  Tapi sebuah kejadian merubah persahabatan itu menjadi kebencian dan kedengkian yang berbahaya.  Bahkan karena kebencian itu, keluarga Kiai Maʹsum berada dalam bahaya.  Bahkan Tilamuta pun ditemukan tewas karena insiden itu. Dan Sri mengalami trauma dan kenangan yang sangat sulit untuk dilupakan.

Keserakahan bisa mengubah orang lain menjadi lebih dari hewan buas (hal 142).

Rasa dengki telah menjadi kebencian luar biasa, yang bahkan bisa membuat pelakunya tega membabi-buta (hal 191).

Lepas dari Surakarta, Zaman menyusuri jejak perjalanan Sri yang memilih Jakarta sebagai tempat hidup selanjutnya. Di sana Sri menunjukkan semangat juang dalam usaha bertahan hidup. Meski berkali-kali jatuh dan gagal dalam usahanya, Sri tidak pernah putus asa dan terus bangkit.

Saat kita sudah melakukan yang terbaik dan gagal  apa lagi yang harus kita lakukan? Berapa kali kita harus mencoba hingga tahu bahwa kita telah tiba pada batas akhirnya? 2x, 5x, 10x, atau berpuluh-puluh kali hingga tak dapat menghitungnya lagi? Berapa kali kita harus menerima kenyataan, untuk tahu bahwa kita memang tidak berbakat, sesuatu itu bukan jalan hidup kita, lantas melangkah mundur? Dan pertanyaan terpenting sejatinya, bukan berapa kali kita gagal, melainkan berapa kali kita bangkit lagi, lagi dan lagi setelah gagal tersebut. Jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x (hal 210).

Selain itu dipaparkan juga kepiawaian Sri dalam mengelola suatu usaha hingga menjadi seorang yang sukses. Sayangnya ketika dia tengah menuai sukses, tiba-tiba Sri memutuskan menghilang dan menjual semua asetnya.  Sri memulai kehidupan di London.  Yang ternyata pada tahap itu Sri menemukan kisah cinta yang sungguh luar biasa dan memikat.

“Cinta memang tidak perlu ditemukan,  cinta-lah yang akan menemukan kita.” (hal 408).

Hanya saja lagi-lagi Sri menghilang begitu saja dan berakhir di panti jompo di Paris. Entah apa yang membuat Sri melakukan itu.

Di samping permasalahan hidup Sri, Zaman juga harus menghadapi keadaan tidak terduga ketika tiba-tiba ada seseorang yang mengaku sebagai ahli waris Sri—Ningrum yang mengaku putrinya, Murni telah menikah dengan Tilamuta.  Zaman tentu saja tidak bisa menerima begitu saja, apalagi setelah melakukan penyelidikan kalau Tilamuta telah meninggal. Lantas ada unsur apa di balik pengakuan itu? Dan bagaimana Zaman mengatasi permasalahan itu?

~*~

Tere Liye  dikenal sebagai penulis yang  produktif  dalam menghasilkan karya.  Bisa dibilang, setiap tahun  penulis ini selalu mengeluarkan karya baru. Dan  hampir semua bukunya selalu masuk jajaran buku best seller.  Pantaslah jika kemudian,  Tere Liye mendapat penghargaan sebagai Writer of The Year 2016 pada  acara Indonesia International Book Fair (IIBF) oleh IKAPI—Ikatan Penerbit Indonesia.

Selain dianggap sebagai penulis yang produktif, Tere Liye bisa dibilang sebagai penulis yang multitalenta. Bagaimana tidak? Hampir semua genre pernah dia tulis.  Sebut saja genre science fiction, fantasi, romance, buku anak, action dan banyak lagi.  Selain itu dalam setiap kisahnya pasti ada sesuatu yang tidak biasa atau jarang dijamah penulis lain. Seperti pada novel ini yang membumbui kisah Sri dengan masalah saham, dan kerja seorang pengacara handal. Serta  mengikutkan isu perihal krisis K2Y.

Saya sendiri tidak memahami sama sekali perihal krisis  Y2K atau millineum bug, sampai membaca novel ini. Di mana maksud K2Y adalah Eror yang terjadi  karena sistem penanda tahun komputer di seluruh dunia sudah terlanjur di-setting dengan dua digit, maka tahun 00 (merujuk tahun 2000), akan  dianggap sama dengan 1900 oleh komputer. Dunia harus melakukan migrasi sistem besar-besaran, atau jika tidak, sistem  keuangan,  penerbangan, penggajian, persenjataan dan data-data penting akan menjadi kacau balau karena komputer keliru mengenali tanggal. Komputer akan  salah menghitung saldo tabungan, gaji terlambat,  atau lebih serius lagi, sistem nuklir dan rudal mengalami gagal fungsi (hal 33-34).

Atau masalah  transaksi SPV (hal 276)  demi melindungi perusahaan dan kekayaan yang dimiliki. Yang kemudian diketahui berkat cara ini-lah,Sri memiliki kekayaan sebanyak satu miliar poundsterling. Sri menjual pabrik dengan cara menukar kepemilikan saham. Di mana Sri menjual 100% kepemilikan pabrik, tapi sebagai imbalannya, perusahaan raksasa dunia itu memberikan 1% kepemilikan global absolut di perusahaan induknya (hal 275). Saya yakin riset dalam membuat novel ini tidak kalah sulit dengan novel Tere Liye lainnya.  

Selain masalah itu, dalam kehidupan Sri juga sarat berhubungan dengan sejarah di Indonesia.  Di antaranya adalah tentang permasalahan pemberontakan besar akhir September 1965 yang dilakukan PKI (Partai Komunis Indonesia) (hal 181), kejadian yang membuat Sri memiliki trauma berkepanjangan. Lalu ada juga kejadian Malari, Malapetaka 15 Januari—peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial  yang terjadi pada 15 Januari 1974 (hal 251). Pada kejadian ini adalah tumbangnya usaha Sri yang sudah dirintis mulai dari nol. Tapi dari kejadian itu, sedikit banyak membuat Sri memahami arti bangkit kembali.

Kelebihan lain dalam novel ini adalah  gaya bahasa yang renyah dan  memikat. Tere Liye memiliki ciri khusus, bagaimana membuat pembaca penasaran.  Penokohan digarap dengan baik dan kuat. Sehingga ketika membaca novel ini, pembaca seolah bisa merasakan apa yang dirasakan tokoh tersebut.  

Semisal tentang tokoh Zaman yang harus menelusuri jejak kehidupan Sri dari satu masa ke masa lain hanya berbekal diary tua dan surat-surat yang pernah Sri tulis pada Nur΄aini.  Bagaimana perasaan Zaman yang harus menghadapi kejadian demi kejadian yang tidak terduga. Saya pikir ketika membaca ini saya bisa merasakan kekagetan Zaman juga kekaguman pada sosok Sri Ningsih yang begitu tegar dalam setiap langkah menjalani kehidupan yang penuh liku. 

Begitu pula dengan tokoh Sri. Meski sejak awal dia ditakdirkan telah meninggal, membaca kembali kisah masa lalunya, lewat perjalanan yang dilakukan Zaman, membuat saya merasa Sri itu tokoh hidup.  Tokoh ini memiliki efek yang bisa membuat pembaca terharu biru dengan segala kisah hidup yang dijalaninya. 

Jadi ketika membaca novel ini saya kadang-kadang seolah bertransformasi antara merasakan perasaan Zaman juga Sri. Tapi selain dua tokoh sentral ini, masih banyak tokoh pembantu yang kesemuanya memiliki arti penting dalam perjalanan Sri. Dan semua ditampilkan dengan porsi yang pas.

Saya juga suka dengan pemilihan sudut pandangan  yang diambil penulis. Menggunakan sudut pandang orang ketiga, menjadi kekuatan bebas dalam mengeksplore cerita. Begitu pula dengan pilihan alur maju mundur yang terasa sangat rapi, pada setiap pergantian suasana di masa lalu dan masa sekarang. Dengan alur maju mundur, penulis berhasil membuat pembaca merasa penasaran pada setiap membuka lembar cerita.

Tidak kalah penting adalah bagaimana mengolah setting yang tidak terasa tempelan. Kekuatan, setting juga bisa menambah nilai tersendiri ketika membaca sebuah novel. Dan saya rasa Tere Liye berhasil mengatasi masalah ini dengan baik.  Saya menikmati  penjabaran tempat lokasi, khususnya pada setiap langkah petualangan Zaman dalam menelusuri jejak Sri hinggga kembali ke London dan Paris.

Novel ini bisa dibilang cukup bersih dari yang namanya kesalahan penulisan. Hanya saja pada satu bagian saya menemukan ketidaksinkronan penulis dalam menyembutkan usia Sri.  Di sini Sri ditulis masih berusia 14 tahun setelah lima tahun kepergian Nugroho—ayahnya.

Gadis berusia berusia empat belas tahun itu, pada detik terakhir, memutuskan menutupi kesalahan adiknya (hal 117).

“Kamu bukan anak kecil berusia sembilan tahun, kamu sudah empat belas tahun.” (hal 119).

Namun pada halaman lain usia Sri ditulis 15 tahun.  Ode menjenguk Sri, sambil membawa makanan. Gadis usia lima belas tahun itu tampak mengenaskan. (hal 124).

Padahal peristiwa yang terjadi masih dalam kurun waktu yang sama.  Usia Sri masih 14 tahun saat dimarahi ibunya karena air kosong, lalu dia ingin meminjam perahu pada Ode untuk mengambil air hingga keesokan harinya, Sri sakit karena terlalu memaksakan diri. Di sini tidak mungkin dalam waktu sehari dia bisa langsung berusia 15 tahun.  Jadi terasa janggal.

Selain itu yang menjadi pertanyaan saya selama membaca novel ini adalah perihal penampilan Sri. Apakah dia memakai jilbab? Di sini tidak ada deskripsi secara khusus. Namun pada satu bagian saya menyadari Sri tidak memakai jilbab dengan perihal fotonya yang memakai kemeja  lengan pendek (hal 210). Hanya saja ini malah menjadi pertanyaan besar bagi saya. Setelah dari Pulau Bungin lalu menghabiskan hidupnya di sebuah madrasah—yang saya pikir memiliki metode pesantren—kenapa Sri tidak memakai jilbab? Padahal dia juga sempat menjadi guru di madrasah.  Kecuali ada alasan khusus hingga Sri memilih jalan itu. Sayangnya di sini tidak disinggung sama sekali.

Perihal cover, entah kenapa saya tidak terlalu klik dengan gambar sepasang sepatu cokelat. Jujur saya lebih suka tampilan cover Pulang daripada yang ini. Cover itu lebih memikat dan elegan.

Tapi lepas dari semua itu, keseluruhan dari novel ini sangat luar biasa.  Memikat, menginspirasi dan memotivasi. Apalagi kisah ini ditutup dengan ending yang cukup memukau. Ada beberapa bagian sebelum  ending yang memang bisa ditebak sejak awal, namun ada bagian lain yang memang sangat tersimpan rapi hingga akhir.  Saya suka bagaimana penulis menggiring pembaca sampai tahap akhir. Karena banyak puzzle-puzzle yang diolah sedemikian rupa sehingga memberi efek yang membuat penasaran.

Membaca kisah ini seperti diajak melakukan traveling dengan tujuan-tujuan yang tidak terduga. Meskipun bukan tempat berlibur yang wah, namun kisah hidup yang tertinggal di sana sangat menginspirasi. Kita diajari untuk menjadi seseorang yang tidak mudah menyerah dalam segala keadaan. Terus maju dan memeluk kenangan dengan cara cerdas dan elegan.  Selain itu kita juga diingatkan untuk selalu menjaga hati, jangan sampai kebencian bisa menjadi bumerang dalam diri sendiri.  Tidak ketinggalan adalah  pembelajaran tentang keikhlasan juga kesabaran.

Jadilah  seperti lilin, yang tidak pernah menyesal saat nyala api membakarmu. Jadilah seperti air yang mengalir dengan sabar. Jangan pernah takut memulai hal baru (hal 278).

~*~

Ini adalah ketiga kalinya mencoba ikut lomba resensi yang diadakan Penerbit Republika. Dan akhirnya setelah dua kali itu belum beruntung, alhamdulillah meski kali ini belum sebagai pemenang pertama, saya sungguh bersyukur menjadi salah satu resensi yang terpilih. 




Srobyong, 21 Desember 2016 

Saturday, 17 December 2016

[Tanya Penulis] Wawancara With Silvarani Penulis “Love in Kyoto”



Setelah beberapa lalu aku berksesempatan mewawancarai Mbak Arumi E dan Mbak Indah Hanaco, kali ini kita akan berkenalan dengan Mbak Silva—yang juga penulis produktif dan penulis dari seri “Around The World With Love bacth3”

Nah di kesempatan kali ini, tentu saja  saya mencoba mengulik di balik pembuatan novel terbarunya Love in Tokyo.   Sebelum ke hasil wawancara ada baiknya kita berkenalan dulu dengan penulis kece satu ini.



Silvarani lahir di Jakarta pada 6 September. Setelah menyelesaikan kuliah Sastra Prancis UI dan Magister Komunikasi UI, salah satu hal yang dilakukannya adalah melanjutkan hobi menulis novel, naskah drama dan sekalian skenarion film.

Bagi Silvarani, menulis adalah salah satu cara berkomunikasi, berbagi mimpi dan isnpirasi dengan orang-orang di luar sana, yang sudah ia kenal maupun belum.

Jika ingin berkenalan dengan penulis bisa menghubungi akun berikut ini :

Twitter            :  Silvarani
Instagram        : Nadiasilvarani/ Silvaranibooks
E-mail              : silvaranibooks@gmail.com
Facebook         : Nadia Silvarani Lubis

Kalau mau mengenal karya-karya lain dari Mbak Silva bisa cek di goodreads.

Sudah tidak sabar dengan hasil wawancara yang aku lakukan dengan Mbak Silva?  Dan jreng ... inilah hasil wawancara dengan Mbak Silva. Semoga bisa menginspirasi dan menjadi motivasi bagi siapa saja yang suka menulis.

Ratna : Pertanyaan umum nih, Mbak Silva. Bagaimana proses kreatif penulis novel Love in Kyoto? Sejak ditulis, riset sampai terbit memakan waktu beralam lama. Dan adakah kesulitan tertentu ketika menggarap novel ini?

Silva : Proses kreatif menulis Love in Kyoto sebenarnya alhamdulillah lancar, tapiiii kalau saya sudah terserang penyakit "baper" mau jalan-jalan ke Jepang dan malah liat video-video jalan-jalan di Internet atau di handycam saya waktu ngebolang ke sana tahun lalu, berhentilah sudah saya menulis. Jadi lama deh 🙈 😆 😄.

Kalau riset, kira-kira sebulan. Kesulitannya mungkin ya itu tadi.... kalau malah bukannya nulis, tapi lihat-lihat video jalan-jalan orang.

Ratna : Melihat video memang bisa membuat lupa diri Mbak. Trus adakah alasan khusus kenapa memilih Kyoto sebagai setting cerita? 

Silva : Hmm... sebenarnya awalnya saya ingin memilih setting kota di benua lain dari 2 novel saya sebelumnya di Around The World With Love ini. Akhirnya terpilihlah Jepang. Lalu karena saya ingin mengangkat budaya, saya pilih Kyoto sebagai kota yang tradisional dan masih mempertahankan suasana Jepang kuno.
Ratna : Kyoto memang keren. Lalu kalau boleh tahu apa alasan Mbak Silva menulis? Bagaimana cara membagi waktu antara menulis dan kesibukan di dunia nyata? (selain menulis)

Silva : Saya menulis karena saya ingin menuangkan apa yang ada di benak saya kepada dunia. Saya suka berkhayal menjadi orang lain, berada di tempat lain, menghadapi situasi yang tidak saya alami di dunia nyata, dan lain-lain sebagainya. Semua itu tentu saja membuka mata atas sesuatu yang terjadi di dunia ini.
Misalnya saja dalam novel Love in Kyoto. Kalau ada seorang Veli di depan mata kita, mungkin kita akan membayangkan betapa enaknya jadi dia. Veli tak hanya cantik, tapi berasal dari keluarga konglomerat, sukses mengejar karir yang sesuai dengan passion-nya, dekat pula dengan cowok yang banyak diidolakan cewek-cewek. Namun, yang harus kita maknai dan saya coba gambarkan di novel, bagaimana Veli harus survive pasca kepergian orang tuanya untuk selamanya ketika dia kecil, didikan disiplin kakeknya, mandirinya dia, kerja kerasnya mengejar passion, sikap bijaknya terhadap hubungannya dengan Mario, dan lain-lain. Semoga ada sesuatu yang dapat dipetik setelah menutup buku.
Cara saya membagi waktu sebenarnya santai saja. Setiap hari saya memang selalu meluangkan waktu untuk menulis. Misalnya sehari 5-10 halaman. Itu pun dijeda dengan kegiatan lainnya dan menulis tak sampai seharian. Kalau weekend kadang-kadang tidak menulis.
Ratna : Aamiin, semoga Mbak. Saya habis baca ini juga mendapat banyak pengetahuan dan inspirasi yang bisa dipetik. J Tips. Membagi waktunya bisa dicontoh nih. Lanjut ke pertanyaan berikutnya, Mbak. Sekalian buat promosi, Kenapa kita harus membaca Love in Kyoto? Apa keunikannya?

Silva : Love in Kyoto WAJIB dibaca untuk para pecinta novel Indonesia.

Kenapa?
Di novel ini, saya mencoba mengabungkan unsur romance dengan sejarah, budaya (Veli sebagai desainer kain nusantara, Uehara sebagai pemain gitar tradisional Jepang, Futaba sebagai koki udon), dunia tempo doeloe (kependudukan Jepang di Indonesia), hubungan kakek dengan cucunya, persahabatan yang penuh canda tawa tetapi sarat tolong-menolong, "twe way of life" beberapa tokoh yang tergambar dari kata-kata yang keluar dari mulut mereka, dan tentunya nikmat iman islam. Jadi, ada adegan romance, lucu, action, menegangkan, pokoknya "gado-gado", deh.

Mungkin bisa dilihat di blurb novel Love in Kyoto:

“Adinda Melati, satoe hari nanti, berkoendjoenglah ke Kjoto dengan kimono jang kaoe djahit dari kain sakoera ini. Akoe menoenggoemoe.” -Hidejoshi Sanada (13/11/45)

Veli, gadis yatim-piatu yang sejak kecil diasuh kakek-neneknya, adalah perancang busana yang tengah naik daun. Sepulang dari Jakarta Fashion Week, dia menemukan tumpukan surat lusuh di sela-sela koleksi kain nusantara almarhumah neneknya, Nenek Melati. Nama pengirim surat berbau Jepang itu mengusik rasa ingin tahunya, apalagi ada kaligrafi potongan ayat Al-Qur’an di dalamnya.

Bukan kebetulan, prestasi Veli sebagai desainer diganjar kesempatan tinggal beberapa bulan di Kyoto untuk mengikuti program industri budaya. Veli merasa, ini jalan yang diberikan Tuhan kepadanya untuk menambah ilmu sekaligus mencari tahu tentang Hideyoshi Sanada.

Dengan bantuan Mario, teman spesial yang sedang bertugas di Osaka, dan Rebi, kawan SMA yang sudah empat tahun menetap di Jepang, jalinan rahasia antara Hideyoshi dan Nenek pun satu per satu mulai terungkap. Penemuan ini juga membawa Veli dan Mario bertemu sosok dingin bernama Ryuhei Uehara, musisi muda shamisen, dan Futaba Akiyama, gadis pemalu penjaga kedai udon di tengah kota Kyoto. Ternyata, hubungan empat insan ini melahirkan kisah yang jauh lebih rumit dibanding cerita Hideyoshi dan Nenek Melati puluhan tahun silam...

Ratna :  Wah, novel ini memang kudu dibaca. Unsur yang disatu padukan benar-benar inspiring dan unik. Lalu Mbak, apa sih yang ingin disampaikan dari novel ini kepada pembaca?

Sebenarnya ini diserahkan lagi kepada pembaca. Saya yakin, setiap pembaca pasti punya gambaran atau hal yang didapat berbeda-beda. Intinya, semoga mereka terhibur dan mendapatkan hal positif dari novel Love in Kyoto ini.

Ratna : Insya Allah habis baca terhibur Mbk. J Terakhir, dari kacamata Mbak Silva, apa yang perlu dimiliki ketika ingin menjadi penulis? Dan bagaimana tips biar jadi penulis yang konsisten dan selalu produktif?

Silva : Sama seperti profesi-profesi lain, untuk menjadi penulis harus semangat, terus berlatih, kerja keras, tidak mudah menyerah, ikhlas melakukannya, dan jangan lupa rajin berdoa.
Lalu tips agar konsisten dan produktif adalah berpikirlah bahwa pasti ada alasan Tuhan membuat kita bisa menulis. Beberapa tujuannya mungkin agar bisa sharing dengan pembaca di luar sana. Jadi, menulislah selagi ada kesempatan.


Oke Mbak Silva, terima kasih atas waktu dan jawabannya. J Sukses selabuat Mbak Silva dan semoga bukunya laris manis disukai pembaca. J  Dan semoga sedikit wawancara ini bisa menginspirasi bagi siapa saja yang membaca. J

Dan yang penasaran bagaimana kisah Love in Kyoto, simak resensinya di sini.

[Review] Surat Misterius dan Romantika di Kyoto

Judul                : Love in Kyoto
Penulis              : Silvarani
Penerbit            : Gramedia
Cetakan           : Pertama,November 2016
Halaman           : 236 hlm
ISBN               : 978-602-03-3630-5

Hidup itu selalu penuh dengan kejutan. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Apakah selamanya merasa bahagia atau malah sedih berkepanjangan.  Semua itu misteri Ilahi.  Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Menerima dengan sabar atau tidak terima. Novel ini selain menganggat tema cinta, penulis juga menyelipinya dengan kebudayaan dan sebuah misteri.  

Karena sejak kecil sudah yatim piatu, Veli dibesarkan oleh kakek dan neneknya.  Mereka adalah sosok yang sangat diidolakan Veli dalam kehidupan rumah tangga nampak selalu harmonis dan romantis. Sampai suatu hari, tanpa sengaja Veli menemukan surat-surat bertulikan huruf kanji yang ditujukan pada neneknya—Melati. Selain itu dia juga menemukan sebuah foto hitam putih bergambar seorang pria Jepang (hal 27).  Dia pun bertanya-tanya ada hubungan apa neneknya dengan pria Jepang yang bernama Hidejoshi Sanada itu.

Bersamaan dengan itu, sebagai desainer yang berprestasi, Veli  berkesempatan tinggal beberapa bulan di Kyoto untuk mengikuti program industri budaya.  Entah kenapa momen itu sangat pas. Dan itu adalah kesempatan bagus bagi dirinya.  Selain bisa  belajar dan mengembangkan ilmunya, sekarang, dia juga memiliki misi baru untuk mencari tahu perihal  Hidejoshi Sanada.

Beruntung di sana, dia memiliki dua teman yang baik hati—Rebi dan Mario. Mereka dengn suka rela membantu.  Mario sendiri adalah sosok yang memiliki porsi lebih di hati Veli. Meski terpisah jarak dan waktu, mereka masih lancar berkomunikasi.  Kesempatan ini juga dimanfaatkan dua pasang sejoli ini untuk menikmati keindahan Kyoto. Salah satunya mereka mengunjungi Gion—di sana banyak balai-bailai seni dan bangunan-bangunan tradisional.

Dan betapa kagetnya Veli, ketika membaca surat-surat itu. Perasan Veli semakin tidak menentu membayangkan neneknya menghianati sang kakek.  Hingga akhirnya dia mendengar kalau Hidejoshi Sanada  memiliki perguruan yang mengajarkan seni bela diri samurai. Dan kebetulan tempatnya di Kyoto (hal 109).

Veli dengan semangat mengunjungi perguruannya itu dengan Mario. Di sana dia bertemu Ryuhei Uehara—pemain shamisen juga Futabah Akiyama, penjaga kedei udon. Hanya saja pertemuan itu tidak membawa hasil yang memuaskan bagi Veli. Dan itu sungguh membuatnya kecewa.  Kekecewaanya semakin berlipat ketika Mario membuat pengakuan. Kalau mereka mungkin tidak bisa melanjutkan kedekatan mereka. “Mungkin kamu sakit hati, tapi tolonglah mengerti. Tak semua cinta didukung oleh keadaan.”  (hal 108).

Sejak dulu ibu Mario tidak terlalu menyukai Veli yang katanya memiliki garis keturunan yang tidak jelas.  Meski sedih, Veli berusaha menerima dengan ikhlas. Hanya saja sejenak setelah mereka putus,  Mario malah terlihat dekat dengan Futaba. Bahkan gadis itu menembak Mario.  Belum lagi ternyata diam-diam Uehara juga bersimpati pada Veli. Veli dilema belum lagi ketika memikirkan tentang  Hidejoshi Sanada . Adakah kesempatan untuk bertemu dengan pria  Jepang itu?

Novel ini memilik prolog yang keren dan berhasil mencuri rasa penasaran untuk melanjutkan bacaan sampai akhir. Diceritakan dengan gaya bahasa yang renyah dan gurih. Novel ini sangat memikat.  Saya suka alurnya yang cepat hingga terus terdorong untuk membuka lembar berikutnya.

Kelebihan lainnya adalah masalah pengolahan setting yang terasa hidup dan banyaknya pengetahuan yang bisa diambil dari buku ini—khususnya tentang kesenian di Jepang dan wisata di Kyoto.

Shamisen adalah alat musik dawai tradisional Jepang yang memiliki tiga senar. Cara memainkannya dipetik seperti gitar dengan alat jenis pick gitar (hal 66).

Fushimi Inari Taisha adalah sebuah kuil, tempat ibdah para pemeluk agam Shinto (hal 146).

Selain itu ada juga quote inspiratif yang membuat kita termotivasi.  Kita diajak untuk mengingat budaya, tips menjadi orang yang sukses juga sikap yang tidak mudah menyerah.

“Budaya adalah kekayaan yang menunjukkan kepribadian kita. Kita tidak boleh melupakannya.” (hal 9).
“Menunda bukan kebiasaan orang sukses.” (hal 23).

“Orang yang mendapat kritik justru orang yang berbeda dengan kebanyakan orang. Bukan kritik yang harus kita takutkan, tetapi hati lemah yang tak kuat menerima kritikan.”(hal 68).

“Orang yang fokus pada hasil, ketika mereka tidak bisa mewujudkan mimpi, mereka akan jatuh sejatuh-jatuhnya. Tapi, orang yang menghargai proses, ketika mereka tidak bisa mewujudkan mimpi, mereka akan tetap semangat maju karena proses dianggap sebagai pencapaian.” (hal 150).

Dan tentunnya masih banyak lagi yang bisa dipelajari dari novel ini. Hanya saja saya masih menemukan sedikit kesalahan tulis. Entah ini masalah pov atau karena kurang dalam memberi tanda petik.  Karena di sana dari menjelaskan soal Veli, pov berubah jadi aku. Lalu diakhiri dengan tanda petik. Padahal sebelumnya tidak ada tanda petik di awal (hal 203).    

Tapi lepas dari kekurangannya, novel ini recomended buat dibaca.   Menggabungkan tema cinta, sedikit misteri dan budaya, menjadi poin tambah dari novel ini.  Dan masing-masing diberi porsi yang pas, sehingga cerita tidak timpang.


Dan seperti biasanya setelah  ini bakal ada tanya penulis. Tunggu hasil wawancara dengan Mbak Silvarani. ^_^ 

Dan ini dia hasil nya Wawancara With Silvarani

Srobyong, 16 November 2016