Saturday, 10 September 2016

[Cerpen] Lidah Bertuah

*Kazuhana El Ratna Mida

 Sepertinya kamu termakan rasa cemburu berlebih, hingga menggerogoti hati. Kamu tak suka. Kamu marah dan tidak terima. Kenapa bukan kamu yang meraih kesuksesan? Kenapa harus kamu yang menelan kegetiran bahkan pengkhianatan?  Yah, sepertinya memang begitu. Hatimu sudah dijajah iri hingga lubang putih tak bisa dijamah lagi. Berubah hitam—semakin pekat. Begitulah.  Jika tidak kamu tak mungkin melakukan hal gila yang membuat semua menjadi kacau balau. Pertikaian hingga kerusakan.    Membuatmu menjadi pribadi   gila tak lagi bisa terkendali.

Kebencian yang bersarang di hati, menuntun langkahmu ke gunung Siguntang. Satu tahun lamanya, kamu bertapa—meminta kekuatan pada penunggu gunung—Dewa Mahameru. Kamu percaya dengan pergi ke sana kamu bisa dapat kekuatan dan mengalahkan rifalmu—Aryo. Lelaki yang paling kamu benci di jagad raya. Lelaki yang merebut harta juga istri yang kamu cinta—Martini.
~*~


Friday, 9 September 2016

[Resensi Menjaga Hati Agar Tidak Diperbudak Dendam


Cinta dan Dendam Yang Tak Akan Membawamu ke Mana-Mana

Judul               : Cinta dan Dendam yang tak Akan Membawamu ke Mana-Mana
Penulis             : Redy Kuswanto
Penyunting      : Dwi Suwiknyo
Penerbit           : Trust Media Publishing
Cetakan           : 1, Maret 2016
Halaman          : vi + 254 hal
ISBN               :978-602-73678-6-9
Peresensi         : Ratnani Latifah,penikmat buku dan penyuka literasai alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Dendam adalah perasan marah berlebihan yang membuat seseorang berhasrat untuk membalas dengan cara menyakiti orang yang dibencinya karena suatu kejahatan atau lain sebagainya. Namun memelihara dendam pada diri bukanlah perkara yang baik. Karena dendam hanya akan membuat percikan api kebencian yang tidak akan pernah selesai.
Novel ini merupakan lanjutan dari jilbab (love) story yang sudah terbit 2015, karya Redy Kuswanto. Menceritakan tentang sosok  Keyzia yang harus menerima kenyataan bahwa untuk sekali lagi dia kalah saing dengan Melody.  Karir musiknya tidak semulus karir Melody yang terus menanjak. (hal. 8-9)

Menyimpan kebencian dan dendam kesumat membuat Keyzia berusaha mencari titik kelemahan Melody agar bisa menjatuhkan saingannya itu.  Dan secara kebetulan dia mendengar tentang cincin pengasih yang dipakai Melody. Kabarnya cincin itu adalah batu bertuah. Berangkat dari sana Keyzia lalu menyelidiki seluk beluk cincin bertuah itu.  Dia ingin mengungkap kebeneran cincin itu agar bisa menjatuhkan Melody. (hal. 35)

Namun siapa sangka dalam perjalanannya mencari tahu kebenaran cincin bertuah itu, Keyzia juga dihadapkan pada kenyataan tentang jati dirinya. Bingung dan tidak percaya  itulah yang kemudian dirasakan Keyzia. (hal. 178-179) Yang semakin membuat Keyzia kalut adalah ketika dia mengetahui masa lalu ibunya. Serta menyadari meski cincin bertuah itu sudah dimiliki tapi tak ada efek serius yang dialaminya. Karirnya tidak menanjak dan karir Melody tetap menanjak. Lalu di mana sebenarnya letak kesalahan Keyzia? Siapa sebenarnya dirinya? Selain dua pertanyaan itu masih banyak lagi pertanyaan lain yang akan membuat penasaran untuk menyelesaikan membaca novel ini. 
Dipaparkan dengan gaya bahasa yang meremaja dan renyah, membuat novel ini asyik dinikmati. Beberapa keselahan kepenulisan tidak menyurutkan untuk menghentikan membaca. Sebuah novel remaja religi yang sarat makna. Mengajarkan  untuk selalu berpikir positif   “Cobalah belajar selalu berprasangka dan berbuat baik pada sesama.” (hal. 135)

Mengajarkan tentang arti kebahagiaan melalui syukur, “Kunci bahagia itu sebenarnya gampang. Salah satunya  adalah dengan bersyukur. Sesungguhnya kalau  kita mau bersyukur, niscaya Allah akan menambah nikmat kepada kita.” (hal. 214)  Serta  menjaga hati agar tidak memelihara dendam. “Kalau kamu ingin bahagia, cobalah terlebih dahulu membersihkan hati dan pikiran, hilangkan segala prasangka buruk, kebencian, amarah, dan segala hal buruk lainnya. Lalu dekatkanlah diri pada Allah. Bersyukurlah dengan apa yang kamu miliki.” (hal. 230)

Srobyong, 17 Agustus 2016 

Dimuat di Radar Mojokerto, Minggu 4 September 2016


Thursday, 8 September 2016

[Resensi] Mengikat Hikmah Perjalanan Ibadah Haji dan Umrah


Judul               : Ke Raudhah. Aku ‘kan Kembali
Penulis             : Sari Meutia
Penyunting      : Budhyastuti R.H
Penerbit           : Penerbit Mizania
Cetakan           : Pertama, Agustus 2016
Halaman          : 163 hlm
ISBN               : 978-602-418-057-7
Penulis             : Ratnani Latifah, Penikmat buku dan penyuka literasi, alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Bisa mengunjungi tanah suci untuk menjalankan ibadah haji  dan umrah merupakan mimpi bagi setiap umat Islam di dunia. Bisa dibilang kedua ibadah tersebut merupakan ibadah yang  mulia dan istismewa. Karena hanya bisa dikerjakan ketika berada di Makkah dan Madinah. Ibadah haji  hanya bisa dikerjakan  pada bulan Dzulhijjah. Dan dengan menjalankan ibadah haji akan menyempurnakan rukun Islam ke lima. Beruntunglah orang-orang yang mendapat panggilan dari-Nya bisa menjalankan ibadah haji dan umroh.
Ketika menjalakan ibadah haji atau pun umrah diperlukan banyak bekal yang harus disiapkan. Seperti masalah materi dan fisik yang kuat.  Namun ternyata tidak hanya bekal fisik dan materi saja yang dibutuhkan saja. Ada sisi-sisi lain yang harus dipersiapkan ketika menjalankan ibadah haji dan umrah. Apa saja sisi-sisi lain yang perlu dipersiapkan? Penulis mencoba mengungkapkannya dalam buku setebal 163 ini.  Sebuah buku yang disusun dari perjalanan penulis ketika berkesempatan menjalankan ibadah haji dan umrah.  Insya Allah buku ini akan membantu membuka tabir-tabir yang kadang terlupakan dan membantu untuk menyempurnakan ibadah haji dan umroh dengan lebih baik.

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 4 September 2016 

Dalam menjalankan ibadah haji seyogyanya jamaah tidak hanya dibekali ilmu haji yang benar namun juga pengajaran akhlak yang sederhana. (hal. 15) Akhlak yang dimaksud di sini adalah tentang adanya toleransi bagi para jamaah haji.  Misalnya tentang anjuran selalu menjaga kebersihan di mana pun. Mau berbagi tempat atau makanan bagi yang membutuhkan. Mendahulukan yang lebih tua di dalam pesawat atau bus atau antrian makan dan toilet.  Mengingat Ibadah haji itu tentang ibadah ruhaniah yang berarti hati harus bersih untuk mendapat rahmat-Nya.

Dalam hal ini penulis memberikan contoh konkrit tentang beberapa kisah yang menunjukkaan kesucian Madinah yang bisa dibaca pada halaman empat puluh dua. Bahwa sebagai jamaah haji atau peziarah tidak boleh mengucapkan kata-kata yang tidak baik atau tidak pantas, apalagi melakukan perbuatan buruk. Jika terlanjur berkata tidak baik, hendaknya segera meminta ampun dengan beristighfar. (hal. 43)

Sikap lain yang harus dimiliki jamaah haji adalah tidak egois dan mau tertib. Bisa mengunjungi rumah kekasih Allah memang suatu keberuntungan  dan biasanya dalam posisi tersebut ada sebuah pengharapan agar bisa berbibadah lebih lama di sana. Namun perlu  disadari  kita tidak sendirian di sana. Banyak jamaah haji lain yang juga ingin beribadah di sana. (hal. 55)

Perlu kita sadari menjalankan ibadah haji adalah salah satu sarana untuk mendapatkan pahala dan rahmat Allah.  Namun jika selama menjalankan ibadah haji kita masih melakukan perbuatan tercela bagaimana nilai ibadah haji kita di depan Allah?  Itulah kenapa ketika ingin menjalankan ibadah haji seyogyanya selain mempersiapkan materi cukup untuk keberangkatan, fisik yang kuat untuk menjalankaan segala ibadah haji—dari Ihram, Thawaf, Sai, Tahallul dan Wuquf di Arafah, hal mendasar lain yang perlu dimiliki para  jamaah  haji adalah mengelola hati yang baik, mempraktikkan akhlakulkarimah.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa menunaikan haji dengan tidak rafats (jima’ dan berkata kotor) dan tidak berlaku fasiq, maka dia akan kembali bagikan saat dilahirkan ibunya. (tanpa dosa.)” (HR. Mutaffaq ‘alaih)

Sebuah buku yang sangat inspratif. Dipaparkan dengan bahasa yang renyah serta santai membuat asyik untuk dinikmat. Dilengkapi dengan lay out yang manis menjadi nilai tambah kelebihan buku ini.  Beberapa kekurangan yang ada tidak mempengaruhi kenikmatan membaca buku ini. Recomended.


Srobyong, 30 Agustus 2016 

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 4 September 2016 



Wednesday, 7 September 2016

[Resensi] Kisah Cinta Berbalut Isu Sastra

Judul               : Harmoni
Penulis             : Heruka
Penyunting      : Diara Oso
Penerbit           : de Teens
Cetakan           : Pertama, April 2016
Halaman          : 240 hlm
ISBN               : 978-602-296-199-4
Peresensi         : Ratnani Latifah,penikmat buku dan penyuka literasai alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Setiap orang sudah pasti memiliki selera bacaan masing-masing sehingga dalam menyikapinya tidak perlu adanya penghakiman bahkan penghinaan. Sebagaimana diketahui setiap genre tulisan—baik sastra atau pop—sudah pasti memiliki pasar masing-masing. Perbedaan yang ada harusnya disikapi dengan saling menghormati.

Novel ini mengisahkan tentang Rafal yang maniak sastra dan selalu memandang rendah pada penulis atau bahkan penikmat buku-buku bergenre pop.  Rafal beranggapan bahwa novel berjenis teenlit dan metropop adalah hal yang menggelikan. Buku-buku tersebut hanya menjual tema cinta dan drama. Sangat lucu baginya membaca buku yang isinya hanya mennyajikan sekelumit kisah tanpa hal-hal baru yang bisa membuatnya berpikir.(hal. 33)

Anggapan ini tentu saja membuat Paras yang notabene seorang penyuka buku dan juga penulis teenlit marah. Paras beranggapan Rafal itu terlalu berlebihan dalam menghakimi buku-buku pop dan mendewakan sastra.  Itulah awal ketidakcocokan mereka.  

Ketidakcocokan mereka semakin memanas ketika keduanya dipertemukan dalam Writing Clinic—latihan kepenulisan yang digalakkan komunitas Gerakan Menulis yang berkerjasama dengan sebuah penerbit untuk mendorong bibit-bibit penulis muda agar semakin giat berkarya. Kebetulan Paras menjadi pembicara sebagai salah satu penulis dengan karya best seller  dan Rafal sebagai peserta.

Dalam materi singkatnya Paras memberikan tanggapan mengenai isu sastra dan pop. “Setiap penulis pasti memiliki gaya yang berbeda. Dan setiap  buku yang ditulisnya pasti memiliki segmen masing-masing. Kita nggak bisa membandingkan novel teenlit dengan novel-novel genre sastra karena—tentu saja—keduanya berada di jalur yang berbeda.  (hal. 107) Tanggapan ini pun akhirnya memicu adu argumen antara Paras dan Rafal.

Namun siapa sangka setelah kegiatan itu Paras dan Rafal malah menjadi dekat—saling berbagi ilmu dalam kepenulisan.  Ternyata sedikit banyak Rafal menyadari bahwa selama ini dia terlalu kaku dalam menanggapi sesuatu dan dia ingin berubah. Perlahan kedekatan itu ternyata membuat Paras  simpati dengan Rafal namun sebuah kenyataan bahwa Rafal sudah memiliki seseorang yang disukai tentu saja membuat Paras sedih. Entah bagaimana kisah mereka berlanjut. Selain pertanyaan itu  masih ada beberapa pertanyaan lain yang membuat novel ini harus dibaca.  Misalnya tentang bagaimana nasib tulisan yang sedang ditulis Rafal dan revisi novel Paras yang akan diterbitkan.

Sebuah novel yang recomended untuk dibaca. Dipaparkan dengan bahasa renyah dan mengalir.  Beberapa keselahan yang ada tidak mengurangi keasyikan dalam membaca. Dari novel ini kita bisa belajar arti saling menghormati  dan dalam meraih mimpi itu tidak bisa instan.


Srobyong, 17 Agustus 2016 


Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Sabtu 3 September 2016 


[Review] Cinta dan Sebuah Rahasia


Searching My Husband

Judul               : Searching My Husband
Penulis             : Octya Celline
Penyunting      : Kudo
Penerbit           : LovRizn Publishing
Cetakan           : Pertama, Oktober 2016
Halaman          : x + 394 hlm
ISBN               : 978-602-6330-25-3

Novel ini berkisah tentang hubungan aneh yang tengah dijalani Sisilia. Bagaimana tidak aneh,  ketika  akhirnya dia bangun dari koma setelah tujuh tahun lamanya akibat kecelakaan, gadis itu mendapati dirinya sudah tidak lagi single. Lebih anehnya lagi Sisilia tidak mengetahui dengan siapa dirinya menikah.  (hal. 23) Meski begitu, Sisilia pada akhirnya menerima pernikahan itu. Lagipula saat itu ternyata hanya orang itulah yang dia ketahui sebagai keluarga. Orangtuanya sudah meninggal ketika Sisilia dalam keadaan koma. 

Meski sudah menikah Sisilia tetap melanjutkan  pendidikannya yang sempat tertunda dulu.  Lagipula di kampus pun tidak ada yang tahu kalau Sisilia sudah menikah. Bukankah akan sangat lucu ketika orangtau dirinya sudaah menikah namun tidak mengenal wajah suaminya? Itulah kenapa pernikahan itu akhirnya dirahasiakan. Meski pada lubuk hati Sisilia yang paling dalam dia ingin bisa merasakan hubungan yang semestinya. Bisa jalan-jalan berdua dan banyak lagi aktivitas menyenangkan.

Sayang itu hanya harapan, bahkan sampai satu tahun pasca dirinya koma, selama itu pula, Sisilia tidak pernah tahu nama suaminya. Dia hanya tahu kalau nama suaminya berinisial R.   Orang yang dipanggilnya my husband atau R  itu hanya menemaninya dalam kegelapan malam. Memanjakannya dengan cinta dan segala kemewahan yang melimpah.

Sebenarnya sudah berbagai cara Sisilia mencari cara agar bisa mengungkap identitas sang suami. Bahkan dia pernah membuat iklan yang dipasang di koran-koran dengan imbalan besar bagi siapa saja yang mengetahui tentang suaminya. Namun hasilnya nihil. Yang ada malah dia merasa tertekan karena yang muncul adalah orang-orang aneh.

Selain ada kisah antara Sisilia dan Mr. R—anggaplah seperti itu. Ada pula kisah Airin yang diam-diam menyukai seseorang yang pernah menolongnya—Rio—Airin sendiri hanya dianggap Rio sebagai sahabat. Di mata Rio hanya ada Sisilia. Setelah pertemuan yang tidak terduga dalam acara kumpul para mahasiswa dari dua kampus berbeda, Rio langsung menyukai Sisilia. Rio tidak tahu kalau gadis yang disukainya sudah menikah. 

Berbagai cara Rio lakukan untuk mendekati Sisilia. Tapi sebisa mungkin gadis itu menolak. Dirinya sadar kalau dia sudah memiliki suami—meski memang tak tahu wajahnya, entah sejak kapan di hati Sisilia hanya sang suami itu yang dicintainya.  Yang jadi masalah,  Sisilia binggung menjelaskan hal itu pada Rio.  Sampai suatu hari, Sisilia mengiyakan ajakan Rio karena sebal dengan ulah R yang tiba-tiba membatalkan janji dengan dirinya.  Siapa sangka R melihat kejadian itu dan merasa cemburu. Dia menyadari tidak seharusnya merahasiakan jati dirinya. Namun ada alasan tertentu kenapa dia harus melakukan itu semuanya.  Bersamaan dengan itu sebuah telepon dari masa lalu membuat R merasa ketakutan. Tapi dia berjanji akan selalu menjaga Sisilia dengan cara apa pun.

Kelebihan dari novel ini  adalah dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah. Asyik untuk dinikmati.  Pengambilan pov yang unik dan cerita yang memikat. Penulis piawai dalam menggiring penonton untuk terus mengajak pembaca larut dalam cerita. 

Sedang kekurangan dalam novel ini adalah penulis tidak memberikan penjelasan dalam pergantian pov sehingga kadang agak bingung.   Lalu masalah pov yang kadang agak tercampur—tidak sinkron dari pov aku tiba-tiba menjadi Sisilia. (hal. 119)  Ada ketidaksinkronan juga dalam pemanggilan nama Sisilia.  Saya pikir tokoh utama memiliki panggilan seragam agar tidak bingung. Kadang dipanggil Sisilia, Sisi atau Sisil. Kalau pembaca tidak jeli, bisa jadi malah tokoh itu dianggap tiga tokoh berbeda. (hal. 114)  

Beberapa kesalahan dalam penulisan seperti : Tubuh profesional—mungkin maksudnya proporsional? (hal. 176)  Atau dalam penulisan, terlewat tanda baca dan dalam sapaan ditulis pakai huruf kecil. (hal. 315)  

Lalu tentang kelogisan cerita. Di sini saya merasa ada lubang yang cukup besar. Bagaimana tidak, saya terus memikirkan tentang pengacara Mr. R. Kenapa dia terlihat malah seperti pembantu. Misal harus menganti bohlam lampu, lalu mengambilkan baju ganti Mr. R. Saya rasa ini tidak layak dikerjakan seorang pengacara.  Lalu tentang pergantian sikap Sisilia dari sangat mencintai Mr. R mendadak langsung membenci hanya karena sebuah video.  Seharusnya ada pergolakan batin tokoh utama. Dan lagi alasan kenapa Sisilia harus membenci Mr. R juga kurang dalam. Just like that?  Dan terkakhir saya merasa ada satu bagian di mana, gaya cerita penulis sangat mirip dengan gaya penuturan AliaZalea.  

Lepas dari semua itu, novel ini cukup menghibur. Tentang bagaimana Mr. R tidak pernah dilihat Sisilia, bisa ditemukan dalam buku ini. Mengajarkan tentang pentingnya pondasi dalam sebuah pernikahan. “Kepercayaan adalah pondasi dari suatu hubungan.” (hal. 160)