Sunday, 22 December 2024

Resensi Buku Mendengarkan dengan Hati


Judul: Mendengarkan dengan Hati: Menciptakan Hubungan yang Tulus dan Saling Percaya 

Penulis: Patrick King 

Terjemah: Susi Purwoko

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 

Cetakan:  Pertama, 2024

ISBN: 978-602-06-7653-1


"Tanpa hati, seseorang tidak bisa terhubung di tingkat pribadi dan manusiawi yang mendalam."

(hal. 42)


Salah satu cara agar komunikasi berjalan lancar, agar komunikasi yang kita bangun dengan  siapa pun tidak membuat seseorang  merasa diabaikan adalah dengan menjadi pendengar yang baik. Ketika  kita dapat menjadi pendengar yang baik  saat berkomunikasi dengan siapa pun, maka kita  dapat membangun hubungan yang harmonis dan menyenangkan dengan siapa pun. 


Masalahnya bagaimana agar kita dapat menjadi pendengar yang baik dalam berkomunikasi? Bagaimana  agar kita tidak hanya sekedar mendengarkan, tetapi juga dapat merasakan emosi dan berempati pada teman bicara kita?  Buku ini dapat menjadi bacaan yang akan membantu kita untuk belajar seni mendengarkan dengan hati.


Melalui buku ini kita jadi paham bahwa mendengarkan adalah inti komunikasi yang benar, dan komunikasi yang benar adalah inti setiap hubungan  yang bermakna yang dapat kita miliki dengan orang lain. Karena itulah belajar mendengarkan untuk membangun komunikasi yang baik sangat dianjurkan.


Dan melalui buku ini kita diingatkan bahwa menjadi pendengar yang baik itu bukanlah sikap sosial yang mewah, atau sesuatu yang harus kita lakukan demi  orang lain, tetapi menjadi pendengar yang baik akan bermanfaat untuk diri sendiri juga untuk orang-orang di sekitar kita. 


Kita mungkin pernah mengalami saat berkomunikasi dengan pasangan, teman atau siapa pun, mereka seolah mendengarkan tetapi faktanya mereka tidak  mendengarkan secara mendalam. Sehingga kita merasa diabaikan dan diam-diam terluka.



Pada kesempatan lain ketika kita menceritakan sesuatu pada teman, tetapi teman kita itu meskipun mendengarkan, tetapi tangannya sibuk dengan gawai. Pada saat itu rasanya pasti tidak menyenangkan, bukan? 



Begitu pula ketika kita yang posisinya sebagai pendengar tetapi kita hanya mendengarkan secara sekilas,  lalu dengan santainya memberikan masukan menurut sudut pandang kita sendiri, tanpa memikirkan emosi atau perasaan teman bicara kita. Ia yang bercerita mungkin merasa tidak puas. Bisa jadi ia sebenarnya tidak ingin mendengarkan solusi, tetapi hanya ingin didengar. Jadi runyam, kan, kalau kita tidak dapat memahami lawan bicara.


Di dalam buku ini dijelaskan ada empat gaya komunikasi yang sebaiknya kita pelajari untuk membangun komunikasi yang baik, berdasarkan pilihan, kepribadian dan tujuan seseorang berbincang. Di antaranya  gaya "berorientasi pada orang" gaya mendengarkan yang memberi perhatian pada orang sebagai suatu keutuhan beserta perasaan-perasaannya.  (hal. 36)


Dari empat gaya tersebut agar kita dapat menjadi pendengar yang baik, maka kita dapat membingkai dan menggunakan pendekatan hati. Orang-orang yang melakukan pendekatan hati, biasanya terlebih dahulu mementingkan konten emosional, dan berusaha terhubung. Mereka biasanya mementingkan motivasi, nilai, perasaan dan penghargaan.


Dan agar kita dapat menerapkan seni  mendengarkan dengan hati, maka sebaiknya kita dapat memahami lima tingkatan mendengarkan. Apakah kita orang yang mendengarkan dengan acuh, pura-pura mendengarkan, memilih apa yang didengarkan, mendengarkan dengan perhatian, dan mendengarkan dengan empati.


Selanjutnya tidak kalah penting kita juga harus belajar memvalidasi apa yang dibicarakan lawan bicara kita. Validasi adalah salah satu praktik memberi dan menerima dalam komunikasi sebagai upaya membangun sikap saling menghormati antara dua orang.

 

Secara keseluruhan buku ini sangat menarik. Masih banyak penjelasan lain yang dipaparkan penulis terkait cara menjadi pendengar yang baik; mendengarkan dengan hati. Dipaparkan dengan gaya bahasa yang sederhana  dan tidak membingungkan, buku ini sangat menarik untuk kita kaji secara mendalam. 


Melalui buku ini kita mendapatkan banyak sekali pemahaman baru terkait cara berkomunikasi, di antaranya: 

1. Cara menjadi pendengar yang baik yang mendengarkan dengan hati.

2. Cara membangun hubungan harmonis antara sesama.

3. Cara menciptakan hubungan dan komunikasi yang tulus.

4. Bagaimana cara memberikan validasi pada teman yang berkomunikasi dengan kita.

5. Mengetahui tipe komunikasi seperti apa yang kita miliki, apakah tipe yang narsis atau menjadi pendengar yang baik? 


Penting untuk kita pahami 


"Komunikator yang baik cenderung lebih sedikit bicara dibandingkan komunikator yang buruk." 

(hal. 16)


"Anda akan menjadi orang yang pandai bercakap-cakap dengan menjadi rendah hati, ramah, dan ingin tahu tentang betapa menariknya orang lain." 

(hal. 17)


"Menjadi komunikator yang empatetik adalah menjadi pribadi yang matang secara emosional dan nyaman dengan emosi-emosi, apa pun emosi itu."

(hal. 98-99)


Saturday, 14 December 2024

Resensi - Buku What Happened to You? -Dampak Trauma Masa Kecil dan Cara Pemulihannya

 


-Dampak Trauma Masa Kecil dan Cara Pemulihannya.

 

Judul: What Happened to You: Memahami dan Menyembuhkan Trauma Masa Kecil 

Penulis: Bruce D. Perry dan Oprah Winfrey

Penerjemah: Donna Widjajanto 

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Kedua, Maret 2024

ISBN: 978-602-06-7154-3


"Apa yang terjadi padamu?" 


Itulah pertanyaan yang sering diajukan Dr.  Perry seorang psikiater, juga seorang pakar otak dan trauma, asal Amerika pada pasiennya. Menurutnya menggunakan pertanyaan tersebut dapat membuatnya lebih dekat dengan pasien, lebih  memahami  emosi mereka, lebih memahami keadaan mereka dan lebih diterima oleh mereka, dibandingkan menggunakan pertanyaan terkait apa yang salah dengan diri seseorang. 


"Apa yang salah dengan dirimu?"


Mengambil tema yang saat ini banyak dibicarakan yaitu tentang inner child dan trauma masa kecil, buku sangat menarik untuk disimak. Apalagi buku ini disajikan dengan cara yang tidak biasa. Membaca buku ini akan membuat kita menemukan banyak sekali insight baru terkait cara memahami diri dan menyembuhkan diri dari trauma masa kecil.


Buku ini disajikan dalam bentuk percakapan antara Dr. Perry dengan Oprah Winfrey  terkait berbagai masalah tentang trauma masa kecil dan rasa sakit yang pernah merasa rasakan. Melalui percakapan tersebut kita akan diajak  menyelami berbagai keadaan dan kejadian yang pada dasarnya dapat memengaruhi kehidupan kita. Kita diajak mengetahui bagaimana dampak berbagai pola asuh yang kita  alami, rasa sakit akibat ketidakberdayaan, perasaan  sepi karena ditinggalkan, trauma masa lalu yang sulit didamaikan, serta bagaimana untuk sembuh.

Intip daftar isinya dulu, ya.





Membaca buku ini kita seperti diajak untuk melihat kembali ke lorong waktu, melihat diri kita di masa lalu, dan menatap diri ini di masa sekarang.  Kita disadarkan bahwa alasan mengapa kejadian masa lalu seolah masih melekat hingga sekarang, dan kita diajak menemukan cara untuk pulih.



"Pengalaman-pengalaman paling awal memiliki pengaruh paling besar karena saat itulah otak berkembang paling pesat." 

(hal. 14).


Awal masa kehidupan anak, otak mereka berkembang dengan sangat cepat. Saat itu mereka mungkin tampak tidak memahami keadaan yang ada di sekelilingnya. Padahal anak kecil adalah sosok yang sensitif yang dapat menyadari dan memahami bagaimana ia diperlakukan oleh orang lain. 


Ketika anak tumbuh dalam pola asuh yang baik, ia akan merasa aman dan tenang.


Sebaliknya jika ia tumbuh dalam pola asuh yang banyak teriak dan amukan, ia akan tumbuh dengan rasa takut dan tertekan.






"Bagaimana kita dicintai memberitahu cara jaringan saraf penting kita terbentuk, terutama jaringan-jaringan ini regulasi diri." 

(hal.75)


Sedangkan kekacauan dan ketidakterdugaan pengasuhan memengaruhi perkembangan sistem respon stres anak sehingga menjadi tersensitisasi (hal 82).




Secara keseluruhan buku ini sangat menarik dan inspiratif. Dalam percakapan tersebut penulis juga menyertakan kisah-kisah nyata dengan pembahasan, menunjukkan tentang bagaimana trauma itu tumbuh dalam diri seorang dan bagaimana proses pemulihannya. Termasuk kisah Oprah sendiri yang juga mengalami masa kecil yang pahit, penuh luka dan trauma. 


Pesan-pesan yang saya tangkap setelah membaca ini di antara:

1. Pola asuh memiliki pengaruh besar dalam memberikan dampak memori pada anak. Ketika kita diasuh dengan kasih sayang, kita akan tumbuh dengan jiwa yang penyayang. 


Sebaliknya ketika kita diasuh dengan kekerasan, kemarahan dan pengabaian, kita dapat tumbuh dengan rasa trauma dan ketakutan.


"Saya menyadari pengabaian sama beracunnya dengan trauma." 

(Dr. Perry, hal. 179)


2. Anak dapat merekam dengan baik terhadap pengalaman pertama mereka ketika bertumbuh. Karena itulah isilah tangki pertumbuhannya dengan kasih sayang, kepedulian dan penerimaan.


3. Ada beberapa faktor yang dapat membuat seorang anak mengalami stres dan trauma, di antaranya mengalami kejadian tidak terduga yang menyakitkan, ekstrem dan berkepanjangan.


4. Setiap kita mungkin memiliki trauma mas lalu, memiliki luka di masa kecil, tetapi kita dapat pulih ketika mau berproses untuk memperbaiki diri dan sembuh.


5. Agar kita dapat berdamai dengan trauma masa kecil, maka kita harus mengetahui akar masalahnya terlebih dahulu.


6. Agar kita dapat memberikan pola asuh terbaik pada anak,  salah satunya tidak menempatkan mereka di depan layar, tapi berbicara dengan mereka.


Masih banyak pengalaman menarik yang akan kita temukan ketika membaca buku ini. Di mana selama membacanya kita akan terdiam, mengangguk setuju dan termotivasi untuk sembuh. 

Beberapa quotes yang menghangatkan hati


"Trauma dan kesulitan, di satu sisi, adalah karunia. Apa yang akan kita lakukan dengan ini akan berbeda antara satu orang dengan orang lainnya."

 (Dr. Perry. 342)


"Kita harus memiliki keberanian untuk mengorek lukanya dan mulai menyembuhkan diri sendiri."

 (hal. 344)




Thursday, 27 April 2023

Resensi Malice; Catatan Pembunuhan sang Novelis karya Keigo Higashino -Menemukan Motif Pembunuhan sang Novelis



Judul               : Malice; Catatan  Pembunuhan sang Novelis

Penulis             : Keigo Higashino

Penerjemah      : Faira Ammadea

Cetakan           : Kelima, Januari 2022

Halaman          : 304 halaman

ISBN               : 978-602-06-3932-1

Malice; Catatan Pembunuhan sang Novelis, merupakan novel dari seri Detektif Kaga yang paling laris dan banyak dipuji.

Sinopsis

Novel ini sendiri mengisahkan tentang kematian Hidaka Kunihiko, sang novelis handal yang telah melahirkan buku-buku best seller di Jepang.  Pada malam yang tidak terduga Hidaka ini ditemukan tewas  di rumahnya. Tubuhnya ditemukan di ruang kerjanya dalam keadaan terkunci.  Hikada ditemukan dalam keadaan tertelungkup; lehernya terpelintir  sehingga nampak sisi kiri wajahnya. Dan matanya nampak setengah terbuka.

Rie-san, sang istri dan Nonoguchi Osamu, sahabat si penulis merupakan orang yang pertama kali menemukan jasad Hidaka.  Mereka nampak terkejut dengan kematian orang terdekatknya. Padahal Hidaka telah menyiapkan rencana yang cukup matang untuk pindah ke Kanada bersama istrinya.

Detektif Kaga Kyoichiro, petugas yang menyelidiki kasus tersebut berusaha menguak misteri kematian sang penulis. Pada awalnya penyelidikan mengalami kebuntuan.  Orang-orang yang selama ini dicurigai ternyata memiliki alibi kuat. Termasuk  melihat Rie-san dan Nonoguchi. Hingga beberapa waktu kemudian, Detektif Kaga menemukan fakta menarik tentang hubungan Nonoguchi dan Hidaka yang sebenarnya.

Karena fakta itu Detektif menjadi sangat penasaran—bukan bagaimana cara pembunuhan dan siapa yang melakukan, tetapi mengapa Hidaka harus tewas seperti itu.  Bermula dari penemuan itu pula akhirnya sang detektif berusaha menguak misteri paling dalam tentang motif pembunuhan tersebut. Karena kematian Hidaka itu bukanlah kematian biasa.

Review

Seperti biasa, Keigo Higashino selalu memukau dengan cerita-cerita yang ia tulis.  Ia tidak hanya membuat kita (para pembaca) tertegun dan memiliki rasa penasaran tinggi terhadap novel misterinya. Lebih dari itu ia juga mampu membolak-balik emosi pembaca selama membaca novel ini.

Dari segi cerita novel ini ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan. Mungkin setelah membaca berapa halaman kita dapat menebak siapa dalang dari kejadian ini. Akan tetapi setelah itu kita tidak akan mudah berpuas diri. Setelahnya kita akan dibuat penasaran tentang bagaimana dan alasannya. Mengapa? Mengapa?

Seru, menggelitik dan mendebarkan. Membaca pertarungan analisis antara penulis dan detektif akan membuat kita terombang-ambing. Kira-kira siapa yang berkata jujur dan siapa yang menyimpan  kebohongan? Bagaimana tidak? Karena di sini kita akan sering  dibuat salah pahama, dikejutkan dengan fakta-fakta baru yang mencengangkan.  Satu waktu kita mungkin akan benci pada salah satu tokoh cerita, tetapi di halaman lain kita mungkin akan merasa simpati.  Namun itulah salah satu sisi menarik dari novel ini. Karena dari kebingungan yang kita rasakan, kita jadi tidak dapat berhenti membaca sampai menyelesaikan kata tamat.

Dari segi alur dan plot, Keigo Higashino memiliki keluwesan hebat yang mencampurkan alur maju mundur dengan apik. Sejak membaca karya-karyanya seperti Kesetiaan MR. X,  Pembunuhan di Nihonbashi dan Keajaiban Toko Kelontong, saya selalu suka dengan gaya bercerita dan bagaimana ia menciptakan alur yang cukup rumit, tetapi tetap asyik dinikmati.

Selain jalan ceritanya yang memang menarik,  saya menyukai novel ini karena karakter tokohnya adalah penulis.Hidaka dan Nonoguchi adalah sahabat yang sama-sama ingin jadi penulis. Hanya saja ternyata Hidaka lebih dahulu berhasil meraih mimpinya dan bahkan menjadi penulis yang karyanya laris manis. Sedangkan Nonoguchi masih berusaha merintis. Mungkinkah masalah itu yang menjadi latar  belakang terjadinya pembunuhan atau ada misteri lain yang belum diketahui?  Temukan jawabannya di dalam novel ini.

Pesan Cerita  dan Kritik Sosial

Sebagai pembaca saya biasanya tidak hanya fokus  pada jalan cerita saja. Hal yang paling menyenangkan saat membaca biasanya,  secara tidak langsung kita dapat  menyerap banyak pesan-pesan memikat dan kritik sosial di lingkungan sekitar. Pesan yang membuat kita tersenyum karena setuju, atau tertampar karena memang  fakta di lapangan seperti itu.  Novel ini sendiri secara tidak langsung novel ini mengajarkan kita untuk tidak mudah percaya dengan  berita-berita yang belum ada bukti kebenarannya, dan semacam ajakan untuk orang tua memberikan contoh terbaik baik anaknya—khususnya dalam kebiasaan membaca.  

Ada pula pesan tersirat tentang bahaya menyimpan amarah dan dendam. Karena kemarahan dan dendam dapat memunculkan banyak bencana yang tidak terduga.

Pada beberapa adegan saya menemukan beberapa kalimat yang membuat saya setujut sekaligus miris.

“Biasanya orangtua masa kini hanya bisa mengharuskan anak-anaknya untuk membaca, padahal mereka sendiri tidak suka membaca. Aku sendiri tidak paham bagaimana seseorang tidak punya kebiasaan membaca bisa memberi saran pada anaknya tentang buku apa yang bisa mereka baca.”

(hal 48)

“Hubungan  antara guru dan murid dibangun berdasarkan persepsi yang salah., yaitu tugas sang guru adalah mengajarkan sesuatu sementara tugas murid adalah mempelajarinya, Yang penting adalah bagaimana persepsi itu bisa membuat kedua belah pihak sama-sama puas, apalagi yang namanya kebenaran tidak menjamin semuanya akan baik-baik saja. Yang kita kerjakan saat ini sama dengan bermain sekolah-sekolahan.”

(hal 73)

 

Jika setelah ini kamu masih penasaran dengan karya lain Keigo Higashino, jangan khawatir mulai 25 Maret -2 Mei 2023 kamu bisa ikutPre-Order buku terbarunya Angsa dan Kelelawar di sini, ya.  Temukan keseruan ceritanya dan jangan kaget kalau kau akan terpikat.



Srobyong, 27 April 2023

 

 

 

 

Wednesday, 26 April 2023

Resensi Novel Pembunuhan di Nihonbashi karya Keigo Higashino - Mengungkap Misteri Pembunuhan di Nihonbashi


Judul               : The Newcomer: Pembunuhan di Nihonbashi

Penulis             : Keigo Higashino

Penerjemah      : Faira Ammadea

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : Keempat, Agustus 2021

Tebal               : 304 halaman

ISBN               : 978-602-06-2190-6

“Manusia tidak pernah  bisa tahu apa yang akan dialaminya. Selama masih bernyawa, kita harus bisa menikmati hidup ini.”

 (halaman 83)

Kita tahu pasti, hidup itu tidak abadi. Ada kehidupan, ada pula kematian. Karenanya ketika masih hidup kita harus menikmati masa-masa tersebut dengan rasa syukur. Jangan terlalu meremehkan masalah-masalah kecil yang ternyata dari masalah itu, akan timbul masalah yang lebih besar dan akan membuat kita tercengang. Dari berbagai kejadian kecil ternyata dapat membantu penyidik mengungkpan kebenaran yang selama ini ditutup rapat hingga sulit terbuka.

The Newcomer atau Pembunuhan di Nihonbashi merupakan salah satu novel karya Keigo Higashino yang menarik, mendebarkan, menghangatkan dan membuat pembaca tidak dapat berhenti membaca sebelum menyelesakan kasus dalam cerita sampai selesai. Kepiawaian penulis dalam mengolah alur dan plot-plot menarik yang tidak mudah ditebak, membuat banyak pembaca genre ini menikmati  kisah yang disodorkan Keigo Higashino.

Karena kecerdasan dan keahlian Keigo Higashino, konon namanya sering disandingkan dengan penulis kriminal lainnya seperti Agatha Christie. Dan ia pun sudah sering memperoleh penghargaan bergengsi dalam dunia kepenulisan.  Salah satunya Keigo Higashino memenangkan Edogawa Rampo Prize dari novel  Hokago, pada usia 27 tahun.

Kisah apa yang ditawarkan dalam novel ini?

Seperti dalam judul, novel ini menceritakan tentang pembunuhan di distrik Nohonbashi.  Kisah dimulai dengan ditemukannya Mineko Mitsui (45th) di apartemennya sendiri dalam keadaan meninggal  akibat jeratan di leher. Anehnya kamar korban terlihat sangat rapi. Tidak terlihat adanya perlawanaan atau pemberontakan. Sehingga untuk sementara penyidik mencurigai bahwa korban dibunuh oleh orang yang dikenal baik.  Itulah sebabnya Detektif Kaga mulai menyelidiki kasus tersebut dengan mendatangi orang-orang di sekitar tempat tinggal Mineko Mitsui.

Ia memulainya dengan berkunjung  ke Toko Senbei, lalu mengunjungi pelayan restoran bernama  Shuhe, mendatangi  Maki, Nyonya Muda di Toko Keramik,Tamiko, sahabat korban, mendatangi Naohiro, manta suami Mineko, juga mendatangi Koki,  putra Mineko dan beberapa kenalan lain yang mungkin memiliki hubungan dengan kematian korban.

Hanya saja saat Detekfit Kaga berkeliling mencari benang merah dari kasus ini, mencari informasi terkait hubungan korban dengan  orang-orang terdekat atau orang-orang  di sekitar tempat tinggalnya, Detektif Kaga melihat hampir semua orang memiliki motif untuk mencelakakan Mineko. Ia belum menemukan titik terang sama sekali.

Dari segi cerita novel ini sangat menarik. Penulis dengan apik meramu alur dan plot yang tidak terduga, yang membuat pembaca tidak bosan membaca sampai akhir. Diimbangi dengan gaya bercerita yang mudah dipahami, membuat pembaca nyaman saat menikmati setiap lembar halamannya.

Sisi menarik lainnya adalah ide cerita yang dimiliki Keigo Higashino ini selalu unik dan tidak pasaran. Jika biasanya dalam genre misteri kita melihat fokus detektif adalah mengungkap  motif dan pelaku pembunuhan saja, maka di sini tidak. Melalui novel ini Keigo Higashino menunjukkan bahwa tugas seorang detektif itu bukan hanya menemukan dan memasukkan penjahat ke sel tahanan, tetapi  ia menunjukan bahwa seorang detektif tetap harus memiliki nilai-nilai kemanusia dan kepedulian pada sesama.

“Tugas seorang detektif bukan hanya menyelidiki kasus. Siapa pun yang menderita karena sebuah kasus, dia juga termasuk korban. Mencari cara untuk menyelamatkan korban seperti itu juga termasuk tugas detektif.”

(halaman 190)

“Tugas-tugas detektif dari kepolisian lokal seperti saya itu memang sedikit rancu. Kadang ada artinya, tapi kadang juga tidak berguna sama sekali. Dalam kasus ini, tugas saya adalah meminta orang-orang yang memiliki kaitan dengan korban, walau hanya sedikit untuk memperlihatkan gunting dapur miliki mereka”

(halaman 85-86)

“Saat terjadi kasus pembunuhan brutal, yang saya pikirkan bukan hanya menangkap si pelaku, tapi juga menyelidiki mengapa peristiwa itu bisa terjadi. Jika tidak, kesalahan yang sama akan terulang.”

(halaman 295)

Sedikit kekurangan dalam novel ini adalah  kita harus belajar sabar dan jeli dalam mengenali nama-nama tokoh. Mengingat dalam kisah ini akan ada banyak tokoh yang akan ditemui Detektif Kaga untuk menyelesaikan kasus pembunuhan itu. Kita juga harus siap menyimak banyak kisah selingan lain yang mungkin tidak terlalu berhubungan dengan korban. Akan tetapi dari hal-hal kecil itu, akhirnya Detektif Kaga berhasil menyelesaikan misinya dengan gemilang.

Lepas dari itu semua, novel ini sangat menarik dinikmati dijadikan teman baca sambil ngopi. Kisah ceritanya tidak hanya membuat kita takjub dan tercengang. Akan tetapi membaca novel ini akan membuat hati terasa hangat. Secara tidak langsung kita seolah-olah diajak untuk memanusiakan manusia, menghargai dan saling menghormati.  Lalu ada pula pesan bagi orang tua untuk selalu memberikan arahan terbaik untuk anak-anaknya.

Jika kamu ingin membaca karya lain dari Keigi Higashino, saat ini telah dibukan Pre Order buku terbarunya “Angsa dan Kelelawar” mulai tanggal 25 April – 2 Mei 2023



Srobyong, 26 April 2023


 

Monday, 1 August 2022

Juara 1 Lomba Self Improvement- Lomba Penerbit Charissa



Rezeki Allah itu kadang tidak terduga. Kejutan itu bisa datang kapan saja. 

Pertengahan bulan Juni 2022, saya melihat info lomba menulis yang diadakan Penerbitan Charissa.  Lomba itu adalah beberapa kategori; ada buku aktivitas, picture book dan Self Improvement. 


Niat awal saya ingin mengikuti ketiganya. Soalnya tantangan banget gitu. Tapi mendadak saya harus melupakan ambisi itu dan memilih salah dua saja. Mengapa? Karena kebetulan di bulan pengumuman  lomba ada beberapa naskah revisian yang harus dikerjakan. Terus ada target yang saya buat untuk menyelesaikan naskah untuk dikirim di salah satu penerbit. 

Jadi saya akhirnya memilih ikut lomba picture book dan Self Improvement. Karena memang dua bidang itu yang tengah saya tekuni. Meksipun faktanya ilmu saya belum mumpuni dan masih proses belajar di sana sini. 

Untuk picture books, alhamdulillah setelah dapat ide bisa langsung dieksekusi. Tapi untuk self improvement, saya harus memutar otak untuk mencari ide yang pas sesuatu tema. 

Jadi sebelum membuat outline saya mencoba melakukan riset kecil-kecilan. Saya mencari buku-buku terbitan Charissa untuk paham bagaimana tulisan yang disukai penerbit.  Saya sangat terbantu dengan review dari bookstagram untuk paham buku-buku yang sudah terbit. 

Setelah itu saya mencoba untuk riset pasar dengan mencari buku-buku self improvement yang seperti apa yang masih dibutuhkan? Apakah tema yang saya angkat ini sudah banyak ditulis atau belum? Apakah tema ini dibutuhkan? Jika belum ditulis apakah tema ini bisa diterima pasar? Jadi saya bolak-balik searching mencari buku pembanding. 

Setelah merasa tema yang ingin saya tulis itu menarik, saya mulai menulis outline serinci mungkin. Agar pas proses penulisannya tidak mandeg di tengah jalan. Apalagi selama proses menulis juga disambi garap revisian. 

Seminggu awal saya konsep tema dan mencari buku-buku referensi. Minggu kedua mulai tanggal 28 Juni mulai menulis naskah. Target sehari  setidaknya harus nulis 8-10 halaman. Berarti satu hari harus dapat 2 sub bab. 

Rasanya sempat khawatir. Ini bakal berhasil nggak ya? Soalnya kadang sehari dapat menutup target kadang juga jauh dari target. Tapi saya bismillah saja. Saya terus memotivasi pokoknya harus bisa. 

Kapan ada kesempatan lomba naskah nonfiksi? Biasanya lomba yang berseliweran itu kalau tidak naskah anak atau novel. Jadi ini kesempatan langka, yang sangat sayang dilewatkan. Apalagi  temanya itu lho. Sesuatu yang sangat ingin saya coba. 

Selama ini saya lebih banyak menulis naskah self-improvement dalam ramah religi motivasi. Dan saya ingin mencoba self improvement dengan tema umum. Jadi lomba ini pas banget untuk menjadi batu loncatan. 

Hari menjelang DL semakin dekat, dan tekad untuk menyelesaikan naskah pun semakin bulat. Apalagi sudah daftar via wa. Kok ya malu kalau nggak jadi kirim. Akhirnya beberapa hari sebelum DL naskah selesai dan diendapkan dulu beberapa hari.  Setelah itu bismillah saja untuk dikirim.  

Yang penting sudah berusaha secara maksimal. Sekarang tinggal kencangkan doa sambil kembali  garap revisi dan naskah lainnya. 

H-2 Penerbit Charissa mengabarkan Pengumuman akan dilakukan via zoom. Konon katanya semua peserta bakal dikasih link soon H-1. Tak tungguin kok saya nggak dapat-dapat. Akhirnya saya WA admin dan DM Penerbit Charissa. Eh ternyata saya kelupaan belum dimasukkan ke Grup peserta lomba 😆

Untung tetap diberi linknya tepat sebelum acara dimulai. Di sana di kupas tuntas tentang proses penjurian yang membuat saya sadar, bahwa menjadi pemenang itu bukan akhir dari segalanya. Karena saat kita sudah berani submit naskah itu, itulah saat kita sudah mengalahkan ketakutan kita. 

Qadarullah Allah memberikan rezeki dengan menjadikan saya sebagai juara pertama, dan berkesempatan dapat hadiah berupan uang tunai, piagam penghargaan, paket buku dan  bonus buku diterbitkan. Masya Allah, rasanya sungguh tidak terduga dan membuat saya terharu.  Semoga rezeki dan kesempatan yang telah Allah berikan dapat jadi motivasi dan suntikan untuk terus belajar dan berkarya yang lebih baik lagi. 




Dan mohon doanya,  semoga proses penerbitan buku ini dapat berjalan lancar dan dapat membawa manfaat kepada kita semua. Aamiin. 


Srobyong, 1 Agustus 2022