Monday, 4 October 2021

Review Buku - Mengenal Dua Ratu dari Dinasti Abbasiyah

 




Judul               : Two Queens of Baghdad

Penulis             : Nabia Abbott

Penerjemah      : Juslich Hanafi

Penerbit           : Buku Republika

Cetakan           : Pertama, Juli 2021

Tebal               : vii + 301 halaman

ISBN               : 978-623-791-084

Peresensi         : Ratnanmi Latifah




Selama ini mungkin kita hanya mengenal nama-nama besar dari khalifah pada Dinasti Abbasiyah. Misalnya Khalifah Al-Saffah, Al-Mansur, Al-Mahdi,  Al-Hadi, Harun ar-Rasyid, Al-Amin atau Al-Makmun. Nama-nama mereka telah terukir dengan sangat gamblang dalam sejarah Islam. Kisah dan keteneran mereka banyak menarik pada sejarawan, penulis biografi atau pihal lain yang memang menggemari literatur.  Namun seringakali kita lupa, bahwa di balik kesuksesan seorang pria, selalu ada wanita yang memiliki peran penting dalam pencapaian tersebut.

Hal itu juga berlaku bagi tokoh-tokoh besar di masa kepemimpinan Dinasti Abbasiyah.  Sayangnya kisah yang berhubungan dengan peran wanita tersebut, tidak banyak dibahasa dalam literatur sejarah Islam. Dan hemat saya, ketika mempelajari pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, selain para Khalifah yang dibahas secara luar, tokoh dan peran wanita tidak disebutkan secara spesifik.

Maka beruntung sekali jika kita membaca buku karya Nabia Abbott, yang akan membahas tentang sejarah dua  ratu yang memiliki peran penting  selama Dinasti Abbasiyah tengah berjaya. Karena tanpa adanya campur tangan mereka, bisa jadi para Khalifah yang selama ini kita kenal mungkin tidak ada dalam catatan sejarah.  Dua ratu yang dimaksud penulis adalah Ratu Khaizuran dan Ratu Zubaidah. Dengan cukup detail penulis mecoba mengungkapkan  tentang fakta-fakta menarik yang belum banyak kita ketahui.

Sebagaimana kita ketahui, di masa lampau perbudakan masih marak terjadi negeri Arab. Tak terkecuali pada masa Dinasti Abbasiyah. Namun siapa yang menyangka dari rahim seorang budak itulah terlahir tokoh-tokoh fenomenal yang akhirnya memberikan banyak kontribusi pada perkembangan Islam.  Ratu Khaizuran merupakan gadis budak dari seorang Arab dari Bani Thagafi. Memiliki pesona yang memikat, gadis itu akhirnya dapat meluluhkan  hati Khalifah Mansur yang kemudian membuatnya menjadi menantunya. Di mana pernikahannya dengan Al-Mahdi maka lahirlah dua calon khalifah besar yaitu Al-Hadi juga Harun Ar-Rasyid. Namun pencapaian itu tidaklah diperoleh Khaizuran dengan mudah. Ia harus bersusah payah dan tentu harus memiliki kecerdasan dalam dunia politik, juga memiliki tekad kuat untuk mewujudkan impiannya. Termasuk upaya besarnya menjadikan Harun ar-Rasyid sebagai seorang Khalifah.


“Matahari yang menakutkan telah melarikan diri, Dan menyembunyikan wajahnya yang bercahaya di malam hari; Dunia yang suram tidak ceria. Tapi Harun datang dan semua baik-baik saja. Kembali matahari memancarkan sinarnya; Alam dihiasi jubah kecantikan: Karena goyangan tongkat harun yang perkasa, Dan tangan Yahya menopang dunia.” (hal 129)


Berbeda dengan Khaizuran yang merupakan budak, Zubaidah isri Harun ar-Rasyid merupakan wanita terhormat dari keluarga Dinasti Ustmaniyah dari Juras. Hanya saja ketika menjadi ratu bagi sang Khalifah, Zubaidah tak kunjung memiliki keturunan. Karena sebelum ia memiliki anak, lahirlah Abdullah—yang kemudian dikenal sebagai Al-Makmun—yang lahir dari seorang budak.


Sebagai seorang pasangan sah dari Khalifah, Ratu Zubaidah adalah sosok yang luar biasa. Karena jika tidak, sudah pasti ia tidak akan bertahan dengan posisi tersebut. Karena seorang Ratu harus memiliki hati seluas samudera juga harus selalu bijak dalam bertindak. Dan itulah yang ia lakukan. Sampai kemudian ia memiliki putra bernama Al-Amin yang akan membuatnya harus berpikir berkali-kali antara membantu putranya sendiri atau putra tiri yang sejak awal ia asuh, karena sang ibu telah mangkat.

Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik. Jika biasanya saat membaca buku-buku sejarah kita merasa malas dan mengantuk, tetapi tidak untuk buku ini. Semakin kita menyelami isinya, maka kita akan dibuat semakin penasaran untuk membalik lembar berikutnya.  Tak hanya tentang dua ratu tersebut, melalui buku ini pula kita dapat menemukan syair-syair apik juga nasihat-nasihat bijak yang patut untuk direnungkan.

Misalnya quote tentang anjuran untuk tidak menunda pekerjaan dan selalu sigap, 


“Jangan menunda pekerjaan hari ini, hingga esok; hadirilah urusan negara secara langsung; dan jangan tidur (di posisi yang dijabat) karena ayahmu belum tidur sejak dia memasuki masa kekhalifahan, karena ketika dia tidur menutup mata, jiwanya tetap terjaga.” (hal 5)


Ada pula quote tentang  bagaimana cara mencintai dan menghormati wanita; 


“Wanita itu seperti tulang rusuk (dari mana dia diciptakan). Jika kau meluruskannya, kau justru menghancurkannya; jika kau menyukainya, kau harus menerima sifatnya yang ‘bengkon’.” (hal 50-51)


Kemudian, quote cara yang benar dalam menuntut ilmu.


“Sudah sepatunya pengetahuan harus dicari dengan rendah hati.” (hal 65)


Dan perlunya bersikap keras jika selama menuntut ilmu ia suka bermalas-malasa dan tidak bisa dinasihati, 


“Jangan terlalu lunak dalam memaafkannya sehingga membuat dia mengganggap kemalasan itu manis dan karena itu berusaha melakukannya. (hal 204).


Tidak ketinggalan sebuah puisi menarik yang pernah disyairkan oleh Khalifah Harun ar-Rasyid,


“Biarkan dia sendiri menguasai negara, Yang pikirannya kokoh, yang hatinya murni; Hindari orang bodoh yang bimbang, Yang pikiran dan ucapannya tidak pernah pasti.” (hal 206-207)


Dan melalui buku ini pula kita akan mengetahui sepak terjang dua ratu yang sangat menginspirasi. Karena meskipun mereka harus terjun dalam dunia politik—mereka adalah tokoh yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi pada sesama, dan tidak segan untuk membantu untuk kemaslahatan umat, juga menjadi pelopor dalam beberapa bidang. Ada catatan  Ratu Khaizuran membangun berbagai fasilitas yang berkaitan dengan air—seperti air mancur, kolam renang, sumur, kanal dan saluran air. Di mana perjuangannya tersebut kemudian diteruskan oleh Ratu Zubaidah. Selamat membaca.

Srobyong, 4 Oktober 2021


Tuesday, 24 August 2021

Review Film - Train to Busan : Film Menegangkan yang Sarat Makna

 

(Sumber gambar : Imdb.com 


            Selama ini Korea Selatan sudah memiliki branding yang bagus dalam  dunia hiburan. Tidak  hanya soal boyband atau gilrband yang memang sudah menjadi icon di sana—sebut saja BTS, EXO, Super Junior, atau Blackpink—drama Korea yang mereka produksi pun selalu menyedot banyak perhatian.  Misalnya Voice, Mouse, Signal, Memories of the Alhambra, Goblin, dan banyak lagi.  Meskipun cerita-cerita yang ditawarkan itu kadang sudah pasaran—misalnya dalam hal ini genre romantis—tetapi cara pengemasan yang bagus tetap membuat nilai jual tersendiri. Apalagi jika drama itu memiliki ide yang tidak biasa—khususnya genre horor, misteri, thriller dan fantasi—maka pasarnya pun semakin bagus.  

Selain K-pop dan dramanya,  budaya Korea Selatan pun sudah mulai digandrungi anak muda zaman sekarang.  Yang kemudian berlanjut pada dunia literasi Korea. Karena saat ini sudah cukup banyak buku-buku berbasis motivasi dan sastra Korea Selatan mulai diterjemahkan di Indonesia.  Di antaranya Kim Ji-Yeng Lahir 1882, The God Son, Pachinko, Vegetarian, The Hole, Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang, dan banyak lagi.

            Dan tidak ketinggalan film besutan Korea Selatan juga sangat menggoda dan menarik untuk kita tonton.  Salah satunya adalah film “Train To Busan”  film yang  dirilis pada 2016 ini masih menarik dan seru untuk kita nikmati. Film bergenre horor - thriller ini sejak awal sudah menunjukan sisi menarik dan ketegangan yang akan membuat penonton tidak bisa lepas dari keseruannya. Maka saya sangat merekomendasikan film ini bagi para penikmat horor dan thriller.

            Sinopsis Film

·         Judul               : Train to  Busan

·         Tahun Rilis      : 2016

·         Genre              : Horor-Thriller

·         Sutradara        : Yeon Sang-ho

·         Produser          : Lee Dong-ha

·         Penulis             : Park Joo-suk

·         Produksi          : Next Entertaiment  World

Film ini sendiri  menceritakan tentang bagaimana cara bertahan hidup, dari serangan   zombie yang mematikan.  Karena sekali gigitan, kita pun akan segera terserang virus tersebut dan membuat kita menjadi sang predator (zombie).  Seok Woo,  pada mulanya  hanya ingin pergi ke Busan bersama anaknya—Su an, untuk mengantar putrinya bertemu sang ibu. Mereka berangkat dengan KTX  (Korean Trans Ekspress)— kereta api cepat ala Korea. Kepergian itu sebagai hadiah atas ulang tahun Su-an, sekaligus sebagai penebus rasa bersalah Seok-woo yang selama ini selalu mementingkan pekerjaan.

(Sumber gambar : Imdb.com)


Namun siapa yang menyangka di kereta tersebut, ada salah satu penumpang yang telah terpapar virus zombie. Berawal dari satu orang itulah, lambat laun orang-orang yang terinveksi semakin banyak. Di sinilah tantangan dan ketegangan akan mulai terbangun. Para penumpang di kereta, termasuk Seok Woo, Su an, Sung Kyung dan Sang Hwa harus  berjuang untuk lepas dari kejaran para zombie. Mereka harus begerak cepat agar tidak menjadi korban berikutnya. Apalagi setelah para penumpang menyadari bahwa virus zombie itu sangat berbahaya. Saling sikut, sikap egois mulai tampak dan membuat kegaduhan yang sangat menyebalkan. Karena mereka sama-sama ingin bertahan hidup. Perjalanan yang awalnya  damai, berubah menjadi perjalanan penuh darah, tantangan dan kengerian.

Pemain Film, Penulis dan Sutradara

Film yang disutradarai oleh  Yeon Sang -ho dan ditulis oleh Park Joo -suk ini, langsung mendapat sambutan hangat dari banyak pihak. Apalagi para pemain dalam film ini pun sudah tidak diragukan lagi aksinya. Bisa dibilang pemain film ini adalah artis papan atas Korea, yang sudah memiliki pengalaman dalam memilih peran dan film yang akan dibintangi. Sebut saja Gong Yoo yang berperan sebagai Seok Wo.  Pria kelahiran 1979 yang masih kelihat fresh ini sudah membintangi banyak  film dan drama  yang sukses. Misalnya drama Coffe PrinceA Man and A Woman,  Kim Ji-young, Seabok dan  Goblin yang merupakan drama fenomal dan mendapat banyak perhatian dari penonton.


(Sumber gambar : Imdb.com -Gong Yoo, Kim Su-an, Jung Yu-mi dan Ma Dong-seok)


Ada juga aktor veteran Ma Dong-seok yang berperan sebagai Sang hwa, yang  sudah tidak diragukan lagi kemampuan aktingnya. Sudah banyak drama dan film yang dibitangi Aktor Amerika yang berbasis di Korea Selatan ini. Di antaranya Bad Guys, Squad 38, Chronical of Evil,  Along with the Gods ; The Last 49 Days, Unstoppable dan banyak lagi.

Kemudian ada pula Jung Yu-mi  yang berperan sebagai Sung kyung, dan Kim Suu-an sebagai Su-an.  Selain itu ada pula Ahn So-hee sebagai Jin-hee, Choi Won-sik sebagai Young-gook dan  Kim Eui-sung sebagai Yong-suk.

 Review Film

Dari segi tema sebenarnya film ini sudah banyak diproduksi.   Di antara film bertema Zombie yang sudah pernah tayang adalah  Resident Evil, World War Z, I am a Hero, I am a Legend, 28 Days Later, dan banyak lagi. Namun dengan cara penyajian cerita yang berbeda dan unik, film ini sangat menarik untuk dinikmati. Bagaimana tidak unik, jika sebagian film zombie memiliki latar cerita dewasa dan terlihat jelas unsur kekerasannya, film ini menyuguhkan latar kisah keluarga yang sangat kental, dan bisa dibilang minim kekerasan yang brutal. Memiliki alur  cerita yang  cepat, film ini akan membuat penonton langsung merasakan ketegangan yang akan membuat merinding, ngeri, marah dan  sebal dalam waktu bersamaan.

(Sumber gambar : Imdb.com


           Bagaimana tidak ngeri, ketika kereta yang awalnya nampak aman dan damai, tiba-tiba kehadiran satu zombie, dan mengubah keadaan tenang itu menjadi mencekam. Rasa takut akan terjangkit virus membuat sikap seseorang langsung berubah dan bahkan menjadi lebih beringas dari zombie itu sendiri.

           Apalagi pada awalnya para penumpang ini sejatinya tidak saling mengenal. Maka sikap sinis dan saling sikut kemudian menjadi drama tersendiri, yang akan membuat film semakin menegangkan dan penasaran bagaimana akhir kisah dari para tokoh tersebut. Kita akan dibuat penasaran siapa saja yang dapat selamat atau bisa saja  endingnya malah berakhir dengan kejutan yang tidak terduga.  Paling menyebalkan adalah melihat sikap  Yong-suk yang sejak awal memang sudah terlihat egois dan mementingkan diri sendiri. Tetapi tanpa tokoh itu, pasti film  ini mungkin tidak ada nyawanya.

(Sumber gambar : imdb.com)


        Namun kita juga akan dibuat haru oleh tokoh-tokoh lainnya, seperti Sang hwa, Seok-woo, Sung Kyung, Jin-hee, Young-gook yang saling bahu membahu-membahu untuk sama-sama bertahan hidup dan saling melindungi. Mereka berjuang keras melumpuhkan para zombie agar tidak memakan semakin banyak korban.

        Akting para aktor di sini bisa dibilang sangat menjiwai tokoh dan patut untuk diacungi jempol. Karena karakter mereka bisa membuat penonton (saya sendiri) ikut larut dan merasakan emosi yang ada.  Ketakutan, kemarahan, kebingungan, kecemasan, dan keharuan akan mengaduk-aduk hati penonton. Scane Sung Kyung dan Su-an menjadi salah satu bagian yang akan membuat kita ingin menitikkan air mata.  

          Dengan plot yang tidak mudah ditebak dan penuh kejutan, film ini akan membuat kita tercengang sampai akhir. Keren! Dan sangat mengharukan. Rasanya tidak bisa membayangkan jika di dunia ini benar-benar ada zombie, yang akan membuat kita hidup dalam ketakutan dan kengerian.

Kekurangan  dan Kelebihan

            Meski tidak terlalu mencolok, film ini agak kurang konsisten dalam menggambarkan tentang ritme waktu dalam perubahan menjadi zombie. Karena di awal kisah, ketika seorang gadis yang terinfeksi dan naik kereta, durasi perubahannya cukup lama. Namun setelah itu, durasi perubahan menjadi zombie semakin cepat. Namun bisa jadi, cepat tidaknya perubahan adalah pengaruh seberapa parah gigitan yang diperoleh ( Analisis pribadi, sih. Heheh)

               Dan ceritanya pun sebenarnya tidak terlalu rumit. Film ini  bermula dari kisah perjalanan yang kemudian berkembang menjadi teror yang mencekam. Sehingga karakter-karakter yang muncul tidak melulu berhubungan dengan keluarga Seok-woo dan Su-an. Banyak karakter baru bermunculan.  tetapi memiliki peran yang cukup penting, yang membuat film ini semakin menarik.

              Terlepas dari hal itu, saya enjoy saja menikmati film ini. Apalagi sejak awal saya memang suka para pemainnya, khususnya Gong-yoo dan Ma Dong-seok.  Menurut saya kualitas akting mereka keren. Mereka mampu menjiwai karakter dengan baik. Begitu pula aktor pendukung lainnya. Termasuk si gelandangan.

Saya juga senang dengan senimatografi yang semakin membuat film ini menarik dan pencahayaan yang terang.  Jujur saya paling sebal menontotn film dengan pencahayaan yang terlalu gelap. Karena jadi kurang menikmati akting para pemain dengan maksimal.  Sebaliknya di film ini meskipun bertema horor, tapi tetap memperlihatkan suasana yang terang dan tidak mengurangi rasa tegang dan mencekam yang ditawarkan dari film ini.


Fakta Menarik tentang Film Train to Busan

Kenapa harus nonton  film ini? Karena hemat saya  film ini menjadi salah satu film laris sejak dirilis.   Konon film ini berhasil meraup keuntungan sampai US$92,7  juta di seluruh dunia. Atau sekitar 1,3  miliar.  Keren sekali.  Dan film ini  menjadi film pertama korea dengan tema zombie yang  berhasil memecahkan rekor  karena telah ditontotn lebih dari 10 juta penonton pada 2016. Amazing.  Tak heran kemudian film ini mendapat banyak sekali penghargaan dalam berbagai segi.

Dalam berbagai ajang penghargaan film, “Train to Busan”   berhasil membawa piala sebagai pemenang dalam Penghargaan Teknikal  dan  Penghargaan Film Audien untuk Film paling Populer. Tak hanya itu, Train to Busan” juga menjadi pemenang sebagai “Film Berbahasa Asing Terbaik” dalam Penghargaan Fangoria Chainsaw.

Dan tidak ketinggalan  "Train to Busan" juga berhasil menyabet penghargaan di the 20th Fantasia International Film Festival. Tak hanya satu, film ini menyabet dua pengharaag. Yaitu, the Audience Award for Best Asian Feature dan the Cheval Noir  Award for the Best Feature. Menarik sekali, bulan?

Makna dan Pelajaran dari  Film

Film ini tidak hanya sukses memberikan hiburan bagi penonton. Lebih dari itu, film ini memiliki cukup banyak pesan moral yang dapat kita renungkan.

  1. Kemanusiaan

Film ini secara tidak langsung membahas tentang sisi kemanusian. Bagaimana kita bersikap ketika berada dalam posisi tidak menyenangkan dan tidak terduga—misalnya berada dalam teror mencekap.  Apakah kita bisa tetap waras dengan bersikap baik—tetap saling peduli, tolong menolong—atau memilih bersikap egois dan mementingkan diri sendiri.

Hal ini terlihat jelas dalam film ini. Bagaimana para penumpang  kereta menyikapi perubahan karena adanya zombie. Di mana sebagian ada yang memiliki tetap berpegang teguh pada sisi kemanusiaannya, ada pula yang memilih egois dengan melindungi diri sendiri dan tak segan melihat orang lain menjadi zombie.

  1. Sindiran Kegoisan

Ada pula sindiran  halus tentang bagaimana sifat manusia yang kerap bersikap egois, demi kepentingkan diri sendiri.  Sebagaimana sikap Yong-suk yang ingin meninggalkan penumpang yang tertinggal, agar ia bisa bebas dari kejaran zombie.

  1. Kepedulian, Tolong menolong dan Kerjasama

Film ini juga mengajarkan tentang pentingnya saling peduli, tolong menolong, dan kerjasama dalam segala kondisi.  Meskipun tidak saling mengenal, karena keadaan tengah kacau akibat serangan zombie, Seok-woo, Sung Kyung, Sang-hwa, Jin-hee, Young-gook dan tokoh lainnya, saling bahu membahu mengalahkan para zombie. Mereka  berupaya dengan sangat gigih meskipun taruhannya nyawa sendiri.

  1. Kasih Sayang

Sejak awal film ini sudah menunjukkan pesan tentang kasih sayang. Mengingat tema selipan dari film ini adalah tentang kekeluargaan. Hal itu dapat kita lihat  bagaimana Seok-woo yang akhirnya mengalah dengan menemani Su-an untuk berkunjung ke rumah ibunya. Lalu sejak adanya zombie, kasih sayang itu semakin terlihat dengan sikap sikap menjaga putrinya dengan segala upaya. Begitu pula tokoh lainnya, di mana  Sang-Hwa yang selalu sigap melindungi istrinya, Sung Kyung yang tengah hamil.

  1. Pengorbanan

Dan terakhir film ini juga mengajarkan tentang pengorbanan. Ini sangat terlihat jelas. Demi orang-orang yang disayangi, para tokoh siap berkorban dengan segala konsekuensi. 

Selamat menonton dan semoga suka.

Jika butuh referensi film lainnya, jangan lupa mampir ke Bacaterus.com, ya. Banyak review film  yang bisa kita jadikan rujukan di sana.

Ratnani Latifah - Srobyong, 24 Agustus 2021 


Tuesday, 13 April 2021

Mengubah Mindset Agar Lebih Berani dan Bahagia

 

Sumber gambar : pinterest, edit by photogrid.

            Masa pandemi merupakan  masa yang penuh kejutan juga penuh cerita. Karena di masa ini kita dituntut untuk beradaptasi dalam segala hal. Dari harus memakai masker, menjaga jarak, menjaga daya tahan tubuh, serta siap melakukan aktivitas secara terbatas. Artinya kita tidak dapat pergi ke berbagai tempat sesuka hati. Bahkan untuk bekerja pun dilakukan dari rumah.

            Kita harus mulai terbiasa dengan kehidupan baru, tersebut. Kita tidak dapat protes, karena dunia tengah terguncang karena pandemi. Untuk waktu yang tidak terbatas kita diharapkan untuk menghindari kerumunan. Masa-masa bebas seperti  dulu, tentu akan menjadi masa yang akan kita rindukan. Berkumpul dengan teman-teman, bebas mengunjungi toko buku, berlibur, bersekolah dan kegiatn lainnya.

Bagi saya sendiri, masa pandemi adalah masa penuh tantangan. Selain harus mulai beradaptasi dengan kebiasan baru, pada saat itu, Allah tengah memberikan anugerah yang luar biasa di rahim saya. Kebahagiaan dalam menjaga kesehatan dan mempersiapkan segala keperluan di masa kehamilan pun menjadi tumpang tindih dengan berbagai kekhawatiran karena pandemi.

            Jujur saat itu saya merasa takut dan kalut. Berbagai pertanyaan menggema di kepala. Mengingat sejak adanya pandemi cara pemeriksan—baik di bidan, klinik atau rumah sakit mulai berubah.  Belum lagi proses persalinan konon katanya dipersulit. Di mana   saya melihat dan mendengar  dari tetangga serta saudara yang kebetulan mengalaminya sendiri. Misalnya saja pengalaman tetangga saya. Meski ia seorang petugas medis, ketika ia reaktif terhadap virus corona, ia mendapat perlakuan yang kurang baik dari salah satu rumah sakit besar di daerah saya.   

Ada juga sepupunya saya. Ia sempat divonis harus melalukan cesar, karena masalah pertumbuhan bayi. Sepupu saya meski kaget dan terkejut tetap menyiapkan diri dan menjalani periksaan sesuai prosedur dokter kandungan. Namun, ketika hasil tes rapid telah keluar, dan ia reaktif, perlakuan dokter yang mulanya baik pun berubah. Bahkan dalam menangani  konsultasi sang dokter menjawab via telepon. Dan sepupu saya sempat dioper ke sana ke mari untuk melakukan operasi cesar.  Astagfirullah hal adzim, perasaan saya semakin tidak menentu.

Beruntung saya memiliki buku-buku gramedia, yang sedikit banyak membantu saya dalam memahami tentang masalah kandungan juga membuat pikiran saya lebih rileks. Andai saya tidak menyalurkan kekhwatiran saya pada hal-hal lain, tentu ketakutan saya akan berdampak pada kehamilan saya, dapat membuat depresi hingga keguguran. Padahal sudah cukup lama saya menanti kehadiran buah hati setelah mengalami miskram.

Buku “9 Bulan Menjalani Kehamilan dan Persalinan yang Sehat” karya  dr. Irfan  Rahmatullah, Sp.OG dan dr. Nurcholid Umam Kurniawa, M.So.Sc, benar-benar membantu saya selama masa kehamilan. Buku ini dapat menjawab berbagai pertanyaan seputar kehamilan dan persalinan dengan detail. Bahkan tentang hal-hal yang mungkin tidak akan dijelaskan oleh dokter kandungan atau pun bidan. Melalui buku tersebut saya dapat mengetahui  bagaimana perkembangan bayi dalan kandungan,  rumus dalama mengetahui perkiraan jenis kelamin dalam kandungan, mamahami hal-hal dasar dalam kehamilan, bagaimana menjalani pola hidup sehat, masalah persalinan dan apa saja yang perlu disiapkan, masalah nifas dan banyak lagi.

Sumber gambar : Ratnani Latifah

Selain buku ini  saya juga sangat terbantu dengan membaca buku “Chiken Soup fot for the Soul; Think Positive” karya Jack Canfield, Mark Victor Hansen dan Amy Newmark. Melalui buku ini saya banyak menemukan nilai-nilai positif dalam kehidupan. Apa pun masalah yang kita hadapi, ketakutan yang  datang silih berganti, dapat diatasi jika kita selalu berpikis positif dan selalu bersyukur dengan apa pun kondisi kita.

Sumber gambar : Ratnani Latifah 


Jujur saja ketika pandemi datang, banyak ketakutan yang mulai meneror isi kepala saya. Banyak pertanyaan bagaimana ... bagaimana yang menggema di kepala. Bagaimana kalau nanti virus covid-19 menyerang saya atau keluarga? Apalagi saat itu, adik saya posisinya tengah merantau di Jakarta dan Semarang—di mana dua kota tersebut cukup banyak yang terpapar covid.

Tidak hanya ketakutan soal masalah covid, saya pun merasa cemas dengan keadaan janin juga bagaimana proses melahirkan kelak. Karena jujur saja sejak pandemi menyerang, proses medis di daerah saya entah kenapa menjadi sangat sulit. Banyak cerita tentang ibu hamil yang terlantar karena kurang sigapnya penangananan dari tim medis. Ada ibu hamil yang sudah dirujuk ke rumah sakit, tetapi di sana tidak dirawat dan malah pulang. Ada pula ibu hamil yang karena tidak segera ditangani, ia melahirkan di lorong rumah sakit. Astagfirullah hal adzim... hati saya begitu miris setiap kali mendengar berita-berita semacam itu.

Siapa yang tidak takut dan merasa cemas ketika posisi saya sendiri hampir sama dengan mereka? Ya Allah, rasanya sungguh nano-nano. Maka buku “Chiken Soup fot for the Soul; Think Positive” sangat membantu saya untuk belajar memiliki pikiran yang lebih positif.

Ada dua quote yang saya sukai ketika membaca buku ini.

Pertama, “Ubahlah pikiran, maka kita akan mengubah dunia kita.” quote ini seolah berpesan, agar saya selalu memiliki mindset yang baik.

Kedua, “Pikiran positif apa pun akan lebih baik daripada pikiran negatif.” Sedangkan quote ini secara terbuka mengingatkan tentang pentingnya selalu berpikir positif dalam keadaan apa pun.

Melalui buku ini saya juga belajar untuk mengurangi ketakutan dengan mengalihkannya pada kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Saya pun memilih tenggelam dalam dunia buku dan menulis. Karena memang itulah dua dunia yang saya geluti. Membaca adalah candu yang tidak tergantikan. Karena bagi saya dengan membaca gerbang pengetahuan akan terbuka lebar, kegelapan akan mendapat sinar dan jiwa yang kerontang akan mekar.

Alhamdulillah di masa pandemi saya berhasil mengkhatamkan banyak buku terbitan gramedia. Buku-buku itu menjadi teman yang begitu menyenangkan dan sedikit banyak membuat saya lupa akan berbagai kekhawatiran yang terus bergelantung di dada.

Begitu pula dalam menulis. Terapi menulis cukup membuat fokus saya teralihkan. Meski di sini, saya pun harus menghadapi tantangan baru. Mengapa? Karena dunia tulis menulis pun mendapat dampak yang cukup signifikan dari adanya pandemi.  Salah satunya cukup banyak media yang mulai tumbang. Tidak hanya itu banyak penerbit yang mulai menunda menerbitkan buku cetak akibat imbas pandemi.

Beruntung ada buku “Jangan Mudah Menyerah; Kumpulan Inspiratif dari Jack Ma, Pendiri Alibaba” yang disunting Suk Lee & Bob Song dan buku “The Path Made Clear” karya  Oprah Winfrey. Meski kedua buku ini tidak membahas tentang motivasi menulis, tetapi kedua buku ini banyak memberikan energi positif bagi saya untuk tetap teguh dalam dunia tulis menulis. Kedua buku ini mengajarkan banyak hal agar saya tidak mudah menyerah karena keadaan. Saya belajar tentang pentingnya menjalani dan nikmati setiap proses yang kreatif dalam menulis. Saya juga belajar untuk menentukan tujuan hidup dan  berusaha yang terbaik untuk  meraihnya.

Sumber gambar : Ratnani Latifah 

Dalam dialog dengan Kazuo Inamori, pada 28 Oktober 2008, Jack Ma pernah berkata, “Saya bukan orang yang paling berbakat. Penampilan, kemampuan, dan pendidikan saya jauh dari yang terbaik secara umum. Namun, saya memahami sifat dasar manusia. Anda harus mengendalikan yang negatif dan membangun yang positif agar meraih kesuksesan. Saya berusaha melakukannya melalui semangat berkelompok dan misi bersama.”

            Apa yang diungkapkan pendiri Alibaba ini sungguh mencegangkan. Ia mengingatkan bawah sukses itu tidak hanya soal bakat, tetapi juga adanya usaha dan ketekunan. Kemudian tidak kalah penting selalu berpikir positif. Dan saya rasa semua itu benar sekali. Selama menekuni dunia menulis, saya melihat orang-orang yang tekun dan tidak mudah menyerah cenderung akan berhasil dibandingkan mereka yang memiliki bakat tapi tidak punya semangat juang.  Kalimat itu memotivasi saya untuk terus menulis dan menulis. Karena di sanalah memang panggilan jiwa saya.

            Selain buku-buku non-fiksi. Selama pandemi saya juga ditemani dengan buku-buku fiksi terbitan Gramedia yang menarik dan menyenangkan. Di antaranya Selena dan Nebula karya Tere Liye, yang seperti biasa ceritanya selalu seru, penuh makna dan bikin ketagihan. Membaca novel karya sang maestro sangat membantu meringankan beban selama menghadapi pandemi juga masa-masa kehamilan. Membaca membuat pikiran jadi lebih rileks dan tenang.


Sumber gambar : Ratnani Latifah 

            Maka tidak salah jika bagi saya membaca itu semacam terapi jiwa, agar jiwa tetap sehat dan waras. Membaca itu adalah vitamin, yang mampu memberikan suntikan semangat untuk berbebah, menjadi pribadi yang lebih baik.

            Terlepas dari masalah kehamilan, membaca buku-buku gramedia ini mengajarkan saya tentang pentingnya mengubah mindset di masa pandemi. Jangan pernah berbikir negatif, takut ini dan itu, takut mencoba sesuatu atau takut melakukan hal-hal di luar zona nyaman kita. Akan tetapi beranilah! Selalu berpikir positif dan yakin mampu. Maka dunia bisa kita taklukkan.

            Begitulah. Masa Pandemi tidak membuat saya berhenti membaca dan menulis. Meski di masa pandemi, mulai banyak perubahan yang harus kita hadapi—khususnya pada bidang penerbitan. Karena setahu saya beberapa penerbit ada yang mulai mengurangi menerbitkan buku cetak dan beralih ke ebook.

            Namun di masa pandemi pula, saya menemukan jalur baru tentang penulisan buku. Apa itu? Menulis buku pengayaan, yaitu  buku penunjang  atau pendamping yang digunakan siswa untuk belajar, selain mengacu pada buku utama.  Di mana dengan membaca buku pengayaan anak akan mendapat lebih banyak pengetahuan dan wawasan dengan cara yang lebih menyenangkan.  Bukankah menyenangkan sekali bisa berkontribusi melahirkan karya dan dibaca oleh anak bangsa di seluruh negeri?  Saya sendiri sangat bersyukur, selama berkesempatan belajar mengenal buku pengayaan—bagaimana cara pengiriman dan prosesnya—alhamdulillah ada beberapa naskah,  yang saya ajukan telah diacc dan tinggal menunggu untuk dinilaikan.

            Untuk proses penulisan buku pengayaan ini tidaklah mudah. Ada banyak hal yang perlu kita perhatikan ketika menulis buku pengayaan, salah satunya harus sesuai dengan kompetensi dasar (KD) sesuai jenjang—dari SD, SMP dan SMA/SMK.  Selain itu ketika menulis buku pengayaan kita harus sabar menunggu penilaian dari PUSKURBUK (Pusat Kurikulum dan Perbukuan).  Dan tidak ketinggalan memiliki sertifikat menulis lebih diutamakan, ketika menulis buku pengayaan.

            Yah, masalah sertifikasi penulis ini sempat menjadi perdebatan di jagat media sosial. Ada pro dan kontra. Dan itu sangat wajar. Tapi bagi saya yang kebetulan sedang menulis buku pengayaan, maka saya harus siap untuk melengkapi persyaratan penilaian, khususnya untuk buku pengayaan nonfiksi.

            Jujur awalnya saya takut dan tidak pede dengan kemampuan saya. Siapa sih, saya ini? Soal kepenulisan pengalaman saya masih sedikit. Buku-buku karya saya pun belum cukup banyak. Saya sempat maju mundur untuk mengikuti ujian sertifikasi penulis. Takut hasilnya tidak kompeten.

            Namun karena membaca buku-buku di atas—khususnya buku Chiken Soup fot for the Soul; Think Positive, buku Jangan Mudah Menyerah; Kumpulan Inspiratif dari Jack Ma, Pendiri Alibaba, dan  buku The Path Made Clear, saya mulai berpikir ulang. Kalau tidak sekarang kapan kamu berani? Bagaimana mau maju jika terus terkurung dalam rasa takut dan tidak percaya diri? Bukankah kalau gagal dapat mencoba lagi?

“Ada banyak hal yang harus aku buktikan kepada diriku sendiri. Salah satunya adalah bahwa aku bisa menghidupi hidupku tanpa takut.”

Itu adalah salah satu quote yang saya sukai dalam buku  The Path Made Clear. Ia seolah memberikan semangat dan dorongan untuk menjadi pribadi yang berani.

            Akhirnya saya pun menguatkan niat dan mengikuti ujian sertifikasi, apa pun hasilnya. Jika dulu ujian ini dilakukan via luring atau tatap muka secara langsung, maka di masa pandemi ujian dilakukan via daring. Meski begitu, tetap saja ada rasa tegang dan takut. Apalagi saya juga harus mengamankan dedek bayi, agar fokus selama melakukan ujian.

            Dan puji syukur kepada Allah, yang telah  memudahkan saya. Dedek tidak rewel, dan  meski sempat ada drama mati lampu, Allah telah memudahkan saya dalam menjawab pertanyaan yang diajukan asesor. Bu asesornya  sangat baik dan bersahabat. Alhamdulillah ternyata saya diganjar kompeten. Rasanya sungguh bersyukur. Meski saya tahu, hasil itu bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya dari sana saya harus terus belajar  untuk menulis yang lebih baik lagi.

Sumber gambar : Ratnani Latifah 

            Pokoknya terima kasih banyak Gramedia, yang telah menghadirkan buku-buku apik, yang sangat bermanfaat, memberikan banyak motivasi dan inspirasi untuk terus memperbaiki diri di masa pandemi.  Sehingga saya bisa keluar dari zona nyaman dan berani mencoba hal-hal baru. Dapat beradaptasi dengan baik di masa yang penuh tantangan. 

             Terima kasih karena dengan membaca buku gramedia, saya  belajar mengelola mindset agar selalu berpikir positif. Sembilan bulan perasaan saya campur aduk ketika hamil—takut akan berbagai hal, tetapi saya selalu berusaha berpikir positif.

Saya ingat sekali, ketika  usia tujuh bulan posisi bayi masih melintang, lalu sempat sunsang dan plasenta berada di posisi yang hampir menghalangi jalan lahir. Jika posisi bayi tidak berubah, bisa jadi saya harus melakukan operasi. Namun saya selalu berpikir positif, bahwa saya dapat melahirkan dengan normal dan lancar.

 Dan meski sempat ada drama ditolak di puskesmas ketika melakukan pemeriksaan—padahal kondisi saya sudah sangat payah—tetapi proses persalinan berjalan lancar. Allah telah menyiapkan tempat terbaik, dapat melakukan  persalinan dengan porses yang dimudahkan di tempat seorang bidan yang baik hati. Kekuatan pikiran positif membawa kita pada jalan yang positif juga. 

Sumber gambar : Ratnani Latifah. Sehat selalu ya, Dek.


Srobyong, 13 April 2021.

           

           

           

           

             

 

Wednesday, 31 March 2021

Resensi - Kisah Anak Disleksia yang Merindukan Ibu

 

Sumber : Ratnani Latifah


Judul                : Membeli Ibu

Penulis             : Riawani Elyta

Penerbit          : Indiva Media Kreasi

Cetakan           : Pertama, Maret 2021

Tebal               : 240 halaman

ISBN                 : 978-623-253-033-1

Harga              : 75.000

Peresensi         : Ratnani Latifah

“Membeli Ibu” merupakan novel juara pertama pada Kompetisi Menulis Indiva 2020. Dari segi judul novel ini memang sudah mengundang penasaran. Saya sendiri ketika melihat judul ini sebagai salah satu pemenang langsung bertanya apa maksud dari kata “Membeli Ibu” Dan akhirnya rasa penasaran itu terjawab setelah membaca novel ini.

Novel ini sendiri menceritakan tentang Athifa—lebih sering disapa Ifa—yang merupakan penderita disleksia, yaitu gangguan  yang terjadi karena adanya kelainan saraf pada otak, sehingga  mengalami kesulitan dalam  proses belajar yang ciri-cirinya  kesulitan saat menulis, membaca dan mengeja. Namun Ifa ini selain kesulitan dalam membaca ia juga kesulitan dalam mengenal arah.  Oleh sebab itu ia pun jadi mudah tersasar ketika bepergian.

Karena kekurangannya itu, ia harus rela tinggal kelas selama dua kali. Jadi tidak heran ketika usianya sudah empat belas tahun, ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Karena itu pula, banyak orang yang menganggap Athifa aneh. Sehingga ia pun selalu menjaga jarak dari orang-orang.

Suatu hari karena keadaan Ifa dibawa bibinya untuk tinggal di Panti Asuhan Al-Fitrah. Sejak ditinggal sang ibu menjadi TKW, dan ayahnya yang menghilang entah kemana Ifa tinggal dengan Bibik Esih. Namun karena bibinya sudah cukup kesulitan dalam masalah ekonomi, maka terpaksa ia melepas Ifa.  Meski sedih Ifa tidak dapat berbuah apa-apa. Padahal jika ia tinggal dengan bibinya, setidaknya ia dapat menabung. Dan mungkin suatu saat ia dapat bertemu sang ibu, ‘membeli ibunya’ sebagaimana yang pernah ayahnya katakan.

Namun karena berada di panti tersebut, Ifa bertemu Fairus, yang merubah seluruh episode hidupnya. Fairuz, gadis yang penuh semangat, yang ingin menjadi psikolog, yang tidak menganggap kekurangan Ifa sebagai keanehan, Fairuz yang selalu baik terhadapanya. Bersama Fairuz pula pembaca akan diajak menelusuris teta-teki tentang makna dari ‘membeli ibu”

Secara keseluruhan novel ini sangat menarik, seru dan sangat berbeda dari kebanyakan novel yang ada. Selain kisah Ifa, kita juga dapat menemukan kisah Fairuz yang tidak kalah kompleks dan menarik untuk disimak. Gadis yang membangun Taman Baca Sakinah, yang nampak ceria dan kuat ternyata juga menyimpan kesedihan mendalam karena takdir Allah telah membuatnya kehilangan sesuatu yang paling berharga bagi seorang wanita.

Selalu suka dengan novel Mbak Riawani Elyta.  Mbak Ria ini selalu memiliki kisah yang tidak sama dengan kebanyakan penulis lainnya. Misalnya dalam  novel The Secret of Room 403 yang mengangkat tragedi tanjung berdarah 1984 (yang juga termasuk pemenang harapan dalam LMNI 2014). Atau novel Rahasia Pelangi yang mengangkat isu konflik antara gajah dan manusia.  Begitu pula dengan novel ini. Mbak Ria memilih tokoh utamanya sebagai sosok disleksia dan gadis penderita kanker.  

Tidak kalah menarik, dalam novel ini disisipkan  pula isu soal masalah TKW dan bagaimana masyarakat menilai orang hanya dari tampilan luarnya saja. Misalnya saja pada kasus Ifa. Ia dicap bodoh karena kurang tanggap dalam belajar. Padahal ketika ia diajar dengan pendekatan yang berbeda Ifa tergolong sebagai anak yang cerdas.  

Novel ini diceritakan dengan sudut pandang orang pertama bergantian  antara Ifa dan Fairuz. Di mana penggunaan sudut pandang seperti ini tidaklah mudah. Penulis harus konsisten dalam menceritakan masing-masing tokoh agar tidak tertukar. Gaya bercerita antara tokoh Ifa dan Fairuz juga harus berbeda, agar pembaca tidak bingung. Dan saya pikir, novel ini sudah  berhasil. Sejak awal membaca, saya seolah sudah mengenal bagian cerita  Ifa dan Fairuz.

Keunggulan lain dari novel ini adalah bagaimana penulis menyisipkan lokalitas yang sangat kental  dengan menyelipkan kosa kata daeraih, baik dalam narasi cerita  bercerita juga dalam percakapannya. Terlebih lagi gaya bahasa dalam bercerita yang renyah, lugas dan mudah dipahami, semakin membuat pembaca larut dalam menikmati novel ini.

Membaca novel ini benar-benar membuat saya terhanyut, seolah dapat merasakan bagaimana perasaan Ifa yang harus memendam kerindungan sejak kecil pada sang ibu.  Begitu pula bagaimana perasaan Fairuz yang harus menerima takdirnya secara tidak terduga.

Saya merasa novel ini merupakan potret nyata yang masih sering dialami oleh sebagian orang di sekitar kita. Bahwa hidup itu tidak selalu sempurna, akan selalu ada cobaan bagi siapa saja. Melalui novel ini kita dapat mengambil hikmah, sepahit apa pun hidup kita, jika kita mau bersabar, ikhlas dan bersyukur, maka hidup itu akan terasa lebih ringan dan tenteram. Kita dapat belajar banyak hal dari sosok Ifa dan Fairuz. Meski berbeda, mereka menunjukkan tentang sikap gigih, ikhlas  dan sabar ketika menghadapi berbagai cobaan.

Tidak ketinggalan, khas sebagai kisah remaja, di novel ini pun diselipi sedikit masalah merah jambu yang diramu dengan apik oleh Mbak Ria. Kisah Fairus dan Azriel akan membuat kita tersenyum-senyum sendiri ketika membaca. Meski begitu, penulis juga menyisipkan bagaimana pergaulan yang baik antara laki-laki dan perempuan.

“Aku selalu ingat nasihat Abah dan Emak juga Bang Fadli sejak dia mondok, bahwa pacaran itu hanya miliki mereka yang sudah menikah. Jadi kalau aku ingin pacaran, syaratnya hanya satu : menikah.” (hal 102).

Kemudian melalui novel ini pula kita diingatkan untuk selalu menjadi pribadi yang bermanfaat orang lain. Artinya sebagai makhluk sosial kita janganlah egois dengan mementingkan diri sendiri. Jika kita mampu tidak ada salahnya menolong orang yang membutuhkan dengan ikhlas.  Sebagaimana niat baik Fairuz dalam membangun Taman Baca Sakinah—di mana taman baca itu,  tidak hanya sebagai upaya menarik anak membaca, tetapi juga memberikan keguatan seru lain yang membuat mereka betah belajar di sana—atau pun ketika ikhlas membantu Ifa.

 “Akak senang lihat orang bahagia. Akak ini bukanlah baik-baik sangat. Ada satu hadits yang  selalu Akak ingat, Bahwa manusia yang terbaik, adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (hal 203-204).

“Menolong itu harus ikhlas. Jamila  saja selalu ikhlas bantu-bantu Pai meski dia tak sekolah. Harusnya Pai yang lebih berpendidikan, bisa lebih ikhlas dari Jamila.” (hal 62).

Srobyong, 31 Maret 2021