![]() |
| [Pict by RL]
Judul : Hijrah Asmara
Penulis : Madun Anwar & Sukma
El-Qatrunnada
Penerbit : Loka Media
Cetakan : Pertama, Januaari 2019
Tebal : 213 halaman
ISBN : 978-602-5509-18-6
Tema cinta tidak pernah usang di makan waktu. Cinta
selalu menarik untuk dijadikan kisah-kisah—baik dalam versi buku, drama atau pun film. Karena disadari atau
tidak cinta itu memang salah satu kebutuhan dasar manusia. Cinta adalah fitrah yang dimiliki oleh setiap
insan. Maka tidak heran, meskipun sudah berkali-kali disajikan,
kisah percintaan tidak membuat
pembaca bosan. Apalagi kisah itu ditulis oleh orang-orang yang berbeda, yang sudah pasti memiliki takaran
tersendiri dalam mengolah ide dan mengembangkannya untuk menjadi sajian yang
apik, menarik dan unik.
Begitupun dengan novel “Hijrah Asmara”.
Meskipun menawarkan kisah dengan tema yang sudah umum di pakai para penulis,
kisah ini juga menawarkan sesuatu yang berbeda, sehingga
membuat kisah ini tetap memiliki sisi
menarik untuk dibaca.
Sebagai gadis remaja pada umumnya, Ara memiliki rasa
penasaran yang tinggi terhadap cinta. Apalagi saat ini, Ara merupakan mahasiswa semester tiga jurusan PGSD di salah
satu perguruan tinggi di Lombok. Ia merasa sudah cukup dewasa untuk menjalin
hubungan dengan lawan jenis. Karena itu ketika akhirnya ia jadian dengan Fatih,
Ara begitu bahagia. Apalagi perasaan suka pada Fatih memang sudah cukup lama ia
simpan sejak masa OSPEK dulu.
Ara tidak
memedulikan, bahwa sebenarnya ada larangan keras dari orangtuanya—khususnya
sang ayah—agar Ara tidak berpacaran sebelum menyelesaikan pendidikan
kuliahnya. Berbeda dengan sang ibu,
meski pun memberi izin, ibunya selalu mewanti-wanti Ara agar selalu bisa
menjaga diri dan tetap bertanggung jawab dengan kuliahnya. “Papa tidak mengizinkan aku pacaran sebelum
selesai kuliah. Sedangkan mama setuju asal ketika pacaran aku bisa menjaga
diri, dan nilai-nilai kuliahku tidak terganggu.” (hal 21).
Maka diam-diam di balik punggung ayahnya, Ara merangkai kisah cintanya dengan
Fatih. Mereka sering menghabiskan waktu
bersama, meski kebersamaan itu dibatasi oleh
tenggat waktu yang sejak awal sudah diputuskan Ara. Karena Ara memang
hanya boleh keluar sampai jam sepuluh
malam. Beruntung Fatih mau memahami berbagai aturan yang ditetapkan Ara pada
awal masa pacaran mereka. Di sanalah rasa cinta Ara terhadap Fatih semakin
tumbuh subur.
Namun sebuah hubungan tidak mungkin ada badai bukan?
Setelah sekian lama hubungan mereka nampak adem ayem dan berjalan lancar,
tiba-tiba Ara dikejutkan sebuah kabar yang tidak terduga. Siapa yang menyangka
bahwa Fatih yang selama ini ia kenal baik, ternyata tega berselingkuh di
belakangnya. Di sinilah Ara mulai dilema dan bimbang—antara harus percaya dan tidak percaya dengan
selentingan kabar itu. Bertepatan dengan kabar buruk itu, ia juga harus
mendapati murka ayahnya karena ia ketahuan pacaran serta nilai-nilai kuliahnya
turun.
“Kecewa. Hal yang memang terasa sakit. Bayangkan,
jika kamu percaya pada seseorang dan harapanmu sangat tinggi terhadapnya, tapi karena
ketidakmampuan seseorang itu atau bisa saja karena sebab lain, ia membuatmu
kecewa.” (hal 44).
Ara pun semakin terpuruk. Kepada Denia, sahabatnya
Ara mencoba bercerita. Namun siapa yang
menduga, ternyata Denia juga memihak ayahnya. Denia berharap Ara melupakan
Fatih dan mengikuti nasihat orangtuanya. Ara sungguh tidak habis pikir (hal
59). Di tengah konflik hidup yang tengah menerjang Ara, sebuah kejadian tanpa sengaja mempertemukan
Ara dengan Arum, gadis berjilbab yang mengelola Perpustaakan Canai bersama
kakaknya, Arman. Pertemuan itu ternyata menjadi suatu awal babak baru yang pada
akhirnya membuat Ara berani bersikap tegas.
Kisah apa yang tersimpan dalam pertemuan antara Ara
dan Arum? Dan bagaimana pula akhir kisah cinta Ara dengan Fatih? Benarkah Fatih
berselingkuh dan dengan siapa? Untuk kisah
selengkapnya bisa langsung membaca buku ini sendiri.
Secara keseluruhan novel ini cukup menarik untuk
dibaca. Dari segi tema, meski sudah
sering dieksekusi penulis lain, kisah ini tetap memiliki keunikan tersendiri. Dengan alur maju mundur novel ini mampu
menciptakan rasa penasaran bagi pembaca. Pemilihan sudut pandang dalam
bercerita, sedikit banyak membantu dalam membuat kisah ini lebih menarik. Untuk penokohan cerita pun sudah digarap dengan bagus oleh dua penulis ini. Mereka sukses membuat saya illfeel banget dengan salah satu tokoh dalam novel ini. Duch, kenapa "dia" plin-plan dan nggak bertanggung jawab banget, sih? Hehheh. Siapa tokohnya, cari sendiri ya. Nanti bisa spoiler.
Hanya saja untuk setting cerita, di sini
penulis belum cukup kuat dalam menampilkan Lombok secara lekat dan dekat. Padahal jika dieksekusi secara lebih mendalam, dan dibumbuni dengan adat atau budaya daerah setempat, maka novel ini akan jadi lebih bagus dan terasa kental dengan lokalitasnya. Meskipun ada upaya mengenalkan obyek wisata di Lombok--Gili Lawang dan Gilis Sulat dengan panorama yang
indah--sayangnya hal itu juga belum bisa dieksekusi penulis secara matang. Padahal jika penulis
bisa lebih mengekplore lagi perihal wisata tersebut, pastinya kisah akan lebih seru dan menarik.
[Pesona Gili Lawang, sumber : google]
[Pesona Gili Sulat. Sumber : Rully Adriani]
Dan untuk segi gaya bercerita, meski mudah dipahami,
namun kadang-kadang gaya bahasanya masih terasa kaku dan kurang lentur.
Misalnya dalam pemilihan kata oksigen, menurut hemat saya kata ini malah
jadi agak menganggu dan aneh. Kenapa
tidak menyebut udara saja? Saya rasa itu jauh lebih enak untuk
dibaca. Selain itu tampilan layout buku ini memang bagus, namun dari segi pemilihan huruf dalam pergantian
bab nove, hal itu malah membuat pembaca
tidak nyaman. Karena beberapa kata jadi sulit dibaca dan tidak jelas.
Ada pula satu bagian yang
terlihat tidak sinkron dalam menjelaskan usia tokoh. Pada halaman 107
dipaparkan Ara mendeskripsikan Arman setidaknya memiliki rentan usia dua tahun
dari dirinya. Namun pada halaman 110, Ara mendiskripsikan bahwa Arman memiliki
usia yang sama dengan dirinya.
Namun lepas dari
kekurangan yang ada, novel ini tetap seru dan menarik untuk dibaca. Bagi penikmat kisah romance bisa coba membaca novel ini. Novel ini selain mencoba mengangkat isu
pergaulan pada zaman sekarang, kisah ini juga berkisah tentang kisah
pencarian jati diri Ara. Di
mana kisah tentang pencarian jati
dari tokoh Ara, diceritakan dengan cukup rapi. Ara yang awalnya
egois namun lambat laun mulai berubah dan menjadi pribadi yang lebih
bijak. Ia yang dulunya masih bimbang dalam merangkai masa depan, kini ia telah memiliki
misi dan visi dalam hidupnya. Tidak
hanya itu, pertemuannya dengan Arum juga menjadi kunci penting dalam pola pikir
Ara dalam menilai kehidupan. Kehidupan Arum yang sangat berbeda, dari dirinya
yang sejak kecil serba kecukupan,
mengajarkan Ara untuk menjadi pribadi yang lebih bersyukur.
Membaca novel ini kita akan menemukan banyak
sekali nasihat serta motivasi hidup yang
menginspirasi. Di antaranya kita bisa belajar tentang pentingnya menjaga
pergaulan, kita juga bisa belajar untuk menjadi anak yang selalu mematuhi dan
menghormati orangtua, jangan membantah apalagi berani terhadap orangtua“Seorang
ibu pasti menginginkan hal baik pada anaknya. Apalagi, anaknya perempuan.”
(hal 43).
Di sini kita juga belajar bahwa cinta itu tidak
hanya dibangun dengan rasa, namun
harus dibentengi dengan saling
menghormati dan menghargai. “Saling menghargai adalah hal utama dalam
cinta.” (hal 20).
Kita juga harus memiliki cita-cita tinggi dan
memiliki kegigihan untuk mencoba sesuatu.
“Memulai itu sulit. Namun, jika tidak dimulai kita tidak pernah tahu
hasilnya.” (hal 200)
Ada pula nasihat untuk bijak dalam menghadapi
kesedihan. “Kesedihan itu tidak akan
berakhir jika kita sendiri tidak mengakhiri itu semua. Kehidupan itu tetap
berjalan. Jadi, perbaiki hidup dan berusaha tegar untuk menjalani hidup.” (hal
116).
Tidak ketinggalan, melalui novel ini penulis juga
mencoba menularkan minat baca dan literasi. Keren dan inspiratif banget cara yang dipaparkan penulis.
Salut dengan dua penulis ini. Tanpa adanya
tanggung jawab dan konsisten, tentunya mereka tidak akan berhasil menyelesaikan
naskah ini. Apalagi menyatukan dua kepala dalam satu ruang itu tidaklah mudah. Selamat membaca.
Srobyong, 14 September 2019
|
Sunday, 15 September 2019
[Resensi] Kisah Tentang Pencarian Jati Diri
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Thursday, 12 September 2019
[Traveling] Bukit Bejagan, Perjalanan Penuh Perjuangan
Pict. Doc. Pribadi
“Tidak
ada yang mudah dalam upaya meraih mimpi dan harapan, sebagaimana ketika kau
ingin menjejakkan kaki di tempat-tempat dengan pesona alam, harus ada
perjuangan, jatuh bangun hingga akhirnya berhasil untuk meraih puncak. Karena
hidup memang selalu butuh perjuangan, bukan?” (Ratnani
Latifah)
Selain
pesona laut yang indah dan memesona, Jepara
juga memiliki pesona wisata alam yang tidak kalah memukau dan
mengagumkan. Salah satunya adalah wisata Bukit Bejagan yang terletak di desa
Duplak, Tempur, Keling, Jepara. Tempat ini menyuguhkan pemandangan alam yang
begitu indah memesona, hingga akan mengingatkan kita akan kebesaran Allah. Yah,
inilah salah satu tempat yang sudah sejak dulu ingin saya datangi. Saya sangat
penasaran dengan keindahan alam yang selalu dielukan di sana-sini, khususnya
bagi penikmat traveling.
Karena itu, ketika mendengar suami bilang ia ada jam bebas karena libur kerja,
maka dengan semangat saya langsung mengusulkan untuk melakukan perjalanan wisata ke Bukit
Bejagan. Alhamdulillah usul kali ini
akhirnya diterima. Kenapa? Karena sebelumnya ketika berkali-kali mencoba
mengajaknya ke Tempur, ia akan selalu menolak dengan berbagai alasan.
Hari Minggu 8 September 2019, Kami
memulai perjalanan sekitar pukul 08.00 WIB.
Dari arah Mlonggo kami langsung melaju menuju jalan raya Keling- Jepara.
Untuk tahap awal alhamdulillah semua berjalan lancar. Karena jalan itu sudah
berkali-kali dilalui. Hehhe. Hingga
kemudian kami memasuki area wisata desa Tempur. Di sinilah perjuangan itu kami
mulai. Karena jujur kami masih awam dengan daerah tersebut.
![]() |
| [Pemandangan yang akan sering kita lihat dalam perjalanan. Pict. Doc. Pribadi] |
Di sana kami harus bersiap
mengikuti arus jalan yang penuh lika-liku, naik turun dengan banyak tanjakan
juga belokan. Jadi sebagai pengingat
sebelum melakukan perjalanan wisata ke Tempur, kita harus cek kesehatan motor dulu
dengan baik. Karena untuk menempuh
perjalanan ke sana, kita akan menghabiskan cukup banyak waktu dengan berbagai
tantangan. Mengingat letak desa ini berada di ketinggian kurang lebih 800 meter
di atas permukaan laut. Desa ini juga
terletak cukup jauh dari arah kota. Kalau dihitung dari Mlonggo sendiri, kurang
lebih 43,3 km untuk bisa sampai di sana. Wow banget, kan? Jadi
untuk masuk awal ke desa Tempur, setidaknya kita harus melewati kurang
lebih 25 km. Dan bertambah sekitar 18 km untuk sampai di Bukit Bejagannya.
[Pict. Doc. Pribadi . Ketika sempat berhenti sebentar di jalan menikmati pesona alam di sekeliling]
Dalam perjalan ini sendiri, sebelum
sampai ke sana, kami sempat tersasar menuju ke Desa Klepu. Yah, perlu perjuangan panjang untuk sampai di
sana. Tak sekali dua kali kami tersesat. Selain sempat tersesat dan hampir
memasuki Desa Klepu, kami sempat teresat di kawasan jalan ekstrim di sana. Asli jalannya sangat mengerikan, karena semua
jalan terlihat menanjak.
[Pict. Doc. Pribadi]
Akan tetapi yang lebih menegangkan
adalah ketika kami hampir sampai di lokasi wisata, motor yang dalam keadaan
menanjak tiba-tiba mati? Duch ... ngeri banget. Namun hal itu tidak menyurutkan niat kami
untuk mengunjungi desa yang memiliki pesona alam yang luar biasa ini. Karena, di balik ketajaman jalan yang begitu
menantang itu, kita akan ditemani pemandangan indah yang memanjakan mata. Asli
kerena dan bikin kita betah untuk memandangnya berlama-lama.
Pict. Doc. Pribadi
Beruntung saat itu kami bertemu
warga desa. Dengan cekatan beliau ini menjelaskan mungkin karena faktor motor
yang lelah dan kepanasan, hingga akhirnya mesin mati. Kami diberitahu untuk
tidak terlalu cemas. Kami hanya disuruh menunggu untuk istirahat agar motor
kembali normal. Dan alhamdulillah tidak lama kemudian motor memang kembali
normal. Fiuh ... leganya. Di sini kami
sudah sangat ketar-ketir. Apakah motor masih kuat menempuk perjalanan atau
harus pulang ketika tempat wisata sudah hampir sejengkal.
Pict. Doc. Pribadi
Oh iya, untuk sampai ke desa
Duplak, tempat dukuh wisata Bukit Bejagan berada, maka langkah awalnya adalah
kita harus sampai terlebih dahulu di desa Tempur—yang mana jalannya sudah saya
cerita dengan berbagai tanjakan, tikungan dan lain sebaginya. Di mana kurang
lebih kita akan memakan waktu sekitar satu jam-an, tergantung kecepatan motor
juga mungkin, ya. Capek banget pastinya.
Namun jangan khawatir rasa capek itu
akan terbayar ketika kita melihat sekeliling yang memiliki pesona yang luar
biasanya.
Karena asli pemandangan dalam
setiap jalan yang kita lalui itu memang sangat memesona. Jika lelah kita bisa
rehat sejenak sambil penikmati aroma pedesaan yang masih asri. Boleh kok kita
berswafoto di sekitar sawah atau di bebatuan sungai yang ada di sekitar
jalan. Karena hasilnya tidak kalah
eksotis.
Pict. Doc. Pribadi
Lalu, ketika kita sampai di Desa
Duplak, kita akan disambut penjaga yang akan meminta kita untuk melaporkan
nama, alamat dan tujuan pendakian kita. Yup, dalam setiap pendakian kita
diharapkan melapor terlebih dahulu. Setelah itu kita baru bisa melanjutkan
perjalalan. Untuk rute jalan sejak awal sebenarnya sudah sangat bagus dan sudah
diaspal licin. Hanya saja jalanan mulai ekstrim berbatu-batu dimulai ketika
kita akan sampai di Bukit Bejagan. Yah, di sana jalannya masih cukup ngeri,
dengan rute yang tidak kalah menanjak juga penuh kelokan.
Pict. Doc. Pribadi
Namun perjuangan itu akan terbayar
ketika kita sampai di sana. Yah, setelah perjuangan panjang dan sempat
ketar-ketir, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Duch ... rasanya campur
aduk, antara senang, tidak menyangkan setelah perjuangan panjang dari rumah
hingga lokasi. Di sana kami disambut
dengan pamandangan alam yang luar biasa. Indah dan memukau, tidak kalah dengan
pemandangan alam yang kami lewati dalam perjalanan menunju tempat ini.
Pict. Doc. Pribadi
Pilihan
lokasi yang bisa dimanfaatkan untuk berswafoto pun cukup banyak. Tinggal pilih.
Dari foto di gardu pandang yang ada rumah kecilnya. Atau ada pula gardu pandang
berbentuk love, serta gardu pandang berbentuk segi tujuh. Itu belum seberapa.
Kalau mau naik lagi ada pula gardu pandang seperti rumah burung dan banyak
lagi. Tinggal kita pilih mana yang nyaman di hati.
[Pict. Doc. Pribadi]
Wisata
ini juga dilengkapi dengan kamar mandi yang bersih dan tempat shalat, serta
warung-warung makan. Jadi ketika dari rumah nggak bawa bekal, kita nggak perlu
khawatir kelaparan. Hehhe.
[Pict. Doc. Pribadi]
Oh iya
untuk tiket masuk ke wisata ini juga cukup terjangkau, lho. Hanya Rp 5.000,--
per orang kita bisa menjelajahi wisata ini sepuasnya. Namun
perlu kami ingatkan juga setelah turun dari pendakian kita, kita
dianjurkan untuk menyiram rem cakram motor kita. Ada kok setelah dari tempat
pendaftaran pendakian tidak lama nanti ada blung kecil tempat air, yang bisa
kita manfaatka. Selamat berlibur dan semoga bermanfaat. J
Srobyong, 12 September 2019
Label:
Bukit Bejagan,
Duplak,
Explore Jepara,
Jepara,
Keling,
Tempur,
Traveling
Wednesday, 4 September 2019
[Resensi] Rumus Meraih Kebahagiaan
![]() |
| Picture by Ratnani Latifah |
Judul :
Hanya Cinta-Nya, Tujuan Jiwa Ini Terlahir
Penulis :
Riawani Elyta & Risa Mutia
Penerbit : Quanta
Cetakan : Pertama, Agustus 2019
Tebal :
234 halaman
ISBN : 978-623-00-0386-8
“Cukup
Allah bagiku. Tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan
Dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy yang agung.” (hal v).
Siapa sih yang tidak meraih
kebahagiaan dalam hidupnya? Bohong jika kita mengatakan tidak. Karena
kebahagiaan adalah satu dari tujuan yang
diinginkan setiap orang dalam hidup ini. Tidak ada seorang pun yang ingin hidup
dalam kesusahan atau kesedihan. Bahkan ketika baru sebentar diganjar kesulitan,
kita akan cepat mengeluh kepada Allah. Kita merasa menjadi pribadi yang paling
malang dan lain sebagainya. Padahal masih banyak orang lain yang keadaannya
lebih memprihatinkan dari pada kita.
Lalu bagaimana cara meraih
kebahagiaan? Apakah dengan memiliki kekayaan berlimpah, berhasil meraih impian, menjadi orang sukses,
punya jabatan tinggi atau sederet keindahan dunia yang mudah untuk didapatkan? Melalui
buku ini kita akan menemukan tentang makna
kebahagiaan yang sebenarnya. Bahwa kebahagiaan itu tidak melulu tentang
keindahan dunia. Namun kebahagiaan
adalah ketika kita mau bersyukur dalam keadaan apa pun dan selalu berserah
kepada Allah.
Buku bertajuk “Hanya Cinta-Nya,
Tujuan Jiwa Ini Terlahir” akan memuat beragam motivasi hidup, yang membuat
kita memiliki pikiran yang lebih terbuka,
menjadi pribadi yang lebih baik, serta memahami
tentang arti syukur dan bahagia. Tidak hanya itu melalui buku ini kita bisa
menemukan berbagai solusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Kita akan
diajarkan untuk menjadi pribadi yang tidak mudah mengeluh dan selalu ingat
kepada Allah.
Pada bab pertama ada pembahasan
menarik tentang Tidak Ada Kebaikan yang Sia-sia. Di sini penulis menuturkan bahwa sebagai
makhluk sosial kita dianjurkan untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja.
Namun dengan catatan dalam berbuat baik, harus kita iringi dengan keikhlasan. Perbuat baik
yang disertai sifat ikhlas akan membuat kita lebih dekat kepada Allah. Selain
itu, meskipun ketika kita telah berbuat baik, tapi orang lain tidak peduli dan
bahkan mencemooh, kita harus selalu yakin bahwa kebaikan yang kita lakukan
tidak akan berakhir sia-sia. Selalu ada balasan yang Allah berikan bagi
hamba-Nya yang mau berbuat baik kepada sesama. Ustaz Hanan Attaki, Lc
memaparkan, “Teruslah berbuat baik meski itu melelahkan, karena lelahnya
akan hilang sedangkan pahalanya, insya Allah akan terus ada.” (hal 5).
Kebaikan atau kepedulian mengajarkan kita untuk tidak selalu melihat
seseorang yang di atas saja, tapi kita juga diajak untuk melihat orang yang
berada di bawah kita. Dengan begitu, maka akan timbul rasa syukur dan tidak
besar kepala. Hasan Al Bashri berkata, “Lakukanlah sebaik sekecil apa pun
karena kau tak pernah tahu kebaikan apa yang akan membawamu ke surga.” (hal
9).
Pada bab kedua dipaparkan dengan
lugas tentang Waktu adalah Kehidupan yang Terus Melaju. Pada bab
ini kita diingatkan pentingnya mengelola waktu dengan baik agar tidak menjadi
orang yang rugi. Jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang
tidak bermanfaat. Sebaliknya kita harus memanfaatkan waktu untuk ibadah kepada
Allah dan agar terhindar dari hidup yang sia-sia.
“Waktu adalah sesuatu yang tak akan
pernah kembali. Ambillah pelajaran dari masa lalu untuk membuatmu bijak dalam
menjalanai kehidupanmu saat ini.”
(hal 71).
Kita tidak boleh terlena dengan
waktu luang. Boleh saja kita memikirkan masalah dunia, tapi jangan sampai kita
lupa mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat. Keduanya sama-sama penting.
Jadi kita harus menempatkannya sesuai poris masing-masing. Jangan sampai karena
sibuk dunia, kita menjadi terlena. Sehingga Allah berpaling dari kita dan
menjauhkan kita dari rahmat-Nya.
Meraih Kebahagiaan
Hakiki bab ketiga yang menuturkan
tentang cara kita dalam meraih kebahagiaan yang sebenarnya. Agar kita meraih kebahagiaan maka kita
diajurkan untuk menjadi pribadi yang pemaaf, karena sifat pemaaf akan menjauhkan
kita dari rasa dendam yang bisa mengotori hati. Kemudian kita diajarkan untuk
menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan. Syukur akan membuat kita selalu mengingat
Allah dalam setiap saat—baik saat susah atau senang. Tidak kalah menarik di
sini kita dijelaskan bahwa kebahagiaan juga bisa hadir dari kebiasaan senang
berbagi dan selalu mendekatkan diri kepada Allah.
Yang terakhir Optimis adalah
Bingkai Cinta memuat tentang berbagai motivasi kehidupan dalam keseharian
kita. Di mana kita diajak untuk menjadi pribadi yang memiliki semangat juang—baik
dalam upaya meraih impian di dunia juga dalam upaya mendekatkan diri kepada
Allah. Jika kita ingin menjadi orang
sukses maka kita harus menjadi pribadi yang fokus, percaya diri, dan tidak mudah putus asa.
Secara keseluruhan, buku ini mencoba
menunjukkan bahwa dengan mendekatkan diri kepada Allah, maka kita akan
merasakan kebahagiaan. Allah adalah sebaik-baiknya tempat untuk berserah dan bersandar. Boleh kita berusaha meraih kebahagiaan di
dunia, namun jangan lupa untuk memperbanyak amalan yang berhubungan dengan
urusan akhirat. Ketika kita hanya bersandar kepada Allah, maka Allah akan
memudahkan kita dalam setiap langkah.
Buku ini merupakan buku nonfiksi ketiga
karya Mbak Ria yang sudah saya baca. Dan sebagaimana buku sebelumnya, Kitab Sakti Remadja Oenggoel dan Waspada Jejak Haram yang Mengingtai saya
menikmati setiap lembar ketika membaca buku ini. Apalagi buku ini dipaparkan dengan bahasa
sederhana yang mudah dicerna dan tidak jlimet. Buku ini memuat banyak sekali
pembelajaran yang disertai dengan quote-quote yang menginspirasi. Melalui buku
ini saya belajar bahwa untuk meraih kebahagiaan dan cinta dari Allah, maka kita
harus banyak melakukan perbuatan baik dan memiliki sikap optimis.
Video ini berisi review
singkat yang disertai quote-quote dalam buku “Hanya Cinta-Nya, Tujuan Jiwa Ini
Terlahir”
Srobyong, 4 September 2019
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Saturday, 22 June 2019
[Resensi] Perjuangan dan Pemikiran Sosrokartono, Kakak Kartini
Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 13 Januari 2019
Judul : Sosrokartono
Penulis : Aguk Irawan M.N
Penerbit : Imania
Cetakan : Pertama, September 2018
Tebal : 370 halaman
ISBN : 978-602-7926-42-4
Peresensi : Ratnani Latifah. Alumni Universitas
Islam Nahdlatu Ulama, Jepara
Dalam sejarah kita lebih sering mendengar nama besar
R.A Kartini, pejuang emansipasi wanita. Kita tidak tahu, bahwa di balik
semangat juang Kartini, ada Sosrokartono,
kakak Kartini, yang ternyata merupakan inspirator dan guru
bagi Kartini. Pria kelahiran Jepara, 10 April 1877, merupakan sosok
jenius. Sosrokartono adalah seorang poliglot yang menguasai 26 bahasa asing dan
10 bahasa Nusantara.
Buku ini dengan pembahasan yang lugas dan mudah
dicerna, mengajak kita untuk mengenal
lebih dalam tentang sosok Sostokartono, seorang tokoh yang juga memiliki
sumbangsih terhadap tanah air Indonesia. Dia memiliki jiwa patriotisme yang
tinggi, yang memiliki kepedulian terhadapan pendidikan rakyat Hindia. Hal itu
terbutki nyata dari usahanya yang mencoba melobi salah satu petinggi Hindia
Belanda, Tuan Rooseboom yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda.
Tanpa rasa gentar Sosrokartono mengungkapkan tentang
ketidakadilan pemerintah Hindia Belanda yang membatasi pendidikan kaum pribumi
dan meminta kelonggaran agar kaum pribumi bisa mengenyam pendidikan. “Dengan
sepenuh jiwa, dari seorang pemuda Hindia yang selalu rindu dan haus akan
pengetahuan, saya, sekali lagi memohon Tuan yang bijaksana, untuk memerhatikan
pendidikan rakyat Jawa.” (hal 180).
Dia juga memanfaaatkan momen di Kongres Bahasa dan
Sastra Belanda, untuk mengemukakan ide dan gagasan tentang pentingnya
mempelajari bahasa Belanda bagi kaum pribumi, agar bisa memahami sistem-sistem
yang dilakukan para penjajah. Sehingga
tidak ada salah paham antara pemerintah Hindia Belanda dengan rakyat pribumi.
Di mana kerap sekali karena kesalahpahaman berbahasa banyak pribumi yang
mendapat hukuman tanpa tahu kesalahan mereka.
Tidak hanya itu Sosrokartono juga menggemborkan tentang sikap perdamaian
dan kasih sayang bangsa penjajah dan
tidak bertindak semena-mena (hal 200).
Bagi sebagian kaum cendekiawan Belanda sangat salut
dengan gagasan Sosrokartono. Akan tetapi bagi para elit cendekiawan yang
memiliki mental penjajah sangat marah dengan keberanian pidato yang disampaikan
Sosrokartono. “Untuk mencapai
kemajuan, diperlukan usaha yang lebih keras, Tuan. Untuk mencapai kemajuan
pula, selalu ada pihak-pihak yang menentang.” (hal 241).
Di antaranya adalah Prof. Dr. Snouck Hurgronje. Di
mana menurut pendapatnya jika, sampai pemerintah Hindia Belanda memenuhi
harapan Sosrokartono, maka dikhawarikan rakyat pribumi akan menjadi pribadi
yang lebih cerdas dan bisa merongrong kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.
Mereka ingin kaum pribumi tetap bodoh. Karena dengan
begitu, mereka akan mudah mengendalikannya. Oleh sebab itu, melihat kepintaran
dan luasnya pergaulan Sosrokartono, Dr. Snouck sangat khawatir dan mulai
mencari kelemahan Sosrokartono untuk dipermalukan dan tidak berani melawan
pemerintah Hindia Belanda.
Sosrokartono juga bersumbangsih dalam berdirinya,
sebuah organisasi yang bernama Indische Vereegining atau Perhimpunan
Hindia, yang awalnya membahas tentang kehidupan para pelajar mahasiswa Hindia
di Belanda namun kemudian berubah menjadi organisasi politik yang bertujuan
untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Meskipun
puluhan tahun Sosrokartono bersekolah di Belanda dan mengembara ke
Eropa, dia tetap mencitai bangsanya dan tidak mau menghempaskan nilai-nilai
pribumi. Di mana dia tegaskan pada saat berpidato di Kongres Bahasa dan Sastra
Belandan ke-25 di Gent, Belgia, pada September 1899, “Dengan tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh
dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa
atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita
yang luhur lagi suci. Selamat matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya
tantang.”
Buku ini sangat menarik untuk dibaca. Apalagi memang
jarang sekali buku yang membahasa tentang biografi Sosrokartono. Pria jenius
dengan segudang prestasinya ini adalah sosok yang patut kita teladani. Karena
dia merupakan sosok yang luar biasa. Selain sangat mencintai tanah airnya, dia
adalah pemuda yang selalu taat kepada ibu dan ayahnya. Tidak hanya itu dia merupakan
sosok yang memiliki spritual tinggi. Di mana karena kemampuannya itu dia bisa
mengetahui sesuatu yang belum diketahui orang lain dan bisa menyembuhkan
penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dunia medis. Meskipun sedikit banyak
masih ada beberapa kekurangan dalam buku ini, hal itu tidak mengurangi esensi
yang ditawarkan penulis.
Srobyong, 1 November 2018
[Resensi] Meredakan Islamofobia di Dunia Barat
Dimuat di Jateng Pos, Minggu 13 Januari 2019
Judul :
Islamofobia
Penulis : Karen Armstrong, dkk
Penerjemah : Pilar Muhammad P
Cetakan : Pertama, Agustus 2018
Tebal : 352 halaman
ISBN : 978-602-441-055-1
Peresensi : Ratnani Latifah. Alumni Universitas
Islam Nahdlatul Ulama, Jepara
Sejak serangan-serangan terorisme yang mengerikan, seperti kejadian di
Amerika (11 September 2001) serta serangan di Paris (13 November 2015) oleh
para ekstremis yang mengatasnamakan Islam, sejak itu timbul-lah prasangka,
permusuhan, ketakutan dan kebencian terhadap sebagian besar umat
Islam. Gejala inilah yang kemudian lazim
disebut dengan Islamofobia.
Dan karena sikap para oknum yang mengatasnamakan
Islam dalam perbuatan kejinya, kini Islam dianggap sebagai agama yang monolitik
(tunggal-kaku tanpa variasi) dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan
realitas-realitas baru. Islam dianggap tidak memiliki nilai-nilai yang sama
dengan yang diajarkan agama-agama besar lainnya. Islam adalah agama inferior
dalam pandangan Barat, yaitu agama yang kuno, biadab dan tidak rasional. Islam
merupakan agama kekerasan dan mendukung terorisme. Dan Islam adalah ideoligi
politik yang buas (hal 13).
Dari sebagian kecil umat Islam yang bertindak telah
bertindak jahat, kini semua muslim disamaratakan sebagai sosok terorisme dan
esktrimisme. Padahal jika boleh jujur, dari sekian banyak korban terorisme adalah umat Islam itu sendiri. Kenyataan itu tentu saja cukup membingungkan. Buku ini hadir dalam upaya untuk menemukan
alasan dari mana akar kemunculan Islamofobia di Dunia Barat. Namun lebih dari
itu, buku ini juga mengajak kita untuk mencoba meredakan islamofobia agar
mengembalikan sikap welas asih antar agama dan antar sesama.
Dibuka dengan artikel karya Karen Amstong, di sini
kita akan mendapati fakta bahwa sebenarnya islamofobia sudah muncul cukup lama di dunia Barat. Pada 2013, Uni
Eropa menyatakan bahwa Wahabisme adalah sumber utama terorisme global. Namun,
mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa semptinya visi Wahabi merupakan lahan
subur bagi berkembangnya ekstremisme. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, para
kepala suku beraliran Wahabi memang benar-benar melakukan serentetan ekspedisi
militer penuh kekerasan terhadap kaum Syi’ah (hal 19-20).
John L. Espposito, dalam artikelnya memaparkan bahwa
dari berbagai penelitian yang ada
islamfobia meningkat secara siginifikan tidak hanya dengan terjadinya
insiden terorisme domestik, tetapi juga pada saat pemilu, seperti yang terlihat
pada pemilu presiden tahun 2008 dan 2012 dan pemilu kongres tahun 2010. Selama
kampanye, Newt Gingrich, Rick Santorum, Herman Cain dan lainnnya berusaha untuk
mendapatkan perhatian dengan membuat pernyataan sembrono tentang orang Islam
(hal 87).
Sedangkan sejak awal Islam merupakan agama yang
mencintai kedamaian. Hal ini bisa kita lihat dari padangan Nabi Muhammad selama
mengajarkan Islam. Nabi Muhammad
mengajarkan umatnya untuk selalu mengasihi manusia agar Allah pun
mengasihi mereka. Islam melarang membunuh tawanan, membunuh masyarakar sipil.
Islam harus menegakkan hukum dan ketertiban, memerdekan budak, melarang
pemerkosaan, mewujudkan perdamaian, melarang membakar hidup-hidup makhluk
hidup, dan melarang menyebut orang Muslim sebagai orang kafir.
Dan semua sikap itu berbanding terbalik dengan
ajaran para terorisme yang tidak memiliki belas kasih terhadap sesama manusia,
tega membunuh masyarakat sipil dan melegalkan perbudakan dan menyukai aksi-aksi
kekerasan.
Oleh sebab itu penting sekali bagi kita untuk mulai
meredakan islamofobia di dunia Barat. Sehingga dalam hubungan keagamaan dan
antar sesama, akan tercipta sikap welas asih juga saling menghormati. Di antaranya kita bisa memulainya dengan
menghormati instrumen-instrumen semua agama, baik itu berupa bangunan yang
menaungi penganut agam, ayat-ayat suci atau kitab suci yang dianggap merupakan
wahyu Tuhan dan sifat kenabian, meluangkan waktu dengan orang-orang Islam di
komunitas, berpikiran terbuka dan banyak lagi.
Imam Abdul Malik Mujahid dalam artikelnya memaparkan
14 cara dalam melawan islamofobia. Di
antaranya kita harus mengingat Nabi. Nabi didera penghinaan mengerikan dan
kejahatan kebencian dalam masa hidupnya. Dia tetap teguh, sabar dan toleran
menghadapi islamofobia ini.
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah
(kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu
dan anatara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia.”
(hal 133).
Buku ini sangat patut dibaca sebagai wacana dalam
mengenal sejarah tumbuh kembangnya islamofobia dan di Barat dan bagaimana cara
kita melawan dan atau merdakan Islamofobia.
Srobyong, 8 Desember 2018
Subscribe to:
Posts (Atom)






























