Sunday, 15 September 2019

[Resensi] Kisah Tentang Pencarian Jati Diri



[Pict by RL]

Judul               : Hijrah Asmara
Penulis             : Madun Anwar & Sukma El-Qatrunnada
Penerbit           : Loka Media
Cetakan           : Pertama, Januaari 2019
Tebal               : 213 halaman
ISBN               : 978-602-5509-18-6


Tema cinta tidak pernah usang di makan waktu. Cinta selalu menarik untuk dijadikan kisah-kisah—baik dalam versi buku,  drama atau pun film. Karena disadari atau tidak cinta itu memang salah satu kebutuhan dasar manusia.  Cinta adalah fitrah yang dimiliki oleh setiap insan. Maka tidak heran,   meskipun sudah berkali-kali  disajikan,  kisah percintaan  tidak membuat pembaca bosan. Apalagi kisah itu ditulis oleh orang-orang yang  berbeda, yang sudah pasti memiliki takaran tersendiri dalam mengolah ide dan mengembangkannya untuk menjadi sajian yang apik, menarik dan unik.

Begitupun dengan novel “Hijrah Asmara”. Meskipun menawarkan kisah dengan tema yang sudah umum di pakai para penulis, kisah ini  juga  menawarkan sesuatu yang berbeda, sehingga membuat kisah ini  tetap memiliki sisi menarik untuk dibaca.

Sebagai gadis remaja pada umumnya, Ara memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap cinta. Apalagi saat ini, Ara merupakan  mahasiswa semester tiga jurusan PGSD di salah satu perguruan tinggi di Lombok. Ia merasa sudah cukup dewasa untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Karena itu ketika akhirnya ia jadian dengan Fatih, Ara begitu bahagia. Apalagi perasaan suka pada Fatih memang sudah cukup lama ia simpan sejak masa OSPEK dulu.

Ara  tidak memedulikan, bahwa sebenarnya ada larangan keras dari orangtuanya—khususnya sang ayah—agar Ara tidak berpacaran sebelum menyelesaikan pendidikan kuliahnya.  Berbeda dengan sang ibu, meski pun memberi izin, ibunya selalu mewanti-wanti Ara agar selalu bisa menjaga diri dan tetap bertanggung jawab dengan kuliahnya.  “Papa tidak mengizinkan aku pacaran sebelum selesai kuliah. Sedangkan mama setuju asal ketika pacaran aku bisa menjaga diri, dan nilai-nilai kuliahku tidak terganggu.” (hal 21).

Maka diam-diam di balik punggung ayahnya,  Ara merangkai kisah cintanya dengan Fatih.  Mereka sering menghabiskan waktu bersama, meski kebersamaan itu dibatasi oleh  tenggat waktu yang sejak awal sudah diputuskan Ara. Karena Ara memang hanya  boleh keluar sampai jam sepuluh malam. Beruntung Fatih mau memahami berbagai aturan yang ditetapkan Ara pada awal masa pacaran mereka. Di sanalah rasa cinta Ara terhadap Fatih semakin tumbuh subur.

Namun sebuah hubungan tidak mungkin ada badai bukan? Setelah sekian lama hubungan mereka nampak adem ayem dan berjalan lancar, tiba-tiba Ara dikejutkan sebuah kabar yang tidak terduga. Siapa yang menyangka bahwa Fatih yang selama ini ia kenal baik, ternyata tega berselingkuh di belakangnya. Di sinilah  Ara mulai  dilema dan bimbang—antara  harus percaya dan tidak percaya dengan selentingan kabar itu. Bertepatan dengan kabar buruk itu, ia juga harus mendapati murka ayahnya karena ia ketahuan pacaran serta nilai-nilai kuliahnya turun.

“Kecewa. Hal yang memang terasa sakit. Bayangkan, jika kamu percaya pada seseorang dan harapanmu sangat tinggi terhadapnya, tapi karena ketidakmampuan seseorang itu atau bisa saja karena sebab lain, ia membuatmu kecewa.” (hal 44).

Ara pun semakin terpuruk. Kepada Denia, sahabatnya Ara mencoba bercerita. Namun  siapa yang menduga, ternyata Denia juga memihak ayahnya. Denia berharap Ara melupakan Fatih dan mengikuti nasihat orangtuanya. Ara sungguh tidak habis pikir (hal 59). Di tengah konflik hidup yang tengah menerjang Ara,  sebuah kejadian tanpa sengaja mempertemukan Ara dengan Arum, gadis berjilbab yang mengelola Perpustaakan Canai bersama kakaknya, Arman. Pertemuan itu ternyata menjadi suatu awal babak baru yang pada akhirnya membuat Ara berani bersikap tegas.

Kisah apa yang tersimpan dalam pertemuan antara Ara dan Arum? Dan bagaimana pula akhir kisah cinta Ara dengan Fatih? Benarkah Fatih berselingkuh dan dengan siapa?  Untuk kisah selengkapnya bisa langsung membaca buku ini sendiri.

Secara keseluruhan novel ini cukup menarik untuk dibaca.  Dari segi tema, meski sudah sering dieksekusi penulis lain, kisah ini tetap memiliki keunikan tersendiri.  Dengan alur maju mundur novel ini mampu menciptakan rasa penasaran bagi pembaca. Pemilihan sudut pandang dalam bercerita, sedikit banyak membantu dalam membuat kisah ini lebih menarik. Untuk penokohan cerita pun sudah digarap dengan bagus oleh dua penulis ini. Mereka sukses membuat saya illfeel banget dengan salah satu tokoh dalam novel ini. Duch, kenapa "dia" plin-plan dan nggak bertanggung jawab banget, sih? Hehheh. Siapa tokohnya, cari sendiri ya. Nanti bisa spoiler.   

  
Hanya saja untuk setting cerita, di sini penulis belum cukup kuat dalam menampilkan Lombok secara lekat dan dekat. Padahal jika dieksekusi secara lebih mendalam, dan dibumbuni dengan adat atau budaya daerah setempat, maka novel ini akan jadi lebih bagus dan terasa kental dengan lokalitasnya.  Meskipun ada upaya mengenalkan obyek wisata di Lombok--Gili Lawang  dan Gilis Sulat dengan panorama yang indah--sayangnya hal itu juga  belum bisa dieksekusi  penulis secara matang. Padahal jika penulis bisa lebih mengekplore lagi perihal wisata tersebut, pastinya  kisah akan lebih seru dan menarik.


 [Pesona Gili Lawang, sumber : google]

[Pesona Gili Sulat. Sumber :  Rully Adriani

Dan untuk segi gaya bercerita, meski mudah dipahami, namun kadang-kadang gaya bahasanya masih terasa kaku dan kurang lentur. Misalnya dalam pemilihan kata oksigen, menurut hemat saya kata ini malah jadi agak menganggu dan aneh. Kenapa tidak menyebut udara saja? Saya rasa itu jauh lebih enak untuk dibaca.  Selain itu tampilan layout buku ini memang bagus, namun dari segi pemilihan huruf dalam pergantian bab nove,  hal itu malah membuat pembaca tidak nyaman. Karena beberapa kata jadi sulit dibaca dan tidak jelas.

Ada pula satu bagian yang terlihat tidak sinkron dalam menjelaskan usia tokoh. Pada halaman 107 dipaparkan Ara mendeskripsikan Arman setidaknya memiliki rentan usia dua tahun dari dirinya. Namun pada halaman 110, Ara mendiskripsikan bahwa Arman memiliki usia yang sama dengan dirinya.

Namun lepas dari kekurangan yang ada, novel ini tetap seru dan menarik untuk dibaca. Bagi penikmat kisah romance  bisa coba membaca novel ini.  Novel  ini selain mencoba mengangkat isu pergaulan  pada zaman sekarang,  kisah ini juga berkisah tentang kisah pencarian jati diri Ara.  Di mana kisah  tentang pencarian jati dari  tokoh Ara, diceritakan  dengan cukup rapi. Ara yang  awalnya  egois namun lambat laun mulai berubah dan menjadi pribadi yang lebih bijak. Ia yang dulunya masih bimbang dalam merangkai masa depan, kini ia telah memiliki misi dan visi dalam hidupnya.  Tidak hanya itu, pertemuannya dengan Arum juga menjadi kunci penting dalam pola pikir Ara dalam menilai kehidupan. Kehidupan Arum yang sangat berbeda, dari dirinya yang sejak kecil  serba kecukupan, mengajarkan Ara untuk menjadi pribadi yang lebih bersyukur.

Membaca novel ini kita akan menemukan banyak sekali  nasihat serta motivasi hidup yang menginspirasi. Di antaranya kita bisa belajar tentang pentingnya menjaga pergaulan,  kita juga bisa belajar untuk menjadi anak yang selalu mematuhi dan menghormati orangtua, jangan membantah apalagi berani terhadap orangtua“Seorang ibu pasti menginginkan hal baik pada anaknya. Apalagi, anaknya perempuan.” (hal 43).  


Di sini kita juga belajar bahwa cinta itu tidak hanya dibangun dengan rasa, namun  harus  dibentengi dengan saling menghormati dan menghargai. “Saling menghargai adalah hal utama dalam cinta.” (hal 20).


Kita juga harus memiliki cita-cita tinggi dan memiliki kegigihan untuk mencoba sesuatu.  “Memulai itu sulit. Namun, jika tidak dimulai kita tidak pernah tahu hasilnya.” (hal 200)


Ada pula nasihat untuk bijak dalam menghadapi kesedihan. “Kesedihan  itu tidak akan berakhir jika kita sendiri tidak mengakhiri itu semua. Kehidupan itu tetap berjalan. Jadi, perbaiki hidup dan berusaha tegar untuk menjalani hidup.” (hal 116).


Tidak ketinggalan, melalui novel ini penulis juga mencoba menularkan minat baca dan literasi. Keren dan inspiratif banget cara yang dipaparkan penulis. 

Salut dengan dua penulis ini. Tanpa adanya tanggung jawab dan konsisten, tentunya mereka tidak akan berhasil menyelesaikan naskah ini. Apalagi menyatukan dua kepala dalam satu ruang itu tidaklah mudah. Selamat membaca. 

Srobyong, 14 September  2019
  

Alhamdulillah bisa menjadi salah satu pemenang dalam lomba Resensi "Hijrah Asmara" yang diadakan Loka Media. 

Thursday, 12 September 2019

[Traveling] Bukit Bejagan, Perjalanan Penuh Perjuangan



Pict. Doc. Pribadi

“Tidak ada yang mudah dalam upaya meraih mimpi dan harapan, sebagaimana ketika kau ingin menjejakkan kaki di tempat-tempat dengan pesona alam, harus ada perjuangan, jatuh bangun hingga akhirnya berhasil untuk meraih puncak. Karena hidup memang selalu butuh perjuangan, bukan?” (Ratnani Latifah)

            Selain pesona laut yang indah dan memesona, Jepara  juga memiliki pesona wisata alam yang tidak kalah memukau dan mengagumkan. Salah satunya adalah wisata Bukit Bejagan yang terletak di desa Duplak, Tempur, Keling, Jepara. Tempat ini menyuguhkan pemandangan alam yang begitu indah memesona, hingga akan mengingatkan kita akan kebesaran Allah. Yah, inilah salah satu tempat yang sudah sejak dulu ingin saya datangi. Saya sangat penasaran dengan keindahan alam yang selalu dielukan di sana-sini, khususnya bagi penikmat traveling.

 Karena itu, ketika mendengar suami  bilang ia ada jam bebas karena libur kerja, maka dengan semangat saya langsung mengusulkan untuk  melakukan perjalanan wisata ke Bukit Bejagan.  Alhamdulillah usul kali ini akhirnya diterima. Kenapa? Karena sebelumnya ketika berkali-kali mencoba mengajaknya ke Tempur, ia akan selalu menolak dengan berbagai alasan.

Hari Minggu 8 September 2019, Kami memulai perjalanan sekitar pukul 08.00 WIB.  Dari arah Mlonggo kami langsung melaju menuju jalan raya Keling- Jepara. Untuk tahap awal alhamdulillah semua berjalan lancar. Karena jalan itu sudah berkali-kali dilalui. Hehhe.  Hingga kemudian kami memasuki area wisata desa Tempur. Di sinilah perjuangan itu kami mulai. Karena jujur kami masih awam dengan daerah tersebut.

[Pemandangan yang akan sering kita lihat dalam perjalanan. Pict. Doc. Pribadi]

Di sana kami harus bersiap mengikuti arus jalan yang penuh lika-liku, naik turun dengan banyak tanjakan juga belokan. Jadi  sebagai pengingat sebelum melakukan perjalanan wisata ke Tempur, kita harus cek kesehatan motor dulu dengan baik. Karena  untuk menempuh perjalanan ke sana, kita akan menghabiskan cukup banyak waktu dengan berbagai tantangan. Mengingat letak desa ini berada di ketinggian kurang lebih 800 meter di atas permukaan laut.  Desa ini juga terletak cukup jauh dari arah kota. Kalau dihitung dari Mlonggo sendiri, kurang lebih 43,3 km untuk bisa sampai di sana. Wow banget, kan?  Jadi  untuk masuk awal ke desa Tempur, setidaknya kita harus melewati kurang lebih 25 km. Dan bertambah sekitar 18 km untuk sampai di Bukit Bejagannya.

[Pict. Doc. Pribadi . Ketika sempat berhenti sebentar di jalan menikmati pesona alam di sekeliling] 

Dalam perjalan ini sendiri, sebelum sampai ke sana, kami sempat tersasar menuju ke Desa Klepu.  Yah, perlu perjuangan panjang untuk sampai di sana. Tak sekali dua kali kami tersesat. Selain sempat tersesat dan hampir memasuki Desa Klepu, kami sempat teresat di kawasan jalan ekstrim di sana.  Asli jalannya sangat mengerikan, karena semua jalan terlihat menanjak.

[Pict. Doc. Pribadi] 

Akan tetapi yang lebih menegangkan adalah ketika kami hampir sampai di lokasi wisata, motor yang dalam keadaan menanjak tiba-tiba mati? Duch ... ngeri banget.  Namun hal itu tidak menyurutkan niat kami untuk mengunjungi desa yang memiliki pesona alam yang luar biasa ini.  Karena, di balik ketajaman jalan yang begitu menantang itu, kita akan ditemani pemandangan indah yang memanjakan mata. Asli kerena dan bikin kita betah untuk memandangnya berlama-lama.

Pict. Doc. Pribadi

Beruntung saat itu kami bertemu warga desa. Dengan cekatan beliau ini menjelaskan mungkin karena faktor motor yang lelah dan kepanasan, hingga akhirnya mesin mati. Kami diberitahu untuk tidak terlalu cemas. Kami hanya disuruh menunggu untuk istirahat agar motor kembali normal. Dan alhamdulillah tidak lama kemudian motor memang kembali normal. Fiuh ... leganya. Di sini  kami sudah sangat ketar-ketir. Apakah motor masih kuat menempuk perjalanan atau harus pulang ketika tempat wisata sudah hampir sejengkal.

Pict. Doc. Pribadi

Oh iya, untuk sampai ke desa Duplak, tempat dukuh wisata Bukit Bejagan berada, maka langkah awalnya adalah kita harus sampai terlebih dahulu di desa Tempur—yang mana jalannya sudah saya cerita dengan berbagai tanjakan, tikungan dan lain sebaginya. Di mana kurang lebih kita akan memakan waktu sekitar satu jam-an, tergantung kecepatan motor juga mungkin, ya.  Capek banget pastinya.  Namun jangan khawatir rasa capek itu akan terbayar ketika kita melihat sekeliling yang memiliki pesona yang luar biasanya.

Karena asli pemandangan dalam setiap jalan yang kita lalui itu memang sangat memesona. Jika lelah kita bisa rehat sejenak sambil penikmati aroma pedesaan yang masih asri. Boleh kok kita berswafoto di sekitar sawah atau di bebatuan sungai yang ada di sekitar jalan.  Karena hasilnya tidak kalah eksotis.

Pict. Doc. Pribadi

Lalu, ketika kita sampai di Desa Duplak, kita akan disambut penjaga yang akan meminta kita untuk melaporkan nama, alamat dan tujuan pendakian kita. Yup, dalam setiap pendakian kita diharapkan melapor terlebih dahulu. Setelah itu kita baru bisa melanjutkan perjalalan. Untuk rute jalan sejak awal sebenarnya sudah sangat bagus dan sudah diaspal licin. Hanya saja jalanan mulai ekstrim berbatu-batu dimulai ketika kita akan sampai di Bukit Bejagan. Yah, di sana jalannya masih cukup ngeri, dengan rute yang tidak kalah menanjak juga penuh kelokan.

Pict. Doc. Pribadi

Namun perjuangan itu akan terbayar ketika kita sampai di sana. Yah, setelah perjuangan panjang dan sempat ketar-ketir, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Duch ... rasanya campur aduk, antara senang, tidak menyangkan setelah perjuangan panjang dari rumah hingga lokasi.  Di sana kami disambut dengan pamandangan alam yang luar biasa. Indah dan memukau, tidak kalah dengan pemandangan alam yang kami lewati dalam perjalanan menunju tempat ini.

Pict. Doc. Pribadi

            Pilihan lokasi yang bisa dimanfaatkan untuk berswafoto pun cukup banyak. Tinggal pilih. Dari foto di gardu pandang yang ada rumah kecilnya. Atau ada pula gardu pandang berbentuk love, serta gardu pandang berbentuk segi tujuh. Itu belum seberapa. Kalau mau naik lagi ada pula gardu pandang seperti rumah burung dan banyak lagi. Tinggal kita pilih mana yang nyaman di hati.

[Pict. Doc. Pribadi]

            Wisata ini juga dilengkapi dengan kamar mandi yang bersih dan tempat shalat, serta warung-warung makan. Jadi ketika dari rumah nggak bawa bekal, kita nggak perlu khawatir kelaparan. Hehhe.

[Pict. Doc. Pribadi] 

            Oh iya untuk tiket masuk ke wisata ini juga cukup terjangkau, lho. Hanya Rp 5.000,-- per orang kita bisa menjelajahi wisata ini sepuasnya.  Namun  perlu kami ingatkan juga setelah turun dari pendakian kita, kita dianjurkan untuk menyiram rem cakram motor kita. Ada kok setelah dari tempat pendaftaran pendakian tidak lama nanti ada blung kecil tempat air, yang bisa kita manfaatka. Selamat berlibur dan semoga bermanfaat. J

Srobyong, 12 September 2019

Wednesday, 4 September 2019

[Resensi] Rumus Meraih Kebahagiaan


Picture by Ratnani Latifah 
Judul               : Hanya Cinta-Nya, Tujuan Jiwa Ini Terlahir
Penulis             : Riawani Elyta & Risa Mutia
Penerbit           : Quanta
Cetakan           : Pertama, Agustus 2019
Tebal               : 234 halaman
ISBN               : 978-623-00-0386-8

“Cukup Allah bagiku. Tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arsy yang agung.” (hal v).

Siapa sih yang tidak meraih kebahagiaan dalam hidupnya? Bohong jika kita mengatakan tidak. Karena kebahagiaan  adalah satu dari tujuan yang diinginkan setiap orang dalam hidup ini. Tidak ada seorang pun yang ingin hidup dalam kesusahan atau kesedihan. Bahkan ketika baru sebentar diganjar kesulitan, kita akan cepat mengeluh kepada Allah. Kita merasa menjadi pribadi yang paling malang dan lain sebagainya. Padahal masih banyak orang lain yang keadaannya lebih memprihatinkan dari pada kita.

Lalu bagaimana cara meraih kebahagiaan? Apakah dengan memiliki kekayaan berlimpah,  berhasil meraih impian, menjadi orang sukses, punya jabatan tinggi atau sederet keindahan dunia yang mudah untuk didapatkan?   Melalui buku ini kita akan menemukan tentang makna  kebahagiaan yang sebenarnya. Bahwa kebahagiaan itu tidak melulu tentang keindahan dunia.  Namun kebahagiaan adalah ketika kita mau bersyukur dalam keadaan apa pun dan selalu berserah kepada Allah.

Buku bertajuk “Hanya Cinta-Nya, Tujuan Jiwa Ini Terlahir” akan memuat beragam motivasi hidup, yang membuat kita memiliki pikiran yang lebih  terbuka,  menjadi pribadi yang lebih baik, serta memahami tentang arti syukur dan bahagia. Tidak hanya itu melalui buku ini kita bisa menemukan berbagai solusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Kita akan diajarkan untuk menjadi pribadi yang tidak mudah mengeluh dan selalu ingat kepada Allah.

Pada bab pertama ada pembahasan menarik tentang Tidak Ada Kebaikan yang Sia-sia.  Di sini penulis menuturkan bahwa sebagai makhluk sosial kita dianjurkan untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja. Namun dengan catatan dalam berbuat baik,  harus kita iringi dengan keikhlasan. Perbuat baik yang disertai sifat ikhlas akan membuat kita lebih dekat kepada Allah. Selain itu, meskipun ketika kita telah berbuat baik, tapi orang lain tidak peduli dan bahkan mencemooh, kita harus selalu yakin bahwa kebaikan yang kita lakukan tidak akan berakhir sia-sia. Selalu ada balasan yang Allah berikan bagi hamba-Nya yang mau berbuat baik kepada sesama. Ustaz Hanan Attaki, Lc memaparkan, “Teruslah berbuat baik meski itu melelahkan, karena lelahnya akan hilang sedangkan pahalanya, insya Allah akan terus ada.” (hal 5).

Kebaikan atau kepedulian  mengajarkan kita untuk tidak selalu melihat seseorang yang di atas saja, tapi kita juga diajak untuk melihat orang yang berada di bawah kita. Dengan begitu, maka akan timbul rasa syukur dan tidak besar kepala. Hasan Al Bashri berkata, “Lakukanlah sebaik sekecil apa pun karena kau tak pernah tahu kebaikan apa yang akan membawamu ke surga.” (hal 9). 



Pada bab kedua dipaparkan dengan lugas tentang Waktu adalah Kehidupan yang Terus Melaju. Pada bab ini kita diingatkan pentingnya mengelola waktu dengan baik agar tidak menjadi orang yang rugi. Jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Sebaliknya kita harus memanfaatkan waktu untuk ibadah kepada Allah dan agar terhindar dari hidup yang sia-sia.
“Waktu adalah sesuatu yang tak akan pernah kembali. Ambillah pelajaran dari masa lalu untuk membuatmu bijak dalam menjalanai kehidupanmu saat ini.” (hal 71).



Kita tidak boleh terlena dengan waktu luang. Boleh saja kita memikirkan masalah dunia, tapi jangan sampai kita lupa mengumpulkan bekal untuk kehidupan akhirat. Keduanya sama-sama penting. Jadi kita harus menempatkannya sesuai poris masing-masing. Jangan sampai karena sibuk dunia, kita menjadi terlena. Sehingga Allah berpaling dari kita dan menjauhkan kita dari rahmat-Nya.

Meraih Kebahagiaan Hakiki  bab ketiga yang menuturkan tentang cara kita dalam meraih kebahagiaan yang sebenarnya.  Agar kita meraih kebahagiaan maka kita diajurkan untuk menjadi pribadi yang pemaaf, karena sifat pemaaf akan menjauhkan kita dari rasa dendam yang bisa mengotori hati. Kemudian kita diajarkan untuk menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan.  Syukur akan membuat kita selalu mengingat Allah dalam setiap saat—baik saat susah atau senang. Tidak kalah menarik di sini kita dijelaskan bahwa kebahagiaan juga bisa hadir dari kebiasaan senang berbagi dan selalu mendekatkan diri kepada Allah.

Yang terakhir Optimis adalah Bingkai Cinta memuat tentang berbagai motivasi kehidupan dalam keseharian kita. Di mana kita diajak untuk menjadi pribadi yang memiliki semangat juang—baik dalam upaya meraih impian di dunia juga dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah.  Jika kita ingin menjadi orang sukses maka kita harus menjadi pribadi yang fokus, percaya diri,  dan tidak mudah putus asa.

Secara keseluruhan, buku ini mencoba menunjukkan bahwa dengan mendekatkan diri kepada Allah, maka kita akan merasakan kebahagiaan. Allah adalah  sebaik-baiknya  tempat untuk berserah dan bersandar.  Boleh kita berusaha meraih kebahagiaan di dunia, namun jangan lupa untuk memperbanyak amalan yang berhubungan dengan urusan akhirat. Ketika kita hanya bersandar kepada Allah, maka Allah akan memudahkan kita dalam setiap langkah.  

Buku ini merupakan buku nonfiksi ketiga karya Mbak Ria yang sudah saya baca. Dan sebagaimana buku sebelumnya, Kitab Sakti Remadja Oenggoel dan Waspada Jejak Haram yang Mengingtai saya menikmati setiap lembar ketika membaca buku ini.  Apalagi buku ini dipaparkan dengan bahasa sederhana yang mudah dicerna dan tidak jlimet. Buku ini memuat banyak sekali pembelajaran yang disertai dengan quote-quote yang menginspirasi. Melalui buku ini saya belajar bahwa untuk meraih kebahagiaan dan cinta dari Allah, maka kita harus banyak melakukan perbuatan baik dan memiliki sikap optimis.

Berikut adalah beberapa quote yang sangat menginspirasi yang bisa dijadikan renungan : 






Video ini berisi review singkat yang disertai quote-quote dalam buku “Hanya Cinta-Nya, Tujuan Jiwa Ini Terlahir”





Srobyong, 4 September 2019




Saturday, 22 June 2019

[Resensi] Perjuangan dan Pemikiran Sosrokartono, Kakak Kartini


Dimuat di Harian Singgalang, Minggu 13 Januari 2019


Judul               : Sosrokartono
Penulis             : Aguk Irawan M.N
Penerbit           : Imania
Cetakan           : Pertama, September 2018
Tebal               : 370 halaman
ISBN               : 978-602-7926-42-4
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatu Ulama, Jepara

Dalam sejarah kita lebih sering mendengar nama besar R.A Kartini, pejuang emansipasi wanita. Kita tidak tahu, bahwa di balik semangat juang Kartini, ada  Sosrokartono, kakak Kartini, yang ternyata merupakan inspirator dan  guru  bagi Kartini. Pria kelahiran Jepara, 10 April 1877, merupakan sosok jenius. Sosrokartono adalah seorang poliglot yang menguasai 26 bahasa asing dan 10 bahasa Nusantara.

Buku ini dengan pembahasan yang lugas dan mudah dicerna, mengajak kita untuk  mengenal lebih dalam tentang sosok Sostokartono, seorang tokoh yang juga memiliki sumbangsih terhadap tanah air Indonesia. Dia memiliki jiwa patriotisme yang tinggi, yang memiliki kepedulian terhadapan pendidikan rakyat Hindia. Hal itu terbutki nyata dari usahanya yang mencoba melobi salah satu petinggi Hindia Belanda, Tuan Rooseboom yang menjabat sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda.

Tanpa rasa gentar Sosrokartono mengungkapkan tentang ketidakadilan pemerintah Hindia Belanda yang membatasi pendidikan kaum pribumi dan meminta kelonggaran agar kaum pribumi bisa mengenyam pendidikan. “Dengan sepenuh jiwa, dari seorang pemuda Hindia yang selalu rindu dan haus akan pengetahuan, saya, sekali lagi memohon Tuan yang bijaksana, untuk memerhatikan pendidikan rakyat Jawa.” (hal 180).

Dia juga memanfaaatkan momen di Kongres Bahasa dan Sastra Belanda, untuk mengemukakan ide dan gagasan tentang pentingnya mempelajari bahasa Belanda bagi kaum pribumi, agar bisa memahami sistem-sistem yang dilakukan para penjajah.  Sehingga tidak ada salah paham antara pemerintah Hindia Belanda dengan rakyat pribumi. Di mana kerap sekali karena kesalahpahaman berbahasa banyak pribumi yang mendapat hukuman tanpa tahu kesalahan mereka.  Tidak hanya itu Sosrokartono juga menggemborkan tentang sikap perdamaian dan kasih sayang bangsa penjajah  dan tidak bertindak semena-mena (hal 200).

Bagi sebagian kaum cendekiawan Belanda sangat salut dengan gagasan Sosrokartono. Akan tetapi bagi para elit cendekiawan yang memiliki mental penjajah sangat marah dengan keberanian pidato yang disampaikan Sosrokartono.  “Untuk mencapai kemajuan, diperlukan usaha yang lebih keras, Tuan. Untuk mencapai kemajuan pula, selalu ada pihak-pihak yang menentang.” (hal 241).

Di antaranya adalah Prof. Dr. Snouck Hurgronje. Di mana menurut pendapatnya jika, sampai pemerintah Hindia Belanda memenuhi harapan Sosrokartono, maka dikhawarikan rakyat pribumi akan menjadi pribadi yang lebih cerdas dan bisa merongrong kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.
Mereka ingin kaum pribumi tetap bodoh. Karena dengan begitu, mereka akan mudah mengendalikannya. Oleh sebab itu, melihat kepintaran dan luasnya pergaulan Sosrokartono, Dr. Snouck sangat khawatir dan mulai mencari kelemahan Sosrokartono untuk dipermalukan dan tidak berani melawan pemerintah Hindia Belanda.

Sosrokartono juga bersumbangsih dalam berdirinya, sebuah organisasi yang bernama Indische Vereegining atau Perhimpunan Hindia, yang awalnya membahas tentang kehidupan para pelajar mahasiswa Hindia di Belanda namun kemudian berubah menjadi organisasi politik yang bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Meskipun  puluhan tahun Sosrokartono bersekolah di Belanda dan mengembara ke Eropa, dia tetap mencitai bangsanya dan tidak mau menghempaskan nilai-nilai pribumi. Di mana dia tegaskan pada saat berpidato di Kongres Bahasa dan Sastra Belandan ke-25 di Gent, Belgia, pada September 1899, “Dengan  tegas saya menyatakan diri saya sebagai musuh dari siapa pun yang akan membikin kita (Hindia Belanda) menjadi bangsa Eropa atau setengah Eropa dan akan menginjak-injak tradisi serta adat kebiasaan kita yang luhur lagi suci. Selamat matahari dan rembulan bersinar, mereka akan saya tantang.”

Buku ini sangat menarik untuk dibaca. Apalagi memang jarang sekali buku yang membahasa tentang biografi Sosrokartono. Pria jenius dengan segudang prestasinya ini adalah sosok yang patut kita teladani. Karena dia merupakan sosok yang luar biasa. Selain sangat mencintai tanah airnya, dia adalah pemuda yang selalu taat kepada ibu dan ayahnya. Tidak hanya itu dia merupakan sosok yang memiliki spritual tinggi. Di mana karena kemampuannya itu dia bisa mengetahui sesuatu yang belum diketahui orang lain dan bisa menyembuhkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh dunia medis. Meskipun sedikit banyak masih ada beberapa kekurangan dalam buku ini, hal itu tidak mengurangi esensi yang ditawarkan penulis.

Srobyong, 1 November 2018

[Resensi] Meredakan Islamofobia di Dunia Barat

Dimuat di Jateng Pos, Minggu  13 Januari 2019 

Judul               : Islamofobia
Penulis             : Karen Armstrong, dkk
Penerjemah      : Pilar Muhammad P
Cetakan           : Pertama, Agustus 2018
Tebal               : 352 halaman
ISBN               : 978-602-441-055-1
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Sejak serangan-serangan  terorisme yang mengerikan, seperti kejadian di Amerika (11 September 2001) serta serangan di Paris (13 November 2015) oleh para ekstremis yang mengatasnamakan Islam, sejak itu timbul-lah prasangka, permusuhan,  ketakutan  dan kebencian terhadap sebagian besar umat Islam.  Gejala inilah yang kemudian lazim disebut dengan Islamofobia.

Dan karena sikap para oknum yang mengatasnamakan Islam dalam perbuatan kejinya, kini Islam dianggap sebagai agama yang monolitik (tunggal-kaku tanpa variasi) dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan realitas-realitas baru. Islam dianggap tidak memiliki nilai-nilai yang sama dengan yang diajarkan agama-agama besar lainnya. Islam adalah agama inferior dalam pandangan Barat, yaitu agama yang kuno, biadab dan tidak rasional. Islam merupakan agama kekerasan dan mendukung terorisme. Dan Islam adalah ideoligi politik yang buas (hal 13).

Dari sebagian kecil umat Islam yang bertindak telah bertindak jahat, kini semua muslim disamaratakan sebagai sosok terorisme dan esktrimisme. Padahal jika boleh jujur, dari sekian banyak korban terorisme  adalah umat Islam itu sendiri.  Kenyataan itu tentu saja cukup membingungkan.  Buku ini hadir dalam upaya untuk menemukan alasan dari mana akar kemunculan Islamofobia di Dunia Barat. Namun lebih dari itu, buku ini juga mengajak kita untuk mencoba meredakan islamofobia agar mengembalikan sikap welas asih antar agama dan antar sesama.

Dibuka dengan artikel karya Karen Amstong, di sini kita akan mendapati fakta bahwa sebenarnya islamofobia sudah muncul  cukup lama di dunia Barat. Pada 2013, Uni Eropa menyatakan bahwa Wahabisme adalah sumber utama terorisme global. Namun, mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa semptinya visi Wahabi merupakan lahan subur bagi berkembangnya ekstremisme. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, para kepala suku beraliran Wahabi memang benar-benar melakukan serentetan ekspedisi militer penuh kekerasan terhadap kaum Syi’ah (hal 19-20).

John L. Espposito, dalam artikelnya memaparkan bahwa dari berbagai penelitian yang ada  islamfobia meningkat secara siginifikan tidak hanya dengan terjadinya insiden terorisme domestik, tetapi juga pada saat pemilu, seperti yang terlihat pada pemilu presiden tahun 2008 dan 2012 dan pemilu kongres tahun 2010. Selama kampanye, Newt Gingrich, Rick Santorum, Herman Cain dan lainnnya berusaha untuk mendapatkan perhatian dengan membuat pernyataan sembrono tentang orang Islam (hal 87).

Sedangkan sejak awal Islam merupakan agama yang mencintai kedamaian. Hal ini bisa kita lihat dari padangan Nabi Muhammad selama mengajarkan Islam. Nabi Muhammad  mengajarkan umatnya untuk selalu mengasihi manusia agar Allah pun mengasihi mereka. Islam melarang membunuh tawanan, membunuh masyarakar sipil. Islam harus menegakkan hukum dan ketertiban, memerdekan budak, melarang pemerkosaan, mewujudkan perdamaian, melarang membakar hidup-hidup makhluk hidup, dan melarang menyebut orang Muslim sebagai orang kafir.
Dan semua sikap itu berbanding terbalik dengan ajaran para terorisme yang tidak memiliki belas kasih terhadap sesama manusia, tega membunuh masyarakat sipil dan melegalkan perbudakan dan menyukai aksi-aksi kekerasan.

Oleh sebab itu penting sekali bagi kita untuk mulai meredakan islamofobia di dunia Barat. Sehingga dalam hubungan keagamaan dan antar sesama, akan tercipta sikap welas asih juga saling menghormati.  Di antaranya kita bisa memulainya dengan menghormati instrumen-instrumen semua agama, baik itu berupa bangunan yang menaungi penganut agam, ayat-ayat suci atau kitab suci yang dianggap merupakan wahyu Tuhan dan sifat kenabian, meluangkan waktu dengan orang-orang Islam di komunitas, berpikiran terbuka dan banyak lagi.

Imam Abdul Malik Mujahid dalam artikelnya memaparkan 14 cara dalam melawan islamofobia.  Di antaranya kita harus mengingat Nabi. Nabi didera penghinaan mengerikan dan kejahatan kebencian dalam masa hidupnya. Dia tetap teguh, sabar dan toleran menghadapi islamofobia ini.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan anatara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia.” (hal 133).

Buku ini sangat patut dibaca sebagai wacana dalam mengenal sejarah tumbuh kembangnya islamofobia dan di Barat dan bagaimana cara kita melawan dan atau merdakan Islamofobia.

Srobyong, 8 Desember 2018