Thursday, 13 February 2020
[Resensi] Pentingnya Menjaga Kelestarian Ekosistem Laut
Label:
Imprint of Tiga Serangkai,
Padang Ekspres,
Radar Madura,
Review buku,
Ruri Irawati,
Tiga Adanda
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Friday, 7 February 2020
[Resensi] Pentingnya Menghormati Orangtua
![]() |
Dimuat di Kabar Madura, Selasa 4 Februari 2020 |
Judul : Hijrah Asmara
Penulis : Madun Anwar & Sukma
El-Qatrunnada
Penerbit : Loka Media
Cetakan : Pertama, Januaari 2019
Tebal : 213 halaman
ISBN : 978-602-5509-18-6
Peresensi : Ratnani Latifah. Alumni Universitas
Islam Nahdlatul Ulama, Jepara
“Seorang ibu pasti menginginkan hal baik pada
anaknya. Apalagi, anaknya perempuan.” (hal 43).
Setiap
orangtua sudah pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Orangtua tidak segan
untuk memberi nasihat serta arahan, agar
anak tidak sampai berada di jalan yang salah. Karena itu sebagai anak sudah
semestinya kita harus patuh dan taat kepada orangtua. Jangan sampai kita
menjadi anak durhaka dengan melawan
perintah atau menolak nasihat orangtua.
Mengambil tema yang sudah banyak digarap di pasaran, hal itu tidak mengurangi
keunikan dari kisah ini. Dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, novel ini
cukup menarik untuk dibaca.
Novel ini sendiri menceritakan tentang Ara,
mahasiswa semester tiga jurusan PGSD di Lombok yang tengah dilema. Sebagai
gadis normal lainnya Ara tentu pernah merasakan jatuh cinta dan ingin mencoba
serunya masa pacaran. Namun di sisi lain, ia juga ingat bagaimana peringatan
keras orangtunya perihal pacaran. Menurut ayahnya, pacaran hanya akan membuang
banyak waktu dan lebih dekat pada perbuatan tercela. Daripada pacaran lebih baik fokus untuk
belajar dan berbakti kepada orangtua.
“Papa tidak mengizinkan aku pacaran sebelum selesai
kuliah. Sedangkan mama setuju asal ketika pacaran aku bisa menjaga diri, dan
nilai-nilai kuliahku tidak terganggu.” (hal 21).
Namun siapa yang tidak tergoda ketika tiba-tiba
Fatih—salah satu mahasiswa populer di kampus, menyatakan cinta dan mengajak Ara
pacaran. Akhirnya, demi memuaskan ego dan rasa penasarannya, Ara berani
melanggar perintah orangtuanya dengan berpacaran. Diam-diam Ara kerap pergi hang out bersama Fatih dan
menjalin hubungan terlarang tersebut. Hingga suatu hati ia mendapati kabar yang
tidak terduga. Fatih dan ketidaksetiaannya serta berderet masalah yang membuat
Ara bingung dan bimbang.
“Kecewa. Hal yang memang terasa sakit. Bayangkan,
jika kamu percaya pada seseorang dan harapanmu sangat tinggi terhadapnya, tapi
karena ketidakmampuan seseorang itu atau bisa saja karena sebab lain, ia
membuatmu kecewa.” (hal 44).
Di sisi lain kejadian itu mempertemukan Ara dengan
Arum. Kisah yang sedikit banyak membuat Ara belajar banyak hal, juga menemukan
makna hidup yang sebenarnya. Yang jadi pertanyaan, Kira-kira apa yang
sebenarnya tengah terjadi dengan Ara? Benarkah Fatih berselingkuh? Dari siapa
akhirnya sang ayah tahu bahwa dirinya telah melanggar janji dengan berpacaran?
Serta siapakah sosok Arum yang tiba-tiba mampu mengobati luka Ara? Selain
pertanyaan-pertanyaan itu masih banyak hal-hal lain yang membuat novel ini
menjadi menarik dan membuat kita penasaran. Kisah ini diramu cukup apik oleh
dua penulis asal Lombok dan Jambi. Meski pada beberapa bagian percakapan dan
narasinya masih terasa kaku dan belum berhasil menghidupkan kisah secara
keseliuruhan. Namun lepas dari kekurangannya, novel ini memiliki cukup banyak
pembelajaran dan cukup menarik dalam memadukan lokalitas daerah Lombok dalam cerita.
Membaca kisah ini kita akan diingatkan pentingnya
menghormati orangtua dan selalu menjaga diri dengan menjaga pergaulan yang
baik. Selain itu melalui kisah ini kita
juga belajar pentingnya memiliki visi dan misi untuk menjadi pribadi yang lebih
baik, memiliki semangat juang untuk meraih mimpi, serta belajar move on
dari kesedihan dengan bangkit dan tegar dalam segala kondisi.
“Kesedihan
itu tidak akan berakhir jika kita sendiri tidak mengakhiri itu semua.
Kehidupan itu tetap berjalan. Jadi, perbaiki hidup dan berusaha tegar untuk
menjalani hidup.” (hal 116).
Srobyong, 14 September 2019
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Thursday, 23 January 2020
[Resensi ] Perjuangan Panjang Perang Diponegoro
Judul : Sang Pangeran dan Janissary
Terakhir
Penulis : Salim A. Fillah
Penerbit : Pro-U Media
Terbit : 2019
Tebal :
632 hlm
ISBN : 9786237490067
Dalam pelajaran sejarah, sudah pasti kita pernah
membaca kisah Perang Diponegoro atau dikenal juga dengan sebutan Perang Jawa. Hanya
saja penyajian kisah yang ada dalam teks pelajaran itu, tidak begitu lengkap. Namun jangan khawatir, melalui buku ini kita
bisa mengenal lebih dalam tentang Perang Jawa.
Buku ini mengungkapkan lebih detail tentang
pertarungan sengit antara Pangeran Diponegoro dengan Belanda. Bagaimana dampak peperangan terhadap orang-orang
Belanda, juga para pejuang. Semua dipaparkan dengan apik dan menarik. Lewat
buku ini pula, kita bisa menyingkap
berbagai sejarah yang mungkin tidak pernah kita temukan dalam teks pelajaran. Misalnya
saja tentang adanya Janissary, pejuang asal Turki yang ikut dalam barisan Perang
Diponegoro.
“Tuan Nurkandam Pasha, Tuan Katib Pasha, Tuan Murad
dan Tuan Orhan Arga, maka dengan ini aku gandeng tangan kalian, para pewaris
sah Janissary kebanggan Ustmani untuk mendampingi jihad rakyat Mataram, Perang
Sabil Muslimin Nusantara.” (hal 19)
Uniknya dari berbagai tokoh yang ikut berjuang
dengan Pangeran Diponegoro, kehadiran dua
Janissary—Nurkandam Pasha dan Katib
Pasha, paling banyak memberikan warna tersendiri dalam kisah buku ini.
Menghidupkan dan juga mendebarkan.
Membaca buku ini, kita akan dibuat larut, seolah
kita ada dan melihat peperangan yang tengah berlangsung. Apalagi penulis
mendeskripsikan kisahnya dengan sangat
detail—baik dari segi setting hingga penokohan. Meski buku ini memiliki
halaman yang sangat tebal, kita tidak
akan dibuat bosan untuk merampungkan kisah yang ada. Kenapa? Karena kisahnya
memang benar-benar menarik dan membuat penasaran sejak dari awal. Alur maju
mundur, yang digunakan penulis dalam menyampaikan cerita, telah berhasil
membuat emosi pembaca tidak karuan.
Melalui novel ini pula kita akan melihat bahwa
seyogyanya Belanda sempat kewalahan dan merasa cemas dengan sikap Pangeran
Diponegoro yang tidak mudah dipatahkan semangatnya. Meskipun dalam peperangan
itu, Pangeran Diponegoro berkali-kali harus menghadapi pengkhianatan yang
menyakitkan dari orang-orang yang ia percayai, ia tetap teguh berjuang.
“Dikhianati tidaklah berbahaya. Yang berbahaya
adalah berkhianat. Ditipu tidaklah berbahaya. Yang berbahaya adalah menipu.
Dibunuh tidaklah berbahaya. Yang berbahaya adalah membunuh.”
(hal 615)
Secara keseluruhan novel ini sangat menarik, inspiratif dan memotivasi. Namun ketika
membaca kisah ini kita juga harus bersiap menghafal nama-nama tokoh
yang lumayan banyak. Sedikit kekurangan dari buku ini adalah gaya bahasa
penulis yang terlalu puitis dan bertele-tele. Namun lepas dari kekurangan yang
ada novel ini tetap menarik dan
mengundang rasa penasaran, termasuk menunggu seri selanjutnya, yang menurut penulis masih akan ada seri "Sang Pangeran" lainnya.
Bagi
penikmat fiksi sejarah saya rekomendasikan untuk membaca buku ini. Melalui buku
ini kita bisa menemukan tingginya sikap patriotisme dan
kegigihan jihad fi
sabilillah“Kekalahan itu ketika kita
ditinggalkan Gusti Allah meskipun kita menang perang ataupun punya banyak akwan
serta pengikut. Sebaliknya, yang disebut kemenangan adalah tetap bersama Gusti Allah
meskipun kita ditinggal sendiri, atau bahkan binasa dalam perjuangan.” (hal
443)
#semuabacasangpangeran
#sangpangerandanjanissaryterakhir
Srobyong, 23 Januari 2019
Label:
Pro-U Media,
Review buku,
Salim A Fillah
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Tuesday, 29 October 2019
[Resensi] Pendidikan Budaya Lewat Cerita
Tiga Picture Book ini merupakan seri "Cerita Rakyat Asal-Usul" yang diterbitkan di Penerbit Tiga Ananda dan dikemas dengan apik oleh Mbak Erlita Pratiwi.
Nah buku pertama kita diajak berkenalan dengan kisah yang bertajuk : Byur! Cacing Warna-warni Datang
Pendidikan Budaya Lewat Cerita
Indonesia adalah negara yang kaya akan adat dan
budaya. Terdiri dari berbagai suku, yang memiliki masing-masing kebudayaan,
membuat Indonesia memiliki beragama festival yang menarik dan unik. Seperti
festival Erau Kartanegara yang berasal dari Kutai, Kartanegara, Kalimantan
Selatan, Festival Lompat Batu dari Pulau Nias, Festival Tabuik dari Sumatra
Barat dan banyak lagi.
Memilah-milah dari banyak festival yang ada di Indonesia, Erlita Pratiwi memilih Festival
Bau Nyale, yang berasal dari Lombok, untuk dikenalkan kepada anak-anak. Dengan
paparan yang mudah dipahami, penulis berhasil mengadirkan kisah menarik. Di
mana penulis memadukan kisah sehari-hari dengan dongeng klasik nusantara.
Sebagaimana kita ketahui, selain kaya akan adat
budaya, Indonesia juga memiliki banyak sekali dongeng-dongeng nusantara yang
menarik dan patut dikenalkan kepada anak.
Baik dongeng berupa fabel, legenda, mitos atau asal-usul sebuah tempat
dan banyak lagi. Di mana masing-masing dongeng selain bermanfaat untuk hiburan,
dongeng tersebut juga memiliki nilai-nilai budi pekerti luhur. Dengan begitu, anak bisa belajar berbagai hal
dari kisah dongeng.
Festival Bau Nyale sendiri merupakan tradisi yang
diselenggaralan setahun sekali, yang dilakukan antara bulan Februari –
Maret. Dalam bahasa Sasak “bau” artinya
menangkan, dan “nyale” artinya cacing. Jadi Festival Bau Nyale, berarti
perburuan cacing, yang dilakukan oleh masyarakat Lombok. Festival ini sangat penting bagi suku Sasak,
suku asli Pulau Lombok. Adanya festival
ini berkaitan erat dengan kisah Putri Mandalika. Festival ini diadakan di
Pantai Seger, Lombok.
Membayangkan tentang perburuan cacing, mungkin bagi
sebagian orang akan merasa geli. Namun
di sini, perlu kita ketahui, nyale atau cacing yang diburu di Pulau Lombok ini
memiliki banyak sekali manfaat bagi kesehatan tubuh. Dari berbagai menu lauk
pauk yang ada, nyale memiliki kandungan protein yang paling tinggi. Dijelaskan bahwa kandungan protein nyale
adalag 43,845, sedang kerang hijau 18,5%, Telur
ayam, 12,2%, telur penyu 10,9% dan susu sapi 3,5%. Nyale juga bermanfaat
sebagai penyedap makanan dan bisa menambah daya tahan tubuh (hal 7).
Dalam buku ini sendiri, penulis mengisahkan tentang
pengalaman seru Kak Ayu dan Nara, yang ikut memeriahkan Festifah Bau Nyale, di
desanya. Mereka dengan semangat ikut berburu cacing warna-warni yang hanya
keluar satu tahun sekali. Ketika Kak Ayu mengatakan bahwa nyale memiliki banyak
manfaat, Nara tidak langsung percaya. Namun dia sangat terkejut ketika Kak Ayu
menjelaskan tentang kandungan protein pada nyale. Hal itu akhirnya membuat Nara
semangat untuk menangkap nyale, agar bisa menghadiahkan kepada ibunya, yang
tidak bisa ikut berpartisipasi dalam festival. Dari Kak Ayu juga, Nara
mengetahui tentang asal usul adanya Festival Bau Nyale. Apakah Nara berhasil
memperoleh nyale? Dan bagaimana pula kisah Putri Mandalika dan hubungannya
dengan kehadiran para nyale? Temukan jawabannya dalam buku ini.
Kisah pendek ini, cukup menarik untuk diikuti. Dan
pastinya akan menjadi bacaan yang sehat buat anak-anak. Melalui buku ini anak bisa belajar
banyak hal. Dari mengenal salah satu
festival budaya di Indonesia, anak juga bisa mengenal manfaat nyale yang
ternyata memiliki banyak khasiat untuk obat-obatan. Selain itu, melalui buku
ini anak bisa belajar tentang pentingnya sikap tidak mudah putus asa untuk
mewujudkan keinginan, indahnya bersikap baik hati dan banyak lagi. Tambahan
ilustrasi yang digambar dengan apik, akan semakin menambah kelebihan buku ini.
Untuk buku kedua kita diajak berkenalan dengan kisah yang bertajuk : Sssh, Air Panas Mengalir dari Batu
Mengajarkan
Pendidikan Moral pada Anak
Mendidik anak agar memahami tentang nilai-nilai
moral merupakan kewajiban orang tua. Karena orang tua adalah madrasah pertama
bagi anak. Oleh sebab itu, penting bagi orang tua untuk memahami berbagai
metode pendidikan, yang bisa diterapkan dalam mendidik anak sedini
mungkin. Dengan pendidikan etika dan
karakter sedini mungkin, hal itu akan berdampak besar pada tumbuh kembang
anak. Jika sejak dini akan dibekali
dengan pendidikan yang baik, pasti anak akan tumbuh menjadi pribadi yang
berkarakter dan bertanggung jawab. Sebaliknya dengan pendidikan yang salah,
maka anak akan tumbuh menjadi anak yang kurang bertanggung jawab.
Untuk mengetahui metode terbaik yang bisa diterapkan
pada anak, maka sebagai orang tua kita harus mengenali dulu potensi anak. Karena setiap anak
memiliki kelebihan dan kecenderungan tersendiri. Ada sebagian anak yang nyaman dengan belajar
secara audio—atau mendengarkan penjelasan. Ada pula anak yang nyaman belajar
dengan menggunakan metode visual—pembelajaran dengan menggunakan peraga gambar,
diagram, tabel sebagai pembantu. Selain itu ada juga anak yang lebih semangat
dengan metode kinetis—yaitu belajar dengan aktif melakukan gerakan. Tidak ketinggalan ada juga anak yang senang
belajar dengan metode kombinasi.
Dan di antara pembelajaran yang bisa kita terapkan pada anak, adalah
metode kombinasi—baik kombinasi audio visual atau audio, visual dan
kinetis. Di mana salah satunya kita bisa
menerapkannya dengan membacakan kisah kepada anak. Tentu saja dalam memilihkan
bacaan, orangtua harus menyesuaikan usia anak.
Memanfaatkan metode membaca atau bercerita, selain bisa menumbuhkan
minat baca pada anak sejak dini, manfaat lainnya adalah merangsang pemikiran
anak dan bisa menambah kosa kata baru bagi anak.
Salah satu buku yang patut dikenalkan kepada anak
adalah buku terbaru Erlita Pratiwi berjudul “Sssh, Air Panas Mengalir dari
Batu”. Buku ini selain memuat nilai-nilai pendidikan, penulis juga mengenalkan
nilai-nilai budaya pada anak. Karena dari
pictorial book ini, selain bisa mengenal kisah seru yang biasa
terjadi dalam kehidupan sehar-hari, penulis juga menyelipkan legenda atau cerita rakyat yang ada di Indonesia.
Sebagai negara yang kaya akan budaya, Indonesia juga
kaya akan cerita-cerita rakyat yang menarik untuk dikenalkan kepada anak.
Dengan begitu, selain mereka mendapat pengetahuan baru, mereka juga semakin
mengenal keunikan dan keberagaman
Indonesia.
Suatu hari Killa menginap di rumah sepupunya, Billa
yang tinggal di Padarincang, Serang. Di sana Killa ditawari Billa untuk mengunjungi
Pemandian Batu Kuwung. Pada awalnya Killa menolak ajakan Billa dengan berbagai
alasan. Dari tidak suka berenang, takut kedinginan dan banyak lagi alasannya.
Namun, pada akhirnya Killa setuju untuk mengunjungi pemandian itu. apalagi
setelah mendengar cerita tentang Legenda Batu Kuwung (hal 18).
Legenda yang berasal dari daerah Padarincang,
Serang, Banten, ini menceritakan tentang saudagar kaya yang mengalami penyakit
aneh dan langka. Tidak ada satu pun tabib yang berhasil menyembuhkannya. Hingga
suatu hari sang raja melakukan tapa brata selama satu minggu, untuk berdoa
kepada Tuhan. Dari tapa brata itu-lah,
akhirnya keluar air panas dari batu cekung, yang awalnya dijadikan tempat duduk
sang raja.
Membaca kisah ini, selain kita menjadi tahu tentang
asal usus Pemandian Batu Kuwung, yang saat ini sudah menjadi destinasi wisata
di Banten, kita juga belajar tentang
nilai-nilai moral. Yaitu keutamaan sabar saat menghadapi masalah, tidak menilai
sesuatu dari luarnya saja dan selalu haus dengan pengetahuan baru. Kemudian
tidak kalah menarik, dari kisah ini kita juga bisa mengetahui tentang manfaat
air dari batu cekung tersebut. Di mana
air kolam itu mengandung kalsium dan yodium, bisa menyembuhkan pegal linu dan
kesemutan (hal 32).
Sedangkan untuk buku ketiga kita diajak berkenalan dengan kisah yang bertajuk : Bunga Ajaib Taman Kinkin
Mengenalkan
Tanaman Herbal pada Anak
Saat ini, selain memanfaat obat medis—obat berasal dari
bahan kimia, yang diresepkan dari dokter dengan kadar dan ukuran tertentu—obat
herbal juga menjadi salah satu
alternatif untuk dikonsumsi. Apalagi Indonesia dengan kekayaan hayati, maka
sangat mudah bagi kita untuk menemukan obat herbal. Sebagaimana kita ketahui obat herbal berasal
dari tanaman yang diolah secara tradisional.
Dengan kata lain, tananam herbal merupakan jenis-jenis tanaman yang
bermanfaat untuk pengobatan.
Buku ini dengan bahasa yang sederhana dan mudah
dipahami anak, akan mengenal salah satu tanaman herbal, yang sangat bermanfaat
bagi kehidupan sehari-hari. Di antara tanaman herbal yang ada seperti kunyit,
jahet atau lengkuas, penulis memilih tanaman kemuning, untuk dikenalkan kepada
anak. Di mana dijelaskan, selain memiliki warna putih yang cantik dan wangi,
ternyata kemuning memiliki banyak khasiat. Di antaranya adalah daunnya
bermanfaat untuk mengopres memar, sebagai bahan lulur dan menghaluskan
kulit. Buahnya bisa dijadikan pengharum
dan banyak lagi.
Selain itu, melalui buku ini kita juga diajak
mengenal salah satu dongeng nusantara di
Inonesia. Sebagaiman kita ketahui, sebagai negara yang kaya akan budaya,
Indonesia memiliki banyak sekali dongeng maupun legenda yang sarat makna.
Keberadaan dongeng –dongeng nusantara, selain sebagai kisah hiburan, pengantar
tidur, juga sekaligus mengajarkan
nilai-nilai moral anak bangsa, agar menjadi sosok yang bermoral juga mencintai
tanah air.
Tidak hanya menghadirkan sebuah cerita rakyat,
penulis juga menghadirkan kisah keseharian yang kerap dialami anak dengan
muatan nilai-nilai moral. Adalah Kinkin, yang ingin memiliki taman bungan
berwarna-warni seperti milik Nonin. Di mana dalam tanam bunga tersebut ada
bunga matahari, anggrek, mawar dan banyak lagi. Sedangkan di taman miliki
keluarga Kinkin, hanya ada bunga kemuning yang berwarna putih. Hal itulah yang
membuat Kinkin marah dan ingin menggantik bunga tersebut (hal 10). Kira-kira
apakah harapan Kinkin bisa terwujud? Dan bagaimana pula kisah asal-usul bungan
kemuning?
Membaca buku ini kita bisa belajar tentang arti
pentingnya berpikir positif, jangan suka iri dengan miliki orang lain, selalu hidup rukun dengan saudara dan tidak
menilai sesuatu dari luarnya saja. Meski memuat kisah remake dongeng
nusantara, kisah ini tetap menarik untuk dibaca. Apalagi dengan sentuhan
ilustrasi yang apik, serta tambahan kisah menarik yang telah disiapkan penulis.
Sangat pas untuk dibaca anak-anak.
Ketiga buku ini sangat menarik dan recomended untuk dibacakan kepada anak, sebagai salah satu cara, dalam mengenalkan dongeng asal-usul, juga pemahaman tentang nilai-nilai akhlak, yang diselipkan penulis juga berbagai pengetahuan unik di beberapa daerah di Indonesia. Selamat membaca dan berburu buku keren ini.
Label:
Erlita Pratiwi,
Radar Madura,
Review buku,
Tiga Adanda
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Wednesday, 2 October 2019
[Resensi] Keberanian dan Kegigihan Anak Kampung Melindungi Tanah Kelahiran
Doc. pribadi
Judul : Si Anak Badai
Penulis : Tere Liye
Co-author : Sarippudin
Penerbit : Republika
Cetakan : Pertama, Agustus 2019
Tebal :
322 halaman
ISBN : 978-602-5734-93-9
![]() |
| Sumber : Republika |
Si Anak Badai merupakan seri terbaru dari “Serial
Anak Nusantara”. Di mana sebelumnya penulis kawakan asal Sumatra Selatan ini,
telah lebih dulu menerbitkan Si Anak Cahaya—yang mengisahkan tentang
Petualangan Nurmas—ibu dari Amelia, Pukat, Eliana dan Burlian. Kemudian ada
pula Si Anak Spesial (Republish dari Burlian), Si Anak Kuat (Republish dari
Amelia), Si Anak Pintar (Republish Pukat) dan Si Anak Pemberani (Republish dari
Eliana).
Akan tetapi, meskipun kita belum membaca seri
sebelumnya, kita tetap bisa menikmati
novel “Si Anak Badai” secara mandiri. Karena pada seri terbaru ini, Tere Liye
menghadirkan kisah dengan tokoh baru yang tidak memiliki benang merah
sebagaimana kisah sebelumnya. Namun jangan khawatir meskipun berbeda, kisah Si
Anak Badai ini, tidak kalah menarik dari kisah-kisah sebelumnya. Bahkan bisa
jadi, setelah membaca novel ini kita malah akan ketagihan dan penasaran dengan
seri-seri yang sudah lebih dahulu terbit. Sebagaimana saya sendiri, setelah khatam novel ini, saya langsung mengkhatamkan Si Anak Cahaya dan
bersiap untuk membaca dua seri lainnya.
Kali ini Tere Liye, mengajak pembaca bertualang
bersama empat sahabat; Zaenal—atau kerap dipanggil Za, Ode, Malim dan Awang dalam suasana kehidupan di
Kampung Muara Manowa. Sebuah daerah yang berada di muara sungai yang menjadi
perlintasan kapal-kapal berhaluan menuju desa atau kota-kota berikutnya. Dengan
berbagai problematika khas anak-anak yang juga diselingi masalah keluarga,
politik dan sosial budaya yang ada, kisah menjadi sangat seru dan menarik.
Kehidupan empat sekawan ini tentu saja awalnya
sangat menyenangkan. Setiap hari Minggu sore atau ketika setiap tanggal merah
tiba, sambil bermain-main mereka akan menunggu kapal-kapal—baik dari laut ke
hulu atau dari hulu yang berlayar menuju lautan. Di sana mereka memiliki kebiasaan unik—ketika
kapal tiba, mereka akan berlomba-lomba menyelam untuk memperebutkan uang logam
yang dilempar oleh para penumpang. Siapa cepat dia dapat. Kebiasaan unik
lainnya adalah kebiasaan anak-anak yang selalu mengiringi kedatangan para tamu
ke Muara Manowa, serta kebiasaan warga yang suka saling membalas pantun. Pagi
hari mereka bersekolah meski dengan segala keterbatasan yang ada dan malam
harinya, selepas salat Magrib mereka akan akan mengaji di rumah Guru Rudi, yang
rumahnya tidak jauh dari jembatan menuju
masjid.
Namun kebahagiaan itu berubah menjadi mimpi buruk,
ketika tiba-tiba Pak Alex datang mengunjungi Muara Manowa. Pria yang menurut Za
mirip bajak laut itu dengan dalih menawarkan kemajuan di tempat tinggal mereka,
tetapi pada kenyatannya Pak Alex datang untuk mengancurkan tanah kelahiran
mereka—kampung Muara Manowa.
“Sudah saatnya tempat ini dibuat maju, mengejar
ketertinggalan dari daerah lain. Sudah saatnya
bapak-bapak menjadi lebih kaya, lebih sejahtera. Karena itu kami ingin
membangun pelabuhan di Kampung Manowa.” (hal 84-85).
Visi dan misi yang ia lontarkan hanyalah basa-basi.
Karena ketika pelabuhan dibangun, maka sudah pasti warga akan kehilangan tempat
tinggal juga kehilangan mata pencaharian. Karena itulah Sakai bin Manaf atau yang dikenal
dengan sebutan Pak Kapten, langsung menolak rencana yang dipaparkan Pak Alex.
“Kami tidak mau dipindah-pindah. Lebih bagus kalau
pelabuhan yang dipindah. Terserah di mana asal tidak di tempat kami.”
(hal 86).
Akan tetapi siapa yang bisa mengalahkan uang dan
kekuasaan? Pak Alex dengan kekuasaannya, dengan keji memfitnah Pak Kapten
terlibat dalam meledaknya kapal Maju Sejatera. Selain itu, Pak Kapten juga
dianggap sebagai penghasut warga—karena Pak Kapten-lah orang pertama yang
menolak rencana itu dan kemudian memengaruhi pikiran warga dengan memutar film
di layar tancap. Karena alasan itulah akhirnya Pak Kapten ditangkap.
Kejadian itu tentu saja membuat semua warga sangat
sedih, termasuk Za, Ode, Manaf dan Awang. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan
Pak Kapten. Satu-satunya harapan mereka adalah
bantuan dari Adnan Buyung, seorang pengacara di ibu kota, yang kebetulan merupakan Kakak Wak
Sidik—salah satu warga. Dan kesedihan
itu semakin menumpuk ketika Pak Alex dan orang-orang dari ibu kota itu benar-benar
datang membawa berbagai alat berat untuk mulai pembuatan pelabuhan.
Diceritakan dengan gaya bahasa yang lugas, renyah
dan tidak bertele-tele, novel ini sangat menarik untuk dibaca. Kita akan
dihibur melihat keseharian Za, Ode, Malim dan Awang, yang lugu, pemberani,
setia kawan dan memiliki tekad kuat. Banyak kejadian seru yang menghibur,
membangun dan bahkan memotivasi dari berbagai petualangan yang dialami empat
sekawan tersebut.
Misalnya ketika Za dan dua adiknya, Fatah dan Thiyah
mendapat tugas dari ibunya untuk mengukur beberapa warga Muara Manowa yang
ingin dijahitkan baju. Atau ketika Malim
merasa tidak lagi memiliki motivasi untuk melanjutkan sekolah. Za dengan sikap
teguh, berusaha semaksimal mungkin untuk membujuk sahabatnya agar tidak putus
sekolah. Padahal berkali-kali Malim menolak dan bahkan bersikap kasar, tetapi
Za tetap seteguh karang. “Mau jadi apa pun, sekolah tetap penting. Jadi
pedagang juga butuh sekolah.” (hal 189).
Ada pula kejadian mendebarkan, ketika mereka harus
menghadapi badai besar, saat empat sekawan itu ikut memancing cangkalan bersama
Paman Deham. Di mana kejadian itu merupakan cikal bakal lahirnya nama “Si Anak
Badai”. Tidak hanya itu, ada pula kejadian mendebarkan yang berhubungan tentang
bagaimana usaha keras empat sekawan dalam upaya menggagalkan pembangunan
pelabuhan. Berbagai kejadian dan petualangan yang dialami Za, Ode, Malim dan
Awang sedikit banyak selalu memberi pencerahan dan akan menggugah pembaca.
Mereka adalah anak-anak pemberani yang siap berjuang demi mempertahankan hak
yang mereka miliki.
Dari segi tema, Tere Liye sudah sudah menunjukkan
keunikan cerita, yang memang jarang dieksekusi oleh penulis Indonesia lainnya.
Di sini ia kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam memunculkan ide-ide segar
yang tidak pasaran. Sebagaimana novel “Pulang” dan “Pergi” yang mengangkat tema
shadow Economy, atau seri “Serial
Bumi” yang mengangkat tema fantasi yang
dipadukan dengan science fiction—di mana kita sadari tema semacam itu
cukup jarang dieksekusi. Inilah daya
tarik tersendiri yang membuat buku-buku Tere Liye selalu digemari dari semua
kalangan usia. Karena dia selalu menyajikan kisah-kisah yang segar dan memikat.
Begitu pula dengan setting lokasi cerita yang
ia pilih. Ketika banyak penulis mengambil kota besar sebagai setting
cerita, maka tidak dengan Tere Liye. Di
sini ia berani mengambil langkah maju dengan mengambil setting di daerah
terpencil, yang jarang diangkat oleh
penulis lain—ia memilih Kampung Muara Manowa, sebuah desa yang terletak di
sekitar muara sungai yang kemudian
dipadukan dengan kisah petualangan yang mendebarkan. Dan yang menarik kualitas bagaimana
mengambarkan setting lokasi benar-benar hidup dan tidak terasa tempelen. Karena
ketika membaca novel ini saya langsung membayangkan bagaimana tata letak rumah
warga juga bagaimana kegiatan pasar apung atau kegiatan sehari-hari yang
membuat anak-anak terbiasana menggunakan perahu untuk melakukan aktivitasnya.
![]() |
| Bayangan saya soal setting lokasi cerita. Sumber: google |
![]() |
| Pasar apung. Sumber : google |
Tidak kalah menarik adalah bagaimana penulis
menyisipkan kritik politik dan atau
sosial budaya dalam kisah ini. Baik secara tersirat atau tersurat, Tere
Liye mencoba menyuarakan bagaimana kegelisahan orang-orang yang tinggal di
daerah pedalaman, yang harus rela meninggalkan tanah kelahiran demi proyek pembangunan
pelabuhan—yang sebenarnya sangat merugikan warga. Bagaimana tidak, karena adanya proyek tersebut, mereka harus rela
meninggalkan kampung halaman, kehilangan pekerjaan, kehilangan tempat menuntut
ilmu dan banyak lagi.
“Sekarang orang-orang pintar itu akan membuat
pelabuhan di sini. Mereka tidak tahu apa dampaknya bagi kita. Lebih celakanya
lagi, mereka tidak peduli apa akibatnya bagi kita. Yang penting pelabuhan itu
jadi, yang penting mereka mendapat uang banyak dari pembangunan pelabuhan.” (hal
98).
Dan yang lebih miris, pembangunan pelabuhan itu
hanya sebuah akal-akalan para pembesar untuk merengkuh keuntungan lebih
besar dengan praktik korupsi.
“Sepanjang kau bisa diandalkan, proyek pelabuhan
selesai, dana cair, kau akan liburan ke luar negeri. Kariermu juga akan menanjak
cepat.” (hal 308).
Sedangkan untuk penokohan cerita, satu kata untuk
penulis buku ini “keren” tokoh-tokoh dalam novel ini, benar-benar hidup—baik melaui
gambaran fisik, sikap juga
percakapan-percakapan dalam cerita. Kemudian
soal alur dan plot cerita secara keseluruhan sudah sangat rapi dan menarik. Sejak awal penulis berhasil menyihir pembaca untuk menyelesaikan kisah ini hingga
akhir. Hanya saja ada beberapa konflik
cerita dalam novel ini, yang jujur ada
beberapa bagian yang terasa datar dan kurang menegangkan. Hal ini sangat berbalik
dari novel Si Anak Cahaya, yang sejak awal kisah sudah menunjukkan
berlapis-lapis masalah yang membuat saya penasaran.
Kemudian soal porsi Pak Kapten dalam novel ini.
Sebagai salah satu tokoh yang memiliki peran cukup penting, porsi kisah hidup Pak Kapten kurang
dijelaskan lebih detail dan gamblang.
Padahal jika ada penelusuran lebih lanjut sudah pasti kisah ini akan
terasa lebih seru dan semakin menarik. Saya penasaran kenapa nama asli Pak
Kapten baru diketahui di bagian-bagian akhir. Kemudian tidak ada penjelasan
kenapa hampir semua warga segan dan anak-anak selalu takut pada sosok tersebut,
serta kenapa ia dipanggil Pak Kapten. Sebenarnya apa kedudukun Pak Kapten ini di
Kampung Muara Manowa?
Namun secara keseluruhan, saya benar-benar kagum dengan bank ide Tere
Liye, yang bisa menghadirkan kisah-kisah menarik dan selalu memberi inspirasi dan renungan. Dan untuk masalah kesalahan menulis, novel
ini cukup bersih, saya hanya menemukan
satu kata, yang sebenarnya itu sama sekali tidak mengganggu.
Kali ini
mereka tidak sibuk mengolokku, melalinkan ikut ...,” == Kali ini
mereka tidak sibuk mengolokki, melainkan ikut ...,”
(hal 229).
Lepas dari kekurangannya, novel
ini tetap menarik untuk dibaca. Banyak nilai-nilai pembelajaran yang diikutsertakan
penulis dalam kisahnya. Dan seperti biasanya Tere Liye hadir dengan ilmu-ilmu
baru yang akan menambah wawasan kita. Di
sini penulis menunjukkan tentang manfaat kayu ulin yang kokoh dan awet. Karena
itu dermaga di sana juga jembatan masjid, dibangun dengan memanfaatkan kayu
ulin.
![]() |
| Gambar 1 Pohon Ulin || Gambar 2 : Kayu Ulin || Gambar 3 : Dermaga yang dibuat dari kayu ulin. || Sumber : Google |
“Tidak usah khawatir. Dermaga ini terbuat dari kayu ulin yang kokoh. Jangankan ambruk,
bergeser sedikit pun tidak.” (hal 259).
Kemudian ada disinggung sedikit perilah masalah
struktur tanah di Kampung Muara Manowa—yang berhubungan dengan cocok tidaknya
struktur tanah itu digunakan untuk membangun proyek pelabuhan.
![]() |
| Sumber : Frisco |
Dan meskipun kali ini tere liye kembali mengagandeng co-author, sebagaimana dalam novel “Pergi” hal itu tidak mengurangi rasa khas tulisan Tere Liye dan keseruan cerita yang ada. Membaca novel ini kita akan menemukan banyak sekali pembelajaran-pembejalaran positif. Ada pelajaran agar kita belajar dari kesalahan yang pernah lalu. “Setiap orang melakukan kesalahan. Yang membedakan antara orang yang melakukan kesalahan itu adalah ada yang belajar dari kesalahannya, ada yang juga tidak mengambil pelajaran apa-apa.” (hal 72).
Di sini kita juga bisa melihat sikap setia kawan
yang ditunjukkan oleh Za, Ode, Awang dan Malim.
“Seorang teman tidak akan
meninggalkan temannya sendiri.” (hal 191).
Kemudian kita pun diajarkan untuk menjadi pribadi
yang sabar ketika ada masalah atau ujian.
“Manusia mendapat ujian bukan
karena dia telah berbuat kesalahan,
Rahma. Ujian itu kadang untuk lebih menguatkan.” (hal 221).
Dan tidak kalah menarik saya juga suka
selipan-selipan nilai-nilai religi yang kerap dilakukan penulis kondang ini.
“Ilmu milik Allah itu sangat luas. Bayangkan kalian mencelupkan telunjuk di laut, kalian angkat telunjuk itu, maka air yang menempel di telunjuk kalian itulah ilmu lautan yang tak terhingga banyaknya, itulah ilmu Allah. Ada yang kita tahu, ada juga yang tidak tahu.” (hal 58).
Selain itu masih banyak nilai-nilai pembelajaran
yang bisa kita petik. Misalnya tentang
kebiasaan gotong royong, pentingnya bersikap hormat serta berbakti kepada
orangtua, pentingnya belajar tanggung jawab,
pentingnya bersekolah, taat dan rajin beribadah kepada Allah, bersikap
jujur, sabar dan tidak melakukan tindak korupsi.
Srobyong, 2 Oktober 2019
Alhamdulilallah resensi ini menjadi salah satu dari 10 resensi pilihan Republika
|
Label:
Republika Penerbit,
Review buku,
Tere Liye
Lokasi: Srobyong-Mlonggo
Srobyong, Mlonggo, Jepara Regency, Central Java, Indonesia
Subscribe to:
Posts (Atom)




















