Sunday, 13 December 2020

Review Buku - Sejuta Cerita Bersama Hujan


Judul               : Meskipun Hujan Masih Turun

Penulis             : Shabrina Ws

Penerbit           : Tinta Merah Indonesia, bekerjasama dengan Yutaka Pika-Pika

Cetakan           : Pertama, November 2020

Tebal               : 250 halaman

ISBN               : 9786239442477

~Dalam cerita penulis mungkin perlu kisah yang masuk akal. Sementara dalam kehidupan nyata, sering kali beberapa hal seolah di luar nalar~ hal 49.

Hidup memang selalu penuh kejutan. Kita tidak mungkin bisa menebak kejadian-kejadian tidak terduga yang akan hadir mewarnai hidup kita bahkan menjadi babak baru dalam hidup ini. Karena hidup itu memang penuh misteri. Meski pun di luar nalar, kalau itu sudah ketentuan Tuhan, kita bisa apa?

Senggani duduk sendirian menunggu kereta yang akan mengantarkannya ke kota perantaunnya, kota Malang. Bersama hujan ia duduk menerenungi kejadian yang tidak terduga. Gani tidak pernah menyangka kalau Wira akan marah kepadanya,  melontarkan kata-kata yang membuatnya kesal. Padahal dulu Wira tidaklah seperti itu, ia selalu mendukung apa pun yang Gani lakukan. Tapi sekarang?

“Pergilah. Aku nggak akan nahan, nggak akan halangi. Toh, aku nggak bisa ngasih apa yang kamu impikan. Kita nggak usah pura-pura lagi.” (hal 8)

Bersamaan dengan kejadian tersebut, Gani dipertemukan dengan sosok yang sempat ia curigai bernama Pengelana. Entah ada angin apa, pria asing itu tiba-tiba duduk di sampingnya, bercerita dan membuat Gani merasa tidak enak hati. Dan dari sanalah kejadian itu dimulai. berbagai kejadian tidak terduga hadir mewarnai hidup Gani, membuat gadis itu senang, sedih, takut, cemas, khawatir dan rasa-rasa lainnya.

Kehadiran Pengelana yang mendadak itu, ternyata sedikit banyak telah membuat hidup Gani lebih berwana. Dari percakapan ringan, kepingan gambar yang membuat hati hangat atau video-video dan lagu-lagu yang menghibur. Kehadiran Pengelana sedikit banyak membuat Gani melupakan masalahnya dengan Wira, yang sudah tumbuh bersama sejak kecil. Termasuk kemarahan Gani ketika mengetahui Wira pergi ke Batam tanpa bercerita padanya.

Tapi Gani menyadari bahwa ia harus ekstra hati-hati dalam merajut pertemanan ini. Ia tidak boleh larut dan goyah. Karena ia tahu dengan pasti ada Zakiya, yang bahkan dizinkan untuk memplagiat puisi karya Pengelana. Kalau bukan gadis istimewa lalu apa? Rumit dan penuh kejutan ... itulah kisah Senggani, Pengelana dan Wira.

“Aku bertanya kepadamu, pakah ada  sesuatu yang kebetulan di dunia ini?

Katamu, kebetulan atau keberuntungan mungkin ada pada mereka yang tak percaya takdir.” (hal 2-3)

Tema cinta memang tema yang sudah pasaran. Meskibegitu tema cinta tidaklah membosankan. Karena selalu ada cerita-cerita apik yang bisa diramu sedemikian rupa dan asyik untuk dinikmati. Sebagaimana kisah “Meskipun Hujan Masih Turun” dengan bahasa lugas dan juga puitis, penulis berhasil menghidupkan kisah ini. Dari segi penokohan, alur dan plot sepertinya sudah dirancang dengan sedemikian rupa. Pantas saja ketika membaca prolog cerita pembaca akan langsung dibuat jatuh cinta, tidak bisa berhenti membaca sebelum menamatkan kisahnya. Ini saya banget. Hhehh.😀

Secara keseluruhan  novel ini sangat menarik, seru dan bikin gregetan. Selain itu novel ini pun terasa sangat dekat. Karena penulis menceritakan Senggani sebagai sosok penulis yang selalu rajin berkarya dan rajin mantengi grup Sastra Minggu Pagi.

Beberapa hal yang saya suka dari ini adalah kutipan-kutipan soal penulisan yang diselipkan Mbak Shabrina, yang membuat saya kembali belajar tentang hal-hal yang bersangkutan dengan kepenulisan. Salah satunya untuk mengendapkan naskah duulu.

“Simpan naskahmu hingga saat membukanya kembali kau seperti menemukan benda asing.” (hal 28)

Atau kutipan-kutipan dari buku yang sejatinya memang menarik dan patut untuk direnungkan.  Sebagaimana kutipan dari buku karya Yasmin Mogahed. Kutipan itu benar-benar sesuai dengan keadaan Gani yang berada dalam kebimbangan.

“Kita tidak bisa menghindari semua kepedihan. Tetapi dengan menyesuaikan harapan, respon dan fokus, kita dapat menghindari luka.” (Reclaim Your Heart –hal 212)

         

Bagi penikmat kisah romance, novel ini bisa menjadi salah satu pilihan untuk dibaca. Apalagi di musim penghujan seperti ini yang memang cocok dengan judul novel. Sambil membaca sambil menikmati deru hujan dan secangkir kopi. Nikmat sekali. Hehheh.

Tidak melulu soal cinta, masalah kepenulisan atau persahabatan, novel ini juga kental dengan kekeluargan. Karena di sini kita pun bisa melihat bagaimana sikap Gani ketika harus menghadapi kenyataan tentang keadaan orangtuanya. Membaca novel ini selain disuguhi kisah yang menarik, kita pun bisa belajar cukup banyak hal. Dari kesungguhan dalam menulis, sindiran halus soal plagiasi, bakti orangtua dan banyak lagi.

“Manusia tidak lain hanyalah kumpulan hari. Setiap satu hari berlalu, maka sebagian dari diri kita pun ikut pergi.” (Hasan Al-Bashri-hal 154)

 Srobyong, 13 Desember 2020


 

Wednesday, 8 April 2020

[Resensi Buku] Ketika Kita Harus Berani Membuat Pilihan

dokumen pribadi 



Judul               : Sociophilia
Penulis             : Febri Purwantini
Penerbit           : Cerita Kata
Cetakan           : Pertama, Maret 2020
Tebal               :212
ISBN               : 978-623-92949-3-9

Tema cinta dan impian, mungkin sudah banyak diangkat dalam berbagai kisah novel dalam pasar buku di Indonesia. Namun sebagaimana kita ketahui, tema-tema tersebut, masih selalu ditunggu dan tetap asyik untuk dinikmati. Sebagaimana novel hasil karya Mbak Febri. Meski mengambil tema yang bisa dibilang pasaran, tetap saja novel ini cukup menarik untuk dibaca. Dengan bahasa sederhana dan tidak jlimet, pembaca akan dihibur dengan kisah ringan tentang perjalanan hidup Dafina dalam menghadapi berbagai problematika di sekitarnya.

Sudah sewajarnya setelah menyelesaikan kuliah, kita akan termotivasi untuk segera mendapatkan pengalaman baru dengan memperoleh pekerjaan sesuai dengan jurusan yang kita pilih.  Rasanya sangat memalukan, setelah menyelesaikan pendidikan strata satu, tetapi kita malah menganggur dan tidak kunjung bekerja. Setidaknya itulah dilema yang dialami Dafina. Ia merasa rendah diri dan merasa tidak berguna.

Padahal sahabatnya, Kalandra, sudah satu langkah berada di depannya. Jika segala prosesnya lancar, Kalandra bisa langsung berangkat ke Jepang. Kalau boleh jujur Defina merasa sedikit iri. Namun dia bisa apa, ketika setiap kali dia berusaha mengirimkan lamaran, tetapi belum ada yang menerima lamaran pekerjaannya?

Beruntung Dafina memiliki keluarga yang selalu mendukung dan memberinya motivasi untuk tetap bertahan. Hingga akhirnya kesempatan untuk mencicipi asam manis dunia kerja berhasil Dafina raih. Namun dunia kerja ternyata tidak seindah atau semudah bayangannya. Apalagi kebetulan bos di tempatnya bekerja benar-benar menyebalkan dan super galak.  Di sana Dafina harus belajar tentang arti penting kesabaran.

Tidak hanya harus berlatih kesabaran karena sikap bosnya yang super ngeselin, hati Dafina juga harus diuji dengan virus merah jambu yang membuatnya kalang kabut.  Dan pada titik yang sama, Dafina menyadari bahwa pekerjaannya saat ini, bukanlah passion yang selama ini dia inginkan.

Secara keseluruhan novel ini cukup menarik. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari kisah hidup Dafina bersama teman-teman dan keluarganya.  Misalnya tentang sikap harmonis dan saling peduli dalam keluarga, tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, berani mengejar impian dan passion yang kita miliki dan banyak lagi.

Hanya saja novel ini masih menyimpan banyak lubang-lubang yang jika ditambal akan semakin menarik dan memikat. Misalnya dalam prolog cerita. Kalau boleh jujur prolog ini masih kurang nendang dan belum membuat pembaca di awal untuk memiliki rasa penasaran yang tinggi untuk melanjutkan membaca pada bab selanjutnya. Padahal kalau penulis bisa menampilkan prolog yang lebih mendebarkan dan membuat penasaran, pasti kisah akan lebih menarik sejak awal membuka halaman buku ini.
Lalu ada pula bagian yang diceritakan kurang detail dan terasa lompat-lompat, sehingga kisah jadi terasa terburu-buru dan kurang hidup. Di luar isi cerita, saya agak terganggu dengan penulisan judul pada tiap bab. Secara kasat mata tulisan itu memang terlihat bagus dan menarik. Tapi  kalau tidak jeli, pembaca akan sering dalam mengeja huruf dan membuat pembaca salah membaca judul bab.   Dari segi tulisan, secara keseluruhan sudah sangat rapi. Saya hanya menemukan satu kesalahan tulis pada halaman 48 Moda transportasi ..., mungkin maksudnya Modal transportasi.

Satu lagi yang membuat saya penasaran kenapa judul novel ini adalah  Sociophilia? Padahal dari pengataman saya, dari segi dan judul keduanya tidak ada benang merahnya. Atau mungkin karena daya serap saya yang kurang dalam menyambungkan benang merah di antara keduanya?  

Namun lepas dari kekurangannya, dari segi gaya bercerita, penulis sudah memiliki modal yang luwes dan menarik.  Ini bisa jadi modal selanjutnya untuk menghasilkan karya-karya yang lebih menarik.  Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan rasa salut kepada penulis yang berhasil menghasilkan karya yang menghibur.

“Kita nggak bisa nyenangin semua orang. Kalau bisa, sih, kerja jangan hanya mengharap pujian dari orang. Entar kita bakal kecewa berat kalau nggak dapat.” (hal 159).

Srobyong, 8 April 2020



Thursday, 13 February 2020

[Resensi] Pentingnya Menjaga Kelestarian Ekosistem Laut


Tiga  picture book ini merupakan dua seri karya Mbak Ruri Irawati, salah satunya adalah “Seri Dongeng Plus Aktivitas” sedangkan dua buku lainnya termasuk “Seri Lindungi Lautku” ketiga buku ini diterbitkan di Penerbit Ananda, Tiga Serangkai.

Pertama mari kita berkenalan dengan “Seri Dongeng Plus Aktivitas” bertajuk “Rahasia Harta Terpendam."

Menanamkan Sikap Rajin dan Kerja Keras
Judul               : Rahasia Harta Terpendam
Penulis             : Ruri Irawati
Ilustrator         : Gage Studio
Penerbit           : Tiga Ananda
Cetakan           : Pertama, Mei 2019
Tebal               : 32 halaman
ISBN               : 978-623-206-160-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Menanamkan pendidikan karakter kepada anak harus dilakukan sedini mungkin.  Karena pendidikan karakter merupakan salah satu dasar penting dalam membangun sikap tanggung jawab anak. Selain guru, orangtua juga memiliki peran penting dalam membangun karakter  baik kepada anak. Apalagi orangtua sebagai madrasah pertama juga role mode bagi anak.

Salah satu metode yang bisa dipilih dalam menanamkan pendidikan karakter adalah melalui media membaca dan mendengarkan.  Di sini orangtua bisa memulainya dengan  mengajak anak untuk menyukai buku dengan membacakan  dongeng-dongeng seru di sekitar kita. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia kaya akan dongeng-dongeng seru yang memiliki banyak contoh keteladanan. Misalnya dongeng Malin Kundang, Timun Emas, Tangkuban Perahu,  Sangkurian, Batu Menangis dan banyak lagi.

Ketika orangtua membacakan sebuah cerita kepada anak, maka anak akan merekam dan mengingat-ingat setiap kisah yang dipaparkan. Membacakan kisah dongeng bisa membantu daya ingat anak lebih tajam, juga mengasah rasa ingin tahu anak.  Lalu bagaimana cara memilih kisah dongeng yang pas bagi kebutuhan anak?  Mengingat banyak sekali buku-buku bertemakan dongeng nusantara di toko buku.

Hampir semua penerbit besar, pernah menerbitkan buku-buku dongeng yang menarik. Bisa dibilang tema dongeng sudah sangat pasaran. Namun pada fakta di lapangan, tema dongeng tetap selalu diminati dan tetap laris manis dipasaran. Hal itu terjadi karena  masing-masing penulis pasti memiliki keunikan tersendiri dalam menghadirkan dongeng tersebut. Sebagaimana buku bertajuk “Rahasia Harta Terpendam” karya terbaru dari Ruri Irawati.

Secara umum, buku ini menceritakan kembali dongeng  dari Bali. Namun dengan tambahan aktivitas seru yang dihadirkan penulis, buku ini  menjadi berbeda dari dongeng kebanyakan. Apalagi buku ini juga disertai fakta unik tentang budaya Bali yang akan menambah pengetahuan anak.

Menceritakan tentang kisah hidup seorang  bapak yang tinggal bersama lima anaknya.  Bapak itu memiliki ladang yang amat luas. Namun sayang sekali, kelima anaknya itu tidak memiliki sikap rajin dan kerja keras sebagaiamana ayahnya. Kelima anaknya sangat malas. Mereka tidak pernah mau membantu bapakanya.

Padahal kelima anaknya mau menikmati hasil dari kerja keras bapaknya. Bahkan ketika bapaknya sudah mulai sakit-sakitan, mereka tetap tidak peduli dan tetap hidup boros. Hingga lambat laun, harta mereka  mulai berkurang.    Dan sakit bapak mereka semakin marah. Di sana sang bapak memberi wasiat agar kelima anak itu menggali harta yang konon katanya dia pendam dalam ladang. 
“Anak-anakku, galilah harta yang kupendam di ladang. Bagilah rata untuk kemakmuran kelak” (hal 11).

Setelah bapak mereka meninggal, mereka tidak sabar untuk menggali harta terpendam itu. Namun setiap kali mereka berusaha menunaikan wasiat bapaknya, yang mereka temukan bukanlah harta karun.  Misalnya si sulung, I  Wayan setelah menggali, ia menemukan salura air terseumbat, anak ketiga, I Nyoman  menemukan sisa-sisa benih tanaman, anak keempat, I Ketut hanya menemukan cacing yang menempel di cangkul dan anak kelima,  I Putu hanya menemukan pupuk yang belum terpakai. Namun dari semua penemuan itu mereka menyadari sesuatu yang sangat penting di balik wasiat bapaknya.

Buku yang  diperuntukkan untuk anak tingkat TK dan SD ini akan sangat mudah dipahami anak. Bahasanya sederhana dan disertai gambar, pastinya akan membuat anak betah saat membacanya.  Membaca buku ini kita bisa belajar tentang arti penting sikap rajin. Yaitu sikap  suka bekerja dan selalu sungguh-sungguh. Sikap ini kebalikan dari sikap malas yang lebih sering membuang waktu.  Selain itu melalui kisah ini kita bisa belajar tentang sikap kerja keras. 

Srobyong, 4 Agustus 2019

Dimuat di Radar Madura 24 Agustus 2019 



Kedua  ada  “Seri Lindungi Lautku” yang bertajuk “Rumah Baru Mola”

Pentingnya Menjaga Kelestarian Ekosistem Laut

Judul               : Rumah Baru Mola
Penulis             : Ruri Irawati
Ilustrator         : Chatarina Hayu P.
Penerbit           : Tiga Ananda
Cetakan           : Pertama, Juni 2019
Tebal               : 32 halaman
ISBN               : 978-623-206-177-0
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Indonesia terletak di antara dua samudera besar, yaitu Samudera Hindia dan  Samudera Pasifik. Maka tidak heran jika wilayah Indonesia terdiri dari banyak perairan laut  daripada daerah daratan. Karena alasan itulah  Indonesia dikenal sebagai negara maritim. Laut di Indonesia memiliki banyak sekali manfaat bagi kehidupan manusia. Misalnya sebagai pembangkit listrik tenaga air,  tempat budidaya serta membantu membersihkan polusi udara. Karena tanpa kita sadari laut bisa menyerap karbon dioksida kurang lebih 43,6 persen kadar karbon dunia. 

Tidak hanya itu laut juga bermanfaat sebagai  wahana wisata. Karena di dalam kedalaman laut kita bisa menemukan keindahan alam yang luar biasa. Di sana terdapat kecantikan terumbu karang yang memukai, ada pula barisan kehidupan ikan-ikan yang tidak kalah menawan. Namun sangat disayangkan, saat ini laut sudah semakin rusak karena ulah manusia sendiri.

Kebiasaan manusia yang suka membuang sampah sembarangan, berdampak pada kerusakan laut. Tidak hanya itu kebiasaan menangkap ikan dengan cantrang, bom atau pukat laut, telah menghancurkan populasi ikan dan merusak ekosistem laut dan terumbu karang. Begitu pula dengan wisatawan bahwa laut yang suka bertindak sesuka hati dan mengganngu tanaman dan hewan laut.   Padahal sebagaimana kita ketahui ekosistem laut memiliki banyak sekali manfaatnya terhadat manusia. Oleh sebab itu, kita harus melindungi dan  melestarikan  ekosistem laut. 

Kesadaran akan kepedulian terhadap laut ini harus kita tanamkan kepada anak sejak kecil. Dengan begitu anak akan terbiasa untuk mencintai dan peduli dengan kelestarian ekosistem laut. Salah satunya adalah dengan mengenalkan buku “Seri Lindungi Lautku, Rumah  Baru Mola” karya Ruri Irawati. Dengan gaya bahasa sederhana dan pendek-pendek, buku ini sangat pas untuk dikenalkan kepada anak. Apalagi dengan tambahan ilustrasi yang menarik, pastinya akan membuat anak tidak bosan selama membaca. 

Buku ini sendiri mengisahkan tentang Mola, si ikan mola-mola yang kehilangan rumah karena menjadi jalur lalu lintas kapal. Karena itu, Mola pun mencari tempat tinggal baru untuk berlindungan. Setelah mencari-cari tempat yang paling nyaman, akhirya Mola menemukan semua rumah baru yang di sekelilingnya terdapat banyak pemandangan yang cantik.

Setelah membersihkan rumahnya, Mola berniat berjalan-jalan di permukaan laut. Namun betapa kagetnya Mola, ketika dia tengah asyik berenang, dia melihat ada dua wisatwan yang terus mengikutinya. Awalnya Mola senang, karena mengira bahwa manusia itu menyukai keelokan dirinya. Namun, lama-lama Mola terganggu, karena wisatawan itu mulai ingin menyentuh tubuh Mola.

Saat berusaha menghindari kejaran dari wisatawan, Mola tersesat di sebuah tempat yang asing. Di mana di tempat itu banyak sekali terumbu karang yang telah mati. Di sana Mola diingatkan ikan buntal untuk hati-hati, karena tempat itu adalah tempat yang sering didatangai para wisatawan laut dan  merekalah yang merusakan tempat itu. Lalu bagaimana dengan nasib Mola yang sedang dikejar para wisatawan? Selengkapnya bisa dibaca di buku ini.

Mengambil tema yang masih jarang ditulis penulis lain, buku ini sangat menarik untuk dibaca. Selain mengajarkan rasa cinta dan peduli pada kelestarian ekosistem laut, buku ini juga akan menambah banyak pengetahuan kepada anak tentang  hewan langka di laut. Misalnya tentang ikan mola-mola, salah satu ikan raksasa yang tinggal di perairan hangat termasuk di Indonesia, memiliki nama lain sunfish, karena ikan ini suka berjemur,  makanan kesukaan mola-mola adalah ubur-ubur, kepiting, zooplankton, dan alga. Serta masih banyak lagi pengetahuan yang dirangkum penulis dalam buku ini.Kemudian tidak kalah penting buku ini juga mengingatkan kepada kita tentang selalu bersikap baik dan peduli, saat melakukan wisata laut.

Srobyong, 9 Agustus 2019 

Dimuat di Padang Ekspres , Minggu 15 September 2019 



Dan terakhir masih dari “Seri Lindungi Lautku” ada kisah bertajuk “Mencari Si Monster Cantrang” 

Melindungi Biota Laut dari Cantrang

Judul               : Mencari Si Monster Cantrang
Penulis             : Ruwi Irawati                                                      
 Ilustrator        : Chatarina Hayu P
Penerbit           : Tiga Ananda
Cetakan           : Pertama, Juni 2019
Tebal               : 32 halaman
ISBN               : 978-623-206-176-7
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

Indonesia dikenal sebagai negara  maritim. Alasannya karena Indonesia adalah negara yang berada atau  dikelilingi oleh samudra yang sangat luas. Dari sebagian besar wilayah yang ada, wilayah perairan di Indonesia itu lebih luas daripada daratan. Maka tidak heran jika kemudian kita ketahui, bahwa Indonesia memiliki keanekaragaman biota laut yang sangat banyak. Dari 6000 spesies ikan yang ada di dunia, setidaknya 2500  yang di antaranya berada di wilayah Indonesia.

Oleh sebab itu perlu dilakukan pelestarian biota laut untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut.  Apalagi saat ini berbagai biota laut mulai terancam punah,  karena ulah manusia sendiri, yang suka bertindak semena-mena dan tidak memedulikan kelestarian lingkungan dan kehidupan di laut.  Salah satu caranya adalah dengan mengajak anak membaca buku ini. Melalui buku ini, anak akan diajak untuk peduli dan siap menjaga ekosistem laut.

Di sadari atau tidak semakin banyak perburuan liar yang dilakukan manusia guna menangkap hewan-hewan laut, seperti penyu, terumbu karang, ikan-ikan langkah dan banyak lagi.  Di mana dalam perburuan ikan banyak yang  memanfaatkan bom, pukat harimau juga  cantrang—alat menangkap ikan yang berukuran besar dan dioperasikan hingga menyentuh dasar laut. Selain terumbu karang yang ikut rusak terseret cantrang, banyak pula ikan-ikan yang tertangkap namun hanya sekitar yang bisa dikonsumsi. Akibatnya berdampak pada rusaknya  populasi ikan di lautan.

Karena itu penting bagi kita untuk mulai peduli dan menjaga laut agar terhindar dari berbagai kejahatan tersebut. Salah satu caranya adalah dengan melindungi laut dari sampah juga tidak melakukan lagi perburuan liar atau menangkap ikan dengan pukat haraimau atau cantrang.  Kita harus menyadari sebagaimana manusia, ikan juga ingin hidup damai dan sejahtera.

Buku ini  menceritakan tentang rasa penasaran Ole,  si ikan coecalanth kecil, tentang keganasakan Monster Cantrang,  yang pernah diceritakan neneknya.  Sang nenek meminta Ole agar bersembunyi di gua, agar tidak ditangkap oleh Cantrang. Namun Ole bandel. Diam-diam dia mencoba mencari tahu tentang Monster Cantrang. Dia tidak tahu bahwa bahaya besar telah mengintainya. Kira-kira apa yang akan terjadi?

Mengambil tema tentang kepedulian ekosistem laut. Melalui buku ini, kita akan mengajak anak untuk mengenal ikan purbakala yang hampir punah, serta menumbuhkan rasa cinta  dan sikap siap untuk  melindungi biota laut.  Dilengkapi dengan fakta-fakta seru tentang binatang laut, buku ini sangat pas untuk dibaca anak.  Tidak hanya itu melalui kisah yang dikisahkan, anak belajar untuk menjadi anak yang mau mendengar nasihat dari orangtua.

Srobyong, 3 Agustus 2019 

Friday, 7 February 2020

[Resensi] Pentingnya Menghormati Orangtua

Dimuat di Kabar Madura, Selasa 4 Februari 2020 


Judul               : Hijrah Asmara
Penulis             : Madun Anwar & Sukma El-Qatrunnada
Penerbit           : Loka Media
Cetakan           : Pertama, Januaari 2019
Tebal               : 213 halaman
ISBN               : 978-602-5509-18-6
Peresensi         : Ratnani Latifah. Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara

“Seorang ibu pasti menginginkan hal baik pada anaknya. Apalagi, anaknya perempuan.” (hal 43).
 Setiap orangtua sudah pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Orangtua tidak segan untuk memberi nasihat  serta arahan, agar anak tidak sampai berada di jalan yang salah. Karena itu sebagai anak sudah semestinya kita harus patuh dan taat kepada orangtua. Jangan sampai kita menjadi anak durhaka dengan  melawan perintah  atau menolak nasihat orangtua. Mengambil tema yang sudah banyak digarap di pasaran, hal itu tidak mengurangi keunikan dari kisah ini. Dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, novel ini cukup menarik untuk dibaca.

Novel ini sendiri menceritakan tentang Ara, mahasiswa semester tiga jurusan PGSD di Lombok yang tengah dilema. Sebagai gadis normal lainnya Ara tentu pernah merasakan jatuh cinta dan ingin mencoba serunya masa pacaran. Namun di sisi lain, ia juga ingat bagaimana peringatan keras orangtunya  perihal pacaran.  Menurut ayahnya, pacaran hanya akan membuang banyak waktu dan lebih dekat pada perbuatan tercela.  Daripada pacaran lebih baik fokus untuk belajar dan berbakti kepada orangtua.

“Papa tidak mengizinkan aku pacaran sebelum selesai kuliah. Sedangkan mama setuju asal ketika pacaran aku bisa menjaga diri, dan nilai-nilai kuliahku tidak terganggu.” (hal 21).

Namun siapa yang tidak tergoda ketika tiba-tiba Fatih—salah satu mahasiswa populer di kampus, menyatakan cinta dan mengajak Ara pacaran. Akhirnya, demi memuaskan ego dan rasa penasarannya, Ara berani melanggar perintah orangtuanya dengan berpacaran. Diam-diam Ara  kerap pergi hang out bersama Fatih dan menjalin hubungan terlarang tersebut. Hingga suatu hati ia mendapati kabar yang tidak terduga. Fatih dan ketidaksetiaannya serta berderet masalah yang membuat Ara  bingung dan bimbang.

“Kecewa. Hal yang memang terasa sakit. Bayangkan, jika kamu percaya pada seseorang dan harapanmu sangat tinggi terhadapnya, tapi karena ketidakmampuan seseorang itu atau bisa saja karena sebab lain, ia membuatmu kecewa.” (hal 44).

Di sisi lain kejadian itu mempertemukan Ara dengan Arum. Kisah yang sedikit banyak membuat Ara belajar banyak hal, juga menemukan makna hidup yang sebenarnya. Yang jadi pertanyaan, Kira-kira apa yang sebenarnya tengah terjadi dengan Ara? Benarkah Fatih berselingkuh? Dari siapa akhirnya sang ayah tahu bahwa dirinya telah melanggar janji dengan berpacaran? Serta siapakah sosok Arum yang tiba-tiba mampu mengobati luka Ara? Selain pertanyaan-pertanyaan itu masih banyak hal-hal lain yang membuat novel ini menjadi menarik dan membuat kita penasaran. Kisah ini diramu cukup apik oleh dua penulis asal Lombok dan Jambi. Meski pada beberapa bagian percakapan dan narasinya masih terasa kaku dan belum berhasil menghidupkan kisah secara keseliuruhan. Namun lepas dari kekurangannya, novel ini memiliki cukup banyak pembelajaran dan cukup menarik dalam memadukan lokalitas daerah  Lombok dalam cerita.

Membaca kisah ini kita akan diingatkan pentingnya menghormati orangtua dan selalu menjaga diri dengan menjaga pergaulan yang baik.  Selain itu melalui kisah ini kita juga belajar pentingnya memiliki visi dan misi untuk menjadi pribadi yang lebih baik, memiliki semangat juang untuk meraih mimpi, serta belajar move on dari kesedihan dengan bangkit dan tegar dalam segala kondisi.

“Kesedihan  itu tidak akan berakhir jika kita sendiri tidak mengakhiri itu semua. Kehidupan itu tetap berjalan. Jadi, perbaiki hidup dan berusaha tegar untuk menjalani hidup.” (hal 116).

Srobyong, 14 September 2019

Thursday, 23 January 2020

[Resensi ] Perjuangan Panjang Perang Diponegoro







Judul               : Sang Pangeran dan Janissary Terakhir
Penulis             : Salim A. Fillah
Penerbit           : Pro-U Media
Terbit               : 2019
Tebal               : 632 hlm
ISBN               : 9786237490067

Dalam pelajaran sejarah, sudah pasti kita pernah membaca kisah Perang Diponegoro atau dikenal juga dengan sebutan Perang Jawa. Hanya saja penyajian kisah yang ada dalam teks pelajaran itu,  tidak begitu lengkap.  Namun jangan khawatir, melalui buku ini kita bisa mengenal lebih dalam tentang Perang Jawa.

Buku ini mengungkapkan lebih detail tentang pertarungan sengit antara Pangeran Diponegoro dengan Belanda.  Bagaimana dampak peperangan terhadap orang-orang Belanda, juga para pejuang. Semua dipaparkan dengan apik dan menarik. Lewat buku ini pula,  kita bisa menyingkap berbagai sejarah yang mungkin tidak pernah kita temukan dalam teks pelajaran. Misalnya saja tentang adanya Janissary, pejuang asal Turki  yang ikut dalam barisan Perang Diponegoro. 

“Tuan Nurkandam Pasha, Tuan Katib Pasha, Tuan Murad dan Tuan Orhan Arga, maka dengan ini aku gandeng tangan kalian, para pewaris sah Janissary kebanggan Ustmani untuk mendampingi jihad rakyat Mataram, Perang Sabil Muslimin Nusantara.” (hal 19)

Uniknya dari berbagai tokoh yang ikut berjuang dengan Pangeran Diponegoro,  kehadiran dua Janissary—Nurkandam Pasha dan  Katib Pasha, paling banyak memberikan warna tersendiri dalam kisah buku ini. Menghidupkan dan juga mendebarkan.

Membaca buku ini, kita akan dibuat larut, seolah kita ada dan melihat peperangan yang tengah berlangsung. Apalagi penulis mendeskripsikan  kisahnya dengan sangat detail—baik dari segi setting hingga penokohan. Meski buku ini memiliki halaman yang  sangat tebal, kita tidak akan dibuat bosan untuk merampungkan kisah yang ada. Kenapa? Karena kisahnya memang benar-benar menarik dan membuat penasaran sejak dari awal. Alur maju mundur, yang digunakan penulis dalam menyampaikan cerita, telah berhasil membuat emosi pembaca tidak karuan.

Melalui novel ini pula kita akan melihat bahwa seyogyanya Belanda sempat kewalahan dan merasa cemas dengan sikap Pangeran Diponegoro yang tidak mudah dipatahkan semangatnya. Meskipun dalam peperangan itu, Pangeran Diponegoro berkali-kali harus menghadapi pengkhianatan yang menyakitkan dari orang-orang yang ia percayai, ia tetap teguh berjuang.

“Dikhianati tidaklah berbahaya. Yang berbahaya adalah berkhianat. Ditipu tidaklah berbahaya. Yang berbahaya adalah menipu. Dibunuh tidaklah berbahaya. Yang berbahaya adalah membunuh.” (hal 615)

Secara keseluruhan novel ini sangat menarik, inspiratif dan  memotivasi.  Namun ketika membaca kisah ini kita juga harus bersiap menghafal nama-nama tokoh yang lumayan banyak. Sedikit kekurangan dari buku ini adalah gaya bahasa penulis yang terlalu puitis dan bertele-tele. Namun lepas dari kekurangan yang ada  novel ini tetap menarik dan mengundang rasa penasaran, termasuk menunggu seri selanjutnya, yang menurut penulis masih akan ada seri "Sang Pangeran" lainnya. 

Bagi penikmat fiksi sejarah saya rekomendasikan untuk membaca buku ini. Melalui buku ini kita bisa menemukan tingginya sikap patriotisme dan kegigihan jihad fi sabilillah“Kekalahan itu ketika kita ditinggalkan Gusti Allah meskipun kita menang perang ataupun punya banyak akwan serta pengikut. Sebaliknya, yang disebut kemenangan adalah tetap bersama Gusti Allah meskipun kita ditinggal sendiri, atau bahkan binasa dalam perjuangan.” (hal 443)

#semuabacasangpangeran #sangpangerandanjanissaryterakhir

Srobyong, 23 Januari 2019