Monday, 1 August 2022

Juara 1 Lomba Self Improvement- Lomba Penerbit Charissa



Rezeki Allah itu kadang tidak terduga. Kejutan itu bisa datang kapan saja. 

Pertengahan bulan Juni 2022, saya melihat info lomba menulis yang diadakan Penerbitan Charissa.  Lomba itu adalah beberapa kategori; ada buku aktivitas, picture book dan Self Improvement. 


Niat awal saya ingin mengikuti ketiganya. Soalnya tantangan banget gitu. Tapi mendadak saya harus melupakan ambisi itu dan memilih salah dua saja. Mengapa? Karena kebetulan di bulan pengumuman  lomba ada beberapa naskah revisian yang harus dikerjakan. Terus ada target yang saya buat untuk menyelesaikan naskah untuk dikirim di salah satu penerbit. 

Jadi saya akhirnya memilih ikut lomba picture book dan Self Improvement. Karena memang dua bidang itu yang tengah saya tekuni. Meksipun faktanya ilmu saya belum mumpuni dan masih proses belajar di sana sini. 

Untuk picture books, alhamdulillah setelah dapat ide bisa langsung dieksekusi. Tapi untuk self improvement, saya harus memutar otak untuk mencari ide yang pas sesuatu tema. 

Jadi sebelum membuat outline saya mencoba melakukan riset kecil-kecilan. Saya mencari buku-buku terbitan Charissa untuk paham bagaimana tulisan yang disukai penerbit.  Saya sangat terbantu dengan review dari bookstagram untuk paham buku-buku yang sudah terbit. 

Setelah itu saya mencoba untuk riset pasar dengan mencari buku-buku self improvement yang seperti apa yang masih dibutuhkan? Apakah tema yang saya angkat ini sudah banyak ditulis atau belum? Apakah tema ini dibutuhkan? Jika belum ditulis apakah tema ini bisa diterima pasar? Jadi saya bolak-balik searching mencari buku pembanding. 

Setelah merasa tema yang ingin saya tulis itu menarik, saya mulai menulis outline serinci mungkin. Agar pas proses penulisannya tidak mandeg di tengah jalan. Apalagi selama proses menulis juga disambi garap revisian. 

Seminggu awal saya konsep tema dan mencari buku-buku referensi. Minggu kedua mulai tanggal 28 Juni mulai menulis naskah. Target sehari  setidaknya harus nulis 8-10 halaman. Berarti satu hari harus dapat 2 sub bab. 

Rasanya sempat khawatir. Ini bakal berhasil nggak ya? Soalnya kadang sehari dapat menutup target kadang juga jauh dari target. Tapi saya bismillah saja. Saya terus memotivasi pokoknya harus bisa. 

Kapan ada kesempatan lomba naskah nonfiksi? Biasanya lomba yang berseliweran itu kalau tidak naskah anak atau novel. Jadi ini kesempatan langka, yang sangat sayang dilewatkan. Apalagi  temanya itu lho. Sesuatu yang sangat ingin saya coba. 

Selama ini saya lebih banyak menulis naskah self-improvement dalam ramah religi motivasi. Dan saya ingin mencoba self improvement dengan tema umum. Jadi lomba ini pas banget untuk menjadi batu loncatan. 

Hari menjelang DL semakin dekat, dan tekad untuk menyelesaikan naskah pun semakin bulat. Apalagi sudah daftar via wa. Kok ya malu kalau nggak jadi kirim. Akhirnya beberapa hari sebelum DL naskah selesai dan diendapkan dulu beberapa hari.  Setelah itu bismillah saja untuk dikirim.  

Yang penting sudah berusaha secara maksimal. Sekarang tinggal kencangkan doa sambil kembali  garap revisi dan naskah lainnya. 

H-2 Penerbit Charissa mengabarkan Pengumuman akan dilakukan via zoom. Konon katanya semua peserta bakal dikasih link soon H-1. Tak tungguin kok saya nggak dapat-dapat. Akhirnya saya WA admin dan DM Penerbit Charissa. Eh ternyata saya kelupaan belum dimasukkan ke Grup peserta lomba 😆

Untung tetap diberi linknya tepat sebelum acara dimulai. Di sana di kupas tuntas tentang proses penjurian yang membuat saya sadar, bahwa menjadi pemenang itu bukan akhir dari segalanya. Karena saat kita sudah berani submit naskah itu, itulah saat kita sudah mengalahkan ketakutan kita. 

Qadarullah Allah memberikan rezeki dengan menjadikan saya sebagai juara pertama, dan berkesempatan dapat hadiah berupan uang tunai, piagam penghargaan, paket buku dan  bonus buku diterbitkan. Masya Allah, rasanya sungguh tidak terduga dan membuat saya terharu.  Semoga rezeki dan kesempatan yang telah Allah berikan dapat jadi motivasi dan suntikan untuk terus belajar dan berkarya yang lebih baik lagi. 




Dan mohon doanya,  semoga proses penerbitan buku ini dapat berjalan lancar dan dapat membawa manfaat kepada kita semua. Aamiin. 


Srobyong, 1 Agustus 2022

Saturday, 18 December 2021

[Review Buku] Mengenalkan Nilai-nilai Islam dengan Cara yang Menyenangkan


 

Judul :  Islamic Montessori Inspired Activity
Penulis : Zahra Zahira
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Keempat, Februari 2021
Tebal : x + 234 halaman


Apa itu  Montessori? Jujur saja, saya baru mengenal istilah ini ketika sedang sibuk mencari cara bagaimana mengenalkan nilai-nilai Islam pada anak saya, dengan cara yang menyenangkan. Secara tidak sengaja saya menemukan pembahasan tentang metode Montessori. Ketika membaca review tentang metode Montessori inilah, akhirnya saya  menjadi penasaran, lalu mulai mencari buku dengan tema tersebut. Dan alhamdulillah saya menemukan buku ini.


Buku ini  hadir dari kegelisahan pada orang tua juga pendidikan karena keterbatasan material Montessori, sehingga Zahra Zahira, founder of Indonesia Islamis Montessori Community mengenalkan bagaimana menyiasati masalah tersebut dengan memanfaatkan peralatan sederhana di sekitar kita. Sehingga kita tidak perlu resah, jika ingin menerapkan metode Montessori baik di rumah atau di sekolah.

Di dalam buku ini, penulis tidak membahas teori  atau sejarah tentang metode tersebut secara panjang lebar.  Meskipun ada materi, itu pun hanya dijelaskan sebagai pengantar singkat untuk mengenalkan pembaca tentang apa itu metode montessori. Selebihnya buku ini lebih membahas tentang aktivitas yang dapat dilakukan anak yang dibagi dalam beberapa tema.


Tentang Montessori

Montessori sendiri adalah sebuah metode pendidikan yang dikembangkan oleh Dr. Maria Montessori, yang mana fokus pendekatannya itu berpusat pada anak.  Ada lima aspek dalam Montessori, yaitu Pratical life, Sensorial, Language, Matematics, dan Culture.


Islamic Montessori

Sedangkan Islamic Montessori sendiri adalah pendekatan pendidikan yang menggunakan lima aspek Montessori dengan fokus pada aspek perkembangan spiritual agama Islam pada setiap kegiatan.  Jika dalam Montessori ada lima aspek, di dalam Islamic Montessori penulis memberikan tambahan 2 aspek lagi, yaitu Islamic Studies dan Art & Craft.

Lalu apa maksud dari tujuh aspek tersebut?

Islamic studies di dalam buku ini adalah  cakup tentang pengenalan  rukun  Islam, rukun Iman, Asmaul Husna kisah para Nabi berdasarkan masing-masing materi. Di mana dalam Islamic studies ini juga bisa  diaplikasikan pada setiap kegiatan lain seperti  Pratical life, Sensorial, Language, Matematics, dan Culture.

Pratical Life yaitu bagaimana kita mengenalkan kepada anak tentang benda-benda di sekitar. Di mana kegiatan ini bertujuan untuk melatih keteraturan, konsentrasi, koordinasi dan kemandirian.

Sensorial kegiatan ini bertujuan untuk menstimulasi panca indera anak, yaitu perasaan, penciuman, pendengaran, pengecapan, dan penglihatan.

Language di sini bahasa yang diajarkan kepada anak itu berupa mendengar cerita, menulis dan membaca. Hal ini bisa dilakukan dengan storytelling, large picture, card atau membacakan buku.

Matematics kegiatan ini tidak hanya bagaimana mengenalkan angka dan cara berhitung, tetapi juga memahami kalender, mengenalkan waktu, juga jumlah hari pada bulan Ramadhan.

Culture maksud dari culture adalah upaya mengenalkan alam semesta kepasa anak. Misalnya mengenalkan tentang diri sendiri, keluarga, lingkungan, kebudayaan dan banyak lagi.

Art & Culture kegiatan ini bertujuan untuk menstimulasi estetika dan motorik halus. Kegiatan ini tidak hanya tentang menggambar dan mewarnai, tetapi juga menyobek, menggunting dan banyak lagi.


Membaca buku ini kita akan menemukan 200+ kegiatan Islamic Montessori yang menarik dan inspiratif. 30 tema yang disiapkan penulis insya Allah akan memberikan kita banyak pengalaman baru dan cara mengenalkan Islami dengan menyenangkan. Karena dalam metode ini kita akan dijejali teori saja, kita akan diajak langsung praktik dan beraktivitas.


Tema pertama misalnya, My Self
Di sini nilai-nilai keislaman yang dikenalkan adalah  adanya malaikat  Raqib dan Atid, keutamaan menjaga kebersihan dan kerapian, anjuran bersyukur. Sedangkan dari aspek lainnya anak jadi bisa melipat pakaian sendiri, bisa mencetak tangan dengan cara warna, membuat stempel nama, mengurutkan angka 1-10, mengetahui proses tumbuhnya anak, anak dapat menulis namanya dengan cat warna dan luas.



Selain tema itu, masih ada 29 tema menarik yang dapat disimak di dalam buku ini.




Namun perlu diingatkan untuk menerapkan metode Montessori, baik guru atau orang tua harus benar-benar menyiapkan segala keperluan dan alat yang dibutuhkan dengan cermat. Karena tentu tidak mungkin memulai pembelajaran tanpa adanya bahan-bahan yang dibutuhkan. Inilah tantangan orang tua, agar selalu aktif dan kreatif dalam menyiapkan tema setiap harinya.


Selain itu orang tua juga harus pandai mengkondisikan anak, karena di masa usia awal anak lebih tertarik untuk bermain, jadi saat menerapkan metode ini orang tua harus sabar. Karenanya orang tua harus kreatif untuk menarik perhatian anak, agar selama belajar tapi juga seperti bermain, sehingga anak tidak bosan selama materi diajarkan.

Secara keseluruhan buku ini bisa menjadi bahan inspirasi bagi orang tua untuk menerapkan metode belajar mengenalkan nilai-nilai Islam kepada anak dengan cara yang menyenangkan. Dan saya sangat terbantu untuk mengenalkan nilai-nilai Islam kepada anak melalui buku ini. Meski bertahap anak cukup respek, dan memang harus sabar agar anak tidak mudah bosan saat belajar.

Srobyong, 18 Desember 2021


(Alhamdulillah naskah review ini terpilih sebagai pemenang pertama,
Kompetisi Review Buku Mizan 2021)

Thursday, 16 December 2021

Review Buku '25 Nabi dan Rasul' -Kisah Nabi yang Tidak Membosankan dan Penuh Hikmah


Judul : 25 Nabi & Rasul
Penulis :  Noor H. Dee
Ilustrator : Bella Ansori
Penerbit :  Noura Kids
Cetakan: 4, November 2021


Tema 25  Nabi dan Rasul merupakan tema sejuta umat.  Artinya tema yang sudah pasaran tapi tetap tak lekang oleh zaman. Di grup Mizan sendiri, buku dengan tema serupa sudah ada begitu banyak. Sebut saja "Kisah 25 Nabi dan Rasul" karya Yudho Purwoko,  terbitan Dari Mizan. "Cerita Seru 25 Nabi dan Rasul" karya Ririn Astutiningrum, terbitan  Dar Mizan,  "Kisah 25 Nabi dan Rasul for Kids" karya Erna Fitrini,  terbitan Pelangi Mizan dan banyak lagi. Belum lagi  tema serupa dari berbagai penerbit di Indonesia. Hampir semua penerbit pernah  menghadirkan buku kisah para Nabi dan Rasul.

Buku tema Nabi dan Rasul di Grup Mizan


Hal ini mungkin terjadi karena tema Nabi dan Rasul memang selalu menarik untuk dikaji dan dijadikan cerita. Karena kisah-kisah ini dapat dijadikan bacaan Islam yang paling awal  bagi anak. Melalui kisah para Nabi anak dapat belajar banyak hal. Dari sejarah, keteladanan para Nabi, akidah juga ketauhidan.

Dan karena itu pula tema ini masih selalu diminati pasar. Orang tua masih memiliki minat yang sangat besar dalam upaya mengenalkan para Nabi dan Rasul melalui cerita. Apalagi dalam setiap buku tentu memiliki keunikan masing-masing. Meskipun memiliki tema yang sama, jika ditulis oleh penulis yang berbeda, hasilnya tentulah tidak sama.


Begitupula dengan buku "25 Nabi & Rasul" karya Noor H. Dee yang diterbitkan di Noura Kids. Meski memiliki tema yang biasa, sudah umum,  kisahnya tetap unik dan tidak pasaran, dan tidak kalah menarik untuk disimak dari pada buku yang lain dengan tema serupa.


Dengan penuturan yang padat penulis mampu menghadirkan kisah para Nabi dan Rasul dengan  memikat dan tidak berat untuk dipahami anak. Apalagi untuk segmentasi usia 3 tahun ke atas. Hanya dengan tiga sampai empat kalimat per halaman, penulis tetap mampu menghadirkan kisah para Nabi yang sangat menyentuh dan sudah mewakili dari bentuk kisah yang panjang.

contoh isi buku

Hemat saya buku ini memang sangat pas dijadikan bacaan awal bagi anak untuk usia dini. Karena kalimatnya pendek-pendek, dan bahasanya pun mudah dipahami. Berbeda dengan buku dengan tema serupa.

Misalnya buku "Mengenal 25 Nabi & Rasul" Terbitan Checklist. Meskipun di cover buku ini tertulis untuk my golden age, dari segi bahasa, buku ini masih terkesan panjang dan ada beberapa kalimat dan bagian yang kurang pas untuk dibacakan pada anak.

Dan jika dibandingkan dengan tiga tema serupa dari mizan, letak perbedaannya hanya pada segmentasi usia.  "Kisah 25 Nabi dan Rasul" karya Yudho Purwoko,  "Cerita Seru 25 Nabi dan Rasul" karya Ririn Astutiningrum,  dan  "Kisah 25 Nabi dan Rasul for Kids" karya Erna Fitrini, lebih pas untuk dibaca anak usia 9 tahun ke atas yang sudah mulai lancar membaca.  Jika dibacakan untuk anak usia dini, tentu anak akan masih kesulitan mencerna. 


Berbeda jika dibandingkan dengan buku "25 Nabi & Rasul" ini yang menurut saya,  penulis telah melakukan pengamatan mendalam untuk membuat sebuah kisah yang tidak hanya menarik, tapi bahasanya juga ramah anak.

Secara keseluruhan, buku ini memang bagus dan recomended untuk anak. Dengan bantuan orang tua sebagai mediator, melalui buku ini, anak dapat mencontoh sikap para Nabi yang selalu mengikuti perintah Allah, rajin belajar, sabar, tangguh, tidak mudah mengeluh juga bakti kepada orang tua. 

Buku ini sangat membantu saya mengenalkan cerita Islam pertama pada anak saya. Karena dia selalu senang ketika saya bacakan buku ini. Dia juga suka dengan gambar-gambar yang ada di buku. 

 Srobyong, 16 Desember 2021. 

Sunday, 31 October 2021

Resensi Buku - Kisah Inspiratif Seorang Ibu


Judul               : Sibu Suwarti ; Sebuah Memoar

Penulis             : Nening K. Khasbullah

Penerbit           : WIN (Media Literama)

Cetakan           : Pertama, Oktober 2021

Tebal               : xxvi + 197 halaman

ISBN               : 978-623-97979-4-2

“Anak-anak adalah ujian tersendiri. Bagaimana mengatasi mereka ketika sakit, ada konflik, pertengkaran, cemburu dan iri. Semua itu dijalaninya dengan tegar, sabar dan ikhlas.”

(hal 35)

Ibu adalah sosok yang luar biasa. Ia memiliki peran yang luar biasa, dimulai dari masa kehamilan hingga anak tumbuh dewasa. Memiliki ibu yang luar biasa seperti Sibu Suwarti tentu anugerah yang luar biasa. Maka tidak heran jika kemudian Bu Nening, sekalu penulis dan menantu Sibu, memiliki keinginan kuat untuk membuat memoar dari sang ibu. Karena sikap dan semangat sibu dalam menjadi seorang istri, ibu dan nenek,  memang patut untuk diceritakan kepada khalayak.  Ini adalah sebuah memoar yang menarik, menginspirasi sekaligus memotivasi.

Sebelumnya, saya ucapkan selamat pada Bu Nening atas kelahiran buku memoarnya yang hemat saya sangat luar biasa.

Siapakah Sosok Sibu itu? Jika dilihat dari latar belakang, ia hanyalah seorang perempuan biasa yang selalu sederhana. Namun kehidupan telah menempanya menjadi sosok yang luar biasa. Menjadi istri dari seorang duda beranak lima tentu bukan pilihan yang mudah, tetapi ia menerima takdir itu dengan penuh keikhlasan. Dan tantangan lainnya, ia tak hanya harus menjadi istri, ibu dari anak sang suami, tetapi ia juga harus menjadi ibu bagi masyarakat. Karena kebetulan sang suami, RM. Wirjosoegito adalah lurah di Kaliwungu.

Namun  Sibu adalah sosok yang luar biasa. Ia mampu mengemban perannya dengan baik. Ia menjadi istri yang gemati, ia menjadi ibu yang selalu welas asih meskipun lima anak itu bukan dari rahimnya. Ia juga selalu welcome dan siap membantu menyelesaikan masalah warga sekitar. Maka tidak heran kehadiannya  pun disambut ramah dan begitu dicintai.

Hingga di suatu masa, Sibu kehilangan sang suami. Ia menjadi single parent, yang harus membesarkan dan mendidik tiga belas putra-putrinya dengan segala keterbatasan. Namun Sibu adalah sosok yang hebat. Ia tegar, memiliki tekad kuat, tidak mudah menyerah dan selalu berpikir luas. Sehingga ia mampu mengantarkan putra dan putrinya menjadi orang-orang yang hebat. Ia adalah ibu, pendidik, sahabat dan guru spiritual yang luar biasa. Kita dapat membaca kiah selengkapnya di dalam buku ini.

Sungguh membaca buku ini membuat saya ternyuh dan sangat salut dengan sosok Sibu. Meskipun ia bukan seorang yang berpendidikan—karena ia memang tidak bisa baca dan tulis—tapi hal itu tidak menghalanginya untuk menjadi ibu hebat yang berkualitas. Ia selalu mendorong anak-anaknya untuk memperoleh pendidikan terbaik sesuai impian mereka.

“Tidak ada yang tahu apa yang kamu makan kalau kamu tidak bercerita. Yang penting sekolah, sebab kalau kamu bodoh semua orang akan  mengetahuinya walaupun kamu tidak cerita.” (hal 36)

Sibu juga sosok yang memiliki pola pikir yang tidak ketinggalan zaman. Jika kebanyakan orang tua sering menganggap bahwa perempuan harus selalu berurusan dengan masalah rumah tangga, maka Sibu berbeda.

“Bagi Sibu, pekerjaan perempuan mencuci, memasak, dan mengurus anak itu bukan pekerjaan. Perempuan harus pintar, maju, mandiri, jangan manja, jangan tergantung pada suami.” (hal 39)

Secara keseluruhan buku ini sangat menarik untuk kita baca. Banyak pengetahuan tentang bagaimana membangun rumah tangga yang baik, ada pula masalah  parenting yang dapat kita peroleh dari sosok Sibu. Tak ketinggalan pesan-pesan yang Sibu berikan pada putra-putrinya, anak mantu hingga cucu-cucunya itu sangat menginspirasi. Di mana Sibu selalu mengajarkan kepada keluarganya untuk selalu bersikap syukur, selalu mengingat Allah, jujur, bertanggung jawab,  cermas,  punya kemauan keras dan banyak lagi. Dari pesan yang disampaikan Sibu kita akan tahu betapa sosok Sibu itu adalah sosok yan begitu bijak.

 Salut dengan penulis yang mampu menghadirkan roh cerita dengan sangat kuat. Jadi ketika membaca buku ini saya seperti melihat rekam film sosok Sibu, dan merasakan ketegaran, kelembutan, kesabaran, keikhlasan dan welas asih yang dimiliki Sibu. Masya Allah. Pantas sekali jika Sibu selalu dikenang dan disayang.

Saya juga suka dengan kutipan-kutipan baik dari hadis atau Al-Quran yang diletakkan penulis dalam memulai setiap babnya. Kesan religius jadi terasa kental. Dituturkan dengan gaya bahasa yang renyah dan tidak jlimet, membuat saya nyaman saat membaca. Jujur saya suka dengan adanya pemakaian bahasa jawa—baik dalam kalimat langsung Sibu atau dalam kalimat tak langsung—yang digunakan penulis dalam menggambarkan sosok sibu. Lokalitas terasa sangat kental.

Beberapa pesan Sibu yang sangat saya sukai :

Pesan ini mengingatkan kita tentang betapa pentingnya sikap berani meminta maaf dan luhurkan saling memaafkan.  

 “Memaafkan janganlah merasa bangga. Meminta maaf janganlah merasa hina. Saling memaafkan, itulah perintah agama. (hal 46)

Kemudian, tentang parenting, di mana anak akan tumbuh sebagaimana cara orang tua mendidiknya.

“Seandainya anak diibaratkan tanamana, maka apabila tanah dikelola dengan baik dan benar, tanaman yang berada di atasnya akan tumbuh dengan baik dan menghasilkan buah yang bermanfaat.” (hal 49).

 Sungguh ini buku yang inspiratif sekali. Senang dapat mengenal Sibu dari buku ini.

Srobyong, 31 Oktober 2021

 

 

 


Monday, 4 October 2021

Review Buku - Mengenal Dua Ratu dari Dinasti Abbasiyah

 




Judul               : Two Queens of Baghdad

Penulis             : Nabia Abbott

Penerjemah      : Juslich Hanafi

Penerbit           : Buku Republika

Cetakan           : Pertama, Juli 2021

Tebal               : vii + 301 halaman

ISBN               : 978-623-791-084

Peresensi         : Ratnanmi Latifah




Selama ini mungkin kita hanya mengenal nama-nama besar dari khalifah pada Dinasti Abbasiyah. Misalnya Khalifah Al-Saffah, Al-Mansur, Al-Mahdi,  Al-Hadi, Harun ar-Rasyid, Al-Amin atau Al-Makmun. Nama-nama mereka telah terukir dengan sangat gamblang dalam sejarah Islam. Kisah dan keteneran mereka banyak menarik pada sejarawan, penulis biografi atau pihal lain yang memang menggemari literatur.  Namun seringakali kita lupa, bahwa di balik kesuksesan seorang pria, selalu ada wanita yang memiliki peran penting dalam pencapaian tersebut.

Hal itu juga berlaku bagi tokoh-tokoh besar di masa kepemimpinan Dinasti Abbasiyah.  Sayangnya kisah yang berhubungan dengan peran wanita tersebut, tidak banyak dibahasa dalam literatur sejarah Islam. Dan hemat saya, ketika mempelajari pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam, selain para Khalifah yang dibahas secara luar, tokoh dan peran wanita tidak disebutkan secara spesifik.

Maka beruntung sekali jika kita membaca buku karya Nabia Abbott, yang akan membahas tentang sejarah dua  ratu yang memiliki peran penting  selama Dinasti Abbasiyah tengah berjaya. Karena tanpa adanya campur tangan mereka, bisa jadi para Khalifah yang selama ini kita kenal mungkin tidak ada dalam catatan sejarah.  Dua ratu yang dimaksud penulis adalah Ratu Khaizuran dan Ratu Zubaidah. Dengan cukup detail penulis mecoba mengungkapkan  tentang fakta-fakta menarik yang belum banyak kita ketahui.

Sebagaimana kita ketahui, di masa lampau perbudakan masih marak terjadi negeri Arab. Tak terkecuali pada masa Dinasti Abbasiyah. Namun siapa yang menyangka dari rahim seorang budak itulah terlahir tokoh-tokoh fenomenal yang akhirnya memberikan banyak kontribusi pada perkembangan Islam.  Ratu Khaizuran merupakan gadis budak dari seorang Arab dari Bani Thagafi. Memiliki pesona yang memikat, gadis itu akhirnya dapat meluluhkan  hati Khalifah Mansur yang kemudian membuatnya menjadi menantunya. Di mana pernikahannya dengan Al-Mahdi maka lahirlah dua calon khalifah besar yaitu Al-Hadi juga Harun Ar-Rasyid. Namun pencapaian itu tidaklah diperoleh Khaizuran dengan mudah. Ia harus bersusah payah dan tentu harus memiliki kecerdasan dalam dunia politik, juga memiliki tekad kuat untuk mewujudkan impiannya. Termasuk upaya besarnya menjadikan Harun ar-Rasyid sebagai seorang Khalifah.


“Matahari yang menakutkan telah melarikan diri, Dan menyembunyikan wajahnya yang bercahaya di malam hari; Dunia yang suram tidak ceria. Tapi Harun datang dan semua baik-baik saja. Kembali matahari memancarkan sinarnya; Alam dihiasi jubah kecantikan: Karena goyangan tongkat harun yang perkasa, Dan tangan Yahya menopang dunia.” (hal 129)


Berbeda dengan Khaizuran yang merupakan budak, Zubaidah isri Harun ar-Rasyid merupakan wanita terhormat dari keluarga Dinasti Ustmaniyah dari Juras. Hanya saja ketika menjadi ratu bagi sang Khalifah, Zubaidah tak kunjung memiliki keturunan. Karena sebelum ia memiliki anak, lahirlah Abdullah—yang kemudian dikenal sebagai Al-Makmun—yang lahir dari seorang budak.


Sebagai seorang pasangan sah dari Khalifah, Ratu Zubaidah adalah sosok yang luar biasa. Karena jika tidak, sudah pasti ia tidak akan bertahan dengan posisi tersebut. Karena seorang Ratu harus memiliki hati seluas samudera juga harus selalu bijak dalam bertindak. Dan itulah yang ia lakukan. Sampai kemudian ia memiliki putra bernama Al-Amin yang akan membuatnya harus berpikir berkali-kali antara membantu putranya sendiri atau putra tiri yang sejak awal ia asuh, karena sang ibu telah mangkat.

Secara keseluruhan, buku ini sangat menarik. Jika biasanya saat membaca buku-buku sejarah kita merasa malas dan mengantuk, tetapi tidak untuk buku ini. Semakin kita menyelami isinya, maka kita akan dibuat semakin penasaran untuk membalik lembar berikutnya.  Tak hanya tentang dua ratu tersebut, melalui buku ini pula kita dapat menemukan syair-syair apik juga nasihat-nasihat bijak yang patut untuk direnungkan.

Misalnya quote tentang anjuran untuk tidak menunda pekerjaan dan selalu sigap, 


“Jangan menunda pekerjaan hari ini, hingga esok; hadirilah urusan negara secara langsung; dan jangan tidur (di posisi yang dijabat) karena ayahmu belum tidur sejak dia memasuki masa kekhalifahan, karena ketika dia tidur menutup mata, jiwanya tetap terjaga.” (hal 5)


Ada pula quote tentang  bagaimana cara mencintai dan menghormati wanita; 


“Wanita itu seperti tulang rusuk (dari mana dia diciptakan). Jika kau meluruskannya, kau justru menghancurkannya; jika kau menyukainya, kau harus menerima sifatnya yang ‘bengkon’.” (hal 50-51)


Kemudian, quote cara yang benar dalam menuntut ilmu.


“Sudah sepatunya pengetahuan harus dicari dengan rendah hati.” (hal 65)


Dan perlunya bersikap keras jika selama menuntut ilmu ia suka bermalas-malasa dan tidak bisa dinasihati, 


“Jangan terlalu lunak dalam memaafkannya sehingga membuat dia mengganggap kemalasan itu manis dan karena itu berusaha melakukannya. (hal 204).


Tidak ketinggalan sebuah puisi menarik yang pernah disyairkan oleh Khalifah Harun ar-Rasyid,


“Biarkan dia sendiri menguasai negara, Yang pikirannya kokoh, yang hatinya murni; Hindari orang bodoh yang bimbang, Yang pikiran dan ucapannya tidak pernah pasti.” (hal 206-207)


Dan melalui buku ini pula kita akan mengetahui sepak terjang dua ratu yang sangat menginspirasi. Karena meskipun mereka harus terjun dalam dunia politik—mereka adalah tokoh yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi pada sesama, dan tidak segan untuk membantu untuk kemaslahatan umat, juga menjadi pelopor dalam beberapa bidang. Ada catatan  Ratu Khaizuran membangun berbagai fasilitas yang berkaitan dengan air—seperti air mancur, kolam renang, sumur, kanal dan saluran air. Di mana perjuangannya tersebut kemudian diteruskan oleh Ratu Zubaidah. Selamat membaca.

Srobyong, 4 Oktober 2021