Friday, 24 April 2015

[Puisi] Bunga yang Kau Bawa

Bunga yang Kau Bawa
Kazuhana El Ratna Mida

Hati terpilin
Menatapmu masuk sunggingkan senyum buat hati ...,
berdesir

Wangi yang kau bawa buat jantung berdegup keras
Aku takluk tak mampu menolak hadirmu yang tak terduga
Tundukkanku dalam satu waktu, ucapkan kata yang tak terkira

Tak hanya itu, bahkan kau berikan bunga terindah
Hingga terlena, katamu ini juga bunga terakhir yang mungkin kuterima
Meski tak paham aku tetap mengambil dengan senyum ceria
Lalu terlelap bersama wangi melati dalam titian menuju surga

Srobyong, 24 April 2015

[Puisi] Jalan Kenangan

Judul : Jalan Kenangan

Oleh : Kazuhana El Ratna Mida

Dingin menggigil menusuk serpihan hati
Berserak kepingan sakit menggerogoti
Aku berjalan mencoba menapaki
Anyir menyengat hidung ini

Kutatap lama jejalan sepi malam ini
Angin berhembus bulu kudu berdiri
Bayang kematian yang menyelimuti
tertusuk pisau belati

Sayatan tajam mengoyak paksa hingga terjungkal
Dilahap mangsa tak mampu melawan
Di jalan kenangan memilukan
Sesosok mayat mati tak terawat di makan belalang

Aku menangis menahan pilu
Melihat kekejaman bengis tersedu
Ingin menolong, tangan ini kosong
Tak mampu menyenggol apalagi mendorong

Aku terdiam hanya menatap nanar
Tubuh tergeletak dengan tak lagi bernyawa
Dipotongpotong layaknya danging siap di masak saja

Aku pasrah
Tak mampu berbuat apa
Karena jiwa hanya bisa menatap
Tanpa mampu membawa raga

Yang di sana di jalan kenangan
Itu aku yang dibunuh sadis tak berperasaan

Srobyong, 26 Desember 2014

[Cerpen Horor] Tari

Judul : Tari
Oleh : Ratna Hana Matsura feat Adnando Syafiq

Wajah Lina menegang. Matanya melotot seolah tak percaya dengan pandangannya sendiri.

“Tidak mungkin!” pekiknya sendiri.

Berkali-kali dia mengucek mata. Memastikan bahwa pandangannya salah. Tapi Tari masih di sana tersenyum menatapnya.

“B-b-ag-ai-ma-na ... bi-sa—,” Lina terbata-bata.

“Apa kabar, Lin?” sapa Tari ramah.

Lina memundurkan langkah, menyandarkan tubunya di tembok kamar dengan perasaan campur aduk tak karuan. Takut, cemas, serta marah bercampur menguasai raga. Napasnya naik turun, mencoba mengontrol jiwa.

“Pergi! Pergi!” usir Lina sambil menutup mata.

Setelah menunggu beberapa menit, Lina membuka mata secara perlahan. Tidak ada. Lina sungguh lega. Tari sudah tak nampak lagi. Semua pasti hanya ilusinya. Atau halusinasi yang mulai menggila.

Ketakutannya pun sedikit berkurang. Kini dia duduk di meja belajarnya. Membolak-balik buku pelajaran matematika karena esok akan ada ulangan harian.

“Lin, makan malam dulu, yuk!” panggilan sang ibu membuat Lina segera beranjak dari tempat duduknya. Dia segera melesat menemui ibunya.

Namun ..., jantung Lina langsung berdetak tak karuan melihat siapa yang ikut duduk manis di meja makan.
Lina menelan ludah. Pandanganya nanar, kakinya lemas seketika.

“Kenapa melamun, Sayang. Ayuk duduk,” ucap ibunya lembut. Namun Lina segera menepisnya dengan kasar.

“Pergi ..., kenapa kau masih di sini?” tanya Lina menatap langsung Tari yang asyik menekuni makanannya.
“Lina, tenangkan dirimu,” ucap ibunya hati-hati. Tak tahu kenapa anaknya tiba-tiba berteriak histeris.

“Tari, Bu ..., Tari—,”

Lina kini menangis sesenggukan. Sang ibu memeluknya erat.

“Ibu tahu perasaanmu, Sayang. Kamu kangen padanya, ya?” sang ibu menepuk-nepuk punggungnya.
Tari mentapnya tersenyum menang. Seolah berkata “ Aku akan mengganggu hidupmu.”

“Aku mau kembali ke kamar, Bu.”

Lina langsung menutup pintu. Mendekam di kamar mengingat kejadian waktu lalu. tumpang tindih kejadian yang hanya diketahuinya sendiri.

~*~
“Aku kembali, Lin. Bukankah kau merindukanku?” tiba-tiba Tari sudah ada di depannya. Muka Lina langsung pias dan ketakutan.

“Kau sudah mati, Tar. pergilah ke alammu sendiri.”

“Jangan mengada-ada. Aku masih hidup, Lin. Di sini—.” Tari menunjuk dada Lina.

Lina mengingat kejadian lalu. Ketika dia menyaksikan sendiri, Tari yang tertabrak mobil. Dia tidak mungkin salah. Lagi pula dia bahkan ingat betul pemakaman pun sudah dilakukan. Bahkan dia sempat sakit berbulan-bulan setelahnya.

Tari mendekat berusaha berkontak fisik. Dengan cepat Lina menepis tangan Tari. Namun terlambat, Lina kini sudah mencekeram lengannya dengan kuat.

“Apa yang mau kau lakukan?” Lina berontak tapi Tari makin beringas. Mereka jungkir balik di lantai saling adu kekuatan.

Duar ... duar ...!

Tiba-tiba pentir menyambar-nyambar. Sosok Tari sudah hilang dari pandangan. Meski Lina sudah mengedarkan pandangan Tari sudah tak ditemukan. Kenapa ini terjadi padanya?

Kau sudah mati kenapa masih menggangguku? Tanya Lina sendiri. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri. Konsenstarsinya telah buyar hingga tak lagi bisa meneruskan belajar. Apalagi sambil menahan lapar karena tak jadi makan malam.

“Semua karenamu, Tar. Kau jahat.” Lina sesenggukan. Dia memeluk erat kaki yang tengah ditekuknya. Pandangannya tertuju pada rintik hujan yang semakin membuatnya ingat kejadian lalu yang buatnya gila.
Teriakan. Kemarahan hingga tabrakan. Kepedihan juga luka yang tak terhapuskan.

~*~
Sejak kemunculan Tari, sosok Lina berubah. Tatapan yang dulu terlihat ceria kini berubah muram. Kalau dulu selalu murah senyum dia menjadi pemarah. Tiba-tiba suka berteriak sendiri sambil menyebut nama Tari.
Teman-temannya pun perlahan menjauhi Lina. Dia kembali ke habit awal. Menjadi gadis aneh yang menakutkan. Suka sekali menyerang teman-temannya secara tiba-tiba.

“Bagaimana? Bukankah hanya aku yang peduli padamu?” Tari sudah muncul di hadapan Lina. “Mereka mulai menjauhimu, kan?” Tari tertawa.

“Kau jahat, itu karenamu, Tar. Kau jangan menggangguku.” Lina murung. Dia duduk menunduk di bangkunya.

Cemoohan pun kembali menerpa. Kenapa dia selalu diperlakukan seperti itu? Lina sungguh tak mengerti.
Ah, semua memang gara-gara Tari. Semua kebahagiaan selalu dia rebut acap kali Lina akan mendapati. Kemarahan Lina memuncak.

“Aku harus melakukan sesuatu.” Tekadnya sendiri.

Matanya menyala-nyala. Siap melakukan sesuatu yang dianggap benar. Dia harus memperjuangkan kebahagiaannya. Dia tak mau harus selalu dibawah ketiak Tari yang suka seenaknya.

Sejak kecil Tari selalu mendominasi. Menguasai semua hidup Lina. Siapa yang tak muak? Apa-apa diatur tak boleh ini itu.

Aku akan mengambil kebebasanku, ucap Lina dalam hati. Bagaimanapun caranya bahkan untuk melenyapkanmu.

~*~
Lina memicingkan mata, tangannya memegang erat pisau dapur yang biasa digunakan ibunya untuk memotong ikan. Di hadapannya Tari, terikat tangan juga kakinya. Meski dalam keadaan seperti itu, Tari masih juga memasang senyum menakutkan seperti sebelumnya.

"Kau takkan berhasil membunuhku!" seru Tari lalu tertawa.

Lina berteriak geram, "Diam!" Ujung suaranya bergetar. Digenggamnya semakin kuat pisau di tangan. Dia dan Tari kini berhadapan.

~*~

Usai memperkenalkan diri, Tari diminta untuk duduk di bangku paling belakang sebelah kanan, karena cuma itu satu-satunya tempat duduk yang masih kosong.

Tari melangkah cepat, nyaris berlari hingga tas punggungnya berulang kali menumbuk belakang dan menghasilkan bunyi-bunyian yang berasal dari tumbukan antara barang-barang bawaan Tari ke sekolah.
Di meja paling belakang sebelah kanan Tari berhenti. Segera dia memasukkan tas ke dalam laci, menggeser kursi ke belakang, menghempaskan pantat, dan menariknya ke posisi semula. Setelah merasa duduknya sudah cukup nyaman, Tari lalu memalingkan pandangan pada gadis berambut hitam tergerai yang duduk di sebelahnya.

"Tari!" seru Tari sambil mengulurkan tangan. Tak lupa memasang senyum semanis mungkin.

Gadis yang diuluri tangan itu hanya diam. Matanya menatap lurus ke arah Tari, namun terlihat tanpa ekspresi. Tiga detik kemudian gadis itu berpaling. Kembali menatap tulisan-tulisan pada buku LKS di tangannya.

Tari tersenyum kecut, menarik tangannya yang masih melambai di depan dada.

Kali ini sepertinya agak sulit. Gadis itu amat pendiam, tidak seperti gadis sebelumnya. Pikir Tari.
Akhirnya sepanjang jam pelajaran itu Tari habiskan hanya dengan diam. Tidak dengan mengobrol seperti yang selama ini dia lakukan dengan teman sebangkunya di sekolah lama. Apalagi teman sebangkunya seperti benci akan kehadirannya.

~*~

"Kau takkan berhasil ...," ucap Tari sambil menyeringai. Tatapannya tajam ke arah Lina.

"Hentikan!" Lina memekik kencang lantas mengayunkan pisaunya ke dada Tari.

Darah segar mengaliri tangan Lina. Di hadapannya sudah tak ada Tari, melainkan gambaran dirinya sendiri dengan dada yang bersimbah darah.

Lina kini terbaring di depan cermin dengan menggenggam pisau dapur yang menancap di dadanya.

Srobyong, Maros 19 April 2015

Thursday, 23 April 2015

[Review] Cahaya Mahabbah



Cahaya Mahabbah
Kazuhana El Ratna Mida

Judul Buku                  : 77 Cahaya Cinta di Madinah
Penulis                         : Ummu Rumaisha / Ririn Rahayu Astuti Ningrum
Penerbit                       : Al-Qudwah Publishing
Tahun Terbit                : 2015
ISBN                           : 978-602-317-023-
Halaman                      : 264 halaman (vii+256 halaman)

Kisah 77 cahaya cinta terdapat di sini. Menjadi obat pelepas dagaha, yang haus aka sinar cinta dari Allah. Sungguh kisah yang tertoreh dalam buku ini, mampu membuat hati ikut bergetar merasakannya. Tentang cinta pada sesama, Rasul juga Allah.

Pertama kisah dibuka dengan cinta suci dari Abu Al-Ash bin Rabi’ dan Zainab. Kisah dua insan yang terpisah karena perbedaan keyakinan. Yah, mereka dulunya menikah sebelum kenabian. Ketika Zainab putri Rasulullah memilih mengikuti Islam, sang suami tetap bertahan dengan keyakinan nenek moyang. (hal. 9)

Apa mau dikata, cinta yang terhalang sekat itupun tak bisa diraih. Mereka berpisah meski cinta masih menggelayuti.

Kisah kedua masih tentang Zainab dan Abu Al-Ash bin Rabi’. Setelah enam tahu berpisah mereka bertemu lagi, meski itu bukan untuk kembali. Zainab hanya menolong orang yang pernah dicintai, ketika dia datang meminta perlindungan. Saat itu Abu Al-Ash bin Rabi’  dan rombongnnya kembali ke Makkah setelah berdagang di negeri Syam. Namun, mereka bertemu rombongan muslim hingga saling bersitegang, dengan akhir harta mereke dirampas tentara muslim. (hal.12)

Diam-diam Zainab masih mengharap Abu Al-Ash mau memeluk islam dan kembali melanjutkan kisah cinta mereka, namun harapan tetaplah harapan. Abu Al-Ash tetap dengan pendiriannya. Dia datang hanya untuk menggambil hartanya yang diambil. Lalu, Nabi pun memerintahkan kaumnya untuk mengembalikan harta Abu al Ash. Siapa sangka cahaya itu pun akhirnya menyapa.

Ada juga kisah tentang Keikhlasan Fatimah Az-Zahra dalam menolong sesama. Kalung yang diberikan pada seorang kakek membawa berkah yang tak rekira. Dari satu tangan ke tangan lain, bahkan kembali lagi ke tangan Fatimah. Skenario Allah sungguh indah untuk hamba-Nya. (hal 16-19)

Lalu tentang kisah Zaid bin Harist yang berbuka dengan bidadari. Allah hu Akbar—maha besar Allah untuk hamba yang telah dipilih-Nya. Berkat keimanan dan keteguhan hatinya, Zaid bisa berbuka dengan Bidadari-rizki yang tidak disangka. (hal.22)

Kisah yang lain tentang Julaibab menjadi rebutan bidadari. Dia bukanlah seorang yang tampan—malah lebih tepatnya dikenal dengan seorang yang buruk rupa. Namun, Allah tak melihat dari rupa hambanya. Melainkan berdasarkan akhlak yang dimilikinya. Bahkan Julaibab bisa menikahi putri pemimpin Anshar yang cantik jelita. Yang lebih mengejutkan dia bahkan dijadikan rebutan para bidadari ketika dia syahid di peran uhud. (hal. 37)

Tak tertinggal kisah Amr bin  Uqaisy ‘Masuk Surga Tanpa Shalat’. Allah memang Maha Besar. Memiliki cara tersendiri untuk mengangkat derajat hamba yang dipilih. Keburukan yang pernah dimiliki di masa lalu, bisa terhapus dengan cahaya terang yang sudah menyapa qalbu. Subhanallah. (hal. 158)

Juga tentang kisah Halimah as-Sya’diyah ‘Menyusui Jiwa Yang Berkah’. Ketika mencinta Kekasih-Nya, maka berkah pun ikut menyertai. Semua itu sudah dibuktikan Halimah ketika dia menyusui Nabi Muhammada, hamba yang dipilih. (hal. 248)

Tak ketinggalan kisah-kisah lain yang menyentuh hati. Menguatkan iman, semakin ingat dengan keagungan Allah.

Kisah yang dipaparkan di sini sungguh menggugah hati. Memberi cahaya terang, sebagai pelajaran yang patut diteladi. Kisah-kisah sahabat yang kadang terlupakan, karena terkiskis zaman. 

Dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, penulis menceritakan kembali kisah-kisah yang begitu mengharukan. Jika cinta yang mereka miliki bersandar pada Allah dan Rasul-Nya. Insya Allah, keberkahan akan selalu menyertainya.mSebuah renungan untuk  bermuhasabah diri. Semoga Allah senantiasa memberi rahmat serta hidayah untuk kita semua. Aamiin.

Srobrong, 5 April 2015

Re-Post dari artikel saya yang pernah dimuat di web bersamadakwah.


Saturday, 18 April 2015

Review : Ketika Cinta Menjadi Dewa



Ketika Cinta Menjadi Dewa
Senang bisa mendapat buku –Peri Pecicilan bareng novel Miss Katalis pas beli buku karya Bang Oke suderajat Ghost Next Door.  Bisa buat belajar nulis,  serta menemaniku belajar meresensi :) 

Judul buku      : Peri Pecicilan
Penulis             : Reni Erina
Tahun Terbit    : Nopember 2012
Penerbit           : Anza
Tebal               : viii +164; 13 x 19 cm
ISBN               : 978-602-18303-3-8

Ini bukan  novel, ya. Tapi kumcer—kumpulan cerpan dari Mbak Reni Erina yang dulunya dimuat diberbagai majalah remaja. Ada Majalah Gaul, Gadis, Anita Cemerlang, Kawanku, Horospop, Hai dan G2.
Kumcer ini terdiri dari 14 cerpan yaitu : Cerita Cinta Melan, Peri Pecicilan, Yang Tak Bisa, Arghh Tidakkk, My Best Friend, Ima, Kerlip Bintang, Nando, Rival, SMS dari Nana, Duka Dina, Cinta itu..., Pulang, Kita Lihat Saja, dan Cinta Begitu Hebat.

Membaca cerpen-cerpen di atas, akan membuat sebal—marah-marah nggak jelas. senang juga gemas. Semua bercampur aduk. Atau bilang kok bisa, sih. Kenapa. Ah, rasanya kayak nano-nano gitu.
Kenapa, karena cerita dikemas apik oleh si penulis. Gaya bercerita lalu keluesan membawa pembaca hingga pada titik klimak cerita. Kamu akan kaget dengan ending-ending yang tak terkira. Kok jadi gini, ini belum selesai apa bagaimana.
 
Salah satu cerpennya yang berjudul Peri Pecicilan. Di mana cerita ini berkutat pada Sarah  yang selalu ramah pada siapapun cowok di sekolah. Padahal dia tuh sudah punya cowok keren macam Abe.  Sewot dong Abe. Marah karena merasa ceweknya kecentilan pake banget. Mentang-mentang cantik seenaknya sendiri. Emang gue dianggap apaan. Begitulah kira-kira perasaan Abe.

Belum lagi kalau diingatkan Sarah selalu punya alasan, ngondokkan. Jadilah Abe pada tahap dongkol tingkat akut. Abe mulai mendiamkan Sarah.  Ini sebenarnya yang salah siapa, sih. Abe atau Sarah. Trus bagaimana kelanjutan kisahnya. Baca sendiri aja, deh. Biar tahu. Hehh.
 
Yang kedua Aargh .... Tidakkk. Ini tentang si kembar Raymond dan Renald yang sangat tidak patut dibilang kembar. Itu sih menurut Airin. Habis sikap mereka kayak bumi dan langit. Jauh. 

Raymond selalu mengusik ketenangannya. Sok cari perhatian sok yakin kalau Airin memang suka dia. Padahal bagi Airin itu sangat menyabalkan. Tipe cowok yang disukai itu seperti Renald, tapi itu cowok pasif banget. Bikin ngondok juga. Adiknya sudah susah payah, eh dia kalem aja. Jangan-jangan emang nggak suka.  Paling Cuma sapa sekilas doang. Walau jujur itu sudah membuat Airin melayang. Trus nanti jadinya sama siapa, ya Raymond atau Renald. Cari tahu sendiri deh. Pasti mak jleb.

Lalu berlanjut cerpen Bagai Sekerlip Bintang. Wina dia tak pernah menyangkan akan kembali bertemu dengan Kim—teman satu geng Roy—yang dulunya pacar Wina saat SMP. Pertemuan dengan Kim membuka tabir masa lalu. Rasa yang dulu membelenggu. Wina juga tahu sudah ada Lili dalam kehidupan Kim. Tapi dia tak bisa menghalau rasa itu, lagi pula Kim juga masih selalu datang jika dia butuh. Saling merasakan rindu. Namun, ada waktunya bukan ketika seseorang itu harus tegas untuk memilih. Di mana Wina harus siap antara pergi atau bertahan atas nama cinta. Dia sungguh tak tahu. 

Ada juga Rival. Menceritakan tentang aku—atau bisa disapa Pram. Cowok yang merasa paling keren di seantero sekolah. Lebih aneh lagi, kenapa dia yang sangat populer karena  tampan dan juga kepintaran harus kalah dari Arga. Yah, dia memang keren. Kalau diurutkan dia cowok terkeren nomor 2. Kalau menurut Pram tempat itu harusnya miliknya. Apalagi sikap Arga yang kelewat angkuh beda dengan dia yang selalu ramah. Nah, sudah ketahuankan siapa yang populer. Pram juga lebih tampan.

Kenapa dia segitu sensi dengan Arga? Usut punya usut Raya cewek paling cantik ternyata lebih terbius Arga dari pada Pram. Inilah masalahnya. Dia pun melakukan berbagai cara agar Raya tak bisa jadian dengan Arga. Bagaimanapun. Dan hasilnya sukses. Tapi kesuksesan itu malah membuat Pram lebih sengsara. Lho, kok bisa.

Selain keempat cerpen di atas. Semua juga memiliki kisah yang asyik dinikmati. Memberi kejutan-kejutan manis juga asam yang tak terkira. Lembut tapi menusuk. Menusuk tapi bisa membuat senyum terukir. Aneh deh rasanya.

Kalaupun ada sih, beberapa cerpen yang mudah ditebak. Tetap tak mengurangi keasyikan menikmati kumcer ini. Tetap ada nilai lebih.

Paslah buat dibaca sambil santai. Meringankan otak setelah kegiatan sehari-hari. Karena ini termasuk bacaaan ringan. J

Srobyong, 18 April 2015