Wednesday, 27 July 2016

[Resensi] Mengungkap Kebenaran Dan Memperjuangkan Setitik Harapan


Judul               :  The Secret of Room 403
Penulis             : Riawani Elyta
Penerbit           : Penerbit Indiva
Cetakan           : Pertama, April 2016
Halaman          : 272 hlm
ISBN               : 978-602-1614-51-8
Perensi             : Ratnani Latifah, penyuka buku dan penikmat literasi, Alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara.

Novel The Secret of Room 403 merupakan pemenang harapan pada Lomba Menulis Indiva (LMNI) 2014. Sebuah novel yang mengisahkan tentang kisah di balik sebuah  tragedi  tanjung berdarah 1984, perjalanan seorang penulis serta sebuah ambisi dan intrik dalam politik.  Kisah ini diceritakan dengan dua latar berbeda—dimulai antara 1984 dan 2013 secara bergantian. Membuat novel ini terasa unik dan memikat.

Kisah dimulai dengan terpilihnya Alif menjadi penulis yang dipercaya untuk menulis biografis dari sosok militer—ayah dari mentri yang mencalonkan diri menjadi  presiden pada ajang pilpres tahun depan. Martin—orang kepercayaan sang mentri, memberikan mendapat bundelan yang lembar-lembar kertasnya mulai menguning kepada Alif.  Bundelan itu berisi semua referensi yang dibutuhkan selama menulis naskah biografi. (hal. 41)

Setelah menerima bundelan itu, Alif pun mulai membaca, sehingga latar waktu cerita membuat pembaca menengok pada tahun 1984. Diceritakan pada tanggal 12 September 1984  terjadi tragedi berdarah di  Tanjung Tritis. Aparat tanpa pandang bulu menodongkan senjata sehingga banyak warga yang tumbang. Salah satu korban itu adalah Husein Abdul Rahman. Tapi siapa sangka ternyata Husein  selamat dari kejadian nahas itu. Hanya saja dia tidak bisa lagi kembali ke kehidupannya yang dulu. (hal. 139)  Dia meninggalkan tanah air dengan membawa identitas baru dari sang penolong—Rusydi.

Kembali pada keadaan Alif. Demi mendapat ketenangan dalam menyelesaikan tulisannya, Alif memutuskan berlibur ke Tanjungpinang. Lagipula selama ini dia memang sudah terlalu terkungkung dengan rutinitas kerja yang tidak ada batasnya. Di sana dia bertemu dengan Revi. Gadis yang kemudian menjadi teman perjalanan dalam menjelajahi seluk beluk Tanjungpinang.

Pada mulanya semua rencana Alif berjalan lancar—berlibur dan menulis di malam hari. Tapi pada suatu hari dia menyadari benda bundelan yang paling penting itu hilang. (hal. 191) Dan ketika dia menemukan lagi bundelan itu, Alif menerima sebuah kenyataan yang tidak terduga. Bagaimana mungkin tulisan dalam bundelan itu mirip tulisan almarhum ayah Revi? (hal. 196)

Tidak hanya terkejut pada kenyataan itu, dalam keadaan bingung untuk menyelesaikan tulisan, Alif membolak-balik terus bundelan itu. Siapa tahu dengan begitu dia akan menemukan ilham lagi. Alih-laih menemukan ilham, dia malah menemukan tulisan kamar 403 dan rangkaian kata sebuah nama. (hal. 204)

Merasa perlu menjawab segala teka-teki itu, Alif memutuskan untuk meminta permohonan agar bisa bertemu sang menteri. Seperti dugaannya di tempat sang mentri, Alif melihat kamar 403. Dan ketika dia nekat memasuki tempat itu, sebuah rahasia yang selama ini tersembunyi akhirnya terkuak. Dan Alif  berharap bisa  mengungkap semua kebenaran meski dia tahu hanya setitik harapan yang dimiliki.

Sebuah novel thriller-historis yang menegangkan, membuat penasaran, juga sarat makna. Diceritakan dengan gaya bahasa yang memikat, memiliki keunikan plot dan ending yang tidak terduga. Mengajarkan pada pembaca bahwa  kita harus terus berjuang meski hanya ada setitik harapan. Namun selain pesan itu,  novel ini  juga kental dengan pesan-pesan religi.  Hal ini dilihat dari pergulatan batin Alif setelah membaca bundelan dari sang menteri.

Semisal tentang ingatan Alif bahwa mendirikan shalat itu sangat penting. “Shalat itu ibarat tiang agama. Tanpa shalat, agama akan runtuh.” Atau tentang ingatannya untuk selalu membaca Al-Quran yang memiliki khasiat hebat—yaitu menghindarkan dari rabun dan pikun. (hal. 77) Juga khasiat melakukan sujud agak lama saat shalat yang bisa membuat peredaran darah akan mengalir lebih lancar dan membuat tidak cepat pusing. (hal. 133)  Tak ketinggalan sebuah pesan untuk selalu bersikap legowo—mau memaafkan, sabar, ikhas dan tidak menyimpan dendam. “Jangan dendam dengan orang yang sudah menyakiti kita. Apalagi sampai membalas dengan perbuatannya dengan perbuatan yang tak kalah buruk. Cukuplah Allah  saja yang membalasnya.” (hal. 251)

Srobyong, 6 Juni 2016 

Dimuat di Kabar Madura, Senin, 18 Juli 2016 



Monday, 25 July 2016

[Resensi] Mengemas Senja dalam Cerita yang Berbeda


Judul               : Sepotong Senja untuk Pacarku
Penulis             : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Pertama, Februari 2016
Halaman          : 208 hlm
ISBN               : 978-602-03-1903-2 
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi almuni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Semburat cahaya yang dipancarkan selalu dicari sebagian orang yang memang sangat tergila-gila pada senja. Karena konon senja itu bisa memunculkan efek romantis dan  eksotis.  Menilik betapa menariknya senja,  Seno Gumira mencoba mengemas senja menjadi cerita yang berbeda.

Kenapa berbeda? Karena senja yang ditulis Seno adalah senja dalam berbagai pendekatan dan konteks. Mulai dari gelaja alam kasat mata, sampai genap konstruski struktural dan tematik yang dimungkinkan oleh subjek bernama senja. Masih merujuk dari kata penulis, “Dari saat ke saat, memburu senja secara konkret maupun sebagai konsep yang abstrak, memberikan kepada diri saya suatu ruang-waktu mewah.”

Bedanya lagi, kumpulan cerpen ini seperti sebuah komposisi yang saling melengkapi. Kumpulan cerpen ini merupakan cetak ulang cover baru dengan tambahan beberapa cerpen. Sehingga jika pada buku lawas hanya ada 13 cerpen, maka dalam buku baru ini akan terdiri enam belas cerpen dan dibagi menjadi  tiga bagian; Trilogi Alina, peselancar Agung dan Atas Nama Senja.

Dibuka dengan Trilogi Alina dengan cerpen pertama berjudul ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’. Dalam cerpen ini  diceritakan Sukab sengaja mengirimkan sepotong senja—dengan angin, debur ombak, matahari terbenam dan cahaya kemasan—kepada pacarnya, Alina untuk pembuktian cintanya. Karena dia merasa kata-kata sudah tidak lagi ada gunanya. Sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Kalau cinta harus berani berkorban dan berjuang dengan tindakan. (hal. 5)  

Kala itu Sukab tengah di pantai dan tiba-tiba melihat senja dan cahaya gemetar dan dia pun jadi teringat dengan Alina. Lalu dengan cepat memutuskan untuk memotong senja itu dan dikirimkannya. Sayang, dengan cepat warga menyadari kalau senja telah dicuri oleh Sukab.  Pengejaran pun tak terelakkan. Namun dengan usaha keras Sukab mencoba pergi menjauh agar sepotong senja itu bisa dikirim pada kekasihnya.
Dilanjutkan cerpen kedua ‘Jawaban Alina’. (hal. 17) Mengisahkan tentang tanggapan Alina akan usaha keras Sukab yang dengan keberanian memotong senja dan diberikan padanya. Serta kisah panjang di balik sampainya paket itu.   Lalu, tidak ketingalan cerpen ketiga berjudul ‘Tukang Pos dalam Amplop’ cerpen ini juga tidak kalah menarik dengan cerpen-cerpen sebelumnya. Karena di sini, akan terungkap kenapa  paket dari Sukab bisa terlambat datang sampai sepuluh tahun lamanya.
Tidak kalah menarik adalah cerpen berjudul ‘Kunang-Kunang Mandari’ (hal. 67) Perpaduan antara mitos dan keindahan senja. Menjadikan cerpen ini unik dan asyik untuk dibaca. Bagaimana mungkin kunang-kunang itu berasal dari potongan kuku orang-orang Mandarin? Bahkan diternakkan.

Atau kisah ‘Anak-Anak Senja’ (hal. 145) Tentang ketakutan seorang ibu, agar anak-anak kecil  jangan sampai mengikuti  melihat dan mengikuti anak-anak senja. Karena konon jika sudah mengikuti anak akan hilang bersama anak-anak senja. Siapakah anak-anak senja dan apakah hal itu benar adanya?

Cerita- cerita dalam kumpulan cerpen ini  dipaparkan Seno Gumira dengan sangat piawai.  Dari gaya bahasa, plot sampai permaninan endingnya.  Yang lebih membuat cerpen-cerpen ini menarik adalah, pemilihan judul yang menarik juga pembukaan cerpen yang memikat, membuat siapa yang membaca tertarik untuk membaca dan menyelesaikan ceritanya.

Memang dalam urusan menulis cerpen, Seno Gumira sudah tidak lagi diragukan. Banyak tulisanya yang sudah dimuat di media cetak. Sebut saja Kompas, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo dan masih banyak lagi. Bahkan untuk Cerpen ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’ berkali-kali dimuat ulang dalam berbagai literatur dan diterjemahkan pula dalam  bahas Inggris. Bagi penikmat senja dan surealis, buku ini sangat recomended dibaca.

Dari membaca kumpulan cerpen ini, saya mengambil kesimpulan bahwa cinta kadang memang memabukkan dan membuat hilang akal. Namun bagaimana kita menyikapi agar cinta itu tidak menjadi budak dan menyakiti diri sendiri.


Srobyong, 14 Juli 2016 

Dimuat di Radar Sampit, Minggu 17 Juli 2016 


Saturday, 23 July 2016

[Resensi] Belajar Macam-Macam Vitamin dan Manfaatnya Melalui Cerita Anak


Judul               : Cerita Anak Terbaik Sepanjang Masa; Seri Aku Anak Sehat
Penulis             : Dyah Ummi Purnama
Penyunting      : Tin Zulaeha
Penerbit           : Visimandiri
Cetakan           : Pertama, Desember 2015
Halaman          : 112 halaman
ISBN               : 978-602-317-174-6
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan literasi alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Mengenalkan macam-macam vitamin dan manfaatnya pada anak sejak dini itu sangat penting. Karena dengan begitu secara tidak langsung, orangtua sudah mulai mengajarkan anak untuk hidup sehat. Mengingat jika dalam tubuh tidak memiliki vitamin, maka hal itu bisa mengakibatkan tubuh mudah terserang penyakit. 

Namun yang jadi masalah adalah bagaimana cara mengenalkan anak tentang macam-macam vitamin dan manfaatnya untuk tubuh pada anak dengan cara menyenangkan dan seru? Buku ‘Seri Aku Anak Sehat’ akan sangat cocok untuk dijadikan rujukan dalam mengenalkan anak tentang berbagai macam vitamin dan kegunaannya. Karena dalam buku ini, selain itu akan ada tujuh cerita seru yang menggiring anak belajar dengan nyaman, akan dibahas dengan tuntas juga tentang makanan apa yang baiknya  dikonsumsi anak  dengan kandungan vitamin yang ada.

Buku ini dipaparkan dengan gaya bahasa yang renyah, sehingga mudah dipahami anak. Buku ini juga dilengkapi ilustrasi yang cantik yang menambah semangat anak membaca juga berbonus kartu  kuartet. Diharapkan dengan adanya buku ini bisa menambah pengetahuan anak dan orangtua agar bisa mengajak untuk hidup dengan cara yang sehat dan bergizi.

Sebut saja cerita berjudul “Rabun Ayam Karena Suka Mata Ayam?” (hal. 7) Dari kisah ini penulis mencoba mengulas tentang pentingnya mengkonsumsi vitamin A. Bahwa vitamin A memiliki fungsi untuk meningkatkan penglihatan dan ketajaman mata.  Fungsi lainnya adalah membentuk jaringan tubuh, memelihara kesehatan kulit dan rambut, serta melindungi jantung.  Vitamin A juga sumber aktioksidan untuk mencegah penyakit kanker. (hal. 20). Kekurangan vitamin A akan mengalami gangguan Xerosis Conjuntiva, Rabun Ayam, Bitot’s Spot (Bercak Bitot), Xerosis Cornea dan Corneal Ulceration. (hal. 22-23)

Lalu cerita berjudul “Beri-Beri Tidak Sama dengan Biri-Biri” (hal. 26) Kali ini penulis mencoba mengulas vitamin B1 atau thiamine yang merupakan salah satu bagian kelompok vitamin B yang ada beberapa jenis. Fungsi dari vitamin B1 berperan dalam metabolisme karbohidrat, berperan dalam jaringan napas, serta memperkuat otot, jantung dan saraf. (hal. 38)Gejala klinik kekuangan thiamine—vitamin B1 menyangkut sistem saraf dan jantung, yang dalam keadaan berat dinamakan beri-beri. Beri-beri sendiri ada dua. Yaitu, beri-beri basah dan beri-beri kering.

Dikenalkan juga tentang vitamin  C melalui kisah berjudul “Ketika Awan Sakit Sariawan” (hal. 59) 
Fungsi vitamin C adalah sebagai antioksidan. Selain itu vitamin C juga membantu dalam penyembuhan luka, pembentukan sel-sel darah merah dan mencegak infeksi. (hal. 68) Dan akibat kekuarangan vitamin C adalah dapat menyebabkan sariawan dan gusi mudah berdarah. Pada tingkat berat, dapat timbul penyakit scurvy yang ditandai dengan kerusakan pada gigi dan gusi, badan lemah, nyeri pada tungkai dan persendian, mudah terkenal infeksi serta timbulnya bercak-bercak perdarahan. (hal. 69)

Lalu  vitamin K melalu cerita “Awas, Ada Sungai Darah!” (hal. 98) Fungsi vitamin K adalah berperan dalam pembekuan darah dan mencegah terjadinya pendarahan yang berlanjut jika terjadi luka. Selain itu, vitamin K juga berperan dalam meningkatkan mineral-mineral yang diperlukan dalam pembentukan tulang. (hal. 104) Jika kurangan vitamin K akan menyebabkan memar, darah tidak dapat menggumpal sehingga menyebabkan pendarahan yang terus-menerus bisa terjadi luka.

Selain itu, tentu saja masih ada tiga  cerita seru lain yang pengenalan vitamin yang harus diketahui anak. Dalam setiap pembahasan penulis yang merupakan seorang ahli gizi tidak lupa mencantumkan apa saja sumber-sumber vitamin yang bisa dikonsumsi anak juga sebuah resep masakan  yang kaya akan vitamin. Jadi selain sangat berguna untuk anak buku ini pun baik dibaca orangtua sebagai pemandu anak dalam belajar masalah vitamin dan hidup sehat.

Srobyong, 4 Juli 2016 

Dimuat di Koran Singgalang, Minggu 17 Juli 2016


Wednesday, 20 July 2016

[Resensi] Menghadapi Kegalauan dengan Cara Cerdas dan Bijak


Judul               : Galau Secukupnya Move On Secepatnya
Penulis             : Ali Abdullah
Editor              : Endang Suryana
Penerbit           : Tinta Medina, Creative Imprint of Tiga Serangkai
Cetakan           : Pertama, Oktober 2015
Halaman          : x + 230 hlm
ISBN               : 978-602-0894-08-9
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat dan penyuka literasi, alumni Universitas Islam Nadlatul Ulama Jepara

Dalam menjalani kehidupan, sesekali meresakan kegelisahan atau yang saat ini lebih dikenal galau itu sangat wajar.  Hidup memang akan selalu ada masalah yang datang silih berganti. Namun seyogyanya, perasaan gelisah atau galau  itu tidak seharusnya  dibiarkan secara berlebihan. Namun perlu dihadapi dengan cara cerdas dan bijak. Menjadikan permasalahan yang ada itu sebagai renungan, bukan malah menjadi tekanan.
Cobaan yang datang itu sejatinya menunjukkan nikmat. Bahwa setelah ada cobaan pasti akan ada hikmah yang bisa dipetik. Allah memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.  

Galau sendiri  adalah suatu keadaan  hati yang tertekan, keadaan pikiran yang ruwet dan kacau. (hal. 14) Alasan seseorang merasa galau itu pun  bermacam-macam. Ada yang terjadi karena cinta, sulit mendapat rezeki atau karena berbagai masalah hidup lainnya.  Namun harus disadari bahwa galau berkepanjangan itu pun tidak baik. Karena bisa mengakibatkan hati resah dan pikiran kacau. Merasa depresi hingga mempunyai keinginan untuk bunuh diri. Karena itu kita perlu  cara cerdas dan bijak agar terhindar dari kegalauan.

Dimuat di Singgalang, Minggu 17 Juli 2016

Pertama, memulai dengan membuka jalan keluar. Masalah itu seperti rumah yang memiliki banyak pintu. Jadi ketika satu pintu tidak bisa dibukan untuk keluar, maka kita harus mencari pintu yang lain yang terbuka.  Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.  Lalu Mengingat Allah.  Jika di setiap kesempatan selalu mengingat Allah, maka seberapa pun berat cobaan yang menerpa, maka  bisa segera menyadari bahwa sejatinya setiap cobaan itu sebagai pengingat dan jalan untuk kembali dekat pada Tuhan.  Hanya pada Allah seorang hamba meminta dan bersandar.  Allah selalu bersama orang-orang yang bersabar dan melapangkan hati.

Tidak lupa selalu bertanggung jawab terhadap hidup. Dalam menjalani kehidupan memang akan selalu ada aral melintang yang harus dihadapi. Seperti halnya masalah kegaulan. Manusia hidup tidak mungkin tidak mengamali galau. Tidak  mungkin seseorang akan bahagia selamanya.  Begitulah hidup akan terus berputar. Dari senang menjadi susah dari galau dan berganti move on. Karena setiap hal selalu memiliki pasangan.

Dalam menghadapi kegaulaun kita tidak boleh putus asa, tapi  mengganggap cobaan itu sebagai  rahmat Allah.  Karena rahmat Allah itu menjadi kunci kebahagiaan dan keselamatan manusia. (hal. 141)  Jika kita berani untuk bermimpi maka kita juga harus berani memperjuangkan mimpi tersebut hingga menjadi sebuah kenyataan. Jika kita berani untuk bercita-cita maka kita harus berani mencapainya. (hal. 160) Sama halnya jika kita berani hidup maka kita harus tanggung jawab dengan segala hal yang akan terjadi. Jika kita galau maka harus segera move on.

Kita juga harus mau bersabar.  Dalam menghadapi berbagai masalah selalu bersikap sabar memang selalu dianjurkan. Karena dengan sabar akan membuat diri menjadi tegar dan tidak mudah menyerah.  Orang sabar itu berani, sedangkan orang yang tidak sabar itu penakut dan pengecut. (hal. 179)

Dan selalu berprasangka baik.  Memiliki prasangka yang baik akan membuat jiwa selalu positif dan mudah untuk move on.  Dan keenam adalah selalu bersyukur. Jika dalam setiap masalah mau bersyukur, maka hal itu akan membuat perasaan lebih tenang. Karena sesungguhnya Allah memang telah memberi banyak sekali kebaikan dari pada kesedihan. Bersyukur kepada Allah merupakan sebuah amal yang mengejawantahkan keyakinan akan keberadaan dzat Yang Mahakuas. (hal. 220)

Sebuah buku yang patut dibaca dan diamalkan. Agar ketika galau menyapa bisa menghadapi dengan cara elegan dan tidak terjebak pada kegelisahan yang panjang.  Dipaparkan dengan bahasa yang renyah dan tidak menggurui. Ulasannya sangat lengkap dan sarat makna, hanya saja ada beberapa pengulan dalam penjelasan disetiap bab. Namun lepas dari itu buku ini tetap asyik dinikmati.  

Srobyong, 2016

Dimuat di Singgalang, Minggu 17 Juli 2016


[Resensi] Cara Mudah Memikat Hati Orang Lain


Judul               : Cara Mudah Memikat Hati Orang Lain
Penulis             : Dwi Suwiknyo
Penerbit           : Quanta, Elex Media  Komputindo
Cetekan           : Pertama, Desember 2015
Halaman          : v + 151 hlm
ISBN               : 978-602-02-7796-7
Peresensi         : Ratnani Latifah, penikmat buku dan liteasi, alumni Universitas Islam Nahdlatul Ulama, Jepara.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak mungkin bisa hidup sendirian. Dalam hubungan kemasyarakatan, manusia membutuhkan cara berkomunikasi yang baik. Karena cara berkomunikasi yang baik sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidup kita. 

Sadar atau tidak dalam setiap pergaulan akan selalu muncul like dan dislike. Lalu bagaimana cara agar dalam pergaulan orang itu bisa menerima—menyukai kita? Dalam buku ini akan dipaparkan bagaimana cara bergaul, berkomunikasi yang baik dan memikat hati  yang akan bermanfaat untuk menghadapi hubungan sosial kita. 

Mengajak untuk menggali potensi diri untuk menyeimbangkan hidup.  Perlu diingat, bahwa energi negatif yang terpancar, tidak akan mampu memikat hati orang lain. (hal. 3) Untuk mencapai menjadi pribadi yang lebih baik dalam pergaulan—hubungan sosial setidaknya ada 3 cara yang akan diulas dalam buku ini.

Pertama, Kemampuan Berbicara. Bicara adalah bagian dari komunikasi dan menjadi pusat perhatian orang lain. Bahwa kepribadian seseorang sangat berpengaruh terhadap cara berbicara. Cara berbicara yang baik yaitu berkata benar. 

“Berkata benar itu membawa berkah di kemudian hari. (hal. 11)  Lazimkanlah berkata jujur, karena jujur membawa pada kebajikan, membawa pada surga.  Berkata fasih. “Bicaralah dengan fasih, itu akan mudah diingat dan membekas di hati.” (hal. 19) Dengan berbicara fasih, hal itu akan membuat orang yang mendengarnya mudah memahaminya.

 Berkata baik.  Kata yang baik adalah sumber kebaikan hidup. (hal. 28) Bagaimaan cara bertutur kata bisa dijadikan penilaian bagaimana kepribadian seserang. Karena biasanya orang yang berkepribadian baik memang lebih suka berkata baik. 

Berkata hormat.  Hal ini sangat penting dilakukan. Seberapa tinggi derajat yang dimiliki seseorang, dia tidak boleh berkata meremehkan, apalagi kepada orangtua. “Kelebihan diri bukanlah alasan untuk meremahkan orang lain, terlebih orangtua.” (hal. 37) Berkata Lemah Lembut. Kenapa harus lemah lembut? Karena berkata dengan penuh lemah lembut bisa melembutkan hati orang lain. 

Dan terakhir berkata pantas. Karena pribadi yang bisa memantaskan dirinya untuk mampu bersahabat dengan orang lain. Maka dia telah pantas untuk dijadikan sahabat. (hal. 49)

Kedua, Kemampuan Mengontrol diri. Dalam bergaul—sosialisasi, kepekaan dalam memahamsi situasi itu sangat penting untuk dimiliki. Karena dengan mengetahui situasi orang akan bisa beradaptasi dengan baik. Bagaimana cara; bisa dimulai dengan senyum. 

Karena senyum memiliki kekuatan yang sangat besar yang tidak bisa ditolak oleh siapa pun. Orang akan sangat senang disapa dengan menyunggingkan senyum yang tulus. Senyum bisa menghapus benci menjadi sayang.  

Lalu salam dan sapa. Salam adalah bukti kepedulian karena dalam salam terkandung doa bagi siapa saja yang kita temui. Dan pada sapaan adalah bukti nyata kita menghargai keberadaan orang lain. Tidak ketinggalan  untuk selalu sopan dan santun. Kesopanan akan menunjukkan pribadi seseorang itu baik atau buruk. 

Kesopanan bisa menumbuhkan kebahagiaan. Sedang pribadi yang santun akan senantiasa dirindukan orang lain. Selain mengamalkan 6B dan 5S, sebenarnya masih ada rumus 4T; taaruf, tafahum, tafakul dan teladan. 

Buku ini dipaparkan dengan bahasa santun dan bersahabat. Dilengkapi dengan kisah-kisah nyata yang menginspirasi serta dalil-dalil pendukung. Sangat sarat makna. Buku ini mengajak untuk mulai memperbaiki diri bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan memikat hati. 

Dalam sosialisasi memang tidak baik jika selalu mengedepankan egoisme. Kita harus memiliki cara baik agar orang bisa merasa nyaman. Menjadi seseorang yang memiliki kepribadian yang selalu dicari-cari dan dirindukan kehadirannya. Jangan sampai menjadi pribadi yang dijauhi.

Harus diingat, bahwa ternyata sesuatu yang kecil dan kadang disepelekan ternyata memiliki kemanfaatan yang luar biasa. Jadi mulai sekarang mari mulai memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi pribadi yang rendah hati dan selalu berbuat baik pada sesama. Mustahil semua orang akan menyukai kita bila kita tidak pernah berbuat kebaikan untuk mereka. Tidak usah menunggu lagi, bersegeralah berbuat yang terbaik karena kebaikan pula yang akan kembali kepada kita.” (hal. 127)

Dimuat di Jateng Pos, Minggu 17 Juli 2016